[Chapter-13] The Crazy Thing Called Crazy

on

The Crazy

The Crazy Thing Called Crazy

13th

Maincast  Lee Donghae feat Park Jiyeon

Support Cast.

Kim  Mingyu [Seventeen]

Genre Romance

Length Chapter

Rated G

.

.

Jiyeon berpikir keras mengenai sosok rahasia ini. Siapapun dia, semoga saja cepat menampakkan diri, tapi mungkinkah—

Agh, kenapa Jiyeon tidak mencoba untuk mabuk lagi. Mungkin sosok itu akan muncul. Perasaannya begitu kuat kalau dia adalah Lee Donghae.

.

.

.

Ketika Jiyeon tiba di depan pintu apartemennya, dia menemukan lagi satu bucket bunga yang sama dengan yang dikirimkan padanya tadi siang. Sekali lagi, Jiyeon merasa kesal dengan semua kemisteriusan ini.  Entah kenapa semua mawar-mawar ini hanya terkesan omong kosong. Laki-laki yang mengirimi dia bunga secara rahasia seperti ini sama saja dengan pengecut.

Diambilnya bucket mawar itu dan di lihatnya setiap titik area di sekitarnya, dia merasa bahwa orang itu masih ada di sekitar sini untuk melihat apakah bunganya akan diambil atau tidak, atau malah akan dibuang. Jiyeon melangkah ke arah bak sampah di dekatnya, tidak ada alasan untuknya menerima bunga ini, terlebih tidak ada identitas pengirim. Satu kalimat, dua kalimat yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Bullshit! Jika pengirimnya adalah Donghae, maka sungguh sialnya dia, karena Jiyeon memilih untuk mencampakkan pemberiannya ke tempat sampah.

”Oh hatiku!”  gumam Jiyeon, dia merasa hatinya perih seketika, semoga bukan karena bunga ini dan semoga tidak ada lagi mawar untuk besok, tapi bagaimana jika Mingyu memberikannya mawar. Apakah Jiyeon akan menerimanya.

Dengan tenang dia masuk ke dalam apartemennya, sementara sosok yang mengintipnya dari balik pintu tangga darurat memperhatikan semua itu. Orang suruhan Lee Donghae itu mengirimi Bossnya sebuah pesan, bahwa bunga pemberiannya sama sekali tidak diperdulikan, bahkan di buang ke sampah.

.

.

.

Donghae duduk di atas ranjangnya, di dalam kamarnya yang terlihat redup. Matanya belum mengantuk, tapi tubuhnya merasa sedikit lelah. Dia meletakkan buku yang belum dia selesai baca ketika Josephine masuk dan duduk di dekat kakinya. Wanita berdarah Hungaria itu hanya menatap Donghae dengan perasaan bersalah.

”Aku tidak seharusnya menurutimu untuk mengatakan padanya mengenai status kita.”

”Aku yang akan bertanggung jawab. Kau tidak perlu cemas.”

”Aku justru mencemaskanmu.”

”Aku tidak apa-apa” Donghae menyimpan bukunya di atas meja di sebelahnya.

”Bagaimana keadaan Haneul?”

”Dia sudah tidak demam. Setelah meminum obatnya dia tidur.”

”Apakah dia masih bertanya mengenai eommanya?” selidik Donghae

”Ya.”

Donghae mamangku tangannya dan menatap ke arah lain. Ini memang berat baginya kehilangan seorang eomma di saat dia masih membutuhkan perhatiannya.

”Kau boleh tidur.” Laki-laki itu menarik selimutnya dan mencoba untuk terbaring. Josephine membantunya. Wanita itu selalu berada di samping Donghae sepanjang laki-laki itu menikmati liburannya di Eropa. Agh, sebenarya Donghae tidak berlibur. Dia mencoba menenangkan dirinya di sana. Haneul ikut dengannya, agar hubungan mereka dekat. Sekarang Donghae mulai menyayangi Haneul, meski itu masih belum terlalu mendalam.

Jiyeon mungkin akan membencinya, atau mungkin dia akan menjadi curiga dan justru mencarinya. Ini akan menjadi sebuah masalah, jika Donghae masih ada di sekitarnya.

Kaki ini, bukan tanpa sebab dia menjadi seperti ini. Khasus yang menimpanya waktu itu tidak lepas dari masalah yang dia alami dengan Jiyeon. Ny. Park. Wanita itu—

Donghae tidak menyangka bahwa di balik sikap sopan dan lembutnya, dia menyimpan rasa tidak suka yang begitu hebat, sampai harus menyuruh orang untuk memberinya peringatan, dan yang disuruhnya pun bukan orang sembarangan. Jika hanya berandalan kampung yang sok jagoan, atau sekedar kelompok gangster saja Donghae tidak akan merasa terdesak. Ny. Park sungguh jelas mempunyai relasi di militer.

