LIE TO ME 4th


lie to me

LIE TO ME 4th

Kim Taeyong

Park Jiyeon

And other

PG-17

Oneshot

.

.

.

 

Jiyeon membasuh tubuhnya berkali-kali dengan sabun di depan cermin. Membayangkan setiap jengkal tubuhnya yang telah disentuhi Taeyong tanpa perasaan. Sejenak dia tertegun dan mengulas kembali kejadian dua hari lalu ketika tatapan itu menghujamnya dengan tajam, namun lembut dan—

“Aaarrrgh!.” Jiyeon menepiskan semua itu dengan menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun lebih cepat. Dia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri kenapa begitu terhanyut oleh tatapan itu. BRENGSEK! Taeyong terlihat begitu sexy, dan emosinya sungguh tidak bisa dimengerti. Banyak luapan gairah yang membuat wajah itu terlihat lebih tampan dari biasanya.

Okeylah! Ini tidak terlalu buruk.

Jiyeon menggeleng menyadari bahwa sebenarnya pun dia tidak terlalu menyesali apa yang telah terjadi. Dia tidak akan marah atau menuntut bocah itu untuk bertanggung jawab, asalkan dia tidak hamil

Jangan. Mungkin hanya ada sedikit rasa khawatir.

Shit, dia mengeluarkannya di dalam. Jiyeon segera menyudahi mandinya agar dia tidak terlalu terlena dengan bayangan wajah Taeyong ketika sedang memperkosanya dengan liar.

Itu hanya nafsu, tandas Jiyeon dengan mengenakan pakaiannya. Taeyong hanya sedang bernafsu.  Tubuh bocah itu—

Dia bukan bocah lagi. Jelas dia bukan bocah lagi. Di sana terdapat pahatan yang cukup mencengangkan. Bahu tegapnya yang menyokong bentuk kokoh leher dan rahangnya, juga dada yang begitu bidang, penuh dengan kilauan keringat yang mengkristal, juga abdomentnya yang selalu melekat di atas tubuhnya.

Jiyeon menggigit bibirnya, dan berlalu dari depan cermin dengan wajah memerah. Dia malu pada dirinya sendiri karena terlalu mengagumi keindahan bocah yang telah memperkosanya itu.

.

.

.

BRUKH

Jiyeon menoleh ke arah sofanya, dan melihat bocah itu duduk di sana tanpa rasa canggung.  Dari mana dia bisa masuk. Jiyeon menaha geramnya sebentar, tapi kemudian hanya menggeleng tak berdaya. Kelakuan bocah itu semakin aneh dan entahlah…

Rambutnya basah, mungkin dia baru selesai mandi. Atau bisa saja keringat. Apapun itu siapa yang perduli.

Jiyeon melirik lagi,

Dia perduli. Ini membuatnya pusing, karena dia tidak bisa berhenti melirik. Dia sedang apa? Masih duduk dengan posisi anehnya. Sangat angkuh. Dagunya selalu terangkat, dan—

“Arrgh!” Jiyeon melihat ke arah penggorengannya.  Tangannya terkena pinggirannya dan sedikit menyisakan tanda merah di ujung telunjuknya.

Taeyong meliriknya, masih tanpa sapaan. Dia itu manusia berhati batu, atau memang seluruh onderdilnya berasal dari batu.

Sambil terus menyelesaikan kegiatan memasaknya, Jiyeon memikirkan  Taeyong yang asik menonton acara di teve.

Tidak ada menu istimewa bagi seorang Jiyeon. Dia cukup menikmati makan malamnya ini dengan nasi dan sayur.. setelah seharian tadi dia beraktifitas, dia sdikit lega karena akhirnya bisa melepaskan ketegangan punggungnya di sana tanpa memperdulikan bocah itu mash berada di sofanya dan berlagak acuh tapi kelihatannya ingin agar Jiyeon menyapanya.

Tidak sudi!

Rasa gengsi memaksanya untuk diam dan bertahan. Kenapa dia harus menyapanya setelah apa yang telah dilakukannya, dan kenapa dia tidak mengucapkan maaf meski itu lewat tatap matanya.

Taeyong menoleh pada nunnanya yang sedang menyantap makan malamnya dalam diam, bahkan tidak terdengar sedikitpun dia mengunyah semua makanan itu.

