Lie To Me – 1st shot


you-r-not-my-destiny

LIE TO ME

Lee Taeyong

Park Jiyeon

And other

Romance-hate-love-and revenge

PG-17

.

.

 

“Sudah sampai!”

Jendela di sebelahnya di ketuk. Taeyong mengangkat muka dan mengedarkan pandangannya ke arah luar. Friksi yang tak jelas dia dapatkan. Ini tidak seperti yang dia inginkan.  Tempat apakah ini?  Batinnya memaki kesal. Dia kehilangan semua yang telah dia miliki, kesenangan dan fasilitas.

Pintu mobil dibuka dari luar. Sopirnya hanya memberikan anggukan tak jelas yang memberi tanda majikannya ini disilahkan meliaht-lihat.

Tapi Taeyong tidak melihat apapun yang menarik selain dari pegunungan dan lahan luas pertanian. Semuanya tampak membosankan. Berkali-kali dia tertawa penuh kegetiran.

Untuk satu tahun ke depan dia akan berada di sini.

Sang sopir mengeluarkan koper dan ransel dari bagasi, sementara namja berpostur tinggi itu masih enggan untuk beranjak dari mobilnya. Semua ini akan dilepaskannya. Mobil dan kebebasannya. Tidak ada lagi waktu untuk bersenang-senang bersama temannya. Dia sudah jauh dari mereka.

Shit! Rutuknya kesal.

Ini sudah yang kesekian kaliya dia keluarkan dari sekolah, jadi sebut saja sejak dia duduk di bangku SMP kelas 2, dia sudah tinggal kelas sebanyak dua kali.

Beberapa kali harus keluar masuk sekolah hanya karena prilakunya buruk. Taeyong banyak terlibat dengan perkelahian, dan penganiayaan. Beberapa temannya sering dibulinya. Dan tajuk utama dalam agenda orangtuanya adalah beberapa kali panggilan mesra dari para guru sekolahnya untuk segera memberi tindakan tegas pada Taeyong, atau paling tidak memasukkan bocah nakal itu ke rumah sakit jiwa, atau pusat rehabilitasi anak nakal dan pecandu narkotika.

Hal yang mengejutkan lagi,

Taeyong dinyatakan sebagai pengguna obat berbahaya. Dia mengalami kecanduan, meski belum terlalu parah dan membuatnya mengigau seperti orang gila.

Tapi begitulah seorang Lee Taeyong, yang kini kembali harus dihadapkan dengan masalah utamanya. Dia harus pindah ke sekolah lain hanya karena dia tidak ingin tinggal kelas lagi di tahun berikutnya. Umurnya sudah mencapai dua puluh tahun, tapi belum menyelesaikan jenjang sekolahnya, sementara teman-teman seperjuangannya dulu sejak taman kanak-kanak saat ini sudah lulus dari jenjang perguruan tinggi. Ini sangat memalukan.

Akankah Taeyong mampu melewati dua tahun ini di kampung halaman kedua orang tuanya. Dia akan tinggal bersama Pamannya yang notabene guru di sekolah di mana dia akan melanjutkan pendidikannya.

“Saya sudah menaruh kopernya di dalam. Paman dan Bibi anda belum pulang dari mengajar. Sebaiknya Anda segera masuk.”

Taeyong mendengus

“Nanti saya Yun!”

.

.

.

Malam turun dengan sangat cepat. Taeyong melihat mobilnya sudah merayap pergi meninggalkan halaman rumah besar yang saat ini di huninya. Paman dan bibinya terlihat keras padanya,  karena belum apa-apa Taeyong sudah diperintahkan untuk membersihkan kamarnya sendiri. Bullshit, ini bukan kamar tapi kandang kecoa. Dia mengumpat habis-habisan di lantai dua. Semua barang-barang menumpuk di dalamnya harus dia keluarkan sendiri. Malam-malam begini dia harus berjibaku sendirian. Agh, seandainya saja dia melakukannya sejak tadi siang, masih ada Yun yang membantunya.

