The Crazy Thing Called Crazy 15


The Crazy

The Crazy Thing Called Crazy 15

Maincast  Lee Donghae feat Park Jiyeon

Support Cast.

Kim  Mingyu [Seventeen]

Genre Romance

Length Chapter

Rated G.
.

/

Apakah ada seseorang di sekitarnya?

Itu yang ada di dalam benak Jiyeon. Dia menyimak bayangan di samping kanannya. Dia tidak bergerak, hanya desah napas yang bisa didengarnya. Juga getaran di dadanya, ini tidak biasa, sangat tidak biasa, dengan tidak bergerak, bahkan hanya sesekali menghela napas, Jiyeon merasakan jantungnya berdebar. Dia mencoba untuk memastikan bahwa sosok itu tidak akan mencelakainya. Semoga tidak. Satu-satunya orang yang dicurigainya hanyalah seorang Jung Shin.

Hanya saja aroma yang hadir ini terasa sangat—

”Siapa?” gumamnya lagi.

Jiyeon memfokuskan pengelihatannya.  Bayangan hitam itu mendekat, dan menyentuh tangannya.

”SIAPA?”  Jiyeon sontak menghempaskannya dan mencoba untuk menjauh. Donghae yang sejak tadi memperhatikan wajah itu hanya menatapnya—pias. Dia masih belum ingin menyapa gadis yang begitu dicintainya ini.Mulutnya terkunci.

Dia hanya merasa khawatir, Jiyeon akan menolaknya.

Penciuman Jiyeon semakin dipertajam,

Aroma dari—

Dia mengenali aroma ini.  Mungkinkah?

”Hm!” Donghae berdehem, dan mencoba untuk berdiri dari kursi rodanya. Jarak mereka hanya sekitar satu meter. Mungkin kurang. Namun sungguh  jarak satu meter yang begitu menyiksa. Dia tidak dapat menyentuh secara langsung, atau memeluknya—

Gadisnya yang tidak lagi belia itu begitu ketakutan. Ada rasa tidak tega melihatnya panik.

Ketakutan itu sungguh wajar, dan Jiyeon tak bisa bergerak ke manapun dengan selang infusnya. Ini sungguh sial, kenapa jantungnya berderap dengan cepat, membuat napasnya seakan-akan lumpuh dan tersengal-sengal— sesak.

”Mingyu!” panggil Jiyeon kembali,karena hanya namja itu yang bisa dia percayai saat ini.

”Tck!” Donghae benar-benar tidak suka Jiyeon masih memanggil bocah ingusan itu. Apa hebatnya seorang Mingyu.

”Mingyuuuuu!”

”Kenapa kau masih memanggilnya?” Donghae tidak tahan. Ini adalah kelemahannya, tidak bisa menahan diri karena perasaan cemburu. Bocah tengik itu lebih mendapatkan perhatian ketimbang dirinya.

”Si..siapa?” Jiyeon menggertak.

”Kau sudah tahu siapa, jadi berhentilah bertanya siapa aku. Membuatku bingung harus bersikap bagaimana padamu.”

”Lee Donghae?”  Jiyeon menebak tanpa ekspresi. Dia mencoba mencari bayangan Donghae di sisinya.

”Aku di sini.”  Donghae menangkap tangan itu, dan menariknya dalam pelukannya, tapi Jiyeon meronta. Seluruh tubuhnya bergerak menolak Donghae, napasnya kembali terengah-engah.

”Jangan!”  jantungnya semakin berdegup tak karuan. Mungkinkan ini Lee Donghae yang dikenalnya, atau dia hanya berpura-pura menjadi Lee Donghae.

”Kau kenapa?”  ada nada kecewa di sana, namun Donghae bisa memahami.

”Jangan menyentuhku!”

”Aku hanya ingin menggenggam tanganmu.”

”Jangan pernah lagi!”

”Maafkan aku!” bisik Donghae lembut.

Jiyeon menggeleng, untuk apa kalimat maaf itu. Pentingkah?

”Kau tidak harus datang lagi menemuiku. Seharusnya kau tidak melakukan ini padaku.”

Donghae terdiam sebentar,

Jiyeon sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Seandainya saja dia tahu… tapi tentu saja, Donghae tidak akan mengatakan semua itu. Dia tidak ingin orang tua Jiyeon kembali mengusik hubungan ini.

Hubungan?

”Jiyeon, Park Jiyeon.”

Jiyeon mendengarkan,

”Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”

Gadis itu memicing meski tidak jelas.

”Kesepakatan apa?”

”Bagaimana kalau aku menikahimu, dan kita akan hidup bersama lagi..”

Tak ada sambutan dari Jiyeon.

”Aku tidak akan melepaskanmu lagi kali ini, dan terlebih aku tidak akan membiarkan bocah tengik itu membuat hatimu luluh.”

Jiyeon memiringkan kepalanya,

”Bocah tengik?”

”Mingyu.”

Jadi benar, dia adalah Lee Donghae.

Apakah ini sebuah ejekan, atau ungkapan. Bekas gurunya ini sama sekali tidak mempunyai sikap yang tenang, bahkan dengan kondisi Jiyeon yang seperti ini.

”Kenapa kau diam? Kalau kau terharu dan ingin menangis, menangislah di dadaku. Aku masih mempunyai dada yang bidang untukmu. Aku masih Lee Donghaemu.” Donghae mendekat dan menarik Jiyeon dalam pelukannya lagi.

