One Day In Your Life


ONE-DAY

Title || One Day In Your Life

Maincast ||  Kim Minseok feat Park Jiyeon

Supportcast || Will be following

Genre || Romance /Sad

Rated ||  PG

Length || One Shot

.

.

# Episode pertama

Dia berlari-lari dengan langkah kecilnya memasuki ruangan kelas yang telah penuh. Ya, ruangan sesak ini sedang di jejali oleh manusia-manusia mungil yang sedang sibuk bercanda dan bermain dengan aneka mainan dan semua fasilitas yang ada. Banyak hal menarik di dalam kelas berukuran lima kali lima meter itu. Posisi kursi yang di tata melingkar dengan warna-warna ceria dan menggairahkan semangat dari jiwa-jiwa kecil yang tengah bercengkrama, juga berbagai macam ornament lucu yang terpasang di langit-langit kelas, dan semua senyum guru-guru cantik kami yang selalu menawarkan keceriaan yang menggetarkan.

Aku tergetar—

“Aku duduk di mana?”  dia yang tercantik. Namanya Park Jiyeon, rambutnya di ikat dua, kanan dan kiri dengan pita berwarna merah. Di tangannya dia mendekap buku gambar dan di lengan kanannya, ada sebuah tas kecil berisi peralatan menggambarnya. Dia repot seperti mama-mama yang baru belanja dari pasar ikan. Aku melambai ke arahnya— memanggilnya.

Kejelian bola matanya memindai tidak melewatkan lambaian tanganku yang duduk agak jauh dari berdirnya,mungkin juga aku tidak terlihat olehnya, tapi dia mendekat dan melihat bangku kosong di sebelahku.

“Aku duduk di situ.” Ujarnya dengan nada renyah, aku gemas mendengarnya.

“Yak, silahkan!” jawabku lalu sibuk menatap wajahnya. Dia cantik dan jantungku langsung dag dig dug. Hehe, kenapa aku tidak bisa berhenti tersenyum.

Dia di meletakkan semua peralatan gambarnya itu di atas meja.

“Itu apa?” tunjukku pada sebuah kotak,

“Ini crayon.” Jawabnya singkat

“Kau suka menggambar?” aku membaringkan kepalaku di atas meja sambil memainkan kakiku. Suaranya tak kalah seru dengan teriakan Chanyeol di sudut ruangan, dia sedang berkampanye untuk mendapatkan perhatian guru cantik kami Miss. Irene.  Biarkan saja dia, jangan diperhatkan, nanti juga diam sendiri, karena bu guru cantik Irene lebih menyukai kampanye teman kami yang lain, dia lebih kalem seperti seekor lembu betina yang baru diberi suntikan kesuburan.  Namanya Kim Junmyeon. Dia lebih senang bersenandung…. Du du du du du… bising sekali di dalam sini

“Kau siapa?” tanyanya. Kuangkat kepalaku dan tanganku mulai usil memegang kucirnya.

“Aku Minseok, Jiyi.” Ujarnya

“Kau tahu namaku?”

“Kemarin aku dengan eommamu memanggilmu, Jiyiiiiiiiiii cepat ke sini, eomma bawa tahu untukmu. Kau suka tahu? Aku juga suka, tapi tidak suka jika dimasak pedas, aku tidak suka pedas, lidahku akan terbakar dengan makanan pedas!” kutunjukkan lidahku padanya.

Jiyeon mengangguk-angguk.

“Hm, kau cerewet, tapi lucu. Namaku Park Jiyeon, tapi aku dipanggil Jiyi. Terus aku harus memanggilmu apa?” dia mengeluarkan botol minumnya.

“Minseok.” Jawabku dengan senyuman.

“Pipimu besar seperti bapao.”

“Kau suka bapao?” tanyaku sambil melirik Kyungsoo yang terus melotot ke arahku. “Kyungsoo kau dipanggil Miss Irene.”  Teriakku cepat. Jiyeon ikut menoleh pada Kyungsoo

“Di mana Miss Irene?” tanyanya

“Di luar!” sebutku asal/

Kyungsoo langsung berdiri, dan berjalan keluar. Tapi JIyeon merengut padaku.

“Miss Irene kan sedang membawa Chanyeol ke toilet, katanya dia mau pipis.”