Mereka saling bertemu pandang sebentar, tapi kemudian Jiyeon melengos dengan tenang. Dia tidak ingin menjalin sebuah kesan akrab dengan sikap Taeyong yang masih membatu seperti itu. Bocah yang tak tahu tata krama. Berandalan kota. Makinya dalam hati.

Tuk Tuk

Jiyeon menoleh, dan mendapati Taeyong berdiri di sampingnya. Gadis itu menggeser letak duduknya untuk menghindari sentuhan Taeyong yang mendadak ingin menyambar anak rambutnya. Dia pikir dia itu siapa.

Nunna, apa kau punya beer?”

Jiyeon tak menjawab, dan lebih memilih menunduk untuk menghindari tatapan yang membuat hatinya lemah itu. Dia sendiri tidak menyangka kalau akhirnya bocah ini yang mengambil keperawanannya pun tanpa sebuah kata cinta. Jiyeon menggeleng lagi

“Aku butuh beer malam ini. ”

Taeyong melangkah ke dapur dan membuka kulkas. Wajahnya mendadak sumringah ketika menyadari ternyata Jiyeon mempunyai stock beer yang cukup banyak. Dia mengambil satu dan membawanya ke samping Nunnanya.

Untuk sejenak dia duduk di depan Jiyeon dan mengamati wajah yang tengah menunduk itu dengan jeli.

Sifat nakalnya memaksanya untuk lebih dalam menelisik keindahan tubuh Jiyeon yang pernah di cumbuinya dengan sangat indah malam itu.  Tanpa sadar dia meminum cairan kuning keemasan itu dengan suara-suara yang sangat memekakkan pendengaran Jiyeon. Gadis itu menyeringai risih mengingat suara itu membuatnya teringat akan malam itu.

“Srrrupppp…mhmmm”

Dia mengangkat wajahnya dan melihat sorot mata itu tengah memperhatikannya dengan sangat nakal.

“Pergi dari rumahku!” usir Jiyeon cepat.

“Kenapa aku harus pergi?” tantang bocah itu

“Mereka tidak akan suka kalau tahu keponakannya berada di sini, lagipula aku muak padamu.”

“Mereka pergi.”  Diam sebentar

Nunna pikir kenapa aku bisa berada di sini dengan santai seperti ini..”

Jiyeon membawa piringnya ke dapur dan meletakkannya di sink. Dia berbalik dan menatap Taeyong dengan was-was. Jika paman dan bibi Kim sedang pergi, apakah bocah ini akan berada di sini semalaman.

Mendadak Taeyong berdiri dan menghampirinya. JANGAN! Jiyeon segera bergerak seiring Taeyong mendekatinya. Antisipasi ini harus dilakukannya mengingat saat ini bocah itu mungkin akan bertindak lebih berani dari yang kemarin.

“Tae, pergilah! Jangan menggangguku lagi! Kumohon.”  Jiyeon mulai menjauh.

Nunna, kau kenapa?” Taeyong membuka kulkas lagi dan mengambil sekaleng beer dari dalam sana.

“Jangan menghabiskan beerku!”  hardik Jiyeon dari jauh.

Taeyong menatap cuek dengan wajah dinginnya.

“Baiklah ini yang terakhir, Nunna.”

“PERGILAH!”  bentak Jiyeon lagi

“Memangnya kenapa aku harus pergi? Aku merasa nyaman di sini. Di rumah Paman aku merasa kesepian, Nunna.”

Jiyeon menggaruk kepalanya dan mencoba untuk keluar, tapi Taeyong berlari dan mengejarnya, kemudian menangkap tangannya.

“TAE! Kuperingatkan padamu, kalau kau sampai kurang ajar padaku, aku akan membunuhmu!”  namja itu mengajak Jiyeon duduk di sofa, di sisinya. Kemudian menonton acara teve dalam sikap diam.

Jiyeon merasa aneh dengan sikap ini. Apa yang harus dilakukannya, taeyong membawa tangan Jiyeon ke atas pangkuannya. Sesekali dia melirik sikap bocah itu dengan tanda tanya besar yang menggerogoti otaknya,

Apa yang sedang terjadi dengan namja di sebelahnya ini.

Jika dia memang pelit dengan argument, itu tidak masalah karena memang begitulah yang Jiyeon tahu dari sosok Taeyong, asalkan dia tidak bersikap mencurigakan seperti yang dia lakukan saat ini.