Tapi Jiyeon kembali mendorongnya.

”Pergilah!” usir Jiyeon tegas.

”Tidak akan.”

”Oppa,sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?”  tanya Jiyeon dingin sambil mendorong tubuh itu kembali dengan kuat. Hampir saja Donghae jatuh kalau saja dia tidak berpegang. ”Ash,” laki-laki itu mendengus karena menyadari bahwa kondisi mereka kini benar-benar menyedihkan. Si cacat dan si Rabun.

Sangat sempurna.

”Aku ke sini karena kau merindukan aku.”

Jawaban yang konyol itu hanya ditertawai dengan nada dingin.

”Aku tahu kau tidak pernah berhenti merindukan aku.” lanjutnya

”Aku rasa itu sudah tidak penting lagi.”

”Apa yang tidak penting?” protes Donghae

”Oppa, kau sudah menikah.”

Donghae tersenyum. ”Benarkah?”

”Menikah dengan wanita itu. Waktu itu aku ke rumahmu, mencarimu, dan kau tidak mau bertemu denganku. Aku tahu, kau pasti senang melihatku hancur saat itu.”

Jiyeon mulai mengatur napasnya, dan mencoba untuk mengurai perkara diantara mereka. Hubungan yang terjadi karena sebuah tragedi ini harus berjalan aneh.

”Aku tidak akan membahas masalah itu, aku ke sini karena aku ingin menjengukmu.”

”Untuk apa?”

”Jangan tanya untuk apa. Kenapa kau masih saja bodoh, Park Jiyeon?”

Jiyeon menahan napasnya mendengar ucapan mantan gurunya ini. Bagaimana mungkin Donghae masih mengatainya bodoh padahal sejauh ini, Jiyeon telah berhasil membangun usahanya dan menjalani pendidikan kuliah dengan nilai yang baik.

”Pergilah!”  usir Jiyeon dingin

”Jiyeon…” nada itu melemah. Donghae tidak ingin bersitegang lagi dan memilih untuk duduk. Dia membiarkan Jiyeon yang tidak mau didekatinya, itu memperlakukannya dingin. Ini adalah hal yang setimpal. Artinya, Jiyeon memang mempunyai harga diri yang tinggi. Dia telah tumbuh menjadi wanita yang berkelas, dan mempunyai prinsip.

”Apa kau benar-benar mengusirku?”

Jiyeon diam dan berusaha untuk tegar. Dia tidak mungkin menarik kata-katanya lagi. Meski sesudahnya ini terasa menyesakkan. Dia mendadak ragu. Hatinya menyesal—

Ditolehnya laki-laki itu, dan bayangan itu mendadak semakin jelas di dalam matanya. Wajah seorang Lee Donghae yang menatapnya dengan cemas.

”Aku tidak tahu, apakah dulu kau sengaja memperlakukan aku seperti itu, lalu meninggalkan aku tanpa pesan…”  kalimatnya menggantung, karena hatinya keburu perih. Dia bisa menatap Donghae dengan jelas kali ini,

Laki-laki itu berusaha mendekat dan meraih tangannya, namun—

”Jiyeon, kau harus tahu satu hal mengenai aku.”

Jiyeon menunduk, dia tidak sempat melihat Donghae yang sedikit kesulitan ketika harus berdiri.

”Aku seharusnya tidak mendengarkanmu, Oppa. Kau mengerikan sejak pertama kau memperdayaiku, memperkosaku dan melakukannya lagi dan lagi— ”

lagi-lagi kalimatnya menggantung, Jiyeon berpaling

”Aku memang melakukannya dengan sengaja. Aku laki-laki dengan karakter yang unik. Kau seharusnya tahu, bahwa aku tidak mudah untuk menyukai seseorang, aku hanya menyukaimu, mencintaimu.”

Jiyeon menunduk,

”Jika kau mencintaiku, kenapa kau memperlakukan aku seperti itu? Oppa, kau meninggalkan aku setelah memperoleh semuanya.”

Donghae berusaha mendekat, tapi Jiyeon tetap menolaknya. Kali ini dia benar-benar mendorong Donghae hingga…

BRUGH

Tubuhnya jatuh ke lantai. Jiyeon tersentak kaget dengan apa yang dilakukannya, kemudian melihat laki-laki yang masih dicintainya itu berusaha untuk bangun.

”Oppa, kenapa dengan ka—”

”Tn. Lee!” sopirnya masuk dan segera membantu Donghae untuk duduk kembali di kursi rodanya. Dia terlihat kelelahan dan keringatnya mengalir dari dahinya.

”Oppa!” Jiyeon menutup mulutnya, dan sekarang barulah Donghae menyadari kalau Jiyeon sudah bisa melihat lagi. Mereka saling menatap dan terdiam. Tidak ada ekspresi yang jelas yang disuguhkan Donghae untuk wanita cantiknya ini.

”Aku mengikuti perkembangan khasusmu, dan mungkin akan ikut bersaksi untuk dirimu.”  Donghae merubah topik pembicaraan. Dia menyimpan rasa egonya mengenai kakinya, menolak untuk membahasnya

Khasus?

But, Jiyeon masih memandangi kaki itu,

Bingung, dan merasa bersalah, dia mengernyit diantara rasa gamangnya, apa hubungannya Donghae dengan masalahnya.

