Once Upon A Time [Part-3]


1 upon

Once Upon A Time

Part-3

Kim Mingyu feat Park Jiyeon

.

.

Malam ke-3

“Apa benar kau selalu diikat saat tidur?”

Mingyu melirik Jiyeon dengan punggung tegak, dia menumpangkan kedua tangannya di atas pangkuannya dan mengangguk. Sangat mantap tanpa keraguan.

“Eomma selalu mengikatku jika dia merasa capek karena aku selalu bisa keluar dari kamar meski pintu terkunci dari luar.”

Jiyeon mengernyit. Mungkin kedengarannya agak aneh, seorang eomma mengikat putranya di tempat tidur. #MINGYUBOCAHTERANIAYA  #SAVEMINGYU  #MINGYUFORALL  #YANGMULIAMINGYU  #LOVEMINGYU  #JUSTICEFORMINGYU

“Nunna!”  namja itu melambai di depan muka Jiyeon

“Ke..ke…kenapa bisa begitu?”

“Otakku.” Jawabnya sambil menghunus telunjuknya dan berputar di depan keningnya.

Jiyeon  masih belum mengerti.

“Otakku akan selalu merekam kejadian atau peristiwa yang aku alami sebelumnya. Jika tadi malam eomma mengunciku dari luar, maka otakku akan memindai jalan lain agar aku bisa keluar dari kamar, seperti—“

Jiyeon semakin mengernyit, membuat Mingyu menggigit bibirnya. Wajah nunnanya itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Namja itu menggaruk kepalanya sebentar.

“Seperti apa?” kejar Jiyeon tak sabaran, dia mencolek pinggang Mingyu dan membuat namja itu menyeringai dan mengerucutkan bibirnya. Wajahnya bersemu

“Seperti aku keluar lewat jendela, atau aku menyimpan kunci lain di dalam kamarku untuk membukanya.” Jelasnya dengan senyuman. Dia ingin membalas mencolek pinggang Jiyeon, tapi tidak ada alasan yang jelas untuk melakukan itu. DAMNT!

Jiyeon mengangguk, tapi masih belum mengerti. Tolong diampuni saja dengan kelemahan cara berpikirnya. Jiyeon memang tidak terlalu berlebihan memaksimalkan fungsi otaknya. Dia cukup nyengir kalau atasannya memberikan dia sebuah tatapan setengah tiang.

Kenapa dia bisa mempunyai pikiran seperti itu. Dia masih berpikir.

Apakah dalam posisi tidur, Mingyu berubah menjadi sosok yang berbeda. Kenapa dia bisa mencari akal di bawah sadarnya. Apakah dia mempunyai kepribadian ganda.

“Ini tidak masuk akal.” Lanjut Jiyeon menggerutu.

“Sudah kukatakan, aku sangat tidak mengerti kenapa penyakitku ini susah di sembuhkan secara medis.” Medis bukan kata yang pas sebenarnya, karena Medis pasti menggunakan obat kimia. Sedangkan Mingyu menjalani perawatan dengan sistem sharing alias curhat pada psikiaternya.

Jiyeon menggeleng beberapa kali, sambil merapikan piring bekas buah yang masih menyisakan satu potong melon. Dia menawarkan pada Mingyu apakah dia mau buah itu atau tidak, tapi Mingyu menggeleng.

“Kenapa kau tidak mencoba dengan sistem lain?” Jiyeon mengunyah sambil bicara.

“Misalnya?”  Mingyu balas menatap Jiyeon. Tapi perlahan dia mengambil tisue dan mendekat ke arah Jiyeon tanpa aba-aba membuat gadis itu sontak mundur. Mingyu mengejar dan mengusapkan tisue itu di sudut bibir Jiyeon yang menyisakan air.

“Kau jorok sekali Nunna!”  protesnya. Jiyeon memicing dengan gugup.

“Aku tidak tahu.” Bantahnya

“Menggunakan sistem apa maksudmu?” kejar sang namja tampan itu.

“Praktek kebatinan.” Jawab Jiyeon dengan manik mata ke langit-langit. Mencoba untuk menganggap serius meski itu kedenganrannya, bodoh.

“Dukun maksudmu?”   tegas Mingyu. Jiyeon tersenyum.

“Hari gini kau masih percaya dengan dukun.”

“Kenapa tidak. Kau jangan meremehkan merka.”

“Aku tidak meremehkan.”

“Lalu apa?”

Mingyu mendesah berat.

“Memangnya kau perduli padaku sampai memikirkan kesembuhanku?”

Pertanyaan itu benar-benar mengena. Jiyeon memilih untuk menyingkir dari muka Mingyu ketimbang memikirkan pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Benarkah dia memikirkan kesembuhan Mingyu. Jiyeon menggeleng gelisah sambil membawa rasa lelahnya masuk ke dalam kamar.  Masih ada pekerjaan yang harus dikerjakannya.