Diam dan meremas tangannya. Ini cukup membuat keringat dingin Jiyeon merembes membasahi bajunya.

“YAK Lee Taeyong, aku  tidak sudi lagi kau memperlakukanku seperti kemarin, apa kau pikir kau bisa dengan bebas memperlakukanku seperti itu lagi?”

Taeyong mengulum bibirnya dengan santai.

Okay!”  sahutnya. Lalu dia diam lagi dengan tatapan mata lurus ke arah teve.

Sepuluh menit berlalu tanpa ada perbincangan, sementara Jiyeon sudah menguap berkali-kali tanpa sadar. Dia sangat lelah dan mengantuk, tapi dia pun harus berhati-hati dengan keberadaan taeyong di sisinya malam ini.

Sebenarnya entah kenapa, hatinya merasa begitu senang Taeyong menggenggam tangannya dan memangkunya di sana. Ini sedikit membuatnya risih, tapi juga dia merasa kesemutan dengan posisi ini.

“Tae, aku capek. Aku mau tidur. Kau pulanglah!”   usir Jiyeon lagi.

Namja itu melirik,

Demi Tuhan, Jiyeon sungguh terkubur dengan lirikan tajam itu.

“Tidurlah!”  akhirnya Taeyong melepaskan tangan Jiyeon.

“Kau pulanglah!”  Jiyeon berdiri dan menunggu namja itu beranjak dari rumahnya.

“Aku tidak mau.” Jawabnya tenang. Dia malah memposisikan dirinya untuk rebah dan menonton acara teve lagi dengan sikap santai. Jiyeon sungguh tidak memahami apa yang sedang dilakukan bocah ini di rumahnya.

“Taeyong, aku tidak ingin bersikap kasar padamu, tapi aku sungguh tidak mengerti kenapa kau begini? Setelah kau memperkosaku, apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun. Apa yang ada di dalam otakmu itu? Apa kau memang ingin membuatku menjadi wanita yang bisa kau perlakukan seenakmu. Kau jangan lupa kalau aku bisa saja melaporkan kejadian malam itu pada polisi. Tapi— “  Jiyeon menarik napasnya sebentar, tapi apa…

Dia berpikir dan tertegun dengan tatapan kesal.

“Aku memikirkan sebuah hal penting yang mungkin saja terjadi diantara kita. Mungkin aku menyukaimu, berharap semua itu bukanlah sebuah kesalahan, hanya saja aku seorang wanita, aku membutuhkan kejelasan atau paling tidak kau bisa mengatakan maaf seandainya saja kau memang hanya melampiaskan rasa kesalmu. Aku akan berbesar hati merelakan semua ini berlalu. Asalkan kau tidak mengulangi hal itu terjadi lagi. TIDAK AKAN PERNAH KUIJINKAN LAGI! Apa kau dengar Lee taeyong. Pulanglah sebelum aku memanggil polisi untuk datang ke sini!”

Namja itu menatap Jiyeon yang tengah bermonolog di depannya. Dia hanya menyunggingkan senyum tipis yang membawanya bangkit dari posisinya.

Ketika dia berdiri, Jiyeon bergerak menjauh. Sikapnya sungguh beralasan. Ini tidak mungkin tidak dia lakukan, karena dia tidak ingin terjadi sesuatu yang memungkinkan dirinya jatuh dalam pesona bocah ini— lagi.

“Nunna,  kau gugup!”  Taeyon berujar santai. Mereka berhadapan dan saling beradu tatapan. Dia tersenyum dan mencandai wajah Nunnanya.

“Tidak! Aku tidak sedang gugup.” bantah Jiyeon dengan lantang

“Ya,kau gugup Nunna.”  Tegas namja itu lagi

“Aku tidak gugup Lee Taeyong.”

Namja itu mendekat dan meraih tangan itu, dan mengangguk pelan

Okay , …..bagaimana kalau malam ini aku membuatmu gugup?”

Rona merah itu menyebar dari wajah hingga ke telinga Jyeon. Kenapa bocah ini membuatnya merinding dengan kata-katanya. Dari mana dia mempelajari cara merayu wanita, terlebih wanita yang usianya lebih tua darinya.