”Aku tidak mengerti.”

”Jiyeon, kau tidak usah memikirkan aku, tidak penting.”

Gadis itu masih terpaku,

”Bersaksi untuk apa?”  dua tangannya terjatuh di pahanya, lemas.

”Hal yang tidak kau tahu selama ini mengenai orang yang telah membuatmu seperti ini.”

Jiyeon menggigit bibirnya.

Donghae mengingat malam, di mana dia menolong Jiyeon yang tengah mabuk. Saat itu Jung Shin, membawanya keluar kota. Entah apa yang akan dilakukannya, tapi kalau saja Donghae tidak menghadangnya—

”Kau tahu siapa yang telah melakukannya?”Jiyeon heran.

”Aku rasa aku tahu.” jawab Donghae yakin

Tapi Jiyeon ragu, karena sebenarnya, pada pagi itu, dia mencium aroma Donghae di sekitarnya. Apakah yang dikatakan Donghae ini bisa dia percaya.

Seorang perawat masuk dan berdiri di samping Donghae,

”Maaf, Tuan jam besuk sudah habis. Anda tidak diperbolehkan berada di sini, kecuali keluarga.”

”Aku keluarganya.” jawab Donghae

”Bukan!”  Jiyeon menyangkal ”Dia bukan siapa-siapaku. Tolong bawa dia pergi!”

Donghae menggeleng jengah,

”Baiklah, Sayang. Aku akan pulang, tapi besok aku akan datang lagi.”

Jiyeon tidak menjawab, meskipun dia mengusirnya, tapi di dalam hatinya dia masih ingin menatap wajah lelaki dewasanya itu lebih lama dengan perasaan rindu ini. Donghae benar, bahwa Jiyeon memang merindukannya, hanya saja aroma itu—

Dia menatap kepergian Donghae yang di dorong dengan kursi rodanya itu keluar dari ruangannya. Kenapa dia menggunakan kursi pesakitan itu. Apakah telah terjadi sesuatu padanya. Apakah karena hal itu, dia tidak ingin bertemu dengan Jiyeon dan mengarang sebuah sandiwara, kalau dia telah menikah.

Di mana Mingyu?

Jiyeon mencoba untuk menunggunya, tapi namja itu tidak muncul juga hingga tengah malam. Jiyeon merasa kesepian,

.

.

.

Apa yang dikatakan Donghae ternyata dibuktikan, pagi-pagi sekali dia sudah muncul, dan membawakan Jiyeon banyak makanan dan juga bunga. Dia juga bersama dengan wanita bule itu, yang semual dikatakan sebagai istrinya. Tapi benarkah dia belum menikah, atau ini hanya sebuah bahan olok-olokan saja.

”Good Morning!” sapa wanita bule itu dengan senyum.

Jiyeon hanya mengangguk canggung, kemudian melirik pada Donghae yang telihat tenang di atas kursi rodanya. Dia berada tepat di sampingnya, terseyum tipis dan menggenggam setangkai bunga.

”Apa kau merasa lebih baik pagi ini?”

Jiyeon mendengus,

”Aku harus ke toilet.”

Kemudian wanita bule itu langsung membantu Jiyeon yang berusaha untuk mengambil selang infusnya sendiri.

”Aku bisa sendiri!”

”Aku tahu, tapi biarkan aku membantumu.”

Jiyeon melirik Donghae yang membiarkan wanita itu membantunya.

”Dia tidak menggigit.” ujarnya,

”Ya, karena yang menggigit itu hanya majikannya.”

Donghae tertawa mendengarnya.

”Apa kau merindukan gigitanku?”

Jiyeon melengos dan memilih tidak merespons ucapan bejatnya. Donghae tetap saja Donghae. Meskipun sekarang dia menjadi pesakitan di kursi roda itu, sifat aslinya tidak akan tercecer di jalan-jalan di mana dia pernah melewatinya.

Beberapa menit kemudian, Jiyeon kembali ke ranjangnya dan mendapati Donghae sudah berdiri, dia berpegangan pada bibir ranjang dan ikut membantu Jiyeon untuk berbaring kembali.

Mereka saling menatap sebentar,

”Kau boleh keluar!” ujar Donghae pada Josephine.

Wanita itu berjalan ke arah pintu, dan melambai pada Jiyeon.

”Dia wanita yang baik. Selama ini menjaga putriku.” jelas Donghae.

Jiyeon masih diam,

Jadi Donghae memang menerima tanggung jawab itu.  Kenapa mendadak hatinya menjadi sedikit perih. Haneul adalah putrinya bersama dengan Inha. Apakah Donghae masih menyimpan perasaan untuk Inha.

”Jiyeon..”

Tangan Donghae mengusap pipi Jiyeon yang terlihat segar. Dia pun menyibakkan poni yang menutupi mata wanita cantiknya itu.

”Kau terlihat semakin cantik dan matang.”

”Kau pun terlihat semakin tua dan busuk.” serang Jiyeon dengan nada lantang. Dia tidak bercanda, dan membiarkan Donghae menyatukan alisnya karena terhina.

”Aku ingin sekali melumat bibir pedasmu itu seandainya kita tidak berada di sini.”  cengiran Donghae membuat Jiyeon merinding.

”Jadi benar kau belum menikah?”

Lagi-lagi Donghae menyeringai,

”Kau sungguh penasaran.”

