WALKIN’ THE DREAM 4th


walkin the dream 3

WALKIN’ THE DREAM 4th

By. Mochaccino

Kim Myungsoo feat Park Jiyeon

Support Cast.

Kim Minseok  aka. Xiumin

And Other

Romance

School Life

PG

.

.

 

Diliriknya sebentar ponsel Jiyeon yang menyala di atas meja. Lagi-lagi keningnya berkerut karena dia merasa bahwa panggilan itu berasal sepupunya, Xiumin.

Myungsoo mengambilnya dan menolak panggilan itu, kemudian menonaktifkan ponsel Jiyeon. Meskipun dia mempercayai istrinya, dan tidak ingin berpikir buruk mengenai semua ini, Myungsoo tetap tidak bisa tenang. Xiumin, pasti tidak akan mundur begitu saja sebelum dia tahu, bahwa Jiyeon telah menikah dengannya.

Dia menunggu Jiyeon di meja makan, tanpa bicara. Hari ini dia harus menemui orang tuanya dan membicarakan masalah kuliah. Semoga saja mereka bisa menerima keputusan Myungsoo untuk tidak tinggal bersama mereka. Baru saja tercetus dalam pikirannya, bahwa dia harus tinggal bersama Jiyeon.

Bukankah saat ini, dia sudah bisa menentukan keputusan untuk tidak tinggal lagi bersama orang tua.

”Kau melamun apa?” Jiyeon duduk menghadapinya dengan pakaian rapi.

”Kau mau ke mana?” Myungsoo balik bertanya.

”Aku harus bekerja.” jawabnya tenang

”Xiumin— ” gumam Myungsoo dengan wajah kaku. Dia benar-benar mencoba untuk tidak emosi, ketika menyebut nama sepupuya itu.

”Ada apa dengannya?” Jiyeon menyesap kopi hangatnya dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan mereka akan bertengkar lagi pagi ini.

”Dia menyukaimu.”

Hening

Jiyeon bukannya tidak tahu mengenai hal itu,

Disimaknya wajah yang terlihat gusar itu, di sana Myungsoo tengah mengatupkan bibirnya, dan melirik dengan tatapan yang anggun, namun penuh dengan kecemburuan. Kesan yang indah, yang tak bisa dipungkiri di dalam hati Jiyeon. Dia memujanya. Jiyeon masih sangat mencintai Myungsoo, dan tak berharap diantara mereka terjadi lagi pertengkaran atau perselesihan.

”Myungsoo, ” suaminya tak menjawab, dan menunggu—

Jiyeon berdiri mendekati suaminya,

Myungsoo menatapnya ketika Jiyeon mengambil tangannya, dan menggenggamnya erat.

”Apa kau bisa melihat di mataku, kalau aku benar-benar mencintaimu.”

Wajah Myungsoo bersemu kemerahan, dengan alis yang mulai terangkat dalam bias cahaya pagi. Senyumnya mengambang diantara rasa bangganya.

Sejak tadi  Myungsoo berusaha sekali untuk tidak mengumbar emosinya, akhirnya mendapatkan sebuah jawaban manis dari sang istri tercintanya.

Dia lega karena tidak harus beradu ketegangan lagi seperti kemarin.

”Aku harap kau tidak cemburu lagi?”

”Aku akan selalu merasa cemburu, Jiyeon, selama status kita masih seperti ini.” jawab Myungsoo sambil menyeret bangkunya menjejeri Jiyeon, menarik tubuh itu dan memberikan kecupan singkat di bibirnya. Jiyeon terpukau oleh sikap manis ini.

”Kau tahu aku tidak akan melakukan hal bodoh padanya.” terang Jiyeon dengan tatapan meyakinkan.

”Kau tidak akan sadar, Jiyeon.”

”Aku tahu apa maksudmu, jangan khawatir.” Jiyeon menepuk pipi suaminya. Tangan Myungsoo mulai menelusuri lengan Jiyeon, kemudian menariknya lagi sehingga kini dia memangku tubuh itu dalam pelukannya. Mereka bertemu pandang sejenak untuk memastikan perasaan mereka.

”Aku harap hubungan kita bisa segera diketahui.” ujarnya, tapi Jiyeon justru memenjarakan kegelapan di dalam matanya. Dia menggeleng sebentar

”Myungsoo, ini tidak akan mudah bagi keluargamu menerimaku.”

”Sepertinya pembicaraan kita akan terus berputar-putar di sekitar masalah ini.”

”Demi kebaikanmu.”  Jiyeon mengecup bibir Myungsoo. ”Sampai kau bisa menentukan kehidupanmu sendiri.”  dengan penuh hasrat Jiyeon membersi usapan di kepala laki-laki yang tengah menatapnya lembut.

”Baiklah, tapi—”

”Tapi?”  ulang Jiyeon

”Bagaimana jika aku memutuskan sesuatu untuk kita.”  Myungsoo mengangguk pasti.

”Apa?”

”Aku akan tinggal di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, dan setiap hari, setiap malam kita akan bersama.”

