When The Sun Goes Down 7th-end


When The Sun goes down HUnji

When The Sun Goes Down

7th

Oh SehunPark Jiyeon

Hong Jisoo aka Joshua

Romance / Angst / Sad

PG

.

.

Aku membawanya ke rumah sakit,

Jiyeon menjalani beberapa pemeriksaan yang memakan waktu agak lama. Dia belum sadar dan aku sendiri terpekur di sampingnya dengan banyak memendam pertanyaan. Apa yang sedang terjadi padanya. Apa yang dia sembunyikan dariku, dan apakah Jisoo mengetahui apa yang tidak aku ketahui.

Ada rasa marah dan benci ketika semua ini harus aku ketahui di saat aku sedang berbahagia. Jiyeon terlihat begitu pucat dan lelah. Dia kehilangan kesadaran hampir selama lima jam. Dokter memberikan dia infus dan antibiotik. Aku mulai berpikir, jika Jiyeon sampai diberi antibiotik, pasti ada sesuatu di dalam tubuhnya sedang terinfeksi. Hanya saja letak infeksi itu masih didiagnosa. Hasilnya akan keluar dalam beberapa jam lagi.

”Jiyeon!” panggilku setengah berbisik di sampingnya. Aku menderita dengan hanya melihatnya terbaring tak berdaya. Apa semua ini dampak dari kegugurannya waktu itu, atau justru keguguran itu diakibatkan oleh penyakitnya yang tak terdeteksi ini.

Damnt! Hampir setahun ini dia menyembunyikan semuanya dariku.  Apakah dia sadar kalau tubuhnya sakit. Apa dia tahu mengenai apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.

”Bangunlah!” bisikku lagi. Aku ingin berteriak di telinganya agar dia segera bangun, aku tak bisa melihatnya seperti ini.

Terlalu membuatku terpuruk,

Aku mendengar langkah di belakangku, dan Jisoo muncul dengan tatapan penuh iba. Dia pasti tahu apa yang tengah terjadi pada Jiyeon.

Dengan menghunus telunjukku aku berdiri dan menyerangnya. Kudorong dia agar tidak mendekati Jiyeon hingga keluar dari ruangan.  Semua mata awas melihat kami. Aku tak perduli, kumaki dia—

”Apa yang kau lakukan di sini, Brengsek!”

Jisoo menggeleng,

”Aku hanya ingin melihat kondisinya.”

”Pergilah! Kau tidak diinginkan di sini.”

Jisoo menatapku serius.

”Aku tidak bersalah padamu, kenapa kau begitu sinis padaku?”

”Jangan berlagak sok suci di depanku. Kau menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja, apa kau pikir kau sungguh lelaki dengan bersikap seperti itu.”

Jisoo menyeringai

”Dia yang memutuskan untuk tidak menerima tanggung jawabku. Aku berkali-kali menyatakan padanya kesediaanku untuk menikahinya tapi dia tidak mau.”

”Munafik! Kau bohong. Kau sama sekali tidak ada di saat dia mengalami masa sulitnya. Kau menghilang bersama pelacur itu!”

BUG

Jisoo mendorongku dengan kuat hingga tubuhku terhempas ke dinding.

”Jaga mulutmu! Aku tahu kau sedang kesal, tapi janga melimpahkan kemarahanmu pada Patrice. Dia tidak bersalah.”

Aku tidak habis pikir, kenapa dia masih saja ingin terlihat sok suci.

”Kalau begitu pergilah, aku tidak ingin kau di sini. Aku jijik melihat mukamu.”

Jisoo mendengus dengan decakan mulutnya.

”Aku masih memiliki rasa bersalahku pada Jiyeon. Ada banyak peristiwa yang selama ini membuat hidupnya mengalami kesulitan, dan karena itulah aku ingin memberikan perhatian.” Jisoo menatapku, ”Seandainya itu mungkin.” tegasnya

”Perhatianmu itu sudah tidak layak lagi baginya. ”

”Sehun, dia pernah mengalami kecelakaan dan kepalanya menghantam benda keras. Dia bilang itu kejadian sewaktu di hutan saat kemping musim panas di SMAnya. Dia sering pingsan sewaktu bersamaku di rumah neneknya. Mungkin karena peristiwa itu Jiyeon sampai detik ini mengalami ketidakseimbangan.”

”Apa kau bilang?”

Aku tercekat,

tentu saja aku mengingat kejadian waktu itu.

Di hutan itu,

Dan semua karena aku.

Apakah karena peristiwa di hutan itu, Jiyeon mengalami masa-masa sulit hingga detik ini. Apa karena hal itu dia sering tidak sadar. Apa ada sesuatu di kepalanya.

”Kukatakan padamu karena mungkin dia tidak pernah menceritakannya padamu.”

Aku tak lagi mendengarkan Jisoo dan masuk untuk melihat kondisi Jiyeon. Kugenggam tangannya dengan erat. Mengusap kepalanya dan menahan tangisku. Jika semua ini karena kejadian di hutan itu, maka hidupku tidak akan selamat. Akulah yang bersalah, bukan Jisoo.

Aku.

Aku

Aku

”Tn.Oh!” bahuku ditepuk, dan seorang perawat berdiri di sisiku.

Jantungku semakin cepat menghentak, mungkin dia membawa hasil tesnya tapi ternyata tidak. Perawat itu hanya meminta ijin dariku untuk mengambil beberapa mililiter lagi darah dari tubuh istriku. Dia menusukkan jarum dan menghisap cairan kental merah itu dari lengan Jiyeon tanpa perasaan. Aku berusaha menahannya agar tidak mengambil lebih, tapi pada akhirnya dia masih mengambil lagi dengan jarum yang lain.

”Kenapa sebanyak itu?”  tanyaku

”Ada beberapa tes lagi. Maafkan saya, tapi sebentar lagi dokter akan memberikan transfusi.”

Aku menghela napasku dan mencoba berpikir bijak. Tidak ada gunanya menentang sistem yang diterapkan rumah sakit, semoga mereka bisa menyembuhkan penyakit istriku.