Keruh.

Dia merasa ada sesuatu yang membuat batinnya keruh. Semua memang tidak berjalan semestinya. Meskipun hubungannya dengan Yixing tidak terbilang baik, tapi bukan berarti dia hilang harapan.  Hanya dia laki-laki dewasa yang bisa diandalkannya. Jika harus memikirkan Mingyu, semua ini tidak akan selesai.

Tidak ada kejelasan, dan  Jiyeon berusaha untuk bersikap sedewasa mungkin dan berpikir logis, meski dia tidak cukup cerdas menghindari pesona seorang Mingyu.

Mingyu menatap punggung Nunnanya itu dengan gamang. Sayang sekali dia sudah mempunyai tunangan. Laki-laki dewasa dan wanita dewasa. Batinnya seakan terhadang oleh kata dewasa.  Dewasa itu membinasakannya, memakannya hidup hidup, dan memangkas semua harapannya. Penasaran dengan sosok yang telah membuat Nunnanya itu tunduk. Apakah dia sehebat apa yang Mingyu kira.

Jiyeon duduk di atas ranjangnya. Malam ini dia ingin tidur lebih banyak. Tubuhnya merasa lelah, dan kepalanya agak pusing. Berhari-hari kurang beristiahat dan sempat kehujanan cukup menindas semua metabolisme tubuhnya. Mingyu ikut andil membuat semua schedule hariannya berantakan. Dia seharusnya tidak mengurusinya atau  paling tidak bebas dari membuatkan sarapan atau makan malam. Semua ini membuatnya lelah.

Perlahan dia terlelap bersama setumpuk pekerjaan di atas ranjangnya, bahkan laptopnya masih menyala. Mingyu masuk dan melihat Nunnanya tertidur dalam posisi tidak nyaman. Dia terbaring dengan lutut ditekuk, itu tidak baik untuk aliran darahnya. Buru-buru dia menyingkirkan laptop itu dan memperbaiki posisi tidur Jiyeon, tapi ketika dia mententuh tubuh itu—

“Dia demam. Suhu tubuhnya panas.” Gumam Mingyu khawatir.  Dia membaringkan dengan hati-hati kemudian menyelimutinya. Mingyu berjalan ke dapur untuk mencari obat. Paling tidak Jiyeon harus minum aspirin untuk mengurangi nyeri karena demam, dan besok dia akan merasa lebih baik.

Mingyu membawa dua butir aspirin dan segelas air.

“Nunna!” panggilnya, tapi Jiyeon sudah tidak berdaya. Mungkin karena demam juga, jadi tubuhnya terlihat payah.

“Nunna, kau harus minum obat.”  Panggil Mingyu lagi.

Jiyeon membuka mata sedikit untuk melihat Mingyu.

“Obat.” Ulang Mingyu, tapi Jiyeon kelihatannya lemah. Dia tidak berdaya. Suhu tubuhnya makin panas.

“Nunna buka mulutmu!” perintah Mingyu kemudian. Dia mengambil satu butir aspirin dan memasukan ke dalam mulutnya sendiri, lalu dia meneguk air dan menahannya di dalam rongga mulutnya. Sebentar kemudian dia mengangkat leher Jiyeon, dan perlahan—

Dia mendekatkan mulutnya pada mulut Jiyeon, mentransfer obat itu masuk dari mulutnya ke dalam mulut Jiyeon. Nunnanya itu membuka matanya sebentar, tapi kemudian terpejam lagi. Dia menelan obatnya dengan sekali teguk.

Mingyu mengusap sisa air di sekitar mulut Jiyeon dengan tangannya. Lirih dia mendengar Jiyeon bergumam.

“Besok aku akan membunuhmu, Mingyu!” lalu terlelap.

Namja itu menggigit bibirnya karena tidak percaya bahwa secara tidak langsung dia mencium Jiyeon.  Tapi ini tindakan pertolongan pertama untuk orang yang sedang sakit.

Pagiharinya, Mingyu terbangun di sisi Jiyeon. Nunnanya itu masih tidur. Semalam Mingyu tidur di sofa, dan sekarang terbangun di sebelah Jiyeon. Kenapa dia tidak berjalan-jalan keluar lagi, dan malah tidur di sebelah Jiyeon.

Pertanyaan ini membuatnya sedikit terhibur. Jiyeon adalah pusat dari pikirannya. Secara tidak langsung, dia selalu memikirkan Jiyeon di bawah sadarnya. Mingyu masih meraba apa yang bisa saja terjadi untuk ke depannya.

“Yang Mulia Mingyu!” panggil Jiyeon lirih. Namja itu menoleh dan melihat Jiyeon sudah duduk dengan mgnusap matanya.

