More And More 9th


Moreandmore

More & More 9

9th

Wu Yifan

Park Jiyeon

Support Cast

Kim Seok Jin [ BTS ]

Seo Kahi [ OC ]

Romance/ Angst

PG

Chapter

.

.

 

Dari kejauhan, Yifan sedikit kesal karena Jae Rim sangat konyol dengan merengkuh bahu Jiyeon. Si sialan itu benar-benar ingin memancing emosinya.  Jae Rim adalah teman SMAnya dulu, dan karena sebuah kebetulan akhirnya bertemu lagi. Tidak menduga kalau semua ini ada kaitannya dengan Jiyeon.

Semua terkait,

Dunia ini tidak terlalu lebar, juga tidak sesempit pola pikirnya.

.

.

.

Dia menatap gelisah pada ayunan dahan di luar jendela kamarnya. Sore ini terlihat lengang di halaman. Tidak banyak aktivitas yang membuatnya terlalu sibuk, sehingga sejak pukul empat tadi, Jiyeon hanya berdiam diri di dalam kamarnya.

Dia sedang menerima telepon dari wanita itu, Ny. Park. Ini mengenai pernikahannya.  Demi Tuhan, Jiyeon merasa aneh dengan apa yang akan dihadapinya. Mungkin Yifan atau pegawai kepercayaannya yang telah mengabarinya. Yang jelas berita yang sampai di telinga wanita itu cukup mengejutkannya, karena dia tidak pernah menyangka bahwa putrinya akan segera menikah secepat ini. Sepertinya Ny. Park akan segera kembali dari Amerika untuk merestui pernikahan itu.

Lalu bagaimana dengan ayahnya, laki-laki yang telah membuatnya ada dalam kehidupan ini. Jiyeon menggeleng, dia tidak mungkin berpikir bahwa ayahnya akan menemuinya. Membayangkan bahwa kehadirannya di dunia ini hanya membawa nasib buruk untuknya, pasti akan menghadirkan sebuah polemik yang mencekam.

Tidak, Jiyeon tidak akan berharap bertemu dengannya. Mungkin juga sebaliknya.

”Tidak akan ada pesta, Nyonya.”  Jiyeon sedikit khawatir ketika menjelaskan. Dia pun tidak ingin ada perayaan yang akan membuat semua penghuni panti asuhan ini menjadi repot.

”Tidak masalah, aku akan datang. Aku ingin bertemu dengan calon suamimu, dan mengucapkan terima kasih karena dia sudah menjaga putriku dengan baik.”

Jiyeon tidak bisa menanggapi, karena pada dasarnya dia sendiri pun masih ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Jika selama ini dia begitu patuh dan selalu menuruti keinginan Jin, itu karena Jin selalu menjadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab padanya.

”Apa kau memerlukan sesuatu? Bagaimana dengan gaun pengantinnya, apa kau sudah membelinya. Ash, seandainya saat ini aku berada di Korea, aku akan menemanimu memilih gaun yang tepat.”

”Nyonya tidak perlu khawatir, saya sudah mempersiapkannya. ”

”Agh begitu. Kapan pemberkatannnya?”

”Hari Sabtu, dalam minggu ini, Nyonya.”

”Secepat itu.”

”Kami sudah merencanakannya sejak lama.”  Kami. Bukan, tapi Jin yang sudah merencanakan pernikahan ini. Dia selalu antusias menghadapi pernikahan ini.

”Jiyeon, aku akan mengurus tempat yang indah untukmu berbulan madu.”

Jiyeon menggeleng gelisah. Bulan madu? Ini sangat mengganggu pikirannya.

”Tidak usah, Nyonya. Itu sangat merepotkan Anda.”

Terdengar helaan napas, ”Berhentilah memanggilku Nyonya. Kau bisa memanggilku eomma, Park Jiyeon.”

Gadis itu terdiam sebentar,

”Saya masih belum bisa melakukan itu.” lirihnya

”Kenapa?” wanita itu terdengar kecewa

Jiyeon menoleh pada Jin yang mendadak berdiri di sampingnya. Namja itu menyimak pembicaraan Jiyeon di ponselnya

”Kau bicara dengan siapa?”

”Dengan Ny. Park.”

”Apa kau sudah mengabarinya kalau kita akan menikah.”

Jiyeon mengangguk. Apa yang harus dikatakannya lagi, hari pernikahannya sudah di depan mata, dan sungguh bukan hal yang mudah untuk dihadapi dengan hati yang seperti ini.