“Kalau sudah selesai kau boleh ikut makan malam dengan kami.” Seru sang Pamang ketika melintas. Taeyong tak menjawab, hanya mencibir diam-diam. Ada pikiran dia akan kabur dari rumah ini, mengingat dia tidak suka hidupnya diatur oleh orang lain. Selama ini kedua orang tuanya saja tidak berani mengaturnya.

BRAKH

Taeyong mendengar ada sebuah benda jatuh di luar sana. Dia melongok dari jendela ke halaman depan, tapi dia tidak melihat siapapun di sana, kecuali pada seorang perempuan yang baru saja turun dari mobil box di halaman sebelah. Rumah yang tadi kelihatan tidak berpenghuni.

“Taeyong !”  Bibinya muncul. Namja itu menoleh sebentar tapi kemudian memperhatikan lagi pada perempuan yang masih sibuk dengan mengangkat barang-barangnya dari dalam mobil boxnya. Dia agak membantingnya ketika meletakkannya di depan terasnya. Apakah tidak ada yang membantu. Suaminya atau keluarganya—

“Siapa yang kau lihat?” Bibinya duduk di lantai kayu dan membantu Taeyong. Dia tidak tega membiarkan bocah itu bekerja sendirian.

Taeyong tak menjawab, dia memutuskan untuk sibuk lagi. Kali ini dia mengangkat sebuah kotak besar di sudut ruangan untuk diletakkan di gudang.

“Kamar ini dulu kau tempati bersama kakakmu.”

Kakak? Dia membatin. Sepertinya Taeyong tidak akan pernah melupakan kakaknya. Saat itu usianya masih sembilan tahun ketika Taemin meninggal.

Wait!

Taeyong menghentikan langkahnya. Bukankah dokter yang saat itu menangani khasus kakaknya itu adalah—

“Apakah dia anak perempuan dari dokter itu?”  tanya Taeyong sengit.

Bibinya mengangguk.

“Dokter itu sudah tidak berada di sini lagi. Mereka pindah, tapi putrinya memutuskan untuk tinggal di sini, dan mengelelola sebuah toko distribusi alat-alat kesehatan di kota kecil ini.”

“Apakah dia juga dokter?” tanya Taeyong

“Bukan. Kenapa kau begitu serius?” tanya wanita itu sambil berjalan keluar.  “Aku menunggumu di meja makan, kami sudah lapar, sebaiknya kau cepat!”

Taeyong tak mendapatkan jawaban, tapi dia tidak akan lupa kalau dokter itulah yang membunuh kakaknya. Mungkin orang lain akan mengira bahwa semua itu tidak ada kaitannya, tapi Taeyong melihat sendiri, kalau dokter Park telah melakukan mall praktek pada tubuh Taemin.

BRUGH

Dia membanting kerdus besar itu di lantai gudang kemudian menuruni tangga dan menemui Pamannya yang sudah menunggunya di meja makan. Laki-laki itu tidak memberikan senyum sama sekali, tapi bukan berarti dia kejam. Kedisiplinan adalah prinsip utama. Mungkin karena itulah Taeyong dititipkan di sini.

“Duduklah!”  sang Bibi menghidangkan makanan di atas meja.

Taeyong duduk berhadapan dengan Pamannya.

“Besok kau harus ikut denganku ke sekolah. Ada formulir yang harus kau tandatangani.” Ujar laki-laki berwajah dingin itu.

Taeyong mengangguk,

“Berapa umurmu?”

“Dua puluh tahun.” Jawab Taeyong lirih

Paman dan bibinya berpandangan dan tersenyum.

“Kau harus berusaha lebih giat agar bisa lulus tahun depan dengan baik.”

“Baik Paman.”

Setelah makan malan, Taeyong memberanikan diri untuk keluar rumah. Di kota kecil ini tak ada kebisingan sama sekali. Bahkan nyaris tanpa suara apapun, selain suara teve yang dinyalakan Pamannya di ruang keluarga. Selain itu yang terdengar hanya hembusan angin dan suara serangga malam.