“Kelihatannya kau lebih senang menjadi gugup ketimbang mengusirku.”  Dia mendekat dan membuat Jiyeon semakin gugup. Eoh, dia memang gugup.

“Taeyong, please jangan seperti ini. Aku tidak mau kau memperlakukanku tanpa ada perasaan.”

“Tapi Nunna, kau menikmatinya. Kau menyukai tubuhku ketika berada aku memelukmu.”

Jiyeon melengos.

Tubuh apa?

Siapa menikmati tubuh siapa?

Jiyeon menggerutu dalam hati kemudian menoleh lagi pada sosok di depannya. Apa mereka sedang bernegoisasi. Paru-parunya mendadak sesak. Bocah ini terlalu dewasa sebelum waktunya. Bahkan Jiyeon pun tak pernah mengerti apapun sebelumnya mengenai apa itu rasanya ‘menikmati’.

Fiuuuh!

“Kenapa kau bisa seperti ini? Apakah ini yang kau pelajari selama di kota besar. Sangat tidak terpuji.”

“Aku membutuhkannya.”

“Kau butuh sex?” Jiyeon mengernyit

“Apa salahnya dengan melakukan itu?”

“Kau pasti sering melakukannya dengan pacarmu.”

“Ya. Aku sering melakukannya.”

“Tapi aku bukan pacarmu.”

“Aku tahu, tapi aku membutuhkannya.”

Oh Tuhan!

Jiyeon ingin sekali mencakar wajah tampan si ideot ini.

Baru kali ini Jiyeon mendengarkan ungkapan hati yang begitu tak tertolong. Dia mungkin perempuan yang kesepian, dan sangat merindukan sosok yang bisa membuatnya merasa hangat dan nyaman, tapi bukan dengan sekedar berhubungan. Dia membutuhkan ikatan batin.

“Aku sangat membenci tempat ini.” Gumam Taeyong

“Kau tidak harus berada di sini.”

“Aku tahu.””

“Kau hanya butuh beradaptasi, Taeyong.”

“Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku merasa betah.”

“Dan itu adalah dirimu. Jika kau tidak ada, aku merasa sangat kosong. Aku bosan, muak dan—“

Jiyeon terdesak hingga ke dinding. Tangan Taeyong menyekapnya dengan kuat. Menekan tubuhnya dan menghantui Jiyeon dengan hembusan nafasnya.

Jiyeon menegaskan tatapannya pada sang namja

“I need you!” bisiknya dengan intimidasi di setiap jengkal kecupan bibirnya.

“Eoh!” Jiyeon mendorong dada itu menjauh. Ada rasa takut di benaknya.

“Sebaiknya kau pulang Taeyong.”

Taeyong menatapnya beku. Dia mencoba untuk menahan dirinya ketika melihat Jiyeon begitu kesal padanya.  Tatapan itu begitu menusuknya.

Perasaannya berkecamuk dengan hebat. Aliran darahnya berdesir seiring deru napas yang terhempas berat. Berkali-kali mendengus dan akhirnya berpaling untuk menghujamkan tinjunya pada dinding.

BUG

BUG

“Taeyong….Taeyong!” Jiyeon berusaha untuk menahan tangan itu, tapi dia tak berhasil.

BUG

BUG

Sekarang tangan itu mulai terluka. Ada warna darah yang membayang pada dinding berwarna pastel itu. Jiyeon memohon dengan tatapannya sambil akhirnya memeluk punggung itu.

“Jangan menyakiti dirimu sendiri. Tolong hentikan!” bisiknya, dan bocah itu  berhenti dengan napas yang masih terpompa kasar. Dia menekan keningnya pada dinding sambil terus menggeram. Entah rasa kesal apa yang membuatnya seperti ini.

Jiyeon mengusap punggung itu, dan merasakan emosi Taeyong lerai dengan perlahan.

Dengan sekali hempasan, sia  melepaskan pelukan tangan Jiyeon dan berjalan gegas keluar. Dia bahkan tak menoleh untuk melihat kekalutan yang ditelan Jiyeon karena merasakan perasaan pelik di dalam benaknya.

.

.

.

Sore sebelum pulang, ada sebuah panggilan untuk Taeyong yang mengharuskannya datang ke ruangan kepala sekolah. Tentu saja dia tahu apa yang akan terjadi di sana. Jika bukan karena Shirin, mungkin juga dia akan dikenakan sanksi karena ketidakhadirannya ke sekolah selama dua hari.

