LIE TO ME [2nd Shot]


you r not my destiny

LIE TO ME

Shot 2

Kim Taeyong

Park Jiyeon

And other

Romance-hate-love-and revenge

PG-17

Oneshot

.

.

.

 

Bagian pipinya sedikit membiru dan dia mengusapnya berkali-kali ketika berjalan melewati jalan setapak menuju ke daerah pertokoan. Taeyong tidak melupakan wajah-wajah itu. Lain kali dia akan menghabisinya. Sifat buruknya ini benar-benar tidak bisa dirubahnya. Brengsek! Batinnya memaki kesal.

TIN  TIN

Suara klakson itu mengagetkannya. Dia minggir untuk memberikan jalan agar mobil itu bisa melewatinya, tapi justru mobil itu berhenti di sebelahnya, dan ketika dia menoleh, wajah itu tersembul dari balik jendala.

“Naiklah!” ajak Jiyeon dengan memberikan senyuman seperti biasanya. Taeyong mendengus. Hari ini dia sedang kesal, dan mungkin akan semakin kesal jika dia menanggapi ajakan gadis itu. Jiyeon masih mengiringinya berjalan.

“Aku tidak akan menggigitmu!” candanya sambil mengusap pipinya sendri, menyindir pipi Taeyong yang membiru.

“Pergilah!”   Namja itu  mengusir

“Tidak mau. Kenapa kau tidak mau ikut, berjalan kaki sangat jauh ke kota. Aku bisa mengantarmu ke sana.”

Langkah Taeyong berhenti. Dia memang sudah capek, karena tidak terbiasa berjalan kaki. Dulu dia selalu di jemput saat pulang sekolah, meski setelah itu dia bisa bebas menggunakan motor besarnya untuk berkeliaran hingga malam atau menjelang pagi.

Dia melirik Jiyeon sekali lagi, kemudian melangkah untuk memasuki mobil itu. Setelah  duduk di sebelah gadis yang selalu memberikannya senyum simpatik.

“Jangan terlalu senang. Apa kau pikir aku sungguh mau naik ke dalam mobilmu. Ini hanya karena terpaksa.”

Jiyeon mengangguk. “Oke, aku juga tidak mau kau kehujanan.”

Jiyeon menginjak gas dan melajukan mobilnya melewati jalan lurus diantara arena perkebunan dan sawah.

Hujan

Baru beberapa meter mereka meninggalkan tempat di mana tadi Taeyong naik, hujan sudah mengguyur dengan derasnya. Jiyeon melirik sikap namja di sebelahnya yang terlihat memar. Berkelahi. Kaum laki-laki.

“Kau berkelahi?”

Namja itu tak menjawab

“Paman Kim hanya mempunyai anak perempuan yang sekarang sudah berkeluarga di Seoul. “

“Aku sudah tau.” Sahut Taeyong tanpa tekanan.

“Kenapa dengan wajahmu?”  Jiyeon sudah tahu, tapi masih saja bertanya. Mendadak dia merasa bodoh sendiri, hanya saja dia ingin menjalin interaksi dengan namja ini. Duduk bersebelahan kalau tidak saling bicara kan, akan buang-buang waktu saja.  Ini hanya sebuah bahan pembicaraan, tapi apakah keputusannya tepat untuk menanyakan wajah yang babak belur itu.

Benar, Taeyong tidak menjawab. Dia bahkan hanya melirik tanpa ekspresi.

“Kau sangat unik.” Gumam Jiyeon kemudian, sambil menggeleng tak jelas.

Taeyong sedikitpun tidak bergeming dari posisi diamnya. Hatinya masih mendongkol pada situasi yang terjadi pada hidupnya. Hukuman ini terlalu berat baginya. Satu tahun ke depan tampaknya terlalu berlebihan, di tambah dengan kehadiran sosok Jiyeon.

Hujan masih mengguyur,

Jalan-jalan yang dilewatinya tampak berkabut. Tidak jelas apa yang ada di luar sana, dan mobil ini melaju dengan tidak nyaman. Mungkin karena kondisi jalan yang tidak rata, tapi gadis di sampingnya ini sedang bernyanyi. Suaranya pelan dan terndengar merdu. Bukan sebuah pujian, tapi memang begitulah kesan yang dirasakan Taeyong. Jiyeon sedang bersenandung diantara suasana kaku ini. Mendadak namja ini teringat mantan pacar yang ditinggalkannya di Seoul. Mereka berpisah hanya karena pacarnya itu tidak bisa menerima jika Taeyong harus pindah jauh darinya.  She Suck! Umpatnya dalam hati.

BRAKH

Mobil menabrak beton pembatas. Tubuh Jiyeon terbentur setir dan Taeyong pun tersungkur ke depan. Jalanan licin ini membuat konsentrasi Jiyeon sedikit buyar.

Namja itu melirik ketegangan Jiyeon yang  sedang ternganga karena kaget.

