More & More 8th


More & More

More & More

8th

Wu Yifan

Park Jiyeon

Support Cast

Kim Seok Jin [ BTS ]

Seo Kahi [ OC ]

Romance/ Angst

PG

Chapter

.

.

Dia membiarkan ruangan ini menjadi lebih tenang, bahkan hembusan nafasnya mengalir lembut. Tak ada pergerakkan yang berarti selain menunduk dan menggeleng pelan. Jiyeon masih duduk menghadap ke arah jendela dengan semua gelisahnya. Sebenarnya tidak ada yang bisa dia lihat di luar sana. Kabut begitu tebal, dan apa yang dikatakan Yifan mengenai perjalanan yang membahayakan itu benar adanya, atau mungkin pria jangkung itu sengaja memberikan alasan agar bisa—

Agh, sudahlah! Rasanya tidak mungkin jika Yifan sengaja menahannya di tempat ini. Apa yang bisa dia lihat dari gadis cacat sepertinya. Apa karena Yifan sekarang mengetahui kalau Jiyeon adalah seorang putri dari keluarga Park, lalu dia mempunyai motive lain. Yifan is Yifan with his problematic. Begitulah yang Jiyeon yakini dari seorang Yifan. Jika saat ini laki-laki itu mencoba mengambil hatinya, itu bullshit!

Agh Kim Seok Jin,

Ini pertama kalinya dia berada jauh dari Jin dan rumah panti asuhan itu. Wajah tampan dan dingin itu pasti akan menggentayangi mimpinya malam ini, itupun jika dia bisa memejamkan mata. Bagaimana jika Jiyeon tidak bisa—

Yifan berdiri di pintu. Dia ingin mengajak bicara gadis itu, tapi sepertinya Jiyeon sedang sibuk dengan pikirannya. Mungkin dia masih memikirkan wanita itu— ibunya. Tidak habis pikir jika mengenai kecacatan Jiyeon dijadikan sebagai alasan kenapa dia harus dibuang. Ayah macam apa dia. Mengerikan. Ada sedikit rasa puas meski dia tidak yakin kenapa Yifan merasa puas dengan apa yang dilakukan Kahi pada Tn.Park

Kahi.

Hari ini Yifan sama sekali tidak menghubungi wanita itu. DUG! Dia membenturkan  jidatnya pada kusen sekali. Itu cukup menyulap bayangan Kahi hilang dari pikirannya, lalu mendengus panjang.

Jiyeon melirik sebentar.

”Kau tidak harus menjagaku seperti itu, Wu Yifan!”

”I’m not!” sangkal laki-laki itu

” Jin saja tidak pernah mengekor di belakangku sepertimu.”  sindir Jiyeon lagi

”Aku tidak sedang menjagamu, Park Jiyeon.”

Jiyeon melirik tak yakin.

”Lalu kenapa kau masih mengawasiku seperti sipir penjara?”

”Aku harus memastikan kau bisa beristirahat dengan nyaman malam ini. Sejak tadi kau hanya duduk di situ. Apa kau tidak capek?”

Yifan berjalan mendekat dan memindai ruangan remang yang sengaja diciptakan Jiyeon. Wajah yang tengah dihadapinya itu masih terlihat sepi. Ada bekas air mata di mata yang sembab itu. Dia pasti menangis banyak.

Yifan menyandinginya duduk, dan melipat tangannya untuk menahan hawa dingin. Sejak tadi Jiyeon masih memakai jaketnya hingga dia harus bisa lebih bertahan. Beberapa saat lalu dia meminum banyak alkohol untuk sekedar membuat tubuhnya hangat, dan itu cukup menghilangkan fokusnya. Jika dia tidak bisa menahan diri terhadap sesuatu semoga dia tidak dilempar ke jalan oleh pemilik motel ini. Yifan menyeringai dan melirik sosok itu di sisinya. Bukankah Jiyeon adalah pemilik motel ini secara tidak langsung.

”Kenapa kau begitu perhatian padaku?”

Jiyeon meremas jemarinya dan mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Jantungnya berdentum dalam keheningan. Semoga Yifan tidak berpikir macam-macam

”Mereka memintaku untuk mempertemukanmu dengan wanita itu.”