Ini cukup membuat reputasinya terpuruk semakin dalam. Baru saja dia ingin memulai sesuatu yang bisa membuat kehidupannya membaik, tapi harus dihadapkan kembali dengan kenyataan konyol yang  menerpanya.

“Duduklah!”  kepala sekolah itu mempersilahkannya duduk

“Lee Taeyong.” Sebut laki-laki itu untuk memastikan. Matanya memicing untuk lebih detail meneliti wajah namja yang tidak menunjukkan keramahannya itu.  Dengus pendeknya menyapa seiring sang kepala sekolah itu menggeleng jengah.  Jadi inilah manusia yang membuat putrinya tergila-gila.

Taeyong hanya memberi tatapan cuek seperti biasanya.

“Berapa umurmu?”

“20.”

“Okay. “ kepala sekolah itu mengangguk seolah-olah ingin bersikap bijaksana.  “Apa kau betah berada di sini?”

Taeyong menggeleng. Dia jujur dengan apa yang dirasakannya.  Matanya melahap setiap sudut ruangan ini dengan malas kemudian menunduk lagi dengan helaan napas berat.

“Aku mengerti. Di sini memang bukan Seoul. Di sini semuanya terlalu terbatas.”

Taeyong tidak menanggapi dan memilih untuk menunggu lagi apa yang akan dikatakan kepala sekolah botak ini sambil bermain game di ponselnya. Sebentar-sebentar matanya mengintip wajah laki-laki yang duduk di depannya itu.

“Bagaimana kabar Pamanmu. Menurut beberapa guru, dia sakit dan sedang berobat ke Seoul. Kau pasti merasa semakin kesepian berada di rumahnya.”

“Hm. Begitulah.” Jawab Taeyong singkat.

Kepala sekolah itu mendengus halus dan mengambil sebuah kertas dari dalam lacinya.

“Aku ingin kau mengisi formulir ini.” Dia menyodorkannya ke depan muridnya itu.

Taeyong mengintip form itu, dan menelitinya.

“Untuk apa?”

“Hanya sebuah form lain untuk asuransi kesehatan masa pendidikanmu di sini.”

Taeyong mengangguk.

“Kau berniat melanjutkan kuliah?”

“Aku belum ada niat untuk kuliah.” Jawab Taeyong acuh.

“Ya, itu tidak masalah. “ timpal sang kepala sekolah

Taeyong memasukkan ponselnya ke sakunya, kemudian mulai mengisi form itu denga teliti. Dia sesekali melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Seharusnya dia sudah berada dalam perjalanan pulang ke rumah Pamannya.

“Aku bisa memahami apa yang terjadi antara kau dan putriku, Lee Taeyong.”  Kepala sekolah itu masih mengajaknya bicara. Kupingnya sudah panas mendengar semua ocehan laki-laki tua di depannya ini.

“Shirin memang selalu merasa dirinya cantik,”

Teyong masih belum merespon,

“Dia memang cenderung untuk bersikap berlebihan, tapi dia gadis yang baik.”

Taeyong masih diam, membuat kepala sekolah itu harus menghela napas berkali-kali.

“Sebaiknya kau menemuinya dan mengatakan maaf padanya.” Lanjutnya seakan mutlak

“Aku tidak bersalah. Aku tidak melakukan apapun. ” Sahut namja itu tanpa menatap kepala sekolahnya. Lalu dia menyerahkan form itu setelah selesai mengisinya.

 Dia berdiri dan membungkuk. Meski dia kesal dia masih ingin menunjukkan rasa sopannya.

Kepala sekolah itu hanya menggeleng dengan sikap acuh Taeyong.

.

.

.

Sesampainya di rumah, dia masih  belum menemukan Pamannya. Mungkin memang benar, pamannya akan lebih lama berada di Seoul untuk mendapatkan pengobatan dari dokter spesialis penyakit livernya.  Seandainya saja dia bisa ikut dan sedikit melepas rasa rindu dengan teman-temannya di sana.

 Dia  melongok untuk melihat apakah Nunnanya itu ada atau tidak, tapi ternyata, di sana pun terlihat sepi.  Dia sungguh bosan dengan suasana ini. Tidak ada yang bisa diajaknya bicara juga bersenang-senang.