“O My God!”  pekiknya tertahan.

“Kenapa?”

“Sepertinya ban mobilnya pecah. Apa tadi kau dengar suaranya?”  Jiyeon melepas seatbelt nya dan membuka pintu. Hujan masih deras dan dia keluar tanpa perlindungan. Taeyong memperhatikannya sebentar tanpa tahu apa yang harus dilakukannya.

Sekon berikutnya dia melihat akstifitas Jiyeon di luar yang sedang memeriksa kondisi ban. Dia terlihat pusing karena kemungkinan besar, ban mobilnya kempes.

“Bannya pecah dan itu yang membuat mobilku oleng dan tidak seimbang, aku harus menggantinya.”  Jiyeon basah kuyup tapi dia tidak perduli dengan keadaannya.

Taeyong tidak menyahut. Apa yang harus dilakukannya. Apa dia harus membantu Jiyeon mengganti ban mobil Itu artinya dia akan ikut basah kuyup di luar sana. Andweeeh! Pikirnya pengecut. Tapi dia adalah laki-laki, mana mungkin membiarkan Jiyeon melakukan pekerjaan laki-laki seperti itu. Mau tidap mau dia merawsa ditampar oleh kejadian ini.

Beberapa detik kemudian dia pun membuka seatbeltnya, dan keluar dari mobil. Mendekati Jiyeon yang tengah memasang dongkrak dengan susah payah. Yeoja ini tampak sangat perkasa.

“Biarkan aku saja!”  Taeyong menyingkirkan Jiyeon dan mengambil alih pekerjaan itu. Total dia basah kuyup, tapi tidak masalah, toh namanya juga kehujanan. Jiyeon pun basah.

“Aku heran kenapa bisa pecah. Padahal aku selalu merawat mobilku dengan baik.”

Taeyong tak menanggapi. Dia sudah berhasil memasang dongkrak dan mendongkrak mobil itu. Jiyeon memperhatikannya dengan sungkan. Dia tidak nyaman melihat Taeyong  melakukan hal yang mungkin saja tidak disukainya.

“Apa kau membenciku juga?” tanya Jiyeon diantara air hujan yang mengguyurnya.

Taeyong mendengar, tapi masa bdoh dengan semua itu. Dia masih serius dengan melepaskan mur pada velg, kemudian beberapa menit kemudian dia mengambil ban yang sudah disediakan Jiyeon. Gadis itu menggeleng jengah. Dia merasa sangat terpukul dengan perlakuan keluarga Kim padanya selama ini. Memang benar seorang Kim Taemin meninggal pada saat itu. Jiyeon pun bisa memahami, meski di usiannya yang masih sepuluh tahun itu, dia belum mengerti betul dengan apa yang terjadi.

Ban sudah terpasang, dan Taeyong merapikan peralatan itu kembali. Dia berjalan ke arah Jiyeon.

“Terima kasih, Taeyong!”  Jiyeon menerima kembali dongkrak itu dan menempatkannya di kotak peralatan.

Setelah berada di dalam mobil, Taeyong sibuk dengan baju basahnya. Dia melepaskan kemeja seragamnya dan membiarkan tubuhnya terbungkus baju dalam tanpa pelindung. Dia sedikit kedinginan, tapi ditahannya.

Mobil telah berjalan kembali dan Jiyeon hanya bisa membungkam dengan sikap Taeyong tak bisa dimengertinya.  Keapa dia ikut membenci keluarga Park.

“Apa kau punya rokok?” mendadak Taeyong bertanya.

Jiyeon menoleh kaget. Rokok.

“No, aku tidak punya Kim Taeyong.” Jawab Jiyeon.

“Aku butuh sesuatu untuk membuatku sedikit hangat.”

“Aku pun kedinginan, apa kau kira aku tidak kedinginan.”  Jiyeon mencibir.

“Biarkan aku yang menyetir.”

“Kau belum diijinkan menyetir!”

“Kau pikir berapa umurku?”

Jiyeon mengernyit untuk mengetahui jawaban Taeyong mengenai umurnya sendiri,

“Berapa?” tanya Jiyeon

Taeyong berpaling. Dia malu untuk mengatakan umurnya. Haruskah dia bilang kalau diumurnya yang sudah ke duapuluh tahun ini, dia masih duduk di bangku SMA.

Jiyeon mengulum senyumnya. Dia sudah tahu mengenai hal itu dan membiarkannya. Jarak usia mereka hanya tiga tahun. Ini menggelikan. Baiklah, Jiyeon tidak akan mengungkit hal itu.

“Kau membenciku?” tanya Jiyeon lagi

Namja itu mendengus halus dengan netra terpancing untuk melirik sang yeoja yang sejak tadi masih penasaran dengan pertanyaan itu. Benci. Entahlah. Mungkin dia membenci Jiyeon. Semua itu membekas dihatinya, karena pada saat itu, Taeyong berada di dekat Taemin ketika tangan dokter Park berada di tubuh kakaknya.

