[Oneshot] What Is Love


can y tell me1


Title ||  What Is Love

Cast ||  Park Jiyeon feat Kim Myungsoo

Support Cast ||  Lee Sungyeol, Lee Howon, Hyomin and other

Genre ||  Romance- Sad

Rater || General

Length || Oneshot

Disclaimer || I Own Nothing But The Story


.

.

 

 

 

 

 

“Kim Myungsoo!” Panggil Jiyeon dari depan  rumahnya.

 

Namja bernama Kim Myungsoo itu melirik sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.

 

“Yaaak, tunggu aku!”  Jiyeon berlari keluar dari pagarnya.

 

 

Setelah mengejar sekitar seratus meter, barulah mobil itu berhenti. Jiyeon terengah-engah dengan hebat sambil memicing kesal pada namja yang telah dengan sengaja mempermainkannya.

 

“Masuklah, CEPAAAAT!”  hardiknya.

 

Myungsoo memang sedikit angkuh dan tak mengenal belas kasihan. Jiyeon sudah menjadi temannya sejak kecil, tapi entah kenapa semua persahabatan ini harus berubah seiring waktu berjalan.

 

Jiyeon menyukai Kim Myungsoo, dan itu bukan lagi menjadi rahasia umum diatara teman-teman sekelasnya. Sahabat berubah jadi cinta. Itu biasa, tapi tidak bagi Myungsoo. Dia mungkin hanya menganggap Jiyeon sebagai rekan seperjuangan, dan semua perasaan yang Jiyeon rasakan untuknya itu tidak lebih karena mereka terlalu dekat dan sulit untuk membedakan antara suka dan cinta.

 

“Aku lupa membawa buku PR ku!” Jiyeon menoleh panik, tapi Myungsoo tidak sudi untuk menghentikan mobilnya.

 

“Myungsoo, ayo kita kembali lagi. Aku harus mengambil buku PR-ku.”  Jiyeon memegangi lengan Myungsoo dan berharap sahabatnya itu mau berbalik ke arah rumahnya yang berseberangan dengan rumah Myungsoo.

 

“Jam berapa ini Park Jiyeon, apa kau gila. Aku bisa terlambat hanya karena kau ingin mengambil PRmu. Kenapa kau selalu ceroboh dan meninggalkan buku PR mu. Sudah berapa kali kau melakukan ini? Apa kau sengaja, Huh?”  Myungsoo mengomel seperti nenek-nenek, sementara Jiyeon hanya merengut di sebelahnya. Akhirnya dia pasrah jika seandainya saja nanti guru Yoo menghukumnya,

 

 

 

Mereka tiba di gedung sekolah mereka yang megah. Sekolah dengan reputasi baik dan berkelas. Myungsoo dan Jiyeon salah satu murid yang cukup populer di sekolah ini.   Siapa yang tidak mengenal Myungsoo, dia namja tampan dengan prilaku dingin dan angkuh, namun semua itu selalu menjadi daya tarik luar biasa bagi kaum hawa yang selalu merasa iri pada Jiyeon. Bagaimana tidak, Jiyeon memang selalu menjadi bayang-bayang Myungsoo selama ini. Dia adalah sahabat yang baik, meski kini kenyataannya dia harus menerima pil pahit atas penyakit cintanya.

 

“Aku akan menyalin PR dari  Yun Ae!” Jiyeon segera berlari  meninggalkan Myungsoo. Dia mendahului Myungsoo menaiki tangga. Kelasnya berada di lantai dua. Sejenak dia menoleh pada sosok yang  berjalan berlawanan arah dengannya di tangga.

 

“Myungsoo!” sapa gadis itu pada Myungsoo. Jiyeon terpaksa berhenti dan memperhatikan sikap Myungsoo. Tidak bolehkah untuk sedikit ingin tahu dengan apa yang terjadi pada mereka.

 

“Hi, Bae Jung Hyun!”  sapa Myungsoo dengan senyuman merekah. Jiyeon tidak pernah melihat Myungsoo tersenyum selebar itu.Mendadak hatinya terluka melihatnya, tapi berhubung Jiyeon buru-buru, dia segera melanjutkan langkahnya.

 

Pagi ini, Jiyeon dikejutkan dengan berita bahwa Jung Hyun mungkin akan menjadi kekasih Myungsoo. Semua mengatakannya begitu, karena Myungsoo sering bertemu diam-diam dengan Jung Hyun di perpustakaan sekolah. Tapi kenapa Jiyeon baru mendengarnya pagi ini pun dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Myungsoo begitu perhatian pada sapaan Jung Hyun di tangga tadi.

 

“Aku mengatakan ini, supaya kau  bisa menerima kenyataan kalau Kim Myungsoo hanya akan memperlakukanmu sebagai teman, tidak lebih Park Jiyeon.”  Gadis itu mendengus dan menatap jengah pada Sungyeol.

 

“Sungyeol, apa kau bisa mengatakan padaku, cinta itu apa?”

 

Jiyeon sampai harus melupakan niatnya untuk menyalin PR dari Yun Ae.

 

Sungyeol hanya menggeleng khawatir. Dia tahu bahwa menasehati Jiyeon untuk tidak meneruskan perjuangannya mendapatkan cinta Myungsoo itu tidak mungkin. Jiyeon, pernah mengatakan padanya, bahwa sampai kapanpun dia akan tetap berusaha sampai titik darah penghabisan.

 

 

.

.

.

 

Dari kejauhan Jiyeon melihat Myungsoo sedang berjalan bersama Jung Hyun. Gadis itu terlihat bahagia berjalan di sebelah pangeran Kim. Agh! Jiyeon melemparkan sapunya dan memilih duduk untuk menyeka keringatnya. Dia tidak bisa pulang karena dia mendapatkan hukuman akibat tidak mengumpulkan PR-nya.

 

“Kau sudah makan?”  Sungyeol menepuk bahunya sambil menyodorkan sebungkus roti dan susu kotak.

 

“Aku tidak lapar.” Jiyeon menepisnya dengan hati dongkol. Dia sama sekali tidak merasa lapar setelah melihat Myungsoo pulang sekolah bersama Jung Hyun.

 

Sungyeol mengangguk, dan meletakkan roti itu di sebelah Jiyeon.

 

“Aku akan menemanimu sampai kau selesai.”

 

“Hm, sebentar lagi sampai di ujung lorong itu.”  Jiyeon kembali berdiri dan mulai melakukan pekerjaannya menyapu dengan menahan perasaannya.

 

Sungyeol selalu baik padanya. Dia teramat baik sampai Jiyeon tidak bisa menolak semua kebaikannya. Tapi terkadang dia menyebalkan karena terlalu cerewet menasehatinya. Semua yang dikatakan dari mulutnya adalah hal yang benar, hanya saja Jiyeon selalu bebal, dan tidak mau mendengarkan. Uhm, dia  mendengarkan tapi tak memperdulikan.

 

Mereka berteman sejak di bangku SMP. Persahabatan yang unik.

 

Jika Myungsoo sudah menjadi sahabatnya dari TK, berbeda dengan  Sungyeol berikut Yun Ae, yang baru menjalin pertemanan dengannya  dari masa remaja tanggung.

 

Cinta

 

Sebenarnya cinta itu apa?

 

Kenapa harus seperti ini jadinya.

 

.

.

.

 

“Bibi Kim, apakah Myungsoo ada?”

 

Wanita itu menggeleng.

 

“Dia pergi. Katanya ada latihan basket untuk pertandingan minggu depan.” Jawabya

 

Jiyeon merengut kecewa. Dia berjalan menjauh dari depan pagar.

 

Sudah hampir satu  minggu Myungsoo sibuk dengan latihan basketnya. Mungkin juga karena ada janji lain dengan Jung Hyun. Jiyeon tidak tahu sudah sejauh apa hubungan mereka, tapi sepertinya mereka terlihat semakin akrab.

 

“Jiyeon!” Bibi Kim memanggilnya

 

Yang dipanggil menoleh, gadis itu memberikan senyuman ramah seperti biasa.

 

“Kalau kau bertemu dengannya, katakan kalau neneknya akan malam ini. Ponselnya tidak bisa dihubungi.” Pesannya dengan suara lantang.

 

Siapa yang mau menemui Myungsoo.  Gerutu Jieon dalam hati.

 

Jiyeon terus melangkah seperti tanpa tujuan. Tidak masalah jika Myungsoo mempunyai pacar, asalkan tidak mengabaikannya seperti ini dan membuatnya harus merasa kehilangan.

 

Dulu mereka selalu bersama, entah itu bermain atau mengerjakan PR, kemudian berbelanja dan berlari jogging setiap akhir pekan.  Ya, itu belum terlalu lama, sampai pada akhirnya Myungsoo mendapat bocoran dari Yun Ae, kalau Jiyeon menyimpan perasaan untuknya.

 

Mungkin Myungsoo tidak ingin semua ini terjadi. Dia terlalu spesifik dengan type yeoja yang diinginkannya.

 

— dan lagi, Yun Ae terlalu sembarangan dengan mulutnya, padahal dia sudah wanti-wanti menegaskan pada teman akrabnya itu supaya berhati-hati bicara dengan Myungsoo.

 

Sekarang Jiyeon harus menerima akibatnya, sampai Myungsoo menjaga jarak darinya. Dia pasti merasa ketakutan Jiyeon akan menuntut untuk membalas perasaannya.

 

Ya—

 

Jiyeon memang berharap Myungsoo bisa membalas perasaannya. Dia ingin perasaannya tidak dicampakkan begitu saja.  Apakah itu salah?

 

Apakah salah jika karena cinta ini Jiyeon harus menjadi seorang possessive.

 

Cinta…

 

 

 

.

.

.

 

 

“Kau baru datang?”  Hyomin melirik kedatangan Jiyeon di tempat latihan mereka. Hari ini, Jiyeon pun berlatih untuk sebuah kompetisi ballet yang diadakan antar sekolah menari di Korea. Kompetisi Nasional yang akan mengantarnya menjadi balerina profesional dengan hadiah utama, beasiswa pendidikan menari di Rusia. Bukankah ini hebat.

 

Itu adalah impiannya, dan tidak ada satupun dari teman-temannya yang tahu, kalau Jiyeon mempunyai bakat menari. Hanya seorang Myungsoo saja yang tahu mengenai aktifitasnya, tapi dia tidak perduli lagi saat ini.

 

Sebentar saja, dia sudah melakukan pemanasan bersama dengan Hyomin. Mengikuti semua alur hatinya yang sedang dilanda rasa kesal dan emosi.  Tangannya, juga kakinya terlihat lebih bertenaga dengan emosi dari dasar hatinya. Kesan di matanya pun menyiratkan banyak cerita, sehingga Hyomin tak tega untuk melihatnya terbawa perasaan.

 

“Hentikan!” tangannya menangkap tubuh Jiyeon yang terengah-engah setelah melakukan putaran mengelilingi ruangan luas ini. Semua mata menatapnya dan resah. Tidak biasanya Jiyeon menari dengan cara seperti itu.

 

“Aku harus menari.”  Bisik Jiyeon dengan tatapan redup. Keringat bercucuran di sekujur wajah cantiknya.

 

“Kau tidak boleh menari seperti itu, kakimu akan cidera, dan apa akibatnya jika kakimu cidera?”  Hyomin menyeka keringat di wajah Jiyeon.

 

Gadis itu menunduk memperhatikan dua kakinya. Dia tahu apa akibatnya jika kakinya cidera, dia tidak akan bisa mengikuti kompetisi menari itu, dan cita-citanya untuk menjadi balerina profesional tidak akan tercapai.

 

“Ada apa?” Hyomin membimbing Jiyeon untuk duduk di pinggir ruangan. “Apa karena Myungsoo lagi?” temannya itu  menebak. Jiyeon tidak menjawab, namun helaan napas dan tatapan nanar itu sudah merupakan jawaban bagi Hyomin untuk memberikan sebuah usapan lembut pada punggung yang tengah gemetar itu.

 

“Seharusnya kau merelakan dia. Tidak baik jika kau terus memendam perasaan yang tidak terbalas seperti ini.”  Saran Hyomin.

 

Jiyeon hanya menyeringai. Sungyeol pun mengatakan hal yang sama, tapi gadis itu merasa bahwa ini belum saatnya untuk menyerah. Dia belum tahu persis mengenai alasan Myungsoo kenapa laki-laki itu tidak menyukainya.

 

Mereka hanya tidak pernah membicarakan masalah ini secara serius.

 

Cinta ini seperti misteri,

 

.

.

.

 

Myungsoo sedang duduk di bawah pohon bersama teman-temannya sambil memperhatikan Jung Hyun berlatih panjat tebing. Apa hebatnya bisa panjat tebing.  Dia hanya mencari sensasi, karena tidak ada yeoja yang berminat dengan panjat tebing selain dia.

 

Sangat menyakitkan harus melihat Myungsoo begitu tertarik pada aktifitas itu. Seleranya mendadak berubah, karena sebelumnya dia pernah mengatakan kalau dia menyukai yeoja yang feminim dan lembut. Itu sebabnya Jiyeon sudah merasa bagai di atas angin, karena memang seperti itulah dirinya.

 

Myungsoo juga pernah bilang kalau dia menyukai yeoja yang tidak pernah mengenal kata menyerah, tangguh dan selalu mempunyai pendirian. Lagi-lagi type yeoja semacam itu melekat pada karakter Jiyeon, tapi dia tidak habis pikir, kenapa justru sekarang Myungsoo harus menyukai Jung Hyun. Bukankah itu berbanding terbalik dengan orientasinya terhadap sebuah figur.

 

“Myungsoo semakin membuktikan bahwa dia menyukai Jung Hyun.”

 

Jiyeon melengos mendengar ocehan Sungyeol, kemudian berjalan meninggalkan namja berpostur jerapah itu dengan bibir mengerutcut.

 

Sungyeol tidak bermaksud untuk memanas-manasi batin yang memang tengah terbakar itu, tapi hakikatnya Sungyeol hanya ingin memperlihatkan pada Jiyeon mengenai kenyataan yang ada. Jung Hyun memang pintar mencari perhatian. Entah sampai kapan hal itu akan berlangsung.

 

.

.

.

 

Jiyeon melirik pada kedatangan Myungsoo ke rumahnya. Apakah di teluk Korea sedang terjadi tsunami sampai kakinya itu bisa terdampar dan melangkah sampai ke depan pintu rumahnya. Jiyeon memutuskan untuk tidak menyapa dan asik menonton acara teve yang sedang menayangkan sebuah pagelaran tari Ballet dari Bolsoi. Tempat yang menjadi cita-citanya untuk meraih impiannya. Menjadi balerina terkenal.

 

Myungsoo duduk di sebelahnya dan melirik aneh. Bagi Jiyeon kemunculan Myungsoo di rumahnya saja sudah merupakan misteri yang tak terjawab.

 

“Apa kabar, teman?”  dia menyengolkan bahunya pada Jiyeon.

 

“Arrg!” Jiyeon menggaruk kepalanya dan terus menatap ke layar teve.

 

“Park Jiji, aku bicara denganmu!” sindir Myungsoo lagi.

 

“Aku baik-baik saja.” Jawab Jiyeon sambil pura-pura terpukau melihat tarian Odette di depannya.  Dia ingin menari seperti itu.

 

“Aku ingin mengajakmu ke sekolah.” Jiyeon terpaksa menoleh, dan memperhatikan Myungoo dan ajakannya itu.

 

“Ada apa di sekolah. Ini kan hari minggu.” Sahut Jiyeon,

 

“Ada acara.”

 

“Acara apa?”

 

“Gladi bersih untuk pertandingan basketku lusa.”

 

Tumben sekali—

 

Jiyeon merengut dengan bibir maju. Kenapa Myungsoo mengajaknya, ini sangat aneh. Padahal dia sudah mempunyai Jung Hyun.

 

“Kau sedang bertengkar dengan Jung Hyun?”

 

“Tidak. Kami tidak bertengkar, dia hanya sedang tidak bisa ikut karena harus berlatih panjat tebing di perkumpulan panjat tebingnya.”

 

“Aku tidak mau ikut denganmu!”  Enak saja, memangnya Jiyeon harus menjadi cadangan sampai harus menjadi peran pengganti di saat Jung Hyun tidak bisa menemaninya. Jiyeon memejamkan matanya. Bukankah saat-saat seperti inilah yang dia tunggu, bisa kembali melakukan aktifitas bersama Myungsoo.

 

Namja di sebelahnya itu masih menatapnya.

 

“Apa?” gertak Jiyeon kesal.

 

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi.

 

“Memangnya kau mau aku menjawab apa?” Jiyeon semakin kesal

 

“Kau tidak ingin bertanya apa-apa?” tanya Myungsoo lagi

 

“Sepertinya tidak.”

 

“Dulu kau sering bertanya padaku.”

 

“Tapi kau tidak pernah menjawabnya, jadi sekarang aku putuskan untuk tidak bertanya lagi padamu.”

 

“Lalu kau sekarang bertanya pada siapa?”

 

Jiyeon melirik lagi.

 

“Sungyeol.”

 

Akhirnya Myungsoo mengangguk,

 

“jadi kau sekarang menjalin hubungan dengan jerapah itu?”

 

Jiyeon mendengus dan berlalu daru muka Myungsoo yang masih terlihat aneh. Kesan ini memang teramat aneh. Jiyeon benci jika dia harus dipojokkan seperti ini.

 

“Ayolah, sekali ini saja temani aku!” ajak Myungsoo lagi

 

Ini kali kedua dia mengajak Jiyeon, apakah Jiyeon akan menolaknya lagi. Gadis itu meringis, dan malu dengan keputusan pamungkasnya.

 

.

