LIE TO ME 3rd


lie to me

LIE TO ME 3rd

Lee Taeyong

Park Jiyeon

And other

Romance

PG-17

Oneshot

.

.

 

“Apa kau masih membenciku?”

PErtanyaan itu lagi, dan TAeyong hanya bisa menghela napas panjang.

“Aku membencimu, Park JIyeon. Apa kau puas mendengarnya.”

Jiyeon justru tertawa.

“Baiklah aku percaya.”

Jiyeon berjalan menuruni tangga dan merasa sedikit was-was dengan Taeyong. Namja itu terlihat sangat diam. Apakah dia harus berbicara padanya. Mungkinkah Jiyeon bisa menjadi teman bicara yang baik untuknya.  Kenapa dia harus berharap seperti itu,

Jiyeon kembali menoleh ke atas,

Apakah dia sudah makan.

Pikirannya menjadi tidak tenang, bahkan setelah dia berada di dalam mobilnya pun, dia harus turun lagi dan masuk ke dalam tokonya hanya untuk menatap anak-anak tangga itu. Bagaimana kalau Taeyong tidak bisa memasak sendiri makanannya, sedangkan tangannya sedang terluka.

Jiyeon berjalan menuju mini pantrynya. Dia ingin membuat makan malam untuk Taeyong. Memang tidak ada makanan yang istimewa, tapi setidaknya ini bisa  membuatnya tidak kelaparan malam ini.

Berkali-kali menghela napas hanya karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Kenapa dia rela melakukan semuai ini. Apa karena Taeyong seorang namja yang berbeda.

BErbeda?

Jiyeon menoleh lagi kea rah tangga dan mendengus. Berbeda secara apa? Apa hanya karena dia namja dengan pemikiran yang aneh. Sikap angkuh dan tidak bersahabatnya semakin membuat Jiyeon penasaran. Apa hany karena persolan TAemin, dia menjadi seperti ini, atau karena hal lain.

Di dalam benak wanitany, Jiyeon sempat merasakan perasaan ini. Dia mungkin tidak seperti wanita lain yang sedang sibuk dengan kencan dan cinta. Dua kali jatuh cinta, namun harus pupus karena laki-laki yang dia cintai lebih memilih temannya. JIyeon hanya seorang perempuan yang tidak mempunyai kehidupan menarik. Dia selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Melakukan distribusi obat-obatan, dan alat-alat kesehatan ke tempat-tempat yang sulit, dan jauh. Dia mengendarai mobilnya sendiri, dan menghadapi rasa lelah sendiri, hingga tak pernah sempat untuk merawat diri. Dia tidak cantik, wajahnya tidak pernah terpulas make-up, dan tangannya kasar seperti kuli di pasar. Dia tidak mempunyai resep khusus untuk membuat dirinya cantik.

Ya, tidak mungkin jika kali ini dia jatuh cinta, dia akan mendapatkan sambutan. Jadi lebih baik lupakan semua celah-celah untuk semakin masuk dalam kehidupan TAeyong. Selain lebih muda darinya, dia juga tidak mungkin meliriknya sebagai wanita. Jiyeon hanya seperti monster yang semakin membuat kehidupan Taeyong menjadi mencekam.

Beberapa menit kemudian,

Jiyeon sudah selesai dengan omeletnya. Sebenarnya ini adalah menu sarapan, tapi hanya ini yang tersedia di dalam lemari esnya. Dia tidak sempat berbelanja atau melakukan apapun selain mengurusi pekerjaannya beberapa hari ini.

Dia mengambil nampan dan meletakkannya di sana semua yang telah diolahnya. Omelet dan nasi, juga ada sedikit masakan ikan kalengan juga teh hijau hangat. Taeyong mungkin membutuhkannya, agar dia bisa mengendalikan emosinya yang sekarang sedang tidak stabil.

Jiyeon bisa melihat di matanya, meski namja itu tidak terlalu impulsive namun di dalam benaknya dia menyimpan bara. Oh entahlah!

Ketika dia muncul di depan pintu, Taeyong sudah tidur. Mungkin karena dia memang lelah. Jiyeon meletakkan nampan itu di atas meja di samping tempat tidur, kemudian dengan hati-hati menarik selimut agar Taeyong tidak kedinginan. Dia mungkin akan mengalami sedikit demam karena luka itu, juga karena jahitan yang dia lakukan, tapi semua akan baik-baik saja. Jiyeon sudah menyuntikkan antibiotic padanya, sehingga besok pagi Taeyong akan segera pulih.