Dia menggeleng

“Apa kau membenciku?” tanya Jiyeon lagi untuk ketiga kalinya

“Aku tidak tahu.’ Jawab namja itu lirih.

“Kenapa tidak tahu.”

“Aku tidak tahu. Mungkin aku membencimu. “ Taeyong melirik tajam. “Seharusnya semua masalah itu di selidiki.”

Jiyeon menggegat bibir dengan tatapan nyaris hampa. Penyelidikan macam apa. Dokter lain pun sudah memastikan bahwa kematian Taemin karena ajal, bukan kesalahan ayahnya.

“Kalian berpikir salah pada Ayahku.” Gumam gadis itu.

“Masing-masing mempunyai alibi sendiri. Jika kau merasa bahwa ayahmu benar, itu urusanmu. Aku berpikir seperti keluargaku yang menganggap semua itu terjadi karena kesalahan dr. Park.” Lagi-lagi Taeyong menatap tajam.   “Aku melihatnya!”  matanya semakin garang dan ganas, membuat Jiyeon harus menunduk. Ekspresi itu sangat memukulnya

Mobil telah berhenti di depan toko peralatan rumah sakit milik Jiyeon.  Dia turun meninggalkan Taeyong yang menatap gamang. Dia ditinggalkan di dalam mobil begitu saja. Jiyeon mungkin merasa sakit hati karena perkataanTaeyong. Namja itu turun dan membawa tasnya.

Dia mengikuti Jiyeon yang telah berada di dalam tokonya. Gadis itu naik ke lantai dua, tapi sebelum dia menghilang di anak tangga terakhir—

“Ada kamar mandi di ujung lorong sebelah kiri. Aku akan ambilkan pakaian untukmu.”  Taeyong meletakkan tas dan kemejanya di lantai lalu berjalan sepanjang lorong yang dipenuhi oleh barang-barang yang akan disuply ke rumah sakit.

Beberapa menit kemudian Jiyeon muncul membawa handuk kering dan pakaian. Dia menyodorkan pada Taeyong.

“Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu.”

Jiyeon cukup sabar menghadapi sikap dingin Taeyong. Dia tidak akan menyuruhnya untuk mengucapkan terimakasih. Seharusnya dia mengusir namja itu tanpa harus memikirkan apapun lagi. Mereka, keluarga Kim sangat tidak menyukainya, jadi untuk apa dia berbaik hati seperti ini. Tapi Taeyong sudah membantunya mengganti ban mobilnya—

Bayang-bayang tubuh Taeyong berada di sudut mata Jiyeon. Dia mendekat dan duduk di hadapannya. Mereka terpisah meja.

“Minumlah!” Jiyeon melihat hujan diluar sudah reda, dan hari beranjak temaram. Kabut itu membuat suasana terlihat hampir malam, padahal masih jam empat sore. Taeyong mengambil mug itu dan meminum teh hangat buatan Jiyeon. Cairan berwarna keemasan itu menyamankan kerongkongannya. Rasanya hangat sampai ke dalam lambungnya. Untuk sebentar dia memejam mata.

“Aku harus pergi sekarang.”  Taeyong berdiri. Dia merasa kurang nyaman dengan celana panjang yang terasa sempit ini, juga kaos berwarna kuning yang tidak modis untuk gayanya.

“Aku akan mengembalikan bajumu besok kalau sudah kucuci.”  Ujarnya lagi sebelum mencapai pintu. Jiyeon mendiamkannya, dia hanya memberikan senyum datar.

Taeyong menarik napas menyadari perkataannya tidak diperdulikan. Mereka saling menatap dari jarak tiga meter. Sebuah cengiran tanpa kesan terlukis di bibir Taeyong.  Dia benar-benar ingin melakukan sesuatu pada gadis itu.

Suatu hari nanti..

.

.

.

Sudah dua satu bulan ini, Taeyong tidak bertemu dengan Jiyeon. Gadis itu jarang pulang ke rumah di sebelahnya. Mungkin dia sibuk atau—

Taeyong melempar kertas yang dia sobek dari bukunya. Siang ini dia belajar di dalam kamarnya dengan pengawasan ketat pamannya. Sama sekali tidak diijinkan untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar rumah. Baru-baru ini Taeyong menemukan sebuah tempat nyaman di dekat lembah diantara sungai yang letaknya seratur meter masuk ke dalam hutan pinus di sebelah Barat pemukiman. Tempat itu hanya sebuah lokasi yang sunyi, di mana dia bisa menyendiri dan memandang aliran sungai dari atas batu besar.

Semua yang ada di sini, sama sekali tidak membuatnya bersemangat. Sekolah itu, Paman dan Bibi, juga teman-teman. Mereka benar-benar bullshit. Begitupun Jiyeon. Taeyong muak, terlebiih dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Namja itu melongok dari jendelanya ke arah luar. Dia meliat mobil Jiyeon memasuki halaman rumahnya. Dia muncul setelah menghilang untuk beberapa hari. Hh, kenapa dia harus perduli. Taeyong membuang pandangan ketika Jiyeon memergoki tatapannya.

