[oneshot] As We Say Goodbye


As-We-Say-Goodbye

Title || As We Say Goodbye

CAst || Park Chanyeol and Park Jiyeon

Genre || Romance/ SAd

Rated || General

Length || Oneshot

Disclaimer, || I own nothing but the story

Enjoy reading, and sorry for typos

.

.

.

.

“Oppa, aku hamil!”

Chanyeol menoleh Jiyeon yang berdiri canggung di dekat pintu kamar kostnya. Kekasihnya itu menatap dengan mata cemas, menunggu reaksi Chanyeol mengenai berita yang disampaikannya.

Namja jangkung itu menelan ludahnya, dan menunggu agak lama sampai Jiyeon mendekat. Langkah lirih itu terasa aneh di sudut matanya.

“Jiyeon, jangan bercanda!” ujar namja itu dengan nada tajam. Dia sedang pusing menghadapi ujian masuk universitas kedokterannya esok, dan Jiyeon justru membuat kepalanya berputar-putar dengan berita konyol yang seharusnya bukan sebuah berita.

“Aku hamil, Oppa!”  lirih dan bingung. Fokusnya tidak tertanam baku pada emosi Chanyeol. Dia tahu kekasihnya itu tidak siap menerima berita ini, dia pun tidak. Esok, Jiyeon pun harus menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, dan kini dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya hamil. Apa yang akan dikatakannya pada orang tua angkatnya nanti. Hamil di luar nikah. Mereka pasti akan menganggap Jiyeon benar-benar liar.

“Kau sangat konyol Jiyeon, bukankah kita selalu melakukan sex dengan aman. Kau sendiri yang selalu mengingatkanku untuk mengenakan kondom saat kita bercinta.”

Jiyeon melirik ranjang Chanyeol yang terlihat berantakan, di sana mereka selalu melakukannya, berkali-kali dan sama sekali tidak merasa takut kalau di usia mereka yang masih muda ini, harus menerima tanggungjawab yang tidak seharusnya.

Tok Tok Tok

Soyeon masuk ke dalam kamar kost Chanyeol dengan lirikan aneh pada Jiyeon. Gadis itu adalah sepupu Chanyeol yang selama ini selalu menjadi bayang-bayang kekasihnya.

“Ada apa?” tanyanya

Chanyeol menggeleng,

“Tidak ada apa-apa.” Jawabnya. “Kau mau apa datang ke sini?”

“Aku ingin mengatakan padamu, bahwa Paman dan Bibi Park, sudah mendaptkan berita mengenai ujian besok. Kau tidak perlu bersusah payah karena itu hanya sebuah syarat akademis saja, urusan penting lainnya sudah diurus oleh Paman.”

Dia masih melirik Jiyeon yang belum bergeming dari posisinya.

“Kenapa kau terlihat muram?” Soyeon bertanya lagi, tapi Chanyeol mendengus pelan.

“Kita bicara besok setelah aku melakukan ujian masuk itu.” Jelas namja itu dengan lembut, dia membimbing Jiyeon untuk keluar dari ruangan. Mereka sempat berhadapan dan menatap,

“Baiklah!” jawab Jiyeon dengan sedikit senyum, dia tahu Chanyeol tidak akan menghindar. Dia mencintai Jiyeon, paling tidak itu yang dia tahu dari sosok kekasihnya itu.

Chanyeol melambai dan membiarkan Jiyeon melangkah. Hari ini dia harus mempersiapkan diri untuk ujian itu. Persetan mengenai urusan penting yang sudah di urus orang tuanya, dia hanya ingin membuktikan bahwa dia bisa melalukan test masuk itu dengan baik.

“Kenapa kau masih bersamanya Oppa?”  ujar Soyeon. Jiyeon sempat mendengarnya, dan dengan spontan dia menghentikan langkahnya, berdiri di dekat jendela untuk menguping pembicaraan itu, meski terlihatsangat tidak pantas,

“Kenapa?” tanya Chayeol. “Apa kau tidak suka aku menjalin hubungan dengan Jiyeon.”

Soyeon terkekeh,

“Aku tidak perduli, kalau kau hanya ingin mengisi waktu dengannya.”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan Soyeon.”

Jiyeon tidak mengerti dengan pembicaraan itu. Kenapa kedengaranya Chanyeol hanya memanfaatkannya saja.

“Ingat, Chan Oppa, kau sudah dijodohkan. Aku tidak mau kau melupakan itu.”

DEG

Jiyeon menahan mulutnya agar tidak berteriak histeris. Chanyeol di jodohkan dan untuk apa semua hubungan ini terjalin sedalam ini. Bahkan sekarang dia harus mengandung anak darinya.

“Aku hanya ingin fokus pada pendidikanku, karena inilah yang  aku cita-citakan sejak kecil, Soyeon. Aku tidak mau diganggu dulu untuk urusan lain. Kau tahu, aku tidak ingin gagal, aku harus berhasil meraih gelar dokter itu, dan menjadi seorang dokter yang bisa menolong orang lain.”

Cita-citanya memang sungguh mulia, hanya saja sifat seorang Chanyeol yang sedikit egois, membuatnya lalai akan sebuah tanggung jawab penting lainnya. Jiyeon mengusap perutnya dan meneteskan air mata. Bagaimana mungkin dia harus menuntut Chanyeol untuk menikahinya di saat-saat seperti ini.

Kepalanya berdenyut dan tak bisa memikirkan masalah ini dengan baik.

“Oke, tidak masalah, asal pada saatnya nanti kau tidak membuat orangtuamu kecewa. Lupakan saja dia, dan lanjutkan hidupmu.”

Bagi seorang Jiyeon, kalimat-kalimati itu seperti sebilah pisau tajam yang mengoyak jantungnya. Hatinya perih dan berat. Dia bahkan tak bisa menarik udara bebas itu masuk ke dalam paru-parunya. Lututnya menjadi lemas, dan tak sanggup untuk membuat semua ini menjadi nyata.

Chanyeol kedengarannya tidak terlalu menanggapi ocehan itu dengan serius, namun juga tidak menampik bahwa keputusan orang tuanya adalah mutlak.

Jiyeon berjalan menjauh, dan tak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini. Dia melangkah pergi, dan memutuskan untuk tidak mengganggu Chanyeol lagi.

.

.

.

As We Say Good Bye

.

.

.

Delapan tahun kemudian,

Jiyeon menunduk di depan sebuah mesin ATM. Dia tidak tahu ada masalah apa dengan mesin itu sampai tidak mengeluarkan uang meski sudah beberapa kali dia menekan jumlahnya. Jiyeon sangat yakin bahwa rekeningnya masih terdapat uang.

“Kenapa tidak keluar juga!” gumamnya dengan sedikit gugup. Uang itu akan dia pakai untuk membeli obat, Ji Chan. Kalau dia tidak bisa mengambil uang itu, maka Ji Chan mungkin akan terus mengalami demam malam ini.

Dia melirik jam di dinding di dalam minimarket itu. Sudah jam sembilan, dan dia tidak bisa meninggalkan Ji Chan sendirian di apartemen sempitnya bersama dengan Yun Ah, tetangganya. Ji Chan harus mendapatkan obatnya malam ini, meski dia harus berhutang.

Jiyeon segera melangkah cepat ke sebuah bangunan yang sejak siang tadi disambanginya, tapi tetap saja dia tidak berani untuk masuk ke sana. Ini tidak mudah berurusan dengan rentenir, apalagi saat ini Jiyeon tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia hanya seorang tukang bersih-bersih di sebuah rumah sakit kecil di kota ini, dan itu pun harus diimbangi dengan pekerjaan lain di malam harinya demi bisa membelikan Ji Chan makanan yang cukup sehat sehingga dia bisa tumbuh dan bersekolah dengan baik.

JI Chan berumur 7 tahun, dia adalah putranya yang mempunyai wajah yang tampan seperti ayahnya. Jiyeon tidak bisa melupakan itu, namun juga tak sanggup untuk mengatakan pada putranya bahwa dia mempunyai ayah.

Di depan pintu itu, Jiyeon berhenti. Dia menoleh ke sekitarnya, apakah ada orang lain yang akan memperhatikan aksinya. Meminjam uang dengan cara seperti ini, hanya akan mencekiknya.

“Jiyeon ssi!” sebuah suara menegurnya dari arah belakang. Dia menoleh dan membungkukan badan ketika dia melihat siapa yang berada di dekatnya.  Kim Jongin

Seorang namja dengan senyum nakal itu tak berhenti memperhatikan postur Jiyeon dari bawah hingga ke atas,

“Maafkan saya Tuan, saya ke sini karena saya ingin—“ Jiyeon menghentikan kalimatnya, ketika namja itu membimbing Jiyeon untuk masuk ke dalam ruangannya.

“Kita berbicara di dalam, tidak enak kalau sampai di lihat orang kau seperti ini.” Matanya mengerling , ada senyum penuh maksud di bibir mesum itu. Jiyeon merinding merasakan semua aura aneh ini melandanya.

“Duduklah!” Jongin menyuruh Jiyeon untuk duduk

“Maaf, Tuan! Saya buru-buru, anak saya demam dan saya memerlukan beberapa won untuk membawa anak saya ke rumah sakit.”

“JI Chan sakit?” ujarnya dengan nada simpati, tapi Jiyeon tidak yakin dengan respon itu.

“Anda tahu nama anak saya, Tuan?” Jiyeon mengernyit sesudahnya

“Ehm, menurutmu bagaimana? Aku mengenal semua orang di komplek ini, bahkan yang baru lahir sekalipun sudah masuk dalam dataku.”

Jiyeon mengangguk bingung, tapi dia membiarkan laki-laki bernama Kim Jongin itu tersenyum padanya. Mendekatinya, dan berdiri terlalu dekat dengannya,

Jiyeon mundur, tapi tangan Jongin menahannya.

“Aku akan memberikan pinjaman padamu.” Ujarnya,

“Saya akan mengembalikannya dalam waktu dekat.”

Jongin tertawa dengan suara yang menjijikkan, dan Jiyeon cukup ngeri mengartikan tawa itu secara gamblang. Adakah sesuatu yang sedang direncanakannya.

“Kau tidak perlu terburu-buru mengembalikannya. Santai saja, aku akan memberikan waktu yang cukup untukmu. Berapa?” tanyanya sambil mengeluarkan dompet dari sakunya. Tapi tatapannya tidak pernah terputus dari Jiyeon yang terlihat panik.

“Ehm, saya hanya membutuhkan tiga ratus won, Tuan.”

“Pangil aku Jongin saja. Kau tidak usah terlalu formal padaku.” Jongin menjetik dagu Jiyeon dan tersenyum lagi. Lalu dengan cepat dia mengambil telapak tangan itu, dan memberikan beberapa lembar uang won di atasnya.

“Tuan, ini terlalu banyak. Saya hanya butuh tiga ratus won saja.”

Jongin menggeleng, “Tidak apa-apa, kau boleh menyimpannya. Ji Chan membutuhkan vitamin untuk membuat tubuhnya kuat. Kau tidak akan menyesal menerima uang ini, Jiyeon!”

Mendadak Jiyeon merasa seperti ada yang mengganjal dari niat baik itu. Benarkah itu hanya sebuah niat baik, atau hanya sebuah kepalsuan. Ada sesuatu yang renternir ini rencanakan padanya dengan memberikan uang lebih ini.

Meski hatinya tidak nyaman, Jiyeon tetap mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam dompet bututnya. Dia kembali mentap Jongin yang masih tersenyum.

“Terima kasih Tn. Kim. Sekarang saya harus segera pulang dan membawa Ji Chan ke dokter.”

“Apa kau butuh tumpangan. Ini sudah malam, dan lagi Ji Chan tidak boleh terkena angin malam. Aku akan mengantarmu pulang dan membawa Ji Chan ke rumah sakit sekalian.” Jongin berjalan ke arah pintu dan mempersilahkan Jiyeon keluar dari ruangannya.

“Tidak perlu repot Tn. Kim, saya akan membawanya sendiri.”

“Jangan menolakku, Jiyeon ssi!” dia mengunci pintu ruang kerjanya, dan menarik lengan Jiyeon untuk berjalan di sebelahnya.

Jiyeon tidak bisa menolaknya, ketika laki-laki itu mendorongnya masuk ke dalam jeepnya. Ini sungguh diluar dugaan. Padahal dia hanya berharap Jongin memberinya pinjaman, bukan tumpangan.

“Aku sudah memperhatikanmu cukup lama.”

Jiyeon mengangguk aneh. Ucapan itu terdengar sangat mencurigakan. Ada urusan apa Jongin memperhatikannya, dan sudah berapa lama hal itu berlangsung.

Jalanan tampak sepi, Jiyeon hanya berharap tidak ada orang lain yang melihat hal ini. Gossip cepat menyebar di daerah sini, dan itu akan membuat kehidupannya sedikit runyam. Ji Chan masih tujuh tahun, dan dia tidak ingin putranya itu mendengar hal-hal yang tidak pantas dari orang-orang berbibir lebih.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan apartemen  tiga lantai. Apartemen itu hanya terdiri dari 12 flat, dan Jiyeon menempati flat di lantai 2.

Jongin menatapnya lagi,

“Aku akan menunggu di sini, cepat bawa Ji Chan turun!”

Jiyeon mengangguk.