Jin bersimpuh di sampingnya, dan memperhatikan kegelisahan Jiyeon yang membuatnya cemas.

”Kau berpikir apa?”

”Ny. Park akan kembali dari Amerika dan akan menghadiri pernikahan kita.”

”Itu bagus,” Jin tersenyum  ”Lalu kenapa kau masih terlihat cemas?”

”Aku tidak cemas, aku hanya belum bisa menerima kondisi ini. Dia mendadak menjadi ibuku, dan aku masih— ” Jiyeon menatap Jin

”Aku tahu, ” namja itu menggenggam jemari Jiyeon yang masih gemetar, ”Memang tidak mudah untuk menerima situasi seperti ini.”

Beberapa waktu lalu, ketika Jiyeon sedang mengalami kegalauan ini, dia berada di dalam pelukan Yifan, tapi saat ini, seorang Jin yang menggenggam tangannya. Kenapa Jin tidak memeluknya.

”Adakah yang harus kukerjakan menjelang pernikahan kita ini?” Jiyeon mencoba untuk berdiri,

”Tidak ada, aku sudah menyelesaikannya dan kita tinggal melaksanakannya pada hari Sabtu nanti. Setelah acara pemberkatan di Gereja, aku akan membamu berlibur sebentar menikmati bulan madu kita.”

Jiyeon mencoba untuk tersenyum. Bulan madu—

”Ke mana?”

”Kita tidak punya cukup biaya, jadi kita hanya sekedar berlibur ke pantai. Ada temanku yang menawarkan cotage untuk kita tempati.”

”Baiklah, aku pun tidak suka jika kita berlibur terlalu jauh.”

”Kau mau ke mana?” Jin menahan langkah Jiyeon ketika dia berjalan keluar kamar.

”Aku harus bertemu dengan Jae Rim.”

”Bukankah kau sudah selesai dengan urusan promosi.”

”Memang, aku ingin menanyakan masalah proyek berikutnya.”

”Jiyeon, kita akan menikah dan kau masih sibuk dengan urusan novelmu.”

”Hanya sebentar, lagi pula kau bilang tidak ada yang bisa kulakukan untuk membantumu. ”

Jin tidak bisa membalas itu, dia memang tidak mau Jiyeon terlibat karena dia tahu kondisi Jiyeon. Persiapan ini sudah dia lakukan sendiri hingga masalah gaun pengantin yang seharusnya sore ini, akan diambilnya bersama Jiyeon. Dia menabung cukup uang untuk memberikan gaun yang terbaik, meskpun bukan gaun yang mahal, tapi Jin memesannya khusus untuk calon istrinya.

Jiyeon sudah terlihat menjauh darinya, dan sepertinya ada seuatu yang membuat tunangannya itu menjadi gelisah. Semoga itu bukan karena Yifan.

Namja tampan itu berjalan ke ruangannya dan duduk menghadapi meja kerjanya.

Lalu beberapa menit kemudian,

Yifan tidak percaya dengan apa yang sedang dihadapinya. Kenapa mendadak Jin menghubunginya. Diliriknya Wang yang masih berdiri di sebelahnya. Pelayannya itu segera berlalu setelah tahu bahwa Yifan menginginkan privasi.

”Halo, Tn, Kim!” sapa Yifan. Dia berusaha bersikap sangat ramah, meski terasa aneh.

”Kau ada di mana?” tanya Jin langsung

”Di—” Yifan memperhatikan ruang kerjanya, dia tidak harus mengatakan kalau saat ini sudah duduk di sini sebagai seorang terhormat di dalam ruangan kantor yang nyaman dengan semua fasilitas modern, bukan di sebuah ruangan kantor yang pengap seperti di dalam ruangan yang sekarang ditempati Jin.

”Aku di rumah.” lanjutnya

”Aku ingin bertemu,”

”Kau ingin bertemu denganku?” Yifan mengangkat alisnya

”Ya, nanti sore. Apa kau ada waktu?”

”Jam berapa?”

”Mungkin di atas jam enam.”

”Aku sepertinya masih harus bekerja, Tn. Kim.”  Yifan melihat jadwalnya

”Hanya sebentar.”

Dengan sedikit rasa curiga, Yifan mempertimbangkannya. Jin tidak mungkin mengajaknya bertemu jika tidak untuk urusan yang sangat urgent. Mungkin ini ada kaitannya dengan Jiyeon. Pasti, karena belakangan ini mereka selalu meributkan masalah Jiyeon, bukan Kahi.