Taeyong melirik sedikit ketika Jiyeon sedang melihat kea rah lain. Kenapa perempuan ini kembali, bukankah dia bilang akan kembali ke rumahnya. Namja itu sempat menangkap wajah murung Jiyeon itu terekam di benaknya. Apa dia sedang berusaha untuk menggodanya.

“Makanlah kalau kau belum tidur.” Gumam Jiyeon,  “Aku tidak bisa pulang, karena aku khawatir dengan kondisimu. Kau mungkin akan sedikit demam, Tae.”

Taeyong membuka matanya,

“Aku ingin sendiri!”  gumam Taeyong ganti. JIyeon menyeringai mendengar ocehan Taeyong, yang secara tidak langsung megusirnya.

“Ini tempatku, dan kau mengusirku?”

“Aku tahu—“ Taeyong menyerang Jiyeon dengan tatapan dingin tanpa kata-kata lanjutan membuat batin gadis itu tersayat. NAmja ini sudah ditolongnya tapi malah bersikap semakin dingin padanya.

“Aku akan tidur di bawah.”

JIyeon keluar dari kamar, dan membiarkan namja itu sedirian lagi. Mungkin dia memang harus lebih bersabar padanya. Taeyong memang unik dan tidak bisa diatur. Mungkin selama ini orang tuanya terlalu memanjakan Taeyong karena mereka kehilangan putra pertama mereka, sehingga Taeyong tumbuh menjadi laki-laki yang angkuh dan tidak tahu bagaimana bertenggang rasa.

Ternyata di dunia ini ada laki-laki seperti itu.

.

.

.

Jiyeon terbangun dengan sedikit tidak bersemangat. Posisi tidurnya sungguh tidak bisa nyaman.

Mencoba untuk bangun dan duduk dengan kepala pening. Hari ini dia ada jadwal untuk mengantarkan beberapa pesanan obat-obatan ke pelosok. Routenya sedikit jauh, dan menempuh waktu yang tidak sebentar.

Apakah TAeyong sudah bangun.

Jiyeon ingin memastikannya, tapi dia tidak ingin terlihat buruk dengan pesona bangun tidurnya ini sehingga dengan cepat dia masuk ke dalam toilet dan membersihkan diri.

Ketika dia membuka pintu, Taeyong sudah berdiri di sana dengan rambut berantakan. Namja itu melengos ketika Jiyeon masih mematung menatapnya.

“Kenapa aku terbiasa dengan sikap angkuhmu ini, Lee Taeyong?”

Namja itu tidak menganggapi dan menerobos masuk ke dalam toilet. Sepagi ini dia tidak ingin berbasa basi dengan siapapun, bukan kebiasaannya. Tapi JIyeon sudah menolongnya, seharusnya dia bersikap lebih baik padanya.

“HAri ini aku tidak membuka tokoku karena aku harus pergi mengantar obat.”  JIyeon mengambil  kunci mobilnya.  “Apa kau sudah selesai dengan makanan yang tadi malam kusiapkan?”

TAeyong melirk,

“Kalau sudah selesai, paling tidak kau bisa membawanya turun, jangan dibiarkan berada di dalam kamar, akan membuat aroma dalam kamar jadi tidak enak dengan sisa makanan.”

LAgi-lagi Taeyong tidak menjawab,

“Lee Taeyong, aku sudah berusaha baik padamu, sebenarnya apa masalahmu denganku. Kalian keluarga Kim tidak masalah membenciku, tapi jangan berlebihan seperti ini, apalagi kau, apa kau tidak punya perasaan sedikitpun sampai harus memperlakukanku seperti ini?”

Jiyeon masih menggerutu sambil menyisir rambutnya, kemudian mengikatnya. Dia tidak menyadari kalau TAeyong sudah berada di belakangnya. Namja itu melepaskan pengikat rambut Jiyeon dan membuat yeoja itu berbalik.

“BAhkan kau menjadi kurang ajar padaku!” geram Jiyeon,

Mereka saling menatap dan beradu ketegangan.

“Apa kau ingin aku mengucapkan terima kasih padamu, Nunna?”

Jiyeon menyeringai dingin dan membuang pandangan, tapi tangan TAeyong justru menekannya ke dinding. Tangan yang masih di perban itu ternyata sudah cukup kuat untuk melakukan sesuatu,

“Aku tahu kau begitu kesepian selama ini, …”

Napasnya menghantui wajah Jiyeon

“Kulihat kau memang tidak punya kekasih. Tidak seorangpun.”  tegasnya

“Tae!” hardik Jiyeon

“Kenapa? Kau tidak suka dengan laki-laki. Apa kau lesbian?”

Kalau saja Taeyong tidak memblokirnya seperti ini, Jiyeon sudah menampar mulut itu.