.

.

 

 

Langkah kakinya terhenti tidak jauh dari Myungsooo ketika Jung Hyun mendadak muncul. Eoh, rasa panas ini begitu meletup-letup di dalam hatinya seperti lahar panas yang siap merembes dari tulang rusuknya. Katanya Jung Hyun sibuk berlatih panjat tebing, dengan pelatihnya di suatu tempat. Tapi kenapa dia sekarang di sini.

 

Jiyeon menggerutu dalam hati menyaksikan Jung Hyun yang menggandeng lengan sobatnya menjauh darinya.  Apa Myungsoo sengaja mempermainkannya, untuk memperlihatkan kemesraan mereka yang tak ada habisnya pada seluruh dunia.

 

Sekarang Jiyeon tidak tahu apa perannya di tempat ini. Apakah dia sama seperti pohon yang berdiri bisu di sampingnya, atau seonggok rumput kering yang diinjaknya dengan kakinya yang gemetar, ataukah burung di atas sana yang terbang begitu tinggi sampai-sampai dia lupa bagaimana rasanya menginjak bumi.

 

Jiyeon terkekeh getir. Bahkan Myungsoo pun tidak memberikan konfirmasi apapun padanya.  “Cih! Bae Jung Hyun, kau sungguh munafik”  Jiyeon berbalik meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Myungsoo.

 

Sekarang apa?

 

Jiyeon malah berdiri di depan locker gadis itu, Bae Jung Hyun, dan sedikit memiliki ide nakal untuk menjahili gadis itu dengan keisengannya.

 

Jiyeon membuka locker itu tanpa kunci. Dia memperlihatkan kemahirannya membobol pertahahan benteng musuh dengan kederdasannya.

 

“Eoh, apa ini?”  Jiyeon mengambil tali yang selalu dipakai Jung Hyun untuk memanjat. Sepertinya ini akan menarik—

 

 

.

.

.

 

 

Keesokkan harinya, Jiyeon melihat Yun Ae tergopoh-gopoh menghampirinya. Dia langsung duduk di samping Jiyeon dan memeluknya erat. Gadis itu sangat antusias sekali dengan apa yang akan dikatakannya.

 

“Apa?” tanya Jiyeon bingung

 

“Gadis Bae itu jatuh.” Ujarnya.

 

Pikiran Jiyeon langsung tertuju pada tali itu. Eoh, jadi tali itu—

 

Jiyeon segera berlari menuruni tangga dan mendapatkan Jung Hyun tengah di bopong ke ruang kesehatan, dan lihat siapa yang berada di sana memegangi tangan gadis itu…

 

Jiyeon menggigit bibirnya dan berpaling. Dia sangat tersayat denganpemanganan itu. Myungsoo tidak pernah berada jauh dari Jung Hyun. Ini menggelikan,

 

Sebuah tangan menangkapnya, dan Jiyeon menoleh mendapati Sungyeol menarinya menjauh dari kerumunan. Tatapannya langsung menyelidik di kedalaman Jiyeon.

 

“Apa yang telah kau lakukan pada Jung Hyun?”  tanyanya, dan Jiyeon tersentak.

 

“Apa?”

 

“Kau tidak perlu menyembunyikan semua ini padaku, karena aku tahu apa yang kau lakukan kemarin di depan locker Jung Hyun.”

 

Jiyeon berubah panik. Dia memegangi lengan Sungyeol dan menatapnya penuh permohonan.

 

“Tolong jangan katakan ini pada siapapun Sungyeol. Aku sungguh kesal padanya. Dia selalu berada di dekat Myungsoo. Kau kan tahu sendiri bagaimana perasaanku.”

 

Sungyeol menggeleng jengah, tapi dia tidak akan melaporkan sahabatnya ini pada pihak sekolah.

 

“Kau tahu, aku tidak mungkin membuatmu berada dalam kesulitan. Kau temanku, dan aku sangat prihatin dengan keadaanmu. Beruntung Jung Hyun tidak terluka parah. Bagaimana jika dia jatuh dari ketinggian. Polisi pasti akan menganggap ini sebagai usaha percobaan pembunuhan dan kau akan masuk penjara, Park Jiyeon.”

 

“APA?”  suara itu mengagetkan mereka, dan sontak keduanya menoleh. Kim Myungsoo menatap garang pada Jiyeon yang berubah pucat.

 

“Apa kau yang telah mencelakai Jung Hyun, Park Jiyeon?” Laki-laki itu mendekat dan menagkap tangan Jiyeon, kemudian mengguncang tubuh itu hingga tanpa sadar Jiyeon menangis.

 

“Aku kesal padanya, karena dia selalu merebut perhatianmu dariku Kim Myungsoo. Aku cemburu. Kau tahu aku menyukaimu, dan aku tidak rela kau bersama dengan yeoja lain.”

 

Myungsoo menggeram, kalau saja Jiyeon bukan yeoja dia sudah memukulnya karena rasa kesal ini.

 

“Aku sudah mengatakan padamu, kalau kita hanya teman. Teman dekat, tidak lebih. Sampai kapan kau akan mengerti? Park Jiyeon, aku sungguh kecewa padamu. “

 

Jiyeon terisak, hatinya tercabik-cabik mendengar penuturan Myungsoo yang mencubit-cubit batinnya, dan Sungyeol yang sejak tadi berada di sebelah Jiyeon, berusaha melepaskan gadis itu dari deraan Myungsoo yang begitu mengerikan dengan emosinya,

 

“Myungsoo, lepaskan dia!”

 

“Jangan membelanya. Dia sudah keterlaluan Sungyeol. Apa kau tidak berpikir, apa jadinya kalau Jung Hyun jatuh.”

 

“Dia seperti ini karena terlalu mencintaimu. Seharusnya kau   mempertimbangkan perasaannya juga, Myungsoo.”

 

“Aku tidak tahu kenapa kau tidak memahami juga mengenai apa yang terjadi. Aku benar-benar tidak berpikir untuk membuat hubungan kita menjadi lebih dari pertemanan, tapi sekarang entahlah, aku pun harus mempertimbangkan sifat psyco mu itu.”

 

“Aku bukan psikopat Kim Myungsoo.”  Jiyeon menggeleng dengan hati perih, kemudian berbalik meninggalkan Myungsoo yang masih penuh dengan amukan. Hanya karena Jung Hyun, dia sanggup memperlakukan dirinya seperti ini.

 

Jiyeon mengurung diri di dalam toilet. Dia malu, dan juga frustasi dengan perasaannya. Mungkin semua orang sudah mendengar bahwa dialah yang mencelakai Jung Hyun karena cemburu.

 

“Jiyeon, apa kau di sini?” Yun Ae memanggilnya. Tapi Jiyeon tidak menjawab, dia masih enggan menampakkan diri di hadapan teman-temannya.

 

“Jiyeon, aku mendengar isakmu. Ayolah kita pulang! Di luar sudah sepi. Mau berapa lama lagi kau di sini. Gedung sekolah ini akan di kunci, apa kau akan menginap di sini?” Yun Ae mengetuk pintu bilik toiletnya.

 

Perlahan Jiyeon bangkit dan membuka pintunya, dan menatap Yun Ae yang terlihat cemas

 

“Aku mencarimu sejak tadi, dan Sungyeol mengatakan kau pasti berada di sini.”

 

“Apakah aku sungguh jahat Yun Ae?”  Jiyeon membasuh wajahnya di washtafel. Oh dia terlihat sangat buruk dengan wajah sembab ini. Matanya memerah dan dia benar-benar bertampang psikopat saat ini.

 

“Pakai ini!” Yun Ae menyodorkan kaca mata hitam. “Mata bengkakmu tidak akan terlihat.”

 

Jiyeon menerima dan memakainya

 

“Di mana Myungsoo?” Jiyeon menyisir rambutnya.

 

“Dia sudah pulang, mengantar Jung Hyun.”

 

Ya, Jiyeon sudah bisa menduganya. Dia menghela napas dan melirik Yun Ae pasrah.

 

 

“Apa yang harus kulakukan Yun Ae. Apa aku harus menyerah seperti pecundang, atau aku harus menjadi penjahat dalam hubungan mereka.”

 

Yun Ae terkekeh, dia sangat memahami sahabatnya ini termasuk semua tingkah lakunya,

 

“Kau hanya cukup menjadi dirimu sendiri Jiyeon.”

 

“Kau jangan menyesal karena sudah memberi saran seperti itu.” Jiyeon berjalan keluar toilet. Di luar memang sudah sepi, dan dia merasa lebih tenang melangkah. Kejadian tadi cukup membuat gempar, sampai-sampai dia harus merasa terhukum dengan sikap Myungsoo padanya.

 

Cinta ini sebuah hukuman

 

.

.

.

 

Sore ini, Jiyeon , Yun Ae dan Sungyeol berdiri di deretan bangku ke empat dari bawah untuk menyaksikan pertandingan basket antar sekolah. Dia berusaha untuk sportif demi seorang Myungsoo. Mungkin memang benar dia tidak bisa memaksa Myungsoo untuk menyukainya juga dengan cara yang berbeda, karena pada dasarnya hati memang tidak bisa dipaksa.

 

Jiyeon tersnyum, dan dia senang Myungsoo bermain baik di lapangan. Beberapa teman yeoja di sampingnya selalu berteriak ketika Myungsoo berhasil memasukan bola basket itu ke dalam kerangjang. Point tiga, point dua, dan semua berhasil membuat skor team sekolah mereka berada jauh dari nilai skor team lawan.

 

Seandainya saja dia yang saat ini berada di samping lapangan itu, menyeka keringatnya, juga memberinya sorakan paling keras dari teman-teman lainnya, bukan seorang Jung Hyun yang begitu ceria dan munafik. Cih! Jiyeon hanya melengos kesal.  Dia ingin membuat semangat tersendiri untuk Myungsoo, dia sudah mempersiapkan hadiah khusus untuk sahabatnya itu jika menjadi juara umum.

 

.

.

 

“Kau makan apa?” Sungyeol menawari Jiyeon yang masih duduk diam dengan tatapan kosong ke arah luar. Yun Ae menepuk pundaknya untuk menyadarkan.

 

“Apa?” tanya Jiyeon

 

“Kau mau makan apa, tanya Sungyeol.” Jelas sahabatnya itu

 

“Apa saja.” Jawabya malas. Hatinya sedang dirundung sedih. Myungsoo tidak mau bicara dengannya, dan ini cukup membuatnya tak berarti. Di mana dia meletakkan semua sisa-sisa dari episode persahabatan mereka selama ini. Jiyeon menelungkup di atas meja.

 

 

Yun Ae kembali menggoyang bahunya,

 

“Yun Ae, jangan ganggu aku dulu. Aku ingin mati rasanya.”

 

“Tapi—“

 

“Hi!” sapa Myungsoo pada Sungyeol dan Yun Ae. Dia berdiri di hadapan mereka dengan Jung Hyun.

 

“Boleh aku bergabung bersama kalian?” tanya namja tampan itu. Jiyeon mengangkat tubuhnya dan memindai mereka dengan tatapan sengit.

 

“Jiyeon!” sapa Jung Hyun.

 

Jiyeon tidak menjawab, dia tidak bisa melakukan itu, meski hanya tersenyum sekalipun.  Dia berdiri, dan meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan. Sungyeol menghela napasnya dengan berat.

 

“Kau tahu, seharusnya kau tidak ke sini. kalaupun ke sini, kau tidak harus bersamanya.” Jelas Sungyeol sambil ikut berdiri. Dia meninggalkan tempat itu untuk menyusul Jiyeon.

 

“Maafkan aku Myungsoo!” Yun Ae ikut berdiri dan akhirnya hanya Myungsoo sendiri dan Jung Hyun yang saling menatap dengan perasaan terpojok.

 

“Mereka tidak menyukaiku.”   Ujar Jung Hyun

 

“Mereka belum mengenalmu dengan baik. Biarkan saja.” Myungsoo bergumam sambil melirik bayangan tubuh Jiyeon yang melintas di depan sana bersama Sungyeol dan Yun Ae. Mendadak dia merasa bahwa ada sesuatu yan menghilang dari hatinya.

 

.

.

.

 

“Kau seharusnya berhenti untuk berlatih menari, karena sebentar lagi kau akan melaksanakan ujian akhir Park Jiyeon.”  Hyomin membantu Jiyeon untuk menyanggul rambutnya.

 

Sore ini hujan dan dia merasa sedikit kedinginan. Entahlah sudah beberapa hari ini, Jiyeon merasa sangat kedinginan, terlebih hatinya. Sikap Myungsoo padanya ikut menambah perasaannya terjangkiti virus mematikan.

 

Jiyeon terkadang harus menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Myungsoo ketika sobat dari masa kecilnya itu melintas di depannya.

 

“Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan membiarkan Jung Hyun merebut Myungsoo dariku.”  Mina ikut bermonolog di sebelahnya. Jiyeon melirik aneh. Sejak kapan Mina ikut geram dengan kedekatan Myungsoo dengah Jung Hyun.

 

Gadis itu menyeringai ketika Jiyeon memberikan sebuah tatapan tajam.

 

“Aku hanya tidak suka sikap sombong Jung Hyun saat dia dengan bangganya berjalan di sebelah Myungsoo. Dia pikir, dia itu siapa?” ujarnya dengan nada penuh kebencian.

 

“Aku memang tidak suka Myungsoo dekat dengan Jung Hyun, Mina. Tapi itu bukan urusanmu. “ Jiyeon meninggalkan gadis itu dan melangkah masuk ke dalam kelas. Di sana Myungsoo sudah duduk di bangkunya sambil berbicara denganponselnya.

 

“Aku akan menunggumu selesai berlatih. Kau jangan terlambat ya!” begitu yang dikatakannya. Apakah mereka sedang berjanji untuk sebuah kencan.

 

“Hari minggu, jam tiga sore.”

 

Jiyeon menunduk dan menekuni bukunya, ketika Myungsoo mendekatinya.

 

“Jiyeon!” sapanya.

 

“Hm.”

 

“Apa kau masih marah padaku?” tanya namja itu.

 

Jiyeon menoleh bingung.

 

“Bukannya kau yang marah padaku?”

 

Myungsoo mengusap lengan Jiyeon sambil memasang wajah lucu.

 

“Aku tidak marah padamu. Hanya sedikit kesal. Kita kan bersahabat, mana mungkin aku berani marah padamu terlalu lama.”

 

Jiyeon tidak memberikan respon yang terlalu antusias atas sikap baik Myungsoo.

 

“Apa kalian baik-baik saja? Kali ini Jiyeon berusaha untuk bersabar menghadapi hubungan Myungsoo dengan pacarnya.

 

“Ya, kami baik-baik saja. Hari minggu besok kita akan berkencan.” Jawabnya, dan Jiyeon mengangguk dengan perasaan tercabik. Dia mencoba untuk tersenyum meski hatinya luka.

 

“Bagaimana hubunganmu dengan si Jerapah?”

 

“Memangnya kami kenapa?” Jiyeon merengut

 

“Bukankah Sungyeol menyukaimu?”

 

“Benarkah?”  Jiyeon mengernyit, dan Sungyeol muncul di hadapan mereka.

 

“Aku memang menyukainya Kim Myungsoo. Bagaimana kalau aku memacarinya. Apa kau memberikan restu ?” Sungyeol menatap Jiyeon yang masih terlihat bingung

 

“Jangan bercanda!” gertak gadis itu kesal. Dia berdiri dan meningglkan omong kosong itu untuk sementara. Kenapa dengan Sungyeol.  Apa benar dia menyukai Jiyeon.

 

“Jiyeon!”

 

gadis itu menoleh pada suara yang memanggilnya. Jung Hyun mendekatinya dengan langkah cepat.

 

“Hi!” sapa Jiyeon canggung

 

“Hi!” balas Jung Hyun, tapi mukanya kelihatan sedikit ketus.

 

“Ada apa? Myungsoo di dalam kelas.” Ujar Jiyeon sambil menunjuk dengan dagunya.

 

“Eoh, aku hanya ingin bicara denganmu sebentar.”

 

“Hm,…”

 

“Aku sebenarnya tidak ingin menuduhmu,…”

 

DEG

 

Jiyeon was-was

 

“Aku hanya ingin bertanya mengenai kejadian waktu itu.”

 

Jiyeon menunduk dengan hati berdebar, apakah Jung Hyun akan membuatnya mengakui apa yang telah dia lakukan.

 

“Apa kau yang memotong tali yang biasa aku pakai untuk memanjat tebing?”  matanya menyelidik sambil memegang pundaknya.

 

Jiyeon tidak menjawabnya, karena memang ini sangat membuatnya merasa seperti seorang kriminal. Dia sudah mendapatkan hukuman dari kata-kata pedas Myungsoo, dan haruskah dia menerimanya juga dari Jung Hyun.

 

“Kau tidak menjawabnya, dan itu aku anggap iya.”

 

Look, Jung Hyun. Aku memang melakukannya, maafkan aku.” Jiyeon mencoba untuk bersikap sportif, mengakui dan meminta maaf atas semua yang telah dilakukannya.

 

“Hh, kenapa kau melakukan itu? Apa kau berharap aku mati dan menghilang dari kehidupan Kim Myungsoo?”

 

“Aku khilaf, dan tidak berpikir ke arah sana.”  Jawab Jiyeon

 

“Kau sangat naif dan menyedihkan. Kau jangan bermimpi Myungsoo akan mencintaimu!”

 

Jiyeon tersentak dengan respon yang diterimanya. Dia pikir Jung Hyun berhati baik dan mau memaafkannya. Kesempatan ini justru dia gunakan untuk menjatuhkan Jiyeon serendah-rendahnya.