Ini sangat lucu, kenapa bisa seperti itu.

”Oke, di mana?”  Yifan mungkin akan menyesali ajakan ini, tapi dia penasaran.

.

.

.

Sekitar jam delapan malam, Jiyeon dan Jae Rim baru selesai dengan urusan mereka. Namja itu mengajak Jiyeon makan malam, karena kebetulan dia ingin mengetahui sesuatu yang terjadi antara Jiyeon dan Yifan.

Mungkin karena rasa curiga yang tidak sengaja, mengingat Jiyeon sendiri akan menikah, dan Yifan pun bukan orang sembarangan yang bisa begitu saja mempunyai perhatian khusus pada seorang Jiyeon. Katakan saja seorang Yifan memang  rumit. Dia dan kehidupannya yang beberapa waktu lalu lepas dari pengaruh dan kekuasaan ayahnya, harus bersitegang dengan masalah hukum hanya karena Kahi. Jae Rim mengetahuinya. Segalanya, karena pemberitaan mengenai Yifan di perkumpulan alumni sekolah mereka selalu menjadi topik bahasan yang menarik.

”Aku sepertinya sedikit lelah.”

”Apa kau nervous menghadapi pernikahanmu?” Jae Rim memberikan kursi pada Jiyeon.

”Mungkin.” gadis itu cukup memberikan senyum tipis. Pandangan matanya berkelana di area yang terlihat ramai ini. Mereka selalu makan di tempat ini, juga Yifan.

Yifan.

Jiyeon menahan napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya dihempaskan bersama  semua rasa penatnya.

”Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Yifan.”

Jiyeon tersentak.

”Jangan bicarakan masalah itu, kumohon!” Jiyeon menggeleng berkali-kali,

”Wae?” tanya namja itu tenang

”Apa kau mengenalnya? Kau pasti berbohong waktu mengatakan kau tidak mengenalnya. Cepat, katakan padaku!”

”Jiyeon, mianhae, aku memang mengenalnya. Dia temanku sewaktu di SMA dulu.”

”Teman?” Jiyeon mengernyit

”Yah, tidak cukup dekat tapi aku tahu tentang dia.”

Seketka itu Jiyeon seperti mendapat angin segar. Dia ingin tahu mengenai Wu Yifan lebih banyak, terlebih belakangan ini sikap dan tingkahnya sangat janggal. Dia selalu bebas menggunakan mobil itu ke manapun dia pergi, bahkan tidak terlihat sedkikitpun rasa takut dan cemas mengenai pekerjaannya. Ini benar-benar aneh—

”Maksudmu apa dengan siapa dia?”  Jae Rim seperti bingung.

”Siapa dia?” tanya Jiyeon penuh harap.

”Dia?” sekali lagi Jae Rim mengernyit. Haruskah dia mengatakan mengenai Yifan.

”Katakan padaku, karena ini penting bagiku. Dia seakan-akan datang untuk mengganggu kehidupanku.”

Jae Rim tertawa, ”Dia memang seperti itu.”

”Apakah dia memang seorang gelandangan seperti yang dia katakan?”

Jae Rim tercengang. Jadi itulah kenyataan yang diceritakan Yifan mengenai sosoknya sendiri. Itu hanya sebuah episode pelarian seorang Wu Yifan mencari jati diri. Dia hanya ingin membuktikan pada keluarganya bahwa dia bisa bertahan hidup tanpa kekayaan orang tuanya.

”Aku tidak tahu banyak mengenai kehidupannya, tapi dia laki-laki yang baik. Itu saja.”

Jiyeon merasa kecewa dengan penjelasan itu, dan rasa kecewanya harus terpojok oleh kehadiran sosok yang membuatnya tercekat. Jin. Calon suaminya itu sedang berjalan memasuki ruangan  di mana Jiyeon dan Jae Rim sedang menikmati makan malam.

”Jin.” sebut Jiyeon. Jae Rim menoleh dan mengangguk.

”Apa kalian ada janji untuk bertemu di sini?”

”Tidak.” jawab Jiyeon untuk sedikit bersembunyi. Entahlah kenapa dia harus bersembunyi.

”Kau ini aneh. Dia itu kan calon suamimu, kenapa kau bersikap begini?”

”Aku hanya ingin tahu, dengan siapa dia akan malam di tempat ini.”

Jae Rim mengangguk. ”Undercover. Hey, kau bisa menggunakan ini sebagai tema novelmu nanti.”