Sekon berikutnya, yang diajak bicara justru tampak gelisah. Dia tidak keberatan mengenai hal itu, hanya saja apakah kedua orang tua Myungsoo tidak akan datang mengunjungi anaknya ini .

Itu tidak mungkin.

Sanga tidak mungkin jika, kedua orang tua Myungsoo tidak curiga.

Myungsoo memperhatikan wajah yang tampak kurang antusias itu dengan sedikit kecewa. Jiyeon sepetinya tidak setuju dengan kuputusannya.

”Kau tidak suka aku tinggal di sini?”

”Bukan seperti itu. Aku sangat menginginkan setiap malam bisa tidur dalam pelukanmu, merasakan tubuhmu dan kehangatanmu, Gosh, kita baru saja menikah Myungsoo, aku masih haus akan sentuhanmu. Aku masih sangat gila kita bisa bercinta setiap saat, hanya saja apakah orangtuamu tidak akan curiga, kenapa mendadak kau akan keluar dari rumah mereka.”

Myungsoo mengangguk.

”Mereka pasti curiga.”  jawabnya

Jiyeon berdiri, melepaskan dirinya dari pangkuan dan pelukan Myungsoo.

”Sebaiknya kau pikirkan lagi keputusan itu.”

.

.

.

Xiumin menunggu di depan salon di mana Jiyeon bekerja. Dia terlihat sedikit aneh dengan alis menukik yang di bawanya. Mungkin karena beberapa hari ini, Jiyeon menghindarinya, atau karena dia dan Myungsoo bertengkar lagi.

Myungsoo sudah memulai kuliahnya, dan dia sedikit sibuk sehingga tiga hari ini dia tidak datang. Jiyeon merasa sangat rindu sampai harus menangis di atas ranjangnya yang sepi. Tak bisa dibayangkan seandainya dia harus melewati setiap harinya seperti ini.

”Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”  namja itu menarik lengan Jiyeon dan memaksanya untuk menghadapinya.

”Aku masih harus bekerja, hari ini aku terlalu banyak pekerjaan Xiumin.”

”Temani aku makan siang,” ajaknya

Jiyeon menghela napas dan menyimpan semua emosinya dalam lautan kesabaran.

”Sebentar lagi, okay! Biarkan aku menyelesaikan laporan harian ini untuk diserahkan pada bossku. Kau tahu sendiri,kan kalau dia tidak suka dengan karyawan yang lalai.”

Xiumin mengangguk

”Aku menunggu di luar.”

Laki-laki itu keluar dan berdiri di dekat mobilnya. Dia dan Myungsoo sedikit sama. Mempunyai temperamen yang serupa, selalu cepat emosi dan terkadang lupa dengan siapa dan di mana dia meluapkan emosinya itu.

Setelah selesai dengan semua laporannya, Jiyeon melangkah keluar dari dalam salon. Dia melihat Xiumin duduk di dalam mobilnya, namun kemudian segera keluar dan berlari untuk membukakan pintu untuk Jiyeon.

”Aku ada janji dengan seseorang, sebaiknya kita makan siang bersamanya.”

Jiyeon mengernyit.

”Siapa?”

”Kau akan tahu nanti.”

”Kau jangan main tekai-teki denganku, aku tidak punya waktu banyak Kim Minseok!”

”Ssst, panggil aku Xiumin. Nama itu terdengar kampungan. Aku tidak suka di panggil seperti itu.”  senyumnya terbentuk manis, tapi tetap saja Jiyeon tidak suka dengan situasi ini.

Mendadak ponselnya berbunyi,

Aish, kenapa di saat-saat seperti ini Myungsoo baru menghubunginya.  Diliriknya Xiumin yang mengendarai mobilnya meninggalkan halaman parkir.

”Ya?”  Jiyeon mencoba untuk menjawabnya

”Kau di mana?”

Jiyeon menyimpan senyumnya. Myungsoo selalu bertanya seperti itu, seharusnya dia sudah tahu jawabannya.

”Aku di dalam hatimu, Sayang!” Jiyeon tak bisa menahan getaran hatinya. Terdengar manusia tampan yang tengah diajaknya bicara tertawa. Myungsoo terdengar ceria siang ini, membuat suasana hati Jiyeon pun ikut cerah.

”Siapa?” Xiumin menyela pembicaraan, tapi Jiyeon tidak menanggapinya dan sibuk mendengarkan Myungsoo.

”Maafkan aku karena belakangan aku sibuk. Aku mendapatkan kontrak baru untuk membintangi iklan lagi. Jadwal syutingku jadi lebih padat. Apa kau baik-baik saja?”

”Aku baik-baik saja, tapi aku sangat merindukanmu.”

”Jiyeon!” Xiumin menarik lengan Jiyeon, dan ponsel itu jatuh ke dekat kakinya.

”Kau ini kenapa, Xiumin?”  Jiyeon mengerutu dan mengambil ponselnya, dia tidak yakin apakah Myungsoo akan mendengarnya atau tidak.

”Apa kau bersama dengan Xiumin?” akhirnya suaminya menanyakan hal itu.

”Ya, dia datang dan menjemputku.”

”Apakah itu Kim Myungsoo?” Xiumin sengaja berbicara keras.