“Kau kurang belaian laki-laki, hingga hidupmju menyedihkan seperti ini, sendirian dan kesepian. Apa kau membutuhkan laki-laki sepertiku untuk membuatmu nyaman.” Taeyong menekan tangan JIyeon ke dinding dan mendekatkan wajahnya di sektar leher dan telinga JIyeon tanpa rasa sungkan.

Jiyeon melirik ngeri, namun debar jantungnya tak bisa dibohongi, dia syok dengan sikap Taeyong yang mendadak ganas.

“Tae, aku akan adukan sikap tidak terpujimu ini pada Paman Kim.” Ancam Jiyeon sambil berusaha untuk menolak tubuh it, tapi Taeyong justru semakin bersemangat menekan dan mendaratkan sebuah kecupan ringan tanpa sapuan di sana.

“PAman Kim.” Namja itu menyeringai. “Apa kau suka pamanku?”

“Taeyong, kau keterlaluan!”

“Aku sedang berusaha mengucapkan terima kasihku, Nunna. Kau sudah menolongku, dan memberikan makan malam padaku juga perhatian yang manis selama ini. Apa kau tidak suka dengan caraku berterimakasih?”

“Lepaskan!”  Jiyeon memohon, dia benar-benar takut kalau Taeyong akan berlaku lebih.

TApi TAeyong tidak mendengarkan permintaan itu, dan terus memperhatikan bibir yang tengah gemetar itu. Dia begitu segar dan alami, tanpa lispstik, juga wajah yang pucat dan ketakutan. Apakah JIyeon memang setakut ini padanya. Namja itu tertawa bengis  tanpa memotong tatapannya pada Jiyeon.

PErlahan dia mendekat, dan mengarahkan bibirnya pada bibir Jiyeon.  Gadis itu terpejam dan berusaha berpaling, dan membiarkan TAeyong mendaratkan ciumannya pada pipinya yang dingin.

Lalu tertawa seperti seorang psikopat sambil berjalan menjauh meninggalkan Jiyeon yang terengah-engah dengan perasaannya.  Dia menatap namja itu yang berjalan keluar tokonya tanpa baju penghangat.

“Brengsek! Sialan!” maki Jiyeon kesal. Dia kembali mengikat rambutnya dan mengambil kunci mobilnya yang terjatuh.

Dia harus segera berangkat, agar tidak kemalaman ketika kembali.

.

.

.

Taeyong duduk di dalam kelasnya dan melihat Pamannya menghampiri. Seperti yang sudah Taeyong kira, PAmannya itu terlihat sangat bengis dan garang. Wajahnya kaku, ketika dia menghela napas di depannya.

“Ikut aku ke ruanganku.” Ajaknya, dan Taeyong hanya melengos.

“Kau tidak pernah bosan membuat masalah, dan sekarang kau melakukannya padaku.”

Taeyong menoleh, bingung.

“Apa kau tahu Shirin itu siapa?”

Taeyong diam.

“Apa ada masalah dengannya?”  Taeyong merasa dia tidak melakukan apapun pada adik kelasnya itu. Menyentuh pun tidak.

“Shirin mengadukan perbuatan tidak menyenangkan yang dia alami. Katanya kau yang melakukannya. Apa kau tahu, apa akibat dari perbuatanmu?”

TAeyong semakin bingung. MEmang apa yang sudah dilakukannya. Dia beridiri dan mencoba berjalan ke luar ruangan. Dia ingin mencari gadis itu dan menanyakan duduk persoalannya.

“Sebaiknya nanti kau ikut denganku untuk mengklarifikasi masalah ini.”

“Aku tidak melakukan apa-apa pada Shirin, Paman.”

“Itu tidak penting, kita tetap harus mendatangi orang tuanya dan meminta maaf padanya.”

Pamannya berjalan keluar kelas, dan menghilang di sana. Taeyong masih memikirkan perkataan pamannya, dan berusaha untuk mengingat apa yang sudah dia lakukan pada gadis itu.

Jun masuk bersama kelompoknya. Taeyong heran, kenapa dia tidak pernah sendiri, dan selalu bersama komplotannya. Mereka memperhatikan kondisi Taeyong, dan menyeringai. Tidak ada komentar apapun, selain mendiamkan Taeyong. Sikap itu mencurigakan karena biasanya selalu menyapanya dan berusaha memprovokasinya untuk bertindak anarkhis.

KArena tidak ada reaksi apapun, Taeyong pun berjalan keluar untuk mencari Shirin seperti niatnya tadi.