Istriku,

Bulir bulir keringatnya terlihat diantara wajahnya yang tenang. Dia terlelap dan tak pernah tahu, apa yang terjadi dengan tubuhnya.

Jangan seperti ini terlalu lama.

.

.

.

Dua hari kemudian, aku melihat Jiyeon bergerak. Dia terbangun dan menatapku dengan matanya yang berat. Sebentar dia mencoba untuk memindai banyak cahaya.

”Oppa!” 

Aku tidak bergerak. Dia memanggilku Oppa, atau ada orang lain dalam pikirannya yang dia panggil Oppa. Kenapa aku masih saja menyimpan amarah sebutan Oppa itu tidak aku dapatkan sebelumnya.

”Sehun Oppa!”  sebutnya lemah. Aku langsung mendekat, dia memanggilku Oppa, dan itu sungguh membuatku banjir oleh perasaan bahagia.

”Jiyeon, ini aku Sayang. Aku di sini!”

Kemarin dokter sudah mengatakan padaku mengenai semuanya.

Aku tidak boleh menangis di depannya meski aku sangat tidak kuasa merasakan semua ini. Di awal – awal pernikahan ini, aku sungguh merasa egois terhadapnya.  Mungkin karena aku takut Jisoo akan mengambilnya lagi. Tapi semua itu kini harus tenggelam bersama prasangka gilaku yang lainnya, mungkin Se Yeon yang ingin mengambil kembali Jiyeonnya.

Bukan,

Jiyeon adalah milikku, aku menikahinya dan berjanji padanya untuk tetap menjadi miliknya selama hidupku di dunia dan akhirat.

Tapi macam apakah penyakit itu, yang selama ini di derita oleh Jiyeon,

Creutzfeldt-Jakob. Dokter alhi saraf mengatakan kalau itu semacam gangguan saraf degeneratif yang amat jarang dan tak tersembuhkan. Dalam arti penyakit itu mematikan.

Aku merinding ketika mendengarnya. Dia seperti malaikat pencabut nyawa.

Penyakit ini disebabkan oleh prion, sehingga sering disebut sebagai penyakit prion.

Aku tetap tidak mengerti. Meskipun dokter itu menjelaskan dengan bahasa manusia sekalipun, aku tetap tidak akan mengerti, atau kepalaku menolak untuk mengerti.

Jadi jenis penyebab penyakit ini memiliki fungsi biologis yang tidak diketahui.  Hanya terjadi dalam 5-10% dari semua kasus. Prion Creutzfeldt-Jakob berbahaya karena meningkatkan pelipatan protein asal ke dalam keadaan sakit, yang menyebabkan meningkatnya prion tak larut pada sel yang terjangkit. Massa protein yang salah lipat ini mengacaukan fungsi sel dan menyebabkan kematiannya. Mutasi pada gen untuk protein prion bisa menyebabkan kesalahan lipat sebagian besar regio alfa-heliks ke lembar beta yang terlipat.

Penjelasan itu tak masuk akal bagiku.

Apa itu perubahan konformasi yang katanya bisa melumpuhkan kemampuan protein dalam pencernaan. Sekali prion ditransmisikan, protein cacat itu menyerang otak dan diproduksi di putaran umpan balik yang disokong sendiri, menyebabkan penyebaran eksponensial prion,  dan pasien akan meninggal dalam beberapa bulan, meski beberapa orang diketahui hidup selama-lamanya 2 tahun.

Dua tahun

Dua tahun itu waktu yang pendek

Aku masih ingin hidup bersamanya selama ribuan tahun, jika mungkin.

Apakah hanya dua tahun waktu yang diberikan Se Yeon untuk memiliki Jiyeon.

Aku gemetar menerima kenyataan itu, dan nyawaku nyaris terbang. Waktuku bersamanya seperti telah ditentukan durasinya.

Ini tidak mudah.

Tapi aku berusaha tegar demi waktu yang tersisa ini.

”Oppa!”

Jiyeon menyambutku dengan tangan lemahnya.

”Kenapa aku begitu  merindukanmu, Oppa.”

Kupejamkan mataku. Akupun begitu merindukannya. Kupeluk tubuh lemahnya dan memberinya semua cinta yang aku punya. Bahkan nyawaku seandainya itu bisa.

”Kenapa aku di sini?”  Jiyeon berdecak.

”Kau pingsan, dan aku membawanya ke sini.”

”Kapan aku pingsan?”

”Tadi malam, saat kau mengetik.”  aku berbohong. Padahal dia sudah tiga hari dalam keadaan tak sadar.

Jiyeon mengangguk dan melirik bunga di sampingnya dengan senyuman.

”Apa itu kau yang menaruhnya di situ Oppa?

”Hm. Kau suka?”  aku mengambilnya satu, diantara yang cantik. Mawar putih yang masih setengah merekah. Jiyeon menerimanya dan menyentuhkan mahkota mawar itu di hidungku.

”Wajahmu semakin tampan Oppa.” bisiknya dengan malu-malu.

It’s all for you. Hanya untukmu, Jiyeon. Wajah tampanku, tubuh seksiku, dan keindahan kulitku dan juga helai rambutku. Semuanya—  hanya untukmu.”

Kupalingkan wajahku, dan menarik banyak oksigen di sekitarku. Aku mendadak ingin berteriak— keras. Sangat keras.

Terdengar kekehan lembutnya. Aku tak kuasa untuk ikut tersenyum.

”Kau sangat seksi Oppa.”  dia mengerling

”Aku tahu.” tegasku mencandainya. Aku suka ketika dia tergelak dengan kenarsisanku. Tapi itulah daya tarikku yang kubanggakan di depannya.

”Oppa, kenapa laki-laki tampan sepertimu jatuh cinta padaku?” tanyanya dengan mengusap wajahku.

Mendadak aku berdiri dan berjalan cepat meninggalkannya. Kenapa dia bertanya mengenai itu. Aku pun tidak mengerti kenapa aku jatuh cinta padanya. Ada pepatah mengatakan, bahwa manusia lahir selalu mempunyai misi. Dalam hal ini, Jiyeon adalah misi utamaku, dan sebentar lagi misi ini akan selesai

Oh apa yang harus kulakukan sekarang. Aku sungguh tidak tahan menghadapinya.  Tubuhku semakin gemetar menyadari bahwa waktu – waktu yang berjalan ini hanya tinggal sesaat lagi.