”Dia eommaku. Aku tidak pernah menduga kalau aku mempunyai orang tua,”  dengan nada gamang

”Dia mencintaimu.”

 Jiyeon tidak menyahut untuk memahami kalimat Yifan. Dia tidak bisa menentukan di mana sekarang dirinya berada. Jiyeon masih belum bisa mempercayai semua ini semudah dia membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Dua puluh empat tahun itu bukan waktu yang singkat. Banyak hal yang terjadi, termasuk kepribadiannya.

”Kenapa bisa seperti ini?’  gumam Jiyeon dengan meremas jemarinya,

”Apa maksudmu ?”

Jiyeon menggeleng lemah, tidak jelas harus mengatakan apa. Sebelah hatinya masih belum bisa menerima situasi ini. Kemudahan untuk menemukannya. Kenapa hanya seperti ini.  Tidak adakah hal yang lebih istimewa dari sekedar tangisan dan rasa haru. Beban hati ini, perasaan terluka. Bayangkan, sengaja di buang dan dianggap pembawa sial. Ini sungguh tidak bisa dipercaya. Di dasar hatinya, Jiyeon tidak akan pernah sudi untuk menemui sosok yang telah membuangnya seperti sampah beracun.  TIDAK SUDI!

Air matanya mengalir bersama tubuhnya yang mendadak menggigil karena emosi. Yifan memperhatikan tatapan Jiyeon yang  kosong. Matanya tidak mengisyaratkan apapun selain kebencian.

Perlahan diraihnya lengan lemah itu, ditariknya dengan hati-hati, kemudian dengan nalurinya, Yifan membawa tubuh itu masuk dalam pelukannya. Sejak tadi mungkin hal semacam inilah yang dibutuhkan Jiyeon untuk menenangkan badai di dalam jiwanya.  Dia menyendiri berjam-jam di kamar ini tanpa jelas apa yang harus dilakukannya.

Jiyeon ambruk dengan tangisan yang tak terbantahkan dalam pelukan laki-laki ini. Dia menerima dengan pasrah perlakuan Yifan yang mencoba untuk menghangatkan suasana paniknya.

Usapan-usapan lembut tangan itu menguasai punggung gemetar itu dan menariknya semakin dalam, bahkan Yifan tak bisa menghentikan dirinya untuk bersikap lebih manis dan lembut seolah-oleh Jiyeon adalah miliknya.

Salahkan memiliki perasaan ini, meski hingga detik ini, dia pun tak menyadari bahwa apa yang dia rasakan ini akan membuat hidupnya menjadi lebih bermakna. Yifan tergerak untuk mengecup puncak kepala gadis lemah dalam pelukannya.

Perlahan suara tangis itu mereda bersama hembusan nafas yang berangsur lirih. Dia merasa Jiyeon sedikit lega. Apakah dia sudah puas menangis. Pria tampan ini megulas senyum tipis

Jiyeon tidak bisa bergerak dalam rengkuhan lengan kokoh ini. Sepertinya rasa malu menjalar disekujur wajahnya. Kenapa dengan mudah dia bisa masuk dalam pelukan pria ini. Kenapa dengan gampangnya Yifan bisa menariknya seperti ini. Tubuh ini—

Jiyeon bisa merasakan detak jantung Yifan di telinganya, dan juga dada yang begitu bidang yang menjadi sandaran kepalanya. Apa yang harus dilakukannya kini. Wajah ini—

”Apa kau sudah merasa baikan?”  suara yang berat dan dalam itu menggema di atas kepalanya. Dagu itu menempel di kepalanya, dan tangan ini… oh Tuhan, kenapa Jiyeon tidak sadar kalau tangannya saat ini berada di atas perut Yifan.

”Jiyeon!” panggil Yifan lagi. Tangan itu mengusap lengan Jiyeon dengan sangat lembut. Rasanya tidak ingin terlepas dari pelukan ini. Demi Tuhan!

Jiyeon segera melepaskannya.Dia berdiri dan mendekati jendela, tidak mau rona mukanya menjadi pusat perhatian sosok yang selama ini menjadi debar hatinya. Jendela di depannya tampak berembun dengan hembusan nafasnya. Jangan biarkan Yifan mendekatinya lagi, atau dia akan berlari menjauh. Ugh, lari. Mana bisa dia berlari.

”Jiyeon, kau kenapa?”