Dengan mata bulatnya dia memindai berbagai hal yang terdapat di sekitarnya. Siang tadi semua masih terlihat sedikit menghiburnya dengan adanya pemandagan gunung dan perbukitan, tapi malam ini semua terlihat parah. Namja itu tidak bisa merasakan adanya hawa kesenangan. Gelap dan remang. Beberapa titik terlihat sedikit terang karena lampu jalan di sepanjang route menuju ke arah pertokoan dan pusat kota.

BRUGH

Lagi-lagi Taeyong melihat perempuan yang tinggal  disebelah  rumah Pamannya itu meletakkan barang-barangnya dengan kasar. Apa dia sedang kesal.

Tanpa sadar Taeyong memperhatikannya dari depan pagar. Dia adalah seorang Nunna yang mempunyai postur tubuh yang indah, rambutnya yang tergelung tidak beraturan itu terlihat kucel dengan keringat. Kelihatannya dia lelah.

“YAAAK!”  suara itu membuat Taeyong beringsut.

“Kau siapa? Bisakah kau membantuku?” tanyanya.

Dia tidak sudi menjawab, tapi perempuan itu menghampiri.

“Kau siapa? Sepertinya aku melihatmu di sini? Apa kau tersesat?”

Taeyong tidak merubah raut mukanya yang sengit, dia membiarkan perempuan itu membuka pagar dan menghadapinya. Tingginya hampir setelinganya, dan dia memberikan senyum untuknya.

“Kenapa kau diam? Kau tinggal di mana?”

Taeyong melirik rumah Pamannya.

“Kau ada hubungan apa dengan Paman Kim?”

“Keponakan. Dia saudara dari ibuku.” Jawab Taeyong singkat.

“Agh begitu—“  Perempuan itu mengulurkan tangannya. “Namaku Jiyeon. Park Jiyeon.”  Masih dengan senyuman.

Taeyong menjabat tangan itu dan menariknya dengan cepat, seolah-olah tangan itu mengandung racun berbahaya. Dia mengibaskannya sebentar dengan reflek.

“Siapa namamu?” tanya perempuan bernama Jiyeon itu dengan suara renyah.

“ Lee Taeyong.”

“Kau berbeda nama keluarga dengan Paman Kim.”

“Ya, ”  Nadanya sangat datar

Jiyeon tertawa. “Kau pelit sekali. Sejak tadi menjawab dengan pendek.” Kemudian dia menoleh pada pekerjaannya yang belum selesai. “Kau mau membantuku? Aku benar-benar capek, dan butuh bantuan.”

Sebenarnya Taeyong malas untuk membantu Jiyeon, tapi entah kenapa kakinya melangkah begitu saja memasuki halaman rumah itu.   Dia penasaran dengan kondisi rumah itu,

“Berapa umurmu?” tanya Jiyeon sambil menyerahkan kardus besar pada namja yang dianggapnya masih di bawah umurnya itu.

“Bukan urusanmu.”  Sahut Taeyong ketus

“Agh, kalian orang kota selalu terlihat tidak bersahabat.”  Jiyeon menanggapi cuek.

“Di mana aku harus meletakkan kardus ini?”

Emh, di dalam.” Tunjuk Jiyeon ke arah dalam. Taeyong membawanya ke dalam dan meletakkannya di lantai bersama kerdus lainnya. Lalu kembali pada Jiyeon dan menrima kerdus lain—

Sampai semua barang itu masuk ke dalam rumah, barulah Jiyeon berhenti. Dia berjalan ke dapur dan membuka kulkas.   “Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Udaranya panas sekali.”  Jiyeon melemparkan satu kaleng beer dingin. Namja itu menerimanya. Matanya berkelana melihat beberap foto keluarga di dinding. Ya, dokter itu—

“Sepertinya aku sudah pernah bertemu denganmu?” celetuk Jiyeon sambil ikut meneguk beer dingin di tangannya. Ada bayangan masa lalu yang diingatnya.

Taeyong menunduk. Ya, liburan musim panas, sebelas tahun yang lalu. Tentu saja, tapi saat itu Taeyong hanya melihat Jiyeon sebagai bocah seumuran kakaknya yang saat itu tidak tahu apa-apa.