Tidak terdengar sahutan dari Myungsoo, dan Jiyeon sedikit khawatir Myungsoo akan marah.

”Kalian masih menjalin hubungan?”  tanya namja chuby itu lagi, dan Jiyeon hanya menghela napas.

”Myungsoo, aku hanya akan makan siang dengan sepupumu.”

”Baiklah, ” Myungsoo hanya menjawab singkat, dan itu cukup membuat Jiyeon tidak tenang.

”Apakau baik-baik saja?”  Jiyeon memastikan

”Menurutmu bagaimana? Kalau aku tidak cemburu, itu tidak akan mungkin, kan. Tapi aku berusaha untuk mempercayaimu demi hubungan kita.”  jelas Myungsoo secara gamblang.

Jiyeon tersenyum lebar mendengarnya. Demi Tuhan dia begitu bahagia dengan perubahan suaminya.

”Apakah dia marah?”  Xiumin sedikit cemberut melihat wajah Jiyeon begitu penuh dengan nuansa bahagia.

”Tidak. Dia membuatku semakin mencintainya, Xiumin.”

Namja di sampingnya itu hanya mendengus. Ya, agak sulit baginya bersaing dengan sepupunya itu. Myungsoo memang mempunyai pesona yang luar biasa. Tak mungkin bisa mengambil hati seorang Jiyeon dengan mudah.

.

.

.

Sudah lengkap satu minggu dan Myungsoo tidak mengunjunginya. Malam ini kepala Jiyeon sedikit berat. Ada sesuatu yang mungkin terjadi dengan tubuhnya. Sejak kemarin dia merasakan rasa malas yang luar biasa. Semua pekerjaannya hampir terbengkalai kalau saja dia tidak memaksakan diri untuk mengerjakannya, dan malam ini semua ini semakin menjadi.

Tadi pagi Myungsoo mengabari kalau syuting iklannya telah selesai, tapi jadwal kuliahnya masih membebaninya. Jiyeon berusaha untuk memahami dan tidak bersikap manja. Semua ini pasti tidak akan lama.

”Oh Tuhan!” pekik Jiyeon ketika dia merasa linglung ketika melangkah ke arah dapur. Pandangannya berkunang-kunang begitu hebat, dia berusaha untuk berpegangan dan akhirnya tubuhnya merosot di dekat meja makan.

Matanya terpejam sebentar, untuk mengembalikan lagi kesadarannya, tapi sepertinya dalam kondisi terpejampun dia merasa dunianya berputar. Keringat dinginnya mengalir, dan terasa aneh dengan perutnya yang mendadak mual.

Pikirannya melayang pada kemungkinan dirinya dalam kondisi hamil. Ini mungkin saja terjadi, karena setiap kali berhubungan dengan Myungsoo, suaminya itu tidak pernah menggunakan pelindung. Selalu tidak sempat karena Myungsoo selalu dalam kondisi gairah yang tinggi.

”Sayang!”  Jiyeon menghubungi Myungsoo, tapi sepertinya kondisi di sekitar Myungsoo sedang sibuk. Banyak suara di sana.

”Jiyeon, aku sedang meeting dengan managerku. Apa kau baik-baik saja?”

Meeting. Jam berapa ini, kenapa dia masih meeting di atas jam sembilan malam. Apakah begitu pekerjaan seorang model.

”Aku membutuhkanmu, Sayang.” bisik Jiyeon. Dia tidak ingin mengatakan kalau saat ini dia tengah terbaring di lantai dengan tubuh payah.

”Aku akan ke sana setelah selesai.”  jawab Myungsoo

”Baiklah!”

Lalu Myungsoo menutup ponselnya.

Jiyeon menatap nanar pada langit-langit ruangan yang masih berputar. Dia tidak harus menunggu Myungsoo dan terbaring di sini sampai dia datang. Tangannya menarik kaki kursi di dekatnya, dan berusaha bankit dengan tenaganya yang lemas. Berkali-kali dia berusaha akhirnya berhasil bangun, dan berjalan ke kamarnya dengan mendorong kursi itu sebagai pegangannya. Kemudian Jiyeon merebahkan dirinya dengan lega.

Hamil.

Mungkinkah sekarang dia dalam kondisi hamil. Bagaimana jika dia memang hamil.

Jiyeon merejam hatinya. Seharusnya dia tidak hamil dulu dalam kondisi seperti ini.

Ponselnya bergetar, dan Xiumin yang berada di sana.

”Jiyeon, apa kau belum tidur?”

”Belum.” jawab Jiyeon lemas.

”Kau lelah?”

”Cukup lelah, Xiumin. Ada apa?”

”Aku tidak tahu apa kau suka, tapi aku ingin memberikan coklat ini untukmu.”

”Coklat apa?”  Jiyeon menekan keningnya untuk menahan kepalanya yang pening.

”Kau tidak suka coklat?”

”Aku tidak terlalu suka, tapi kenapa mendadak aku ingin menggigit coklat.”

”Apa aku bisa menemuimu sekarang?”