“Nunna, kau sudah lebih baik?”  Mingyu menyentuh kening Jiyeon

“Ya.” Jawab Jiyeon lirih. Dia menyingkap selimut dan berjalan ke kamar mandi. Masih agak sedikit pusing, tapi dia harus berangkat kerja.

Mingyu bersandar di kusen memperhatikan Nunnanya itu menggosok gigi.

“Kau mau ke mana?”

“Aku harus bekerja Mingyu,”

“Tapi—“

“Aku sudah minum obat.”  Jawab Jiyeon, meski dia tidak yakin benar. Semalam seertinya dia sudah minum obat, tapi—

Jiyeon menoleh Mingyu, dan mendapati namja itu menatapnya gugup.

“Aku akan menyiapkan sarapan.” Mingyu menghindar, tapi Jiyeon mengejar langkah cepat namja jangkung itu.

Tatapan mereka bertemu sebentar. Berbagai perasaan berkecamuk dan membuat keduanya berdiri dalam posisi canggung. Rona di wajah keduanya terlihat dengan jelas, dan degup jantung itu benar-benar mengganggu pernafasan gadis yang sempat tersenyum, tapi kemudian Jiyeon menampar pipi namja itu dengan hati ragu, bahkan tangannya hanya seperti sebuah belaian yang menerpa pipi namja yang menatapnya panik. Telapak tangannya membuat rona kemerahan di wajah Mingyu semakin nyata

“Nunna…”  Mingyu nanar menerobos kesan ambigu di mata Jiyeon.

“Ini untuk ketidaksopananmu karena memberikan obat padaku dengan cara seperti itu.”

Kemudian dengan spontan, Jiyeon menarik tangan Mingyu, berjinjit dan mendaratkan kecupan di pipi bocah SMA itu.

“Ini untuk ucapan terimakasihku karena sudah berpikir cerdas untukku.”

Mingyu menyentuh pipinya saat melihat Jiyeon berlalu dari hadapannya. Nunnanya telah menamparnya, tapi menciumnya juga. Dia mendapatkan peringatan keras karena kekurangajarannya, tapi dia juga mendapatkan stempel manis yang membuat pengelihatannya mendadak jernih. Senyumnya mengambang ceria.

.

.

.

Ting Tong

Jiyeon sempat melirik Mingyu ketika berlari untuk membuka pintu. Hatinya berdebar karena dia tidak tahu siapa tamu yang menekan bel pintunya.

“Eomonie!”  Jiyeon meremas jemarinya ketika melihat Ny. Zhang masuk setelah dia membukakan pintu itu.

“Aku datang karena ingin memastikan persipan pernikahanmu dengan Yixing. Kita akan memesan gaun pengantin, dan membahas ini dengan orangtuamu.”

“Ke ke kenapa Eomonie tidak meneleponku dulu, aku harus bekerja hari ini.”

Wanita itu masuk dan mendapati Mingyu tengah merapikan meja makan. Dia menyediakan sarapan untuk Jiyeon yang masih belum sehat benar.

“Siapa dia?” tanyanya dingin

Jiyeon pucat seketika. Siapa? dia harus menjawab apa pada calon ibu mertuanya mengenai Mingyu

Mingyu menghampiri dan membungkuk di depan Ny. Zhang. dia berusaha bersikap sopan

“Saya Kim Mingyu. Sepupu Jiyeon Nunna.”

“Sepupu?” wanita itu mendelik dingin. Jiyeon lemas di tempat, tapi Mingyu menangkap tubuhnya karena dia tahu nunnanya ini masih sedikit demam. Dia memapah Jiyeon untuk duduk.

“Jiyeon, kenapa kau tinggal bersama sepupumu?”

“Dia hanya sementara di sini, karena orangtuanya, maksudku Bibiku sedang ke Amerika.”

Ny.Zhang mengangguk.

“Nunna, aku mandi dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu ke dokter.”

“Jiyeon apa kau sakit?”

“Hanya sedikit demam karena kehujana.”

“Kenapa kau tidak menelepon Yixing?”

“Aku tidak mau dia khawatir eommonie.”

“Agh, kenapa harus khawatir tentang dia, kalau dia bisa pulang, aku pun bisa bertemu dengan anakku juga. Dia selalu egois memikirkan pekerjaannya, sampai mengabaikan calon istri dan eommanya.”

Jiyeon mengangguk, sambil melirik Mingyu yang menatapnya hampa.

.

.

.tbc

Mianhae, aku cuma sempet nulis segini.