 

“Aku tidak bermaksud melakukan itu, hanya saja saat itu aku memang kesal padamu.”

 

“Seharusnya kau menghentikan niatmu untuk merebut Myungsoo dariku. Dia sudah sangat nyaman bersamaku. Dia mencintaiku.”

 

Demi Tuhan, mereka masih SMA, dan masih banyak kemungkinan kisah cinta untuk kehidupan mereka. Memangnya Myungsoo akan bersamanya sampai akhir masa.

 

Jiyeon menunduk dan menahan rasa sakit hatinya di caci maki seseorang yang menjadi rivalnya.  Sebenarnya dia tidak sudi meminta maaf sepert ini, tapi semua demi Myungsoo. Dia melakukannya karena dia tidak ingin Myungsoo menganggapnya sebagai pecundang dalam hubungan mereka.

 

“Aku sudah meminta maaf padamu, urusan lain bukan urusanmu.” Jiyeon berpaling dan berniat untuk melangkah, tapi mendadak rambutnya ditarik dari belakang, dia berbalik dan reflek memberikan tamparan pada Jung Hyun. Gadis itu tersentak sambil memegangi pipinya. Semua mata menatap kejadian itu, terlebih Myungsoo yang dengan tiba-tiba berada di sampingnya, menatapnya dengan tatapan menuduh.

 

Jiyeon menggeleng— gugup

 

“Myungsoo, aku tidak sengaja!”

 

Sementara Jung Hyun berlari menghindar dengan tetes air mata— palsu.

 

“Jiyeon, aku sungguh tidak mengerti ada apa denganmu.” Laki-laki itu segera berlalu dari hadapan Jiyeon dan membuat gadis itu membeku dengan senyum gamang.

 

Hatinya perih, melihat tatapan itu. Kenapa dia harus melakukan ini pada Jung Hyun. Ditatapnya tangan yang tadi digunakan untuk menampar gadis itu. Kemudian merapikan rambutnya yang tadi pun di jambak oleh gadis itu.

 

“Jiyeon!” Yun Ae memeluk sahabatnya.

 

“Myungsoo pasti membenciku. Sangat membenciku, Yun Ae.” Ratap Jiyeon dengan suara lirih,

 

“Biarkan saja dia, ayo kita masuk ke dalam kelas. Pelajaran akan segeera di mulai.”

 

.

.

 

 

 

Myungsoo sedang menunggu Jung Hyun di depan sebuah taman hiburan masal di pusat kota. Sore ini udara begitu dingin, hingga dia harus berkali-kali menghangatkan telapak tangannya. Gadis itu sudah terlambat setengah jam, tapi Myungsoo tetap menunggunya.

 

Ponselnya berbunyi,

 

Sungyeol menghubunginya dan mengatakan kalau Jiyeon mengalami kecelakaan. Kecelakaan?

 

Namja itu segera meninggalkan tempat itu dan melarikan mobilnya ke rumah Jiyeon. Sungyeol menghubunginya dari sana. Mereka saling menatap sebentar.

 

“Di mana dia?”

 

“Dia tidak ada di rumah, Myungsoo. Aku sudah mencarinya.”

 

“Siapa yang telah menghubungimu?” tanya Myungsoo lagi. Dia terlihat sangat panik.

 

“Jiyeon sendiri.” Jawab Sungyeol dengan kepanikan yang sama

 

“Bagaimana dengan orang tuanya? Apakah mereka sudah diberi kabar?”

 

“Katanya kedua orang tuanya sedang berada di Busan untuk acara keluarga.”

 

Myungsoo semakin cemas dengan berjalan ke sana kemari. Di mana Jiyeon dan apakah benar dia mengalami kecelakaan.

 

Udara semakin dingin dan menegangkan. Lalu beberapa menit kemudian, sebuah mobil muncul di hadapan mereka. Jiyeon turun dan menatap kedua laki-laki itu,  mendadak mereka menatapnya kesal.

 

“Thanks Hyomin!” seru Jiyeon sambil melambai pada gadis cantik itu.

 

Lalu mobil itu melaju meninggalkan mereka. Jiyeon berbalik dan memperhatikan tatapan dingin itu sedang menderanya.

 

“Aku pikir, kau benar-benar mengalami kecelakaan Park Jiyeon.” Sungyeol menggeleng dengan perasaan kesal, tapi dia tidak terlihat marah, justru merasa lega karena mungkin Jiyeon sedang mencari sensasi untuk menggagalkan kencan Myungsoo dengan Jung Hyun.

 

“Kenapa kau selalu bersikap kekanak-kanakan seperti ini, Park Jiyeon? Kau pasti merasa senang telah menggagalkan rencana kencanku dengan Jung Hyun.”  Myungsoo mengatakannya dengan nada dingin.

 

Gadis itu membalas tatapan dingin itu tak mengerti,

 

“Aku memang mengalami kecelakaan Kim Myungsoo, tapi aku tidak menghubungimu. Aku tidak tahu kalau kau sedang berkencan.” Jawab Jiyeon dengan suara lemah.

 

“Berhentilah melakukan hal itu, Park Jiyeon. Apa kau pikir aku akan bersimpati padamu dengan obsesimu padaku?”

 

Jiyeon tidak menjawabnya dan membiarkan Myungsoo puas meluapkan emosinya. Sedangkan Sungyeol sudah berlalu darinya dengan meninggalkan tepukan di bahunya.  Kedua namja itu akhirnya pergi dari sisinya.

 

Jiyeon menatap kakinya, kemudian berjalan pincang masuk ke dalam rumahnya dengan tetes air mata. “Mereka tidak mempercayai kalau aku memang mengalami kecelakaan. Bodohnya aku, seharusnya  tadi aku tidak menghubungi mereka. Hanya membuatku semakin diperlakukan seperti penjahat.”

 

Myungsoo kembali ke tempat dia berkencan dengan Jung Hyun, tapi di sana dia melihat pacarnya itu tengah bersama dengan seorang namja berpenampilan preman.

 

“Jung Hyun!” panggil Myungsoo, tapi gadis itu terlihat pucat.

 

“Ada apa?” tanya Myungsoo.

 

“Apa kau Kim Myungsoo?” tanya laki-laki itu.

 

“Ya, aku Kim Myungsoo. Lepaskan dia !”  Myungsoo memerintahkan laki-laki itu untuk melepaskan tangan Jung Hyun yang terlihat masih pucat karena rasa takut.

 

“Apa kau tahu, dia ini pacarku. Dia berkata padaku, akan setia padaku, tapi nyatanya dia mempunyai laki-laki lain.”

 

“Jangan percaya padanya Myungsoo. Dia berbohong!”  teriak Jung Hyun ketakutan

 

“LEPASKAN DIA!”  desak Myungsoo

 

BUG

 

Myungsoo memberikan sebuah tinju yang langsung membuat hidung laki-laki itu berdarah.

 

“APA KAU PIKIR AKU TAKUT PADAMU!” balas laki-laki itu

 

Cih

 

Laki-laki itupun meludah darah. Dia merasa apa yang terjadi dengannya ini menjatuhkan reputasinya. Beberapa detik kemudian, mereka terlibat dalam adu jotos dan tendang. Myungsoo tampak geram karena harus melakukan ini. Laki-laki itu mundur sambil memegangi perutnya.

 

“Aku tidak akan melupakan peristiwa ini, Kim Myungsoo. Dan kau Jung Hyun, kau akan tahu sendiri apa akibatnya kau mengkhianatiku.” Ujarnya sebelum akhirnya berjalan menjauh.

 

“Siapa dia?” Myungsoo mendekati Jung Hyun dengan tanda tanya besar.

 

“Dia mantan pacarku. Namanya Lee Howon. Dia  memang selalu kasar padaku, itu sebabnya aku memutuskan hubungan dengannya, tapi dia tidak terima dan selalu mengejarku. Aku takut, Kim Myungsoo dia tidak akan melepaskan kita.”

 

Myungsoo memeluk tubuh Jung Hyun dan membawanya pergi dari tempat ini.

 

“Maafkan aku karena aku terlambat datang.”

 

“Tidak apa-apa.”

 

“Wajahmu dingin. Apa kau sakit?” Myungsoo mengusap wajah itu dan membawanya dalam pelukan.

 

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit kedinginan Kim Myungsoo.”

 

Dengan cepat Myungsoo membawa Jung Hyun masuk ke dalam mobil dan memberinya baju hangat. Gadis itu terlihat masih panik dan gemetar,

 

“Aku akan menjagamu. Kau jangan khawatir, Jung Hyun. Tidak akan terjadi sesuatu padamu, juga kita.”

 

Jung Hyun mengangguk

 

.

.

.

 

Jiyeon tidak berangkat ke sekolah karena kakinya mengalami cidera. Ini kesalahannya karena terlalu keras berlatih hingga dia harus terjungkal ke lantai dan terkilir. Apakah ini berlebihan karena kejadian itu dia menghubungi Sungyeol. Tapi itu kan hanya Sungyeol, bukan Myungsoo. Dia tidak berharap Myungsoo mengetahuinya.

 

Jiyeon mengusap kakinya di pinggir jendela dengan obat gosok yang mungkin bisa membuat kakinya merasa nyaman. Mungkin ini memang sudah menjadi garis hidupnya untuk tidak mendapatkan perhatian Myungsoo. Jiyeon akan berhenti untuk berharap. Dia akan membiarkan Myungsoo menjalani kehidupannya sendiri, dan berusaha menerima kehadiran Jung Hyun dalam kehidupan sahabatnya itu.

 

Toh, di sisinya sekarang sudah ada teman-teman lain yang begitu menyayanginya. Sungyeol, Yun Ae, dan juga Hyomin. Ponselnya berbunyi, dan dia melihat nama Sungyeol tertera di sana.  Ada senyum di bibir Jiyeon ketika menyadari bahwa Sungyeol adalah teman yang terlalu baik untuknya.

 

“Ada apa Yeol?”  Jiyeon mencoba untuk berdiri.

 

“Kau tidak masuk?”

 

“Aku tadi terlambat bangun. Jadi aku rasa hari ini aku membolos saja.” Jawab Jiyeon menyembunyikan rasa sakitnya. Dia masih berjalan pincang menuju dapur.

 

“Kau masih saja malas dan ceroboh. “

 

Jiyeon tersenyum.

 

“Apa kalian merindukan aku?” Jiyeon mengambil air dari dispenser

 

“Kau kenapa tadi malam?” tanya Sungyeol dengan gemas,

 

“Tadi malam?”

 

“Ya, kau mengirimiku pesan kalau kau kecelakaan, tapi nyatanya kau sehat walafiat, tidak terjadi sesuatu pun padamu. Kau benar-benar membuat Myungsoo marah, Park Jiyeon.”

 

“Dia pasti marah sekali.”

 

“Ya. “

 

“Biarkan saja.” Sahut Jiyeon.

 

“Yun Ae menanyakanmu. Bolehkan kami ke rumahmu nanti sore?”

 

“Eoh, silahkan saja. Memangnya ada apa?” tanya Jiyeon dengan sedikit gelisah.

 

“Tidak ada apa-apa. Kami hanya ingin ke rumahmu dan bermain sebentar.”

 

“Okay. Aku senang kalian akan datang. Aku akan memasak banyak untuk kalian.”  Seru Jiyeon senang.

 

.

.

.

 

 

Myungsoo dan Jung Hyun sedang berjalan di daerah sekitar pertokoan yang ramai. Mereka sangat terlihat bahagia. Sesekali mereka bercanda dan tertawa pada sebuah fokus yang tak jelas.

 

“Apakah Jiyeon selalu begini?” tanya Jung Hyun tiba-tiba.

 

“Begini bagaimana?”

 

“Cemburu.”

 

Myungsoo sedikit  merenung,

 

Selama menjadi temannya, Jiyeon tidak pernah bersikap seekstreem ini. Dia selalu manis dan lembut, ceria, dan penuh perhatian. Sejak kecil Kim Myungsoo selalu senang menghabiskan waktu bersama temannya itu. Mereka bahkan hampir tidak terpisahkan. Jiyeon senang menari ballet, dan dia masih melakukan itu sampai sekarang. Hanya saja Myungsoo tidak pernah lagi tahu tentang aktifitas Jiyeon sejak dia menyadari bahwa Jiyeon jatuh cinta padanya,

 

Ini sulit, karena Myungsoo begitu takut untuk merasakan perasaan semacam itu. Baginya nilai persahabatan itu lebih abadi, dibanding hubungan percintaa.

 

Namja itu menunduk untuk menyadari perasaannya. Dia hanya takut, Jiyeon akan sakit hati dan membenciya jika hubungan percintaan itu terwujut dalam waktu yang singkat saja.

 

“Apa kau lapar Myungsoo?” tanya Jung Hyun

 

“Sangat.”

 

“Aku punya tempat bagus dan masakannya juga enak.”

 

“Oh ya, di mana?”

 

“Ayolah!”  Jung Hyun menarik tangan Myungsoo untuk kembali ke mobil.  Tapi sebelum dia masuk, ada sebuah motor berjalan cepat dari arah belakang Jung Hyun dan langsung menabrak gadis itu hingga tubuhnya terpental

 

Kejadian itu terlalu cepat hingga Myungsoo tidak bisa menolong, bahkan berteriak pun sudah sangat terlambat. Pengemudia motor itu berhenti dan menoleh, untuk  melihat  yang terjadi pada gadis itu, tapi sepertinya Myungsoo melihat kondisi itu seperti kesengajaan. Dia berusaha untuk mengejar sebelum pengendara itu melajukan motornya lagi.

 

“YAAAAK!”  dengan cepat Myungsoo meloncat dan menendang orang yang semula tidak mengira Myungsoo akan melakukan hal itu. Orang itu ambruk dan kewalahan akibat tendangan dan injakan kaki Myungsoo.

 

“Apa kau sengaja melakukan ini?”  Myungsoo sangat geram dengan hal itu, sehingga dia tidak perduli orang itu sudah dalam kondisi setengah payah.

 

Myungsoo segera melepaskan helm orang itu dan dia sama sekali tidak mengenalinya.

 

“Kenapa kau melakukan ini? KAU INI SIAPA?”

 

“AARGGH!” Myungsoo bersiap menghujamkan tinjunya pada wajah orang yang tengah di injaknya.

 

“A-ku hanyaa, di ..di…suruh!” gugupnya sambil berusaha kabur, tapi Myungsoo masih memeganginya.

 

“Siapa yang telah menyuruhmu?”  tanya Myungsoo lagi.

 

“Park…Park…Ji….”

 

“Jiyeon?” tegas Myungsoo. Orang itu mengangguk, kemudian dengan sebuah tinju dia membuat Myungsoo terjungkal. Myungsoo berusaha untuk bangkit dan menyerang lagi, tapi orang itu sudah  melarikan motornya dengan cepat.

 

“Myuuuung…”  Jung Hyun duduk wajah lebam dan penuh luka. Beberapa orang telah menolong dan mendudukannya di sana.

 

“Jung Hyun, aku akan membawamu ke rumah sakit.”

 

Myungsoo menggendongnya dan memasukkannya ke mobil.

 

.

.

.

 

Jiyeon sedang bermain monopoli dengan Yun Ah dan Sungyeol di rumahnya. Kedua temannya itu masih tidak menyadari kalau kaki Jiyeon tengah cidera, karena sejak tadi Jiyeon hanya duduk dan tidak melayani mereka.

 

 

Jiyeon mempunyai seorang pelayan yang sejak tadi disuruhnya untuk melayani dua teman manjanya ini.

 

“Seharusnya kau bilang kalau kau sendirian di rumah ini, Park Jiyeon sehingga kami bisa menemanimu dari kemarin.”  Sindir Yun Ae.

 

“Eoh, aku lupa. Memangnya kalian mau menginap di sini? rumah kalian lebih bagus dari pada rumahku.”

 

“Ya, rumah kami memang lebih bagus. Dia hanya bercanda, jangan diambil serius!” timpal Sungyeol yang menghadirkan gelak tawa Yun Ae.

 

“Tidak, aku serius, Jiyeon. Yeol parah, aku sih senang saja menginap di sini, kalau kau terserah saja. Kami kan yeoja, kami bisa bergadang sampai pagi bergosip mengenai namja tampan, dan boy band kesukaan kami.”

 

“Betul!” Jiyeon menanggapi seru.

 

Sungyeol hanya merengut karena terdesak,

 

BRAKH

 

Myungsoo muncul dengan wajah kaku. Dia menatap Jiyeon yang masih memasang senyum indahnya. Sungyeol mendadak cemas dengan penampakan Myungsoo yang terlihat sangat angker. Apa yang telah terjadi dengannya

 

“Myungsoo!” sebut Jiyeon bingung.

 

“Hi Myungsoo!” sapa Yun Ae juga. Tapi Myungsoo tidak menyahut, dia seperti membawa api dari neraka di dalam tubuhnya, terlihat sangat merah dan panas, tidak memperdulikan semua sapaan itu, dan terus berjalan ke arah Jiyeon. Tubuh tegapnya menghadapi yeoja yang tengah terduduk dengan sikap kaku itu.

 

 

Jiyeon mulai gemetar, matanya bergerak ke sana sini untuk mencari pelampiasan. Ada apa dengan Myungsoo…

 

“Park Jiyeon, ADA APA DENGANMU SEBENARNYA?”  bentak Myungsoo keras.

 

“Ke…ke…napa?” tanya Jiyeon bingung. Sungyeol pun ikut berdiri,

 

“Ya, Myungsoo ada apa denganmu?”