Jiyeon melirik jam digital di sebelahnya, dan sudah terlalu malam untuk kedatangan seorang tamu, apalagi jika Myungsoo memergoki keberadaan Xiumin di apartemennya ini.

”Besok saja, aku sudah sangat lelah.”

”Agh, baiklah!”

Jiyeon memutus sambungan dan memutuskan untuk tidur. Dia ingin menghilangkan peningnya ini dengan tidur, karena tidak tahu apa yang  harus dilakukannya selain tidur.

Beberapa jam terlelap, dan sepertinya dia merasa ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Kepalanya berat untuk menoleh, tapi kemudian dia merasakan ada sebuah tangan yang menyapa punggungnya. Dingin kemudian memeluknya. Menghangatkan punggungnya. Aroma alkohol menyapanya dengan cepat.

”Myungsoo!”  Jiyeon mencoba untuk menoleh tapi laki-laki itu melarangnya, dan membuat Jiyeon tetap pada posisinya.

”Tidurlah!”  bisiknya sambil mengecup tengkuk Jiyeon.

”Apa kau mabuk?”

”Sedikit. Mereka mengajakku minum, dan aku tidak bisa menolak.”

Jiyeon menggigit bibirnya, dan merasakan dekapan Myungsoo semakin erat. Telapak tangan itu tepat berada di perutnya.  Oh, apakah dia harus mengatakan kejanggalan yang terjadi pada tubuhnya itu pada suaminya.

”Aku harus berangkat pagi sekali, kepalaku pening.” Myungsoo bergumam.

”Apa kau ingin aku memijatmu?”

”Tidak usah.” Myungsoo memejamkan matanya. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Pikirannya sedang kalut menghadapi situasi ini. Bukan mengenai Jiyeon, namun masalah pekerjaan dan resikonya bekerja sama dengan model lain.

”Myungsoo!”  panggil Jiyeon, tapi sepertinya Myungsoo tidak ingin menjawabnya, dan memilih untuk tidur.

.

.

.

Sudah hari yang kesekian, Jiyeon mengalami masa-masa yang sulit dengan tubuhnya. Dia harus menahannya, karena dia harus bekerja. Sedangkan Myungsoo semakin sibuk dengan jadwalnya. Semalam, Jiyeon melihat iklan yang dibintangi oleh Myungso dengan seorang model yeoja yang selama ini dikenal juga sebagai salah satu anggota dari group girlband terkenal. Mereka tampak serasi dan kompak.

Jiyeon berusaha untuk melenyapkan prasangka negative mengenai suaminya, karena dia mempercayainya. Hanya saja, mengenai perut ini—

Kemarin Jiyeon mencoba untuk memeriksanya dengan alat test kehamilan yang dia beli dari apotek, dan ternyata dia positip hamil. Dia tidak membantah kalau hatinya begitu bahagia mengenai kehamilan ini, tapi bagaimana cara mengatakannya pada Myungsoo.

Ketukan di pintunya membuat kaget batin Jiyeon. Dia baru saja duduk untuk menikmati sarapannya. Siapa yang kira-kira datang. Bukankah tidak ada seorang pun yang tahu alamatnya selama ini, kecuali Myungsoo.

Jiyeon menghalau prasangkanya dan berpikir mungkin hanya tetangganya saja yang memerlukan bantuannya. Kakinya melangkah ke arah pintu dan membukanya.

”Hi, Jiyeon!”

Jiyeon tidak membalas sapaan itu. Xiumin berdiri di sana dengan wajah manis. Dari mana dia mendapatkan alamatnya.

”Kau tidak mempersilahkan aku masuk?” ujarnya dengan wajah memohon

”Dari mana kau tahu alamatku?”

”Ini mudah untuk kudapatkan. Memangnya aku tahu dari mana kalau aku tidak mengikutimu, Jiyeon. Kau kira aku bodoh atau bagaimana.”

Namja itu masuk tanpa menunggu dipersilahkan, sedangkan Jiyeon tidak bisa menolaknya. Beruntung Myungsoo tidak berada di sini.

”Myungsoo pasti sering datang ke sini.”

Jiyeon tidak menjawab dan duduk kembali melanjutkan rencananya untuk sarapan. Xiumin mengikutinya dan duduk di hadapannya, memperhatikan menu sarapan Jiyeon yang sederhana. Namja itu tersenyum melihat reaksi Jiyeon atas kemunculannya ini.

”Kau pasti kaget setengah mati aku mendadak muncul.”

”Ya, aku hampir saja menutup pintu lagi dan mengusirmu pergi.”

”Apa hanya Myungsoo yang kau terima di sini?”

”Hm, ” Jiyeon hanya tersenyum, dia tidak akan menjawabnya.

”Kupikir kalian tinggal bersama.” lagi-lagi Xiumin memojokkannya. Dia berdiri dan berjalan berkeliling melihat kondisi ruangan.