Sesak

Dada ini terasa begitu terhimpit. Apakah ini karena aku terlalu mencintainya.  Aku tidak percaya mengenai semua itu, ketika kita terlalu mencintai seseorang terlalu dalam maka kita akan kehilangan.  Itu adalah ungkapan bodoh.

Jangan biarkan aku kehilangan Jiyeon dengan cara seperti ini. Tanganku mengepal ke dinding dan menghantamkan semua beban hatiku ke sana. Kuharap dinding ini runtuh bersama semua kekalutanku.

”Sehun!”  tepukan tangan di bahuku membuatku segera menyusut air mata. Ny. Park berdiri di sebelahku dengan wajah bijaksananya. Dia mengerti dengan apa yang kurasakan, dak aku tak bisa menguasai diriku lagi. Tergugu dengan banyak air mata.

Apakah aku diijinkan untuk menjadi laki-laki cengeng.

.

.

.

#Jiyeon pov

Aku melihatnya berjalan menjauh dariku. Wajahnya begitu kaku. Aku tahu dia berusaha untuk tegar, tapi dia tidak setegar itu. Meskipun beberapa saat lalu dia tersenyum dan tampak bahagia, tapi dia tidak bisa menyembunyikan wajah cemasnya itu darikuu. Ketakutannya begitu menguasai.

Aku tahu apa yang sedang terjadi denganku. Aku sungguh tahu, hanya saja aku tidak ingin memikirkannya. Jika aku memikirkan akan mati, maka hidupku bersama dengan Sehun yang tinggal sesaat lagi akan menjadi sia-sia

Dia tidak ingin menangis di depanku,

Kupandangi dinding-dinding itu. Dia ikut gemetar bersama Sehun yang menyandarkan punggungnya di luar sana.

Sehun melarikan diri dariku, dan aku menjadi sedih melihatnya merasakan kesedihan  ini. Aku pun tidak sengaja membuatnya sedih, seharusnya kami bahagia. Seharusnya Tuhan memberikan kami waktu untuk bisa  melukis mimpi ini bersama.

”Sehun Oppa!” sebutku lirih, ketika aku mendengarnya terisak di luar sana. Apa kau pikir aku tidak mendengarnya, Oppa. Meskipun kau menangis di kutub Utara sekalipun aku tetap bisa mendengarnya, karena aku tidak mendengar dengan telingaku. Aku mendengar dan merasakan dirimu dengan hatiku. Aku mencintaimu Oppa, dan kau tidak usah meragukan lagi semua ini hanya karena kecemburuanmu pada Jisoo.

Kuremas tanganku, dan banyak menuangkan doa dalam setiap hembusan napasku. Aku sudah lama tidak berdoa. Ini agak canggung untuk menyebutkan nama Tuhan dengan tubuh berdosaku. Sepertinya aku sangat tidak layak untuk menyebut nama Tuhan di saat-saat sedang kritis seperti ini. Kenapa baru mencarinya ketika aku sedang dilanda kesusahan.

Kenapa?

Tubuhku gemetar dan akupun ikut menangis bersama Sehun.

.

.

.

Beberapa hari kemudian,  Sehun membawaku pulang. Badanku merasa sedikit lebih baik.  Menurut dokter aku harus lebih banyak meluangkan waktuku bersama orang-orang tercintaku.

Aku mengerti

Sehun berada di sisiku sepanjang waktu. Dia tidak pernah pulang larut malam, dan selalu memperhatikan kebutuhanku. Sebagai catatan, aku melupakan semua tugas akhirku, karena Sehun tidak mengijinkanku untuk berpikir dengan otakku.

”Lupakan saja semua itu, karena saat ini yang terpenting adalah kesehatanmu. Aku akan merasa sangat berdosa jika membiarkanmu meneruskan semua itu.”

Oppa—” panggilku,

Sehun tersenyum dan menyandingi posisi tidurku. Dia mengambil kepalaku dan memberikan lengannya sebagai bantal. Aku merasakan aroma maskulin tubuhnya yang begitu nikmat. Kuciumi dadanya dengan hebat.

Sejenak dia mengangkat mukaku dan memberikan sentuhan lembut bibirnya di keningku.

”Panggil aku Oppa sekali lagi!” pintanya

Oppa!” panggilku dengan senyum menggoda. Entah kenapa aku ingin menggodanya. Wajarkah jika berpikir aku ini ingin bermanja manja dengannya.

Lalu Sehun memberikan kecupan manis di bibirku. Sangat lembut dan manis, lalu perlahan semakin dalam, menekan dan penuh gairah. Aku merindukan bibir ini, bibir yang selalu bisa membuatku merasa nyaman dan tenang.

Ya seperti ini, Oh Sehun. Aku menyukai gayamu ketika menciumku, tubuhmu pun ikut menghangatkanku. Aku bahagia di dalam hatiku. Rasa hangat ini membuatku merasa bahagia.

Beberapa menit kami saling menyalurkan kerinduan, Sehun melepaskan pagutannya. Tubuhku luluh lantak ditinggalkan dalam kondisi tinggi penuh gairah, dan dia hanya tersenyum mencandaiku.

”Apa kita diijinkan untuk melakukan hubungan ?” tanya Sehun sambil menjentik hidungku.

”Dokter tidak melarang.”  aku mematutkan bibirku,

Tidak lama Sehun kembali menindihku. Dia memberikan ciumannya lagi dan kali ini dia pun memastikan dirinya untuk tidak mempercayai ucapan dokter. Meskipun dokter tidak melarang, tapi dia tahu kondisiku yang sebenarnya.

Bagaimana jika setelah malam ini aku hamil.

Aku ingin hamil.

Kali ini aku benar-benar ingin hamil.