“Biarkan saja, aku tidak suka dia melihatku dengan mata bulatnya.”

Jiyeon tertawa mendengarku, kemudian menoleh pada teriakan Chanyeol yang memanggilnya. Aku tidak suka Chanyeol mengganggu Jiyeon.

“Jiyiiiiii!”  Chanyeol mendekati Jiyeon,

“Chan, jangan dekat-dekat!” Jiyeon mundur karena jijik

“KEnapa?” Chanyeol bingung

“Kau habis pipis.”

“Miss Irene yang memegang, bukan aku.”

“Sudah bisa pegang sendiri kenapa masih dipegangi Miss Irene?” tanyaku dengan perasaan iri.

“Kalau kau mau pipis, sana minta diantar Miss Irene.” Usulnya

Jiyeon merengut kesal.

“Kalian tidak sopan!” hardiknya

“Kau lucu.” Chanyeol mencubit pipi Jiyeon

“Jangan menyakiti aku!” Jiyeon kelihatan galak sekali, dia memukul lengan Chanyeol dan berusaha mengusirnya.

“PErgi sana, Miss Irene sedang menyuapi Kyungsoo. Apa kau tidak minta disuapi juga olehnya.”  Ujarku memprovokasi

Chanyeol langsung mencari bayangan Kyungsoo dan berlari menuju ke sana. Dia melesat secepat peluru meninggalkanku berdua lagi dengan Jiyeon.

“Minseok, kau tidak bermain dengan Chanyeol?”

“Aku tidak bermain dengan ikan asin.”

“KEnapa ikan asin?”

“Dia senang makan ikan asin.” Kujawab sekenanya, dan JIyeon tersenyum

“Kau suka padaku?” tanyaku spontan,

“Hm, aku suka.” jawabnya

“BAgaimana kalau kita pacaran?”

“PAcaran itu apa?” Tanya JIyeon sambil meminum air putihnya.

“PAcaran itu, kita saling sayang.” Jelasku.

“Seperti Mama dan Papa?”

Aku mengangguk.

“BAiklah. Kita pacaran.” sambutnya

Aku tersenyum bangga sambil menepuk pipinya.

“Park Jiyeon, kau pacarku, jangan selingkuh dengan Chanyeol atau kutubusuk lainnya ya. Hanya denganku, kau pacarku, dan aku pacarmu.”

Jiyeon tersenyum dan mengangguk. Lalu dia memberikan sebuah karet ikat rambutnya padaku.

“Ini untuk apa?” tanyaku sambil mencoba mengucir rambutku dengan karet rambutnya, tapi tidak bisa. Mamaku memangkas habis rambutku seperti kucing pesakitan.

“Ini untuk pengikat hubungan kita.”

.

.

.

Karet rambut itu berwarna merah dan aku menyimpannya dengan baik. Keesokan harinya, aku tak menemukan JIyeon muncul di kelas. Bahkan sampai kelas berakhir dan aku tidak melihatnya. Mungkin dia sakit.  Miss Irene mengatakan kalau orang tua Jiyeon sedang mengalami musibah,

Hari berikutnya dan berikutnya dia tidak pernah lagi kulihat. Jiyeon menghilang dari kehidupanku. Tidak ada yang memperhatikan semua itu, kecuali aku. Jiyeon sudah berjanji untuk menjadi pacarku, tapi dia menghilang dalam sehari. Kami hanya menikmati masa-masa manis taman kanak-kanak kami di hari pertama kami sekolah. Ini cukup membuatku merasa kesepian, terlebih Kyungsoo tidak pernah berhenti menatapku dengan mata besarnya. Tidak ada yang menghalangi tatapan itu dariku lagi. Park Jiyeon dimana dia saat ini.

.

.

.

# Episode 2

Siang ini semua siswa SMA yang baru masuk harus di berbaris di halaman sekolah karena sedang menjalani orientasi. Di barisan depan ada seorang gadis dengan rambut terkucir dua dengan pita berwarna merah. Dia mengingaktkan aku pada seorang Park Jiyeon. Tapi itu sudah lama sekali, tapi ikat rambut milik Jiyeon itu masih disimpannya.