Baru setengah jalan dia sudah mendengar bel masuk berdering dengan nyaringnya. Sepertinya, niatnya harus ditunda. Dia kembali ke bangkunya dan berusaha untuk bersikap biasa, meski hatinya mendongkol setengah mati. Tidak di mana-mana dia selalu mendapatkan masalah.

.

.

.

Sore ini, langit terlihat mendung. Suasana bertambah redup dan mencekam. PErtemuan dengan keluarga Shirin sungguh membuatnya benar-benar terpojok. Ada pembicaraan mengenai kesengajaan Taeyong menyebarkan pada semua penghuni sekolah, bahwa Shirin tidak perawan lagi. Namja itu tercekat hebat. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau yeoja itu masih perawan atau tidak.

Sial sekali karena harus terkena dampaknya, padahal pelacur itu yang selalu menggodanya dan berusaha untuk melakukan hubungan dengannya, tapi TAeyong selalu menolaknya.

“Tae!”  panggil bibinya. Wanita itu memasuki kamarnya dan melihat wajah keponakannya yang sedang diliputi rasa kesal.

“Pamanmu sudah berusaha untuk menyelesaikan masalah ini, tapi sepertinya, kepala sekolah , memintamu untuk mengklarifikasi langsung dengan memohon maaf pada Shirin secara langsung di depan semua siswa.”

BRAKH

TAeyong sampai harus mengebrak daun jendela ketika bibinya mengatakan kalimat itu.

“Aku tidak melakukan apapun padanya!” geramnya. Matanya menangkap bayangan Jiyeon di luar sana. Mobilnya memang sudah terparkir di depan rumahnya itu sejak tadi. Perasaan galau ini membawa sesuatu yang aneh di dalam benaknya. Persoalan Shirin yang menfitnahnya, juga tekanan untuk meminta maaf atas apa yang tidak pernah dilakukannya. MEnggelikan!

Namja itu mendapat Jiyeon tengah duduk di dalam kamarnya, dengan pakaian minim. Bayangannya terlihat di jendela, dan entah kenapa namja itu mengingat pagi di mana dia melakukan intimidasi itu.

Debar jantung itu,

Dia mendengarnya. Detak jantung yang begitu mengejar dan seolah-olah memohon padanya untuk segera meringkusnya. Hanya saja sorot mata itu,

Jiyeon terlihat ketakutan, panic, dan juga kesepian,

Sikap yang sangat ambigu,

“Tae!”  tangan bibinya menyentuh pundaknya.

Namja itu menoleh dan menghela napas,

“Aku akan melakukannya.” Jawabnya lirih. Dia tahu, tidak ada gunanya menentang konsekuensi itu, dan dia memilih untuk tidak melanjutkan perkara ini.

Pamannya tidak pernah curiga, keapa tangannya harus diperban, atau kenapa matanya menjadi biru dan lebam. Dia hanya memperhatikan reputasinya sebagai sosok pendidik senior, yang telah lama mengabdi di sekolah itu, dan kepala sekolah itu tidak memberinya pilihan selain membuat Taeyong membersihkan nama baiknya.

SHIRIN!

Taeyong menyeringai penuh kebencian.

.

.

.

BRAKH

Jiyeon mendengar pintu rumahnya dibuka, dan terhempas dengan kasar. Dia bergegas bangkit dari kasurnya dan berjalan menuruni tangganya, tapi langkahnya terhenti begitu saja, ketika dia mendapati tatapan Taeyong menyerangnya dingin di bawah sana. Namja itu setengah berlari menaiki tangga dengan wajah yang pernah ditemui Jiyeon di pagi itu.

GAdis itu segera berlari dan berusaha untuk memasuki kamarnya, kemudian sekuat tenaga ingin mengunci pintunya, tapi Taeyong terlanjur mendorong pintu itu dan membuat Jiyeon gemetar.

“KAu mau apa? Aku akan berteriak!”  Jiyeon berjalan ke jendela, tapi TAeyong  berlari dan menangkap lengan JIyeon dan menariknya kemudian menghempaskannya ke atas ranjang. Dia duduk bersimpuh diantara tubuh terlentang itu, menumpukan tangannya di atas kasur, dan menukik menatap wajah pucat itu dengan tajam.

“Ta—Tae…?”

Entah setan apa yang tengah merasuki namja itu hingga dia dengan mudahnya melepaskan semua yang dikenakan Jiyeon. Gadis itu meronta dan berusaha untuk melepaskan dirinya dari Taeyong, tapi tidak bisa.

Kedua tangannya seketika harus terikat pada jeruji yang menjadi sandaran tempat tidur Jiyeon.

“Taeyong, jangan bersikap seperti ini?”