Hari itu, ketika Donghae baru saja selesai mengajar, dia di kepung oleh beberapa orang berpakaian sipil, namun tubuh mereka tinggi dan berpenampilan sangat rapi. Wajah mereka kaku sekaku, kerah baju yang mereka kenakan. Hanya saja penampilan rapi mereka tidak sejalan dengan sikap brutal mereka ketika mengamankan Donghae dan membawanya kesuatu tempat. Untuk sebuah alasan, bahwa mereka menghendaki agar Donghae tidak lagi melanjutkan kegilaannya dengan Jiyeon

Seandainya dia tidak melawan waktu itu, maka dia tidak akan tertembak seperti ini. Donghae melukai salah satu dari mereka lebih dulu, dan terpaksa khasus ini masuk ke ranah hukum. Dalam keadaan terluka Donghae mendekam di penjara selama lima bulan. Seandainya dia tidak ditekan dan dipaksa mengakui semua yang tidak dilakukannya, Ny. Park akan membuat Dongahe mendekam selamanya di dalam pernjara karena telah mencabuli anak di bawah umur.

Nyonya Park tidak main-main  dengan niatnya, tapi dia masih memandang reputasi Donghae sebagai seorang guru. Lima bulan sudah cukup bagi Lee Donghae membuat Ny. Park puas.  Wanita itu tidak lagi mengancamnya dan mulai memikirkan masa depan putrinya tanpa Donghae.

Donghae merasa semua alasan itu sangat tidak rasional di otak cerdasnya, namun dia juga memahami, bahwa semua kebodohan yang telah dilakukan wanita itu padanya, mengancam dan melakukan intimidasi, adalah sikap natural seorang ibu yang menyayangi putrinya, yaitu demi untuk melindungi Jiyeon dari monster sepertinya, dia sanggup melakukan apapun. Lee Donghae mengalah dan memutuskan untuk tidak menemui Jiyeon lagi.

Keputusan itu sungguh sulit dia lakukan, karena pada akhirnya dia harus menyimpan rasa sakit hatinya ketika keluar dari penjara dan Jiyeon sudah bersama dengan laki-laki lain.

Semua berjalan sangat cepat hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi bersama Haneul.

Putrinya itu sejak ibunya meninggal selalu mengalami halusinasi dan demam. Semua ini terjadi karena dia terlalu terpukul dengan kematian ibunya. Sedapat mungkin Donghae bersikap seperti ayah yang baik, meski dia sangat membenci ibunya.

Kehadiran Josephine di rasa sangat membantu. Dia adalah sepupu dari temannya yang tinggal di Paris. Dia perawat dan sangat mengerti dengan dunia kedokteran, sehingga Donghae mempercayakan Haneul padanya ketika mereka di Paris.

Haneul tidak kunjung sembuh juga, dan semakin bertambah parah. Dia bahkan sering mengigau mengenai ibunya.

.

.

.

Jiyeon menghirup hawa pagi dan melangkah di depan trotoar yang masih sepi. Dia berharap degan berjalan kaki, pikirannya akan lebih santai. Menikmati suasana pagi sekaligus memberikan tubuhnya sedikit energy segar. Aliran darahnya terasa lebih lancar.

Bug Bug Bug

Dia mendengar langkah kaki berlari di belakangnya,dan ketika dia menoleh, seorang Mingyu tengah menghindari lirikannya. Jiyeon menggeleng sekali dan melanjutkan langkahnya lagi, membiarkan Mingu menjejerinya.

”Tumben, di mana mobilmu, Nunna?”

”Ada.”

”Kenapa?” Mingyu mengernyit aneh

”Sedang bosan, jadi aku berjalan kaki saja.”

”Aku selalu berjalan kaki.” sahutnya sambil menampilkan deretan giginya.

”Mana bunganya?”

Namja tinggi berambut perak itu tertawa. ”Sudah habis. Eomma memanennya karena takut kucuri lagi.”

Jiyeon ikut tertawa.

”Nunna!”

”Ehm?”

”Apa kau tahu siapa kira-kira pengagum rahasiamu?”

Jiyeon menggeleng.

”Apakah Nunna dekat dengan seseorang selama ini?”

”Kau.” tunjuk Jiyeon dengan senyum.

”Agh, selain aku?” Mingyu merona lucu

”Mantan kekasihku, Yonghwa.”

Mingyu menghela napas. ”Dia sudah meninggal.”