“Kau, kemari!” seorang kakak kelas namja yang super galak memanggilnya untuk maju.  Aku menjadi was-was, jangan-jangan gadis itu dipanggil karena dia cantik. Itu modus alami para kakak kelas mencari perhatian adik kelasnya yang cantik.

“Siapa namamu?”

“Jiyi.” Sebutnya, dan aku langsung tersentak kaget. Namanya Jiyi. Jantungku langsung meloncat-loncat tak beraturan. Dari sudut tempatku berdiri, aku berusaha keras untuk mencuri pandang ke arahnya, tapi tak berhasil. Jika benar itu Jiyi, maka dia adalah Park Jiyeonku, pacarku.

“Kenapa kau memakai pita rambut berwarna merah?”

Kuperhatikan semua siswa baru yang mengenakan pita berwarna kuning. Jatuhlah rahangku untuk sesaat karena mungkin Jiyeon akan terkena masalah.

“Siap Sunbaenim, karena saya suka dengan warna merah.” Jawabnya cuek

Ada rasa geli di benakku mengenai keberaniannya.

“KAlau begitu, kau harus berlari dua kali lapangan ini.”

Jiyeon disuruh berlari karena dia menyukai warna merah. Semua ini terlihat lucu, tapi sepertinya dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia berlari, dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya cantik dan merona di bawah sinar matahari siang. Dia Park Jiyeonku, pacarku yang dulu menghilang kini kutemukan.

Pada jam pulang itu, aku menegurnya. Dia tidak mengenaliku, tentu saja dia tidak akan mengingat bocah chubby yang menembaknya langsung dihari pertama masuk TK untuk dijadikan pacar.

“Kau tidak ingat aku, Jiyi?” kami berjalan ke bawah pohon di mana di sana ada semut-semut yang sedang berbaris membawa remah-remah biscuit yang tadi di makan Chanyeol. Ya, Chanyeol selalu ada dalam kehidupanku, dia adalah tetanggaku, yang selalu merepotkanku. Setiap hari ibunya selalu membandingkan nilaiku dengan nilainya, seragamnya dengan seragamku, potongan rambutku dengan potongan rambutnya, terlebih tinggi badanku dengan tinggi badannya, dan yang paling menggelikan adalah juga ukurannya dengan ukuranku. Tapi yang paling parah adalah, dia masih gemar makan ikan asin yang di masak oleh Bibi Park.

Ya, dia payah!

“Kau siapa?” JIyeon mengernyit lucu.

“Aku Minseok.” Jawabku, lalu dia mengangguk

“Minseok pacarku waktu kita TK dulu?” ujarnya lugas.

Lalu kami sama-sama tersenyum.

“KAu masih ingat padaku, Jiyi.”

“Ya, karena kau pacarku aku mengingatmu.” Jawabnya

Tanganku langsung  mengepak-ngepak seperti sayap, ingin terbang.

“Aku senang sekali kau tidak lupa kalau status kita masih pacaran.”

“Mana karet pengikat kita?” JIyeon tampak merona dan terus menatapku. Mungkin dia melihat ketampananku yang tak tertandingi oleh siapapun di sekolah ini.

“Aku menyimpannya di rumah. BEsok akan kubawa.” Ujarku

“Ya, bawalah.”

“Apa kita masih pacaran?” tanyaku memastikan

“Boleh. Kenapa tidak. Kau tampan, dan pipimu masih seperti bapao.”

“Kau semakin cantik Jiyi.”

“Terima kasih!”

Pembicaraan ini tidak mencapai satu jam, karena setelah itu, dia sudah dijemput oleh sebuah mobil, dia pergi dan menghilang ditikungan jalan. Aku benar-benar merasa bahagia sampai aku harus berteriak keras.

Tapi kemudian—

Jiyeon tidak muncul lagi disekolah. Dia tidak datang, dan tidak ada khabar yang jelas mengenai dirinya. HAtiku hancur, sulit dilukiskan. Mendadak seperti menerima hantaman keras dalam hidupku. Baru saja kemarin bertemu, kemudian dia menghilang lagi.  Perasaanku mulai sentimental, menyadari bahwa pertemuanku dengannya hanya terhitung satu hari saja. Tidakkah ini terlalu dramatis.