Namja itu tak mendengarkan.Dia membuat tubuh JIyeon setengah telanjang dan tak berdaya. Kedua tangannya terikat dan tanpa merasa canggung, Taeyong menyentuhi tubuh itu dengan tangannya.

Wajah tanpa ekspresi itu membuat JIyeon ketakutan. Apa yang terjadi dengan bocah ini.

“Aku akan menghangatkanmu, Nunna!”

“Cih!”  Jiyeon meludah di depan wajah itu, Ini tidak seperti yang diduganya,

Hatinya pedh menerima perlakuan ini,

Taeyong terlihat emosi dan membungkam mulut Jiyeon dengan sebuah kain, dia mengikatnya dan membuat gadis itu hanya menatapnya dengan tetesan air mata. Mungkin kebencianlah yang dia rasakan saat ini, karena Taeyong telah memperlakukannya dengan sangat keterlaluan.

Dia bisa melihat sendiri, dengan sekali gerakan saja, bocah itu sudah menelanjanginya, dan menyentuhinya dengan nafsu, dan napas menderu. Jiyeon tidak bisa melihatnya, matanya terpejam dan menahan semua perlakuan ini dengan hati tersayat. Taeyong telah memperkosanya.

Tubuh Taeyong bertarung dengan tubuh JIyeon yang sedang digaulinya. Dia tidak perduli dengan semua isakan itu, karena hatinya sedang dibutakan oleh rasa kesal dan amarah. Dia terus membuat JIyeon menggeliat dan tak berhenti menggelinjang karena desakan tubuhnya. Satu hal yang sempat disesali Taeyong, karena dia merasakan bahwa JIyeon masih perawan. Dia yang telah membuatnya ternoda. Darah mengalir dari organ intimnya, dan itu cukup meyakinkan Taeyong bahwa dia sungguh luar biasa karena menjadi laki-laki pertama dalam kehidupan Jiyeon.

Namun itu tidak menhentikannya untuk terus memacu tubuh itu, bahkan dia selalu teransang ketika tubuh Jiyeon menggeliat di depan matanya. Dengan kondisi tangan terikat seperti itu, Taeyong bebas melakukan apapun sampai dia merasa puas.

“LEpaskan aku!”  ketika Taeyong melepas ikatan di mulut JIyeon, tapi yang dilakukannya justru membungkamnya dengan ciuman yang begtu dalam. Air mata JIyeon jatuh bercucuran tak terkira, ketika dengan teganya Taeyong menelusuri tubuhnya dengan kurang ajar. Dia tidak segan-segan meremas payudaranya, juga menyentuh vaginanya, dan membuat tubuh Jiyeon selalu menggeliat erotis.

“Aku akan melakukannya terus sampai kau mengatakan bahwa kau membutuhkanku untuk menghangatkanmu. Bukankah rasanya sangat luar biasa. Aku tahu kau sangat menikmatinya, Nunna.”  Sekali lagi Taeyong memposisikan dirinya diantara kaki Jiyeon yang terbuka, mengangkatnya hingga ke pundaknya, lalu dengan tenaga yang kuat, dia mendorong kejantannya masuk hingga tubuh itu melenting.

Jiyeon mendesah dengan cukup lepas, dia bisa merasakan bahwa semakin lama Taeyong menggaulinya, dia merasakan ada gairah tersendiri yang membuatnya menagih. dia menginginkan semua ini, namun tidak dengan cara yang seperti ini.

“Agh Tae!” desahnya dengan mata yang sayu. Dia menatap Taeyong degan cara yang berbeda. Bahkan bibirnya terbuka, dan menyerahkan payudaranya untuk mendapatkan sentuhan lebih dari namja yang tengah memacunya.

TAeyong tersenyum iblis melihat semua ini, dan tentu saja dengan penuh gairah dia semakin menghentak, dan membuat Jiyeon semakin berteriak.

Beberapa menit kemudian, dia menggelepar lelah di sisi Jiyeon. Tak sanggup lagi melakukannya setelah beberapa kali dia mendapatkan kepuasan. Tubuh telanjangnya hanya tengkurap dengan semua aroma subtasnsi sex menyengat yang begitu khas disekitarnya.

Jiyeon tak bisa bergerak, dia lemas. Sangat lemas –

Diliriknya Taeyong yang terpejam, tubuh itu terlihat payah dan lunglai, tapi sesaat lalu, dia begitu bertenaga dan penuh kuasa.  Dia tak bisa memungkiri bahwa tubuh itu sangat menggairahkan.

“Tae…”

“Umh?”