”Jae Rim….DIAMLAH!” hardik Jiyeon lirih. Mereka sama-sama meunduk untuk menyamarkan keberadaan mereka di tempat ini.

Jin duduk agak jauh dari mereka, sehingga tidak terlalu memperhatikan posisi di mana Jiyeon duduk. Sementara itu, Yifan baru saja masuk. Kedatangannya luput dari pengetahuan Jiyeon. Dia sedang melirik ke arah Jin, dari balik buku menu yang tadi tergeletak di atas meja.

”Bukankah itu Yifan.” tunjuk laki-laki di depannya. Fokus Jiyeon berganti pada Yifan yang berjalan mendekati Jin. Astaga! Jiyeon menutup mulutnya. Mau apa mereka. Apakah mereka akan bertengkar? Ish …

Kenapa harus berprasangka seperti ini. Belum tentu mereka bertemu untuk berkelahi. Memangnya hanya Jiyeon saja satu-satunya masalah dalam kehidupan mereka.

”Mau apa mereka bertemu?” gumamnya

”Mungkin untuk membicarakan mengenai dirimu.”

Wajah Jiyeon merona di tuduh seperti itu. Diperebutkan dua laki-laki tampan bukan sebuah cita-cita baginya. Ini cukup menggelikan.

”Jangan bercanda. Memangnya aku ini siapa?”

”Entahlah, aku pun tidak tahu. Aku hanya merasa bingung, kenapa seorang Wu Yifan bisa mempunyai perhatian padamu.” Jae Rim melirik lagi ke arah temannya.

Jiyeon mematung bingung, apa maksud Jae Rim mengatakan itu. Memangnya sehebat apa seorang Wu Yifan sampai seorang Jae Rim merasa janggal memikirkan Yifan mempunyai perhatian untuk Jiyeon.

”Kau pasti menyembunyikan sesuatu padaku mengenai Yifan.”

”Aku memang menyembunyikan sesuatu darimu mengenai dia, itu karena dia yang meninginkan begini. Kalau kau ingin tahu mengenai dia, kenapa kau tidak tanyakan saja langsung padanya.”

Itulah masalahnya, apa itu akan terdengar logis jika dia menanyakan hal ini pada Yifan.  Mungkin akan terdengar lucu jika hal itu sampai terjadi, setelah pernikahan ini berlangsung.

”Apa kau tidak ingin bergabung dengan mereka?”  Jae Rim memicing bingung,

”Ti—”

”Aku ingin. Aku ingin ke sana, dan menyapa mereka.”

”Jae Rim!” Jiyeon mencoba untuk mencegahnya. ”Please, jangan katakan kalau aku di sini!”

Laki-laki itu berlalu dengan senyuman. Itu cukup meragukan.

Jiyeon tidak berani untuk melirik ke sana. Ini cukup mendebarkan, tapi dia begitu penasaran.  Semoga mereka bertemu bukan karena dirinya.

Beberapa menit kemudian, Jin meniggalkan Yifandan Jae Rim. Wajahnya terlihat kesal, dan itu cukup menjadi bukti bahwa mereka memang bertemu untuk membicarakan masalah dirinya. Jiyeon mendadak was-was. Jangan-jangan Jae Rim membawa Yifan ke sini. Oh tidak! Sebaiknya dia harus meninggalkan tempat ini sebelum terlambat,

Tapi—

Memang terlambat.

Yifan sedang melambai ke arahnya. Ini cukup memalukan, sehingga Jiyeon harus berpaling. Lalu laki-laki jangkung itu berjalan denganlangkah pasti ke mejanya. Sebentar saja tubun tinggi itu sudah menutupi cahaya lampu sehingga membuat bayangan tubuhnya itu mendarat di wajah Jiyeon.

Kegugupan menyapanya,

”Apa kabar Jiyeon!”

Yifan duduk di sebelahnya, menggeser posisi Jiyeon hingga harus merapat ke dinding. Kini dia merasa terpenjara di meja ini.

”Aku baru saja bicara dengan Jin.”

”Aku tahu. Apa yang kalian bicarakan?”

”Sesuatu.” Yifan mengangguk jengah

”Apa pembicaraan kalian sudah selesai?” Jiyeon bahkan tidak berani melirik, jantungnya memburu dengan cepat.

”Mungkin tidak akan pernah selesai. Ini sedikit rumit.”