BErhari-hari aku terus menunggunya, dan ditanganku aku menggenggam tali rambutnya yang berwarna merah dengan hati penuh harap. Semoga dia kembali, dan tidak lagi menghilang seperti dulu. Rasa sesak ini tak terlukiskan. Aku harus kehilangan dia lagi tanpa kejelasan.

Satu hari…

.

.

.

#Episode 3

Sebuah sore ketika aku baru saja pulang dari kuliahku di tingkat akhir. Hari ini cukup cerah, dan menyisakan kehangatan di batas malam. Jalanan tampak sibuk, dan semua pergerakan di depan mataku membuatku merasa jenuh.

Sejak tadi, aku duduk di sebelah seorang wanita di halte bus ini. Dia cantik dengan make-up yang sederhana. Pakaiannya rapi dan sopan. Dia mengenakan rok dan tas wanita yang anggun. Rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya yang menunduk. Aku sibuk memperhatikan heelsnya yang berwarna merah. Kenapa warna merah selalu mengingatkanku pada Park Jiyeon. Hari ini adalah tepat delapan tahun aku tak melihatnya sejak di halaman SMA waktu itu. Cukup lama, tapi aku tak pernah berhenti berpikir mengenai dirinya.

“Nunna, rambutmu terkena permen karet.” Godaku. Dia menoleh dan menatapku, dan kini akulah yang terjungkal hebat dari tempatku duduk.

“Minseok!” pekiknya dengan suara yang tertahan. Diantara rasa gamangku aku tersenyum

“JIyiiiiiiii!” seruku panjang sekali, tak percaya. Oh ini, adalah pertemuan yang tidak disengaja lagi, mungkinkah— [aku mulai merasa was-was]

“Ugh, mana permen karetnya Minseok?” dia memegangi rambutnya dan menggerutu, tapi aku langsung memeluknya. Semua ini tidak pernah kulakukan sebelumnya. Jiyeon adalah pacarku, dan dengan keyakinan itu aku memeluknya.

“Minseok, apa yang kau lakukan?”

“Memelukmu, kau adalah pacarku.”

JIyeon tertawa dan menepuk-nepuk punggungku. Dia masih terlihat ceria meski usia kami sudah sama-sama dewasa.

“KAu masih berpikir seperti itu?” ujarnya sambil mengajakku untuk duduk kembali.

“Kau tidak berpikir seperti itu lagi?” tanyaku sedikit kecewa. Entah kenapa aku merasa begitu sedih mendengarnya. Mungkinkah Jiyeon tidak berharap adanya keabadian diantara hubungan ini.

“Apa kau masih berharap kita masih pacaran?”  dia bertanya lagi.

Aku mengangguk lemah, tapi kemudian kupandangi tatapannya. “Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu sejak aku mengatakan kalau kau adalah pacarku, tapi kau selalu menghilang. KAu pergi, apa kau tidak ingin berada di sekolah yang sama denganku, kau tidak menyukaiku?”

Jiyeon tersenyum dan menepuk-nepuk pipiku. Entahlah, ini terasa begitu dekat meski diantara kami tidak pernah terhubung apapun oleh komunikasi.

“Aku juga tidak tahu, kenapa semua itu terjadi pada sebuah kebetulan, aku selalu pergi sehari setelah kita bertemu. Ayahku adalah seorang laki-laki yang keras, aku tidak bisa menolak perintahnya. Jika saat itu aku pergi, mungkin karena waktu itu, aku tidak diijinkan untuk bersekolah di tempat itu. Aku harus menjadi anak yang baik yang tidak mengeluh dengan kondisi ini.” Jiyeon menunduk. “Maafkan aku, Minseok.”

“Apakah kali ini kau akan pergi lagi?” tanyaku

“Aku tidak bisa memastikan, tapi aku tidak tinggal lagi bersama Ayahku. Dia sudah meninggal.”

“Apa kau baik-baik saja?” aku sedih dan mulai khawatir dengan keadaannya,

“Aku baik-baik saja, “

“Ikutlah denganku!” ajakku.

“KE mana?” dia tersenyum penuh perhatian, tatap matanya hangat dan masih terlihat ceria. Meski aku tidak yakin apa yang disembunyikannya

“KE apartemenku, kau bisa tinggal bersamaku.”