Sebenarnya hatinya ragu untuk melakukan semua ini, hanya saja dia membutuhkan seseorang saat ini untuk diandalkan.

Ji Chan sedang terlelap dengan suhu tubuhnya mencapai 39 derajat celcius. Dia sering mengalami demam, dan Jiyeon tidak berdaya untuk memeriksakan kondisi Ji Chan lebih intensif. Maklum dengan keuangan yang terbatas, dia tidak bisa membayar biaya yang dipatok rumah sakit untuk melakukan serangkaian test.

Sejak dia memutuskan untuk hidup sendiri, membesarkan Ji Chan, kedua orang tua angkatnya tidak lagi mau tahu kehidupannya. Jiyeon dianggap telah kabur dari rumah. Dia memiliki sifat asli dari ibunya, yang hidup sebagai wanita tuna susila. Mereka mengadopsi Jiyeon karena berharap Jiyeon tidak mengikuti jejak ibu kandungnya, dan hidup dengan baik sesuai aturan mereka. Tapi ternyata Jiyeon justru hamil di luar nikah.

Mungkin mereka kecewa, dan mulai tidak memperdulikan kehidupannya.

“JI Chan, Sayang!”  Jiyeon mengusap dahi putranya, dengan menahan tangisnya. Dia tidak ingin putranya ini melihat dia menangis.

Mata itu terbuka dan menatap dengan buram.

“Eomma,”

“Syang, ayo kita ke rumah sakit, supaya kau bisa diobati.”

Eomma, dari mana?”

Jiyeon mengambil jaket dan sepatu Ji Chan, kemudian mengenakannya, kemudian memakaikan topinya agar Ji Chan hangat dan tidak terkena angin malam.

“Tadi eomma, mengambil uang dari ATM. Apakah Yeon Ah menjaga JI Chan dengan baik, Sayang?”

Ji Chan mengngguk.

“Ne, eomma, Yeon Ah cantik. Dia mengusap punggung Ji Chan, dan bernyanyi sampai Ji Chan tidur.” Jawaban itu membuat Jiyeon tersnyum

“Anak pintar, eomma senang Ji Chan jadi anak baik.”

Jiyeon menggendong putranya. Tubuhnya tidak terlalu berat, dia masih sanggup menggendong putranya meski sudah berumur 7 tahun. Ini bentuk kasih sayangnya yang teramat sangat. Dia adalah putra dari laki-laki yang masih sangt dicintainya.

Ini tidak mudah untuk melupakan semua perasaan ini. Chanyeol mungkin telah hidup bahagia bersama dengan wanita yang telah dijodohkan dengannya.

“Ji Chan!” Sapa Jongin.

Ji Chan menatap Jiyeon bingung.

“Dia Paman Kim, kau kenal kan.” Ji Chan menggeleng

“Tidak apa-apa kau tidak mengenalku, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”  Ujar Jongin sambil mengusap kepala Ji Chan.

Jiyeon hanya memeluk Ji Chan dan mobil mereka berjalan  melintasi aspal malam.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Sementara itu di ruang gawat daruat, Chanyeol tengah menolong pasien yang baru saja masuk karena mengalami kecelakaan mobil. Orang itu menderita patah tulang rusuk, dan tangan.

Jiyeon masuk bersama Ji Chan, dan menidurkan putranya di ranjang darurat untuk diperiksa. Beberapa perawat menanganinya.

“Sudah berapa lama dia demam, Nyonya?” perawat itu menanyakannya sambil memindai suhu tubuh Ji Chan dengan termometer.

“Sejak sore tadi.”

“Dia harus di rawat, karena sepertinya dia mengalami dehidrasi. Kulitnya terlihat kering, dan kondisinya lemah.”

Jiyeon tercekat ketika mendengarnya. Di rawat.

“Tidak bisakah dia memperoleh obat saja, dan saya bisa merawatnya di rumah.”

Jongin menghampiri,

“Ada apa?”

“Ji Chan harus di rawat.”  Tegas Jiyeon panik

“Benarkah?”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kalau memang harus seperti itu, kenapa tidak dibiarkan saja. “

Jiyeon meremas jemarinya. Bagaimana dengan biayanya. Untuk merawat JI Chan di sini, otomatis Jiyeon harus menjaganya, lalu bagaimana dia bisa bekerja.

“Tuan, putra anda bena-benar harus mendapatkan perawatan dan pengobatan yang intensive, kasihan jika dia dibiarkan menderita seperti ini,” Perawat itu berkata pada Jongin, seolah olah JI Chan adalah putranya. Laki-lakik itu mengangguk pasti

“Baiklah, rawatlah dia, dan berikan dia pengobatan yang terbaik.”

Jiyeon terduduk lemas, sambil memegang tangan putranya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti semua ini dengan hati yang berat. Namun demi putranya, dia akan mencari jalan mencari uang.

Chanyeol sempat mendengar ada pasien yang harus di rawat, tapi berhubung ada pasien lain yang lebih membutuhkan bantuannya, dia memilih untuk memberikan pertolongan itu padanya.  Dokter lain menangani Ji Chan, dan Jiyeon tidak bisa terpisah dari putranya.

“Siapa namanya?” perawt itu bertanya

“Park Ji Chan.” Lirih Jiyeon. Dia menoleh Jongin yang masih berdiri di sebelahnya,

“Aku berterimakasih padamu Tn.Kim, kau mau menolongku. Sekarang Anda bisa pergi, biarkan saya yang mengurusnya setelah ini.”

Jongin mengangguk, dia menatap Ji Chan yang masih bingung dengan kehadirannya.

“Aku akan kembali besok pagi, dan melihat apakah dia sudah membaik atau belum. “

Jiyeon tak menjawab.

“Ji Chan Paman pulang dulu, cepat sembuh ya!” Jongin meninggalkan mereka.

Sementara itu, Jiyeon berjalan ke meja perwat untuk mengurus administrasi. Dia tidak bia membayangkan bagaimana jika biaya perawatan ini melebihi kemampuannya. Wajah paniknya membuat para perawat itu tertegun,

“Tenang saja Nyonya, putra anda akan mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit ini. Dokter-dokter di sini sangat berpengalaman.” Ujarnya, tapi perawat itu tidak mengerti dengan kondisi keuangan Jiyeon yang pas-pasan.

,

,

,

 As We Say Goodbye

.

.

.

Pagi-pagi sekali, perwat mendatangi Ji Chan dan memeriksa kondisinya, lalu tersenyum pada Jiyeon yang sudah terlihat segar setelah membasuh wajahnya di kamar mandi.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Jiyeon

“Suhu tubuhnya sudah menurun, dan dia sudah terlihat segar. Wajahnya sudah merona kembali. Itu artinya dia sudah tidak dehidrasi. Dokter akan memeriksanya sekitar jam sepuluh nanti. Saya harap Anda tidak ke mana-mana.”

“Tapi saya harus bekerja. Kalau saya tidak bekerja, saya tidak akan bisa membayar biaya perawatan ini.”

“Begitukah?” perawat itu terlihat sedikit cemas.

“Tidak akan lama, nanti jam dua siang saya sudah selesai dengan pekerjaan saya.”

Perawat itu mengangguk,

“baiklah, selama anda bekerja, saya akan menjaga Ji Chan. Nyonya tiadk perlu khawatir.” Perawat itu meninggalkan ruangan, dan Jiyeon menatap Ji Chan dengan hati sedih. Dia tidak bisa meninggalkan keadaan Ji Chan seperti ini, tapi pekerjaan ini juga demi dirinya.

“Eomma berangkat kerja dulu, Nak! Nanti siang eomma akan datang lagi.” Jiyeon pamit dengan mengecup kening putranya.

Ji Chan terbangun, dan memegangi lengan Jiyeon seperti tidak mau eommanya itu pergi dari sisinya.

“Eomma, aku takut sendirian.”

“Sendirian?” Jiyeon tersenyum untuk membesarkan hati Ji Chan. “Ada perawat yang akan menjaga Ji Chan di sini.”

Putranya merengut, dan masih berusaha menghalangi eommanya pergi.

“Bagaimana kalau JI Chan mau pipis?”

“JI Chan tinggal bilang pada perawat kalau JI Chan mau pipis. Nanti perawat akan mengantar JI Chan ke kamar mandi.”

Barulah JI Chan melepaskan tangan Jiyeon.

“Eomma juga tidak ingin meninggalkan Ji Chan sendirian di sini, tapi harus bagaimana lagi. Eomma harus bekerja, kalau eomma tidak bekerja, nanti kita tidak bisa makan, Sayang.”  Jiyeon tidak ingin mengatakan kalau mereka tidak akan mampu membayar rumah sakit, karena mungkin hal itu akan membuat Ji Chan menjadi cemas berada di sini.

“Baiklah Eomma.”

“Anak baik. Eomma bangga punya putra setampan dan sebaik Ji Chan.”

Sekali lagi Jiyeon memeluk dan mengecup kening putranya, kemudian berjalan pelan ke arah pintu. JI Chan melambai dan memberikan senyuman yang membuat Jiyeon harus menahan air matanya. Dia benar-benar tidak tega meninggalkan Ji Chan di sini.

Kakinya berlari menjauh dari ruangan itu.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

“Siapa namanya?”  Chanyeol memeriksa Ji Chan dengan stetoskop.

“Park Ji Chan.” Jawab nurse di sebelahnya. “Suhunya semalam mencapa 39, 5 derajat celcius.”

Chanyeol mengamati wajah bocah tujuh tahun itu. Kenapa ada sesuatu di dalam hatinya yang terhenyak ketika menatap mata itu. Laki-laki itu terpejam, mata itu mengingatkannya pada Jiyeon. Tapi itu sudah lama. Dihelanya napas pelan.

“Test darah untuk lebih pastinya.”  Chanyeol mencatat serangkaian test yang harus dijalani Ji Chan.

“Di mana ibunya?” tanya Chanyeol lagi

“Bekerja.” Tangannya berhenti menulis, dan melirik Ji Chan lagi. Bocah tujuh tahun ini ditinggalkan sendirian, dapi tidak mengeluh. Ini sama dengan dirinya ketika berusia sama dengan Ji Chan. Kedua orangtuanya sibuk bekerja, dan tidak pernah mengerti kesepian Chanyeol ketika itu.

Dia tersenyum pada JI Chan.

“Kau laki-laki hebat! Aku suka dengan laki-laki yang kuat dan berani sepertimu, Ji Chan. Kita ber hi-five!” Chanyeol mengangkat tangannya untuk melakukan hi-five dengan Ji Chan, dan Ji Chan pun membalasnya. Tangan mereka menyatu dan menghasilkan suara tepukan yang cukup mantap, lalu tersenyum

“Paman dokter, apakah aku akan sembuh?” tanya Ji Chan.

“Kau akan sembuh, Nak! Tenang saja, Paman dokter akan mengusir penyakitmu sampai dia pergi dan tak kembali lagi.”  Kalimat itu terasa sangat memilukan hatinya mengingat kepergian Jiyeon ketika itu, dan menghilang hingga kini. Chanyeol meraba dadanya yang sesak. Dia merindukan kekasihnya itu.

“Paman dokter, kau tampan sekali! Kau satu-satunya dokter tertampan yang aku tahu selama ini.” Celetuk Ji Chan lantang. Perawat  itu tersenyum mengiyakan komentar Ji Chan.

“Benarkah?” Chanyeol merasa senang dirinya dibilang tampan.

“Agh, Ji Chan, Paman dokter akan memeriksa pasien lain. Nanti Paman akan kembali lagi ke sini, dan kita akan ngobrol lagi.”  Chanyeol mengacak rambut bocah itu dan melambai. Sebelum dia keluar, dia memberikan senyum untuk Ji Chan.

“Jadi kedua orang tuanya sibuk bekerja. Orang tua macam apa yang meninggalkan anak sakit sendirian di rumah sakit.”  Chanyeol bermonolog sendiri sambil berjalan di lorong rumah sakit.

“Sepertinya JI Chan hanya mempunyai seorang ibu, dan keadaannya sungguh kekurangan. Wanita itu tadi pamit, dan mengatakan kalau dia tidak bekerja, maka dia tidak bisa membayar biaya ini dokter.” Perawat itu menjelaskan,

Chanyeol mengernyit,

“Kenapa rumah sakit ini tidaka memberikan ongkos gratis pada pasien tidak mampu?”  dia menoleh pada perawatnya yang menatap bingung.

“dr. Park!” panggil sebuah suara. Chanyeol menoleh dan menemui senyum Soyeon menhampirinya dengan langkah cepat atau mungkin setengah berlari.

“Aku mencarimu di ruangan kerjamu tapi kau tidak ada.” Ujarnya

“Kau mau apa ke sini?”

“Aku hanya ingin tahu, apa kau punya waktu untuk nanti sore.”

“Tidak punya, aku sibuk So yeon, kenapa kau selalu menggangguku? Pergi sana! Pekerjaanku belum selesai.”

“Kenapa kau selalu sibuk, rumah sakit ini kan punya calon istrimu, kau bisa meminta kelonggaran sebentar untuk sedikit santai.”

Chanyeol mendengus, dia kesal sekali kalau keprofesionalannya harus disangkutpautkan dengan kekuasaan calon istrinya. Moon Aeri.

“Pergilah, aku sibuk. Aku tidak berminat untuk santai karena pasienku akan mati jika aku santai.”