Gadis itu masuk ke dalam rumahnya tanpa tersenyum. Jelas sekali dia menantang Jiyeon untuk melakukan sesuatu. Namja itu berdiri dan melangkah keluar kamarnya.

Di bawah sana PAmannya duduk berhadapan dengan bibinya di meja makan, dan kemungkinan tidak akan melewatkan kemunculan Taeyong yang seharusnya berkutat dengan pelajaran dan tugas-tugasya. LAki-laki itu ingin memastikan bahwa keponakannya itu bisa lulus dengan nilai yang baik, tidak hanya sekedar lulus seperti yang TAeyong inginkan.

Dia mengurungkan diri untuk menuruni tangga.

Malam harinya, namja itu baru bisa mengendap-endap keluar ketika paman dan bibinya sudah terlelap. Dia ingin melepaskan kepenantan ini dengan berjalan-jalan sebentar. Rasanya jenuh berada di dalam kamar sepanjang waktu.

“SSsstttt!”  sebuah desis memanggilnya. Taeyong menoleh kea rah suara, dan mendapati JIyeon sedang bersandar di box belakang mobilnya sambil memegang beer. Yeoja itu melambai ke arahnya.

“Kau mau ke mana Bocah Nakal!”  panggilnya

Taeyong menyeringai. Sudut bibirnya sangat lancip ditingkahi tatapan manis JIyeon. Dia mendekati yeoja itu dan berhadapan dengannya. Sudah beberapa minggu tidak melihatnya, sepertinya ada sedikit perasaan kehilangan, meski itu sangat janggal untuk dirasakan.

Hanya JIyeon yang selama ini mengajaknya bicara.

NAmja itu merebut beer dari tangan JIyeon dan menguknya. Sudah lama dia tidak merasakannya, karena selama tinggal bersama Pamannya, semua hal ini sama sekali tidak diijinkan.

Jiyeon hanya terkekeh melihatnya. Dia sedikit mabuk dan menepuk pipi Taeyong cukup keras.

“YAAAK!”  protres namja itu tidak suka.

“Kenapa kau keluar? Apa kau butuh teman?”

JIyeon menarik tangan namja itu untuk duduk di sebelahnya, mereka menatap sebentar dan membuang muka karena merasa janggal. BEnar, keduanya merasa sangat janggal. Terlebih Taeyong yang selama ini selalu terkurung oleh perasaan benci pada gadis ini.

“Apa kau mau lagi?”  Jiyeon menawarkan beer lagi, dia mengambil dari kotak pendingin di belakangnya.

TAeyong sungguh senang melihatnya. Dia tidak menyangka kalau dia bisa minum beer mala mini.

“JAngan banyak-banyak! Nanti kau mabuk! Ini beer khusus orang dewasa.”  Celetuk JIyeon mengejek

“Aku sudah dewasa.”

“KAu masih SMA!”

“JAngan mengajakku bertengkar!”  lirik namja itu sengit.

JIyeon kembali terkekeh melihat ekspresi yang dilihatnya. “Okay!”

Suasana menjadi hening seketika. Sesekali terdengar helaan napas panjang yang berujung pada cengiran Jiyeon. Dia sangat menyukai TAeyong, dan belakangan ini dia memikirkan namja dingin ini secara sadar.  Mungkin ini memang sangat aneh, kenapa harus pada seorang Taeyong yang jelas-jelas membencinya dia menaruh rasa suka ini.

“Kau tidak bertanya, ke mana saja aku pergi beberapa hari ini? Kelihatannya kau merindukan aku!”  Jiyeon sedikit narsis tapi dia tidak tidak perduli. Taeyong tidak akan menanggapinya dan rasanya senang bisa mencandai namja ini. Pikirnya.

“Kau mabuk?”   Taeyong menoyor kening JIyeon ketika tatapan gadis itu meneliti manik matanya dengan jeli.

“Aku tidak mabuk.” Jiyeon terkekeh

“Aku suka minum beer.” Celetuk Taeyong sambil memperhatikan kaleng beer di tangannya dengan mata berbinar.

“Aku punya banyak, tapi aku tidak akan memberinya padamu. Kalau nanti kau mabuk, aku akan kena masalah. PAman dan Bibi Kim tidak menyukaiku, dan mereka akan semakin tidak suka padaku jika aku mengerjai keponakannya ini.”

“Bodoh!” gumam namja itu tanpa ekspresi.  Dia menghela napas sebentar, sebelum akhirnya beranjak dari tempat dia duduk.

“Kau mau ke mana?”

“Pulang.”