”Ya, ”  Jiyeon mencoba untuk tidak memasukkan Donghae dalam daftar orang yang pernah dekat dengannya. Dia berjanji akan melupakannya.

Perjalanan terasa pendek saat Jiyeon dan Mingyu terlibat dalam perbincangan yang cukup akrab. Ada sedikit penghiburan di dalam hati Jiyeon ketika dia bercanda dengan sosok namja yang usianya lebih muda darinya itu. Meskipun belum lama dia lulus dan masih berkutat dengan tugas akhirnya, Jiyeon masih menganggap dirinya sejajar dengan Mingyu.

”Aku selalu merasa aneh dengan Jung Shin Hyung.”

”Ada apa dengannya?”  Meskipun Jiyeon sudah tahu mengenai sifat laki-laki itu.

”Aku tidak tahu.” Mingyu mengangkat bahunya, kemudian membukakan pintu untuk Jiyeon. Mereka telah sampai di kedai mereka yang sekarang sudah berlantai dua. Jiyeon, mengembangkan lokasi makan agar terlihat lebih luas dan nyaman. Di atas dia sudah membuat konsep kafe yang cozy dengan suasana tropis beratap kaca. Suasana terbuka memang lebih terasa, dan untuk membuat kondisi agar tidak silau atau panas di siang hari, Jiyeon meletakkan pohon-pohon palm di luar, yang daun-daunnya menjuntai dan memberikan perlindungan ke dalam.

”Aku akan membereskan lantai atas.” Mingyu berlari menaiki tangga, sedangkan Jiyeon masuk ke dalam ruangannya. Sama seperti hari-hari biasanya, dia selalu mendahulukan untuk memeriksa beberapa laporan hasil penjualan di atas meja. Beberapa faktur tagihan dan memo kecil mengenai keluahan pelanggan. Jiyeon sudah terbiasa melakukan itu saat bersama dengan Yonghwa dalam ruangan sempit ini. Maklum, dia bukan direktur dari perusahaan besar, namun pekerjaannya ini juga bukan hal yang kecil. Di dalam ruangan sempit ini, dia sedang membangun usahanya agar tumbuh menjadi besar agar Yonghwa bisa tersenyum di alam sana, atau paling tidak jika Jiyeon menyusulnya, dia bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah Yonghwa berikan padanya.

Kenapa mendadak  ada aroma tidak sedap di ruangan ini. Jiyeon mencium sesuatu yang tidak terlalu yakin hinggap dan menyapa penciumannya. Ini sangat pekat dan—

”Eoh!”

BRUGH

.

.

.

”Nunna!”  suara itu, Jiyeon seperti mendengarnya tidak jauh darinya. Apakah itu Mingyu. Kenapa dia tidak melihatnya.

”Nunna, kau sudah sadar?”  Mingyu. Benar itu adalah Mingyu. Di mana dia?

”Mingyu!” sebut Jiyeon lirih sambil berusaha untuk menangkap bayangan yang samar dalam matanya.

”Nunna, apa kau tidak melihatku?”

”Mingyu, kau di mana?” Jiyeon semakin gusar. Dia tidak bisa menangkap bayangan itu, tapi kemudian tangan itu meraihnya. Mingyu.

”Nunna, aku di sini.”

”Mingyu, kenapa aku tidak bisa melihatmu? Apa yang terjadi?”  Jiyeon menggenggam erat tangan namja yang terlihat panik menghadapi sikap Jiyeon. Kenapa Nunnanya ini mendadak tidak bisa melihatnya setelah tidak sadar selama dua hari. Entah kejadian apa yang terjadi di dalam ruangan kerjanya pagi itu, yang jelas Mingyu baru bisa membuka ruangan itu setelah seperempat jam mengakali pintu yang terkunci dari dalam itu untuk melihat kondisi Jiyeon.

Suara benda jatuh dan terdengar begitu keras dari lantai bawah, dan itu memaksa Mingyu untuk segera berlari menuruni tangga. Dia melihat bayangan sosok yang melintas di depan restoran dan menghilang. Tidak jelas dengan semua itu, tapi firasat mengatakan kalau telah terjadi sesuatu dengan Jiyeon.

Pintu itu tertutup rapat dengan keheningan yang ganjil. Dengan perasaan tidak janggalnya itu, Mingyu segera mendobrak pintu dengan seluruh tenaganya, tapi nihil. Pintu itu tak bergeming sedikitpun. Siapapun orang itu, pasti menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada Jiyeon.

Mingyu mengambil martil, dan beberapa peralatan dari dapur dan dengan semampunya dia merusak pintu itu. Ketika pintu terbuka, Jiyeon telah berada di lantai dengan darah  mengalir dari hidungnya.