 

“KALIAN DIAM! Kalau perlu pergi dari sini, karena kalian tidak punya urusan di sini.”  Myungsoo melirik tajam

 

“Kau kenapa Myungsoo?” Jiyeon bertanya lagi, dan menyandarkan dirinya di sofa. Apa yang sudah terjadi dengan namja tampan ini, kenapa bisa menusuknya dengan tatapan seperti itu.

 

“JIYEON, APA KAU PUAS SEKARANG?”  Myungsoo membungkuk kemudian mencengkram lengan Jiyeon dan mengguncangnya keras.  Sangat keras hingga kepala Jiyeon harus mengangguk tak terbantahkan. Gadis itu berusaha untuk memberontak tapi kakinya sedang sakit, sehingga dia tidak sanggup untuk berdiri.

 

“Kau kenapa Kim Myungsoo, apa yang sudah terjadi padamu?”

 

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang sudah kau lakukan pada Jung Hyun.” Geram namja itu dengan suara tipis

 

“Jung Hyun? Ada apa dengannya? Dia kenapa?” Jiyeon tak mengerti

 

“Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau pasti sudah merencanakannya, dan bersikap seolah-olah seperti malaikat yang berwajah manis, padahal sebenarnya kau sunggh jahat.”

 

Jiyeon meremas tangannya demi mendengar Myungsoo mengatakan hal itu.  Kenapa dia begitu tega mengatakan kalimat sekejam itu. Jiyeon merasakan hatinya berdarah.

 

“Kim Myungsoo, kau menyakiti perasaanku.”

 

“Jung Hyun di rumah sakit. Ada seseorang yang menabraknya dengan sengaja, dan dia adalah orang suruhanmu!”

 

Sungyeol dan Yun Ae terkejut mendengar perkataan Myungsoo.

 

“Kau pasti salah Myungsoo.”  Timpal Sungyeol berusaha membela

 

“Aku tidak mungkin salah, aku sudah menghajarnya dan membuatnya mengaku. Dia adalah suruhan wanita jahat ini, Park Jiyeon yang karena kecemburuannya dia selalu berusaha untuk menyingkirkan Jung Hyun dariku.”  Jiyeon memejamkan matanya dengan hati perih.

 

Entah kenapa Myungsoo tidak merasa simpati sedikitpun dengan air mata yang menetes di wajah itu, lalu dengan cepat dia menariknya berdiri, dan memeluk Jiyeon kemudian menciumnya dengan kasar, melumat bibir itu dan membuat Jiyeon harus meronta. Sungyeol ingin membantunya tapi Yun Ae melarangnya. Dia hanya berpikir ini bukan urusannya. Myungsoo sedang marah, salah-salah dia nanti akan kena imbasnya.

 

“Apa yang kau rasakan? APAAAA? Apa kau merasakan cintaku? Apa kau merasakannya saat aku menciummu?” Myungsoo mengusap bibirnya dan menghempaskan Jiyeon ke sofa. Gadis itu menangis tanpa ampun sambil memegangi bibirnya. Dia tidak menyangka Myungsoo akan sekejam ini padanya.

 

Ditariknya napas dengan pelan, kemudian memberikan tatapan tajam pada namja yang berdiri di depannya

 

“Ya, memang benar. Aku yang telah memotong tali yang digunakan Jung Hyun untuk panjat tebing, sehingga dia jatuh. Dan iya, aku menamparnya, dan menyabotase kencan kalian sehingga kalian tidak jadi berkencan, dan aku juga yang menyuruh orang untuk mencelakainya. APA KAU PUAAAAAS?”  nafasnya tersengal-sengal. Dadanya begitu sesak dan perasaan hancur ini semakin membuatnya tenggelam.

 

Myungsoo mengangguk dengan gigi bergemurutuk, dia tidak berkata apa-apa sambil mengangguk dan terus mengangguk.

 

“Jiyeon, kenapa kau seperti itu?”  Yun Ae meneteskan air mata. Dia merasa terpukul sahabatnya mengatakan hal yang tidak terpuji mengenai dirinya sendiri. Dia tidak mempercayai itu, tapi entahlah—

 

 

Jiyeon tidak menjawab. Dia hanya diam, dan Sungyeol berjalan keluar dengan wajah kaku. Dia tidak ikut berkomentar, hanya saja Jiyeon sempat menangkap kesan kecewa di wajahnya. Mungkin Sungyeol akan membencinya mulai saat ini.

 

“Mulai sekarang, jangan pernah berbicara padaku lagi! Pergilah sejauh mungkin dariku, dan jangan mencampuri urusanku lagi. APA KAU MENGERTI?”  teriak Myungsoo sambil melangkah pergi.

 

Isak tangis Jiyeon meledak setelah Myungsoo berlalu. Yun Ae terlihat bingung, tapi dia kasihan pada Jiyeon.

 

“Jiyeon, aku tidak mengerti kenapa kau bisa melakukan hal itu?”

 

Jiyeon menggeleng dan memilih diam.

 

“Kau boleh pergi dari rumahku dan membenciku, YunAe. Aku ingin sendiri. Jangan berteman denganku lagi!”

 

Yun Ae berjalan ragu. Sebentar-sebentar dia menoleh, tapi Jiyeon hanya menunduk dan menutup wajahnya.

 

.

.

.

 

Sudah satu minggu Jiyeon tidak masuk sekolah. Desas desus mengatakan kalau Jiyeon menyebabkan Jung Hyun mengalami kecelakaan. Gossip di setiap sudut tempat hanya membuat reputasi Jiyeon terpuruk.

 

Sungyeol tidak habis pikir, kenapa Jiyeon harus nekat melakukan hal itu. Padahal sudah berkali-kali dia mengatakan padanya untuk tidak berlebihan dan menyerahkan semua ini pada waktu. Mungkin Myungsoo memang belum bisa membalas perasaannya saat ini, siapa tahu kelak dia bisa merasakan perasaan yang sama seperti yang Jiyeon rasakan.

 

Hatinya merasa sedih melihat Jiyeon bisa seperti itu.

 

“Yeol, apa kau percaya, kalau Jiyeon yang melakukan hal itu?” Yun Ae bergayut di lengan Sungyeol.

 

“Aku harap tidak.” Jawab Sungyeol dengan napas berat.

 

“Myungsoo sungguh kejam bisa mencaci maki sahabatnya seperti itu.”

 

“Dia emosi.”

 

“Tapi tetap saja keterlaluan.”

 

“Apakah kita tidak sebaiknya mengunjungi Jiyeon. Ini sudah satu minggu dia tidak masuk sekolah. Aku sangat khawatir.”

 

“Dia butuh waktu untuk sendiri, Yun Ae.”

 

.

.

.

 

Dua hari kemudian, Jiyeon masuk ke sekolah dan semua mata langsung mengarah padanya. Myungsoo hanya berpura-pura tidak melihat. Dia menunduk ketika Jiyeon melintas di sebelahnya.

 

Jiyeon tertawa getir dalam hati, dia sudah terbiasa dengan perlakuan Myungsoo yang seperti itu.  Kakinya sudah cukup membaik, tapi dia masih merasakan sedikit nyeri, karena semalam dia masih berlatih ballet.

 

Yun Ae dan Sungyeol melirik dengan intens saat dia duduk di dekat mereka. Dengan serius Sungyeol menelisik raut di wajah sahabatnya itu.

 

“Kau ke mana saja?” Yun Ae mulai bertanya.

 

Jiyeon mengeleng jengah.

 

Sungyeol menyenggol Yun Ae untuk tidak banyak bertanya.

 

.

.

.

 

 

“Apa kakimu sudah sembuh, Jiyeon?” Hyomin memeriksa kondisi kaki Jiyeon.

 

“sudah.” Jiyeon menjawabnya dengan pasti.

 

Kompetisinya akan diadakan besok, dan Jiyeon terlihat sedikit gugup. Dia harus berhasil dan membuat gebrakan yang maksimal. Dia hanya ingin berusaha sebaik mungkin. Ini  kali pertama dia serius ingin menunjukkan mengenai kemampuannya pada semua orang. Kedua orang tuanya sudah mendukungnya sejak kecil, hanya saja ketika Jiyeon SMA, kegiatan itu sudah mulai dibatasi, mengingat kedua orangtuanya menginginkan Jiyeon sedikti serius dengan pendidikan. Mereka berharap Jiyeon menjadi orang yang berkarir di dunia bisnis seperti mereka.

 

“Aku akan selalu ada untukmu Jiyeon, meski dunia ini memusuhimu.” Jiyeon memeluk Hyomin sebentar dan tersenyum.

 

.

.

.

 

 

Sungyeol menerima sebuah pesan berupa video rekaman mengenai Jiyeon yang tengah disandera oleh laki-laki tidak dikenal. Dia langsung memberikannya pada Myungsoo karena laki-laki itu menyebut nama Myungsoo untuk segera muncul dan menyelamatkan Jiyeon.

 

Tapi Myungsoo tidak sudi untuk menanggapi,

 

“Dia hanya mencari sensasi lagi. Seharusnya kalian sudah hapal dengan tingkahnya!” dia berlalu dan tidak memperdulikan pesan itu.

 

Sungyeol dan Yun Ae hanya separuh percaya, tapi dia tidak melakukan apa-apa.  Mungkin benar yang dikatakan Myungsoo, mungkin Jiyeon memang sengaja membuat drama penculikannya ini agar Myungsoo memaafkannya. Sungyeol menggeleng kecewa.

 

.

.

.

 

“Sudah kukatakan padamu,Myungsoo tidak akan datang. Dia membenciku.”  Jiyeon berbicara pada laki-laki itu yang ternyata adalah Lee Howon.

 

“SIAL! Aku sudah capek-capek menculikmu dan tidak memperoleh apapun. Dia sudah memacari pacarku, aku sungguh ingin menghajar mukanya itu sampai hancur.”  Geramnya

 

Jiyeon menggigit bibrnya. Di dalam ruangan pengap ini, dia hanya berdua saja dengan Howon. Tadi memang sempat ada beberapa orang di sekitarnya, tapi Howon menyuruh mereka untuk berjaga di luar, menunggu kedatangan Myungsoo. Sayangnya yang di tunggu itu tidak akan pernah datang.

 

Yah, Jiyeon menunduk dan menahan isaknya.

 

Howon menghampiri dan mengangkat wajah Jiyeon, hingga gadis yang tengah terikat di bangku itu mendongak.

 

“ Jika aku tidak bisa menghajarnya, paling tidak aku bisa menikmati sesuatu malam ini.” Ujarnya sambil merobek baju Jiyeon hingga terlihat bagian dalamnya.

 

“Kau mau apa? Myungsoo pasti akan menghajarmu!” ancam Jiyeon menakut-nakuti, tapi sepertinya hal itu tidak berfungsi.

 

“Kau cantik sekali, lebih cantik dari mantan Jung Hyun. Tapi kenapa Myungsoo tidak menyukaimu? Malah menyukai pacarku.”

 

“Jung Hyun. Jadi pacarmu adalah Jung Hyun?”

 

“Ssst, jangan banyak bicara, aku ingin menikmati malam ini hanya denganmu saja. Jangan menyebut namanya, Ara!”

 

Howon mengecupi pipi, leher, dan buah dadanya dengan buas. Jiyeon memejamkan matanya demi merasakan tubuhnya dijamahi oleh tangan itu. Dia menangis dan terus menangis tak berdaya ketika kesuciannya diambil dengan paksa. Darah bercucuran pada bangku yang dijadikan tempatnya duduk. Jeritan-jeritannya justru menambah gairah Howon menjadi-jadi. Laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali ini melakukannya berkali-kali sampai dia puas dengan tubuhnya.

 

Dengan suara lirih dia memohon agar Howon menghentikan semua ini, tapi laki-laki itu justru semakin buas. Dia bahkan menggunakan kekerasan dan penyiksaan pada tubuh Jiyeon yang diikat dan tak berdaya.

 

Demi Tuhan, dia ingin mati saja ketimbang merasakan semua hal ini.

 

“Kim Myungsoo….” desisnya diatara air matanya

 

Cinta ini, sungguh sebuah pengorbanan…

 

Jiyeon jatuh pingsan, pada aksi terakhir Howon pada tubuhnya. Dia dibiarkan terkulai di atas bangku itu, tapi dengan sedikit rasa simpati, Howon melepaskan ikatan talinya.

 

.

.

.

 

“Selamat siang!”  Hyomin mendekati sekumpulan siswa yang berdiri di gerbang sekolah. Diantara mereka terdapat Sungyeol yang menunggu Yun Ae keluar dari gedung sekolah.

 

“Selamat siang!” sapa salah satu dari  mereka.

 

“Apa kalian mengenal Park Jiyeon?” tanya Hyomin.

 

Sungyeol langsung mendekat.

 

“Kau siapa?” tanyanya

 

“Namaku Hyomin, aku seniornya di kelas menarinya. Kemarin malam dia meninggalkan piala ini di ruang ganti. Aku pikir aku bisa memberikannya di sini.”

 

“Piala apa?”

 

“Dia memenangkan kompetisi menari ballet.”  Jelas Hyomin singkat

 

Sungyeol tertegun.

 

“Apa kau mengenalnya?”

 

“YA, dia teman kami.” Jawab Sungyeol

 

“Eoh, kalau begitu aku menitipkannya padamu karena aku buru-buru. “

 

“Benarkah dia memenangkan kompetisi menari. Selama ini dia tidak pernah mengatakan kalau dia bisa menari.”

 

“Percayalah padaku, aku pun sebenarnya merasa tidak yakin dia bisa menang, karena beberapa waktu lalu dia mengalami kecelakaan di ruang kelas. Dia terjatuh dan kakinya mengalami cidera. Oh iya, waktu aku mengantarnya pulang, sepertinya aku pun melihatmu di depan rumahnya bersama si brengsek itu, Kim Myungsoo.” Hyomin tersenyum lebar.

 

“Kau kenal Myungsoo?”

 

“Jiyeon selalu menceritaka Myungsoo padaku sampai aku mual, ketika melihatnya aku benar-benar muntah.”

 

Sungyeol menggigit bibirnya dan merasakan bahwa semua yang disampaikan Jiyeon lewat ponselnya itu benar. Jiyeon memang mengalami kecelakaan, hanya saja dia menyembunyikan semua itu darinya, dan membiarkan  Myungsoo membencinya.

 

“Lalu di mana dia sekarang?” tanya Sungyeol

 

Hyomin mengernyit,

 

“Lho. Kenapa bertanya padaku. Bukankah seharusnya dia masuk sekolah hari ini?”

 

Sungyeol menggeleng.

 

“Dia tidak masuk hari ini.”

 

“Lalu—“ Hyomin mulai terlihat panik. “Aku tadi sudah ke rumahnya, tapi katanya tidak ada orang di rumah. Di sana hanya ada pelayan,”

 

“Iya kedua orang tuanya masih di Busan untuk suatu urusan.”

 

“Seharusnya aku tahu.”

 

“Ada apa?” Yun Ae muncul dan berdiri diantara mereka.

 

“Jiyeon.” Jawab Sungyeol

 

“Kenapa dengan dia?”

 

“Dia menghilang.” Jawabnya lagi. Yun Ae menutup mulutnya.

 

“Belakangan ini dia mengalami masa-masa sulit, dia sering bercerita padaku mengenai hubungan pertemanan kalian. Ini sangat membuatku terpukul. Aku sebagai seniornya di kelas menari selalu berusaha untuk mendukung semangatny menari, karena hanya itulah yang bisa membuatnya sedikit terhibur.”  Hyomin menggeleng resah

 

Kenapa Jiyeon harus mengalami masa-masa sulit seperti ini.

 

Yun Ae mulai menggeleng cemas.

 

“Baiklah, aku sebaiknya pergi. Kalian kabari aku jika Jiyeon sudah muncul. “

 

Sungyeol dan Yun Ae mengangguk

 

.

.

.

 

 

Jiyeon tidak pernah lagi muncul, dan namanya sudah tidak disebut lagi dalam absensi. Sungyeol dan Myungsoo semula tidak memperhatikan hal itu, tapi kemudian setelah beberapa hari kemudian dia mulai curiga, karena nama Jiyeon sudah di coret dari daftar absensi.

 

“Di mana dia?” Sungyeol menanyakannya pada Myungsoo, karena dia berpikir, Myungsoo adalah tetangganya, dan dia pasti tahu keluar masuknya Jiyeon dari rumahnya. Tapi Namja itu menggeleng.

 

“Kenapa kau bisa tidak tahu?”  protes Sungyeol

 

“Aku sungguh tidak tahu Sungyeol.” Tegasnya

 

“Ini kesalahanmu karena kau terlalu membela Jung Hyun dan mengabaikannya. Coba kau tidak bersikap seperti itu padanya, dia akan tetap menjadi teman yang baik untuk kita. Kau sudah menyuruhnya pergi sejauh mungkin dari hadapanmu. Apa kau lupa. Dia sudah menuruti semua permintaanmu untuk menghilang dari hadapanmu. Apa sekarang kau puas, Kim Myungsoo?”

 

Myungsoo berdiri dan menatap tajam pada Sungyeol. Tapi dia tidak mempunyai pembelaan yang bermutu yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini. Mungkin Sungyeol memang benar. Dia sudah bersikap tidak adil pada hubungan persahabatan ini sehingga Jiyeon harus merasakan perasaan cemburu yang berlebihan.

 

 

“Aku katakan padamu mengenai malam di mana Jiyeon mengirim pesan padaku mengenai kecelakaan itu, Kim Myungsoo…dia memang mengalami kecelakaan di tempat dia belajar menari. Kau pun melihat dia diantar pulang oleh Hyomin, temannya. Saat itu kaki Jiyeon cidera karena terjatuh saat menari. Dia tidak masuk sekolah  karena tidak bisa berjalan. Tapi kau malah datang dan memakinya, menuduhnya telah mencelakai Jung Hyun, hanya karena orang itu mengatakan suruhan Jiyeon. Apa kau tidak berpikir ada hal yang aneh dalam khasus ini?”  jelas Sungyeol berapi-api.