”Karena aku merasa kau sedang mempermainkan aku lagi.” dengan nada sengit. Jiyeon melirik kursi roda itu—  ”Ada apa denganmu Oppa?”

Laki-laki itu mencoba untuk duduk di sebelah Jiyeon,

”Apa kau sungguh ingin mendengarnya?”

”Sebenarnya tidak.” sahut Jiyeon

Donghae tersenyum pahit dan mengacak rambut wanita cantiknya.

”Kau tidak usah tahu. Biarkan aku menerima ini sebagai balasan atas apa yang telah kulakukan padamu.”  liriknya sendu

”Jadi seseorang menghajarmu sampai kau tidak bisa berjalan karena aku?”

Jiyeon benar-benar penasaran, karena baginya Donghae bukanlah laki-laki yang lemah. Dia tidak akan semudah ini menerima kondisi ini dengan hati  yang lapang.

”Ya, anggap saja begitu.” jawa Donghae tenang.

”Apa kau yang memberikan mawar-mawar itu?” Jiyeon menyinggung masalah bunga mawar yang selalu menghiasai ruangan kerjanya setiap hari sebelum kejadian naas itu.

”Menurutmu?”

”Ya, kau yang memberikannya.”

”Apa kau suka?”

”Menurutmu?”

Mereka saling menatap, tanpa senyum. Tapi hati Donghae merasa lega, mereka bisa saling berbicara dengan cara seperti ini. Dia sungguh mensyukuri pertemuan ini.

”Aku merasa bahwa kau yang telah menciderai aku waktu itu, Oppa.”

Donghae mengeryit seketika dan menghalau napas dengan kasar.

”Apa kau gila?” protesnya

”Aku mencium aroma tubuhmu saat itu.”

Donghae semakin mengernyit.

”Aroma tubuhku?”  melirik bimbang, lalu  ”Apa kau yakin?”

”Sangat yakin. Aku tidak bisa melupakan aroma tubuhmu, Oppa.”  Jiyeon menunduk dengan rona kemerahan di wajahnya. Dan dia mengutuki semua ini. Tidak seharusnya dia tersipu hanya karena dia mengatakan bahwa aroma tubuh seorang Lee Donghae tidak bisa dia lupakan begitu saja.

Laki-laki di sebelahnya tersenyum lebar,

”Aku tidak menyangka—”

”Itu tidak penting.” Jiyeon membela diri.

”Bukan masalah itu, tapi aku merasa terharu, kau masih bisa merasakan kesan itu.” Donghae mendekat dan—

”Aku pun tidak bisa melupakan aroma tubuhmu, Sayang!” bisiknya tipis.

Jiyeon sudah bisa menduga kalau percakapan ini benar-benar menjadi tidak penting. Dia bergeser dari sisi Donghae, agak menjauh.

”Nunna!” medadak kemunculan Mingyu membuat Jiyeon terpana. Di sampingnya, Donghae memasang wajah kaku, ketika melihat bocah itu masuk dengan rasa percaya dirinya. Mingyu tersenyum, dan senyuman itu sungguh bodoh di mata Donghae.

”Mingyu, semalam kau ke mana?”

Namja itu heran ketika Jiyeon dengan mudah menggapai tangannya. Dia bisa menyentuh Mingyu dan menariknya.

”Nunna, kau sudah bisa melihat?”

Jiyeon mengangguk.

”Ya, aku lega akhirnya aku bisa melihat.” kemudian melirik Donghae yang masih menatapnya acuh.

”Dia—?”  tanya Mingyu

”Dia Mr. Lee.” jawab Jiyeon

”Aku calon suaminya.” ujar Donghae memperkenalkan diri. Jiyeon hanya mendengus. Mungkinkah hal itu akan terjadi. Donghae akan menjadi suaminya.

”Jangan kau dengarkan. Aku tidak akan menikahinya, Mingyu.”

”Memang tidak sekarang, karena kondisi kami masih sama-sama menyedihkan. Tapi hal itu akan secepatnya kami lakukan, mengingat bahwa kami sudah menjalin hubungan sejak lama.”

”Oppa, kau terdengar bodoh. Ingat kau seorang guru tadinya, kenapa kau harus bersikap kekanak-kanakan seperti ini?” serang Jiyeon kesal. Sementara Mingyu hanya menatap hambar. Dia tidak akan berkomentar, karena sekeras apapun usahanya untuk meraih Jiyeon, tetap akan membuatnya hancur berkeping-keping.

”Nunna, apa kau tau kalau polisi sudah bisa menangkap tersangkanya.”

Jiyeon tergugu sebentar, dia berusaha untuk meraih tangan Mingyu tapi Donghae tidak membiarkannya.

”Siapa?”

”Pagi itu, aku sempat melihat Jungshin hyung berjalan menjauh saat Nunna membuka kedai kita.”

”Jungshin.”  Jiyeon tidak heran mendengar hal itu.

”Ya, dia.” tegas Mingyu

”Apakah dia pelakunya?”  Jiyeon mengejar

”Kemungkinan. Semua sudah tahu kalau dia tidak menyukai Nunna.”

Jiyeon mengangguk.

Sedangkan Donghae tidak mengatakan apa-apa karena pada dasarnya dia sudah tahu.