Sementara itu Jiyeon sedang berada di dalam tokonya, untuk membuat beberapa daftar barang yang akan di kirimnya esok. Semua dilakukannya sendiri, karena dia memang tidak mempercayai siapapun untuk melakukan semua ini.

Ada detak jam yang menemaninya, juga suara gerimis yang mulai turun. Aish, suasananya sangat mencekam. Beruntung listrik tidak dimatikan. Kondisi itu biasa terjadi kalau kota ini sedang dilanda badai dan hujan lebat.

Eoh, dingin sekali. Jiyeon memeluk tangannya di depan dadanya, kemudian menatap ke arah luar yang gelap. Penerangan di jalan-jalan itu membuat daerah di sekitar  pertokoan terlihat lengang. Siapa yang sudi keluar di tengah udara dingin seperti ini.

Dia mematikan lampunya, kemudian bergerak dari tempat duduknya untuk naik ke lantai dua. Dia lebih baik tidur dan menikmati hujan di atas kasurnya.  Hatinya merasa sepi, sejak kedua orang tuanya meninggalkan kota kecil ini, Jiyeon merasa bahwa kehidupannya harus dia lalui dengan rasa sepi. Bukan karena dia tidak mempunyai teman, hanya saja dia membutuhkan sosok lebih dari seorang teman.

Kejadian itu, ketika Taemin harus mengalami kejang perut akibat sesuatu yang tidak dimengertinya karena saat itu Jiyeon memang masih kecil. Dia hanya tahu, ayahnya berusaha menolongnya dengan anestesi yang sesuai. Begitu yang dikatakan olehnya.  Ayahnya tidak bisa mengulang semua kembali. Siapapun tidak. Hanya karena sebuah luka di kakinya itu, Taemin harus meninggal karena mengalami kejang di perutnya.

Jika keluarga Kim dan keluarga Lee begitu membencinya, itu sangat wajar. Dia meminta Ayah Jiyeon untuk sebuah pertolongn tapi anggota keluarga mereka justru menemui ajalnya ketika berada di tangan ayahnya.

Karena peristiwa itu, ayahnya tak lagi menjalani prakteknya sebagai dokter karena hak dan ijin prakteknya telah dicabut oleh pemerintah. Semua dokter sejawat hanya menyayangkan kejadian itu harus terjadi padaa dr. Park. Meskipun itu bukan kesalahannya, namun tetap saja khasus itu membawa dampak negative baginya.

Jiyeon menyesal karena tidak bisa meneruskan misi ayahnya sebagai dokter.

Perlahan dia menarik selimut dan berusaha untuk tidur. Terdiam agak lama sambil berpikir tidak jelas mengenai masa depannya, lalu memejamkan matanya dan menikmati suara hujan yang membuainya masuk ke alam mimpi.

Samar-samar dia mendengar ada langkah kaki. Ya, langkah kaki.

Jiyeon ingin membuka matanya tapi rasa lelah dan kantuk tidak memungkinkannya untuk bergerak.  Mungkin tetangga di toko sebelah sedang merapikan barang-barang. Pikirnya.

Jiyeon terlelap.

Beberapa detik kemudian, dia merasa ada seseorang yang menarik selimutnya kemudian punggungnya terasa begitu hangat. Hangat dan nyaman.

O GOD!” dia terkesiap dan memaksakan matanya terbuka, dan langsung bangkit dari tidurnya. Menoleh dan mendapati Taeyong tengah menatapnya. Namja itu tak berekspresi justru menarik tubuh Jiyeon untuk terbaring di sebelahnya. Dia menggunakan lengannya sebagai bantalan kepala Nunnanya.

“Ka…kau…ap…”

“Ssst! Tidurlah!” dia memaksa mata Jiyeon untuk terpejam dengan menutupnya dengan telapak tangannya, tapi Jiyeon justru menepisnya. Dia masih merasa kaget dengan kemunculan bocah nakal ini.

“Kenapa kau bisa masuk?” tanya Jiyeon panik

“Kau tidak mengunci pintunya.”

Jiyeon mengingatnya. Benar, dia tadi langsung naik dan lupa dengan pintu itu.

“Kau dari mana?” Jiyeon menjauhkan dirinya dari Taeyong.