Soyeon mencibir,

“Kukatakan padamu Park Chanyeol, aku begini karena aku sangat memperhatikanmu. Kau satu-satunya saudaraku, dan kuanggap sebagai kakakku. Seharusnya aku mendapatkan perhatian dari kakakku ini. Kanapa kau selalu mengabaikan aku bahkan ketika dulu Jiyeon masih ada, kau mengucilkan aku.” Soyeon menggerutu di depan Chanyeol

Dokter tampan itu hanya mendelik dan menggeleng pada akhirnya.

“Pulanglah, dan urusi hidupmu! Jangan mengurusi kehidupanku terus. Kau akan menyesal jika sampai umur tigapuluh tahun kau belum menikah juga, Park Soyeon!”

Gadis itu berdiri dan melangkah meninggalkan Chanyeol yang  meringis karena berhasil membuat sepupunya kesal.

“Aku akan menemui Aeri, siapa tahu dia bisa menemaniku berbelanja.”

“Gadis gila!”  maki Chanyeol sambil berlalu.

.

.

.

As We Say Goodnye

.

.

.

Ji Chan terbangun dari tidurnya, dan Jiyeon sudah berada di sebelahnya.

“Eomma, tadi Paman Kim datang.” Ujarnya melapor

“Kapan?”

“Sore tadi.”

“Lalu ?” Jiyeon semakin mengernyit mendengarnya

“Dia membelikan mainan untukku, dan tablet ini.” JI Chan menunjukkan tablet berlayar 7 inchi itu dengan rasa gamang. Dia takut ibunya akan marah karena barang-barang ini terlalu mewah untuk mereka.

Jiyeon langsung merebutnya,kemudian memeriksa barang itu.

“Aku akan mengembalikannya.”  Dengan cepat dia berdiri, dan berjalan ke arah pintu.

“Eomma!”

“Sebentar saja Ji Chan, eomma akan segera kembali.”

Jiyeon berlari di lorong-lorong rumah sakit. Hatinya sangat tidak tenang dengan semua sikap Jongin padanya. Apa maksudnya memberikan hadiah seperti ini pada Ji Chan. Apa yang dia inginkan.

Sementara itu, dr. Park memasuki ruangan Ji Chan dan melihat bocah itu sedang merenung dengan tatapan hampa. Rasa ibanya muncul dengan tiba-tiba. Ji Chan seperti bocah yang dewasa sebelum waktunya. Dia dipaksa untuk mengeriti kondisi orang tuanya. Ini sangat menyedihkan untuk bocah seusianya.

“Ji Chan, kau sedang apa?” tanya Chanyeol sambil duduk di sebelah bocah itu dan merengkuhnya. JI Chan menunduk.

“Eomma marah karena aku menerima hadiah dari Paman Kim.” Ujarnya polos

“Siapa Paman Kim?” tanya Chanyeol lembut

“Dia adalah teman laki-laki Eomma.”

Chanyeol mengangguk.

“Memangnya hadiah apa yang kau terima darinya?”

“Sebuah tablet. Paman Kim bilang, itu supaya aku tidak merasa kesepian, dan bisa main game jika eomma bekerja.”

“Eomma bekerja di mana?” Kali ini Chanyeol berusaha ingin tahu mengenai ibunya JI Chan yang sampai hari ini belum bisa ditemuinya.

“Eomma, bekerja di rumah sakit lain. Dia mengepel, dan menyapu. Kalau malam, eomma bekerja di minimarket di dekat rumah. Sesekali aku mengunjunginya kalau aku lapar. Eomma sering membelikanku bakmi kecap dan makan di depan mini market berdua. Kami sering bercanda saat makan, dan dia sering tidak menghabiskan mienya untuk diberikan padaku. Aku tahu eomma mengalah karena aku masih lapar.”

Chanyeol menahan napasnya dalam-dalam. Ada rasa haru yang membuat hatinya tercabik-cabik mendengarnya. Kehidupan mereka sungguh sulit, namun terdengar begitu tabah dan kuat menjalaninya.

“JI Chan, di mana Ayahmu?”  Chanyeol mengusap kepala bocah itu

Dia menggeleng lalu menunduk sedih,

“Anak yang lain punya Ayah, tapi eomma tidak pernah bilang di mana Ayah. Aku tidak tahu, apakah ayahku masih hidup, atau sudah mati. Eomma tidak pernah menceritakan.” Jawab Ji Chan lirih.

“Eoh!”

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

“Tn. Kim, tolong jangan memberikan apapun pada Ji Chan!” Jiyeon meletakkan semua pemberian Jongin itu di atas mejanya. Laki-laki itu menatap bingung

“Kau ini kenapa Jiyeon? Aku memberikan itu dengan tulus. Kau membuatku merasa seperti laki-laki tidak berguna.” Dia mengeluh dan mendesah pelan.

“Ji Chan sudah terbiasa tidak memiliki apa-apa. Dan kami merasa baik-baik saja, tanpa semua benda itu.”

“Jiyeon!” Jongin berdiri tapi Jiyeon sudah berjalan mundur mendekati pintu,

“Aku akan segera membayar hutangku!”  ujarnya sebelum akhirnya pergi.

Laki-laki itu mengejar sampai Jiyeon berada di pinggir jalan, dia mengambil lengan itu dan memaksanya untuk berhadapan dengannya.

“Park Jiyeon, kenapa kau tidak mengerti juga kenapa aku bersikap seperti ini.”

Jiyeon berusaha melepaskan diri dari laki-laki ini, tapi cengkraman tangannya begitu kuat. Dia tidak bisa dengan mudah terlepas, terlebih Jongin sedikit mengintimidasinya dengan tatapan tajamnya. Benar yang dikatakan Yun ah bahwa rentenir ini tidak akan memberikan semua dengan cuma-cuma.

“Tn. Kim, tolong lepaskan! Tidak enak diperhatikan orang seperti ini.”

“Biarkan saja orang bicara apa, aku senang jika mereka berpikir, bahwa kita mempunyai hubungan, bukankah itu lebih baik.”

“Tolong Tn Kim!” Jiyeon terus memohon, tapi Jongin malah menyeretnya masuk ke dalam gedung apartementnya lagi. Dia membawa masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintunya. Menyenderkan Jiyeon di pintu dan mencoba untuk mencium bibir wanita itu dengan paksa.

“Jiyeon, aku menginginkanmu. Kau pasti sudah tahu kenapa aku melakukan semua ini.”

Jiyeon terisak,

“Sudah lama kau memperhatikanmu, kau sendirian, kau tidak mempunyai siapapun, kau hanya hidup bersama Ji Chan. Aku tidak tahu kenapa kau begini, kau dan Ji Chan, kenapa harus seperti  ini dan kenapa tidak ada laki-laki dalam kehidupanmu. Di mana ayah Ji Chan?” Bibir itu begitu dekat dengan Jiyeon dan mereka berada dalam jarak yang dekat.

“Tn. Kim, aku harus segera kembali pada JI Chan, dia sendirian di sana.”

Jongin menggeleng, dia cukup merasa kesal dengan sikap Jiyeon yang tidak mau mengerti dirinya.

“Jiyeon ssi, aku sudah mengatakan padamu, bagaimana jika aku masuk dalam kehidupanmu.”

“Tidak mungkin.” Sahut Jiyeon pelan

“Kenapa tidak mungkin!” Jongin mendorong tubuh Jiyeon hingga wanita di depannya itu harus mendaratkan punggunya dengan keras pada dinding

Dia menggeleng dengan rasa takut

“Jiyeon, aku ingin menikahimu, dan hidupmu tidak akan sulit seperti ini. Aku akan mengeluarkanmu dari lembah kemiskinan ini dan membuatmu hidup serba berkecukupan.

“Tn. Kim, aku tidak bisa menjawabnya. Aku masih belum memikirkan hal itu.”

Jongin menghela napas dan melepaskan tangan Jiyeon, memperhatikan air mata yang mengalir itu dengan kesal.

“Baiklah, aku akan memberikanmu waktu. “

“Terima kasih.”

“Jangan mengucapkan terima kasih, aku tidak suka kau mengatkannya, seolah-olah aku ini orang lain. Aku ingin kau menganggapku laki-laki milikmu, kita saling memiliki.” Ujarnya

Jiyeon mengangguk,

“Aku akan kembali ke rumah sakit.”

“Pergilah!” jongin berbalik dan membiarkan Jiyeon melangkah keluar.

.

.

.

As We Say Googbye

.

.

.

Sudah tiga hari di rawat di rumah sakit, kondisi Ji Chan masih belum pulih. Terkadang suhu tubuhnya turun, tapi kemudian naik dengan drastis. Para perawat di buat pusing dengan kondisi yang tidak stabil ini. Bahkan dari menu makanan pun Ji Chan sudah di jadwal dengan menu yang super higienis. Jiyeon semakin khawatir, bahkan ketika dia harus mendapatkan teguran karena setiap kali dokter ingin berdiskusi dengannya mengenai penyakit Ji Chan, dia selalu tidak ada di tempat.

Chanyeol merasa sedikit kesal juga menghadapi situasi ini, sampai-sampai dia harus menanyakan alamat rumah dan tempat bekerja Jiyeon pada pihak administrasi.  Dia merasa sedikit curiga dengan nama yang tertera di sana. Park Jiyeon. Nama ini sangat mendalam di benaknya, hanya saja apakah Park Jiyeon yang sama seperti yang dia bayangkan.

Dokter itu berhenti di depan gedung apartemen Jiyeon, dan memperhartikan lingkungan di sekitarnya dengan seksama. Tempat ini lumayan bersih dan terawat. Lalu kemudia, Chanyeol menatap sebuah minimarket di depan sana, dekat gerbang yang dikatakan Ji Chan tempat bekerja ibunya jika malam hari. Lokasinya dekat, dan pantas saja Ji Chan tidak takut menyusul ibunya untuk meminta makan jika dia lapar. Bocah itu sungguh cerdas.

Langkahnya lebar untuk mencapai pintu masuk gedung, dan dia melihat seorang penjaga sedang menonton acara teve di sana.

“Permisi!” sapanya

Petugas itu menoleh dan langsung berdiri, dia melihat Chanyeol yang berpakaian rapi dan bersih, layaknya orang kaya yang salah alamat.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya

Chanyeol mengangguk dan memberikan senyum.

“Apakah di sini tempat tinggal JI Chan?” dia tidak langsung menayakan nama Jiyeon.

“Ji Chan?”

“Ya. Usinya tujuh tahun dan ibunya bernama Park Jiyeon.”

Petugas itu kemudian mengangguk, sepertinya dia mengenal.

“YA, dia tinggal di lantai dua. Tapi sekarang dia tidak ada. Ji Chan masuk rumah sakit dan ibunya pasti menungguinya.” Ujarnya menjelaskan

“Apakah ibunya tidak ada di rumah sekarang?”

Laki-laki itu menggeleng lagi

“Dia bekerja.” Jawabnya. Chanyeol tahu, tapi tentu saja dia hanya ingin memastikan

“Saya ingin tahu, apakah selama ini  Ji Chan mendapat pengasuhan yang baik?” tanya Chanyeol lagi, tapi petugas itu mengernyit,

“Anda ini siapa? Dan ada hubungan apa dengan Ji Chan dan ibunya?”

“Agh, saya hanya ingin bertanya saja, karena kebetulan saya dokter yang merawat Ji Chan di rumah sakit. Saya ingin memastikan apakah ibunya memberikan perhatian yang cukup mengingat bahwa di bekerja.”

“Dia sangat menyayangi Ji Chan, Tuan. Dia bahkan tidak mempunyai waktu untuk bersenang-senang. Dia wanita yang baik.”

Chanyeol mengangguk. Dia semakin penasaran dan ingin bertemu dengannya. Hatinya berkata bahwa mungkin ini adalah Jiyeon yang dia kenal. Lalu Ji Chan?

Apakah Jiyeon pernah menikah dan mempunyai Ji Chan. Siapa laki-laki yang telah menikah dengannya.

“Chanyeol Oppa, apa yang paling kau impikan dalam hidupmu?”

Laki-laki itu tersenyum.

“Menjadi seorang dokter dan menjadi orang yang berguna untuk orang lain.” Jawab Chanyeol

“Kau sungguh mulia.”

Hari itu, adalah hari di mana Jiyeon berada di dalam pelukannya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama bahkan bercinta di saat-saat yang tidak tepat. Chanyeol selalu berusaha untuk meluangkan banyak waktu untuk kekasihnya.

“Apa yang paling kau inginkan dalam hidup ini Park Jiyeon?” Chanyeol meliriknya

Jiyeon menggeleng dan memilih untuk menyimpan jawabannya, karena hal yang paling diinginkannya hanyalah berada di sisi laki-laki yang dicintainya, hidup bahagia hingga akhir masa. Sebuah keinginan sederhana dari kehidupannya yang sederhana. Mungkinkah, Chanyeol akan menganggapnya sebagai wanita yang tidak mempunyai motivasi terlebih misi.

Chanyeol berjalan di lorong menuju ke ruangan Ji Chan di rawat. Dia hanya ingin melihat bocah itu dari dekat, berbicara dan memberikan semangat. Hasil test mengenai penyakitnya sudah di tangannya, dan hatinya begitu sesak merasakan semua ini harus terjadi pada bocah tampan itu. Terlebih ibunya yang selama ini berjuang untuk kehidupannya.