Jiyeon meliriknya,

Tatapannya terasa begitu dalam dan penuh kekalutan. Direngkuh bahu itu untuk menenangkannya sebentar, tapi Jiyeon menghempaskannya lagi

”Kenapa kau terus menolakku?” sedikit menghardik,

”Kau sudah tahu jawabannya, Oppa.”

Donghae menatap Mingyu ganti, ”Kenapa kau masih di sini?” hardiknya pada Mingyu dengan tatapan sengit. Dia tidak suka bocah itu melihatnya ketika Jiyeon memarahinya.

”Mingyu tidak bersalah,kenapa kau mengusirnya.”

Donghae membungkam dan memilih untuk tidak menanggapi, dia memperhatikan Jiyeon yang masih menatapnya sengit.

”Baiklah, aku akan pergi sekarang.” Donghae bangkit dari tempatnya dan kembali ke kursi rodanya. Jiyeon memperhatikannya dengan seksama, dan setiap kali dia melihat pada kursi roda itu, hatinya terenyuh.

Dia sempat memberikan tatapan lembutnya sebelum berlalu dari muka Jiyeon.

Aish, batinnya terkerat rasa perih.

.

.

.

Polisi memberikan undangan untuk Jiyeon untuk memberikan kesaksian, karena masalah Jungshin ini menjadi tanda tanya. Khasus hukum ini terlihat timpang dan aneh bagi kepolisian, karena menurut keterangan dari saksi, Jungshin tidak berada di dalam ruangan Jiyeon. Meskpun Mingyu melihatnya, dia hanya melihat Jungshin di sekitar kedai, tidak berada di dalam kedai.

Begitupun mengenai aroma yang dikenali Jiyeon pada pagi itu,

Saat ini dia berhadapan dengan Jungshin di ruang interogasi, dengan pengawasan petugas kepolisian dan pengacara dari laki-laki jangkung berwajah tirus itu. Dia terlihat marah dan penuh dengan amukan.

”Jungshin Oppa. Aku tidak bermaksud untuk memojokkanmu.”  Jiyeon berusaha untuk mengutarakan isi hatinya, tapi Jungshin hanya menghela napas panjang.

”Apa kau yang melakukannya?” tanya Jiyeon lagi.

Dia menggeleng malas.

”Aku mungkin tidak menyukaimu, tapi aku tidak pernah berniat untuk membunuhmu, Jiyeon.” jelasnya.

Jawaban itu membuat Jiyeon semakin khawatir. Jika Jungshin menyangkalnya, maka siapa yang melakukan semua itu. Apakah benar, …dia.

Pikiran Jiyeon hanya tertuju pada Donghae, tapi tidak mungkin jika Donghae melakukannya. Laki-laki itu meskipun gila, dia tetap mencintainya dan tidak ingin ada hal buruk menimpanya.

Jiyeon menekan keningnya dan menatap pasrah pada Jungshin.

”Kau akan menyesal karena telah membuatku terpenjara seperti ini, Park Jiyeon.”  ucapan itu menusuk batinnya. Jiyeon menggeleng lagi,

Dia bisa melihat kebencian Jungshin padanya berlipat ganda dan tak akan mungkin berakhir.

”Aku tidak tahu harus berbuat apa, jungshin Oppa. Aku hanya berharap polisi bisa menyelesaikan khasus ini.”

”Kau akan menyesalinya.”  tegas Jungshin lagi dengan nada yang begitu tipis, tajam dan menyerang Jiyeon tanpa ampun.

.

.

.

Jiyeon termangu di dalam apartemennya dan menatap malam dari jendelanya. Pikirannya buntu untuk meretas semua perkara ini. Dia tidak sanggup untuk berpikir kalau pelaku percobaan untuk membunuhnya itu bukanlah Jungshin.

Ponselnya menyala di kegelapan, dia meraihnya—

Nomor tidak dikenal,

”Hallo!” Jiyeon mendengarkan sapaan itu. Lee Donghae

”Oppa, dari mana kau tahu nomorku?”

”Memangnya kau ini sehebat apa sampai nomor ponselmu saja aku tidak tahu.”

Jiyeon mendengus,

”Haeri yang membocorkannya padaku.” lanjutnya

Barulah Jiyeon merasa lega. Dia melupakan Haeri dan Mino untuk beberapa waktu lamanya.  Mereka mungkin sudah bahagia, berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini.

”Kau sedang apa?” tanyanya

”Duduk.” jawab Jiyeon

”Aku di depan pintumu, apa kau akan mengijinkanku masuk?”

Jiyeon langsung menoleh ke arah pintunya, tertawa getir.

”Sejak kapan Oppa di sana?”

”Baru saja.”

Jiyeon berjalan ke sana, tapi ragu untuk membukanya. Dia melihat bayangan di luar sana, dan semakin berdebar untuk menghadapi Donghae.

”Buka pintunya!”

”Bagaimana jika aku tidak mau membukanya?”

”Aku akan memaksa masuk.”

”Bagaimana caranya?”

Jantung Jiyeon semakin berderap. Dia tidak tahu, apakah tindakannya ini tepat atau tidak, tapi—

Donghae menekan sandinya. Oh tidak, bagaimana jika dia tahu kalau sandi masuk apartemen ini adalah tanggal lahirnya.

TUTTT  Cklek.

Pintu itu terbuka, dan laki-laki itu tersenyum penuh arti di depan Jiyeon. Dia merasa sangat bangga dan puas mengenai pintu itu.