Jiyeon mendengus,

”Kami membicarakan dirimu.”lanjutnya, dan Jae Rim muncul di depan kami. Dia terlihat netral menghadapi masalah ini.

”Aku sebaiknya pulang. ”

”Ya, memang sebaiknya begitu. Kau tidak diperlukan lagi di sini, dan biarkan aku yang mengantar Jiyeon pulang.” Yifan mengusir dengan kibasan tangannya.

”Si keparat ini!” Jae Rim menyeringai.

”Tolong antar dia pulang ke rumahnya dengan selamat, jangan sampai pengantin wanita ini menghilang menjelang pernikahannya. Awas kalau kau sampai menculiknya.” Jae Rim mengepal di depan muka namja berwajah tampan ini.

Terdengar tawa Yifan membahana.

”Dia teman yang menarik.”  celetuknya sambil melirik Jiyeon

”Aku juga harus segera pulang.”

”Aku ingin bicara denganmu sebentar saja.” tangan Yifan menyentuh lengan Jiyeon untuk menahannya.

”Apa?”

”Aku~”  Yifan menatap Jiyeon dengan lekat.

”Aku rasa sebaiknya kau tidak menikahi Jin.” ujarnya serius.

”Kenapa?” Jiyeon menggeleng tak percaya

”Karena…”

Jiyeon menunggu, dia gugup dan menerka-nerka dalam hatinya,jawaban apa yang akan dikatakan Yifan mengenai rasa keberatannya

”Karena kau tidak mencintainya.”

Hening,

Jiyeon membuang pandangan ke arah lain, dan tertawa getir. Begitupun Yifan. Dia merasa yakin kalau apa yang dikatakannya memang benar. Jiyeon tidak mencintai Jin. Dia bersedia menikahi laki-laki itu hanya karena rasa percaya, bahwa laki-laki yang telah bersikap baik itu bisa menjamin kehidupannya, memberinya rasa aman, tapi bukan sebuah kehidupan yang indah dan dipenuhi oleh senyum tulus, karena cinta.

Dunia yang akan mereka huni itu, gersang/. Sama seperti dunia yang dia huni bersama Kahi. Gersang di tanah terkutuk.

”Aku tidak akan mendengarkanmu, Wu Yifan. Siapapun dirimu, aku tidak akan sudi mendengarkan orang yang sama sekali tidak bisa memberiku rasa simpati.”

Yifan tersenyum getir,

”Jujur kukatakan padamu, Park Jiyeon. Sebenarnya kau mencintaiku, kau telah jatuh cinta padaku tanpa kau sadari. Sama seperti aku yang ternyata membutuhkan waktu untuk meyakinkan hatiku, bahwa aku men-cin-tai-mu.”

Eoh! Jiyeon merasa persendian lututnya lemas dan gemetar. Ungkapan itu membuat tubuhnya gemetar, ini adalah ungkapan perasaan seorang lak-laki yang membuat kondisi jiwanya bergetar.

Ini pasti mimpi.

”Aku meyakini itu, Park Jiyeon. Mungkin  ini kukatakan padamu, karena kau sebentar lagi akan menikah.”

”Yifan, hentikan! ” Jiyeon menoleh dengan hati gemetar, ”Aku tidak akan mempercayai ini.”

”Kau terlalu lama hidup dan bersandar pada laki-laki itu, sampai kau tidak tahu, apakah itu sebuah cinta atau hanya perasaan sayang.”

”Aku mau pulang.”

”Dengarkan aku dulu!” cegah Yifan

”Aku tidak mau!” bantah Jiyeon

”Aku tidak main-main, Park Jiyeon!”

”Lalu apa aku terlihat seperti main-main?”

Mereka saling menatap dengan sengit.

”Menyingkirlah dariku!” Jiyeon memohon dengan tatap matanya

”Jiyeon, kumohon jangan menikahi dia!”

”Aku tidak akan mendengarkanmu lagi! Kau pendusta. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu sedangkan kau sendiri tidak bisa meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau adalah laki-laki yang bisa diandalkan.

Yifan tidak bisa menjawabnya,

Apa yang dikatakan Jiyeon benar, dia memang tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri mengenai semua hal yang terjadi dalam hidupnya.

.

.

.

Selama tiga hari menjelang pernikahannya, Jiyeon tidak ingin keluar dari area panti asuhan. Dia pun tidak bertanya pada Jin mengenai pertemuannya dengan Yifan. Ini cukup membuatnya merasa yakin bahwa apa yang akan terjadi memang akan terjadi.