“JI Chan!” sapa Chanyeol. Bocah itu sedang membaca sebuah komik.

“Paman dokter, kau datang!” Ji Chan memberikan tempat di sebelahnya untuk ditempati dokter itu.

“Apa khabarmu hari ini, Jagoan!”

“Aku merasa sangat sehat sekali. Kapan aku akan pulang?”

Chanyeol merengkuh bahunya dan memberikan kecupan di kepala JI Chan.

“Sebentar lagi. Kau ingin pulang?”

“Ya, aku ingin pulang dan bersekolah lagi. Aku rindu teman-temanku.”

Chanyeol tersenyum.

“Perawat Han bilang tadi pagi teman-temanmu datng ke sini.”

JI Chan mengangguk dan menunjuk setumpuk hadiah dari teman-temannya.

“Mereka memberikan semua itu untukku. Banyak sekali, aku takut eomma akan marah padaku.”

“Tidak. Dia tidak akan marah. Hadiah itu kan dari teman-temanmu.”

JI Chan mengangguk. “Aku juga mendapat banyak komik.”

Chanyeol tersenyum. “ Bagaimana kalau aku memberikan hadiah untukmu?”

Ji Chan menggeleng,

“Tidak usah, aku sudah mendapatkan banyak. Eomma pasti akan marah jika aku mendapatkan hadiah dari laki-laki dewasa. Dia mungkin akan menikah dengan Paman Kim, karena dia bilang Paman Kim melamarnya.”

Chanyeol mengernyit.

“Menikah.”

“Ya, Paman Kim adalah laki-laki kaya. Mungkn jika eomma menikah dengannya, eomma tidak usah bekerja lagi dan kami bisa hidup dengan baik. “

Chanyeol berdiri, dia ingin menemui team dokter yang menangani khasus Ji Chan, tapi kemudian seoang wanita muncul di muka pintu.

“Dr. Park!” panggilnya,

Chanyeol berusaha untuk tersenyum,

“Aeri, aku baru saja ingin menemuimu.” Sambil memperlihatkan hasil test Ji Chan.

“Ow, begitukah?” Aeri menyapa Ji Chan dan tersenyum. “Boleh aku pinjam dokter tampan ini sebentar, Sayang?”

Ji Chan mengangguk

“Aku ingin membicarakan mengenai Ji Chan.” Ujar Chanyeol ketika mereka berada di luar ruangan,

“Kau bisa membicarakan masalah itu nanti, karena aku ingin mengatakan padamu tentang hari pernikahan kita yang dimajukan tanggalnya.”

Menikah.

Kenapa dalam beberapa menit saja, dia sudah mendengar kata menikah itu dua kali.

“Kapan?”

“Bulan depan.” Jawab Aeri,

Sebenarnya Chanyeol tidak menginginkan pernikahan ini, karena di dalam hatinya dia masih bertanya-tanya mengenai kecurigaannya pada Ji Chan dan ibunya. Apakah itu artinya dia masih berharap mengenai Jiyeon yang telah pergi meninggalkannya tanpa kabar berita. Bahkan kedua orang tua Jiyeon tidak sudi menjawab apapun mengenai putri angkatnya itu.

“Kenapa bisa dimajukan. Apa terjadi sesuatu?” Chanyeol menarik napas berat

“Ya, ayah sudah dalam kondisi yang lemah. Dia ingin kita segera menikah, dan memberikan cucu untuknya. Apakah menurutmu ini berlebihan untuk memajukan pernikahan, mengingat kita sudah lama di jodohkan. Delapan tahun karena aku menunggu karirmu berhasil sebagai dokter.”  Aeri terlihat seperti wanita yang sabar dan baik. Mungkin karena itulah Chanyeol menerima perjodohan ini, setelah Jiyeon pergi.

Dia mengangguk,

“Tidak.”

Sementara itu,  Jiyeon memasuki ruangan putranya dan melihat anaknya itu sedang tertidur dengan komik di atas dadanya. Jiyeon mendekatinya, dan mengusap keningnya.

Betapa kagetnya Jiyeon ketika merasa telapak tangannya seperti tersengat panas.

“Ji Chan!” panggilnya sambil mengguncang tubuh Ji Chan. Anaknya tidak membuka mata seperti biasa ketika Jiyeon memanggilnya. Dan barulah Jiyeon sadar, kalau Ji Chan tidak tidur, melainkan pingsan.

“DOKTEEEERRRRR!” terikanya histeris sambil berjalan keluar ruangan.

Chanyeol mendengar teriakan itu dan langsung melongok ke arah suara. Aeri ikut bangkit dari duduknya, dan mengikuti langkah Chanyeol.

Teriakan Jiyeon membuat suasana menjadi ramai. Beberapa perawat segera berlari mendekat dan masuk ke dalam ruangan Ji Chan.

“Ada apa?” Chanyeol bertabrakan dengan seorang perwat.

“Ji Chan!” sebut perwat itu, dan Chanyeol segera masuk ke dalam ruangan. Dia melihat beberapa perwat memeriksa konfisi bocah itu, dan ada seorang  wanita yang tengah menangis dengan tubuh gemetar tidak jauh darinya. Rambutnya panjang dan menutupi wajah itu. Namun Chanyeol tidak melupakan semua debaran ini. Dia ingin mendekati wanita itu dan mencari tahu apa penyebab jantungnya bisa berdebar aneh seperti ini, untuk menolong JI Chan.

“Dok, dia pingsan. Sebaiknya kita bawa ke ICU. Mungkin kondisinya kritis. Dokter sudah menerima hasilnya kan.” Chanyeol mengangguk

“Ya, sebaiknya masuk ICU. Siapkan tempatnya!”

“Dia kenapa? DIA KENAPA? ANAKKU KENAPAAA?” Jiyeon histeris dan mendekati salah satu perawat, namun perawat itu melirik Chanyeol.

“Dr. Park akan menjelaskan.” Ujarnya.

Tatapan Jiyeon langsung bertabrakan dengan dr. Park yang disebut perawat itu. Dengan gamang dia menatap dokter itu dan mundur seketika dengan wajah pucat. Tidak percaya bahwa dia akan bertemu lagi dengan manusia ini. Jiyeon berpaling ketika Chanyeol gemetar dengan apa yang dirasakannya.

“Jiyeon!” panggilnya.

Jiyeon menggeleng dan mencoba untuk mencapai putranya. Dia ingin memeluknya, namun para perawat itu menghalanginya karena Ji Chan sedang di persiapkan memasuk ruang ICU. Berbagai alat sedang dipasang di sana.

“Jiyeon!” panggil Chanyeol lagi.

Dia masih belum mau menjawab, tapi kemudian berbalik menghadapi dokter itu dengan sekuat hatinya.

“Terima kasih karena sudah merawat putraku, dokter.” Ujarnya lirih dan membungkuk. Chanyeol seperti merasa hatinya ditendang telak menerima sikap Jiyeon di depannya.

“Apa kabarmu?”

“Terima kasih karena Anda Ji Chan merasa sedikit terhibur.” Ujarnya sambil membungkuk lagi, tapi air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

“Jiyeon, apa yang kau lakukan. Berhentilah bersikap seperti itu!”

“Tolong selamatkan dia, dokter! Hanya dia yang aku miliki.” Jiyeon terus meneteskan air mata tanpa memperdulikan lirikan wanita yang baru masuk dan mendekati Chanyeol. Aeri menepuk bahu Jiyeon,

“Sabarlah Nyonya, kami akan menolong putra Anda. Kami akan melakukan yang terbaik.” Ujarnya membesarkan hati Jiyeon.

“Terima kasih! Terima kasih! Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk membiayai perawatan Ji Chan, asalkan jangan biarkan dia meninggal. Aku tahu, pasti terjadi sesuatu yang buruk padanya, dan ini salahku karena terlambat membwanya ke rumah sakit.”   Jiyeon tidak bisa berhenti menangis, membuat batin Chanyeol teriris.

Dia melirik Aeri dan mendorongnya keluar.

“Bisakah kau memberikan ongkos gratis pada mereka?” desak Chanyeol

“Oppa, bukan aku yang memiliki kewenangan itu. Semuanya harus di bicarakan dengan pihak menagement.”

“Ya, tolong dibicarakan dengan mempertimbangkan faktor moral dan hati nurani.” Chanyeol segera meninggalkan Aeri untuk menemui Jiyeon, tapi dia tidak menemukan Jiyeon di dalam ruangan itu lagi.

Di mana dia?

Chanyeol berlari untuk mencari Jiyeon di ruang ICU tapi di sana para perawt sedang sibuk menjaga Ji Chan.

Beberapa langkah kemudian barulah Chanyeol menemukan Jiyeon sedang terduduk lemas di dalam ruangan doa.

Wanita itu sedang menatap pada salib dan mengucapkan kata-kata tanpa suara. Jiyeon sedang berdoa dengan derai air mata dan ketika Chanyeol muncul, air matanya semakin deras mengalir, hingga sulit bernapas.

“Jiyeon!”

Chanyeol duduk bersimpuh di depan wanita itu. Melihat betapa kurusnya Jiyeon saat ini, kulit yang putih bersih itu terlihat tidak terawat. Bahkan kesan lelah itu membayang jelas di wajah cantiknya.

“Jiyeon, apa kabarmu?” Chanyeol berusah meraih tangan itu, tapi Jiyeon menghempaskannya.

“Pergilah, dan tolong Ji Chan, jangan perdulikan aku!” nadanya dingin dan datar.

“Aku akan menolong Ji Chan. Kau tenanglah, dia sudah berada di dalam ICU.”

“Baguslah kalau begitu.” Jiyeon menyusut air matanya, dan menatap Chanyeol dengan wajah sembab

“Aku hanya ingin bertanya padamu mengenai JI Chan.”  Chanyeol bertanya dengan hati-hati

“Dia anakku.”

“Aku tahu.”

“Apakah dia…”

Jiyeon menunggu lanjutan kalimat laki-laki di depannya. Dia tidak menyangka kalau Park Chanyeol, ayah kandung JI Chan yang akan menjadi dokter dari anaknya sendiri.

“Aku ingin mengatakan padamu, bahwa Ji Chan saat ini mengidap leukimia.” Jelas Chanyeol lirih. Jiyeon tersungkur dan menjatuhkan diri di lantai saat mendengar itu. Dia menangis dan meratap,

“Oh putraku tersayang..”

Tangannya memukul lantai dengan keras.

“Anakku…. kenapa kau harus mengalami semua ini.”

Dia mengangkat wajahnya dan menatap pada laki-laki di sampingya.

“Eomma bahkan belum bisa membuatmu hidup dengan baik, Sayang! Kenapa kau sudah harus mengalami penderitaan semacam ini. Biarkan eomma saja yang mengalami ini…..” Jiyeon terus meratap, tanpa memperdulikan Chanyeol yang menatapnya sedih. Dia mengusap rambut Jiyeon yang tergerai.

“Jiyeon, bersabarlah!” dia ingin memeluk wanita yang masih dicintainya itu.

Jiyeon menhempaskan tangan itu dan memberikan tatapan tajam.

“Aku sudah sangat sabar, dan menjadi manusia paling sabar selama ini untuk anakku. Kau tidak usah mengajariku bagaimana aku harus bersabar, dr. Park. Kau tak tahu apa-apa mengenai arti kata itu.”  Jiyeon berdiri dan ingin meninggalkan Chanyeol dengan kondisi emosi.

“Jiyeon!” Chanyeol menahannya dan mereka berhadapan,

“Apakah aku boleh tahu, kenapa kau sendiri. Di mana laki-laki itu?” tanya Chanyeol

“Siapa?” tanya Jiyeon lirih,

“Ayah Ji Chan.”

Jiyeon membungkam mulutnya dan meneteskan air matanya lagi. Kenapa Chanyeol menanyakan ayah Ji Chan. Apakah selama ini dia tidak menyadari kalau Ji Chan adalah anaknya.

“dr. Park Chanyeol yang terhormat, aku tidak tahu apa yang sudah kau alami selama ini, aku juga tidak tahu apa yang membutakanmu mengenai semua ini darimu. Dulu aku pernah datang padamu, dan mengatakan padamu mengenai kehamilanku, tapi kau hanya menganggap itu sebagai hal  yang konyol. Kau bilang kita selalu melakukan sex dengan aman. Tapi nyatanya aku hamil. Apa kau masih mengingatnya. Jadi sebaiknya kau pikirkan saja sendiri, siapa ayah dari Ji Chan. “

Chanyeol terpaku dengan wajah pias, dia ambruk dan memegangi kaki Jiyeon, memeluknya dengan hati perih.

“Jiyeon…. Jiyeon, maafkan aku! Maafkan  aku!”

“Aku melahirkan Ji Chan dan membesarkannya. Aku bekerja sekuat tenaga dan mengubur semua mimpiku hanya  untuk membesarkan anakku, dan aku tidak menyesal dr. Park. Aku sangat bahagia bisa melahirkannya. Dia sangat tampan dan cerdas. Kau pasti sudah menyadari hal itu, karena menurut ceritanya, kau dan dia sering berbicara.”

Chanyeol semakin erat mendekap kaki Jiyeon, dia tak tahan untuk menangis bersama kesedihan Jiyeon. Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan hukuman seberat ini.  Tidak di saat semuanya begitu jelas, namun dia harus menerima kenyataan bahwa putranya yang tak pernah diinginkannya itu menderita leukimia.