JIyeon bangkit dan mencoba mendekat, tapi akhirnya dia tersungkur, karena sebenarnya dia memang mabuk. Beberapa kaleng beer sudah dia habiskan, dan itu cukup membuatnya melayang.

TAeyong menangkap tubuh itu dan memeluknya. Tangan Jiyeon mengalung di lehernya. “Tae, kenapa kau buru-buru sekali? Aku masih ingin bicara banyak padamu.”

“Sudah malam, aku bisa kena marah Paman Kim jika ketahuan bersamamu.”

“YAK!” Jiyeon memekik, tapi tangan namja itu membungkamnya. Suara JIyeon lumayan keras dan bisa mengundang kecurigaan.

“JAnga berteriak!”

“Tidak, aku tidak berteriak.”  Seru Jiyeon. Kali ini dia bisa berdiri tegak, dan tangan Taeyong memeganginya dengan erat. Genggaman tangannya tanpa sadar meremas tangan kasar itu. BEnar, tangan Jiyeon memang kasar. Dia tidak seperti tangan gadis pada umumnya yang lembut.

“Kau harus masuk!”  Taeyong mendorong Jiyeon menjauh darinya, dan sekali lagi gadis itu terhuyung ke belakang.

“Eoh, kau kasar sekali memperlakukanku Tae!” gerutu gadis itu, dia berpegangan pada mobilnya

“Aku akan mengantarmu masuk!”  dengan kasar Taeyong menggandeng tangan Jiyeon dan sedikit menyeretnya untuk masuk ke dalam rumah. Masih terdengar kekehan dari mulut Jiyeon, tapi namja itu tidak memperdulikannya. Dia membawanya masuk dan mendudukkannya di sofa. Setelah itu dia berjalan keluar, dan menutup pintu.

JAntungnya cukup berdebar merasakan sikapnya sendiri pada gadis itu. BAgaimana mungkin dia memberikan kesempatan pada seorang Jiyeon untuk menyentuhnya. Ini tidak boleh terjadi.

.

.

.

Lagi-lagi Taeyong harus menghadapi tekanan dari teman-teman di sekolahnya yang tidak menyukainya. Siang ini dia harus sedikit bersitegang dengan mereka.  Sebenarnya dia sudah berusaha untuk menghindar, hanya saja karena gadis itu. Shirin, dia harus menghadapi muka-muka kecut itu menghadangnya di jalan sempit  menuju ke toilet.

Shirin adalah seorang yeoja cantik berumur enam belas tahun dan masih duduk sebagai adik kelasnya di kelas dua. Dia menyukai Taeyong dan sering mengajak TAeyong bicara. Gadis itu cukup berani, karena dia tahu kalau Taeyong bukan namja sembarangan. Keberadaan TAeyong cukup menarik perhatian banyak teman yeoja, baik itu di dalam kelasnya maupun di luar kelasnya. Shirin, terlihat lebih agresiv karena dia putri dari kepala sekolah dan tentu saja tidak ada yang berani bersaing dengannya.

“Aku tahu kau tidak menyukai Shirin, jadi jangan mempermainkan dia!”   Jun memberikan ultimatumnya. Namja tinggi kurus itu tampak gusar dengan sikap cuek Taeyong

“Bukan urusanmu!” sambut Taeyong dingin. Sebenarnya dia pun tidak  memperdulikan Shirin. Baginya, yeoja itu tidak akan pernah bisa meluluhkannya.  Not his type.

“Aku hanya memperingatkanmu, Brengsek!”  Jun mendorong Taeyong, dan namja itu balas mendorongnya.  Sebuah cengiran sedang memapah emos Taeyong yang mudah tersulut.

“WAE? Kau tidak berani memukulku karena Pamanmu seorang guru di sini?”

Taeyong mendengus. Dia masih bersabar.

“Kau pikir dia bisa melindungimu? Cih, dia hanya guru yang mengandalkan wajah sangarnya untuk menakut-nakuti muridnya.”

“Aku tidak perduli!” sahut Taeyong

“Kau memang tidak akan perduli, meski dia dikatakan guru payah sekalipun.”

Dengan seringaian Taeyong menghalau mereka dan melanjutkan langkahnya. Dia ingin bersikap tenang, tapi tangan Jun menarik lengannya dan memojokkannya ke tembok. Kelompoknya ikut mendesaknya.

“Kenapa kau tidak pergi saja dari sini?” Jun mwnggertak

“Kenapa harus?” Tanya Taeyong tak gentar

“Shirin milikku,kalau kau berani membuatnya menangis, kau akan kuhabisi!” ancam Jun kemudian, tapi Taeyong memang bukan namja yang mudah takut.

“BAgaimana jika Shirin mendatangiku dan memelukku?” ledek Taeyong santai.

“Akan kurontokkan gigimu!”

PErlahan namja itu memindahkan tangan Jun dari bahunya, dan bergeser. “Sebaiknya kau urus saja Shirin. Bukan mengurusku. Dia yang sebenarnya harus diikat supaya tidak seperti kuda binal yang menggetanyangi kehidupanku yang terhormat ini! Lagi pula dia bukan typeku. Dia sama sekali tidak menarik.”