Aku ingin Sehun menghamiliku,

Oppa, berikan padaku semuanya.”  pintaku ketika dengan segenap kelembutannya dia memacu tubuhku. Ini sangat terasa indah dan nikmat. Kusentuh lengannya, dadanya, kemudian leher dan meremas helai rambutnya. Dia mendesah

”Berikan padaku Oppa!”

Lalu Sehun memberikannya. Tubuhnya terlihat lunglai sesudahnya. Dia menanggung banyak keringat dan deru napasnya tampak terbuang dengan seluruh keletihannya.

Aku berdoa semoga aku hamil.

.

.

.

Pagi ini, Jiyeon terlihat lebih pucat dari biasanya. Dia bangun dan tertatih berjalan ke kamar mandi. Aku membuntutinya, memegangi tubuhnya yang seolah-olah akan ambruk di depan mata.

”Aku tidak apa-apa, Oppa!” ujarnya sambil menahan tanganku untuk tidak memegangnya.

”Kau pucat dan lemah.”

”Aku tahu,”  dia berdiri di depan washtafel dan menyibakkan rambut panjangnya. Aku mengikatnya ke belakang dengan tanganku. Lalu mentapnya di dalam cermin.

Untuk sebentar dia membeku, kemudian memejamkan matanya.

”Apa kau baik – baik saja? Sebaiknya kita ke dokter lagi.”

Dia menggeleng, kemudian menunduk dan muntah. Suaranya menyayat hatiku. Sepertinya dia begitu tersiksa dengan kondisi mual perutnya. Tidak banyak yang keluar dari mulutnya, tapi dia terlihat sangat payah dan lemah. Aku membopongnya lagi ke ranjang. Dia terbaring dengan tatapan sayu— ke arahku.

Oppa, aku hamil.” ujarnya dengan menggenggam tanganku.

Seketika itu aku menggeleng,

Oppa, aku hamil.”  ulangnya

”Tapi—”

”Umurnya sudah tiga minggu.” jelasnya lagi.

Tapi ini akan beresiko. Jiyeon harus selalu meminum obatnya, dan dalam keadaan hamil, dia tidak bisa melakukan itu. Obat-obatan itu akan meracuni janinnya. Ini tidak bisa dibiarkan.

”Kau tidak boleh hamil, Jiyeon!” tegasku berhati-hati

Jiyeon mematut

”Aku ingin hamil. Aku ingin memberimu seorang anak.”

”Aku tahu, tapi—”

”Berikan aku kesempatan. Aku ingin menjalani masa kehamilanku ini dengan bahagia, Oppa!”

Aku tahu Jiyeon, kau ingin memberiku seorang anak sebagai tanda perpisahanmu. Bagaimana mungkin aku bisa berada pada situasi seperti ini. Jika aku membiarkanmu hamil, maka kau akan mati. Tapi jika kau tidak hamil pun, kau akan tetap meninggalkan aku sendirian di dunia ini.

Aku tak bisa memberikan jawaban, dan memutuskan untuk menghindar sebentar. Kepalaku begitu pening dan suntuk memikirkan ini. Jiyeon menatapku sedih ketika aku  berlalu dari hadapannya. Sepertinya aku terlalu membuatnya gelisah. Masing-masing dari kami sudah memahami apa yang akan terjadi. Hanya saja kapasitas hatiku masih belum bisa merelakan semua ini.

Maafkan aku Jiyeon—

.

.

.

Desember ini, usia kandungan Jiyeon memasuki bulan ke tujuh. Dia sudah tidak bisa turun dari ranjang dengan mudah. Tubuhnya semakin kurus dan lemah. Perutnya membesar dengan ukuran normal. Dokter memastikan bahwa bayinya perempuan.

Perasaan bahagiaku ini rancu.  Diantara rasa suka cita ini aku pun harus merasakan duka yang tidak terkira.  Di malam hari ketika dia memejamkan mata, aku selalu takut bahwa mata itu mungkin tak akan lagi terbuka di kesokan paginya, hingga aku selalu terus menatapnya hingga larut malam, bahkan menjelang pagi aku baru tertidur. Sesekali dia memergokiku sedang menatapnya, dia hanya mengusap wajahku dan mengatakan bahwa aku semakin tampan dari hari kehari. Rahangku semakin kuat, alisku terlihat lebih tebal, hidungku mancung, dan mataku begitu indah saat menatapnya. Terlebih bibirku semakin nikmat untuk di ciumnya.

Kuanggukkan kepalaku, mengiyakan semua yang dia katakan padaku.

Dan aku menghitung dari hari kehari seperti yang dia katakan sejak aku mengetahui penyakitnya. Jiyeon tidak pernah lupa mengatakan itu padaku. Setiap malam sambil memelukku, dan aku memeluknya. Kami berpelukan setiap malam, tanpa absent, hanya saja pelukan kami terurai ketika kami terlelap dengan sendirinya.

”Suami tampanku!”  bisiknya kemarin malam saat dia melihatku mematung menatapnya

”Hm?”

”Apa kau sudah menyiapkan nama untuk putri kita?” tanyanya.

Aku menggeleng. Sama sekali tidak terpikirkan olehku untuk mencari nama yang bagus untuk anakku.

”Yeon Seo.”  lirih Jiyeon.

”Yeon Seo nama yang cantik.”  Sambutku, “Kau dapat dari mana nama cantik itu?”

Jiyeon tersenyum.

”Tidak tahu.”

”Hanya terlintas saja. Apa kau suka” tanyanya

Aku mengangguk. ”Ya, aku suka.”

Kemudian aku ke dapur meninggalkannya untuk menyiapkan vitaminnya. Dokter sudah berpesan bahwa Jiyeon mungkin akan mengalami halusinasi dengan tekanan darahnya yang kian meninggi. Jika hal itu terjadi maka mau tidak  mau Jiyeon harus segera melakukan oprasi caesar untuk mengeluarkan bayi dalam perutnya.

Aku semakin gelisah dan panik menghadapi semuanya. Aku tidak ingin kehilangan keduanya.

Ibuku datang pagi ini, dan dia membawakan beberapa pakaian bayi. Adikku membelikan boneka, meski itu belum waktunya. Mereka terlalu antusias untuk segera menerima kehadiran Oh Yeon Seo dalam kehidupan kami.