“Aku ingat kakakmu.” Lanjutnya, dan dengan tiba-tiba Taeyong berdiri. Dia segera keluar rumah dan berjalan meninggalkan halaman rumah Jiyeon dengan perasaan sesak.

“YAK Lee Taeyong, terima kasih!”  teriak Jiyeon dari depan pintu rumahnya. Ada apa dengan bocah itu. Pikirnya.

.

.

.

Pamannya membawa Taeyong untuk membeli beberapa kebutuhannya ke pusat kota. Rasanya sepanjang perjalanan tak ada hal lain yang dilihatnya selain pepohonan dan area persawahan. Kota kecil ini, terlihat sangat sepi dan tenang. Udaranya bersih, karena berada diantara pegunungan.

“Kau akan betah berada di tempat ini.”  Ujar Pamannya.

Taeyonng menyalakan ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang masuk. Semua temannya merindukan kehadirannya. “Arrgh!” geramnya sambil membuang muka ke samping. Dia mengabaikan senyuman Pamannya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.” Jawabnya dingin.

“Jika kau ingin berhasil, maka kau harus membuat dirimu disiplin. Jangan menyiayiakan waktumu lagi. Ingat sekarang kau sudah duapuluh tahun, tapi belum menyelesaikan SMA-mu, ini sangat mengenaskan, Tae!”

Namja itu tidak menoleh atau menjawab. Dia sudah tahu kalau kalimat itu pasti akan sering dikumandangkan Pamannya untuk mengingatkan kalau Taeyong sekarang sudah tua dan sangat kadaluarsa untuk menjadi anak SMA.

Mobil tiba di deretan pertokoan. Dia sempat melihat toko peralatan alat kesehatan milik Jiyeon. Jadi di sana gadis putri dokter Park itu melakukan bisnissnya. Apakah di dekat sini ada rumah sakit?

Taeyong tak menyangka bahwa kakaknya akan mati di tangan ayah gadis itu.

“Taeyong, Paman akan membeli pupuk tanaman sebentar, kau masuklah ke toko buku itu, nanti Paman akan menyusul.”

Dia baru akan memulai sekolahnya minggu depan.

Taeyong tidak menuruti printah pamannya dan masuk ke dalam toko buku. Dia meliat beberpa buku dan perlengkapan sekolah yang sebenarnya tidak terlalu penting, karena kedua orang tuanya sudah menyiapkan semua itu dengan baik. Dia hanya berputar-putar dan melihat deretan buku-buku itu dengan malas, sampai pada sebuah detik di mana pandangannya tertuju pada sosok yang baru saja turun dari mobil boxnya di depan toko buku ini. Bukankan itu Park Jiyeon. Cengiran iblisnya mengambang di wajah kurusnya. Apakah mungkin hal itu bisa dilakukannya.

Park Jiyeon.

Sesuatu yang mungkin saja bisa dilakukannya dan bisa saja dilakukannya jika dia tidak berada  di kota kecil ini.

Jiyeon masuk ke dalam toko buku dengan membawa satu kerdus berat. Dia kesulitan dan harus mengandalkan punggungnya untuk membuka pintu itu. Taeyong berjalan mendekat dan memberi bantuan dengan mengambil kerdus itu.

“Taeyong!” sapa Jiyeon dengan senyum lebar

“Mau di bawa ke mana kerdus ini, Nunna?” tanya Taeyong dingin. Matanya menggores simpati seorang Jiyeon.

“Arg, ke mana ya?” Jiyeon celingukan di dalam toko mencari satu bentuk manusia yang selama ini menjaga tempat ini.  “Di mana dia?” gumam Jiyeo lagi.

Taeyong berjalan di belakang yeoja itu dengan sedikit canggung. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka dengan intens. Taeyong adalah manusia asing diantara mereka. Lingkup sempit ini memudahkan mereka memindai dengan cepat para pendatang yang tidak dikenali. Taeyong sangat berbeda. Penampilannya sangat modis dan wajahnya tampan. Dia lebih mirip seorang idol, sementara Jiyeon sendiri… dia pun sebenarnya mempunyai reputasi tak kalah serunya dengan Taeyong. Sejak dia gagal menjadi seorang dokter, Jiyeon lebih memilih untuk menjadi pengusaha.