”Tidak!” Jiyeon menggeleng janggal, kemudian memejamkan matanya. Mendadak melupakan cerita kronis mengenai kehidupannya. Oh tidak, langkah itu mendekat, dan buru-buru juga Jiyeon bergeser, mengambil tongkatnya.

”Hey kau mau ke mana?” Yifan menarik lengannya dan memaksa gadis itu untuk berhadapan dengannya. Matanya menemukan rona itu membayang di sana, pasa sisa-sisa kesedihan Jiyeon dan juga wajah sembab yang membuat sesuatu dari Jiyeon menggetarkan hatinya.

”Wae?” lembut terdengar di telinga Jiyeon

Jiyeon menggeleng lagi dan memaksa untuk melepaskan diri dari pria ini.

”Yifan, lepaskan aku!”

”Tidak mau! Katakan padaku ada apa?”

”Tidak ada apa-apa. Tolong—”

Yifan tidak mau melakukan permintaan Jiyeon malah mendekatkan gadis itu dan memeluknya lagi dengan perasaan berkecamuk. Ada dorongan untuk memeluknya lagi. Ini aneh tapi dia merasakannya.

”Yifan, please…”

”Memangnya kenapa kalau aku tidak mau melepaskanmu?”

”Aku akan menikah.” jawab Jiyeon mengingat akan sesuatu mengenai Jin

”Akan belum tentu jadi.” jawab Yifan tenang. Dia berdoa semoga pernikahan itu tidak akanpernah terjadi,

Jiiyeon tidak bisa mempercayai ini. Kenapa Yifan ingin memeluknya lagi. Tubuh lelaki ini beraroma kuat, sangat mendebarkan.

”Lepaskan!” pinta Jiyeon

”Apakah pelukanku tidak membuatmu merasa nyaman?”

”Ini sungguh konyol!”

Yifan mendengus lembut, dan tetap memeluk Jiyeon.

”Jiyeon, berhentilah membohongi dirimu. Aku sangat tau kau membutuhkan tubuh ini untuk membuatmu tenang dan nyaman. ”

Kuping Jiyeon merasa panas mendengarnya, tapi dia tidak memungkiri semua itu. Yifan terlalu percaya diri, tapi juga bodoh. Bodoh dengan sikapnya. Kenapa dia memeluk gadis cacat sepertinya. Tidak ada untungnya sama sekali, dan karena secuil ketidakpercayaan diri itulah Jiyeon berjuang untuk melepaskan dirinya dari pelukan Yifan. Dia mendorong tubuh itu kuat-kuat.

”Ke..ke..kenapa?” Yifan tidak menyukai aksi Jiyeon

”Sudahlah, ini tidak ada gunanya.” Jiyeon melangkah menjauh dan Yifan membiarkannya. Mungkin memang, diantara mereka masih harus menelaah kembali apa yang sedang terjadi dalam hubungan ini, maksudnya interaksi yang terjalin hingga detik ini.

Jiyeon pun membiarkan Yifan untuk berlalu dari kamar yang sekarang ditempatinya. Mereka tidak saling menatap lagi, kalaupun iya, itu pun tidak pada waktu yang sama. Ketika Yifan menutup pintu, barulah Jiyeon memandangi pintu itu dengan hati penuh tanya. Diantara mereka—

Ya, ada apa dengan mereka.

.

.

.

Keesokkan paginya,

Seorang pelayan sudah menyiapkan sarapan di ketika Jiyeon membuka pintu kamar. Dia melihat dalam ruangan di  mana Yifan telah menantinya itu dengan sedikit canggung.  Pagi ini, Yifan terlihat begitu segar, meski pakaian yang dikenakan masih sama seperti yang kemarin, begitupun dengan Jiyeon. Mereka memang tidak membawa pakaian ganti, sehinga harus mengenakan pakaian itu lagi.

Setelah pelayan itu berlalu, Yifan mengajak Jiyeon untuk duduk. Dia sendiri yang manerik bangku dan membantu wanita itu untuk duduk.

”Terima kasih.”  lirih Jiyeon

Yifan tak menjawab, hanya sedikit tersenyum. Semalam dia tidur di kamar yang berbeda, dan banyak merenungnkan sesuatu. Rasa ragu yang tak bisa dia kendalikan, dan haruskah dia ikut memikirkan.