Di balik semua senyuman ibuku, aku tahu bahwa dia sangat khawatir dengan keadaanku. Dia hanya berpikir, bagaimana jika Jiyeon tidak bisa bertahan, dan aku akan ditinggalkan. Tatapan itu benar-benar menghancurkan hatiku.

Jiyeon di bawa ke rumah sakit dalam kondisi pingsan. Ini adalah pingsan yang ke empat kalinya sejak dua hari lalu. Mungkin inilah saatnya dia harus menjalani oprasi itu.

Dokter segera memasukkannya ke dalam ruang oprasi bersama tiga personil dokter ahli lainnya. Mereka tidak ingin melakukan kesalahan sediktipun pada pasien khususnya itu. Aku tidak diijinkan masuk, meski pada khasus biasa lainnya, semua itu di perbolehkan.

Dua jam

Aku menunggu seperti orang gila di luar ruangan. Dua jam terlalu lama untuk sebuah oprasi caesar.

Lampu tanda oprasi telah selesai padam dan jantungku meledak ketika pintu itu di buka. Dokter keluar dengan melepas maskernya. Dia melihat ke arahku dan mengangguk. Apakah itu berarti bahwa mereka baik-baik saja.

Sunyi

Kemudian suara roda temat tidur bergesekkan di lantai menuju ke arahku. Jiyeon berada di sana dengan selam oksigen dan infus di lengan kirinya. Dia masih belum sadar.

Aku bertanya mengenai bayiku, dan mereka mengatakan bahwa bayiku dalam keadaan baik-baik saja meski lahir premature. Bobotnya normal dan dia adalah bayi perempuan yang cantik.  Aku melihatnya di ruang inkubator. Dia tertidur dengan begitu tenang. Kulitnya begitu putih dan tipis, sedikit keriput karena dia lahir belum pada waktunya. Cekungan dalam terlihat di dadanya, tapi dia baik-baik saja. Dia sangat mirip dengan ibunya.

Jiyeon

Aku segera kembali untuk menemui Jiyeon di ruang ICU. Dia masih harus melewati masa kritisnya lagi. Perjuangannya begitu besar untuk mendapatkan seorang anak. Anak yang dia persembahkan hanya untukku, yang akan selalu mengingatkan aku padanya.

”Dia akan baik-baik saja, Tuan!”  perawat mengantakannya dengan senyuman.

”Semoga.”

”Nyonya sangat kuat. Dia sepertinya sangat berusaha untuk tetap hidup.”

Aku mengangguk. Perawat itu benar, Jiyeon memang tidak pernah menyerah pada takdir. Dia mempunyai kekuatan lebih ketika dia hamil. Seperti ada sebuah harapan di dalam hatinya untuk tetap hidup dan melihat putrinya lahir.

Hujan salju begitu membekukan. Semua terlihat dingin dan pasif. Tak ada yang bergerak di luar sana. Aku melihat semua begitu putih dan tak berwarna.  Jiyeon terbaring di sisi Yeon Seo. Dia sedang mengamati wajah putrinya dan aku bergabung di sebelahnya setelah bosan melihat kebekuan di luar sana.

Malam ini, Yeon Seo genap berusia satu bulan. Dia semakin aktif bergerak. Kaki dan tangannya selalu menangkap tanganku ketika aku memainkan jemarinya. Genggaman tangannya begitu kuat.

”Yeon Seo sulit tidur belakangan ini.”  ujarnya.

”Mungkin karena matanya sudah bisa melihat jelas wajah kita.”

Jiyeon mengangguk

”Dia mengamatiku dengan bola matanya yang bening. Kau tahu Appa, Yeon Seo sangat mirip denganmu ketika dia sedang mengerutkan dahinya.”

Aku tersenyum

”Benarkah? Apakah bayi seumur ini sudah bisa mengerutkan dahi?”

”Faktor keturunan. Lihat saja sendiri!”

”Kau bercanda!”

”Tidak. Coba lihat sendiri!” Aku melihatnya,

Jiyeon bangkit dari kasur, dia berjalan pelan ke arah kamar mandi. Aku lebih mengamati Jiyeon ketimbang wajah anakku, karena aku masih begitu mengkhawatirkannya.

Dia melirikku sebentar sebelum memasuki kamar mandi. Tatapannya begitu penuh rasa bahagia, seolah-olah ingin mengatakan bahwa dia mencintaiku. Kukerlingkan mataku untuknya dan dia tersipu—

Dia selalu menggemaskan.

Aku bermain-main dan mencandai Yeon Seo, mengajaknya bicara dan tersenyum, namun pikiranku tidak bisa terlepas dari Jiyeon

Hampir lima menit dia berada di dalam kamar mandi, dan aku mulai curiga. Tidak ada suara di sana dan—

”Jiyeon!” teriakku dari luar. Pintu itu tertutup dengan rapat. Semua pikiran burukku berkelana. Kenapa begitu sunyi di dalam sana.

”Jiyeon!” panggilku lagi, kali ini dengan berusaha membuka pintunya. Pintunya tidak terkunci. Aku segera membukanya—

Tubuhnya tergeletak di lantai dengan darah yang merembes dari dahinya.

”Jiyeon! Oh Tuhan, kenapa begini? JIYEON!” panggilku lagi. Dia pasti pingsan dan terjatuh, kepalanya membentur sesuatu.  Aku mendekatinya dan memeriksa denyut nadinya. Dia masih hidup,

Beberapa menit kemudian dia sudah berada di dalam ambulance. Aku menitipkan Yeon Seo pada keluargaku, dan mereka begitu panik dengan kondisi Jiyeon.

.

.

.

Sekitar pukul dua siang, salah satu perawat  membisikkan padaku mengenai satu hal, dan tatapanku menjadi hampa seketika—

.

.

.

Mungkin memang inilah waktunya aku untuk merelakannya. Mereka mengatakan bahwa fungsi otak sudah tidak berfungsi lagi. Jiyeon sudah mati meski jantungnya masih berdetak. Hanya karena alat-alat itu  aku masih bisa mendengar detak jantungnya.  Dia sepenuhnya sudah berada di dunia lain, dan mungkin sedang menatapku saat ini.