Jiyeon menutup mulutnya sebentar demi merasakan hawa aneh yang menyerangnya. Jangan muntah di saat ada Xiumin di sini. Ouh! Wajahnya semakin pucat dan keringat dinginnya merembes membasahi kemejanya. Xiumin menoleh dan melihat hal itu,

”Kau kenapa?” tanyanya

Jiyeon berdiri dan berlari ke arah kamar mandinya. Dia menutup pintu dan segera memuntahkan semua sarapan yang baru dimakannya beberpa sendok tadi. Ini sangat tidak nyaman. Kepalanya berdenyut ketika perutnya terpompa habis. Bahkan setetes airpun tidak bersisa. Semuanya ludes keluar dari mulutnya.

”Jiyeon, apa kau baik-baik saja?” Xiumin berteriak dari luar pintu, tapi Jiyeon menyalakan semua kran air, sehingga namja itu tidak mendengar apa yang terjadi di dalam.

Pagi ini benar-benar sebuah tragedi. Xiumin tidak boleh tahu kalau dia saat ini sedang hamil terlebih anak ini adalah benih dari sepupunya.

Beberapa menit kemudian, dia keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar, dan langsung mendapatkan perhatian Xiumin yang sejak tadi menunggunya.

”Apa kau sakit? Aku dengar kau muntah.”

Jiyeon menggeleng/

”Aku baik-baik saja, hanya sedikit kurang nyaman dengan perutku. Mungkin masuk angin, karena beberapa malam ini aku pulang malam untuk menyelesaikan laporan.”

”Kau harus banyak istirahat hari ini.”

Xiumin memapah Jiyeon duduk di sofa, dan Jiyeon harus melihat hal itu lagi, iklan yang diperankan oleh Myungsoo bersama gadis itu…entahlah, siapa namanya. Jiyeon tidak tahu. Xiumin melirik ke arah teve dan ikut melihat Myungsoo di sana.

”Namanya, Tzuyu. Dia cantik dan sedang bersinar.”  Xiumin menjelaskan sedangkah Jiyeon hanya tersenyum datar.

”Aku heran kenapa kau masih mencintai Myungsoo.”

”Kita tidak usah membahasnya, okay! Bagaimana dengan kuliahmu?”

”Aku tidak sesibuk Myungsoo. Belakangan ini, dia dan orang tuanya mendatangi sebuah acara makan malam dengan seorang pengusaha dari Taiwan.”

Jiyeon menggeleng resah. Dia tidak ingin mendengar hal itu. Keluarga Kim telah mengambil harta Ayahnya, dan tidak mengembalikannya. Ini cukup memukulnya, dengan mendengar bahwa saat ini mereka begitu menikmati puncak kejayaan mereka tanpa mengingat siapa yang telah memberikan jalan ke arah sana.

”Jiyeon!” Xiumin menepuk pundaknya

”Kepalaku mendadak sakit.” keluh Jiyeon dengan bersandar ke bantalan sofa.

”Sebaiknya kau memeriksakan diri ke dokter. Aku akan mengantarmu, atau aku akan memanggil dokter ke sini. Kebetulan aku mengenal seorang dokter wanita yang biasa memeriksa Mamaku.”

Namja itu mengambil ponselnya dan Jiyeon membiarkannya. Hatinya sedang lemah, terlebih tubuhnya. Jika memang Xiumin memanggil dokter, itu suatu kebetulan, karena dia memang membutukan tubuhnya di periksa.

.

.

.

Dua hari dari hari itu, Jiyeon sudah bisa lagi kembali bekerja. Dia merasa dirinya sedikit segar dengan vitamin yang diberikan dr. Kang padanya. Ini membuatnya kembali bersemangat untuk melakukan pekerjaannya.

Seharian ini dia justru merasa tidak ada masalah dengan kehamilannya. Dr. Kang memang sudah tahu kalau Jiyeon hamil, tapi dia meminta dokter itu untuk merahasiakan kondisinya dari Xiumin.

Dan Myungsoo menjadi semakin sulit untuk dihubungi. Jiyeon tidak tahu apakah dia sibuk atau memang dia sedang berada dalam situasi sulit. Menurut Xiumin, orang tuanya selalu mengawasinya, terlebih kegiatannya di modeling menyita banyak waktu belajarnya. Jiyeon semakin terpuruk dalam situasi yang tidak jelas.

”Aku membawa gurita segar. Apa kau bisa memasaknya, Jiyeon!”

Xiumin muncul dengan membawa kantong plastik yang berisi sayuran, dan mahluk bertentakel itu. Jiyeon merinding membayangkannya, tapi dia tidak bisa menolaknya.

”Aku tidak bisa memasaknya.” Jiyeon menutup hidungnya, tidak tahan dengan bau amis dari gurita itu.

”Tsk, padahal aku berharap bisa makan dengan gurita ini sekarang.”  Xiumin menyimpannya di dalam kulkas, dan menatap Jiyeon yang pucat.

”Kau terlihat kurang sehat. Apa kau masih sakit?” tangan itu mengusap kepala Jiyeon,

Dengan cepat Jiyeon menghindar,

”Agh, mianhae!” ujarnya sambil tersenyum pada Jiyeon.

”Obatku habis, jadi aku—”

”Aku akan membelikannya untukmu. Apa resepnya?”  Xiumin meminta resep dari Jiyeon.