Dia berjualan alat-alat kedokteran.

“Kau sedang apa di sini?” tanya Jiyeon

Taeyong tidak terlalu mendengar karena ada beberapa suara yang membuatnya tidak fokus. Dia hanya mengernyit ketika Jiyeon menoleh.

“Kau sedang apa di sini?” tanyanya lagi

Taeyong menggeleng, kemudian meletakkan kardus itu di atas sebuah rak. Jiyeon memperhatikannya dengan was-was, seolah olah barang dalam kardus itu sangat berharga,

Taeyong berbalik meninggalkan Jiyeon tanpa permisi.

“YAK, Lee Taeyong!”  panggi Jiyeon sambil mengamit lengan pemuda ganteng bermuka dingin itu, tapi Taeyong mengibaskannya dengan kasar, berbalik dan menyerang Jiyeon dengan tatapan bengis,

“Jangan pernah menyentuhku!” gertak namja itu dengan suara tipis. Hanya Jiyeon yang mendengarnya dan cukup membuat wajahny pucat. Pandangannya kosong. Bahunya jatuh lemas mendapat tanggapan kasar seperti itu.

Dia diam memperhatikan Taeyong yang berlalu. Ada apa dengan bocah itu. Jiyeon menyeringai janggal. Apakah dia harus menanyakan semua ini pada bibi Kim.

.

.

.

Wanita paruh baya  itu hanya menyimak penjelasan Jiyeon dengan senyum  tanpa simpatik. Tidak tersirat di sana gambaran bahwa dia tertarik dengan apa yang dikatakan gadis yang selama ini tinggal di sebelah rumahnya itu. Jiyeon menghela napas dan berdiri.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, kenapa selama ini tidak menyukai aku. Apa kalian masih menganggap kematian Taemin adalah kesalahan Ayahku.”

Ny, Kim merasa sedikit risih dengan prasangka Jiyeon mengenai sikap acuhnya. Dia menggeleng lemah

“Kami tidak membencimu dan keluargamu.”

“Tapi sikap kalian menunjukkan hal yang sebaliknya.”

Taeyong mendengarnya dari lantai atas. Dia meringkuk di dekat tangga untuk kembali menguping pembicaraan itu. Sepertinya keluarganya sudah tahu kalau ayah gadis itu telah melakukan sesuatu yang salah pada kakaknya.

“Pulanglah, sebelum suamiku memergokimu berada di sini.” Ujar wanita itu dengan tatapan was was. Jiyeon menarik napas jengah. Dia tidak bisa memahami semua ini dan merasa tertekan dengan apa yang telah terjadi antara keluarganya dan keuarga Kim sampai ibunya merasa tidak nyaman dan harus meninggalkan tempat ini.

“Aku pulang dulu Bibi Kim!” Jiyeon berjalan ke arah pintu dengan hati berat. Padahal dia ingin sekali bertemu dengan Taeyong dan menjalin pertemanan dengannya.  Siapa tahu dia bisa  memperbaiki hubungan ini dan membersihkan nama baik keluarga Park di depan keluarga Kim.

Taeyong melihat bayangan Jiyeon keluar dari halaman rumah keluarga Kim dengan lunglai. Di langit begitu abu-abu dan pekat. Mungkin hujan memang akan segera turun, tapi sepertinya Jiyeon tidak masuk ke dalam rumahnya. Dia masuk ke dalam mobil boxnya dan melarikannya entah ke mana.

Seminggu kemudian, Taeyong sudah berada di dalam sebuah kelas dengan fasilitas seadanya. Meskipun sudah modern tapi tidak semodern kondisi sekolah sekolah yang selama ini dihuninya. Ini sangat membosankan. Taeyong merasa ini sangat menghukummya. Tidak ada kesenangan yang berarti selain suara bising para jagoan kampungan yang selalu pamer kekuasaan. Cih!  Taeyong tidak selevel dengan mereka.