Mingyu melarikan Jiyeon ke rumah sakit dengan meminta bantuan dari sopir taxi, lalu seperti inilah yang terjadi.

”Mingyu! Mingyu!” panggila Jiyeon membuatnya gelisah. Direngkuhnya bahu itu dan dibawanya terbaring lagi.

”Nunna, sekarang masih ada di rumas sakit.” jelas namja itu

”Kenapa aku tidak bisa melihatmu?”

”Aku tidak tahu, Nunna. Aku akan memanggil dokter untuk menjelaskan.”

Mingyu segera berlalu dari sisi Jiyeon yang masih menggigil ketakutan. Kenapa ini terjadi padanya, dan siapa yang telah mencelakainya. Kenapa dia tidak bisa melihat. Ini seperti mimpi buruk. Matanya buta, dan dia tidak bisa melihat siapapun.

Donghae.

Dia tidak bisa melihatnya lagi. Apakah Tuhan menghukumnya karena telah mengatakan tidak ingin melihat Donghae lagi, lalu sekarang semua itu menjadi kenyataan. Jiyeon mungkin tidak akan pernah lagi melihat laki-laki yang masih dicintainya itu.

”Nunna!” suara Mingyu mendekat lagi dan Jiyeon segera menangkap tubuh yang duduk di sisinya itu.

”Bagaimana?”

”Dokter belum datang. Mungkin sebentar lagi, Nunna. Perawat itu tidak mempunyai kewenangan untuk menjelaskan. Mereka meminta keluarga Nunna untuk datang.”

”Apakah separah itu. Mingyu, bagaimana jika aku tidak bisa melihat lagi, aku tidak akan melihatnya lagi…”Jiyeon terisak hampa dalam pelukan namja polos itu.

Melihatnya lagi,

Mingyu mengernyit. Siapa yang dimaksud Nunnanya ini.

”Aku masih ingin melihatnya Mingyu, aku merindukannya. Aku tidak ingin berakhir seperti ini….” isaknya semakin menyayat batin Mingyu. Berarti ada laki-laki lain dalam kehidupan Jiyeon yang selama ini ditutupinya.

”Nunna, bersabarlah! Semua akan baik-baik saja. Saya sudah menghubungi keluarga Nunna semalam, dan hari ini mereka akan tiba.”

”Aku ingin bertemu dengannya, Mingyu.”

”Siapa?”

Jiyeon terdiam. Tidak. Dia tidak boleh mengatakannya pada Mingyu. Donghae adalah laki-laki  yang tidak bisa menerima kondisi seperti ini. Laki-laki itu pasti akan membuat hidup Mingyu susah. Tidak, sebaiknya dia mengurungkan niatnya untuk tidak mengatakan apapun.

Jiyeon menggeleng

Tatapan Mingyu begitu suram setelah menyadari ada pria lain dalam benak Jiyeon. Mungkin bagi seorang Jiyeon kehadiran Mingyu hanya sebuah kerikil yang hanya menyakiti telapak kakinya.

”Aku sangat menyukai Nunna sejak pertama kali melihat Nunna.” bisik Mingyu lirih, dan Jiyeon menggenggam jemari itu dengan lebih erat. Dia menggeleng lemah

”Jangaan, Mingyu!”  meski dia berhadapan dengan Mingyu, tapi dia tidak bisa menatap wajah itu. Hanya sebuah bayangan hitam diantara putih dan cahaya yang bergerak bersama bayangan hitam lainnya.

”Jangan menyukaiku, aku tidak serperti yang kau pikirkan.” Jiyeon menunduk mengingat betapa dirinya sudah begitu penuh dengan noda, dan tubuh ini yang seharusnya menjadi milik Donghae harus terhempas kian kemari.

”Aku tidak bisa menghindari perasaan ini. Maafkan aku Nunna. Apakah aku terlalu buruk untukmu, dan siapa dia yang ingin kau temui itu?”

Mingyu mendekat dan mengecup kening Jiyeon dengan spontan, membuat gadis itu terhenyak dan bergerak mundur. Dia melepaskan diri dari pelukan Mingyu yang terus mengejarnya.

”Mingyu, aku…”

”Aku akan menjagamu, Nunna. Aku berjanji!”