“Oh Minseok, aku tidak bisa melakukan itu.”

“Kenapa?”

Lalu sebuah mobil terparkir di depan kami, seorang laki-laki berjalan mendekat dengan tatapan curiga. Dia mendekati Jiyeon dan menarik tangan indah itu dariku,

“Oppa!” Jiyeon memekik dan sempat menolehku

“Jiyi!” panggilku tapi laki-laki itu yang dengan penampilan tegapnya, menatapku sengit.

“KAu siapa?” tanyanya padaku

“Oppa, dia teman masa kecilku.”

“Jiyi, siapa dia?” tanyaku gelisah

“Minseok, maafkan aku, dia adalah suamiku.”

Suaminya. Seketika itu aku merasa hatiku terperas sampai kering. Jiyeon sudah bersuami dan dia benar-benar tidak lagi menganggapku sebagai pacarnya. Kupandangi kepergiannya dengan perasaan rancu. Mungkin mulai detik ini lagi, aku tak boleh lagi berharap apapun padanya. Semua cerita masa kecil itu, hanya sebuah dongeng yang tak akan menjadi nyata.

Satu hari…bukan, ini bahkan hanya beberapa menit saja.

.

.

.

#Episode 4

Di sebuah sore ketika langit tampak mendung, dan sepertinya hujan akan segera turun, aku baru saja turun dari mobilku yang terparkir di pinggir jalan. Niat awalku adalah menghadiri sebuah acara pernikahan seorang teman, tapi sepertinya harus kuurungkan karena aku kehilangan moodku. Ban mobilku kempes dan aku harus menggantinya. sendiri. Ini tidak lucu, karena dengan pakaian rapiku, aku harus berkutat dengan ban kotor juga hujan yang mulai turun.

Ini sangat sempurna, pikirku kesal.  Semua terasa lebih sulit, ketika air hujan itu membasahi lapisan karet ban. Aku tidak bisa memindahkannya dengan mudah. Tapi kemudian ada sebuah mobil yang berhenti di belakangku. Aku tidak yakin apakah dia akan menolongku, karena mana mungkin—

“Apa aku boleh meminjam ponselmu?”  pertanyaan itu membuat kepalaku mendongak, dan apakah aku salah dengan apa yang kulihat. Diantara hujan ini aku menatap wajahnya. Dia berlindung di bawah payung, dan dia terlihat begitu cantik dengan rambut setengah basah.

Kali ini kami saling menatap cukup lama, dan tidak jelas dengan apa yang terjadi, tapi kenapa mendadak naluriku mengatakan mengenai semua hal ini. Aku mendorongnya masuk ke dalam mobilku, kemudian menyerangnya dengan ciumanku pada bibirnya yang merah. Dia menyambutku dengan antusias. Sangat antusias sampai diantara kami tak jelas, dengan apa yang terjadi, karena kejadiannya terlalu cepat. Dia sudah berada di atas tubuhku dan sibuk dengan desahan napasnya yang menggebu.

Ini memang benar-benar gila, dan aku tidak pernah habis pikir, kenapa kami harus selalu bertemu di saat-saat yang tak pernah jelas. Sore ini, bahkan di tempat yang paling tidak mungkin sekalipun kami bertemu, dan akhirnya bercinta.

Mobil ini berguncang dengan hebat, begitupun aktivitas kami di dalamnya. Satu jam yang begitu membara. Ya, dan memang itu hanya satu jam, yang kemudian, kami senyumi bersama dengan rasa puas. Park Jiyeonku, dia masih kekasih di dalam hatiku.

“Kita ini aneh.” Ujarnya.

“Ya.” Sambutku sambil merapikan kembali pakaianku. Kulihat dia merokok, namun kurebut dan kubuang keluar mobil. Aku tidak suka melihat wanita merokok, benar-benar tidak suka.

“Mianhae.” Bisiknya dan aku hanya tersenyum

“Apa yang akan kita lakukan kali ini? Apa kau akan pergi lagi?” tanyaku

Dia menggeleng.