Beberapa saat lalu, Paman Wang menghubunginya dan mengatakan jika Kahi sedang dalam kondisi labil. Dia tidak bisa berhenti menanyakan keberadaan Yifan. Satu masalah penting yang harus diselesaikan Yifan.

Belum ada solusi yang tepat mengenai Kahi, dan mau tidak mau sindrom Kahi ikut andil membawa suasana runyam ke meja makan ini.

”Kita harus segera kembali ke Seoul.”

Yifan mengangguk.

”Aku pun harus segera bekerja.”  jwabnya

”Kau sudah membawa mobil Bossmu, apa kau tidak akan kena masalah?”

”Menurutmu?”  Sebenarnya Yifan tersenyum mendengar menuturan itu. Dia tidak tahan untuk segera mengatakan kebenarannya.

”Semoga kau tidak mendapatkan masalah.”

Helaan napas terdengar kasar.

”Satu-satunya masalah dalam hidupku adalah hatiku.”  tatapan Yivan menyambar keseriusan Jiyeon menyimak pembicaraan ini.

”Maksudmu?”

”Aku tidak bisa mengendalikan hatiku, Jiyeon.”

Gadis itu mengernyit, tapi Yifan memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan, membuat Jiyeon sedikit kesal karena dia tidak mendapatkan kejelasan.

”Ayo!” dia berdiri tiba-tiba dan tidak menanggapi tatapan nakal Yifan yang seolah-olah sedang mencandainya.

”Aku belum selesai.”

”Aku menunggumu di luar.”

”Baik Nona Park!”  seru Yifan

Jiyeon mendelik

”Jangan memanggilku seperti itu!” tegasnya.

”Wae? Kau adalah Nona di sini. Orang tuamu pemilik semua ini.”

”Yifan, jangan! Kumohon!”  wajah Jiyeon terlihat sedih. Dia tidak bisa menerima semua ini dengan hati terluka ini. Apa artinya semua ini—

Tidak! Dia tidak berharap menjadi Nona dari semua kemewahan ini. Berpikir ke arah sana saja tidak mungkin dan tak akan pernah dia impikan.

.

..

.

Yifan mengantarkan Jiyeon kembali ke Panti Asuhan. Dia ingin mengantar masuk, tapi Jiyeon menolak. Bukan apa-apa, kalau nanti akhirnya dia harus melihat Yifan akan bertengkar dengan Jin, lebih baik itu dihindarinya.

”Please!” ujarnya

”Oke!” Yifan mengangkat tangannya.

”Terima kasih!”

”NO Probem. Kapan kita akan bertemu lagi?”

Jiyeon mengernyit tanpa jawaban.

Dia memang tidak perlu memberikan jawaban kalau pada akhirnya akan membuat sebuah harapan palsu yang tidak berarti.

Yifan meninggalkan Jiyeon dengan senyum pahit. Dia harus lebih bersabar pada gadis ini. Jiyeon bukan wanita seperti Kahi. Dia tidak bisa bersikap sembarangan. Dan itulah masalahnya, sikap hati-hati ini berlanjut hingga hatinya sendiri tidak bisa menentukan apakah dia serius atau dia hanya ingin bersikap baik pada Jiyeon karena dia cacat.

Jin memperhatikan langkah Jiyeon ketika memasuki ruangan. Hatinya sudah menahan emosi sejak dia menyadari bahwa Jiyeon tidak menanggapi panggilan masuknya semalam. Apalagi kemunculannya pagi ini bersama Yifan. Dia pikir Jin tidak melihat bentuk jangkung itu berdiri di depan pagar bersama semua kemunafikannya.

”Jiyeon!”  dua langkah Jiyeon memasuki kamar, barulah Jin berani memanggilnya. Jiyeon berhenti dan tidak segera menyahut. Dia menoleh untuk memastikan sikap Jin juga mimik yang dia tampilkan di wajah tampan itu.

”Jin Oppa!”

Laki-laki itu mendekat dengan langkah pasti. Jiyeon tidak bisa menghindari tatapan mata itu.