TOK TOK TOK

Suara ketukan di pintu itu membuat Mingyu menoleh dan mengurungkan niatnya untuk memeluk Jiyeon lagi. Jiwa mudanya begitu penuh dengan ambisi. Dia tidak ingin keinginannya ini terganjal oleh kehadiran laki-laki lain. Apalagi itu hanya sebuah masa lalu. Mingyu akan membuat Jiyeon tidak bisa melepaskannya

”Kau siapa?” tanya Ny. Park dengan muka dingin

Mingyu membungkuk

”Saya temannya. Kenalkan nama saya Kim Mingyu.” wanita itu berjalan mendekati Jiyeon yang masih terduduk dengan sikap kaku.

”Eomma!” sebutnya ketika wanita itu mengecup puncak rambutnya.

”Apa yang terjadi, Jiyeon?”

Jiyeon memeluk eommanya dengan penuh kerinduan.

”Ada seseorang yang ingin mencelakaiku, Eomma.”

Ny. Park melirik ke arah Mingyu

”Dia siapa?” tanyanya kemudian

”Dia Mingyu. Dia pekerjaku, yang menolongku dan membawaku ke sini. Eomma, aku tidak bisa melihat. Bagaimana ini?” Jiyeon kembali panik.

Ny.Park tercekat dan menatap wajah Jiyeon, kemudian mengusap mata dan kulit muka itu dengan tangannya.

”Benarkah?”  setitik air mata menetes dari wanita itu, kemudian kembali memeluk putrinya.

”Tenanglah sayang, mungkin matamu hanya mengalami trauma sesaat, tidak akan berpengaruh. Pasti akan segera pulih.”  wanita itu melirik   Mingyu.

”Sebentar eomma menemui perawat untuk bertanya keadaanmu.”

Kemudian dengan langkah perlahan, dia menarik tangan Mingyu keluar ruangan. Dia memenjarakan namja tampan itu dengan sorotan matanya,

”Sebenarnya apa yang terjadi pada anakku?” pertanyaan itu membuat Mingyu bingung, karena dia pun tidak tahu apa yang terjadi.

”Nyonya, saya sungguh tidak tahu. Saat ini, khasusnya masih diselidiki polisi.”

Wanita itu mengangguk, tapi masih belum puas mendengar jawaban Mingyu. Ini sangat tidak bisa dipercaya bahwa ada manusia yang akan menjahati putrinya. Ny. Park teringat akan Donghae. Apakah laki-laki itu berusaha balas dendam untuk mencekalai putrinya setelah apa yang dilakukannya.

”Argh, kenapa semua ini harus menjadi seperti ini. Aku harus menemuinya. Laki-laki itu mungkin ingin kembali merusak kehidupan putriku.”  gumam Ny. Park sambil berlalu

Mingyu kembali mengernyit. Siapa laki-laki itu? Kenapa begitu menjadi hal yang penting dalam kehidupan keluarga Park.

Dua hari kemudian, Jiyeon mulai tenang dan polisi sedang memberikan pertanyaan padanya mengenai kejadian beberapa hari lalu. Mingyu tidak bersamanya, dan ini cukup membuatnya cemas. Biasanya Mingyu selalu memegang tangannya tapi hari ini, dia absent dan membuat situasi menjadi gugup baginya.

Jelas saja Jiyeon tidak pernah tahu siapa yang telah mencelakainya. Dia hanya tahu, bahwa aroma menyengat itulah yang telah membuatnya terjatuh pingsan, dan belakangan Jiyeon tahu, kalau aroma itu adalah racun yang bisa melumpuhkannya. Waktu itu darah mengalir dari hidung, itu artinya cairan mucus dalam rongga hidung Jiyeon sedang bekerja menolak racun itu untuk masuk ke dalam tubuhnya, sehingga yang terjadi pendarahan di selaput lendir hidungnya, dan sistem pengelihatannya yang terserang.

Dokter mengatakan setelah membersihkan darah Jiyeon dari sisa racun itu, dan setelah memberikan beberapa pengobatan khusus untuk matanya, mungkin pengelihatannya akan kembali. Jiyeon merasa lega, tapi tetap merasa was was dengan orang yang telah membuatnya seperti ini. Apakah dia akan melakukan hal itu lagi.

Polisi tidak akan selalu bersamanya.

Mingyu

Apakah dia harus bersama dengan Mingyu.

.

.

.

Donghae tercekat dengan sikap absurd menghadapi wanita ini. Sebentar dia  melirik Josephine yang mengantarnya masuk ke dalam ruangan kerjanya.

”Wanita itu, Ny.Park. Dia berdiri dengan sikap yang sama. Mereka saling menatap dan tak jelas apa yang akan dikatakannya. Donghae mempersilahkannya duduk.

”Ada hal apa Anda menemui saya Nyonya?”

”Apa kau yang melakukannya?”  terdengar sedikit ragu, tapi wanita ini tidak tahu harus berkata apa lagi.