”Aku sudah yakin kau pasti menggunakan tanggal lahirku untuk sandi pintumu.”

Jiyeon tercekat dan tak bisa menjawab. Dia membiarkan Donghae masuk, dengan kursi rodanya. Dia tidak bersama dengan sopirnya yang selalu setia menemaninya.

”Apa kau sendiri?”  dia berhenti di tengah tengah ruangan

”Ya, ”

”Bagaimana dengan bocah itu?”

”Dia tidak datang.”

”Aku tidak suka padanya.”

”Aku tahu.” jawab Jiyeon singkat, dia mendekati laki-laki itu dan memegangi kursi roda yang digunakannya.

Donghae meliriknya,

”Kau pasti merasa senang melihat kondisiku.”

”Aku tidak tahu, Oppa.”

”Kemarilah!”  Donghae manarik tangan Jiyeon dan membawa gadis itu duduk di pangkuannya. Untuk sebentar, gadis itu sempat menolak, tapi dia tidak berdaya ketika Donghae mendekapnya. Dia memeluk dengan sangat erat, dan membuat Jiyeon mematung tanpa ekspresi yang jelas.

Wajah itu dia sandarkan di punggung Jiyeon.

”Aku sungguh minta maaf, Jiyeon.” bisiknya. ”aku tidak punya maksud untuk menghilang dan meninggalkanmu.”

Dengan perasaan sedih, Jiyeon berusaha untuk bertahan. Dia tidak harus mendengarkan Donghae lagi. Dia tidak sudi terperangkap di lubang yang sama.

”Aku ingin memperbaiki semuanya.”

”Aku tidak bisa.” gumam Jiyeon kemudian,

”Kenapa?”

”Aku takut kau akan meninggalkan aku.”

”Tidak akan.”

”Siapa yang akan menjamin itu?”

”Aku mempertaruhkan nyawaku untuk mempertahankanmu, Jiyeon.”

Gadis itu tergelak dingin. Hatinya menangis mendengarnya. Seandainya itu bisa membuat hatinya tenang.

Jiyeon melepaskan diri dari pelukan Donghae,

”Apakah kakimu bisa disembuhkan, Oppa?”

Donghae menatap nanar, ”Aku tidak tahu. Kenapa? Apa karena kaki ini, kau tidak lagi mau untuk menerimaku.”

Laki-laki itu sedikit sentimentil sekarang. Hatinya mudah terbawa perasaan. Apakah karena faktor usia, dia jadi lebih bijaksana. Jiyeon serba salah untuk menjawabnya.

”Kau tidak memerlukan aku. Bukankah kau sudah mempunyai Josephine dan Haneul. Untuk apa kau mengingkan aku.”

”Aku tidak tahu.” jawabnya ”Apakah aku cukup menyedihkan?”

Jiyeon mengangguk, ”Aku bahkan berpikir kau tidak bisa lagi—” Jiyeon membungkam  mulutnya.

”Apa maksudmu?”  belum-belum dia sudah tersinggung. Matanya memerah karena marah. Jiyeon ingat ketika tatapan itu seperti ingin melubangi wajahnya. Malam ketika Donghae menculiknya, dan kemarahannya menyeret Jiyeon hingga harus merelakan kesuciannya di makan oleh monster ini.

”Oppa, jangan terlalu emosi. ” lerai Jiyeon

”Kau pikir aku tidak sanggup untuk bercinta denganmu lagi?”

Jiyeon mematung bingung.  Ini salahnya, kenapa dia harus berpikir ke arah itu. Laki-laki mana yang tidak akan marah jika diragukan kejantanannya/

”Kemarilah!”  titah Donghae lirih, tapi Jiyeon tidak bergeming. ”KEMARILAH!”  bentaknya,

”Jangan membentakku Oppa!”

Donghae berusaha untuk berdiri, dia ingin menggapai tubuh Jiyeon, tapi begitu sulit. Kakinya harus melangkah pelan untuk menggapai tubuh itu. Jiyeon masih menunggunya, tapi mendadak kaki Donghae tersandung, kemudian tersungkur dengan setengah badan berada di sofa. Jiyeon memekik—

”DAMNT!” Donghae memaki kesal. Dia berusaha untuk membawa kakinya berdiri tegak, tapi tidak bisa dan akhirnya membuat Jiyeon harus mendekatinya. Dia memegang lengan itu dan mengajaknya untuk duduk.  Donghae tidak ingin melepaskan pegangan tangan itu, dan terus menatap wanita cantiknya yang masih memasang wajah tak bersahabat.

”Kalau kau tidak mencintaiku lagi, kenapa kau masih menggunakan tanggal lahirku sebagai kode sandi masuk apartemen ini?”

Mereka saling menatap,

Satu detik,

Dua detik berlalu,

”Kau tidak punya jawaban karena kau memang masih mengharapkanku.”

Laki-laki itu dengan tenang membawa wajah Jiyeon masuk dalam pelukannya, lalu perlahan menarik tubuhnya hingga semakin erat dalam dekapannya.

”Apartemen ini milik Yonghwa, dan kami tinggal bersama saat itu.”

Donghae mengangguk, berusaha untuk tidak cemburu. Saat itu dia sudah tahu kalau Jiyeon bersama dengan laki-laki itu. Dia bisa menerimanya saat ini, dan tidak terlalu memusingkannya karena dia sudah mati.