Pernikahan itu,

Besok

Jin terlihat begitu bahagia. Hari-harinya dilalui dengan senyum dan semangat. Sebuah fenomena yang mengharukan. Di dalam hatinya, Jiyeon sedang membayangkan untuk menjalani kebahagiaan itu bersama Jin dengan tawa getir. Mungkinkah kebahagiaan itu bisa terwujut dengan hanya membayangkannya.

Beberapa pesan dari Yifan tidak diperdulikannya. Laki-laki itu tak pernah berhenti, meski sudah beberapa kali Jiyeon menonaktipkan ponselnya, namun karena Jin selalu bertanya kenapa ponselnya selalu mati, maka Jiyeon tidak berdaya untuk mengaktipkannya lagi.

Apa yang harus dia lakukan.

Pernyataan perasaan Yifan benar benar membuatnya syok.

Lupakan mengenai alasan yang dimiliki Yifan mengenai perasaan ketertarikannya itu. Jiyeon jelas tidak akan berani untuk berbelok, di saat tujuan hidupnya sudah di depan mata.

”Jiyeon ada kiriman untukmu!”  bibi Han masuk membawa sebuah kerdus besar. Wanita itu terlihat sangat antusias dengan pernikahan putranya.

”Apa ini?”

”Entahlah.”

Jiyeon memperhatikan kerdus itu dan sepertinya, itu adalah sesuatu yang besar. Apakah ibunya mengirimi sesuatu.

Dengan bantuan bibi Han, Jiyeon membukanya, dan betapa kagetnya Jiyeon ketika dia melihat di dalam kerdus itu terdapat banyak sekali gaun tidur dengan potongan yang sangat seksi. Wajah itu merona seketika, apalagi dia harus melihat itu dengan ibu calon suaminya.

”Agh, indahnya.” wanita itu mengambil satu dan melihat detailnya secara teliti.

”Siapa yang mengirim ini?”

Tidak ada nama pengirim di sana, bahkan sebuah petunjuk pun tidak.

”Aku akan menyimpannya.” Jiyeon segera memasukkan kerdus besar itu ke dalam lemarinya.

Wanita itu tersenyum ke arah Jiyeon

”Bagaimana perasaanmu, Sayang?”

Jiyeon mengangguk,

”Aku gugup.”

”Wajar jika kau gugup. Ini mengenai sebuah janji yang akan kau ucapkan sekali tapi dengan durasi seumur hidupmu. ”

”Apakah Jin benar-benar mencintaiku?”

Bibi Han tersenyum,

”Kenapa kau masih bertanya. Bukankah kau sudah tahu mengenai perasaan putraku.”

Jiyeon tak bisa memahaminya. Benarkah ini cinta?

”Pagi-pagi sekali kau akan dirias, sebaiknya malam ini kau tidur dengan nyenyak. Cukup beristirahat akan membuat wajahmu tampak segar.”  wanita itu mengusap wajah Jiyen dengan lembut.

”Ya, sebaiknya aku memang tidur.”

Bibi Han keluar dari kamarnya, dan Jiyeon memutuskan untuk merebahkan diri dalam kamar yang telah dihias cantik ini. It’s broken white. Semua nuansa ini membuat hatinya gemetar.

.

.

.

Semua sudah siap. Jiyeon duduk di dalam kamarnya dengan riasan pengantin yang cantik. Gaunnya sederhana, namun begitu pas di tubuhnya. Dia terlihat mempesona. Bahkan kaki pincangnya tidak terlihat sama sekali. Jin memang benar-benar memperhatikannya.

Tinggal beberapa menit lagi dia harus segera berangkat ke Gereja. Mobil sudah menunggunya, dan untuk kali ini, dia akan ditemani oleh seorang Bruder yang menjadi walinya. Bruder itu, berumur 56 tahun. Dia adalah pengajar di panti asuhan ini, dan akan mengantar Jiyeon ke depan altar. Seharusnya semua ini dilakukan oleh ayah kandungnya.

Tok tok tok

Pintu itu diketuk,

”Masuklah!”  Jiyeon berpikir itu adalah penata riasnya atau bibi Han yang menanyakan kondisinya, tapi ternyata—

”Kalian siapa?”

Jiyeon tercekat dengan kehadiran tiga orang laki-laki asing bermasker yang masuk dan langsung menyekapnya.

”Kalian mau apa?”

”Tenanglah, kami tidak akan melakukan apapun padamu. Bekerjasamalah!”