Donghae dengan kursi rodanya mendekati wanita yang tengah dirundung rasa panik yang tak sewajarnya. Apakah dia takut pada Donghae saat ini, atau karena dia merasa bersalah karena telah membuat seorang Lee Donghae duduk di kursi roda. Laki-laki itu menggegat bibirnya untuk berusaha tenang. Dia bukannya tidak tahu apa yang telah terjadi pada wanita yang dicintainya saat ini. Hatinya hancur. Dia ingin berada di sana, di dekta Jiyeon dan memeluknya, tapi ada satu kendala di mana Donghae khawatir wanita ini akan membuatnya terpisah jauh lagi dari Jiyeon.

”Melakukan apa, Nyonya?”

Mata itu berkedip

”Mencelakai Jiyeon dan membuatnya buta.”

Buta. Donghae menahan napasnya sebentar. Kenapa Jiyeon buta. Menurut orang yang selama ini selalu memberikan informasi padanya, Donghae tidak mendapatkan berita kalau Jiyeon saat ini mengalami kebutaan.

Tak urung dia mencengkram erat batinnya. Dia ingin membawa Jiyeon ke rumah ini dan memberikan perlindungan.

”Saya tidak melakukannya, Nyonya. ” jawab Donghae tenang

Wanita itu menunduk memperatikan kaki kanan Donghae.

”Apa kau baik-baik saja?”

Donghae tersenyum

”Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, Nyonya.” sahutnya dalam.

”Apa kau benar-benar tidak melakukannya?”

Sekali lagi Ny. Park bertanya.

”Apa Anda pikir saya dendam, dan membabi buta membuat Jiyeon terluka. Anda pikir saya ini siapa? Saya sangat mencintai putri Anda, Nyonya. Tidak mungkin saya melukainya, berpikir ke arah sana saja sudah hal yang mustahil.” laki-laki ini mengatur napasnya

Wanita itu terdiam lagi. Putus asa, tapi masih menunjukkan keangguanannya. Dia merapikan pakaiannya sebentar kemudian berdiri,

”Baiklah, aku pergi. ”  ujarnya datar

Donghae memperhatikan langkahnya yang lesu. Kenapa wanita ini menemuinya. Apakah dia merasa terganggu dengan keberadaannya kembali di kota ini.

”Ny. Park!” panggil Donghae sebelum wanita itu keluar dari ruangan

Wanita itu menoleh

”Apakah aku boleh menemui putrimu lagi?” tanya Donghae yakin

Tidak ada sahutan. Ny. Park tidak menjawab dan berlalu. Donghae mengangguk pelan kemudian menatap ke ara luar dengan senyuman.

.

.

.

”Mingyu!” panggil Jiyeon ketika dia merasakan namja itu mendekat. Malam ini rasanya sepi sekali, dan Jiyeon tidak mau sendirian. Rasa takut itu masih menghantuinya.

”Nunna, aku di sini. Tenang saja!”

”Leganya. Kupikir kau tidak akan datang.”

”Aku tadi harus memenuhi panggialan polisi. Mereka menanyakan padaku mengenai kejadian kemarin.”

”Apa mereka sudah menemukan siapa yang melakukan ini padaku?”

Mingyu menggeleng. Dia tidak mau Jiyeon cemas, sudah jelas orang itu adalah Jungshin, karena hanya dia yang mempunyai acces masuk bebas ke dalam restoran itu. Lagipula dia juga mempunyai dendam tersendiri pada Jiyeon mengenai restoran yang ditinggalkah Yonghwa yang notabene adalah sahabatnya. Tapi kenapa kelihatannya janggal. Bukankah kalau orang itu Jungshin ini terlalu mudah untuk ditebak.

Sepertinya ada hal yang harus dikaji ulang mengenai ini, dan semoga polisi menyeidikinya dengan benar.

”Mingyu, apa kau akan tidur di sini?”

”Aku harus menjagamu Nunna.”  namja itu merapikan selimut Jiyeon. ”Tapi aku tidak diijinkan tidur di dalam ruangan ini karena aku bukan keluargamu. Perawat itu hanya mengijinkanku tidur di bangku tunggu. ”

”Kenapa begitu? Aku kesepian sendirian di dalam sini.”

”Kita bisa bicara di handphone Nunna.”

Mingyu merasa senang dia dibutuhkan.

”Tapi akan sangat berisik jika kau bicara padaku di luar sana.”

Jiyeon membuang napas berat. Dia membuat Mingyu tersenyum.

”Apa kau bisa melihatku, Nunna?”

”Bisa. Sedikit. Kata dokter aku akan sembuh dalam beberapa hari lagi. Aku lega Mingyu.”