”Dia memberiku semua ini, lalu pergi untuk selama-lamanya.” terang Jiyeon

”Dia laki-laki yang bodoh.”  ujar Donghae menanggapi. Mau tidak mau Jiyeon sedikit kesal karena perkataan itu.

”Lalu kau sendiri apa? Kau tidak memberiku apa-apa, justru mengambil segala-galanya lalu pergi meninggalkanku. Apa kau tahu di mana letak perbedaanmu dengannya Oppa?”

”YA, aku tahu.” Donghae begitu yakin. ”Perbedaannya, terletak di dalam hatimu. Kau mencintaiku. Aku memiliki hatimu, dan dia tidak. Dia memang memeberimu segala-galanya, tapi kau tidak pernah memberikan hatimu padanya. Hatimu tetap menjadi milikku. Apa itu jelas.” jawab Donghae lugas.

Kedengarannya memang benar.  Jiyeon tidak menyangkal, itu sebabnya dia diam.

Secepat itu Donghae mencuri kecupan dari bibir Jiyeon yang tengah termangu tanpa gairah itu. Mereka saling menatap lagi dan terdiam. Tidak lama kemudian, Donghae mendekat lagi. Hanya saja kali ini Jiyeon bergerak mundur, dan meneteskan air mata.

”Ini hanya sebuah kecupan, kenapa kau menangis?” Donghae mengusap air mata itu.

”Ini mengingatkanku pada hari pertama kau menciumku dengan paksa.”

Donghae tersenyum,

”Ya, saat itu aku mengatakan kau jelek saat menangis. Dan sekarang juga, jadi berhentilah menangis! Kau bukan anak tujuh tahun yang menangis karena gurumu menciummu.”  Donghae mengacak rambut Jiyeon.

”Kenapa aku harus bertemu denganmu waktu itu?”  Jiyeon menarik napasnya dalam-dalam sedangkah Donghae malah tertawa,

”Salahkan saja Baekhyun yang mendorong guru matematika kalian hingga jatuh di tangga. Kalau tidak ada kejadian itu, aku tidak akan ada di sekolah itu.” jelas Donghae lucu, namun Jiyeon tidak tertawa

Apakah saat ini mereka sedang bernostalgia untuk kisah lama.

”Bagaimana  keadaan Haneul?”

”Dia…”  Donghae ragu untuk mengatakan. ”Baik-baik saja. Kau ingin bertemu dengannya?”  tatapan itu mencoba untuk mengambil hatinya, meski dengan keyakinan yang hanya sepersekian persen saja.

”Aku tidak akan memaksa.” sambung Donghae setelah sekian detik dia tidak mendapat tanggapan.

”Aku tidak punya alasan untuk bertemu dengannya.” sahut Jiyeon. Dia hanya ingin bersikap netral. Walau bagaimanapun Donghae tetap ayah dari anak itu,dan dia tidak akan memberikan komentar yang panjang lebar.

”Aku sudah berubah banyak.”

”Ya, kau semakin tua.”

”Lalu kau mengingingkan bocah itu. Dia jauh lebih muda darimu.”

”Hanya empat tahun.” Jiyeon tidak yakin dengan jawabannya.

”Jadi benar kau menyukainya.”

Jiyeon bungkam.

”Setiap kali kau diam, itu artinya kau tidak yakin dengan perasaanmu. Lagi pula untuk apa kau berharap padanya. Dia tidak memiliki apapun untuk membuatmu bahagia. Menikahlah denganku. ”

Jiyeon kembali melemparkan pandangannya ke arah lain. Untuk menjawab pertanyaan itu, dia harus berpikir dengan kepala yang jernih. Dia tidak akan gegabah.

”Sudah malam, aku ingin beristirahat.”

Laki-laki itu mengangguk.

”Aku menunggu jawabanmu.”

.

.

.

Beberapa hari ini Jiyeon sudah kembali aktive di kedainya, dan Mingyu selalu bersamanya. Bocah itu terlihat lebih tenang setelah Jungshin tidak ada lagi di sekitar mereka, dan Jiyeon memberikan kepercayaan padanya untuk mengurus beberapa hal yang semula ditangani Jungshin.

Sampai detik ini, polisi masih menyelidiki khasus ini. Ada banyak alibi yang mengarah pada Mingyu, tapi Jiyeon menolak untuk berpikir ke arah sana. Entahlah—

Jiyeon membuka pintu ruang kerjanya dan memperhatikan bocah yang sedang bersemangat mengurus kedainya. Berbagai macam asumsi terbersit di dalam benaknya.

Apa mungkin?

Tapi?

Bagaimana mungkin,

Jiyeon menggeleng.

.

.

.

Tbc

Note . Next chapter endingnya. Mianhae karena harus nunggu lama…. lama….. lama banget.