Jiyeon berusaha untuk melangkah.Tapi Chanyeol terus memegangi kakinya.

“Aku ingin melihat anakku, dr. Park!”

Chanyeol perlahan melepaskanya dan berdiri, dan meraih wajah itu. Sekali lagi Jiyeon menepiskan tangan itu agar tidak menyentuhnya.

“Jangan menyentuhku lagi!”

“Please! Aku mencarimu selama ini, Jiyeon!”

“Aku rasa tidak. Kalau kau mencariku, kau pasti menemukanku. Selama ini aku tidak terlalu jauh.”

“Aku bersumpah, aku  mencarimu.”

Jiyeon tidak memperdulikan kata-kata itu dan berlalu. Dia ingin berlalu dari semua masalah ini dan bisa hidup tenang bersama Ji Chan seperti semula. Air matanya mengalir deras,

Saat itu Jongin muncul dan mendapati Jiyeon tengah menangis,

“Jiyeon!”  laki-laki itu menangkap tubuh itu,  dan Jiyeon tanpa sadar menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Jongin.

Dia menangis dan menahan rasa sakit di dadanya di dalam dada Jongin yang langsung mendekapnya erat. Chanyeol menatapnya dan sesaat hilang akal.

“Jiyeon!”  sebutnya

Jongin menoleh dan memperhatikan kehadiran Chanyeol bingung

“Selamat malam dokter!” sapanya sopan.

“Park Jiyeon!” panggil Chanyeol lagi.

Namun belum sempat dia melakukan hal lain, Aeri langsung menyandingnya. Wanita itu menahan perasaannya demi melihat Chanyep bersimpuh dan memeluk kaki Jiyeon sesaat lalu. Entah apa yang telah terjadi diantara mereka, tapi yang jelas, pasti dulu ada hal yang sangat serius diantara mereka.

“dr. Park, aku ingin bicara denganmu.” Dia menarik tangan Chanyeol menjauh dari Jiyeon dan Jongin.  Laki-laki itu tak berkutik dengan situasi ini. Siapa laki-laki yang tengah memeluk Jiyeon dengan begitu mesra. Apakah dia Paman Kim yang dikatakan Ji Chan beberapa waktu kemarin.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Ji Chan belum sadar di hari kedua dia pingsan. Suhu tubuhnya masih diatas 370 C, dan Jiyeon hanya diijinkan sesekali masuk ke dalam ruangan. Ini sangat menyayat hatinya karena dia tidak bisa memeluk Ji Chan seperti biasanya.

Wajahnya sudah sangat sembab, dan tubuhnya semakin lemah. Dia tidak bisa melakukan semua pekerjaannya denganbaik. Pikirannya kalut memikirkan putranya yang malang.

Chanyeol menyandinginya duduk di bangku tunggu. Dia tidak tahan untuk melakukannya, walaupun Aeri mengatakan bahwa dia tidak boleh terlalu menunjukkan perhatian khusus itu pada Jiyeon demi menjaga perasaannya. Meski bagaimana pun juga, Chanyeol adalah calon suaminya, dan dia tidak bisa memperlakukan Jiyeon seperti dulu lagi, apapun kisah yang sudah mereka bangun di masa lalu, dan juga kenyataan yang harus Aeri terima bahwa Ji Chan ternyata adalah anak kandung dari calon suaminya ini.

“Apa kau baik-baik saja?” Chanyeol melirik dengan hati perih.

“Aku baik-baik saja. Kau jangan khawatir.”

“Aku sangat khawatir.”

“Tidak perlu.”

“Jiyeon, apakah dia laki-laki itu?”

“Siapa?”

“Yang memelukmu saat itu.”

Jiyeon mengangguk. “Ya.” Jawabnya singkat

“Ji Chan mengatakan padaku bahwa kau akan menikahi laki-laki itu.”

“Ya.” Jawab Jiyeon lagi,

Dia menahan napasnya. “Semua ini aku lakukan demi JI Chan.”

“jangan lakukan!”

“Kenapa tidak. Aku berhak memberikan kehidupan yang baik untuk anakku.”

Kalimat itu menusuk batinnya. Chanyeol sadar bahwa haknya sebagai ayah saat ini mungkin akan direbut oleh laki-laki itu.

“Biarkan aku menerima tanggung jawab itu.”

Jiyeon terkekeh getir dalam sikap duduknya. Dia melirik dan terus terkekeh dengan hati penuh luka saat mendengar Chanyeol mengatakan kalimat itu.

“Jiyeon!” Chanyeol berusaha menyadarkannya, karena Jiyeon tidak mau berhenti tertawa.

“Apa aku tidak salah dengar?”

“Park Jiyeon!”

“dr. Park, aku mengerti maksudmu, tapi kumohon jangan membuatku tertawa lagi. Sudah cukup aku menertawai kehidupanku, aku sudah lelah untuk tertawa.” Kalimat yang penuh dengan sarkasme yang menyakiti batinnya. Chanyeol memejamkan matanya.

“Bersikaplah seperti tidak terjadi sesuatu pada hidupmu. Kau hiduplah seperti biasa, jangan berlebihan atas hidupku dan Ji Chan. Hanya saja kau harus menyelamatkan Ji Chan, karena kau seorang dokter, tidak lebih. Dan aku akan menjalani pekerjaanku dan mencari uang sebanyak mungkin untuk membayarmu. Kau jangankhawatir, kalau semua yang kau lakukan itu tidak dibayar.”

Sekali lagi perkataan Jiyeon begitu menusuknya, namun Chanyeol pantas menerimanya. Dia memang manusia paling egois selama ini. Dia tidak pernah memikirkan bahwa ada kehidupan lain di luar sana yang memerlukan dirinya.

“Jiyeon, aku akan menyelamatkan anak kita.”  Jawab Chanyeol tenang.

Kemudian Jiyeon berdiri, matanya berkaca-kaca lagi, namun tak sudi dia keluarkan hanya karena Chanyeol mengatakan itu.

Anak kita.

Langkahnya setengah berlari meninggalkan laki-laki itu.

.

.

.

“Jiyeon!” Jongin memanggil Jiyeon yang baru saja keluar dari apartemennya. Laki-laki itu terlihat lega menemukan Jiyeon.

“Ada apa, Tn. Kim?”

“Berhentilah memanggilku Tn. Kim. Aku adalah calon suamimu.”

Jiyeon menunduk dan masih terlihat canggung.

“Aku akan melakukannya lain kali, maaf aku belum terbiasa.” Sahut Jiyeon

“Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”

Jiyeon mengangguk, dia tidak perduli seandainya Chanyeol melihat kehadiran mereka lagi,

“Ji Chan sudah sadar, tapi kondisinya lemah. Mulai nanti malam aku tidak akan meninggalkannya untuk bekerja.”

“Lagipula kenapa kau masih bekerja. Aku sudah menyuruhmu untuk tidak melakukan itu lagi, tapi kau keras kepala. Aku yang akan meanggung hidupmu, kau jangan khawatir.”

Jiyeon mencoba untuk tersenyum,

“Aku akan sangat merepotkanmu, Tuan….maksudku Jongin.”

“Hhh! Kau selalu berpikir seperti itu. Tidak mungkin kau merepotkan aku. “ Jongin menggandeng tangan Jiyeon, tapi mendadak ada sebuah mobil yang berhenti di depan mereka sesaat sebelum Jongin menginjak gas.

“YAAAK! Siapa itu yang berani mencegat kita?” makinya sambil melongok keluar.

Jiyeon melihat Chanyeol keluar dari mobil itu dan membuka pintu untuk Jiyeon. Dia menarik tangan Jiyeon dan membawanya pergi dengan mobilnya

Jongin yang tidak bisa berbuat apa-apa karena posisi mobil itu menghalangi mobilnya hanya bisa berteriak kesal. Meski dia megejarenya, namun kecepatan mobil itu tidak bisa disusulnya.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Chanyeol membawa Jiyeon ke rumah sakit. Seharusnya dia sudah bisa menduganya, laki-laki ini tidak mungkin membawanya ke mana-mana, karena Ji Chan sedang dalam kondisi kritis.

“Eomma, kenapa dr. Park memegang tanganmu seperti itu?” Ji Chan bertanya dengan suara lirih.  Jiyeon berusaha untuk melepaskan tangannya, namun Chanyeol tidak mengijinkan. Dia menatap Jiyeon dengan penuh permohonan

“dr. Park, kumohon jangan seperti ini!” Jiyeon merasa dirinya sangat rapuh. Dia tak sanggup untuk memberikan statement apapun pada putranya mengenai siapa Chanyeol sebenarnya.

“Ji Chan, maafkan eomma!”

Eomma?”  JI Chan menatap mereka bergantian,

Eomma tidak pernah mengatakan padamu mengenai siapa ayahmu.”

Ji Chan masih diam dan tidak mengerti. Tentu saja dia mengerti dengan cara seperti ini. Dia masih tujuh tahun, dan membuthkan banyak pengertian untuk membuat dia memahami, bahwa laki-laki yang tengah memegang tangan ibunya adalah ayah kandungnya yang tak pernah dia ketahui.

“Ji Chan, mungkin ini kesalahanku karena aku tidak pernah mengetahui mengenai dirimu.” Chanyeol melirik Jiyeon yang menatapnya tak berdaya.

“Kau bukannya tidak tahu, kau seharusnya tahu. Apa kau tidak pernah menerima kabar ketika aku melahirkan?”

Chanyeol mengernyit tak mengerti,

“Aku tidak tahu, Jiyeon.”

“Tentu saja tidak tahu, atau mungkin kau tidak mau tahu. Waktu itu, Soyeon memergokiku ketika aku baru saja keluar dari rumah sakit setelah melahirkan Ji Chan.”

“Soyeon?”  Chanyeol benar-benar kaget.

“Dia melihatku, dan menatap Ji Chan yang berada dalam gendonganku. Dia bertanya mengenai Ji Chan, dan aku mengatakan padanya bahwa Ji Chan adalah anakmu. Aku sendirian, dr. Park. Tidak ada siapapun bersamaku, tapi aku merasa bahagia bersama Ji Chan. Dia adalah semangatku, karena dia aku menjadi manusia yang kuat. Aku bangga pada diriku sendiri. Bolehkan aku merasakan kebanggan ini?“

“Jiyeon, maafkan aku!”

“Aku sudah memaafkanmu sejak dulu.” Jiyeon menunduk. Namun dia tidak berharap ungkapan maaf itu bisa membawa Chanyeol kembali padanya.

“Tapi Soyeon tidak pernah mengatakan apapun padaku.”  Chanyeol merasa geram dengan dirinya sendiri.

“Aku sudah menduganya.”

Chanyeol akhirnya melepaskan tangan Jiyeon dan berjalan mendekati Ji Chan. Dia mengusap wajah itu dan memberikan kecupan di keningnya. Jiyeon tidak sanggup melihatnya, dia berpaling dan menolak untuk menerima apa yang dilihatnya. Chanyeol terlalu mudah untuk mendapatkan perhatian dari Ji Chan.

“JI Chan,..”

Bocah itu menoleh pada laki-laki yang menatap wajahnya dengan penuh aura bahagia.”

“Apa kau senang jika aku adalah ayahmu?”

Ji Chan menoleh ibunya yang tidak ingin memperhatikannya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

“ Aku yang bersalah, karena saat eomma mu mengandungmu, aku begitu egois dengan rencana hidupku sendiri. Aku ingin menjadi seorang dokter, aku ingin berhasil sehingga tidak memikirkan dirimu. Aku sangat berdosa padamu, menelantarkanmu dan membuat hidup kalian menderita.”

Chanyeol memeluk JI Chan, dan Jiyeon memilih untuk berlalu.  Di depan pintu dia bertabrakan dengan wanita itu, Aeri yang sejak tadi memperhatikan mereka.

“Maaf!” Jiyeon membungkuk dan melanjutkan langkahnya, tapi Aeri memanggilnya.

“Nyonya Park!”

Jiyeon menoleh, dan melihat air muka wanita itu begitu mendung. Dia adalah wanita cantik dan berkelas, dia sangat elegan dan terlihat sangat berwibawa. Jiyeon tahu kalau wanita ini mungkin memiliki hubungan dengan Chanyeol,karena sejak beberapa hari lalu, dia selalu mengikuti gerak geriknya juga Chanyeol.

“Bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?”

Jiyeon tak mengiyakan namun Aeri memberinya jalan untuk mengikutinya. Ya, dia membawa Jiyeon memasuki ruangan yang begitu nyaman. Di sana, di atas meja  kerja itu tertera papan nama wanita ini yang menyebutkan bahwa dia adalah manager dari rumah sakit ini.

Moon Aeri.

Jiyeon masih berdiri dan tak berani untuk duduk.

“Kenapa masih berdiri?”

Jiyeon merasa seperti orang bodoh di hadapan wanita ini. Dia tak pantas berada di sini.

“Aku….”  dia menarik napasnya dalam-dalam dan merubah posisi duduknya dengan menumpangkan kakinya di sebelahnya.  Sikapnya anggun dan penuh pengendalian diri. Sebentar-sebentar dia menoleh pada sebuah foto yang tergeletak di atas mejanya. Jiyeon tak kuasa untuk melihatnya. Di sana di dalam foto itu, Chanyeol tengah tersenyum bersama dengan wanita di depannya ini dengan penuh kebahagiaan.