 

Myungsoo terdiam, hatinya berdebar cemas menyadari satu hal tersebut.

 

“Apa kau pikir aku telah salah paham?”

 

Sungyeol menggeleng, “Aku tidak tahu. Kau cari tahu saja sendiri.”

 

.

.

.

 

Myungsoo mulai mencari Jiyeon. Dia menghubungi nomor ponsel kedua orang tuanya yang masih berada di Busan, tapi tak pernah di terima. Dia melihat rumah Jiyeon pun sepi tak berpenghuni. Para pelayan itu tidak berada di sana karena tuan rumah mereka tidak ada. Dia mencari ke manapun juga tapi tetap tidak menemukannya.

 

Apa yang telah terjadi pada Jiyeon.

 

“Hallo, Myungsoo! Kau di mana, Sayang?”  Jung Hyun menghubunginya

 

“Aku di rumah. Jiyeon menghilang, dan aku menjadi cemas.”

 

“Kenapa kau masih mencemaskannya. Dia sudah berusaha untuk membunuhku, tapi kau masih mencemaskannya!” dengus Jung Hyun kesal.

 

“Aku tidak tahu mengenai hal yang sebenarnya Jung Hyun. Orang itu bisa saja mengarang kalau dia suruhan Jiyeon, tapi bisa jadi dia suruhan Howon. Mantan pacarmu yang beberapa waktu itu mengancamku.”

 

Entah kenapa Myungsoo bisa tiba pada pemikiran itu, dan hatinya menyesal sedalam-dalamnya. Dia gelap mata dan langsung menyalahkan Jiyeon malam itu. Eoh!

 

“Myungsoo, aku tidak suka kau memikirkan Jiyeon seperti itu!”

 

“Jung Hyun, kita bicara lain kali. Saat ini aku ingin mencarinya. Aku merasa khawatir. Aku takut terjadi seuatu dengannya, karena waktu itu aku menerima kiriman video penculikannya.”  Myungsoo tercekat dan mengutuki dirinya sendiri berkali-kali.

 

“Diculik?”

 

“Ya, aku mengabaikannya. Aku …eoh—“ Myungsoo tak sanggup lagi berpikir. Dia duduk di dalam mobilnya sambil memikirkan tempat mana lagi yang biasa dikunjungi Jiyeon. Tapi nihil, karena Myungsoo tidak pernah lagi hadir untuk Jiyeon.

 

“Myungsoo!” panggil sebuah suara. Namja itu menoleh dan mendapati Mina tengah berjalan ke arahnya.

 

Myungsoo keluar dan berdiri di samping mobilnya. Mina terlihat heran dengan kemunculan Myungsoo di daerah sini. sepertinya sangat aneh melihat Myungsoo di pemukiman padat ini.

 

“Kau tinggal di sini?” tanya Myungsoo

 

“Ya. “ jawabnya ceria.

 

“Aku hanya sedang beristirahat.” Myungsoo memperhatikan sekitarnya. “Aku mencari Jiyeon. Dia menghilang.”

 

“Hm, aku tahu. Kau memang sangat keterlaluan Kim Myungsoo!”

 

“Ya, kupikir juga begitu. Apa kau melihatnya?”

 

Mina menggeleng, tapi kemudian ada seorang laki-laki muncul di sebelah Mina. Dia terlihat canggung di bawah topi yang dikenakannya. Myungsoo mengernyit memperhatikan wajah itu…

 

“Wait!” 

 

Mina seperti terkesiap melihat kondisi ini, dia langsung menyenggol pria disebelahnya untuk pergi.

 

Laki-laki itu segera melangkah pergi. Sedangkan Myungsoo berusaha untuk mengingat orang itu..

 

“Aku akan mengatakan padamu, kalau aku menemukan Jiyeon!” ujar gadis itu sambil melangkah pergi dan melambaikan tangan. Setelah Mina tidak terlihat barulah Myungsoo mengingatnya, bukankah laki-laki tadi adalah orang yang mencelakai Jung Hyun.

 

DAMT

 

Myungsoo mengebrak kap mobilnya hingga penyok, dan berteriak keras karena dia akhirnya sadar bahwa Jiyeon tidak melakukan hal itu. Itu mungki orang suruhan Mina, karena selama ini gadis itu sangat membenci Jung Hyun.

 

Tapi itu tidak terlalu penting, karena pada dasarnya, Myungsoo lah yang bersalah karena telah menuduh Jiyeon tanpa menyelidikinya dengan jelas.

 

Laki-laki itu duduk disamping mobilnya dengan penyesalan yang mendalam. Kenapa dia bisa begitu kejam pada Jiyeon. Kenapa hanya karena perasaan absurt ini dia bisa berbuat nekat pada Jiyeon. Seharusnya dia menyelidikinya dulu, seharusnya dia tidak menyalahkan Jiyeon dan memakinya sekejam itu.

 

Jiyeon

 

.

.

.

 

“Aku tidak bisa menemukannya.”

 

Myungsoo duduk di hadapan Sungyeol.

 

“Mungkinkah dia masih berada di tangan para penculik itu?”

 

Sungyeol mengambil ponselnya lagi dan memperhatikan wajah Jiyeon yang terlihat pucat dan ketakutan. Mulutnya tersumbat dan air matanya mengalir deras. Gadis itu duduk dengan tangan dan kaki terikat.

 

Myungsoo merejam hatinya melihat video itu. Jika benar Jiyeon telah diculik, kemudian di bunuh, maka Myungsoo tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena hal ini.

 

“Aku telah bersalah padanya..” Sungyeol menendang beberapa meja di dekatnya. Begitupun Myungsoo yang sejak tadi memukul-mukul dinding dengan sejuta perasaan bersalah.

 

“KALIAN PAYAH!” maki Yun Ae.  “Aku sudah mengatakan pada kalian kalau Jiyeon tidak bersalah, tapi kalian dungu! Kalian bodoh!!”  Yun Ae terisak.  “Kita seharusnya melaporkan kejadian ini pada polisi waktu itu, dan tidak membiarkan Jiyeon sendirian hanya karena emosi kalian yang membabi buta.”

 

Myungsoo berjalan keluar dan Sungyeol mengikutinya.

 

“Kau mau ke mana?” tanya Sungyeol

 

“Aku akan melaporkannya pada polisi.”

 

“Aku ikut.”  Sungyeol menyandinginya.

 

.

.

.

 

 

“Ya kami memang sudah menyelidiki khasus ini.”  Ujar petugas itu.

 

Sungyeol dan Myungsoo saling berpandangan.

 

“Apa Anda tahu di mana dia sekarang ini?”  tanya Myungsoo

 

“Maaf, saya tidak tahu.”

 

“Bagaimana kondisinya saat itu, apa yang telah terjadi pada gadis ini?” tanya Myungsoo lagi.  “Apakah dia masih hidup?”

 

Polisi itu mengangguk

 

“Tapi kondisinya sungguh mengenaskan. Dia diperkosa dan tubuhnya ditinggalkan tergeletak di pinggir jalan, entahlah, mungkin dia berusaha untuk lari tapi tubuhnya lemas. Ada seseorang yang mengantarnya ke rumah sakit, kemudian dia melaporkannya pada kami.”

 

Myungsoo dan Sungyeol terhempas lemas.

\

Jiyeon diculik Howon dan kelompoknya ketika dia pulang dari kompetisi ballet malam itu. Saat itu memang sudah termat larut, dan Howon bukannya tidak tahu siapa Jiyeon, karena selama ini dia selalu mengikuti gerak-gerik Myungsoo dan Jiyeon.

 

Ya, tubuhnya berada di jalan . Tidak jelas apakah dia berusaha untuk lari dari sekapan Howon, atau memang dilepaskan karena Howon tidak berhasil memaksa Myungsoo datang menjemput Jiyeon, dan akhirnya gadis malang itu pingsan di pinggir jalan. Beruntung ada orang baik yang menemukannya dan membawanya ke rumah sakit, sehingga dengan cepat Jiyeon diperiksa.  Hasil visumnya jelas, kalau Jiyeon memang telah diperkosa secara brutal, di tubunya ditemukan banyak luka siksaan.

 

Selama dua hari Jiyeon tidak sadar, dan ketika dia sadar dia berteriak keras. Polisi baru bisa menanyakan mengenai peristiwa yang dialaminya itu pada hari ke tiga. Jiyeon tidak memberikan jawaban apapun selain meminta orang tuanya untuk datang. Polisi itu menghubungi kedua orang tua Jiyeon dan membawa gadis itu pergi entah  kemana.

 

Mereka meminta semua peristiwa ini tidak diungkap ke permukaan, untuk melindungi nama baik keluarga dan Jiyeon sendiri.

 

Begitulah yang diceritakan polisi itu, tanpa menyebut nama Howon. Mereka menangkap Howon dan diberi hukuman kurungan maksimal lima belas tahun.

 

Sungyeol dan Myungsoo tercekat dengan perasaan bersalah tingkat dewa.

 

Ya, mereka mengaku sebagai teman, tapi sebenarnya mereka bukan teman yang sebenarnya karena tidak memperhatikan hal-hal tersebut dari Jiyeon.

 

.

.

.

 

 

Myungsoo mendatangi sangar menari di mana Jiyeon pernah belajar menari. Dia bertemu dengan Hyomin yang tengah melatih para juniornya menari. Kehadiran namja itu cukup membuat ketegangan di benaknya, mengingat Myungsoo selalu membuat Jiyeon sakit hati.

 

“Aku sangat membencimu Kim Myungsoo!” yeoja itu menatap sengit pada sosok Myungsoo yang hanya bisa berdiri dengan sikap aneh.

 

“Aku tahu. Kau boleh membenciku, aku pantas menerimanya.”

 

“Kalau begitu pergilah! Aku tidak mau kau berada di sini!”

 

“Aku hanya ingin mendengar darimu mengenai keluh kesahnya padamu. Karena sungguh aku sangat menyesal dan ingin mati saja rasanya merasakan perasaan bersalah ini.”

 

“Mulai sekarang, jangan pernah berbicara padaku lagi! Pergilah sejauh mungkin dariku, dan jangan mencampuri urusanku lagi. APA KAU MENGERTI?”  

 

Myungsoo mengingat perkataannya sendiri pada Jiyeon dan dia menunduk dalam rasa sesak.

 

Hyomin mencibir,

 

“Ya, mati sajalah sana! Aku benar-benar ingin melihatmu mati dengan cara yang  mengenaskan.”

 

“Hyomin, aku ingin bertemu dengannya, tapi orang tuanya tidak mengijinkan aku menemuinya.”

 

“Ya, tidak akan pernah, bahkan aku pun tidak akan sudi dan rela kau bertemu dengannya.”

 

Myungsoo terduduk lemas.

 

“Dia sangat mencintaimu, dan berharap kau bisa mencintainya. Tapi sepertinya, kau sungguh tak pantas untuk mendapatkan cintanya. Aku sadar bahwa cinta itu memang buta, tapi cinta tidak bodoh seperti ini. Aku sungguh menyayangkan kenapa dia bisa begitu saja jatuh cinta pada laki-laki seperti dirimu.”

 

Myungsoo mendengarkannya dengan rela. Dia memang tidak pantas mendapatkan Jiyeon. Entah kenapa dia merasakan hatinya hancur saat ini.

 

“Aku akan mengirimkan padamu video pada malam di mana dia memenangkan kompetisi ballet itu. Sangat sayang sekali setelah malam itu dia menghilang, padahal pihak yang memberikan hadiah beasiswa itu menanyakan keberadaan Jiyeon.”

 

Myungsoo melihat pada layar ponselnya, saat Jiyeon menari dengan indah di atas panggung. Tangannya gemetar menyentuh gambar itu di dalam layar. Hatinya terenyuh dan tak bisa menahan air matanya.

 

“Ish, kenapa kau harus menangis! Aku mengirimkannya agar kau merasa menyesal seumur hidupmu karena telah mencampakkan gadis baik sepertinya. Dasar cengeng. Aku benar-benar yakin kau memang sangat tidak pantas mendapatkan Jiyeon, Kim Myungsoo.”

 

“Aku sangat bersalah padanya.” Gumam namja itu

 

“Itu sudah pasti. Kau baru menyadarinya kalau kau bersalah setelah dia pergi darimu. Apa kau mengharapkan dia akan mengemis cintamu selamanya. CIH!”

 

Myungsoo mengangguk

 

“Aku memang sangat  sangat   sangat   …. tidak pantas mendapatkan cintanya.”  Dia berdiri dan berjalan meninggalkan Hyomin.

 

.

.

.

 

 

Sepuluh  tahun kemudian,

 

 

Myungsoo meninggalkan semua masalah itu hingga berlalu selama sepuluh tahun. Dia sudah berusaha untuk bertemu dengan Jiyeon, tapi sepertinya orang tuanya tidak pernah menginginkannya untuk menemui putrinya yang mereka sembunyikan entah di mana.

 

Jiyeon memang sakit hati sedalam-dalamnya, dan kehidupannya hancur tak bersisa.

 

Mungkin dia memang tidak ingin lagi bertemu dengan Myungsoo, mungkin perasaannya harus pupus bersama semua rasa sakitnya.

 

Semua berjalan tanpa ada yang tahu, di mana dia berada.

 

 

Dia hanya berharap pada pertemuan yang tak terduga.

 

Setiap harinya

 

Jamnya

 

Menitnya

 

Detiknya

 

Dia mengharapkan bisa menemukan Jiyeon secara tak sengaja.

 

 

Myungsoo tidak pernah berubah. Dia masih tampan, dan bentuk tubuhnya semakin utuh menjadi laki-laki dewasa. Sampai detik ini, sudah ada dari beberapa teman kantornya mengajaknya berkencan, tapi dia menolaknya.

 

Hubungannya dengan Jung Hyun pun telah kandas setelah kejadian itu. Mereka tak lagi saling bertegur sapa satu sama lain, dan herannya perasaan cintanya pada gadis itu pun lenyap seiring menghilangnya Jiyeon.

 

Saat ini, Myungsoo hanya berharap bisa bertemu dengan Jiyeon. Entah di mana, kapan dan pada saat yang tak terduga. Dia selalu menunggu dan menunggu sampai bisa bertemu dengannya. Hanya itulah yang bisa dilakukannya sekarang, karena untuk menemukannya sungguh bukan hal yang mudah.

 

“Tn. Kim, nanti malam kita akan bertemu dengan seorang client dari Eropa. Mereka akan membangun bisniss di Korea, dan sepertinya membutuhkan kosultasi khusus untuk memantapkan tujuan itu.”

 

Myungsoo mengangguk pada atasannya.

 

“Saya akan berusaha sebaik-baiknya.” Jawab Myungsoo yakin.

 

Pekerjaan ini sangat penting baginya, dan sejauh ini dia selalu berhasil dengan semua khasus yang ditanganinya.

 

 

Sungyeol dan Yun Ae akan menikah bulan depan. Mereka sangat serasi dan mendadak tumbuh perasaan cinta sejak Jiyeon menghilang.

 

Seharunya Jiyeon bahagia, dan seharusnya semua ini bisa dinikmatinya juga.

 

Napasnya masih terasa sesak sampai detik ini jika mengingat tragedi itu. Cinta….

 

Kenapa Jiyeon mencintainya,

 

Apa yang membuat gadis itu begitu mencintainya.

 

Myungsoo semakin merasakan hancur, ketika pada hari kelulusannya, ibunya memberinya dua kotak yang dibungkus kertas kado berwarna cantik.

 

Dia mengatakan kalau hadiah itu dari Jiyeon.

 

Kotak pertama, merupakan sebuah hadiah karena Myungsoo dan team basketnya memenangkan pertandingan basket dan menjadi juara umum antar sekolah. Jiyeon tidak berani memberikannya langsung karena Myungsoo sedang marah padanya. Tapi ibunya lupa memberikan pada Myungsoo waktu itu karena Myungsoo sibuk dengan Jung Hyun. Lalu kotak kedua, merupakan hadian kelulusan Myungsoo.

 

Namja itu merasa malu pada dirinya sendiri, karena sampai detik terakhirpun Jiyeon selalu memperhatikannya.

 

“Silahkan Tuan~”  pelayan itu mempersilahkan Myungsoo masuk

 

Untuk waktu beberapa detik Myungsoo terpaku di muka pintu memperhatikan para tamunya yang terdiri dari dua orang wanita dan satu orang laki-laki asing yang tersenyum ke arahnya.

 

Ya, mereka orang asing. Memangnya apa yang Myungsoo pikirkan. Hh—  Jiyeon? Tidak mungkin. Tidak dengan cara seperti ini.

 

Laki-laki itu mengangguk dan mempersilahkan Myungsoo duduk.

 

.

.

.

 

“Apa kau pikir dia akan datang pada pernikahan kalian?”  Myungsoo duduk di dekat pagar balkon apartemen Yun Ae. Sungyeol duduk di sebelahnya.

 

“Aku telah mengirimkan undangan ke alamat orang tuanya. Aku pikir dia pasti tahu kami akan menikah. Tapi entahlah jika dia mau datang atau tidak.”

 

“Emailku tidak pernah dibalas. “ Myungsoo bergumam tak jelas sambil menatap kota Seoul dari lantai dua belas.

 

“Kau jangan bermimipi, Kim Myungsoo. Memangnya kau ini siapa sampai Jiyeon mau membalas emailmu!” Yun Ae melirik sengit, dia memang masih kesal pada sosok namja yang telah membuat hidup Jiyeon hancur itu.