Tatapan Jun hampa mendengar penuturan Taeyong mengenai Shirin, sehingga ketika namja itu berlalu, dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Berbeda dengan sosok yang menguping pembicaraan mereka. Shirin. Hatinya terbakar mendengar Taeyong merendahkan dirinya. Ini sama sekali tidak bisa diampuni. BAgaimana mungkin sosok Shirin yang selama ini begitu di idolakan harus di jatuhkan di depan para pemujanya.

Cih! Dia menyeret tangan Jun dan membisikkan sesuatu pada namja yang melintas di depannya itu. Jun tersentak dan segera merespon tindakan Shirin dengan senang hati. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Taeyong.

.

.

.

JIyeon baru saja akan mengunci pintu tokonya ketika dia melihat Taeyong duduk di trotoar dengan tubuh lusuh dan babak belur. Dia nyaris tak bertenaga dengan darah yang mengalir dari rongga hidungnya.

“Tae! TAE!”  Jiyeon menghambur cepat dan memperhatikan kondisi itu dengan seksama.

“Apa yang terjadi padamu?”

Dia menggeleng.  “Entahlah, seseorang mendadak menutup mataku dan menyeretku, kemudian menghajarku dalam mobil, kemudian membuangku di depan sini.”

“Masuklah, aku akan mengobatimu!”

JIyeon memapah namja itu masuk ke dalam tokonya, membaringkannya di sofa.

“Kenapa kau selalu membuat masalah?”

“MAsalah apa?”  TAeyong tidak terima dirinya dianggap pembuat masalah.

“Aku akan menjahit lenganmu, “ Jiyeon mengangkat lengan Taeyong yang sobek akibat benda tajam. “Kenapa bisa seperti ini?”

NAmja itu menggeleng

“Apa kau mengenali mereka?”

MEnggeleng lagi, walau sebenarnya dia cukup tahu siapa yang sudah berani melakukan semua ini.  Mungkin  Jun dan kelompoknya

Jiyeon datang bersama satu nampan berisi obat-obatan dan alat medis.  Dia mengenakan masker dan sarung tangan. BAu alcohol merebak di sekitarnya. Dia terlihat seperti seorang monster dalam pengelihatan Taeyong. Ini aneh, apakah karena efek dari masa lalu yang membayang di benaknya.

Wajahnya memucat

“Tae, kau kenapa?”  JIyeon menenangkan namja itu dengan memegangi bahunya

“JAngan melalukan apapun padaku!”  Taeyong panic

“Melakukan apa?”

TAeyong tergugu  “Pokoknya jangan melakukan apapun padaku?”

“Termasuk menyuntikmu?”

Jiyeon memamerkan alat suntik di depan Taeyong, dan semakin membuat namja itu ketakutan.

“JAngan bilang kalau kau takut jarum suntik.”

“Kau akan membunuhku?”  namja itu menjauh dari Jiyeon

“Hm, tergantung jika kau mau menurutiku aku akan berusaha untuk bersikap lebih baik padamu.”  Gadis itu tertawa, dan tak bisa menahan rasa gelinya karena melihat sikap Taeyong.

“YAK!”  Taeyong masih berusaha menghindari JIyeon,

“Aku harus menyuntikmu karena aku akan menjahit lenganmu, kalau tidak kau akan kesakitan jika tidak kumatikan rasa sakit itu.”

Bola mata Taeyong bermain lucu ditingkahi tawa JIyeon.

“Kau sungguh senang melihatku panic seperti ini.”

“Aku tahu kau masih trauma pada kejadian yang menimpa Taemin. Tapi pecayalah, semua itu bukan kesalahan ayahku. Dia meninggal karena ajal. Kau tahu, kakakmu memang tidak bisa bertahan saat itu. Dia keracunan.”

Taeyong duduk di lantai— lemas.

“Aku akan berusaha sebaik mungkin. Meskipun aku tidak berhasil menjadi dokter, tapi aku tahu bagaimana harus menolongmu. Apalagi untuk urusan sekecil ini.”

“Itulah yang aku takutkan, bagaimana jika kau salah menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhku.”

“Tidak masalah, semua akan larut dalam air senimu.”

“Apa kau serius?”

“Coba saja!  Cepatlah, sebelum darahmu mengotori lantaiku lebih banyak.”

“Oke!” jawab namja itu lemah

“Aku hanya akan memberikan suntikan kebal local. Kau tidak akan kehilangan kesadaran, Taeyong. Kau bisa menggigitku seandainya kau merasakan sakit.”