”Sebentar aku ambilkan.” sebenarnya dia belum kehabisan obat, dia hanya ingin Xiumin berlalu sebentar dari matanya. Dia tidak ingin Xiumin melihatnya payah seperti ini. Masa-masa mengidam ini sungguh tidak mengenakkan tubuhnya.

”Baiklah, aku akan membelinya untukmu sekalian aku akan membeli makan malam karena sepertinya gurita itu akan membeku di sana untuk waktu yang tidak terbatas.” Namja itu tersenyum sebelum berlalu.

Jiyeon kembali ke kamar dan merebahkan diri di atas kasurnya, dan merasakan dunianya kembali berputar. Dia mendengar ada seseorang yang masuk. Mungkin Xiumin yang mengurungkan niatnya, atau—

Tidak mungkin,

”Xiumin!” panggil Jiyeon dengan suara lirih.

Langkah kaki itu terhenti di depan pintu kamar. Kim Myungsoo tidak salah dengar ketika Jiyeon memanggil nama sepupunya itu di sebut oleh mulut istrinya. Mendadak emosinya naik hingga ke ubun-ubun, di tambah lagi Jiyeon saat ini sedang terbaring di atas kasur. Apa yang dia harapkan dari Xiumin hingga harus memanggil nama sepupunya itu dari atas kasur.

”Kau memanggil nama Xiumin dengan begitu merdu….”  Myungsoo menarik tangan Jiyeon dengan kasar, dan membuat istrinya itu berbalik ke arahnya. Matanya memerah, dengan bibir yang terkatup rapat. Rahangnya dengan sendirinya mengeras.

”Myungsoo!”  Jiyeon tersentak hebat melihat kedatangan Myungsoo yang langsung bersikap kasar padanya.

”Apa Xiumin selalu datang ke sini?”  Laki-laki itu memberikan cengkraman yang kuat pada lengan-lengan Jiyeon. Istrinya itu menyeringai karena sakit. Kondisi tubuhnya yang lemah semakin membuat Jiyeon terlihat pucat.

”KENAPA?”  Bentak Myungsoo

”Myungsoo, kau kenapa?” Jiyeon merasa heran dengan sikap suaminya.

”Apa karena aku jarang ke sini, sehingga kau kesepian. Apa karena aku sibuk, kau mencari laki-laki lain untuk menemanimu? Apa kau sengaja membawanya ke sini?”

Pertanyaan itu datang bertubi-tubi dan membuat kepala Jiyeon semakin pening. Dia tidak bisa berpikir dengan apa yang tengah terjadi. Myungsoo begitu emosi dan mengguncang tubuhnya. Ini benar-benar membuatnya semakin hilang kesadaran. Tubuhnya ambruk ketika dengan kasar Myungsoo menghempaskannya ke atas kasur.

Untuk sebentar Myungsoo mendengus dan memalingkan dirinya dari Jiyeon. ”Kau sendiri yang mengatakan agar aku mempercayaimu dan tidak berpikir buruk mengenai kedekatanmu dengan Xiumin, tapi kenapa justru kau melakukan ini.”

Myungsoo berbalik, dia melihat Jiyeon masih terbaring dengan mata terpejam.

”Jiyeon!”  dia mulai geram, dan mendatangai Jiyeon lagi, dan menarik tangannya agar Jiyeon bangun, tapi ternyata tubuh itu lunglai, dan Jiyeon jatuh lagi ke atas kasur dengan lemah.

”JIYEON!”  Myungsoo baru sadar kalau Jiyeon pingsan.

”Jiyeon, kau kenapa?”  laki-laki itu mengusap wajah istrinya yang berkeringat. Dia menemukan ada setitik bening dari mata yang terpejam itu. Apa yang terjadi dengan Jiyeon.

Myungsoo segera memeperbaiki posisi Jiyeon dan memeriksa tubh itu. Tubuh yang lemas dan tak berdaya itu. Ada perasaan menyesal di dalam benaknya, tapi juga ada rasa sakit dan cemburu yang mebuatnya buta.

”Jiyeon!”  Myungsoo menoleh pada sebuah suara yang muncul di pintu kamarnya.

”Myungsoo, apa yang kau lakukan padanya?” Xiumin mendekat dan menyingkirkan tubuh Myungsoo dari Jiyeon.

”Kenapa kau yang bertanya kenapa aku disini, seharusnya aku yang bertanya kenapa kau di sini, KIM MINSEOK!”  Myungsoo mendorong tubuh Xiumin dan memberinya pukulan di wajah itu. Mereka terlibat adu pukulan untuk beberapa menit, sampai pada akhirnya mereka payah. Ruangan berantakan, dan Myungsoo merasa sangat geram dengan sikap Xiumin yang sepertinya sudah memiliki Jiyeon.

”Aku ke sini, karena aku mengkhawatirkan Jiyeon.”  Xiumin menyeka darah dari sudut bibirnya, semetara Myungsoo terlihat memar di area matanya. Mereka berdua sama-sama dalam kondisi yang payah.

”Memangnya apa yang terjadi dengan Jiyeonku?” Myungsoo mendekati Jiyeon yang masih terbaring pingsan

”Dia sakit. Apa kau tidak lihat dia sedang sakit?”