 

“Aku berharap bisa bersimpuh di kakinya dan memohon maaf padanya, menebus semua kesalahanku—“

 

“Dengan cara apa kau akan menebus kesalahanmu, Kim Myungsoo?”  Sungyeol menggeleng acuh,

 

“Aku ingin membahagiakannya seumur hidup.” Jawab Myungsoo yakin.

 

“Dengan apa kau akan membahagiakannya. Uangmu tidak cukup banyak untuk membuatnya bahagia.”

 

Yun Ae menepuk dada Sungyeol

 

“Kau pikir kebahagiaan bisa dibeli dengan uang. Kau bodoh Sungyeol!”  makinya

 

Namja bertubuh jerapah itu mengangguk, “Benar, kebahagiaan memang tidak pernah bisa dibeli dengan uang, tapi kau selalu memintaku untuk bekerja lebih keras agar aku kaya.”

 

Yun Ae melirik lagi, kali ini dia hanya memicingkan mata dengan tangan mengepal.

 

“Jangan membongkar rahasia dalam negri pada orang lain!” ancamnya

 

Sungyeol tersenyum menahan rasa gelinya.

 

“Yang penting, jika kau memang diberi kesempatan untuk bertemu dengannya, hal yang kau lakukan adalah menebus semua dosa-dosamu padanya.”  Tegas Yun Ae.

 

.

.

.

 

 

“Kau terlihat tampan, Sungyeol!”  Myungsoo memperbaiki letak dasi Sungyeol. Hari ini mereka akan menikah. Waktu berputar terlalu cepat, dan kehidupan ini terus berjalan. Usia semakin bertambah tua, dan kepribadian semakin mantap memasuki masa kedewasaan. Semakin tinggi tingkat kehidupan, semakin banyak hal yang menuntut pertanggungjawaban. Sebentar lagi, Sungyeol akan mempertanggungjawabkan kehidupan manusia lain yang telah Tuhan pilihkan baginya, untuk di jaganya, dilindunginya, dikasihinya dan dicintainya seumur hidupnya. Janji itu bukan main sakralnya, karena memang diucapkan langsung di hadapan-Nya.

 

“Ya, kalau kau ingkar atas janjimu, maka kau tidak akan selamat Lee Sungyeol!”  ancam Yun Ae

 

“Kesannya hanya aku saja yang akan berjanji.” Balas Sungyeol

 

Myungsoo yang mendengarkan di belakang mereka hanya menggelengkan kepala.

 

“Kalau kalian masih ingin bertengkar, lebih tidak jadi saja menikahnya, dari pada membuatku malu seperti ini. Aku tidak ingin cincin yang aku bawa ini akan membuat jari kalian alergi !”

 

Sungyeol dan Yun Ae tersenyum.

 

“Tenang saja Myungsoo, beginilah cara kami saling mencintai.” Bisik Sungyeol yang kemudian mengusap tangan Yun Ae yang mengamit lengannya.

 

Musik mengalin indah seiring janji mereka di depan Altar. Myungsoo terkesan dengan acara pernikahan mereka. Seandainya saja dia yang menikah dengan Jiyeon hari ini.

 

Menikah?

 

Mungkinkah.

 

Jiyeon tidak akan mungkin mau menikah dengannya. Memaafkannya pun rasanya sangat tidak mungkin.

 

Mendadak ada seseorang yang masuk dari pintu Gereja, sosoknya tidak terlalu jelas, karena Myungsoo meliriknya dari depan altar. Sosok wanita itu duduk di deretan bangku paling belekang dan mengenakan topi, juga kaca mata hitam untuk menyamarkan profilnya.

 

Myungsoo merasakan hatinya berdebar, dia seperti mempunyai feeling mengenai Jiyeon. Buru-buru dia turun meninggalkan altar untuk mendekati sosok misterius itu.

 

Demi melihat langkah Myungsoo mendekat ke arahnya, sosok itu seperti bertingkah serba salah. Akhirnya dia segera berdiri, dan berjalan cepat keluar dari Gereja.

 

“YAAAK!”  Myungsoo mengejarnya, tapi sosok itu menghilang di area parkir. Beberapa kali Myungsoo menerobos deretan mobil-mobil itu untuk mencari sosok wanita yang dia pikir adalah Jiyeon itu, tapi tak bisa menemukannya.

 

“JIYEOOOON! PARK JIYEOOOOON!” panggil Myungsoo

 

Myungsoo nekat berteriak teriak seperti orang gila di area parkir, bahkan dia mengambil pengeras suara dari pos pengamanan di dekat gerbang pagar, lalu dengan lantang dia mulai berteriak.

 

“PARK JIYEOOOOON!”

 

Suara itu sungguh keras, dan beruntung acara pemberkatan pernikahan telah selesai hingga tidak mengganggu jalannya acara sakral itu.

 

Beberapa orang mendekati Myungsoo yang terlihat lepas kendali. Wajahnya begitu frustasi dipenuhi keinginan yang meluap-luap karena perasaannya sendiri.

 

“Tuan, Anda mengganggu ketenangan umum!”

 

“PARK JIYEOOOON, KELUARLAH!   AKU MERINDUKANMU….”

 

“Tuan, Anda bicara pada siapa?”

 

“KIM MYUNGSOOO!”  Sungyeol mendekati sahabatnya itu. “Pleae, Man kau jangan seperti ini! “

 

“Aku melihatnya Sungyeol. Aku melihat Jiyeon datang lalu dia pergi waktu aku akan mendekatinya.”

 

“Kau mungkin salah lihat.” Bantah Sungyeol

 

“Mana mungkin aku salah lihat, kalaupun aku salah lihat, lalu kenapa dia pergi saat aku mendekat?”  Myungsoo terlihat kalap tapi pengeras suara itu sudah diamankan oleh pihak keamanan.

 

Laki-laki itu mulai berlari ke area parkir lagi dan melongok ke dalam setiap mobil yang terdapat di sana.

 

Dari kejauhan, Jiyeon hanya menatap hal itu tanpa kata-kata. Seharusnya dia tidak datang ke acara ini.

 

“Nona, apakah masih lama?” tanya sang sopir.

 

“Sebentar lagi.” Jiyeon masih ingin menatap Myungsoo. Dia rindu pada laki-laki itu. Setelah sekian lama, dia semakin bertambah tampan dan perasaan ini tidak pernah berubah. Hanya saja, Jiyeon belum bisa memaafkannya.

 

“Ayo kita pergi dari sini!” Jiyeon menyuruh sopirnya untuk berjalan.

 

Yun Ae sempat melihat mobil itu bergerak di luar pagar sana. Dia merasa yakin kalau di dalam mobil itu ada Jiyeon. Dia melambai pada Sungyeol.

 

“Ada apa?”

 

“Aku melihat Jiyeon di dalam mobil yang baru saja pergi barusan.” Sungyeol memperhatikan ke arah jalan besar, tapi mobil itu sudah tidak terlihat.

 

“CCTV!”  bisik Yun Ae

 

.

.

.

 

Myungsoo, Sungyeol dan Yun Ae berkumpul di sebuah ruangan untuk menonton video rekaman camera cctv di sekitar area parkir dan lingkungan Gereja.

 

“Seharusnya kita pergi berbulan madu, bukan menguntit orang seperti ini.” Gerutu Sungyeol sambil memangku Yun Ae.

 

“Demi Myungsoo.”  Jawab Yun Ae

 

“Sekarang kau sudah mau membantunya.” Sindir Sungyeol

 

“Ya, tentu saja! Kau pikir, aku akan membiarkannya terus mengganggu kita seumur hidup jika dia belum bertemu dengan Jiyeon. “  seru Yun Ae keras.

 

“Enak saja! Aku tidak sudi dia mengganggu kita apalagi jika dia terus datang ke rumah kita setiap hari karena hanya ingin berkeluh kesah.” Tegas Sungyeol mendukung

 

“Ya!” timpal Yun Ae bersemangat

 

Myungsoo menggaruk kepalanya,

 

“Gaes, plis jangan berlebihan. Aku tidak setiap hari mendatangi kalian.”

 

“Itu dia!”  tunjuk Yun Ae pada layar teve.

 

Fokus mereka pun berubah pada layar teve yang sedang memperlihatkan penampakan gadis berbaju serba hitam yang tengah berjalan keluar dari mobil kemudian masuk ke dalam Gereja.

 

“Ya, itu dia. Aku yakin kalau dia adalah Jiyeon.” Ujar Myungsoo

 

“Dia sepertinya tidak ingin kita melihatnya.”

 

“Itu dia keluar dari Gereja.”

 

“Itu karena aku mengejarnya.” Ujar Myungsoo

 

“Dia masuk ke dalam mobil di depan itu, dan memperhatikanmu Myungsoo. Kau seperti orang gila lepas dari rumah sakit. Untung pihak security tidak mengikatmu di tiang menara Gereja.”

 

Myungsoo tidak mendengarkan Yun Ae dan terus fokus pada sosok di dalam mobil itu. Wajahnya, dan tatapannya ketika menatapnya yang tengah berteriak-teriak memanggilnya.

 

Ya, itu Jiyeon. Dia duduk dengan tenang, menatapnya, kemudian menunduk, dan memejamkan mata. Myungsoo bisa melihat dengan jelas sosok cantik itu. Dia masih hidup, dan nyata.

 

“Catat nomor mobilnya, dan cari tahu tentang dia. Aku yakin kau akan segera bertemu dengannya Kim Myungsoo.”  Sungyeol memberi saran

 

“Ya, berjanjilah padaku untuk membahagiakannya, jika dia memang mau bertemu denganmu. Jika tidak, mati sajalah kau!” maki Yun Ae pedas.

 

Myungsoo mendengus lemah.

 

.

.

.

 

Laki-laki itu berdiri di depan rumahnya. Jiyeon mematung tak mengerti apa yang harus dilakukannya. Kenapa dia bisa sampai di sini.

 

“Dia ingin bertemu dengan Nona.”  Ujar sang kepala pelayan

 

“Apa dia tahu siapa aku?”

 

“Ya, dia menyebutkan nama Nona Park.”

 

“Biarkan dia berdiri di sana sampai bosan.” Jiyeon duduk kembali di sofa dan menaruh tangannya di dada. Jantungnya berdebar hebat menatap sosok itu lagi.

 

Peristiwa itu sudah lama berlalu,

 

Dia masih belum bisa melupakan tragedi pemerkosaan yang menimpa dirinya, tapi bukan salah Myungsoo juga jika dia tidak datang menolongnya.

 

Jiyeon butuh waktu lama untuk melupakan rasa traumanya. Dia harus berada di pusat rehabitlitasi selama dua tahun. Hidup menyendiri dan melupakan semua mimpinya. Hari ini, jika dia bisa bediri di kota ini lagi, itu hanya karena dia ingin menghadiri pernikahan Yun Ae.

 

Kim Myungsoo,

 

Jiyeon berdiri lagi di dekat jendela, mengintip keluar sana dan  masih mendapati Myungsoo berdiri di sana menatap ke arah rumah yang saat ini dihuni Jiyeon.

 

Rumah besar dan mewah milik keluarga besarnya.

 

Myungsoo pasti terpukau dengan apa yang dilihatnya. Mungkinkah dia berani untuk masuk.

 

.

.

.

 

Waktu berlalu hingga tiga jam lamanya. Jiyeon masih melihat laki-laki itu di sana. dia sungguh menyedihkan.

 

“Nona, apakah Anda mengenalnya? Saya akan mengusirnya jika dia mengganggu Nona.”

 

“Ya, usirlah dia sekarang.”  Jiyeon berjalan masuk ke dalam kamarnya.

 

Bukan salahnya jika saat ini hatinya begitu keras. Mungkin perasaan cinta ini memang masih begitu nyata, tapi entah kenapa begitu sulit untuk memaafkannya.

 

Jiyeon terduduk di pinggir ranjangnya. Dia menekan nomor Yun Ae, yang sekarang mungkin sedang berbulan madu bersama Sungyeol. Dia rindu ingin bertemu Yun Ae.

 

“Hallo!” sapa Yun Ae. Dia tidak tahu, kalau ini adalah nomor Jiyeon.

 

“Hallo, ini siapa?”  ulangnya

 

Jiyeon menarik napasnya dalam-salam sebelum akhirnya,

 

“Ini aku Jiyeon.” Sahut Jiyeon lirih

 

“Park Jiyeon?”

 

Lalu Jiyeon mendengar isak tangis di seberang sana. Yun Ae menangis histeris. Dia mendengar sahabatnya itu menangis.

 

“Yun Ae, aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin memberikan hadiah untuk pernikahanmu dengan Sungyeol. Kalian sangat serasi. Aku ikut berbahagia untuk kalian.”

 

Terdengar lagi tangisan di sana. Jiyeon tersenyum mendengar sahabatnyaitu menangis.

 

“Yun Ae berhentilah menangis!”

 

“Aku sangat merindukanmu, Jiyeon. Aku benar-benar minta maaf atas peristiwa waktu itu. Aku meragukan semua itu.”

 

“Sudahlah, semua sudah berlalu.”

 

“Di mana kita bisa bertemu?”

 

“Di sini, di rumahku. Asal kau jangan membawa Myungsoo. Dia sudah berdiri di depan rumahku sejak pagi, tapi aku tidak membiarkan dia masuk.”

 

“Ya, jangan memaafkannya. Dia pantas mendapatkannya.”

 

Jiyeon terkekeh,

 

“Tidak, Yun Ae, aku mungkin sudah memaafkannya, tapi masih sulit untuk berhadpan dengannya. Kemungkinan aku akan berubah pikiran dan langsung menusuknya dengan keji jika dia sampai berani menatapku dengan matanya itu.”

 

“Jiyeon, aku akan datang.”

 

“Ya, aku akan memberikan alamtnya.”

 

Jiyeon kemudian menuliskan pesan pada Yun Ae.

 

.

.

.

 

 

Jiyeon memeluk Yun Ae dengan derai air mata. Sepuluh tahun berpisah dengan sahabat dan orang-orang yang menyayanginya membuat hari Jiyeon begitu sedih.

 

“Di mana Sungyeol?”

 

“Dia masih bekerja.”

 

“Oh Tuhan, aku rindu padanya juga Yun Ae.”

 

Mereka saling menatap dalam keharuan. Banyak yang ingin disampaikan, tapi terbentur oleh rasa haru yang tak terkira yang akhirnya membawa mereka untuk saling memeluk lagi.

 

“Aku sempat merasa takut, kalau kau membenci kami dan tak ingin bertemu kami lagi.”

 

“Aku telah melalui semua masa-masa sulit itu, Yun Ae. Aku pun sempat memiliki perasaan seperti itu, tapi kemudian aku tak berdaya. Aku sungguh ingin bertemu denganmu.”

 

“Apakah kau memaafkan kami?”

 

Jiyeon mengangguk.

 

“Bagaimana dengan Myungsoo?” tanya Yun Ae hati-hati.

 

Dengan decakan ringan, Jiyeon hanya menyimpan senyum pahitnya. Myungsoo. Entahlah, apa yang ada di dalam hatinya kini. Sekian lama dia hidup sendiri, terlepas dari semua rasa trauma itu, dan semua rasa sakit hatinya pada seorang Myungsoo, Jiyeon memang tidak pernah mengijinkan orang lain masuk ke dalam hatinya.

 

Apakah ini sebuah keajaiban atau sebuah kutukan karena Jiyeon tidak pernah bisa berlalu dari perasaannya terhadap Myungsoo. Cinta… sampai detik ini, diapun selalu bertanya di dalam hatinya.

 

Apa itu cinta.

 

Perjalanan ini telah membawanya pada kehidupannya yang seperti ini, dan makna cinta itu bisa berkamuflase dalam berbagai bentuk dan kronologi. Mungkinkah saat ini ada bentuk cinta yang berbeda yang sesuai dengan kondisinya sekarang ini.

 

“Aku tidak ingin membelanya. Sama sekali tidak Jiyeon, tapi aku hanya ingin bercerita mengenai dia yang selalu mencarimu,m menunggumu dan berharap bertemu denganmu setiap hari seperti oang gila. Kau pasti sudah melihatnya sendiri waktu di depan Gereja itu.  Dia menjadi Myungsoo yang seperti itu.”

 

Jiyeon mengangguk.

 

“Aku mungkin tidak akan lama di sini.”

 

Yun Ae merengut bingung

 

“Kau mau ke mana?”

 

“Aku harus kembali ke Paris. Aku sekarang tinggal di sana, dan hanya ke sini untuk menghadiri pernikahan kalian.”

 

“Tinggalah lebih lama, aku ingin mengundangmu makan malam bersama dengan Sungyeol. Aku ingin kita berkumpul seperti dulu, Jiyeon. Dia pasti senang bertemu denganmu lagi. Ayolah, Sungyeol sangat ingin bertemu denganmu juga.”

 

Jiyeon tak bisa mengatakan tidak, tapi juga tak mengiyakan. Entahlah, dia hanya takut jika Myungsoo pun bersama mereka.

 

“Ayolah, aku akan usahakan Myungsoo tidak ikut mengganggu reuni kita.”

 

Jujur, Jiyeon merasa hal itu tidak perlu dilakukan Yun Ae. Mungkin secara tidak sengaja Jiyeon pun ingin bertemu dengannya. Dia ingin memastikan dirinya apakah masih ada getaran itu saat dia menatap matanya.

 

.

.

.