“Oke!” dia sedikit tenang mendengarnya,

Beberapa saat kemudian, dia  terlihat menikmati apa yang sedang JIyeon lakukan padanya. Gadis itu mengusap kulit lengannya dengan kain kassa. Terasa dingin karena Jiyeon menggunakan alcohol untuk mensterilkan kulitnya. Setelah itu dia menyuntik dengan hati-hati. Ada sedikit cengiran di bibir Taeyong karena dia merasa sedikit sakit. Mungkin sudah lama dia tidak merasakan jarum suntik.

Jiyeon pun cukup menikmati, dia bisa merasakan kegugupan ini bersama-sama. Debaran jantungnya dan desah napas Taeyong mengganggu konsentrasinya juga. Ini tidak bisa dia ampuni.

BEberapa menit kemudian, TAeyong sudah bisa merasa tenang, karena akhirnya dia tertolong. Wajahnya babak belur, dan jelas ini akan membuat PAmannya bersikap keras padanya. JIka malam ini dia kembali dengan kondisi seperti ini, maka PAmannya tidak akan mengijinkannya masuk. Dia hanya boleh tidur di teras hingga pagi.

“Kenapa?”  JIyeon menegurnya

“Bolehkan aku tidur di sini?”

“Tapi akan pulang.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak akan mencuri.”

JIyeon tertawa

“Aku tahu. Kau memang kaya. Tapi aku khawatir dengan kondisimu.”

“Kau sudah memberikan pertolongan.”

Gadis itu berpikir sebentar, lalu mengajak TAeyong naik ke lantai dua. Di sana ada sebuah kamar, yang biasa JIyeon pakai jika dia memang harus menginap.

“Di sini cukup bersih, kau bisa menggunakannya.”

“Terima kasih.”

“Apa kau yakin?”

JIyeon merasa aneh dengan hal ini, tapi jika mengingat mengenai paman Kim, semua itu menjadi sangat mungkin. Paman Kim memang seorang laki-laki yang disiplin dan penuh charisma.

“Di bawah, ada stok makanan, kau bisa memasaknya, lalu di kulkas juga ada beer. Aku tahu kau suka beer, tapi jangan terlalu banyak. Aku tidak mau kau mabuk dan menghancurkan semua ini.”

Namja itu mengangguk, masih tanpa ekspresi.

“Oke!”

JIyeon mengangguk dan berjalan menuruni tangga, tapi dia berbalik lagi.

“Apa yang harus kukatakan pada PAmanmu jika dia mengetahui hal ini, Taeyong?”

Namja itu tergugu dan duduk di pinggir ranjang. Mereka saling menatap sebentar di dalam suasana remang.  KEnapa dari antara semua laki-laki yang pernah dekat dengannya, hanya TAeyong yang berhasil bertengger di dalam ruangan ini. TAdinya JIyeon berharap dia bisa bersama dengan laki-laki yang dia cintai di dalam sini. MUngkin itu dengan Seok Jin atau Maru atau siapapun dulu yang pernah menjadi namjachingunya.

“Apa kau masih membenciku?”

PErtanyaan itu lagi, dan TAeyong hanya bisa menghela napas panjang.

“Aku membencimu, Park JIyeon. Apa kau puas mendengarnya.”

Jiyeon justru tertawa.

“BAiklah aku percaya.”

Setelah itu dia berlalu, meninggalkan Taeyong dengan perasaan ragu. Kenapa dia harus menolong laki-laki ini.

.

.

.

tbc

 

Advertisements

29 Comments Add yours

  1. Hana lark says:

    Wihhh eonnie cepett bgt updatenyaaa,makasih yaaa udah dibikinin ff taeyong jiyeon!!suka sama ceritanyaaaaaa

  2. rasma says:

    coba ji ganti kata apakah kau membenci ku ,dengan apakah kau nenyukai ku gimana tuh reaksi tae . untung jiyeon orang nya cuek ceria.jadi dia ga terpuruk melihat kluarga kim membenci nya ..

  3. rianti says:

    heuh kayknya masalah ga pernah bosennya nyamperin si taeyong, trus lagi2 jiyeon juga yg nolong dy kekekek

  4. Kina J says:

    Kasihan tae dipukuli sampai segitu nya dan untungx jiyi mau nolongin kalo gk gmna tuh…cie yg udh mulai ada rasa gimana2 gitu..haha.

  5. dwiki says:

    hadehhh jiyeon terlalu baik nih sama keluarga kim padahal udah jelas2 mereka gak suka sama keluarga nya terlebih appa nya. untung aja jiyeon masih ceria2 aja di depan mereka

  6. anick says:

    kenapa rumit banget ya jadi jiyi serbah salah sbenarnya kenpa taemin meninggal dibunuh or gmna! next

  7. diah.dimin says:

    omg.. sudah di tolong masih benci pula yaoloh… next2

  8. Kim yeon says:

    Jiyeon uda mulai suka tu sama taeyong,, dan aku uda tau siapa taeyong itu sebenar nya hahaha

  9. megawatt123 says:

    Taeyong udah jangan benci jiyi dong…taemin diracuni atau dia keracunan yah

  10. Hehehe udh da peningkatan nich dr mrk..
    Tae meski benci tetap bicara ma jiyi wlw pn singkat..
    Eottokhe… Jiyi suka Tae..
    Hmm hrs kuat bathin nich hadapi Tae..
    Ayo jiyi.. Cair kn gunung es 🗻 d hati na Tae..