”Aku ingin mengabarimu, tapi ponselku mati. Aku tidak—”

Jin memeluk tubuh gemetar itu dengan perasaan kalut. ”Aku benar-benar tidak bisa tidur memikirkanmu semalaman. Aku tahu aku bukan laki-laki yang sehebat Yifan, tapi aku akan selalu berada di sisimu. Jangan meninggalkanku bersamanya.”

Jin seperti merasa kalah seketika. Dia tahu betul bahwa saat ini hati Jiyeon sudah berada dalam tawanan penjahat itu. Dia Wu Yifan.

”Aku…aku tidak—”  gagap Jiyeon

”Ya, kau jangan khawatir, aku tidak akan marah. Aku bahkan memohon padamu untuk tidak meninggalkanku. Apa kau tidak melihat kebaikanku. Apa kau tidak menyadari bahwa aku benar-benar ingin membuatmu bahagia.”

Jiyeon tercekat dalam pelukan Jin.  Laki-laki ini tidak marah, dan justru memeluknya seperti ini, bahkan mengatakan permohonan agar Jiyeon tidak meninggalkannya. Apakah Jin sedang bersandiwara.

”Kau tahu aku pergi bersama Yifan?”

”Ya, aku melihatmu barusan. Dia mengantarmu pulang. Apa kalian bermalam bersama.Apa kalian—”  Jin menghentikan omongannya ketika melihat Jiyeon menggeleng/

”Tidak!” masih menggeleng.  ”Oppa, dia hanya mengantarku untuk menemui seseorang.”

Jin mengernyit

”Apa kau ingat  Tn. Ji Sung?”

Jin mengangguk, tapi keningnya berkerut

”Tn. Ji Sung adalah seseorang yang selama ini bekerja untuk Ny. Park.”

Kening Jin semakin berkerut.

”Wanita itu yang aku temui tadi malam.”

”Ada masalah apa wanita itu denganmu?”

Jin menghembuskan napasnya.  Dia tidak menyadari kalau Ny. Park yang dimaksud Jiyeon di sini adalah istri dari Tn Park, yang telah memberi tuntutan pada Kahi.

”Maksudmu?”

”Oppa, aku masih mempunyai orang tua. Mereka masih hidup, dan aku bukan gadis yatim piatu.” Jelas Jiyeon dengan wajah pias. Dia tidak tahu apakah dia harus bahagia atau harus berduka.

”Tunggu sebentar, apa kau ingin mengatakan kalau orang tuamu menemukanmu, dan mengatakan padamu kalau kau adalah anaknya.”

Jiyeon mengangguk,tapi Jin tidak mudah mempercayainya

”Lalu kenapa mereka ingin menemuimu di lain tempat. Kenapa mereka tidak menemuimu langsung di tempat ini jika mereka tahu kalau kau adalah putrinya.”

Dan Jiyeon pun menggeleng. Itulah masalahnya, dia memang tidak sempat berpikir ke arah sana. Kenapa wanita itu ingin menemuinya di tempat yang seolah-olah kalau pertemuan itu memang dirahasiakan.

”Aku merasa bahwa semua ini sangat mencurigakan. Apa kau yakin kalau mereka orang tuamu.”

Sebenarnya bukan ’mereka’ .  Itu hanya Ny. Park, ibunya, dan tidak melibatkan ayahnya. Entahlah—

.

.

.

Jin bisa memaafkan kejadian pagi itu, dan ini sudah berlalu tiga hari lalu. Jiyeon sudah tidak mempermasalahkannya, asalkan dia tidak bertemu Yifan lagi maka semua ini tidak akan berkepanjangan. Tapi tidak bertemu Yifan selama tiga hari ini, jantungnya selalu berdebar aneh. Ini seperti semacam penyakit yang tidak berkesudahan. Dia bahkan berharap di dalam hatinya, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi, tapi Jin sudah mempersiapkan segalanya. Bahkan dia melibatkan diri secara langsung diantara kesibukannya mengurus panti asuhan.

Jiyeon sedang mempersiapkan untuk promosi novel barunya. Jae Rim sudah membantunya begitu banyak sampai pada hal-hal terkecil sekalipun.  Hari ini dia harus ikut ambil bagian dalam acara fansign yang sengaja Jaerin adakan untuk mengenalkan Jiyeon pada semua pembaca novelnya. Ini bukan acara sembarangan karena Jae Rim serius mengenai Jiyeon. Memang benar, selama ini dia selalu bersikap keras dan tegas pada gadis cacat ini, tapi itu berarti dia membenci Jiyeon. Dia hanya ingin memacu semangat Jiyeon agar tidak mudah ambruk. Dia pun tak ingin membeda-bedakan Jiyeon dengan orang lain, dan karena hal itulah Jiyeon menjadi seorang manusia yang berkualitas dan tahan banting.