”Aku juga lega, karena nanti kau bisa melihat wajahku yang tampan ini lagi dengan jelas.”

Jiyeon tersenyum. Dia ingat perkataannya waktu itu, ketika mengatakan tidak untuk Mingyu,

”Mingyu…”

”Hm?”

”Aku ingin mengatakan padamu mengenai seseorang.” bisik Jiyeon.

Namja itu menguatkan hatinya. Dia tahu tidak ada kesempatannya tipis untuk mendapatkan hati Jiyeon. Lagi pula siapa Mingyu yang hanya seorang miskin dan hanya bekerja di kedai milik Jiyeon.

”Ceritakan padaku Nunna, mengenai dia.”  desaknya

Jiyeon mengangguk.

”Ada seorang laki-laki yang masih aku cintai selama ini.”

Mingyu yang mengangguk kali ini. Jantungnya berdebar nervous. Sebenarnya dia tidak mau mendengar apapun mengenai sosok itu, tapi—

”Dia guruku dulu, mengajar di kelasku, dan dia adalah seorang guru yang gila. Ehm, maksudku sifatnya…dia sangat— entahlah!”  Jiyeon tersenyum tanpa sadar.

”Aku tahu kau masih mencintainya Nunna.” Mingyu bisa melihat senyum dan raut antusias itu membayang di wajah Jiyeon.

”Tapi dia sudah menikah saat ini.” jawaban itu terdengar lunglai.

”Menikah?”

”Ya. Mungkin dia merasa aku tidak sepadan dengannya. Usianya terpaut agak jauh.”

Jiyeon tidak sadar ketika dia menceritakan perihal Donghae pada Mingyu, laki-laki itu tengah berada di depan kamarnya. Hatinya terenyuh mendengarkan penuturan itu. Dia tidak menyangka kalau Jiyeon masih sangat mencintainya seperti ini.

”Tuan, apakah kita akan masuk?” tanya sopirnya yang selalu setia menemaninya. Donghae mengangkat tangannya, menahan gerak sopirnya. Dia masih belum ingin masuk.

”Aku tidak ingin mengganggunya.”

Sopir itu mengangguk menuruti perintah majikannya.

Sementara di dalam ruangan, Jiyeon masih berbicara pada Mingyu mengenai Donghae. Laki-laki ini mendengarkannya dengan hati penuh keharuan, tapi satu cerita yang dilewatkan Jiyeon, yaitu mengenai kemesraan mereka.

”Mungkin semua mawar itu darinya Nunna.” ungkap Mingyu

Jiyeon mematung. ”Mungkin saja. Tapi itu sudah tidak penting lagi. Dia sudah tidak mencintaiku, dia mencampakkan aku. Saat ini aku bukan siapa-siapa baginya.”

Mingyu terdiam karena melihat Donghae masuk ke dalam ruangan. Dia tidak mengenali laki-laki yang duduk di kursi roda itu, dan hanya beranjak dari sisi Jiyeon untuk memberikan akses [ada Donghae untuk mendekat. Mungkin dia kerabat Jiyeon, pikir namja ini.

”Mingyu, kau di mana?”  Jiyeon menoleh dan mencari bayangan Mingyu, tapi dia tidak menjawab. Sopit Lee Donghae membawa Mingyu keluar ruangan dengan paksa.

”Si….si…siapa ?”  gertak Jiyeon panik. Mukanya memucat ketika dia menyadari ada orang lain di dekatnya. Dia merasa kembali pada kejadian pagi itu. Aroma ini—

Tbc

 

Advertisements

20 Comments Add yours

  1. latifahfahmi says:

    ahhh sneng bnget ternyata donghae enggak nikah itu cma salah paham aja,,
    g nyangka ny park ternyata tega jga yaa bkin donghae smpai kaya gtu,,
    syukur deh Jiyeon bakal normal ngeliat lgi,,
    uahhh bagaimana reaksi Jiyeon yaa pas donghae datang,,
    ditunggu part selanjutnya,,

  2. sookyung says:

    Wahhh jgn bilang yg mencelakai jiyeon adalah donghae atau orang suruhan donghae??????

  3. Just Me says:

    Apakah Donghae akan jujur ttg perasaannya juga? Apakah mereka akan segera bersama kembali? Kasian Mingyu tapi hueee

  4. rianti says:

    haduh kasian bgt deh si jiyeon kykny hdupny bermasalah mulu. Trus siapa y yg celakain jiyeon?
    Masi sebel ma donghae..