Sikap sombong dan gengsi itu masih begitu lekat dalam kepribadiannya.

 “Ada apa Paman?” dia berdiri dan mendekati jendela.

“Pulang sekolah nanti kau tolong belikan satu kantung makanan ikan di dekat toko buku yang waktu itu. “ perintah pamannya. Taeyong tak menjawab, dan membuat pamannya gusar.

“Lee Taeyong!”

Namja itu menyeringai kesal. Dia tidak sudi sebenarnya jika harus diperintah ini dan itu. Selama ini tidak ada orang di rumahnya  yang meyuruhnya untuk melakukan hal semacam ini.

“Baiklah Paman.”

Kemudian ponsel itu ditutup. Taeyong geram dengan kehidupannya di sini.

BRUGH

Mendadak dia mendengar sebuah suara, ketika menoleh—

 Tasnya sudah berada di lantai. Segerombolan namja tengah berdiri di sekitarnya. Mereka menatap acuh pada Taeyong. Sepertinya sesuatu akan terjadi, dan bukan hal yang  aneh bagi Taeyong, dia biasa menghadapi situasi seperti ini. Semua mata tertuju ke arah mereka, dan Taeyong yang sama sekali tidak merasa gentar.

Dia sangat tenang menguasai situasi.

“Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?” yang paling depan bertanya dengan mata mendelik. Dia bertolak pinggang dengan tatapan menantang.

“Aku bebas duduk di manapun.” Jawab Taeyong.  Dia mengambil tasnya dan menempatkannya di atas meja lagi, tapi namja itu membuangnya lagi dengan kasar, bahkan sampai buku-buku di dalamnya keluar berserakan.

Taeyong mulai marah. Matanya memerah dan rahangnya kian kaku. Rupanya mereka memang ingin membuat masalah.

“Aku tidak suka jika ada orang yang terlihat sok jagoan dan bertingkah di hari pertama dia di sini. Seharusnya dia menemuiku dan minta ijin padaku apakah dia bisa duduk di sini atau tidak!”  orang itu mengedarkan pandanganya pada pengikutnya.

Dengan sikap menentang, namja dengan muka dingin itu mendorong posisi namja yang sejak tadi bersikap anarkhis padanya. Secepat itu ruangan menjadi bising oleh makian dan sorak sorai.  Jumlah enam orang siswa laki-laki yang tengah mengepung Taeyong tampak lebih beringas dengan aksi dorong namja itu pada salah satu temannya.

“Kuman ini perlu dibasmi CUH!”   BUG! Sebuah tinju melayang ke wajah Taeyong, dan yang lainnya mendorong kian kemari, sampai akhirnya namja tampan itu harus tersungkur. Dia memegangi pipinya sebentar, tapi kemudian bangkit dengan tenaga yang terdongkrak emosi membabi buta. Dia tidak pernah kalah sebelumnya dengan kelompok manapun. Drama perkelahian yang selama ini akrab dengan kehidupannya tidak pernah menumbangkan pamor seorang Kim Taeyong.

Gerakan kakinya dengan cepat memberikan kejutan pada lawan tandingnya hingga tumbang. Dia hanya berpura-pura lemah di awal cerita, tapi sebenarnya sedang memindai kemampuan mereka. Jika mereka hanya berani melakukan semua ini dengan keroyokan, lain halnya dengan Taeyong, dia berani masuk ke dalam kandang macan sekalipun sendirian.

Tinju, pukulan dan tendangannya berhasil melumpuhkan mereka dalam hitungan sepuluh detik. Mereka terjungkal ke lantai dengan wajah biru.

DAMT! Taeyong merasa kesal, hingga dia harus menggeram keras, dan menatap mereka satu persatu dengan gemerrtuk gigi Kenapa semua ini harus dialaminya lagi.

Kesan angker itu membayang di wajah tampannya.