“Paling tidak kau harus memberi alasan kenapa kau bisa memperlakukan aku seperti ini. Apa salahku sampai kau harus mengambil semua ini dariku?”

Namja itu membuka matanya, menatap lurus dan terpejam lagi. Lelah yang teramat sangat.

Beberapa jam berlalu, dia membiarkan Jiyeon masih dalam kondisi terikat dan telanjang tanpa sehelai selimut. Baru setelah dia merasa lelahnya lenyap, dia bangkit dan membuka ikatan itu. JIyeon setengah mengantuk, namun dia tidak bisa tertidur dan terus meneteskan air matanya. Beberapa jam dalam kondisi terikat, membuat tubuhnya sakit. Terlebih namja itu tidak meliriknya setelah gairah itu padam.

Dia duduk memunggungii Jiyeon tanpa kata maaf.

“kau harus mengakui kalau aku cantik, agar aku sedikit mempunyai harga diri ini, Lee Taeyong!”  gadis itu berusaha berjalan, namun selakangannya begitu sakit dan nyeri. Darah kering masih melekat di sekitar pahanya.

“Arrrgh!” dia menahan rintihannya, ketika berjalan kea rah kamar mandinya, dan Taeyong memperhatikannya. Mereka saling menatap, sebentar.

“Kau cantik NUnna!”  dan langkahnya menghampiri Jiyeon

“JAngaaaaan! Jangan dekati aku lagi!”  dengan berusaha mencepatkan langkahnya, JIyeon menghindari Taeyong, hanya saja dia memang tidak lebih cepat dari namja itu sehingga apapun yang dia lakukan tak berguna. Taeyong membopong tubuhnya dan mengantarnya ke dalam kamar mandi.

“Tinggalkan aku sendiri!”

Taeyong tak mendengarkan, dia mengambil selang air dan membasahi tubuh JIyeon. Lalu dengan pelan dia membasuh tubuh itu,

Jiyeon gemetar merasakan tangan itu menyentuhinya lagi. Ada semburat malu di wajahnya, ketika dia harus bertemu dengan tatapan Taeyong yang lebih senang diam ketimbang mengatakan maaf.

Jiyeon berdiri terlalu dekat dengan bocah ini, sehingga tanpa sadar mereka bersentuhan lagi, dan tubuh gemetarnya menghadirkan getaran sendiri di dalam benak Taeyong. Berkali-kali dia melirik wajah Jiyeon dan melihat rasa khawatir dan sedih itu membayang di sana. Begitu manis, dan penuh dengan kelembutan..

Ada sebuah desakan yang muncul kembali di dalam tubuhnya, saat tangan-tangannya menyentuhi tubuh di depannya. Sangat lembut, terlebih ketika air itu membasahinya. Lembab dan halus..

Jiyeon mengangkat wajahnya dan melihat tatapan Taeyong berubah sendu. Buru-buru JIyeon berbalik, dan menghindari semua pesona itu, hatinya lemah sudah. Mana mungkin dia mengijinkan hal itu terjadi lagi, tapi mendadak lengan Taeyong mendekapnya, melingkar di tubuh telanjangnya, sementara dia merasakan lagi kejantanan namja itu mengganjal di punggungnya. Eoh!

Jiyeon menutup mulutnya dan terpejam,

“Kau sangat cantik Nunna!” bisik namja itu, sampai dia memaksa JIyeon untuk melayaninya lagi. Tubuh JIyeon harus terguncang kembali ketika dengan kekuatan dan gairahnya Taeyong memasukkan kembali miliknya ke dalam tubuhnya.

Semua desahan dan erangan namja itu terdengar dengan jelas di telinga Jiyeon, ketika dia mencumbui Jiyeon dari belakang. Untuk kali ini, Jiyeon sungguh mengutuki dirinya sendiri, karena dia menikmati persetubuhan ini.

Taeyong mengerang hebat ketika dia mendapatkan kepuasannya, memeluk dan mendekap JIyeon semakin erat, kemudian bersandar di dinding dengan wajah yang lelah.

JIyeon tersengal-sengal dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia berlalu dari hadapan TAeyong dan mengenakan pakaiannya.

Duduk dengan wajah kaku di depan teve yang menyala dengan sebatang rokok di ujung bibirnya, di tangan lainnya dia memegang kaleng beer yang telah dia minum setengahnya. Pikirannya berkelana dan tak bisa memahami apa yang telah terjadi.

Taeyong muncul dari tangga dan menatapnya tanpa rasa bersalah, dia justru tersenyum penuh kebanggaan melihat kondisi JIyeon yang tampak syok.

“See you next time, Nunna~!”