 

Advertisements

18 Comments Add yours

  1. sookyung says:

    Wahh apa tersangka nya mingyu,,, andwaeee ,, jgn sampe itu mingyu,, klo jungshin terbukti tdk bersalah , pasti dia akan membalas jiyeon krn sudah menuduhnya penjahat,,,,,, next next ^^

  2. Kim yeon says:

    Jangan bilang pelakunya mingyu tpi kenapa ada aroma donghae,,
    Lalu kalau memang mingyu pelakunya,, atas dasar ape dia melakukan nya ke jiyeon,, dia kan cinta sama jiyeon, ,
    Yang gak suka jiyeon kan cuma jungshin tapi jungshin sepertinya bicara jujur deh kalau dia enggak nyelakain jiyeon,,
    Lalu siapa pelakunya,
    Kasian donghae kakinya gak bisa jalan dengan normal,, semoga aja bisa jalan dengan normal dan direstui hunbungannya dengan jiyeon oleh ibu jiyeon,,
    Sebenarnya sih wajar kalau ibu jiyeon sampai marah sam donghae,, kan donghae uda ngambil segalanya dari jiyeon,, hati ibu mana yang gak sakit kalau tau kebenarannya,, setidaknya ibu jiyeon masih punya hati untuk tidak mengahabisi donghae,,,
    Sikap donghae masih tempramen tuh,, mudah marah tapi menggoda haha,,,
    Em knapa donghae baru mau memperjuangkan jiyeon sekarang ya,,
    Kenapa gak pas jiyeon datang nyari ini dia,,,
    Donghae kalau cemburu ditunjukin langsung sam jiyeon dan orang lain,, bagus tuh gak ada pura2nya apa adanya,,

  3. Hana oark says:

    Mungkin aja mingyu…siapa tau mingyu psikopat kan/? Dengan dia bikin jiyeon buta jiyeon bakal ketergantungan sama dia hmmmmm oenasarannn

  4. Cassanova Yoo says:

    Entahlah aku ga terlalu suka pairing jiyi donghae bukan berarti aku ga suka donghae hny sj aku suka ff jiyi donghae klo cuma sebatas guru siswa atau oppa dongsaeng u,u tp pas ada nama mingyu jd pengen baca tp jgn bilang tersangka sebenarnya is gyugyu ah andwae , aduh bocah tengill moga bkn km ya nak 🙂

  5. diah.dimin says:

    ni bru pling ditunggu…. next lana…eh g deh smua efefmu aq nunggu

  6. via says:

    Masih teka teki pelaku yg nyelakain jiyeon… knpa jiyeon ykin bgt klo pas kjadian nyium aroma donghae? Apa plakunya sngaja pke parfum yg sma kya donghae, buat ngejebak gtu tpi siapa yo??
    donghae pantang menyerah bnget mskpun dicuekin jiyeon ttep aja ngejar2
    donghae kyanya hrus jujur ke jiyeon ttg knpa kondisi dia jdi sprti itu sma keadaan haneul, seengganya jiyeon ga akan salah paham lgi

  7. Lega… Jiyi bs mlht jg..
    Donghae oppa.. Msh mending jiyi na bersikap cuek, dr pd jiyi hajar oppa pake tongkat baseball..bs jd pesek oppa..
    Pa mingyu y?? Tuk motif pa smpi lukai mata jiyi,,
    Donghae oppa jgn tgl kn jiyi na g yaaa

  8. megawatt123 says:

    Jiyi sudah bsa melihat lagi..jangan bilang mingyu plakunya..aku gk mau…

  9. megawatt123 says:

    Jiyi sudah bsa melihat lagi😀
    Jngan blang mingyu plakunya..aku gk rela klo mingyu plakunya.

  10. anick says:

    seneng jiyi kmpul lagi ma donghae tpi mingyu kok janggal ya next

  11. kwonjiyeon says:

    Jdi ikutn tegng pas bc line terakhir aduuuh lana jgn jdikn mungyu tersangka dia terlaly imu7uuut

  12. kwonjiyeon says:

    Jdi ikutn tegng pas bc line terakhir aduuuh lana jgn jdikn mingyu tersangka dia terlalyu imu7uuut

  13. May andriani says:

    Aahh jdi pnasaran siapa pelaku yg mencelakai jiyeon ya?? Hmm apa mungkin mingyu? Tpi gk percaya deh klu pelakunya mingyu.. Next

  14. nissa says:

    happy ending ya eon jgn sampe sad ending.jdi penasran pelakunya siapa.jung shin aja ngk ngaku.apa mungkin mingyu.nextnya jangan lama

  15. almira says:

    Wah donghae dateng njenguk jiyeon,trs jiyeon jadi tau klo donghae pke kursi roda. Sbnrnya agak sedih pas jiyeon sikapnya nolak donghae..
    Aku kok ragu ya klo pelakunya jungshin tp apa mungkin mingyu??msh jadi misteri nih..
    Wah semoga nanti happy ending ya kak akhirnya dan donghae oppa sm jiyeon bs bersatu. Next kak.

  16. dwiki says:

    aigoooo siapa tersangka yg sebenernya???
    penasaran bgt.
    masa iya mingyu??

  17. iineey says:

    Tersangka sebenernya siapa?
    Apa mingyu pelaku sebenernya?

    Part ini bikin sedikit lega lah
    Soalnya seenggaknya hub jiyeon donghae ada peningkatan

  18. indaah says:

    waww aku ketinggalan baca part ini , hehe untung aja lg ngubek2 nemu ini ..
    donghae mmang harus gtu lebih byk sabar buat ngadepin jiyeon ,
    eihh donghae yg nolongin jiyeon dr jungshin wktu itu ,
    trus yg kejadian k cafe itu apa jungshin lg ya? tp knapa aku jg jd pengen nuduh mingyu ? keke
    jiah donghae masih aja ganas , tp gk kesampean wkwk
    next dtnggu lan fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s