 

Sejak sore, hujan sudah mengguyur deras kota Seoul. Jiyeon sudah berjanji pada Yun Ae untuk makan malam bersama di sebuah tempat yang mereka janjikan. Eoh. Rasanya sungguh berdebar kembali merasakan saat-saat seperti ini, berkumpul dan bercanda bersama. Sangat menyenangkan. Untuk sejenak Jiyeon memang merasa kepulangannya kembali ke Korea membawa angin segar, bukan kenangan pahit dan mengerikan seperti yang dia pikirkan.

 

Kakinya melangkah turun dari mobil. Sang sopir memberinya jalan dan memayungi Jiyeon berjalan menuju pintu masuk.

 

Deg

 

Deg

 

Kenapa sepertinya gerak geriknya ada yang memperhatikan. Langkah kakinya berhenti dengan sendirinya  ketika dia berada di tempat teduh. Sang sopir membungkuk dan kembali ke arah mobil. Saat itulah sosok itu muncul di dekatnya.

 

Jiyeon nanar menatap mata itu. Kim Myungsoo. Dia berbalut tuxedo elegant dengan tatanan rambut yang begitu api dan manis. Mereka saling menatap dari jarak tifa meter.

 

“Eoh!” Jiyeon memutar badannya dan bergegas ingin meninggalkan tempat itu, tapi Myungsoo menahannya. Dia membiarkan Jiyeon berdiri di dekatnya, menghadapinya, kemudian dengan gerakan pasti, Myungsoo bersimpuh di depan Jiyeon.

 

“Myung,….. Myung….”  Jiyeon memindai sekitarnya, ada beberapa orang yang memperhatikan mereka.

 

“Jiyeon, aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan maaf padamu. Aku hanya bisa melakukannya dengan cara begini. Akupun tidak berharap kau mau memaafkanku, karena memang aku tidak pantas untuk dimaafkan. Aku hanya ingin, kau memakiku, menyumpahiku, jika perlu kau bisa membunuhku.”

 

Jiyeon menggeleng tak mengerti, dia merasa sedikit risih dengan sikap Myungsoo, sementara itu Sungyeol dan Yue keluar dari dalam gedung.

 

“Myungsoo !” sebut Yun Ae

 

“Kenapa kau membuat malu Jiyeon seperti itu. Bangunlah!”  Sungyeol memaksa Myungsoo untuk bangkit, tapi namja itu tidak mau bergeming.

 

“Hi Jiyeon, apa khabarmu! Kau semakin cantik, Sayang!” seru Sungyeol

 

“Diamlah, Sungyeol!”  maki Jiyeon dengan senyum.

 

“Tinggalkan saja dia, ayo kita makan!” ajak Sungyeol kemudian.

 

“YAAAAK!” Myungsoo masih bersimpuh di sana sementara Sungyeol dan Yun Ae menggandeng Jiyeon masuk. Mau tidak mau dia bangkit juga, tapi baru beberapa langkah dia berjalan

 

JLEB

 

Myungsoo menoleh ke sebelahnya, dan melihat wajah laki-laki itu. Howon. Kemudian dia menunduk untuk melihat perutnya. Darah. Ada anyir darah yang merasuk ke penciumannya.

 

“Kau pikir, kau akan bebas dariku, Kim Myungsoo. Setelah sepuluh tahun aku dipenjara karena telah menyetubuhi pelacurmu itu, akhirnya aku bisa membalaskan rasa sakitku. Aku pernah mengatakan padamu, aku tidak akan melupakan semua itu. Kau tahu, aku puas telah meniduri Jiyeon. Aku senang menjadi laki-laki pertama untuknya. HAHAHAHA…..”

 

BRUGH

 

Myungsoo ambruk di lantai bersimbah darah,

 

Jiyeon dan Sungyeol menoleh, dan melihat Howong sekilas, kemudian Myungsoo yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.

 

“AMBULANCE!  Cepat panggil ambulance!”

 

.

.

.

 

Beberapa minggu kemudian,

 

Jiyeon duduk di samping Myungsoo. Mereka dalam penerbangan  ke Paris. Sesekali Jiyeon tersenyum ketika Myungsoo meremas jemarinya, dan saling menatap lagi dengan penuh cinta.

 

“Kau telah berjanji untuk membuat hidupku bahagia, Kim Myungsoo.”  Laki-laki itu mengangguk

 

“Ya, aku ingin membuatmu bahagia Jiyeon.”

 

“Hm, aku akan pegang janjimu.”

 

Myungsoo membawa Jiyeon masuk dalam pelukannya dan mengecup kening itu, tapi dia menyeringai sambil memegangi perutnya. Luka tusuk itu belum pulih benar.

 

Jiyeon mendorongnya untuk tidak banyak bergerak.

 

“Jangan memaksakan diri. Kau harus pulih benar, untuk bisa membuatku selalu bahagia. Jika kau sakit, aku akan mengirimkanmu kembali ke Seoul dalam bentuk komponen terpisah-pisah.”

 

“Ish!”  Myungsoo menyeringai ngeri lalu mengacak rambut Jiyeon. “Kau pikir aku ini suku cadang  electronik.”

 

“Bagaimana perutmu?” Tangan Jiyeon mengusap perut Myungsoo

 

“Masih sakit.”

 

“Howon sungguh dendam padamu karena kau mengambil pacarnya dulu.”

 

“Dia itu gila.”

 

“Kau juga gila.”  Jiyeon memajukan bibirnya.

 

“Aku gila karena dirmu.” Kembali Myungsoo bangkit dan mengecup pipi Jiyeon, dan laki-laki itu menyeringai lagi.

 

“Sudah kubilang kau jangan banyak bergerak.”  Jiyeon mengomel.

 

“Kalau begitu, kemarilah!” Myungsoo memberikan perintah agar Jiyeon mendekat. Ya, Jiyeon mendekat…sangat dekat hingga mereka akhirnya saling menuangkan perasaan lewat kecupan. Myungsoo menikmati semua rasa itu, dan tersenyum.

 

“Kau sangat cantik, Jiyeon.”

 

“Apakah itu artinya kau bisa membalas perasaanku saat ini.”

 

“Ssst, aku ingin memastikannya lagi.”

 

Myungsoo menarik Jiyeon lagi dengan pelan, kemudian mendaratkan ciumannya pada bibir itu. Mereka tidak sadar kalau orang-orang di dalam pesawat malu memperhatikan tingkah mereka.

 

“Just Merried!” bisik Myungsoo pada pragawati yang ingin menegur keasikan mereka yang sedang berciuman tanpa rasa malu dan canggung. Pragawati itu mengangguk dan pergi dengan rasa iri.

 

.

.

.

 

END

 

Note.

 

Aku belum pengen ngelanjutin ff ongoingnya, sabar ya

Ini Kim Myungsoo lagi. Aish, ga taulah pokoknya bisa dinikmati aja sambil bawa ember and tissue.

 

Oke see next week!

Advertisements

81 Comments Add yours

  1. dino399 says:

    Huaaaaaaaa dari pertama baca ampe end air mata ini nga berhenti ngalir 😦
    Aku membencimu myunggg,keseeelll banget ama si myungsooo
    Jiyiiii unnie kenapa begitu mudahnya maafin myungsoo…
    Ffnya kerennn unnie,mataku jdi bengkak nangis terusss…

    1. mochaccino says:

      itulah cinta, Dear. semua akan nyerah dengan cinta. biar orang yang kita cintai itu punya kesalahan setinggi langit, semua akan runtuh dengan cinta.

    1. mochaccino says:

      Thank you for coming

      1. Hmm okay… Waiting for the next oneshoot… Minho-Jiyeon, maybee? Atau Kris Jiyeon boleh bgtt wkwk 😂

      2. mochaccino says:

        MINHO JIYEON aku janjinya ke email atau fb ya. hihi

  2. Nayeon says:

    Astaga..ini apaaa???? Sakit hati bgt baca inii..sakiiiiit sekalii..😭😭myung berhasil buat jiyi sakit hati smpk depresiii..yg baca aja frustasii…sakit hati smpk gk bisa nangis..hanya bisa memaki myung yg paboo..ahhh..capek saya teriak2 emosi smbil ngetik ini..
    Au ah gelap…eonni berhasil buat pembaca esmosi nehh..
    Agak gk rela jiyi maafin myung..tp juga gk rela klo gk happy ending..wkkkkwkw 😂😂
    D tunggu ff lainnya eon..meskipun oneshoot tp puas bgt..wkkwwwk..👍👍👍

    1. mochaccino says:

      ya, ini bikin nyesek banget, tadinya ga pengen sepanjang ini, tapi ya sudahlah akhirnya harus panjang, tadinya sih mau lebih panjang karena emang Myung mau dibikin sekarat dulu. biar pada puas yang baca, tapi udah mentog idenya. makasih udah masih sempet baca

  3. kwonjiyeon says:

    Nangis aduh sedih bnget s howon emank gila cinta itu emank aneh sudah mencampakan bisa tiba2uncul lgi dngn sendirinya mungkin itu jg yg d rasakan jiyeon walau sakit hati karna msa lalu tpi cinta menyembuhkn nya
    Kayanya lgi suka bkin ff sad story

    1. mochaccino says:

      Hi, thank you udah mampir. aku udah kirim passwordnya ke email ya, di chek en ricek

  4. Slh phm sering berakibat fatal..
    Mslh jd + gede..
    Hmmm tu kn myungie hny mw liat dr 1 sisi,,
    Kn korban na jiyeon…
    Aduuh gk kebayang betapa pedih na yg d alami jiyeon.

    1. mochaccino says:

      hi vhie, hihihi…. makasih ya. masih sempetin baca ff q, kebetulan lagi lancar idenya. jadinya bikin oneshot. jarang aku bikin oneshot sepanjang ini pula. see u again!

  5. Amalina says:

    Koq aku sampe nangis ya pas baca ,ffnya sad dr alana memang slalu ngena. myungsoo jahat banget ya, mungkin waktu itu dya belum sadar sama perasaannya , jiyeon tegar banget tapi setelah kejadian itu udah pasti dya sakit hati..sumpah deh myungsoo bkin gregetan banget..sampe yun ae sama hyomin males sma myungsoo.
    Ternyata ada orang lain yg benci cewenya myungsoo , jadi jiyeon yang kena kan .harusnya jiyeon jgn gampang maafin myungsoo , harusnya sampe myungsoo sakit hati juga..ga deh..takut2 kirain jiyeon bakalan meninggal, syukur deh happy ending

    1. mochaccino says:

      iya, ini belakangan ini lagi sad melulu bikinnya. makasiha sangat sudah menyempatkan baca ff sepanjang ini.

  6. yola says:

    Huee eonn aku seneng kalo kmu bikin ff yg oneshot ceritanya bagus terus lagsung habis jadi enak ngga nunggu.
    Di tunggu ff oneshot yg lain. Semoga tidak terlalu lama.

    1. mochaccino says:

      oke, makasih ya udah nyempetin baca ff q.

  7. na hyun jung says:

    lma gak mmpir ke blog ini, eh sklinya mmpir udah dikasih OS yg super panjang ini hehe.
    wah myung kterlaluan bgt sma jiyeon huft klaunya aku jdi jiyeon mah aku mgkin maafin tpi gak bisa brsma myung, ksian jiyeon trlalu bnyak dia mndpt sakit.
    sumpah aku smpai nangis bcanya, gak tega bgt sma pnderitaan jiyeon.

    1. mochaccino says:

      welcomeback, ya tadinya aku mo bikin sad ending, tapi mungkin malah bikin nyesek pembacanya. ya, akhirnya begini. aku juga ga rela, sih, pengennya Myung mati aja. pas ditusk howon. halah! baper banget akunya juga. but makasih sudah mampir lagi.

  8. yustina says:

    Lanaaaaaa jahat sumpah jahat, emak aku sampe bilang dasar gila, huahhhh nangis nha kejer kejer baca ni ff, dari awal udah menyakitkan, untungnya happy ending, jadi ga nyesek2 amat, makasih loh lan, udah bikin mata sembap hidung meler, and teriak ga jelas,
    Oh my god, harus sampe di perkosa juga ya, ya ampun ga tega banget, emang myung mati saja lah
    Aku hyomin and yun ae sepemikiran nih,sempet muak and benci sama myung, hikssss aku tau banget rasa nya cinta tak terbalas dan yang kita sukai temen kita sendiri, aku ngalamin jiy ngalamin, dan nyesek abis,
    Kok nama jung hyun, kalo di balik jadi hyun jung yah, hahahah gagal fokus sama peran jiyi di god of study jadinya,
    Si howon emang gila , sekarang tau deh kata “mati saja lah kau” itu pantes nya buat siapa, ya buat si howon itu, tapi kalo ga gegara dia si jiyi mungkin ga sama si myung, myungsoo hatus sujud sukur juga noh sama si howon, wkwkwkwk
    Duh tadj nya tak kira si sungyeol suka sama si jiyeon, eh taunya nikah sama tmn nya juga, selamat dah selamat
    Jiyeon and myungsok juga selamat yaaaaa, hiksssa masih keluar aja ni aer dari mata 😦 🙂 😀 ❤

    1. mochaccino says:

      cup cup cup…. kecian pada nangis. aduh nih ff bikin anak org nangis. laen kali bikin anak org ketawa aja lah…. btewe makasih udah baca.

  9. BebyPanda says:

    , ya ampun cinta memang menyakitkan hiks hiks…. tuch kan myung akhirnya nyesel…. untung jiyi masih cinta ama kmu, klw engga gak tau bakal gmna… sad romantic bangttttt. … I like it ^^

    1. mochaccino says:

      maklasih sudah menyempatkan baca and komentar.

  10. ifahsiwonest says:

    Omooo kasian jiyeon..
    Miris kesel pengen marah sama Myung tpi cukup deh lana buat Myung menderita tapi kayaknya ga setimpal sma penderitaan jiyi huhu

    Manisnya dikit amet lana kebanyakan nangis T.T
    Keren gpp banyakin Myungyeon hehe

    1. mochaccino says:

      Iya, makasih sudah mampir. Myungyeon karena lagi ada hati sama Myungsoo belakangan ini. ada hati pengen nabok maksudnya. ini ff bikin baper aja. makasih ya..

  11. diah.dimin says:

    Lana ini mau agustusan… Senang2 knp kamu malah bikin orang mewek nyesek egen.. Kmren juga. Waktu sama yeol bnr2 deh lana2 .. Tpi aq kira jiyi bakal hamil anak howon eh enggak klo iya asek juga tuh konflik bertambah.. Next terus..

    1. mochaccino says:

      terus ke mana Ceu! udah ini teh oneshot. terus-terus ntar nyebur koco. agustusan emang seneng-seneng gituh? kagak ah, saya mah capek da ari agustusan. moal ikut lomba…

      1. diah.dimin says:

        Ow.lana mksdku trus bikin f . Fighting..

  12. Yumi Kim says:

    hai lana. maaf baru mampir yaa. tapi sekalinya baca ini hati rasanya ikut sakit bgt. sebel banget sama myungsoo sumpah. gak kuat bacanya. tapi tetep baca sampe abis. dan hati masih kerasa sakit 😦 padahal hoya yg jahat tapi lebih sebel sama myungsoo. ketidakpedulian seseorang yg dicinta emang lebih nyakitin sih. haha

  13. sookyung says:

    senang krn myungyeon bisa happy ending , tp knp jiyeon harus diperkosa,, knp tdk gagal saja saat kejadian itu,, kan bikin kesel aja,, walaupun akhirnya happy ending ,tp tetap saja, krn jiyeon sudah diperkosa krn myungsoo tdk mau dtang menolong jiyeon jdnya kan jiyeon ………. molla molla molla

  14. riska niami says:

    Kasihan lihat penderitaan jiyeon… dituduh dan di aniaya…. rada kesal sma myungsoo tapi akhirnya mreka bersatu juga… iya eon aku suka ff oneshot eonni… ffnya menyentuh bngt..

    1. mochaccino says:

      iya, aku juga galau karena harus ending seperti ini., aku lanjutin untuk final nya ya… eoh smuga kelaksana.

  15. Bb says:

    Aahh, sedih,emosi,trharu jdi satu,,
    aduh sumpah bacanya smbil nangis smpe tumpe2,
    pdahal cerita percintaan remaja tdi tuh simpel bngt, tpi kmu kemas dalam kemasan yg luar biasa sedih ka, huhuhu
    pas lah buat ngeluarin emosi yang trpndam, emang nangis tuh bikin lega.
    Jengkel,sebel,kezzzellll bngt ma myungsoo,
    suka sma karakter hyomin yang tegas, lembut, n klo maki myungsoo juga enak gitu ngomongnya pedes.

    1. mochaccino says:

      makasih sudah ikutan nangis… hik hik…

  16. kyeon says:

    Sumpah kesal bagt ma myungsoo nya walaupun bkn semuanya salah myungsoo tpitetap aja kesal, karna myungsoo hdp jiyeon hancur, dan hars di rehabilitasi selama 2 taon lagi. N knpa jg jiyeon maw aja memaafkan myungsoo dgn muda… Seharsnya ending mrk tdk seharusnya bersatu ching. Walau saya selaku myungyeon shipper tpi entah kenpa tdk suka bgt ma karakter myungsoo di ff ini… Mian kalo ad kata2 yang menyimpang…..

    1. mochaccino says:

      yah tidak apa-apa, kadang ada yang ga suka sad end, ada yang emang sad end, sbenernya ini maunya masih aku panjangin dan Myungsoo emang harusnya mati di sini, tapi ga tau kenapa kok idup. halah….btw makasih sudah ikut nimbrung di sini lagi.

  17. Nana says:

    Sedih yaaaa…. 😢, tapi jiyeon agak cepet maafin myungsoo. Sebenarnya, aku pengen lihat lebih banyak perjuangan keras myungsoo dulu. Biar impas gitu. (wkwkwk…..)