.

.

.

.

”Jiyeon!”  kudekap dengan erat dari sisi sebelah kanan. Para petugas itu mengijinkanku untuk menyandinginya. Mungkin mereka tahu bahwa kali ini aku ingin melepaskan kepergiannya.

.

.

.

Jiyeon tetap diam, meski aku tahu jauh di dasar kesadarannya, dia masih mendengarku. Dia masih mengenali suaraku, dan kehangatan tanganku ketika merengkuh bahunya, dan mendekatkan dia  di dadaku,

Dia selalu menyukainya, dan menciumiku dengan kelembutannya dulu. Dadaku selalu memberikan rasa aman untuknya.

”Sayangku—”

Suara detak jantungnya terasa di dadaku

.

.

.

”Selamat malam!” bisikku lirih. Kuusap helai rambutnya dengan telapak tanganku yang dingin.

Kukecup keningnya, dengan sisa sisa kekuatanku

.

.

.

”Bermimpilah yang indah!”

.

.

.

Kutahan napasku lagi,

.

.

.

”Bermimpilah mengenai kehidupan kita di masa yang akan datang, pada kehidupan yang mungkin akan memberikan lebih banyak waktu untukmu, untukku dan Yeon Seo.”

.

.

.

Kutatap lagi wajah cantiknya, dan ingatanku seakan kembali pada masa di mana dia mentapku di pinggir hutan itu dengan rasa takut dan cemasnya.

.

.

.

”Kumohon jangan mencemaskanku lagi. Aku bisa menjaga diriku.”

Wajahnya berubah menjadi lembut, seperti kelopak mawar putih yang beberapa waktu dulu pernah dia sentuhkan di hidungku, dan aku menyukai harumnya.

.

.

.

”Terima kasih untuk Yeon Seo. Terimakasih karena dirimu dia ada diantara kita.”  kutahan napasku untuk tidak menangis. ”Aku akan menjaganya untukmu dan akan selalu menceritakan dirimu untuk hidupnya.  Kau adalah ibu yang baik dan perkasa untuknya.”

Detak jantungnya semakin pelan. Kedekap dia semakin erat,

Jiyeonku—

Jeritku dalam hati

.

.

.

Aku ingin berteriak padanya ’ Please…please stay with me, at least until the sun goes down!’

Tapi yang kulakukan hanya menatapnya dan meneteskan air mata. Suaraku hilang bersama semua kesesakkan di dadaku. Aku tidak ingin menangis, aku tidak ingin mengantar kepergiannya dengan kesedihanku, tapi aku tak kuasa—

.

.

.

.

Matahari begitu sunyi sore ini. Aku bisa melihat warna kuning yang lembut memasuki ruangan. Dia menghadirkan bayangan kelopak mawar diantara wajah Jiyeon yang terpejam.

Ruangan ini sepi, hanya ada dia dan aku.

Suhu udara di ruangan ini, mendadak menjadi lebih dingin. Aku begitu khawatir Jiyeon kedinginan. Selama ini dia tidak pernah mengeluh kedinginan, tapi aku tetap memberinya pelukan agar tubuhnya tetap hangat.

.

.

”Biarkan aku memelukmu lebih lama, Sayang!”

Tiba-tiba tubuhnya menjadi kejang, dan kaku.

”Jiyeon!” panggilku, tapi tubuhnya tidak bereaksi.  Dia membujur kaku dan membuatku terpaksa melepaskan pelukanku.

Kusentuhi dari ujung rambut hingga sebatas lengannya.

Jiyeonku….. akhirnya kukecup lagi bibirnya untuk yang kesekian kalinya.

”Sayang..kau kenapa?”

Kuusap wajahnya.

Beberapa detik itu aku masih tidak mengerti, tapi kemudian seperti ada sebuah sentuhan lembut di bahuku yang seakan-akan menguatkan aku—

Lalu kupandangi lagi wajah istriku,

”Baiklah—”

.

.

.

”Baiklah, kau boleh pergi sekarang. Kau boleh pergi—Jiyeon!”

.

.

.

Lalu tubuh itu mulai berangsur lemas, dan kembali ke dalam pelukanku lagi. Setelah itu aku seperti memeluk kekosongan,  tak kudengar lagi detak jantungnya berdegup di dadaku.

Kupejamkan mataku untuk meresapi ini. Dia sudah pergi.

.

.

.

Dia pergi…

.

.

Selamat jalan Sayang!

.

.

Aku tak akan menghalangimu lagi—

.

.

.

Kupandagi wajahnya yang tersenyum. Dia pergi dengan perasaan bahagia. Aku bersyukur bahwa dia pergi ketika berada dalam pelukanku. Pelukan yang selama ini selalu memenjarakannya dalam rasa cinta.

.

.

Jiyeonku…

Sayangku— kelak, dikehidupan mendatang, jika memang diijinkan, aku akan tetap mencintaimu –

.

.

.

 

.

End..089d54478f10be158db9010c520c67ffd6ba4362_hq

.

.

.

Terima kasih untuk semuanya

maaf kalau sad ending

semoga yang pengen nangis di ff ini terpuaskan nangisnya ya, [Vhie]

semalam aku udah ngomong sama [Mhila], aku bikinnya sampai termehek mehek/akunya yang lebay/.[kebetulan pas lagi chating ma dia]

tapi ya sudahlah, inilah hunji dengan ending yang seperti ini.

pis!

 

Advertisements

44 Comments Add yours

  1. Eh jadi beneran mewek. Gw sensitif sih kalau yang sdih sedih. Eh jadi beneran mewek. Gw sensitif sih kalau yang sdih sedih.

    1. mochaccino says:

      gada maksud bikin mewek, hanya cerita. tapi makasih udah nyempetin baca,Hidup Yifan!

  2. sintadw91 says:

    Nah loh… berarti gara2 jatuh dhutan kmren…. nah loh….
    Hahhahaaa

    1. mochaccino says:

      sebenarnya itu hanya pemicunya aja. penyakit itu menumpang di penyakit lainnya kek benalu. penyakit dia atas penyakit. nambahin sakit jadinya. nah loh dia ketawa.