Mendadak Jiyeon tak sadar. Salah satu dari mereka memberikan bius lewat kain yang dibekapkan di mulut dan hidungnya. Jiyeon terkulai dan dibopong keluar dari kamarnya dengan mengenakan mantel panjang yang menyamarkan sosoknya. Sebuah mobil telah menunggunya di depan pintu, yang kemudian melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan area parkir panti asuhan.

Peristiwa itu tidak ada yang melihat, karena masing-masing sibuk dengan urusannya.

Jin sudah menunggu di dalam mobilnya, dan mendadak merasa tidak enak dengan perasaannya. Ada mobil yang melintas di depan mobilnya dengan cukup kencang, namun tidak dikenalinya. Orang – orang itu sangat mencurigakan.

”Eomma, apakah Jiyeon sudah siap?”

”Aku akan melihatnya. Seharusnya dia sudah berada di dalam mobil di belakang kita bersama bruder Choi.”

Jin mengangguk.

Setelah menunggu agak lama, wanita itu kembali dan terlihat cemas.

”Ada apa? Di mana Jiyeon?” ibunya menggeleng

”Jiyeon tidak ada di kamarnya.”

”Apa eomma sudah mencarinya?”

”Sudah. Aku akan mencarinya lagi!”

Jin ikut turun dari mobilnya dan mencari Jiyeon ke penjuru tempat. Bahkan dia menghubungi lewat ponsel, namun ternyata ponsel itu tergeletak di meja di dalam kamarnya.

Ini aneh.

Semua orang tidak melihat Jiyeon,

Jiyeon menghilang dengan mengenakan gaun pengantin. Apakah dia ingin bersikap seperti pengantin yang melarikan diri.

Jin terpekur duduk di dalam kamar  Jiyeon dengan perasaan emosi. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan Yifan. Laki-laki itu sepertinya telah menantangnya kemarin. Dia berkata,

’Jika kalian berhasil menikah, maka aku akan memberikanmu tiket berbulan madu ke Eropa.’

Memangnya siapa dia, sampai harus sesumbar seperti itu. Gembel sepertinya mana mungkin bisa memberinya hadiah paket bulan madu ke Eropa. Jangankan ke Eropa, menyeberang lautan, dan benua. Bullshit, memberikan tiket menyeberangi sungai Han saja dia tak akan mungkin sanggup memberikan.

Bulan madu.

Dia benar-benar membuat pernikahan ini selayak game online. Si brengsek itu benar-benar seorang kriminal.  Jin menghempaskan semua yang ada disekitarnya. Karma apakah ini. Adakah sesuatu dari masa lalunya yang membuat semua peristiwa konyol dan mengenaskan ini harus terjadi.

”JIYEOOOOOOON!”

Semua orang sibuk mencari Jiyeon, bahkan ada yang sudah menghubungi polisi untuk mencarinya, namun semua itu sepertinya sia-sia.

.

.

..

Saat ini Jiyeon sedang berada dalam perjalanan yang jauh. Dia masih tertidur di dalam sebuah mobil menuju ke sebuah kota yang jauh dari Seoul.

Perjalanan yang panjang, dan liku-likunya telah membuat Jiyeon mulai tersadar. Ada angin segar yang menyentuhi wajahnya, juga sebuah tangan yang tengah menggenggamnya. Ini aneh.

Apakah Jin.

Apakah mereka sudah selesai dengan pemberkatan pernikahannya. Perjalanan ini pasti sangat jauh sampai dia harus tertidur dalam pangkuannya. Jiyeon membuka mata dan merasakan bahwa kepalanya sedang diusap dengan lembut oleh sebuah tangan, dan sebelah tangan  lainnya meremas tangannya.

”Jin Oppa!” sebut Jiyeon sambil berusaha bangun,

”Kau sudah sadar?”

Suara itu—

Jiyeon bangkit meski dengan kepala yang masih pusing. Matanya menyipit demi untuk memfokuskan pengelihatannya.

Sebentar mematung untuk meyakini sosok di sampingnya, yang menatapnya dengan lembut.

Mustahil!

”Apa yang telah kau lakukan padaku, WU YIFAAAAAN?” jeritnya dengan suara tertahan.

Laki-laki itu, Yifan hanya mengangguk tenang. ”Aku menculikmu. Thanks untuk Jae Rim yang memberikan ide untuk melakukan ini.”  jawabnya dengan senyum.

.

.