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Belakangan masalah yang terjadi di rumah sakit ini membuat kepalaku pusing, terlebih mengenai khasus putramu…”

Di berhenti lagi,

“Aku dan dr. Park telah bertunangan. Kau pasti sudah tahu mengenai ini.”

Jiyeon menunduk menaha hatinya yang teriris. Dia sudah tahu, dan sekarang dia menjadi lebih yakin. Lalu apakah dia berharap Chanyeol untuk kembali padanya. Jiyeon tidak pernah bermimpi untuk itu, meski dia masih mencintainya.

“dr. Moon, anda tak perlu mencemaskan mengenai kami. Maksudku aku dan Ji Chan. Kami tidak akan mengganggu hubungan kalian. Aku bertahan di sini, karena aku menginginkan kesembuhan untuk putraku. Ini tidak seperti yang Anda pikirkan.”

Jiyeon membungkuk dan menahan rasa perihnya. Dia hanya  masih mengingat semua kemesraan yang pernah terjalin antara dirinya dan Chanyeol yang kemudian menghadirkan Ji Chan dalam kehidupannya.  Bagian dari masa lalu itu masih begitu membekas.

Aeri mengangguk dan menggigit bibirnya. Ternyata Jiyeon tidak seperti yang dia kira. Wanita ini sangat santun dan penuh pengertian. Mungkin karena kebodohan Chanyeol dia harus menghadapi dunia ini sendirian bersama putranya. Gossip di rumah sakit ini cepat menyebar, dan lambat laun akan terdengar di telinga orang tuanya, bahwa calon suaminya, yang otomatis akan memegang tampuk kekuasaan di rumah sakit besar ini, mempunyai anak haram dengan wanita yang dulu di pacarinya ketika SMA.

Aeri menekan keningnya kuat-kuat, mencoba memikirkan jalan terbaik. Sisi dari hati wanitanya tidak menginginkan Chanyeol berlalu darinya, namun dia pun memikirkan masa depan Ji Chan. Bagaimana anak itu tumbuh tanpa seorang ayah yang bodoh seperti calon suaminya. Jiyeon terlalu lemah untuk menjadi wanita, atau dia memang tidak berdaya.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Sudah berlalu satu bulan. Kondisi Ji Chan semakin memburuk. Rambutnya harus rontok karena harus menjalani beberapa kemoterapi yang membuatnya harus kesakitan. Jiyeon selalu bersamanya, tersenyum dan menangis bersama. Namun hatinya selalu dia kuatkan untuk tetap bisa bertahan di sisi putranya.

Kehadiran Chanyeol pun sangat membuat semangat Ji Chan untuk sembuh berlipat ganda. Chanyeol menunjukkan padanya bagaimana dia mengasihi Ji Chan dan memberikan perhatian ekstra yang tak pernah terpikirkan oleh Jiyeon sebelumnya.

Mungkin Jiyeon bahagia, mungkin juga tidak. Namun dia tersnyum, tersenyum untuk putranya. Dia ingin memberikan kebahagiaan yang lengkap pada Ji Chan. Keluarga yang utuh seperti yang dia impikan.

Mungkinkah

Jongin belakangan ini tidak terlihat, kabar mengatakan bahwa beberapa warga komplek melaporkan Jongin pada pihak kepolisian mengenai tindak penipuan yang dia lakukan. Jiyeon merasa terpuruk kembali. Laki-laki yang ingin menikahinya menjadi buronan polisi, apakah ini pantas untuk kehidupan Ji Chan.

“Kau sedang berpikir apa?”

Tangan Chanyeol menepuk pundaknya.

“Tidak.”

Laki-laki itu duduk dan terdiam bersama bersama kesunyian Jiyeon. Mereka hanya duduk dan menatap sesuatu di depan mereka tanpa berkata-kata. Waktu berlalu hingga belasan menit sesudahnya, dan langit mulai menggelap bersama semua hawa yang teramat sejuk dan menusuk pesendiannya. Jiyeon berdiri, melangkah dan meninggalkan Chanyeol tanpa kata-kata.

Tatapan Chanyeol mengekor di belakangnya. Jiyeon terlihat lebih tenang belakangan ini, namun punggung itu terasa begitu sepi. Berapa banyak peristiwa yang tidak diketahuinya, dan berapa banyak air mata yang telah dia tumpahkan demi membesarkan Ji Chan yang begitu dibanggakannya.

Chanyeol tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia malu dan tak bisa melakukan banyak hal selain berusaha untuk membua Ji Chan terlihat bahagia diantara rasa sakitnya.

Angin berhembus kencang dan menerbangkan anak rambut Jiyeon yang selalu dibiarkan tergerai. Hati Chanyeol terenyuh melihat wajah raut cemas itu selalu membayang di sana. Ingin rasanya dia memeluk Jiyeon dan menghangatkannya, mencoba membiarkan Jiyeon untuk menikmati bidang dadanya— kembali. Setelah sekian lama.

Langkah kaki Chanyeol berjalan lirih di belakangnya, tidak berani mendekat dan jujur, dia begitu takut membuat Jiyeon menangis lagi.

Jiyeon terus berjalan hingga langkah kakinya mencapai ruangan di mana Ji Chan sedang terbaring dengan wajah pucat. Kepalanya telah botak, dan kulit di sekitar wajahnya menggelap dengan sendirinya. Hati Jiyeon tersayat melihat kondisi putranya. Dia ingin berteriak, namun pada akhrnya hanya kesunyian yang meliputinya. Terduduk lemas dan menatap dengan bgitu banyak friksi.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

“Soyeon!” panggil Chanyeol ketika melihat sepupunya itu melintas di koridor rumah sakit. Untuk sejenak gadis itu memperhatikan Chanyeol, namun demi melihat ada Jiyeon di belakangnya, gadis itu segera berlari untuk menyembunyikan dirinya.

“YAK PARK SOYEON!” Chanyeol berusaha untuk mengejar, tapi Jiyeon menahannya.

“Tidak penting lagi!”  Jiyeon memalingkan wajah untuk menyambut kehadiran Aeri. Dia membungkuk pada wanita itu dan berlalu, meninggalkan Chanyeol bersama dengan wanita itu dengan hati pedih.

“dr. Park, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

Chanyeol melirik Jiyeon yang sudah melangkah agak jauh darinya.

“Aku akan melepaskanmu!” bisik Aeri dengan tatapan pasti. Senyumnya terasa getir dan menyakitkan, namun mungkn inilah yang seharusnya dia lakukan, karena sebenarnya dia tidak pernah melihat cinta di benak Chanyeol untuknya. Semua kisah pertunangan ini hanya seperti sebuah janji dan tanggungjawab semata. Akan menyedihkan jika semua ini dilanjutkan. Akan menjadi tragedi yang berkepanjangan.

Chanyeol tertegun sejenak untuk menyimak semua perkataan itu—

“Apa yng terjadi dengan dirimu?”

“Kau seharusnya berterima kasih padaku, dan bukan mengatakan kata-kata bodoh seperti itu. Manusia sepertimu sudah sepatutnya mendapatkan ganjaran berlipat ganda sebagai sanksi atas semua kebodohan yang telah kau lakukan di masa lalu.”

Aeri berpaling untuk meninggalkan Chanyeol. Dia berusaha untuk tegar menghadapi semua ini.

Chanyeol menatap punggung itu, dan mengucapkan terima kasih dengan segenap hatinya. Dia merenungkan apa yang telah dikatakan Aeri padanya. Memang benar dia telah mendapatkan ganjaran itu. Semua yang telah dilakukannya di masa lalu adalah sebuah kebodohan.

“Jiyeon!” Langkah kakinya berlari untuk menyusul Jiyeon yang telah menghilang dari pandangannya. Laki-laki itu mencarinya dan terus berlari ke seluruh tempat, bahkan ke tempat yang paling tidak mungkin sekalipun. Mungkin Jiyeon sedang bersembunyi dan menangis diam-diam.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Ji Chan menatap Jiyeon dengan tatapan tak mengerti. Sudah beberapa hari ini, Jiyeon menemukan tatapan seperti itu dari putranya. Hatinya tersayat setiap kali Ji Chan menatapnya dengan sebuah senyuman yang begitu manis, lalu menggenggam tangannya dengan seluruh kerapuhannya.

Eomma, aku menyayangi Eomma.” Bisiknya tanpa suara.

Jiyeon membalas senyum itu dan menitikkan air mata. Dia  mendekati Ji Chan dan menyentuh wajah pucat itu.

“Eomma love you too!”

“Eomma jangan pernah berpisah dengan Appa lagi. Ji Chan mau eomma dan Appa tingal di rumah kita, bersama, dan eomma tidak lagi bekerja malam. Ji Chan mau eomma tidak lagi menangis diam-diam.”

“Kapan eomma menangis diam-diam? Apakah Ji Chan pernah melihat eomma menangis, Sayang?”

“Nde, eomma menangis waktu mencuci piring, dan menjahit baju sobek Ji Chan.

Jiyeon mengusap kening JI Chan dan tersenyum. Ternyata putranya selalu memperhatikannya. Bocah tujuh tahun ini peka terhadap kondisi hatinya.

“Maafkan eomma karena tidak bisa membuatmu hidup dengan baik. Bahkan harus menderita sakit seperti ini. Salahkan eomma karena eomma tidak berhasil memberikan kehidupan yang layak untukmu, Ji Chan.”

Chanyeol mendengarny di luar ruangan, dan dia terduduk dengan air mata yang mengalir deras. Pembicaraan itu terasa memilukan. Dia tidak pernah ada dalam kehidupan mereka ketika mereka mengalami semua kesulitan itu.

Chanyeol sadar, bahwa Ji Chan mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi, namun dia tidak tega untuk mengatakannya pada Jiyeon. Hati wanita itu akan hancur berkeping-keping jika mengetahui bahwa Ji Chan akan meninggalkan mereka.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Jiyeon menerima sebuah panggilan masuk ketika Ji Chan sedang tertidur. Dia keluar sebentar untuk menerima panggilan itu.

“Jongin, kau di mana?” Jiyeon menanyakan keberadaan Jongin yang selama ini menjadi buron kepolisian.

“Jiyeon, aku membutuhkan uang. Aku dalam kesulitan. Bisakah kau memberikan aku uang sekarng juga?”

“Kau  di mana?”  Jiyeon memperhatikan sekelilingnya. Semua terlihat sepi, malam ini.

“Aku tidak jauh darimu. Bisakah kau keluar dan menemuiku. Aku berada di depan rumah sakit.”

“Jongin, aku belum punya uang untuk membayar hutangku waktu itu. Kau tahu sendiri Ji Chan memerlukan banyak biaya.” Terdengar sebuah dengusan panjang. Sepertinya Jongin memang sedang dalam kesulitan.

“Bisakah kau meminjamkan dulu pada dokter itu. Aku benar-benar membutuhkannya untuk melanjutkan hidupku.”

“Jongin, apa yang telah kau lakukan, kenapa kau seperti ini?”

“Jiyeon, berhentilah bertanya dan berikan uang itu padaku secepatnya. Aku menunggu.”

“Jongin, aku tidak berani meminjam uang darinya.”

“SIAPA?” mendadak suara itu terdengar di belakang Jiyeon,

“Agh, dr. Park!”  Jiyeon menutup ponselnya, dan menympannya lagi. Wajahnya panik melihat tatapan Chanyeol menyerangnya. Apa yang dilakukan dokter ini di sini. bukankah seharusnya dia pulang.

“Kau bicara dengan siapa?” tanyanya sambil ikut memperhatikan sekitarnya, mengikuti Jiyeon

“Seseorang.”

“Apakah laki-laki buron itu?”

“Kau tahu?”

“Kenapa kau masih berhubungan dengan dia?”

Jiyeon menunduk,

“Aku meminjam uang darinya, dan dia menuntutnya kembali.”

“Dia berani menagihnya?”

Chanyeol terlihat geram.

“Berapa hutangmu padanya?” Chanyeol mengeluarkan dompetnya, dan berniat mengeluarkan lembaran uang dari dalamnya.

“Serbu won.” Tangannya berhenti, dan menghela nafas, kemudian menyimpan dompetnya kembali ke dalam celana. Jiyeon mengita Chanyeol tidak jadi memberinya uang,tapi

“Aku tidak mempunyai cash money sebanyak itu, aku harus mengambilnya dulu ke ATM.”  Chanyeol menggandeng Jiyeon ke arah mesin ATM yang terletak di lobby rumah sakit sambil menggerutu.

“Laki-laki macam apa yang berani menagih hutang ke pacarnya.”

“Dia bukan pacarku.” Bantah Jiyeon sengit

“Bukan pacar, tapi kau akan menikah dengannya.”

“Memang benar.”

“Kau mau menikah dengan laki-laki yang meminta uang darimu?”

Jiyeon diam ketika Chanyeol menoleh ke arahnya.

“Bukan urusanmu!” Jiyeon berusaha membela diri

“Sekarang menjadi urusanku, karena Ji Chan adalah anakku. Memangnya aku sudi dia hidup bersama laki-laki seperti itu.”

Jiyeon tidak bisa menjawab. Mereka tiba pada mesin ATM.  Setelah mengambil beberapa lembar won, Chanyeol menatap Jiyeon.