Myungsoo menggenggam tangan itu, dan mencoba untuk memeluknya, tapi Xiumin melarangnya. Dia kembali menarik tubuh Myungsoo dari Jiyeon.

”Kau ini kenapa?” kembali Myungsoo menjadi geram.

”Kemana saja kau selama ini sampai mengabaikannya seperti ini?”  Xiumin mencengkram kerah Myungsoo dan menantangnya lagi

”Memangnya apa urusanmu? Apa kau mengambil keuntungan sementara aku tidak berada bersamanya?”

”Kalau kau memang tidak bisa membuatnya bahagia, biarkan aku yang melakukannya.”  Xiumin mendorong Myungsoo hingga tersungkur.

Myungsoo tergelak dingin,

”Kau sungguh menyedihkan Kim Minseok. Apa kau tidak bisa mencari wnita lain? Kenapa kau harus mengganggu wanitaku dan menginginkannya.”

”Itu yang ingin kutanyakan padamu, Kim Myungsoo. Kenapa kau tidak mencari wanita lain, dan tidak mengganggu Jiyeon. Kalian sudah membuat hidup Jiyeon susah, Kau, Bibi dan juga Paman Kim.”

”Kau tahu apa mengenai kehidupanku bersama Jiyeon?”  Myungsoo bangkit dan berjalan ke arah Jiyeon lagi, melihat kantong plastik yang berisi obat-obatan.

Xiumin tercekat dengan kantong obat-obatan itu. Dia kaget ketika mengetahui satu hal yang tengah terjadi pada Jiyeon. Kalau saja apoteker itu tidak menanyakan padanya mengenai kondisi Jiyeon, dia tidak akan tahu kalau Jiyeon saat ini sedang mengandung. Obat-obatan itu ternyata bukan sekedar obat. Dr. Kang telah memberinya resep vitamin untuk janin dan penambah darah untuk gadis malang itu.

Apakah Myungsoo yang telah menghamilinya.

.

.

.

Tbc

Note, yang ni ditungguin ga?

Advertisements

28 Comments Add yours

  1. Bb says:

    Semua ff mu yg asik selalu ditunggu kok,
    xiumin keras kepala bnget sih sma jiyeon,
    myungsoo bkal tau duluan atau disembunyiin sma xiu.

  2. Kim yeon says:

    Xiumin uda tau tuh jiyeon hamil,, tinggal myungsoo yang belum tahu,, bagaimana reaksinya,, myungsoo cemburuan banget tpi itu artinya dia takut banget kehilangan jiyeon,, tpi kasian keadan jiyeon terlalu lemah butuh perhatian myungsoo penuh tuh,, kalau xiumin perhatian sama cewek lain aja jangan gangu myungyeon

  3. Kim yeon says:

    Boleh minta fw untuk game over gak,, aq lupa uda baca atau belum cerita game over

  4. yuliatka says:

    Xiumin ngapain sih dtg, myungsoo juga mengabaikan jiyeon, kasian jiyeon jd nya 😦
    Jgn2 yg perusahaan taiwan itu, ortunya tzuyu lg -___-

  5. Kim yeon says:

    Boleh minta fw untuk for to night gak hehehe,, maaf ya aq minta lagi

  6. Kim yeon says:

    Boleh minta fw untuk for to night gak hehehe,, maaf ya aq minta lagi,,, boleh ya

  7. yeonie says:

    Myungsoo bakal ngakuin anaknya ga yah aduh makin penasaran next chap thor

  8. diah.dimin says:

    Sabar ya ji (jiyi :always min)
    Tabah y ji (jiyi : selalu min)
    Kalo kamu pisah ma myung aq kasih himuchan(jiyi : g ah nanti lana marah)
    Klo g kris or sehun (jiyi : ntar di bully exo L )
    Trus siapa y hhh (mikir lembut wkwk)
    Pokonya smua ff mu di tunggu lana

  9. hana park says:

    ya ampun eonnie aku nungguin ff ini bgtttt >< ini cepet diselesain dong sukaaa bgttt

  10. rasma says:

    myungyeon.krisyeon dll apapun ff mu selalu ditunggu ko lan ..
    ihh sebel banget ma xiumin tetep aja gangguin jiyeon.dah tau jiyeon milik myung.. duh myung jangan terlalu sibuk atuh,perhatiin jiyeon apalagi sekarang dia lagi hamil.xiumin tau jiyi hamil.kira” dia bakal bilang ga y ma myung? aga was” juga takutnya myung lum siap jadi ayah. tapi semoga aja ga ..

  11. Nayeon says:

    Ff ini sll d tunggu eon..seneng bgt akhirnya d update..
    Bingung harus bilang apa..antara seneng n kesel..awalnya seneng krn myung udah mau percaya sm jiyeon..dan akhirnya kesel krn xiumin yg sll ada d sekitar jiyeon,myung yg sibuk dng dunia model juga kuliah..
    Apa myung mau d jodohin??
    Jangan2 myung gk ngakuin lagi klo jiyeon hamil anaknya..
    Ahh..takutnya nanti jiyeon yg menderita trus balas dendam..😢

  12. risna says:

    Yahh pasti ditunggu lah… Apalagi Myungyeon tp semua ff disini suka semua. Semoga Myung terus jagain Jiyeon jgn ditinggal- tinggal mulu.