Jiyeon melirik sengit, dan membiarkan bocah itu berlalu.

Dipejamkan matanya dan memompa semua udara pengap itu keluar dari paru-parunya. Ini sudah gila, sangat gila, karena dia membiarkan peristiwa ini berlalu.

.

.

.

Tbc

 

Advertisements

32 Comments Add yours

  1. violet says:

    Oh my4 sp yg g terpesona sm jiyi canyik dan sexi taeyong kmu bnr melampiaskn kekesaln sm jiyi aàhhh………

  2. mhilaji says:

    Omg kakkk lanaaaa daebakkk…. duhhh mhila masih polos kkkkkk… (polos jidat maksudnya :v ) . Duhhhh taeyong kenapa sihh sebernahnya? Kok tiba2 sekasar itu padahal jiyeon udah mau bersikap baik.. tuh anak pengen di rukiahh kali yah.. sumpah kesel tapi syuka #gaje :v

  3. Kim yeon says:

    Kenapa jiyeon jadi pelampiasannya,,,,, nooooo,
    Tapi lebih gak rela lagi kalau taeyong sama shirin,,,
    Itu pemaksaan,,
    Eemm seperinya taeyong sama jiyeon uda saling suka cuma gak mau ngakuin aja,, atau emang gak nyadar-nyadar ya😓

  4. Kim yeon says:

    Boleh minta fw untuk until you come back gak,,,😄 please

  5. Kim yeon says:

    Please,,,.boleh minta fw Walkin’ the dream dan that bad girl is mine episode 1,, yang myungeon,
    maaf atas keterlambatannya,, karena aq baru tau, , ya,ya,ya

  6. dwiki says:

    aihhhh dasar taeyong kurang ajar, ngapa dia ngelampiasin kemarahannya ke jiyeon. kasian jiyeon udah gak perawan lagi. mana taeyong gak minta maaf sama sekali lagi. huuuu. jgn sampe jiyeon hamil, ntar teyong gak mau tanggung jawab pula.

  7. May andriani says:

    Taeyong brengsek se.enaknya aja udh memperkosa jiyeon,, dia gk minta maaf malah pergi gitu aja,, ksian jiyeon ;(

  8. diah.dimin says:

    huaaaa next2 dsr pertaean kejam… bukanya mita maaf.. malah minta mangap wkwkwkw next lana benci tpi menikmati .. heuh ta

  9. diah.dimin says:

    huaaaa next2 dsr pertaean kejam… bukanya mita maaf.. malah minta mangap wkwkwkw next lana benci tpi menikmati .. heuh tae

  10. kriswulan says:

    padahal jiyi baik ke taeyong,, tapi kenapa taeyong tega memperlakukan jiyi seperti itu, apalagi tidak ada kata ma’af setelah kejadian itu. kesel ma taeyong. maksudnya apa coba? kalo suka bilang dong

  11. Y ampuun.. Yeoja tu bnr2 dendam y. Lum ckp tae d hajar malah + d bogem..
    Tae!!!! Qm hrs tanggung jawab pd jiyi,,
    Jg pintu rmh jiyi pulih kn sprti semula.. Jgn lgsg prg ja.. Hahaha

  12. diah.dimin says:

    Omg knp komenan ku ngilang y.. Ahh udh panjang yadah deh cuma blg lana next…

    1. mochaccino says:

      ada

  13. yola says:

    Syok gua. Jiyeon semangat.

  14. nissa says:

    taeyong sialan kenapa dia ngelakuin itu ke jiyeon.

  15. lanjiyeon says:

    kasian Jiyeon jd pelampiasan dendam si tae….. kurang apa coba Jiyeon udah baik nolongin malah d balas diperkosa….sebel sih tp justru makin greget

  16. rasma says:

    tae brengsek.huh 😈 ..jiyeon dah begitu baik sama dia . lan gantian sekarang tae yang ngemis .ngejar” jiyeon ..

  17. mega says:

    Apa2an tuh tae ksih kya gitu jiyi knpa jiyi jdi plampiasannya ksiannya jiyi

  18. Oh emji… Taeyong gila! Jiyeon akhirnya jadi diperkosa.. Arghhh kenapa gue fangirling Jiyeon diperkosa… Tapi Lan anjir hot banget…. Pipi gue langsung merah di pagi buta aghhhh.