“Aku sudah bercerai dengan suamiku. Apa kau masih menerima aku menjadi pacarmu?” tanyanya sambil merangkul leherku. Hujan di luar semakin deras, dan kaca jendela memburamkan pengelihatan dari luar. Tak jadi soal, karena dia begitu bahagia. Begitupun juga aku. Kami sedang merayakan pertemuan ini kembali. Aku ingin dia menjadi pacarku untuk selamanya.

“Jiyi, aku sudah menunggumu begitu lama, tentu saja aku masih berharap kau tetap menjadi pacarku. Kita akan menikah, dan akan kupastikan kau tidak menghilang atau pergi lagi.”

Jiyeon tersenyum memelukku. Dia terlihat bahagia.

BRAKH

Suara keras itu—

Mobilku terguncang hebat, begitu mengagetkanku, dan juga Jiyeon. Kami saling menatap tak mengerti. Semua terasa begitu cepat dan memusingkan. Aku terus menatapnya dan berusaha mencari tahu apa yang tengah terjadi.

Suasana begitu ramai diantara hujan yang mengguyur. Aku menggandeng Jiyeon keluar dari dalam mobil.

“Mereka sedang apa?” Tanya Jiyeon padaku. Aku menggeleng tak yakin dengan melihat kondisi mobil yang rusak parah.

Bukankah itu—

 Aku menoleh pada Jiyeon di sampingku.

“Aku tidak tahu.” Jawabku dengan kegelisahan

Tapi kemudian aku melihat ada petugas medis yang sedang mengangkat dua tubuh manusia dari dalam mobil itu.

“Minseok, itu kita.”

 Barulah aku sadar, bahwa aku dan Jiyeon telah berada di luar tubuh kami. Dan mobil yang rusak itu memang mobilku. Truk Container besar menabraknya, Jiyeon memelukku. Kenapa semua ini harus terjadi secepat ini. Apakah memang sudah takdirku, untuk memiliki satu hari kehidupan bersama Jiyeonku.

Sepertinya sekarang tak akan menjadi masalah, karena Jiyeon akan selalu berada di dalam hidupku yang tidak lagi hidup ini untuk selamanya. Satu hari di dunia tidak ada artinya dibanding kehidupan abadi di alam kematian.

.

.

.

FIN/END

 

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. Kim yeon says:

    Oh my god,,,
    Mereka uda gak ada,,,
    Itu kok kecil2 uda pacaran sih hhaha
    ,,,anak jaman sekarang
    Ceritanya bagus aq seperti membaca deary hidup seseorang,,, dan jiyeon penuh mistery dengan satu hari,, ,

  2. Bgs kisah na..
    Lw da ksmptn jgn d sisa2 kn.. Meski hny 1 hri,
    Krn masa depan cpa yg tw..

  3. diah.dimin says:

    lana ini apa.. knp mati… omaigot… yah kirain enceh… wkwkw tpi ok doki lah tumbenan bikin simimin sama jiyi… y meski ujungnya koit wkwkw.. ok2 next2 ff nya

  4. mhilaji says:

    Kak lana love youu duhh indahnya tulisan kak lana.. mhila jadi ketagihan..
    Huhuhu awalnya kirain jiyeon suka lenyap setelah keketemu minseok karena punya penyakit.
    Ahh bingun kau blg apa . Ini the best . Ide ceritanya warbyasahhhh….
    Mereka meninggal setelah bercinta .. duhh baperrr……. huhuhu

  5. yola says:

    Kirain jiyeon pergi terus karena punya penyakit.
    Tapi endingnya tragis bgt , baru mau merajut mimpi eh malah udah di panggil duluan..

  6. kwonjiyeon says:

    Kecil5 dah tau yg nmnya pacaran iiih jgn 2lana juga………….. minseok cintanya bner3cinta smpai mati

  7. May andriani says:

    Knp endingnya mereka mninggal berdua,, kjadiannya cpet bnget ya,, tpi akhirnya jiyeon sma minseok bisa bersama slamax

  8. nissa says:

    ya sad ending.eon jangan bikin sad ending dong.ngk suka sad ending

  9. rasma says:

    tragis.bersama tapi di alam lain.. jangan” jiyi cerai karna minseok..

  10. princess says:

    wah…ff ini punya alur cerita yang mengesankan. setiap kesempatan gk harus disia2kan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s