“Di mana dia?”

“memangnya kenapa, biarkan aku yang menyerahkan uang ini padanya.”

“Dia mungkin di luar. Tadi dia mengatakan begitu.”

Chanyeol segera melangkah keluar rumah sakit, dia berdiri sebentar di bawah lampu untuk memperhatikan halama yng tampak lengang. Sekarang sudah jam sebelas malam, dan semua aktivitas sudah dihentikan untuk menjaga ketenangan pasien.

Chanyeol terus melangkah, diikuti tatapan Jiyeon dari dalam. Beberapa menita kemudian, dia melihat bayangan Jongin  menghampiri Chanyeol. Mereka berdiri berhadapan untuk pertama kalinya.  Chanyeol menyerahkan uang itu, dan mengatakan sesuatu pada Jongin, tapi Jiyeon tidak bisa mendengarnya.

Dokter tampan itu menoleh ke arah Jiyeon, begitupun dengan Jongin. Dia terlihat kusut dan berantakan. Mungkin benar sekarang kehidupannya sedang sulit. Kasihan. Jiyeon memang tidak memiliki poerasaan apapun pada laki-laki itu, tapi dia ingin mengucapkan terima kasih karena Jonginlah, Ji Chan bisa di beri pertolongan secepat mungkin.

Jongin menatapnya untuk terakhir kalinya. Mungkin dia sedang mengucapkan perpisahan. Jiyeon tidak bisa memberikan respon selain lambaian tangan.

Setelah itu dia melihat Chanyeol berjalan ke arahnya dengan wajah cerah.

“Apa yang kau katakan padanya?” Jiyeon berusaha mengorek keterangan dari dokter tampan itu

“Tidak jelas. Aku lupa telah mengatakan apa, dia sungguh bau sampai aku harus menahan napas agak lama di depannya.” Kelakarnya sambil melangkah.

Jiyeon merengut kesal mendengarnya.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

“Jiyeon, ayo kita pergi ke Amerika!” ajaknya

Jiyeon menoleh heran.

“Untuk apa?”

“Aku ingin JI Chan diobati di sana.”

Jiyeon merenung sebentar. Dia berpikir kritis dan menelaah semua itu dengan teliti. Kenapa Chanyeol ingin Ji Chan diobati di Amerika. Bukankan ilmu kedokteran di Korea sudah sangat hebat, dan tidak kalah dengan ilmu kedokteran di luar negri.

“Berapa persen kemungkinan untuk sembuh?”  Jiyeon sedang mendustai diri sendiri, dia sudah tahu bahwa Ji Chan mungkin tidak akan bertahan lama, tapi semua kemungkinan masih bisa di usahakan.

“Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.”  Chanyeol mencoba untuk meraih tangan Jiyeon yang sedang sibuk dengan gelas minumnya.

“Aku—“

“Kita akan usahakan yang terbaik untuknya.”

Jiyeon menerima tangan Chanyeol meraihnya, meski hatinya hancur berkeping-keping menyadari bahwa kehidupan putranya sedang diambang batas.

Mereka saling menatap sebentar untuk saling memahami perasaan yang sekian lama terpendam.  Jiyeon sungguh tak bisa menahan getaran hatinya saat Chanyeol meraihnya dan membawanya dalam pelukannya.

“Ayo kita menikah, dan memberikan kebahagiaan untuk Ji Chan.” Bisiknya.

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Waktu bergulir dengan sendirinya. Ji Chan terlihat lebih baik dengan kebersamaan kedua orang tuanya. Kesehatannya membaik, ketika melihat ayah dan ibunya menikah dan hidup bersama di bawah atap yang sama.

Dia merasakan kebahagiaan yang lengkap dan manis, merasakan bahwa cinta mereka hanya untuknya.

“Aku ingin kita berlibur, Appa!” ocehnya.

“ Ke mana?”  Chanyeol mengusap kepala Ji Chan yang mengenakan topi. Dia malu karena kepalanya botak.

“Aku ingin ke pantai.” Uajrnya lepas.

Jiyeon memeluknya dari belakang, dan memperhatikan polahnya yang ceria.

“Oke, kita akan ke pantai besok.”

“Jinjja?”  dia melebarkan senyumnya sambil memeluk Chanyeol dengan hangat.

“Ya, tapi kau harus berjanji untuk rajin belajar, karena sebentar lagi kau akan ujian kenaikan kelas.”

JI Chan mengangguk penuh semangat,

“Aku berjanji!” Dia berlari ke arahkamarnya.

“Kau mau ke mana?”

“Aku mau tidur. “

Jiiyeon dan Chanyeol saling menatap,

“Appa, eomma, tolong buatkan aku adik yang lucu agar aku tidak kesepian?” senyumnya mengambang dengan lucu. Jiyeon menunduk malu denan ocehan putranya yang begitu cerdas itu. Dia seperti ayahnya.

Chanyeol menggeser duduknya mendekti Jiyeon, dan menumpangkan dagunya pada bahu istrinya. Tatapannya begitu lembut dan sayu.

“Aku belum ingin memberikan adik untuk Ji Chan, Oppa.”  Jiyeon mendorong kepala Chanyeol menjauh darinya, tapi tangan suaminya itu menariknya hingga Jiyeon duduk dipangkuannya.

“Kau tidak memanggilku dr, Park lagi?” bisik Chanyeol penuh harap.

“Apa kau berharap aku memanggilmu dr. Park?”

“Ya.” Sahut Chanyeol

“Jadi kita akan bermain dokter-dokteran lagi?” Jiyeon memicing sengit.

“Ya, kali ini kau boleh menjadi dokternya.” Ungkap Chanyeol nakal. Jiyeon tertawa lirih melihat ekspresi suaminya yang begitu berharap padanya.

“Ara, aku akan menjadi dokter yang profesional untukmu, Oppa.”

“Baiklah Sayang. Ayo kita mulai!” Chanyeol bangkit dan menarik tangan Jiyeon ke kamar.

“Kau harus memanggilku dr, Park!”  ujar Jiyeon kemudian, tapi Chanyeol melirik aneh.

“Sepertinya tidak ada bedanya. Aku dr. Park, dan kau dr. Park.”

Jiyeon terkekeh,

.

.

.

As We Say Goodbye

.

.

.

Ji Chan berjalan pelan diantara pasir. Dia menghirup udara laut sebanyak mungkin. Saat ini, musim dingin tidak terlalu dingin, dan semua tampak sangat indah bagi Jiyeon. Dia bisa merasakan kebahagiaan meski semua itu masih labil. Kebahagiaan ini masih menjadi tanda tanya baginya.

“Aku terus memantau kondisi Ji Chan sampai detik ini.” Ujar Chanyeol dalam langkahnya di sisi Jiyeon. Mereka menamani putra merka menikmati pantai. Ji Chan mengenakan pakaian tebal untuk melindunginya dari hawa dingin.

“Lalu—“  Jiyeon menunggu

“Aku berharap dia—“ ucapan Chanyeol terhenti ketika melihat Ji Chan tersungkur di atas pantai.

“JI CHAAAAAAAN!” teriak Jiyeon histeris. Dia berlari di belakang Chanyeol

Tubuh itu ambruk tanpa ampun. Dari hidungnya mengalir darah segar. Chanyeol segera memereiksa denyut nadinya. Ji Chan masih hidup,namun dia terlalu lemah. Dia segera menggendongnya, dan membawanya berlari menuju mobil mereka.

Tak ada lagi kalimat yang berlanjut, karena semuanya tidak berarti. Apa yang diinginkan Chanyeol tidak mungkin terwujut. Dia gemetar dan terus menatap wajah putranya yang sedang terpejam.

“Ji Chan..” Jiyeon terisak sambil memengangi tangan Ji Chan dalam gendongan Chanyeol. Semua pikiran buruk itu tanpa ampun hinggap di kepalanya. Apakah ini saatnya—

Apakah waktunya telah tiba?

Chanyeol langsung membawa Ji Chan ke ruang gawat darurat dan memberikan pertolongan.

Suara denyut jantungnya mulai melambat, dan akhirnya senyap.

Chanyeol menatap gamang pada monitor yang memberikan garis lurus dengan suara dengung panjang yang menyayat hati. Semua diam, tidak ada dari mereka menyuarakan sesuatu. Chanyeol menatap putranya yang tengah terpejam dengan wajah yang tersenyum. Dia sangat damai dan tenang. Kakinya mendadak lemas dan ambruk berlutut di depannya. Suara tangisanya tenggelam dalam sesak. Ini adalah hal yang tak pernah dia inginkan, namun juga tak bisa dia hindari.

Jiyeon mendekat dan memeluk tubuh putranya dengan penuh kasih. Dia tak bisa menangis— lagi.

Hatinya perih, namun dia tidak ingin menangis lagi. Dia ingin tersenyum melepas kepergian putranya.

“Maafkan eomma, karena baru sebentar eomma memberikanmu kebahagiaan. Tunggulah eomma di sana, kita kelak akan bertemu lagi sebagai keluarga yang lengkap. ”

Dia terbaring di sisi putranya dan memeluknya. Mengecupnya, dan merasakan tubuh itu berangsur dingin.  Chanyeol menatap semua itu dengan isak tangis.

Dia tidak mudah mengucapkan perpisahan, terlebih saat pertemuan ini baru saja terjadi.

.

.

.

Jiyeon duduk menatap wajah Ji Chan di dalam foto. Chanyeol duduk di sebelahnya, memeluknya dan memberikan kehangatan untuknya.

“Ini sangat miris, di saat kita menatapnya seperti ini, kenapa aku merasa bahwa dia sedang tersenyum pada kita, Oppa.”

“Kita tidak pernah benar-benar berpisah darinya Jiyeon. Dia akan selalu berada bersama kita.”

Jiyeon mengangguk. Ini sudah satu bulan setelah kepergian Ji Chan, dan Jiyeon masih berkabung dengan perasaan duka yang begitu mendalam. Hanya saja dia tidak ingin bersedih sepanjang waktu, meski hatinya begitu perih, dan merasa sangat kosong dengan tidak adanya Ji Chan dalam hidupnya, Jiyeon terus berusaha untuk menjalani hidup ini apa adanya.

Dia meraba perutnya,

Di dalam rahimnya, dia telah mengandung janin yang baru berumur dua minggu. Ini adalah permintaan terakhir Ji Chan untuk memebrikan dia adik yang lucu. Ketika dia mengucapkan itu, dia sudah bisa mereka-reka, bahwa dengan kepergiaannya, maka kepergiaanya akan tergantikan oleh kehadiran sosok lain lagi yang akan membahagiakan kehidupannya.

Jiyeon menelusupkan kepalanya dalam pelukan Chanyeol.

“Oppa, aku hamil!”

Kali ini, Chanyeol langsung memeluknya. Dia menatap Jiyeon dan membawa Jiyeon semakin masuk dalam dekapannya.  Sepertinya Tuhan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya atas Ji Chan.

.

.

.

END

Note.

Ini ff aku tulis dalam waktu satu hari.  Hari ini, Sabtu, setelah pulang dari pasar, tapi gajadi beli bendera. inspirasinya mengalir dengan lancar [bukan karena bendera, tapi Pak RTnya/halah/], dan kenapa Chanyeol. Aku gak tahu….

Semoga bisa dinikmati ….

 

Advertisements

42 Comments Add yours

  1. Ngingetin sama mini series BAM Aliando – Prilly.. Tapi,syukurlah ini happy ending, yaa meskipun tanpa ji chan.. Ikut kecewa saat chanyeol lari dari tanggung jawab waktu Jiyeon ngaku hamil anak dia, ikut kesel sama soyeon, salut sama moon aeri yg mencoba untuk merelakan chanyeol kembali memperbaiki hubungannya sama Jiyeon, ikut terenyuh dan tersentuh kasih cinta sayang nya Jiyeon demi ji chan, sedih ji chan pergi tapi Tuhan memang selalu memiliki rencana yang paling indah.. ChanYeon happy ending…. ❤❤❤

  2. risna says:

    Lucu pas Ka Lana ngomongin soal bendera di fb. Eh.. ko jd ke bendera?? Ceritanya sadaap bikin terenyuh, jiyeonnya sabar banget. Ehh.. Soyeon malahan kabur

    1. iineey says:

      Jd ini terinspirasi jd bendera, pak RT apa chanyeol wkwkwkwk
      Ini ff romance nya dikit tp ini ff bener2 bikin miris bgt
      Ga tega euy ngebayangin kehidupan jiyeon n ji chan yg super miris
      Tp overall ini ff daebakkk aku bacanya terharu bgt

      1. mochaccino says:

        iya di fb kemaren itu aku post status, ttg bendera. lucu aja sih menurut aku. sebenarnya gada hubungannya sama ff ini, cuma buat lucu-lucuan aja, abis berharu-haru ria, ngikik dikit gapapa. begitu. betewe makasih sudah ikutan ngomen di sini

  3. amalina says:

    Happy ending..
    Kirain jiyeon bakalan nikah amaama jongin, ternyata jongin buronan toh.
    Jiyeon keilangan ji Chan tapi dapet chanyeol sama anak lagi.