  3. mhilaji says:

    Sumpah kak lana ini bikin nyesekkk.. sampai – sampai mhila cari tempat menyendiri… gak sagup sumpah baper…
    Aduhh mhila jadi gak tau mau komen apa… pokoknya nyesek dehh baca bagian bagian sehun… duhh jiyeonku… yang kuat … kenapa kau tinggalkan sehun.. nyesekkkkkkkkk………..

    1. mochaccino says:

      direlain aja, Mhil! yang sudah berlalu biarkan berlalu, ga usah dipikirin. Move on! cup cup cup!

      1. mhilaji says:

        Pokoknya gak bisa move on.. galau tau sehun di gituin .. nyesekk banget abang eykehh ..

  4. kwonjiyeon says:

    Pria sempurna suami sempurna dngn kesempurnaannya untuk mngejr cintanya walaupun pd akhirnya harus berpish dri cintanya adakah pria dngn sejuta cinta dlm ksempurnaan …aku sedang menyelm dan mncari

    1. mochaccino says:

      gada laki-laki sempurna di dunia ini. saling mengerti dan memahami, menerima kekurangan dan kelebihan itu yang lebih berarti. fighting untuk bisa menjadi manusia yang lebih berarti untuk manusia lain.mudah mudahan dengan niat baik, kita akan mendapat yang terbaik. kerja keras tidak akan menghianati kita. VIS Violet!

      1. kwonjiyeon says:

        Kmu bner g ada laki3 yg sempurna kadng terlalu sempurna malh mmbosankn nkl sedit sbgai bumbu cinta….tpi aku hanya mncri pria sempurna d mataku bukn orng lain just for me walaupun d pandng orng lain dia bkn pria sempurna..aku hnya memndang dri sdut kesempurnaan matahatiku
        Seperti pria yg sebntr lgi akn mndmpingi hidupmu dia sempurna menurut hatimu
        Mungkinkh……..

      2. mochaccino says:

        Setuju!
        semoga dia sempurna sampai akhir hayat di mataku. tidak ada yang tidak mungkin. kadang kalao kita mendamba yang sempurna untuk segalanya kita malah akan kecewa. yang jelas, dia sudah dipilihkan Tuhan untukku, dan pilihannya pasti yang terbaik buat aku.

  5. Huwaaaaaaa T.T
    Gk kuasa nahan tangis…
    Perjuangan mrk dlm wkt2 yg d lalui sgt menyentuh,
    Pa g saat sehun melepaskan jiyi terakhir x na dg cara yg indah,,
    Gomawoo lanaa ^.^

    1. mochaccino says:

      sama-sama Vhie.

  6. indaah says:

    aihh sumpahh nyesekk , bener trnyta dugaan ku klo sehun aja yg takut kehilangan jiyeon smpe cemburu gtu …
    ahh jd pnyakit jiyeon berawal dr hutan wktu ep pertama , nyesek bgt tu sehun ..
    ahh tp syukur ada yg nemenin sehun , ada seyeon ?
    sad ending huahhh ngena bgt lan kerenn deh
    nice ….

    1. mochaccino says:

      Makasih untuk tidak protesnya. Biasanya kalo sad ending pasti diberondong makian. aku udah siapin ati sih buat nerima itu, but, kalaupun ada yang sudah sangat menjiwai ini, mudah mudahan bs move on, karena ini cuma ff. sekali lagi makasih sangat.

  7. May andriani says:

    Endingnya bkin aq nangis deh,, hiks hiks jiyeon meninggal n dia ninggalin sehun sma anaknya .. Smpai aq commen aja msih gk berhenti nangis ;( ;(

    1. mochaccino says:

      cup cup cup I hand u tissue, makasih sangat sudah nyempetin lagi mampir. syukurlah kalo ga kecewa. ho ho ho, apalah ini, kadang bikin yang happy ending agak jenuh juga. kupikir kalo ga nangis, pasti aku gagal bikin ffnya.

  8. nissa says:

    kecewa bgt sama endingnya.kenapa harus sad ending kan bisa happy ending.huft kecewa bgt

    1. mochaccino says:

      Yang ini kecewa, ya tidk apa-apa. maaf ya bikin kecewa, dari sekian banyak ff ku cuma ini yang sad ending. hu hu hu…. makasih sudah meluangkan waktunya..

  9. Duh, biasanya suka antusias kalau baca ff Jiyeon.. Tapi kesini makin kesini kenapa sulit untuk ikut menjiwai ff ff nya.. Padaahal dulu suka bgt ff Jiyeon dgn siaapapun. Lawan main nya. Terutama Minho.. Sekarang, udah bedda.. Satu2nya author ff Jiyeon yg msh aku ikuti cuma kamu.. Bukan baru sempet baca karyamu llagi.. Tapi, rasanya udah ngga bisa bayangin Jiyeon ssaamma laki2 lain.. Selain LDG. Makanya ngarep kmu bisa bikin dongyeon lagi.. Ngga maksa,, syukur2 dikabulin. Kalau pun ngga juga ngga. Apa2.

    1. mochaccino says:

      YAng ini Dongyeon addict..kkkkk
      gimana ya Teh, aku bukannya ga mau nulis Dongyeon lagi, tapi kadang aku ngeri, LDG kan hal yang sangat real buat JIyeon. takut ada kesalahan. aku nulis cuma berandai-andai. cuma berimaginasi. jadi aku bebas menuangkannya. kalo LDG takut salah akunya.

      tapi makasih sangat masih mengikuti ff q. tersanjung ini Teh.

      ya , aku ngerti kalo teteh ga ngefeel lagi. banyak kok Teh yang senasib sama Teteh, para Myungyeon shipper juga merasa sama, teteh ga sendiri. mungkin bedanya sama author yang multishipper ga terlalu galau Teh.

      makasih ya Teh udah nyempetin ke sini.