”Mereka sudah datang untukmu sejak dua jam lalu.” Bisik Jae Rim ketika Jiyeon datang.

”Benarkah?”  wajah Jiyeon bersemu merah

”Apa kau senang ternyata kau mempunyai penggemar sebanyak itu?”

”Aku lega novelku ada yang membaca.”

”Ya, tidak hanya membaca, mereka juga membeli, dan itu juga menguntukan untukku.”  Jae Rim mengedipkan matanya. Tetap saja dia bicara masalah bisnis, tapi Jiyeon bisa memahaminya.

Pada akhirnya Jiyeon harus melayani mereka yang ingin bertegur sapa dengannya, berbincang sebentar, dan meminta tanda tangan pada novel barunya. Jiyeon lelah, tapi dia sangat bahagia dan puas dengan apa yang dicapainya.

Tiga jam dia melakukan semua itu, dan waktu yang dibatasi itu harus terhenti. Beruntung  hanya tinggal tiga orang lagi, dan tentu saja Jiyeon tidak bisa menahan debar hatinya, ketika dia melihat Yifan berada di deretan ke tiga dari orang yang telah mengangtri di depannya ini. Kenapa Yifan muncul. Apakah dia membeli novelnya, atau untuk alasan lain. Rindu. Jiyeon tidak bisa berhenti tersenyum merasakan perasaan ini.

”Hi!” sapa Yifan

Jiyeon tersenyum.

”Kau terlihat senang hari ini.”

”Ya, karena aku sedang menjual novelku. Aku harus terlihat ramah.”  Jiyeon berkelit dari perasaannya sendiri

”Tolong tandatangani novel ini.”

Jiyeon mengambil novel dari tangan Yifan dan menandatanganinya, lalu mengembalikannya lagi. Mereka bertemua tatap lagi dan tersenyum

”Aku senang bisa melihatmu tersenyum tulus untukku seperti ini,”

”Kau adalah fans ku, bagaimana aku tidak senang,”

”Terima kasih untuk senyumnya,” bisik Yifan.

”Sama-sama.”

Jae Rim mendekat dan melirik Yifan. Ada hal mencurigakan yang dia tilik dari namja ini.

”Sepertinya aku  mengenalmu.” sebut Jae Rim.

”Tidak mungkin.”  sangkal Yifan

”Bagaimana kalau aku yakin mengenalmu.”  tegas Jae Rim lagi

Yifan mengerling sebentar, ”Katakan saja kau tidak mungkin mengenalku;.” tegas namja itu kemudian berlalu.

Jiyeon melirik Jae Rim sebentar,  ”Apa kau yakin mengenalnya?” tanya Jiyeon kemudian.

Jae Rim tertawa, dia tidak mungkin mengatakan pada Jiyeon kalau dia mengenal Yifan, karena laki-laki itu sudah mengancamnya sejak tadi. Baiklah, biarkan takdir yang bicara. Jae Rim  merengkuh bahu Jiyeon.

”Aku akan mengantarmu pulang Park Jiyeon.”

”Hey, kau belum menjawab pertanyaanku,”

”Aku tidak mengenalnya. Apa kau puas?”

Jiyeon merengut. Mana mungkin dia mempercayai omongan ini, tapi dia tidak berdaya.

Dari kejauhan, Yifan sedikit kesal karena Jae Rim sangat konyol dengan merengkuh bahu Jiyeon. Si sialan itu benar-benar ingin memancing emosinya.  Jae Rim adalah teman SMAnya dulu, dan karena sebuah kebetulan akhirnya bertemu lagi. Tidak menduga kalau semua ini ada kaitannya dengan Jiyeon.

.

.

.

Tbc

Note.

Mianhae, sebelumnya untuk semuanya karena belakangan aku memang jarang post ff. Ya, yang sudah tahu kondisiku, terima kasih karena mengerti. Aku ga bisa janji untuk ff apa selanjutnya. tapi aku usahakn untuk memberikan yang terbaik, dan untuk yang minta Taeyong. Selamat menikmati.