  13. megawatt123 says:

    Myung sibuk banget ma urusannya smpai jiyi terabaikan trus xiumin sllu di dekat jiyi…

  14. Ff ni muncul jg akhirnya
    Hbngn mrk smakin jaoh.. Myungie jg sgt sibuk
    Hmmm Jgn2 ortu Myungie mw jodoh kn dy dg model Taiwan tu -_-”
    Horeeeeeee jiyi pregnant 😁
    What?!!! 😡 mrk npa mlh berantem, hrs na bw jiyi k rs… Aduuuuh

  15. kwonjiyeon says:

    D saat sedang mmbutuhkn seseorng tb2ada orng yg begitu perhatian mmperhatikn kita walaupun kita sudah menolak dan berusa ha menghindar tpi terkdang itu mbjdi penghibur tersendri dlm sepi se kehadirn xiumin

  16. yola says:

    Myungsoo selalu cemburu. Jangan-jangan myungsoo ngga mau tanggung jawab.
    Eonnie aku mau munta pw, bales emailku ya :))

  17. yola says:

    Myungsoo gampang cemburu. Jangan-jangan myungsoo ngga mau tanggung jawab.
    Eonnie aku mau minta pw, bales emailku ya :))

  18. chacha says:

    Keep writing~ selalu ditunggu ffnya (aku menunggu ff myungyeon n taeyongxjiyeon) hehe.

    Hah xiumin desperate bgt yah -.- pantesan myungsoo jengkel bgt sama dia. Tpi myungsoo jga jgn jadi kasar ke jiyeon -___-
    Jdi menerka2 kemungkinan yg akan terjadi tentang kehamilan jiyeon, myungsoo dan karir modelingnya, tzuyu dan perusahaan taiwan.

  19. unha azhari says:

    ko pikiran aku melayang2 yach,, myungsoo selingkuh….
    apa reaksinya nnti klo udh tau jiyeon hamil ???
    trus,,apa nnti minseok bakal laporin hub myungsoo jiyeon ke ibu myungsoo ???
    d tnggu eonn kelanjutannya….
    jgn lma2 yyyyyaaaaa…… 🙂

  20. misskim says:

    Jy hml dan myung mngkn gk prcy klo itu ank nya..mngkn myung jg mnjlin hub sm tzuyu..next chap

  21. May andriani says:

    Aq bner” gk suka bnget sma xiumin,, dia bner” pengganggu hbungan myungyeon,, wah selamat jiyeon hamil., tpi syang myung blom tau n knp xiumin yg tau dlu sih ,, nextnya di tunggu 🙂

  22. nanda says:

    duh npa xiumin dlu sih yg tau kndsi jiyeon hmil? llu gmn dgn respon myung? apgi myung n xiumin brtmu d aprtmen jiyeon? andwee jgn mpe myung brpkir yg engga” mngenai jiyeon trlbih mslh khmilan’y…
    myung cmbru b’art myung cnta ma jiyeon bg2 pun dgn jiyeon mga d antra mrk ttp trjlin cnta yg s’utuh’y n ga kn brpling…hehe

  23. _PJYKMS_ says:

    Jiyeoonnkuuhh astaga kasian kamu nak, dibanting banting gitu sama myungsoo. Orang lagi pingsan mereka sempet sempetnya berantem pula–

  24. via says:

    myungsoo klo marah nyeremin ya. . .
    xiumin uda tau klo jiyeon hamil,, apa nanti klo myung tau jiyeon hamil, dia bkal slah paham ga ya mlah nyangka jiyeon hamil anak xiumin
    kasian jiyeon..

  25. iineey says:

    Jangan bilang klo nanti myungsoo ga percaya jiyeon hamil anaknya
    Jgn bilang klo nanti myungsoo curiga jiyeon selingkuh sama xiumin
    Andwaeeeeeee
    Knp myungsoo jd rada berubah, saking sibuk nya smp ga perhatiin jiyeon

  26. ifahsiwonest says:

    omooo konflik jeng jeng..
    disini kayaknya cinta segitiga dimulai..
    semoga Myung ga ninggalin Jiyi dengan semua kelebihannya..
    ini ff msuk waiting list lana

  27. yulisa says:

    gemes ama sikap plin plan si myung -_- kasian kan si jiyi. yg aku takutin kalo s myung ga ngakuin anaknya :/ ahh next deh lan,nunggu bgt ff ini loh

  28. yustina says:

    Lagian si myung ga bisa baca raut wajah apa yak, si jiyi lagi lems begitu malah di lempar sana sini ya pingsan lah tuh ank
    Lagian cemburu nya berlebihan deh ah myung, si umin pake nanya lagi anak siapa, ya anak si myung lah, tenang min mereka halal ko soalnha udah nikah
    Ah myung jahat ni 😦 hiksss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s