“LEE TAEYONG!”  sebuah suara menggema di depan kelas. Rupanya seorang guru telah memergoki aksi itu. Namja itu melirik dingin menanggapinya.

“Ikut aku ke kantor!”  cetus guru pria itu dengan tegas.

Dengan langkah lunglai akhirnya dia keluar dari kelas, meninggalkan sejumlah gerutu dan sumpah serapah mereka yang telah dihajarnya.

.

.

.

Bagian pipinya sedikit membiru dan dia mengusapnya berkali-kali ketika berjalan melewati jalan setapak menuju ke daerah pertokoan. Taeyong tidak melupakan wajah-wajah itu. Lain kali dia akan menghabisinya. Sifat buruknya ini benar-benar tidak bisa dirubahnya. Brengsek! Batinnya memaki kesal.

TIN  TIN

Suara klakson itu mengagetkannya. Dia minggir untuk memberikan jalan agar mobil itu bisa melewatinya, tapi justru mobil itu berhenti di sebelahnya, dan ketika dia menoleh, wajah itu tersembul dari balik jendala.

.

.

.

tbc

 

Advertisements

26 Comments Add yours

  1. RegitaOhJiSe says:

    Ada apa dengan Taemin dulu? Kecelakaan kah? Haduh Taeyong udah 20thn masih diSma, sifat buruknya benar2 bikin jengkel. Ternyata yg beranggappan Taemin mati ditangan TuanPark bukan Taeyong aja tapi keluarga Kim, kasian ama Jiyeon harus menerima perilaku yg kurang enak dari keluarga Kim. Penasaran banget sumpah sama cerita in. Ini berchapter ya?

    Next yaa

  2. megawatt123 says:

    Dokter park pasti punya alasan lakukan itu pda taemin dan pasti paman taeyong benci ma jiyi terbukti bibi tae nyuruh jiyi cepat pulang sebelum ketahuan paman tae..
    Next chap…

  3. kwonjiyeon says:

    Ff baru lgi kayanya seru dsni jiyi jdi nunna lgi yah……..sexi

  4. Kina J says:

    Jd penasaran yg terjadi sebenarnya ke taemin..ada apa sih dibalik semua itu.

  5. sookyung says:

    wae wae waeyo,,, ada apa sebenarnya yg terjadi antara keluarga kim dan park????

  6. Kim yeon says:

    Maaf sebelumnya,, sebenarnya aq gak knal sama kim taeyong,, waktu aq cari di google nama kin taeyong malah muncul bapak tua hahaha,,,, please kasih tau aq tentang kim taeyong,,,
    Ceritanya seru tpi aq rada ngri sama masalah kedokteran apa lagi beda membeda,,, jiyeon jadi kena imbas dri perbuatan ayahnya,,,, semoga aja jiyeon bisa memperbaiki nama baik kluarga park,,, masih penasaran sih detail permasalahan sakitnya taemin,, ditunggu lanjutannya 😄😄

  7. mhilaji says:

    Keerennnn… :* :* kak lana mila galau bener2 lama updatenya… 😥
    .
    .
    Ini keren kak lana.. syumpah…
    Awalnya gak niat baca karena casnya bukan member ekso.. tapi pas liat posternya jadi penasaran.. dan yahhh ini cakeppppp syukkaaa… feelnya dapett….
    Suka karakter keduanya…
    Huhuhu taeyong sang jagoan kkkk…
    .
    .
    ☆☆☆☆☆ bintag kak lana :*

    Next janLama-lama yah… Fighting…

  8. chacha says:

    Biasanya cuma mau baca ff myungyeon. Tpi karna taeyong jga bias aku, jdi coba baca deh. Seru, bikin penasaran apa yg terjadi sebenarnya dgn kematian taemin.
    Keep writing n update soon…

  9. _PJYKMS_ says:

    Sifatnya taeyong keren bgt, cocok dia mah kelakuan begini. tapi kasian ih gak naik kelas 2 kali xD. Btw kak marganya taeyong itu lee, hnggg apa ditulis lee taeyong as kim taeyong gitu kali ya kak, biar gak rancu ehehhe tapi terserah authornya sih, aku nyaranin ajh^^

  10. Kesalahpahaman pa ni… Kluarga Kim smpi segitunya na memusuhi kluarga Park??
    Bnrn appa Park yg mmbnh taemin??
    Ato tu hny rasa kecewa kluarga Kim krn anak na meninggal lalu dilampiaskan k kluarga Park??