  5. Baca ff ni senyum2, ketawa2, gemes, emosi…
    Sungguh nano2 😁
    Wuuuahh daebak, racun yg keren bgt,, mengalahkan sianida hahahaha,,
    Kshn jiyi… Kesepian krn penglihatan na lum sembuh,,,
    Horeeeeeee haeji akhirnya na jumpa…..
    Welcome back lanaaa

  6. djeany says:

    wuah ny.park keren ternyata bermula dari dia yg membuat hae lumpuh,masuk penjara,tapi wajar saja,hae kan mencambulli anak di bawah umur,jadi hati orang tua mana yg nerima anaknya di gituin..
    tapi jiyeon juga mau,jadi seharusnya mereka itu di nikahin aja..
    kira-kira sapa ya yg mm au nyelakain jiyeon…

  7. via says:

    donghae lumpuh karena ibunya jiyeon,, segitunya bgt
    siapa lgi yg nyelakain jiyeon? Apa org yg sma yg bwa jiyeon pas mabuk?
    knpa ya endingnya terkesan ambigu…. maksudnya jiyeon ngenalin aroma itu sbg donghae ato aroma yg sma pas dia claka di restorannya
    Ahahaha jdi bingung… ditunggu chap slanjutnya

  8. diah.dimin says:

    donghae knp pake roda kursi… ealah kbulak kkk.. aigooo rumit ni siapa yg bikin jiyi bgini hooh… hah jgn2 c om…kkk next

  9. May andriani says:

    Yg nyelakai jiyeon bukan donghae kn?? Spa yg nyelakai jiyeon tuh?? Untung jiyeon bisa sembuh… Astaga jadi yg bikin donghae lumpuh tuh ibunya jiyeon… Gk nyangka ibux jiyeon bisa gitu..

  10. megawatt123 says:

    Gk nyangka ibu jiyeon tega banget….siapa sie yg celakain jiyi….next

  11. anick says:

    siapa itu jungshin kah or nugu???percintaan haeji sweet & tragis.nyo part jahat bangetz udah bikin jiyi kayak gitu next

  12. Kim yeon says:

    Donghae bisa sembuh lagi kannnn,,,,,
    Bisa jalan lgi,, seperti jiyeon yang bisa melihat lagii,,, itu siapa yang mau clakain jiyeon

  13. iineey says:

    Yg nyelakain jiyeon beneran jungshin?? Atw ada org lain dibalik jungshin?

    Lega bacanya pas tau ternyata donghae lom nikah
    Mdh2an haeji cepet2 balikan lagi deh
    Kesian itu pada tekanan batin kyknya kkk

    Btw ga nyangka bgt deh ternyata Ny park yg nyelakain donghae
    Mdh2an aja Ny Park kali ini bisa luluh ya dan ngijinin jiyeon bersama donghae

  14. Hana park says:

    Itu donghae kan? Duhhh penasaran bgttt ><

  15. indaah says:

    yaahh akhirnya kambekk lan 😀
    seneng dehh ,,
    eii trnyata eomma nya jiyeon penyebab semua nya , donghae yg lumpuh trus masuk penjara dan ngelarang ketemu jiyeon ..
    dan donghae jg knapa harus bohong sih klo punya istri , padahal mreka masih slg sayang bgt ..
    dan pnasaran sama yg nyelakain jiyeon ..
    mingyu gk ada motif lain kan cuma suka jiyeon aja kan?
    next dtunggu lan , fighting

  16. almira says:

    Ceritanya makin seru aja. Ternyata yang nyelakain donghae itu org suruhan ny. Park,kok kejem bgt ya. Kasihan bgt sama nasibny donghae. Masih bingung jg sama yg nyelakain jiyeon. Moga nti akhirnya jiyeon dan donghae bisa bersatu. Next kak.

  17. dwiki says:

    aigoooo kisah donghae sama jiyeon benr2 rumit. ternyata donghae dicelakain sama eomma nya jiyeon?
    trus itu siapa yg nyelakain jiyeon??

  18. nissa says:

    Apa donghae ngak bisa sembuh ?kasian donghae ngak bisa jalan.sebenarnya siapa yang ngecelakain jiyeon.ngak mungkin donghae kan.bertanya jangan lama”

  19. kwonjiyeon says:

    Hallo apa kbrnya today sudah jdi nyonya kah…

  20. unha azhari says:

    Akhirnya bsa kebuka jg…
    Tpi bukan d opera mini lagi….
    Spa pelakunya ??
    Apa jungshin ??
    Aa jiyeon d bius ??
    Jadi itu alasan donghae tak mau brtmu jiyeon…
    D tnggu eonn kelanjutannya….
    Jgn lma2 yyyyyyaaaaa….. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s