  4. latifahfahmi says:

    ahhh g rela ji chan pergi 😥
    tpi untungnya sekarang bakalan ada yg gantiin Ji chan,,
    semoga aja Jiyeon + Cahnyeol selalu bersama 😀

  5. kwonjiyeon says:

    Sedih bnget sampai air mata terus nangis g bs nahan bner2salut sma kmu lan
    Tpi apa hubnya ama pak rt????????????
    Duh yg udah jdi nyonya lgi ngapain yah
    Aaaaaaaaah jdi iriiiii
    …………fwnya mn d tunggu bnget

    1. mochaccino says:

      pwnya ada di page password, dan password masuk page itu aku kirim ke mana ya…. ke fb aku aja, deh mending.

    2. kwonjiyeon says:

      K gmail juga boleh beb dah bs kok
      K tunggu bngit

  6. Kina J says:

    Dapet bngt feel nya..gk thu mau komen apa yg jelas suka bngt sama ff ini..daebak buat kak lana..

  7. mhilaji says:

    Syumpah ditengah tengah mhila nangis pas jiyeon begitu teriris dengan kehidupannya…
    Kirain jongin bakal nikah dengan jiyeon ternyata enggak… sempat mikir kok jiyeon mau mau aja .. pada hal kesan pertama saat kemunculan jongin sudah bisa di tebak. Ia pria rusak (?) *di daerah mhila kata RUSAK lagi marak maraknya ditunjukkan untuk anak chabe . Anak keras kepala. Anak egois. Dan segala jenis yang sifatnya agaj kurang.*
    .
    Salfok ke aeri duhh aku pikit aeri bakal jadi wanita yang menyebalkan .. tapi aku salah aeri orang yang baik dan cerdas chanyeol memang tak pantas bersanding dengannya.
    .
    Tentang ji chan sumpah agak nyesek bacanya, entah ini alay atau terlalu merasakan perasaan ji chan dan ketakutan jiyeon.. huhuhu milaa pennangis kak lana….
    .
    Agak gak suka chanyeol dengan mudahnya masuk dalam kehidupan jiyeon lagi. Tapi yah jiyeon tak ada pilihan ia ingin ji chan sembuh dan juga masih memiliki perasaan dan mungkin itu waktu yang tepat untuk menggapai cita citanya hidup bersama chanyeol . Hidup disisi pria itu.
    .
    Akhir kalimat mila gak bisa bilang apa apa lagi. Ji chan kuu telah tiada huhu entah kenapa aku suka ji chan kak lana…
    .
    Hidup tak harus di persulit . Cukup bangkit dan menjalani hidup normal, mengembangkan senyum bukan berarti melupakan yang telah tiada. .
    .
    Haoreee jiyeon hamil egen… tpi mila belom bisa move on….

  8. diah.dimin says:

    Lana… Ff himuchan donk… Mana2 next mao agustusan kmu bikin diriku mewek huaaaaa cedih…

    1. mochaccino says:

      himuchan akan meluncur secepatnya.

  9. Kim yeon says:

    Ceritanya bikin sedih dan kesal,, tapi yang lebih dominan itu persaan kesal,,, apa lagi sama sepupunya chanyeol itu hup,, kalau sama chanyeon tu kasian tapi kesalnya lebih banyak gak uda diceritakan lh ksalnya kenapa nanti kesel lagi,,, paling nyentuh tu pas ji cham uda gak ada, hati ini kayak ikut terngkat gitu,, untung tunangan chanyeol baik biarkan chanyeol sama jiyeon bersama gak jahat kayak sepupunyan chanyeol,,, kai itu bikin dilema loh,, dia pas banget ada buat jiyeon buktinya dia mau terima kehadiran ji chan meski bukan anaknya cuma kerjaan nya itu loh yang gak baik,
    Ya uda, yang penting sekarang jiyeon sama chanyeol uda hidup bahagia dan ji chan bahagia di surga sana,,, owh ya ngomong2 sepupu chanyeol enggak menghalangin acara nikahnya jiyeon ya,,,
    Emmm,, aq boleh minta buat kan ff chapters jiyeon sama soong jong ki gak,, ceritanya jiyeon tinggal bareng sama jong ki teman ayahnya jiyeon, karena orang tua jiyeon meninggal dari jiyeon kecil,,, oum otak yadong aq muncul pengennya bnyak secen hahaha,,,, aku cuma kasih ide tapi kalau rangkai kata bagus gak bisa,,, dan ff chapters jiyeon sama lee minho juga ya,,,
    Semoga kamu membacanya ya lana,, kalau boleh bals sekali2 komen aq,,, hahaha ni orang bnyak mau nya 😄😄😄

    1. mochaccino says:

      yup, aku baca kok,setiap komentar aku pasti baca, hanya aja kalau aku balas satu aku harus balas semua, takut pada iri. makanya sekr kalau mo bales harus bales semua. hik hik quota aku terbatas buat post ff aja. tapi aku akan pikirkan idenya. hehe, makasih. jangan bosen ke sini. aduh aku juga banyak maunya. udah dibaca aja udah makasih bangeeeeet. apalagi ditambahin komentar, makin seneng. apalagi ngasih ide…. akan aku pikirkan baik-baik. ff yadong ya song jungki sama Jiyeon. iya ada yang minta juga song jung ki. akan aku kerjakan secepatnya.

      1. Kim yeon says:

        Iya trimakasih,, terimakasih banyak hehehe,,,

      2. Kim yeon says:

        Gak usa yadong juga gak papa,, yang penting part nya banyakan haha,,, yang ff jiyeon sama jong ki aq belum nemu,, kalau ff jiyeon sama lee minho masi jarang,,,

  10. huaaaaa sumpah aku jadi meweeeeek Thor bageeeg…
    Awalnya aku kesel ma Chan, disinini Jiyeon menderita banget.. Ah pokoknya daebak ff nya..
    Ditunggu ff lainnya…

  11. putri JH says:

    aku nangis bcanya,, yeolli kmu gk peka bgt liat ji chan,,aigoo… jiyi kasihan bgt hidup susah,, smoga adanya aegy baru bisa nebus kesalahnya PARK CHANYEOL eoh.. fighting.. kereenn

  12. sookyung says:

    suka suka dg ff park couple ini,, kebawa perasaan banget,, sedih dg kepergian jichan, kesal dg sikap chanyeol yg dulu tdk mau bertanggungjwb, happy dg endingnya couple park bersatu,, campur aduk dehh jd satu ^^

  13. Hiks hiks hiks huuwwaaaaaaaaaa 😢
    Nangis baca na…
    Liat perjuangan sorg eomma tuk bs mmbsr kn anak na…
    Meski lelah sorg eomma hny mengeluh dlm hati n slalu berdoa tuk kebaikan anak na..
    Kisah ni bgs skali.. Gomawoyoo tlah luang kn wkt tuk bwt berbagai ff

  14. riska niami says:

    Bacanya sambil nangis.. kasihan bangay hidup jiji sma anaknya…. alapalagi anaknya cma sebentar merasakan kebahagiaan sma orangtua lengkapnya….

  15. yustina says:

    Lan ga bisa kemonter apa2 dari awal baca ini aer di mata ngalir terus , ya tuhan bisa begitu ya, ampun lan ini ff sakitnya ke ulu hati, ga kebayang sumpah jadi ai jiyeon, lan ini ga bisa berenti nangis nya, nemuin apa di pasar sampe bikin cerita kaya begini, hah keren keren di pasar aja inapirasinya keren, apa lagi di kuburan yang sunyi sepi senyap, untung happy end masih bisa senyumlah di akhir cerita, daebak pokonya mah lan 😦

  16. May andriani says:

    Sedih ji chan mninggal,, tpi juga terharu wktu ji chan mninggal dngan tersenyum karna sbelum meninggal dia udh berhasil bkin appa n eommax bersama lagi,,

  17. peyon93 says:

    kirain sad ending ternyata ugh emeshh jiyeon nya hamil lagi😂

  18. peyon93 says:

    kak minta password for to night dong plissssssss😭😭😭😭

    1. mochaccino says:

      oke! aku kirim ke email ya

      1. peyon93 says:

        makasi kakk💋💋

  19. yola says:

    Bagus banget eonn.
    Aku bacanya sambil sedikit pengen nangis ngga jelas gitu. Aku kira ji chan nga bakal mati, tapi untung waktu ji chan meninggal jiyi udah hamil. Kalo engga kan kasihann….
    Eonn minta pw buat ff For To Night ya.

  20. MFAAEM says:

    Yaampun aku nangis bacanya unn sedih banget perjalanan hidup jiyeon penuh liku liku 😦 jichan sakit dan akhirnya meninggal pula …. Untung aja jichan sempet ngerasain kebahagiaan bareng orangtua lengkapnya yah :”( chanyeon bahagia terus huhuhu cepet punya anak biar ga sedih mulu gara2 jichan 😦

  21. Yumi Kim says:

    Ini dada masih nyesek loh setelah baca ff what is love, makin nyesek lagi pas baca ff ini. Sepertinya malam ini serasa galau. Sendirian. Dikamar. Terbayang dengan ff yang menyayat hati. Kenapa ffmu bagus banget sih lana? Jangan berhenti suguhin ff ya. Apalagi hebat banget cuma buat ff ini seharian. Inspirasinya nyantolnya kenceng banget, wkwk.Hwaiting!!

  22. Nana says:

    Sedih, lagi, dan lagi. Tp endingnya tetap happy (masa?). Wkwkwk….. Kasian jiyeon dan ji chan….huhuhu…..

  23. Nana says:

    Kak, minta password pagenya dong kak. Aku baru mau coba baca ff yg di protect (karna gak tau gimana cara bisa dapat passwordnya). Email aku yorih60@gmail.com

    1. mochaccino says:

      nanti aku kirim passwordnya

    2. mochaccino says:

      sebenernya tadinya bisa minta lewat emailku atau inbox FB ku loh

  24. na hyun jung says:

    wah itu aeri hebat bgt bisa mlepas chanyeol bgtu aja, salut lah.
    chanyeol sdah di butakan sm obsesinya shingga lupa keadaan org di sampingnya yaitu jiyeon.
    msih ada pengganti jichan yg akan menemani pasangan park ini.

  25. Dhea says:

    Sumpah ini ff sedih bangett ka lana, bikin kebawa perasaan aku aja ampe nangis bacanya..
    Kasian jiyeon sama jichan mereka hidup menderita, chanyeol emg pantes dapet balasan nya dan dia jga gk pantes hidup bersanding sama aeri yg baik dan cerdas tpi untung happy end jga walo jichan nya harus meninggal, pokoknya pas aku udh selesei baca ff ini aku ngerasa sedih,terharu sma bahagia itu menjadi satu.. Ohya boleh minta pw gk ka lana ? Ntar aku inbox k fb yh

    1. mochaccino says:

      iya, makasih y udah mampir

  26. pcyoshn says:

    Aku pertama kali fokus baca ff author dari wattpad. Trus baca2 yg main cast nya member exo. Aku silent reader, jarang komen tapi slalu vote. Trus aku kepincut sama kumpulan oneshot kai for jiyeon di wattpad. Nah dan aku iseng2 kepoin nyari wordpress author and finally ketemu. Aku obrak abrik deh postingannya. Dan aku cari-cari oneshot main cast member exo especially sekaiyeol+junmyeon. Hahaha dan aku biasanya gak suka baca oneshot karna biasanya agak kaya gimana gitu. Klo dimisalkan di kdrama, oneshot itu kaya webdrama, chaptered itu kaya drama series korea. Nah tapi setelah aku baca oneshot author di wattpad, sekarang aku tahu klo oneshot mu gak sembarang oneshot. Dan setelah aku baca oneshot ini. Aku malam-malam begini bercucuran air mata, sesek liat kehidupan Ji Chan, yg harus dewasa sebelum waktunya. Aku juga suka part Aeri dengan lapang dada relain Chanyeol. Dan akhirnya mereka happy ending kembali walaupun dengan kehilangan Ji Chan untuk selamanya. Overall aku suka banget!!!!! Sorry authornim aku malah jadi curhat😂

    1. mochaccino says:

      jujur aku kaget masih ada yng mampir ke sini dan asih komenan. skr aku lebih seneng di wattpad, karena emang gampang pos di sana, tapi bukannya aku lupa di mana aku pertama pos FF, ya di sini. makasoiuh udah nangis malam2 mudahan ga saingan sama Mba Kunti. aku suka banget sama EXO makanya pen nya Jiyeon kupasangin ma EXO aja tapi kalo yg request minta sama sosok lain ya aku usahakan bikin, tapi paling sreg sama EXO, palagi sama Sehun, Chanyeol, Yifan, Suho, Kai…arg!

      1. pcyoshn says:

        Haiiii kak. Aku ijin obrak abrik library nya ya hihihiiiiii ya aku semalem sembab baca oneshot Ji Chan 😙 oke kak. Mau dimanapun posting nya sekarang akan slalu aku ikutin. Btw aku juga suka baca di wattpad juga, berhubung hanya ada 2 lapak bacaan favoriteku. 😙 syukur deh kak aku seneng kali kk lebih suka masagin jiyeon sama exo. 😙 karna aku juga baca2 kadang liat2 dlu main cast nya. Dan di setiap story kakak aku sreg banget sama Chanyeon💞 oya kak sequel Love me / Love me oppa diprotect ya? Cara dapetin password nya gimana? Thankyou😙

      2. mochaccino says:

        u tadi mo balesin mendadak jaringan lenyap. pm me di wattpad juga gapapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s