    1. mochaccino says:

      iya rencanaya ini aku mau kasih edisi reply nya, maksudnya adegan di mana endingnya ga seperti yang ini, jadi another version ending. mungkin next week ya …doakan. akan ada hal yang mengejutkan , btw makasih sudah mampir

  18. rianti says:

    hah si jiyeon mah terlalu baik mu maafn myung,,tpinmany juga cinta kn.

    1. mochaccino says:

      iya dia terlalu baik. tapi mungkin akan kaget kalau sebenernya ga seperti itu endingnya. makasih udah nyemprtin baca and komen.

  19. risna says:

    Emosi waktu myungsoo mengabaikan jiyeon. Jiyeon kan diculik juga karena salah myungsoo juga. Knp jiyeon cepat maafin myungsoo sih?? Pengen sekuelnya yg bikin myungsoo nyesel parah parah… Ka lana hebat bisa bikin ff yg buat jd sebel banget sma myungsoo padhal aku myungyeon shipper.

    1. mochaccino says:

      iya, nanti aku bikinin sequel nya

  20. lanjiyeon says:

    petjah meweknya dr awal apalagi pas adegan d perkosa…
    kirain ceritanya bakalan simple2 aja ternyata mantap…cintamu Jiyeon dalem banget untung endingnya bahagia…oh bukannya si howon d penjara 15 thn???
    knp minta pw ff myungyeon blm dapet2??

    1. mochaccino says:

      aku kirim ya pake email…ditengokin emailnya, jangan dicuekin.

  21. Kim yeon says:

    Aku larut dalam ceritanya,,,
    Dibagiang pertama ceritanya aq semangat dukung jiyeon sama myungsoo,,
    Lalu di tengah ceritanya aq mulai gak suka sama myungsoo dan kesalll kebangetan sama myungsoo dan pacarnya,,
    Kemudian di ujung pertengahan aku grasa kasihan banget sama jiyeon harus kena ibas dari sikapnya myungsoo,
    Saking aq gak relanya myungsoo dekat jiyeon lagi aq malah berharap jiyeon dapat cowok lain atau dia kesurga aja biar myungsoo nyesel seumur hidup tu uda nyianyiain jiyeon,, myungsoo gak pantes buat jiyeon dan disitu pucak kesal aq sama myungsoo uda gk kebendung lagii,,,
    Tapi pas mulai diakhir cerita,, uda mulai kasihan dengan myungsoo ya meski masih kesal,,, dia uda menyesali setiap saat perbuatanya ke jiyeon selama 10 tahun di habiskan buat menyesal,, meski aq merasa itu gak cukup dan terlalu singkat untuk luka pasik dan hati yang dirasakan oleh jiyeon tapi kalau dipikir secara logika 10 tahun bukanlah waktu yang singkat long ,, palagi harus dihantui rasa bersala yang buat hampir jadi gila,,
    Oky di akhir cerita jiyeon akhirnya bahagia sama myungsoo,, meski ada beberapa yang belum selesai menurut aku,, seperti pria yang nusuk myungsoo itu belum ditangkap,, lalu reaksi orang tua jiyeon terhadap myungsoo karna kemungkinan besar myungsoo akan ditolak dan ditendang keluar dari kehidupan jiyeon waktu sampai diprancis dan prasaan myungsoo itu masi gamang antara cinta atau rasa bersalahnya campur aduk tuh,,tpi gak masalah aq uda bisa dapet byangan untuk semua pertanyaan ku tdi,,
    Owh ya aq gak dapet fellingnya buat bagian kebahagian myungyeon,, itu terlihat cepat diakhir cerita myungsoo msuk rmah sakit dan tiba2 di pesawat dengan jiyeon bercengkrama mesra, rasanya seperti main2 aja,, atstaga aq ini komen se enak jidatnya pdahal buat ff kan gak semudah komen hahahah please jangan marah ya lana ,, tapi buat alur ceritanya mampu buat aq kesel sama myungsoo dan menaruh simpatik ke jiyeon,, good deh,,

    1. mochaccino says:

      itulah, makanya itu mungkin hanya angan Myungsoo. Aku udah rencanakan untuk sequelnya. semua akan berubah. karena emang cerita ini ga bikin aku puas jga dgn endingnya. aku berniat bikin Myhungsoo mati malahan, tapi berhubunga ini myungyeon, dan banyak pertimbangan untuk happy ending, makanya ini di bikin gantung, tunggu untuk kejutannya di episode selanjutnya

  22. Ucihaaa says:

    Wahhhh jinja, menghayti banget aku bacanya, aduhhhh
    Miris bangetttt tp paling miris pas myung nyamperin ke rmh jiyi yg ada yeol sama yon ae, terus yg hoya apa ini bener diperkosa oh noooooooooooo aku sangatttttt wahhh mwoya ige. Knp gak cmn disiksa knp harus perkosa deuhhh jleb di ati author.
    Ahhhhhh author kok dibikin cepet sii, adegan myungyeon pas mereka ktmu itu kok langsung baikkan dlm pesawat.
    Gak ada cuap” keromantisannya. Kuranggg nih setelah dibuat nangis dari awalll.

    1. mochaccino says:

      iya, nanti akan aku tambahin di episode 2 nya. makasih sudah mampir.

  23. anick says:

    jiyeon kasian,knpa jiyeon trus yg mengejar cinta next

    1. mochaccino says:

      sebenrnya ini sih gada nextnya, hanya aja karena endingnya belum oke menurutku, baiklah akan aku selesaikan dengan baik. itu ajah sih, tapi makasih sudah mampir.

  24. yuliatka says:

    Junghyun sma howon pasangan jahat, howon parah banget balas dendam nya -_-
    Myungsoo juga, knp belain junghyun mulu -______-
    Tp akhirnya dengan baiknya jiyeon mau maafin myungsoo ya XD

  25. yuliatka says:

    Tp menurut aku, ini cerita paling panjang oneshoot yg aku baca ahhahah

    1. mochaccino says:

      iya, ini juga ff oneshot terpanjangnku. mudah mudahan ga bosen

  26. LYanni Kim says:

    Aigo, ceritanya sedih bgt 😦
    rasanya pngen nabok jun hyung… howon knpa merkosa jiyeon siihhh?jdi greget sndiri bcanya…
    untung emdingnya Myungyeon bersatu 🙂

    1. mochaccino says:

      iya,gimana kalo aku bikin endingnya yang lain. keknya aku kurang puas dengan endingnya nih. hahaha….makasih ya, mbak udah dateng ke sini.

  27. jira says:

    Yaampuuun sakit banget waktu baca bagian awal wal pas myungyeon jaman SMA
    pengorbanan banget deh jiyeon😭😭 nyesek itu pas myungsoo malah deket sama cewe lain dan malah maki jiyeon😭😭 ga sanggup baca bagian itu😭 ah pokonya bener bener sakit ni hatiii😢
    walaupun banyak menderita nya akhirnyaaa happy ending juga😂tp bener bener nih ceriita bikin mewek😭😂😂
    Semangat deh ditunggu cerita lain nya😂😂

    1. mochaccino says:

      ini emang ff ternyesek sepanjang aku bikin ff. biasanya aku bikin ff somvlak melulu, giliran di kasih ff sedih pada galon. eaaak, mudah-mudahan bisa mupon….makasih untuk kedatangannya. see u again

  28. sesacf27 says:

    Woahhh daebak,,, sedih banget 😥 untung aja happy ending, kalo sad ending mungkin bakal nangis kejer” deh 😂
    Di tunggu ff OS lainnya yaa 😊

    1. mochaccino says:

      terima kasih sudah menyempatkan baca dan mereview.

  29. Isti says:

    Aaaaaa aku gakuat😭 aku butuh sandaran/? Butuh kolam kosong buat nampung nih air mata😭😭😭 plis ini nyesek banget😭 meskipun endingnya happily ever after, tapi tetep aja awalnya itu loh yg bikin perasaan dikocok kocok/? Kesel, sedih, marah sampe pen lempar itu cowok yg untungnya cakev ke segitiga bermuda!!!! Semuanya ngeblend jadi satu!😭😭😭
    Keren banget ini ff serius deh✌✌✌ aku suka banget😁😁😁 dan ini masih speechless gatau mau komen apa. Yg jelas aku masih baper sama ceritanya😁 kekeke

    1. mochaccino says:

      aKU udah siapin ember ma tissue, keknya gada yg liat. aduh maaf bikin anak orang jadi kejer. maafkan. makaswih juga udah mampir lagi ke sini.

  30. Niajoe says:

    Balik lagi thor.. main di wpmu.. ud lama bnget..kangen T^T

    Demi apa..sungguh benci pada Myungsoo disini.
    Knpa lngsung main nuduh pada Jiyeon??
    Smuanya salahkan Jiyeon. Oke.. mmg utk memotong tali sepatu Junhyung dia salah. Tapi bukankah Jiyeon khilaf dan tidak mengulanginya lagi.. dan yg paling emosi.. ketika Jiyeon diculik..bukannya menolong ini malah bilang smua hnya sandiwara Jiyeon..
    Alhasill… uri Jiyeon mendpatkan siksaan seperti dari Howon yg seharusnya tidak punya hubungan apa dengan dia.. Grrrrr.sumpah setelah itu rasanya aku ingin sekali langsung bunuh Kim Myungsoo itu!!!!!!
    Senang karena Jiyeon menghilang untuk waktu yg lama.. Membiarkan Myungsoo jalani hidupnya penuh rasa siksa bersalah..
    Dan Myungsoo.. bersyukurlah Jiyeon maafkan dirimu dan menerimamu dlm hidupnya..
    Mski hrp endingnya mereka tak bersatu.. tpi mau gimana.. Jiyeon msih mencintai Myungsoo sangat..
    Uniie.. berbahagialah.. hehhe
    Nice ff thor.. keren

    1. mochaccino says:

      terimakasih sudah datang kembali and membaca ff gaje ini. basah deh halaman ini T,T banjir air mata.

  31. mega says:

    Hiks…hiks jiyi trlalu menderita..myung knpa kau jahat banget…knpa aku gk rela jiyi maafin myung yah

  32. Misskim says:

    Pngn bgt liat myung ngjar2 restu sri kedua org tua jiyi..dan prsaan myung kyk yg msh antara cinta dan cuma nyesel aja..pngn sh happy ending klo author mw bkin sekuel.misskim

  33. iineey says:

    Paling ga kuat deh klo baca ff yg cerita nya jiyeon cinta 1 pihak
    Sakittttttttt bgt ngebayanginya
    Ini bacanya udh berderai2 air mata nih 😭😭😭
    Myungsoo sikap nya bener2 ngeselin
    Tp itulah… klo udh sekali kepergok ngelakuin kesalahan akan terus2an di cap begitu

    Ini sebenernya alur nya agak cepet.. tp aku ttp nikmatin sih.

    Akan ada sequel kah? Yg ceritanya ttg seneng2nya mereka kkkk

  34. May andriani says:

    Nyesek bnget bcanya ,, iss aq ksel deh ,, knp jiyeon cepet bnget maafin myungsoo stelah myung nyakitin jiyeon, apalagi dia lbih percaya orang lain dripada jiyeon …

  35. indaah says:

    ahhh daebakk lana , dr awal baca nya aku berasa ngerasain bgt hati jiyeon .. pdhal dia cuma khilaf wktu motongin tali itu , sehabis itu dia cuma dituduh dn malah mengakui apa yg gk d lakukan nya .
    aiihh kesel bgt tu ma myungsoo gk ad rasa peduli nya ma jiyeon cuma bisa nyalahin doank. .
    sedih sumpah wktu jiyeon smpe d perkosa , dan menghilang baru deh d cari dan ketahuan apa yg sebenarnya tiba2 ngerasa nyesl dan apalahh duh ngenes
    pokok nya jempol deh lan keren sumpahh
    enjoy bgt baca nya wlopun panjang smbil scroll smbil kesel liat myung dan sedih liat jiyeon .
    Baru kali ini aku malah pengen ff gk happy ending . Berasa gk adil bgt buat jiyeon , myungsoo gampang bgt buat balik ma jiyeon dg maaf doank .
    next ff lan hehw fighting

  36. nanda says:

    arghhhhh….dr awl bca q dah nysek n mrsa kan tjd hal bruk nnti…n bnr dgaanku… q mang mrsa ksal n … eughh…ma myung tp pas mlht myung yg bg2 sdr n mnysal yg bg2 brusha mncri jiyeon sprt org gila sngguh mbwtku mris n ingin jiyeon saat tu mu m’maafkn myung… tp dsni q lbih ksal n bnci ma howon krn dy kurng ajr… dgn tga”y mlkukan hal keji thdp jiyeon apgi dah mlkukan hal bruk sngguh mbwt drahku mndi”h emsi…ga rela q mlht:y rsa’y pngen mkul n mncincang” howon huh… klo mu blas dndam hrs’y kpd hyun jung’y dong jgn lbatkn jiyeon kdlm mslh tu…huh…

  37. queenie says:

    Haaa.. ff ni benar2 menguras emosi, trlebih lgi pas myung nuduh jiyeon d rumah’a, d stu rsa’a benar2 haa…. untung ja aq bca’a bkan d tmpat yg sepi, bisa2 mandi air mata aq jadi’a(lebayyy)

  38. haeril says:

    Wah benar2 berat kehidupan & permasalahan cinta jiyi. Sangat disayangkan myung tidak bisa menyelamatkan jiyi dari perkosaan tu. N pasti berat banget jiyi menghadapi kehidupannya setelah kejadian tu. Tapi sedikit kecewa dg akhir ceritanya,, kenapa jiyi semudah tu menerima myung.
    Setidaknya adalah pengorbanan yg harus dilakukan myung untuk mendapatkan hati jiyi kembali.
    meskipun dy masih menyukai myung tapi setidaknya lihatlah usaha & kesungguhan hati myung kepadanya. Tapi tetap the best lah chingu

    1. mochaccino says:

      thank u somuch for coming. iya,ini sebenernya udah aku bikin sequelnya versi kesadaran Myung kembali setelah dia di tusuk Howon. tapi belum smpt aku post sih, nantilah kalo udah 100 &% clear.

  39. Hadeuhhhh bikin baperrrrr abis ff nya 😥 sumpah nih story bikin aku nangis kejer, gregetan banget bikin emosi tingkat dewa sama si hyun jung ‘n myung, pengen jitak aja kepala si abang kece itu :’D
    Feel nya dapet banget nyampe seolah” aku bisa ngerasain apa yg jiyi rasain disini, pokoknya 10 jempol dahhh buat author nya 😀

    1. mochaccino says:

      makasih sudah nyempetin mampir, and baca. hihihi makasih udah nangis. kirain angst nya ga nonjok.

  40. Chacha says:

    Omg, aku sudah menyia-nyiakan waktu buat nggak baca karna lihat komentar yg kesannya “sad ending” apalagi dengan komentar yg benci atau kesel sama myungsoo. Tpi ternyata happy ending… walopun sangat2 kesel sama myungsoo, pabo. Heran sih sama jiyeon yg dengan mudah memaafkan myungsoo. Tpi dipikir2 lgi mungkin itu lah takdir haha dan sepuluh tahun menyendiri adalah waktu yg sangat lama.
    Keep writing… selalu bisa dapet feel ketika baca ff dri unnie (walopun cuma baca myungyeon dan taeyong). Ditunggu ff myungyeon lainnya.

  41. aaaaaaa……!!!! sepertiga malem nemu ff OS dgn genre sad… ya ampun…ya ampun..ya ampuuuuunnnn…..!!!!
    apa ini??? ada apa dgn jiyi-ku (?)…
    kenapa author tega bgt…
    sebeeeel sesebel sebelnya ma myung… n aku setuju ma smua koment diatas yg ngaya’in myung ga pantes smudah itu mndapatkan maaf dari jiyeon… ga bisa bayangin keada’an jiyi abis diper**sa itu.. pas dia ditemukan dlm keada’an pingsan dipinggir jalan.. blm traumanya n harus memulihkan luka batin selama 2 taon… klo aku jd jiyi aku akan balas dendam.. *mengepalkantangan…
    jiyi… aku mendukungmu untuk balas dendam…

  42. diah.dimin says:

    kyaaaa aq pengen protes karna lana sukses bikin ff saaad omg……sedih nya jadi jiyi.. smoga myung dft ganjarannya krn dah nyalahin hiyi mulu…

  43. cia says:

    Kesel bgt sama myungsoooo
    Ga percaya sama jiyi sampai jiyi ngalamin hal kyk gituu
    Tp seneng bisa happy endingg

  44. shinahrin43 says:

    Buseeeettttt,,, ini angst nya kebangetan. Aku ampe nangis sesegukan baca ini. Apalagi pas howon merkosa jiyi, dan myung dengan entengnya bilang itu untuk menarik perhatian aja. Shit, goddamn you, kim myungsoo. Jiyi udah mencintai myung,tapi balesannya separah itu. Dasar nappeun myungsoo. Aku gak terima si jiyi diperkosa gak Terima sumpah apa-apaan itu mana endingnya si myung idup. Mati aja mati namja bodoh begitu. Issshhhh… Tapi yaaa namanya juga story yaa.. Kalo aku jadi jiyi aku dah yg bakal nembak si myung.

    1. mochaccino says:

      lanjtannya da diblogspot coba deh liat di sono.

  45. queenie says:

    Ini kdua kali’a aku baca ni ff n rasa’a ttap sama, sama” nyesek😭, awal’a aku mmbuka’a krna ku pikir belum prnah mmbaca’a😁 tp entah krna pnghyatanku at krna cerita’a man bagus hinga aku kmbali nangis baca’a😢😢

    1. mochaccino says:

      maaf sudah bikin nangis semua yg baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s