  19. AriePJY says:

    Apa2an itu si taeyong melampiaskan semua kekesalannya sm jiyi,kasian bgt si jiyi di perkosa sm si tae tae,gara2 si shirin TU cwk menyebalkan.smoga next jauh LBH hot LG hbngn si tae sm jiyi

  20. chacha says:

    Oh shit, taeyong gila!!! Melampiaskan kemurkaannya (sama shirin) ke jiyeon yg udah dgn baiknya nolong dia. Dan tanpa ada rasa bersalah tanpa kata maaf oh Saeki. Bad boy super bad.
    Jdi dendam sama shirin, wanita sinting.
    Ceritanya makin menarik, bikin gregetan, keep writing. Ditunggu chapter selanjutnya.

  21. risna says:

    Taeyong, knp melampiaskan kemarahannya ke Jiyeon?! Kasihan kan Jiyeon.

  22. RegitaOhJiSe says:

    Ihhh anjayy si Tae bener2 sange banget kyaa >.< Gilaa ngefeel banget masa pas bagian di kamar mandi anjirtt. DAEBAK BANGET! Hhh aku terhibur sangat dengan ff ini, lagi galau gegara sehun!

    Kenapa si sama Tae?? Sumpah dia kurang ajar banget, ada rasa dongkol lah sama si Tae nih, tanpa rasa salah udah menghilangkan keperawanan Jiyi, malah justru dia bangga karena dia jadi yg pertama. Tautauu… dirimu itu lagi kesel ama si shirin brengsek tapi jangan melempiaskan ke Jiyi juga anjritt, untung bang Tae ganteng :3

    Apa katanya See you next time, Nunna!~ apa weh lu mau perkosa Jiyi lagi Tae -_- anjayy

    So hot bagian ini! Keren..

    Next!

  23. rositaaaa19 says:

    OMG !!! Kaget aku baca nya
    Jiyeon diperkaos sama taeyong
    Seneng karna sm taeyong (apaini)
    Lan kok km jago banget bikin ginian 😅😆

    1. mochaccino says:

      ane uda merried

  24. cassanova yoo says:

    O sh*t taeyong , berharap setelah kejadian ini jiyi menjauh pengen liat taeyong ngerasa bersalah u,u keselnya sm siapa mlh jd kyk gt, ga nyangka bakalan melampiaskan dgn cara kyk gtu dan ke jiyi lg , hhh

  25. omo ommo Taeyong apa yg kau lakukan bocah kurang ajar!!! Kau masih kecil Dan kau memperlakukan Jiyeon seperti itu omaygaaaaat…
    Awas jika kau pulang pintu tertutup untik mu 😂😂😂😂

  26. Tiara says:

    Taeyong nyebelin!-____- pen gebukin tuh orang rasa2nya. greget banget sama taeyong minta dilelepin di laut kali ya dia-______-
    kasian jiyeeeeon. niatnya udah baik tapi malah dibales gitu sama taeyong 💔 tau diri kek si taeyong, kurang ajar sekali dia sama jiyeon.
    kapan coba taeyong nya berubah;( sedih liatnya jiyeon kek diasingkan dan taeyong ga lulus2 💔
    semoga masalah tentang taemin ada titik terangnya dan bisa ceper selese biar taeyong ga jahat lagi sama jiyeon.
    jan bilang kalau nanti jiyeon hamil. oh no! gimana reaksi orang tua jiyeon dan taeyong juga paman bibi nya taeyong 😥
    good job lah author udah bikin readers nya dag dig dug apalagi ada adegan “nc” nya XDD
    next part nya jan kelamaan yaaaa. fighting!

  27. Bb says:

    Au taeyong gak nyangka bangt kamu kya gini, pagi2 dah dikasi kjutan aja, taeyong next chapter lebih h.o.t lagi ya. Tae tae suka mh suka aja x paginya jaim, malemnya nyerang.

  28. yustina says:

    What the hell ? Knpa jadi si jiyi di perkosa ? Dan apa ini ? Si jiyeon nya malah menikmati ini aigo aigo lan lan, gimana bisa begini lan ? Hahahaha apa gara2 sama si taeyong kah ? Doi kan cuakep banget siapa sih yang ga mau, dan oh my god masih virgin lan, bobol sudah itu lah punya si jiyi, wkwkwkw jadi heran sebenrnya si taeyong knpa itu bisa sampe mau berhubungan intim sama si jiyi kesandung makan apa tuh bocah, aishh aishhh aigo, mau di bawa kemana nanti hubungan mereka kalo ga nikah wah parah lu tae

  29. iineey says:

    omg…. taeyoung jahat deh tp koq lama2 jiyeon menikmati ya
    jiyeon mngkn emang ingin, tp cara taeyoung bener2 kelewatan
    Kesian jiyeon T_T
    awas aja ya klo taeyoung cuma jadiin jiyeon pelampiasan kekesalannya doank, mdh2an taeyoung juga emang ada rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s