 

Advertisements

25 Comments Add yours

  1. sookyung says:

    Knp jadinya berharap yixing selingkuh terus jiyeon tau ,, lalu memutuskan yixing dan bisa bersama dg mingyu ^^ 🙂

  2. Bb says:

    Aahh, sebelumnya welcome back,,
    hh knpa hrus ad yixing sih, ahh stemp yg manis:)

  3. Alam bwh sadar mingyu keren… Bisa mendeteksi area sekitar daebak…
    Cyeeeeee cara yg romance bgt tuk reda kn skt jiyi,
    Ibarat pribahasa sambil menyelam minum air… Hihihi 😀

  4. Putri JH says:

    Mreka maniz bgt, aku gk mau tau bgaimana caranya tapi aku stuju binggo mreka jadi pasangan.hehehe.semangat Authornim

  5. Khukhukhu mingyu busyet

  6. Just Me says:

    Huaaa singkat sekali eon ceritanya.. wkwkwkwk. Tau terimakasih sudah menyempatkan untum melanjutkan ceritanya. Huaa habis ditampar trus dpt kiss itu rasanya yg tamparan tadi adl belaian. Oops

  7. djeany says:

    modus ya mingyu,tapi mingyu terlalu muda masih labil dan bau kencur..
    salut aja dg penyakit berjalannya mingyu, kenapa daerah yg fi tujunya tempat yg enak dan empuk..
    satu kendala yixing..

  8. diah.dimin says:

    adh kpn jiyeon bisa resmi ma minggyu… heuh icing g nongol2 lagi sibuk y ma pak suho kk

  9. May andriani says:

    Iss mingyu nyuri kesepatan dalam kesempitan tuh,, tpi jiyeon bkalan menikah sma yixing gitu,, trus mingyu gmn tuh??

  10. megawatt123 says:

    Knpa mingyu ngomong dia sppu jiyi…coba aja dia blng pacar pasti jiyi btal nikah ma yixing….gimna nasibv mingyu klo jiyi nikah ….

  11. dwiki says:

    pengen jiyeon sama mingyu aja. lagian kyknya yixing gak seberapa peduli sama jiyeon.
    aigooo mingyu kesempatan dalam kesempitan nih ngasih obat ke jiyeon dgn cara gitu wkwkwk

  12. _PJYKMS_ says:

    Mingyu mendadak jadi bias wrecker gara gara ini ff, telat menyadari ketampanan yang mulia mingyu. Btw hashtagnya leh uga wkwkkw #sejutakoinuntukmingyu #lilinuntukmingyu

  13. anick says:

    mingyu kok bisa punya pikiran kyak gitu kasi obat jiyi modus nie hhh next

  14. Kim yeon says:

    Mingyu cemburu tu tau jiyeon mau nikah

  15. RegitaOhJiSe says:

    Masih penasaran dengan Yixing, apakah dia terlalu sibuk bekerja? atau dia punya simpanan?? Jiyeon berdua terus dengan Mingyu ,walaupun lelaki tanggung tapi tetap aja bisa buat Jiyeon terperangkap perasaan. Tubuh mingyu dan otaknya selalu merespon Jiyi ampe tidur jalannya pun keranjang jiyeon dan tidur disisinya xD

    moment mingyu dan jiyeon kocak dan romantis, menurutku ini ngefeel banget, bisa ngebayangin wajah mereka, apalagi wajah mingyu yg super tamvan! dan jiyeon yg super sexy! ..

  16. Hana park says:

    Eonnieeee nextnya kurang panjangggg >< aku nungguin banget ff ini akhirnya publish jugaaa

  17. indaah says:

    ciee mingyu pikiran nya cerdas bgt buat milih jalan yg menguntungkan dia keke
    mingyu bisa bgt deh bikin jiyeon klepekklepek
    itu eomma yixing dingin bgt sih, dan brharap yixing udah selingkuhin jiyeon trus ketauan dehh , dan nikah nya cancel ganti mempelai pria jd mingyu wkwk
    jiyeon demam kesempatan besar buat mingyu …
    next lan , dtunggu ya fighting

  18. rasma says:

    bisa ga sih itu.yixing bya di lenyapkan kan aja.menganggu suasana ..heeee :v

  19. kriswulan says:

    Jiyi masih mencoba bertahan dr mingyu karna status nya dan mingyu yg masih kecil.
    Mingyu cool,,,,

  20. risna says:

    Semoga Jiyeon goyah trus putus sama Lay dan jadian sma Mingyu..

  21. nissa says:

    Cie mingyu pintar bgt cari kesempatan tapi buat kebaikan Jiyeon juga sich.kenapa Jiyeon ngak putus aja sama yixing.yixing kan ngak baik buat dia.ditunggu kelanjutannya.

  22. kwonjiyeon says:

    Lm g berkunjung ternyata bnyak yg hrus d bc….

  23. kain says:

    kok ga ada texs ya???

    1. mochaccino says:

      GADA GMN?

  24. anii says:

    Mau nikah yaa?? Hm batal aja yee, sama mingyu aja yaa//Wowww

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s