  11. sookyung says:

    masalah penyebab kematian taemin yg sebenarnya masih menjadi teka teka,???

  12. kriswulan says:

    Taeyong gx lepas dari masalah,. Ada aja,,,
    Jahat juga Taeyong ngomong gitu ke jiyi,, kalo kangen ma jiyi jujur aja tae
    Jiyi baik banget,, masih mau bantu tae, padahal sikap tae selalu begitu.

  13. putri JH says:

    taeyong cueknya minta ampunn ,,kumohon jangan benci jiyi eoh,,, jiyi udah berusaha bersikap baik,, tae dimanamana berkelahi adeuuhhh…

  14. _PJYKMS_ says:

    Yak yak jun banci masa pake ditutup mata trs dikeroyokin gitu, kan kasian bias T.T 1 on 1 dong huuuuuuu payah jun
    Sifatnya jiyeon asik bgt ya, taeyong cuek gitu tapi jiyeonnya masih tetep baik

  15. indaah says:

    duhh jiyeon udah suka aja ma taeyong?
    taeyong masih bner bnci ma jiyeon , knapa keluarga nya kim gk nerima klo taemin pergi malah nyalahin dr.park?
    aihh tae kasihan d gebukin tp ada untung nya d obatin ma jiyeon ..

    masih datar2 sih ni dtunggu next nya lan fighting

  16. lanjiyeon says:

    baru komen d part2…..paling seneng klo ada pairing baru bwt jiyeon apalagi klo cowoknya cakep….feelny slalu dapet apalagi s Taeyong imageny kan badboy gtu….di tunggu nextny

  17. RegitaOhJiSe says:

    Dipost cepet suka sukaa!!!

    Haduh kenapa Jiyi lebih dulu suka Taeyong, kasianlah ama Jiyi, sabaya uri Jiyi.. Tapi Taeyong juga udah mulai ada rasa ya ama Jiyi, tuh buktinya deg2gan kkkk

    Idiih apa itu rencana shirin dan jun membuat Taeyong babak belur? parah banget anjayy -.- tapi Taeyong udah mulai sabar ya walaupun dia emosi banget, keren kerennn

    Taeyong janganlah membenci Jiyi ntar malah kebalikannya hehehe

    NextNext

  18. May andriani says:

    Hati” loh taeyong pertamax benci ntar lama” jadi cinta deh, lagian jiyeon udh pny rasa suka ke taeyong,, kasian tae bnyak yg gk suka disekolahx..

  19. Chacha says:

    Suka~ suka sama ceritanya. Walopun myungyeon shipper, nggak masalah baca ff taeyong jiyeon, apalagi ffnya menarik kayak gini.
    Keep writing n update soon. Ff myungyeonnya jga ne ?

  20. nissa says:

    kenapa sesak gini ya dengar taeyong benci ma jiyeon.semoga kebenarannya cepat terungkap supaya ngk ada kesalahpahaman lagi

  21. djeany says:

    tae tae nasib mu nak,enggak lepas dari perkelahian..
    jiyeon cuek di luar di dalam rapuh tapi suka dia menyingkapi dg ceria..
    biar waktu yg menjawab apa yg terjadi dg taemin dulu..

    1. mochaccino says:

      kaya Myungsoo ya

  22. yustina says:

    Kenapa kamu nolong si taeyong? Ya karena kamu suka sama dia jiyi , ahhh dasar ya udah nyadar tapi ga sadar, hahahha
    Duh makin deket aja mereka, taeyong juga udah mulai suka kayaknya sama jiyi, and than, tnggal nunggu wqktu ini mah, bakal kaya gimana mereka nantinya, masih penasaran sama kematian taemin deh

    1. mochaccino says:

      gimana ya ada yg minta nc ga

  23. iineey says:

    Siapa yg ngeroyok tae??
    Jun dkk atw malah org suruhannya shirin?

    Yakin nih tae benci jiyeon kkk kyk nya mah sebaliknya dah
    Hahahaa

  24. kwonjiyeon says:

    Jln ceritanya makin seru dan menarik bkin berdebar debar

  25. yola says:

    Suka sama ceritanya. Ditunggu updatenya secepatnya.
    Eonnie aku mau minta pw, bales emailku ya :))

    1. mochaccino says:

      ya suda

  26. MFAAEM says:

    Yaampun nasib taeyong di keroyok sampe kaya gitu hmmm jiyeon juga udah suka taeyong ih gemes liatmya wkwkwkwkwk taeyong ngerasa kehilangan tapi tetep aja jual mahal dasar ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s