  11. anick says:

    salah faham yg rumit next

  12. dwiki says:

    aigoo sebenernya apa yg udah terjadi dulu sama taemin? kok kyknya keluarga kim gak suka bgt sama keluarga nya jiyeon??
    jadi jiyeon gagal jadi dokter? kok bisa?

  13. kim wynstelle says:

    masa lalu ..
    apa salah paham ?

  14. rasma says:

    kasihan jiyi.kena imbas nya juga .semoga hiyi bisa membersihkan nama baik appanya .penasaran juga sih apa yng dilakukan tn park kepada taemin ? ..walau cast baru .tapi cocok di couplen ma jiyi . palagi peran nya preman gitu sipp ..

  15. indaah says:

    ouuh new ff , jiyeon lebih tua dr taeyong ?
    pnasaran emg dokter park ngapain sampe dtuduh malpraktek k taemin?
    taeyong cuek bgt bikin kesel haha , jjyeon kyk nya pekerja keras bgt keren dan semoga berhasil memperbaiki nama baik keluarga nya ..
    dan apasih pendapat org desa tu k jiyeon ..
    next lan dtunggu fighting

  16. kriswulan says:

    Masalah keluarga, jiyi kena dampaknya…
    Taeyong susah diatur weh

  17. May andriani says:

    Apa bner ya hyungx taeyong meninggal gara” ayahx jiyeon?? Kasian jiyeon tinggal sendiri n gk disukai sma kluarga kim.. next ^^

  18. nissa says:

    apa bener ayahnya jiyi ngelakuin praktek ke taemin,sampe taemin meninggal.ditunggu kelanjutannya

  19. nissa says:

    apa bener ayahnya jiyi ngelakuin praktek ke taemin,sampe taemin meninggal.ditunggu kelanjutannya

  20. yustina says:

    ahhh couple baru yah, taeyong lagi suka sama tuh bocah yah karena dia ganteng, cie karakternya sama kim myungsoo, hehehe
    Lah si jiyeon kenpa kayaknya dibenci banget sama keluarga kim sampe segitunga, gegara taemin kah ? Emng taemin bisa meninggal karena apa ? Apa bnr krna appa nya jiyi, huftt jiyi gagal masuk dokter dan jadi pengusaha, si taeyong murid yang udah tua, ah makin penasaran lana, di tnggu ya next nya 🙂

  21. diah.dimin says:

    Tae tae .. Bertebaran haha.. Lagi demam pertaean y.. Kkk lana di tunggu next chap nya yu….

  22. rianti says:

    hmp si taeyong jdi badung trus kyknya dymasi benci sama ayah jiyeon.
    jd penasaran gmn lanjutan hub mrk?

  23. jira says:

    Paman nya taeyong kayanya mash kesel ya ke jiyeon. Emang dlu taemin kenapa? Apa bener malpraktek ya sama bapa nya jiyeon? Hufttt

  24. iineey says:

    Jiyeon kah yg nyamperin taeyoung?
    Btw kenapa sama taemin? Beneran korban mal praktek?
    Lalu maksd judul nya apa lie to me?
    Berarti ada kebohongan kan? Apa itu?

  25. djeany says:

    20 tahun masih sma,masih wajar kan di korea umur 19 tahun udah tamat kan jadi cuma beda setahun kwkwk

    jadi taeyong masih dendam bahkan paman dan bibinya juga,wuah sepertinya berat tinggal dg tetangga yg jadi musuh..

  26. Niajoe says:

    Benarkah tn.park melakukan sengaja pada taemin?? Gk.mngkn kan? Psti ada kesalahpahaman..
    Poor jiyeon.. gra2 hal.ini dimusuhi sama keluarga kim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s