 

Advertisements

16 Comments Add yours

  1. May andriani says:

    Semoga pernikahan jin sma jiyeon gk terjadi,, n sampai kpn jiyeon bhongin perasa.anx sih,, jelas” dia suka sma yifan.. Tpi disisi yifan msih ada kahi,, gantung bnget hbungan mereka,, gpp kok update ffx gk sesering dulu, yg penting masih update ff 🙂

  2. Baru kali ini ff yifan njelimet gk siap2 wkwkwkwk

  3. megawatt123 says:

    Gk rela klo jiyi nikah ma jin mwnya ma yifan…
    Next chap

  4. sookyung says:

    yeeee akhirnya lanjut juga ^^,, disini berharap smga appa nya jiyeon nantinya mau menerima jiyeon dg tulus

  5. diah.dimin says:

    Melihat di rimu hafir di fb ajj dah seneng apalagi kamu post ff… Hmmmmm bahagiah… Lana… Makasih y… Fighting terus….

  6. Horeeeeeee my Krisyeon 😁
    Pasti jiyi sgt shock dg fakta tuu…
    Wajar lw dy Gk mw jumpa dg appa na,,
    Hmm yifan.. Ayo lebih smangat g tuk raih hati na jiyi..
    Moga part 9 ntk da scene jiyi n eomma na

  7. dwiki says:

    aissshhhh moga aja yifan cepet ngurusin masalah kahi, biar gak ada yg ganggu lagi dia ngedeketin jiyeon. aigooo kasian jiyeon harus tau kalo dia dibuang karena dianggap bawa sial. pengen supaya appa nya jiyeon nyesel karena udah buang jiyeon

  8. rasma says:

    yeeeee akhir nya … ayo ji lebih yakin kan hati mu kalau kau mencintai yifan.walau banyak penghalang yakin lah kekuatan cinta akan menang. penasaran gimana tar jiyi jetemu appa nya .srcara skarang jiyi dah besar.

  9. ifahsiwonest says:

    wahh lana comeback..
    bawa ff krisyeon pula kkk

    heh jiyi sm yifan aja..
    kasian juga sm jin kalo lebih milih yifan tapi mau gimana kalo perasaan ga bs dipaksain..
    lanjut lana ^^

  10. iineey says:

    Jin muai egois nih, dy mementingkan perasaannya sendiri tp ga mikirin perasaan jiyeon

    Moment yg paling aku suka saat jiyeon menumpahkan kesedihannya ke yifan dan ga sadar klo dy dah meluk yifan dgn nyaman wkwkwk
    Saat jiyeon tersipu malu aduuhhhhhh bikin senyum2 gaje deh hahahaaa

  11. unha azhari says:

    waahhh yifan bsa sabar jg yaaa…
    nggk ada yifan yng agresif d epsd ini….
    nnti kedahuluan nikah sma jin looohhhh
    d tnggu eonn kelanjutannya…..
    jgn lma2 yyyyaaaa….. 🙂

  12. AL says:

    Harap pernikahan Jiyeon dan Jin nggak jadi…

  13. Bb says:

    Aduh ini susah bngt sih yifan ma jiyeon paham sama perasaan masing2, msih pada muna dan runyem

  14. djeany says:

    kenapa hati jiyeon jatuhnya ke yifan yg penuh rintangan.
    duh hanya ny.park yg ngakuin jiyeon sedangkan tn.park entahlah😄
    slow aja lan,buat ff di waktu luang aja..

  15. violet says:

    Kbnyakkn cinta itu egois ingin memiliki tanpa mau tahu perasaan orng yg kita sukai nyamn atau tidak yg penting bisa memiliki jgn salhkn jin yg ingin memiliki jiteon salhkn cintanya yg terlalu ingin memiliki ……merasa tidak merasa twrkdng kita sendiri egois akn cinta

  16. Kim yeon says:

    Wajaar sih kalau jiyeon membohongi perasaannya karna dia takut untuk terluka lebih jauh lagi,,,
    Kalau lihat karakter jin aq jadi ingat seseorang ,, kasihan ya , tpi hati kan gak bisa dipaksakan,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s