      1. Ngga apa2 sih.. Soalnya terobati dgn moment DongYeon *secret narasumber ngelarang umbar moment mereka

        Ya, ngga apa2… Ngga mengharapkan sekali kok.. Cuma yaa memang daripada author lain yg tulisannya pernah aku kunjungi.. Tulisan kamu lbh baik.. Yg lain, aku ngga begitu sukaa tulisannya. Memang Jiyeon tokohnya, tapi i don’t know.. Not interesting..

        Pokoknya sekarang udah jarang Baca ff.. Seeing ya nonton video dmm di YouTube haha curhat..

        Semangat nulisnya…

      2. mochaccino says:

        aku juga ga selamanya nulis, kalau suatu hari nanti aku ga nongol lagi, mungkin aku udah di telan bumi. makasih untuk supportnya

  10. dwiki says:

    huaaa sad ending walaupun jiyeon udah ngelahirin anak buat sehun.
    sehun pasti sedih bgt

    1. mochaccino says:

      ya, begitulah yang tergambar di atas. Cinta mati di bawa mati. ngenes sih, tapi kadang idup ga sesuai sama yg qta mau.Pis, thank u ya

  11. Minew says:

    Huwaaaaa jdix sad ending…knp jiyi tinggalin sehun ma yeon seo…
    Dtggu ff lainx saeng…

    1. mochaccino says:

      kenapa dia ninggalin… mungkin takdir. but thank u for coming again!

  12. nova says:

    Tenggorokan tercekat dan air mata pun meleleh.. salut thor.. gak kuat bacanya.. takutnya ntar kebanjiran air mata

    1. mochaccino says:

      ga sanggup bacanya, jadi udah baca pa belum. wkwkwkw.. gapapa banjir air mata dari pada banjir iler…hehe bikin pulau deh! betewe thank u

  13. sookyung says:

    hiks hiks hiks knp jadi sad gini sihh TT,, sampe nyentuh ke hati jadi baper ngebacanya

    1. mochaccino says:

      dari judulnya harusnya udah bisa ketebak kalo pasti sad ending, cuma kekna pada ga ngeh ye. hahaha, lain kali aku bikin yang absurd ending deh. /ditendang bininya sehun sedunia/

  14. diah.dimin says:

    lana knp jadi g happi. huaaaa sehun dah duda wehh

    1. mochaccino says:

      iya Ceu, kaga hepi ye. muupkeun ini teh termehek mehek jadinya. /alaymoodon/ eykeh lagi seneng bikin mewek anak orang ini teh/ dijewer emaknya/ ya ampun padahal cuma sekali bikin sad ending, jangan dimarahin atuh Teh

  15. Just Me says:

    Huaaaaa sad ending.. Ga bisa komen apa apa lagi. Masi ga rela Jiyeon dan Sehun baru sesaat menjalani kehidupan bahagianya bersama. End.

    1. mochaccino says:

      MOVE ON PLIS! wkwkwk

  16. rasma says:

    hiks hiks sumpah bikin mewek..gimana perasaan sehun.berliku banget jalan dia untuk dapatkan jiyeon.eh setelah dapat malah jiyeon nya yng pergi,tapi untung ada se yeon yang jadi pelipur lara sehun ..kaya nya di bikin sequel masih bisa nih lan :v 😃

    1. mochaccino says:

      thats the point aku pengen bikin mewek anak orang. hahaha… bedewe makasih

  17. Bb says:

    Seenggaknya walopun jiyeon pergi ada yeonseo yg jadi kenangan mreka br2.
    Sedihlah bacanya, no problem. ya wlopun gak rela jiyeon pergi, tpi ya realistis ajah, jiyeon emng hrus pergi;(
    so sad

  18. unha azhari says:

    nggk nyangka klo endingnya bakal sad kyk gini….
    oohh noooo,,, big noooo,,,hhuuaaaaa
    aku jg baru tau klo ada penyakit sprti itu…..
    eonni,,, btw… wktu kuliah jurusan apa ???
    ko bnyk tau tntang hal2 medis….
    mian,, kepo…
    d tnggu eonn ff yng lain….
    jgn lma2 yyyyyyaaaaa….. 🙂

  19. iineey says:

    Nyesekkkkk bgt 😢😢😭😭😭
    Ya ampun ga nyangka klo ini bakalan sad ending
    Ga nyangka klo kejadian dihutan waktu itu ber efek mematikan
    Sedihhh bgt
    Aku aja baca nya ikutan termehek mehek
    Feel nya dpt bgt

    Walau sad ending tp ttp kerenn bgt dah ff nya
    Smp ikutan terhanyut sama ceritanya
    Dan sikap sehun bener2 lembutttt bgt
    Duhh jd baper nih

    Anyway…. ff nya keren lan

  20. djeany says:

    baca di fb,blog mu fi prifat,nah loh q lom baca ni ff endnya..
    dab ternyata2 jreng jreng,terbongkar sudah kecurigaan sehun ternyata jiyeon sakit,dan pada akhirnya ditinggal selamanya..
    tapi keren definisi penyakit pasti alana nyari tu keterangan nya..kerenlah
    .

  21. ma♥B says:

    SERIOUSLY! bener2 adegannya smuanya bikin berhasil bikin aku mewek baper kak ㅠㅠㅠㅠ
    hwhw.. ternyata sadend ya;’) pas uda punya keturunan jiyeonnya malah pergi aaak,nge image gt kl jadi sehun;’
    gjob kaklana!

  22. LC_Ovan says:

    Akhir’a Jiyi pergi untuk selama”a dan Sehun bener” merelakan dengan ikhlas

    Pas bagian Sehun bicara kalau Jiyi boleh pergi seketika itu juga Q nangis karna inget saat My Eomma bilang kaya gitu saat Alm.Appa sudah tidak kuat lagi untuk bertahan, Q udah ngak bisa komen apa” lagi karna mungkin ini yang terbaik bagi semua’a

    Setidak’a Jiyi meninggalkan seorang anak perempuan yang bisa mengobati rasa rindu Sehun ke Jiyi

  23. MFAAEM says:

    Mewek semewek meweknya :(( kebetulan lagi sedih baca ff ini makin meraung raung huhuhuhu sedih banget huhuhuhuh ;(((((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s