.

tbc

 

Advertisements

15 Comments Add yours

  1. Nexttt…. Dan sangat menunggu ff krisyeon yg kamu posting kemaren ❤

    1. mochaccino says:

      -.-‘

      1. Kenapa ekspresi kamu gitu?? pokoknya terserah kamu deh mau lanjut yg mn
        Dulu… Aku menunggu ff krisyeon yg ini sama yg baru kemarin yoo… Thx bgtt dgn ff nyaa… Sukaa

  2. diah.dimin says:

    Sialan kau kris…. Ahh eothoke… Kumaha emak kaga jadi kawin…. Elah .. Gue kesellll jujur ajj klo di sini aq mlih jiyi sama jin coz kris mudah tergodah sama cewe bohay.. Contonye kahi….next lah apapun yg terjadih…

  3. Kim yeon says:

    Astaga kris culik jiyeon,, mau di bawah kemana tu anak orng,, waktu jin kesel aq malah ketawa bahagia,, jahatnya daku,, sebenarnya kalau ingat part yang lalu gak mau jiyeon sama kris karena kris br#*g*#k,,
    Tpi kalau hati ya gak boleh d paksa meski jin pria baik,, cuma kasihan juga jin bukan pria brada sperti kris uda kluar duit banyak buat nikah malah gagal maning, uang habis malu pun juga dapat,,,, jae rim ekstrim juga idenya buat nyulik jiyeon cocok banget tuh sama kris otaknya,,, tapi bagaimana dengan wanita2 pecinta kris ya masih was2 kalau teringat dua cecurut itu,, moga cepat minggat dari kehidupan krisyeon

  4. Sookyung says:

    Wahh yifan bnr2 nekad,, jin pasti bkal bnr2 ngamuk klo ketemu yifan nantinya

  5. WHAT!!! Aduuh q kaget saat baca prnkhn mrk akn d gelar bbrp hri g.. Shock bgt q,,
    Hmmm cpa y yg krm kado tu tuk jiyi?? Hehehe gokil bgt,,
    Horeeeeeee yifan….. 😎 Q restui qm nyulik jiyeon..
    Bw k pulau jeju.. Indah bgt d sna,,
    Thank’s ff krisyeon na yaaa 😁

  6. risna says:

    Baru kali ini nih setuju ama penculikan. Setuju jiyeon di culik sama Yifan. Kasihan sih Jin, tp gmn lg. Kayanya apapun caranya Yifan akan lakuin buat dapetin Jiyeon.

  7. violet says:

    Aku miris bnget ngeliat jin kynya sesak bnget ya ampun bnr6 nyesak bc part ini

  8. MFAAEM says:

    Yaampun… Kasian jin pengantinnya diculik dasar yifan :”)) tapi gak rela juga sih jiyeon nikah huhuhuhu yifan nekat banget buset dasar bapak presdir baru wkwkwkwk udah jiyeon cepetan nikah paksa aja sama yifan .ggg

  9. Hahaha ternyata itu idenya jae rim haha.. Emang sih mulanya go yakin Jiyeon bakaln nikah ma jin ..
    Eeh benaran deh

  10. May andriani says:

    Yifan emg hebat,, akhirnya jin gk jadi mnikah sma jiyeon,, tpi mau dibawa kmn tuh jiyeon sma yifan??

  11. Bb says:

    Aahh, tbc disini
    akhirnya yifan dah yakin sma perasaannya, good lah yifan nyulik jiyeon dh deg2an ajh,
    ksian si jin dah nabung buat nikah eh gk jdi, haha yifan.

  12. iineey says:

    Hahahahaa yifan nekat juga
    Gpp lah klo gt kan jiyeon bisa lolos dr pernikahan tanpa cinta nya sama jin
    Demen dah ngebayangin yifan dengan cool nya bawa kabur jiyeon hahahaa

  13. kasian ama jin… tp kmbali lagi cinta memang ga bisa dipaksakan… ya walopun jin itu baik bgt.. tp klo jiyeon ama yifan terlalu banyak rintangan, sichorong yg notabene adalah adik kandung jiyi sendiri and kahi yg psyco n benci bgt 7 turunan ma jiyeon… takutnya jiyeon diapa2in ma mereka… oh iya,, nengenai tuan park kapan dia ktmu jiyi, n menyesal gaklah dia dah mbuang jiyi…?? aku pengen tuan park menyesali perbuatanya karna dah mbuang jiyi… nunggu’in moment jiyi ktmu tuan park

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s