“Dari rumah. “

“Kau sengaja dari rumah untuk mencariku ke sini?”

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Emosimu sulit sekali untuk kutebak. Apa kau sudah tenang saat ini? Bagaimana tanganmu?”

Jiyeon ingin melihat tangan Taeyong yang terluka, baik itu karena luka karena sayatan pisau atau ketika dia memukul dinding rumahnya dua hari lalu.

Namja itu mengangkat tangannya.

“Aku baik-baik saja.” Ujarnya.

Jiyeon menghela napas sambil membawa bantalnya pergi.

“Kau mau ke mana?”

“Aku tidur di lantai saja.”

“Setelah kita berhubungan, seharusnya kau tidak canggung tidur satu ranjang denganku Nunna.”

“KAU MEMPERKOSAKU.”  Tegas Jiyeon sengit. “Itu bukan sebuah hubungan. Kau memperkosaku, dan aku merasa sangat jijik pada diriku sendiri karena membiarkan semua itu terjadi.”  Jiyeon menekur di lantai, menatap wajah Taeyong di keremangan.

Taeyong merebahkan dirinya di atas kasur tanpa melihat lagi pada Jiyeon. Dia membiarkan Nunnanya itu tidur di lantai.

Waktu berjalan hampir selama dua jam, sampai menunggu Jiyeon benar-benar terlelap, baru dia membopong Jiyeon untuk ditidurkan di atas ranjang, bersamanya.

Mungkin baginya, Jiyeon bukan wanita yang cantik, dia pun lebih tua darinya, tapi wanita ini yang paling mengerti dirinya sekarang ini. Dia selalu bersikap apa adanya dan selalu sabar menghadapi emosinya. Taeyong mengusap wajah itu dan merasakan bahwa dia mungkin saja jatuh cinta padanya.

Tapi kenapa?

Kenapa harus seorang Jiyeon.

Dia wanita yang bukan typenya, seharusnya Taeyong lebih memilih wanita dari sekolahnya, yang jelas-jelas umurnya masih berada di bawahnya.

Tidak ada alasan yang tepat untuk jatuh cinta pada wanita ini, terlebih dia adalah musuh keluarganya. Jiyeon bukan wanita yang diharapkan oleh keluarganya. Tidak mungkin.

Tapi Taeyong tidak bisa berhenti menatap wajah lelah itu.

Jangan katakan kalau semua ini karma baginya. Hidup bersama wanita yang menjadi musuh keluarganya.

Hidup bersama.

Dia akan diusir pamannya jika laki-laki itu tahu dia sudah berhubungan intim dengan wanita ini.

menyesal?

Taeyong mendengus lirih,

Tidak.

Malam itu sangat luar biasa. Itu adalah saat-saat yang mendebarkan. Tadinya dia berpikir untuk mengurungkan niatnya melakukan hal itu, tapi entah kenapa ketika melihat Jiyeon sedang terbaring di atas kasurnya, terlebih dengan posisi yang—

Sudahlah!

Tangannya mengusap wajah gadis yang tengah terlena dalam mimpinya itu.

“Tidurlah hingga pagi, Nunna!” Bisik Taeyong   lembut.

Jika memang dia telah menyukai Jiyeon, itu masih terlalu jauh untuk dirangkum dalam makna yang begitu ditakutinya. Perjalanan hidupnya masih panjang dan memerlukan banyak sekali perjuangan, mengingat bahwa jalan hidup yang dilaluinya hingga detik ini selalu membuatnya jatuh dan terpuruk.

.

.

.

Taeyong tengah menjalani ujian tengah semesternya.

Ini pertama kalinya dia bisa mengerjakan semua soal itu tanpa merasa kesulitan. Rupanya suasana dan kondisi di kota kecil ini cukup membantunya berkonsentrasi. Dia cukup sengan dengan apa yang sudah diraihnya.

Ada perasaan optimis yang mendadak menjangkitinya. Dia pasti bisa meraih kelulusan itu di tempat ini. Setelah itu—

Jiyeon menghampirinya dengan wajah pucat.

Namja itu menoleh ke sekitarnya untuk memastikan bahwa paman dan bibinya tidak berada di dekatnya.

“Tae, aku ingin bicara denganmu!”

Bocah itu berdiri dan mengikuti Jiyeon berjalan ke rumahnya. Wanita itu kemudian menyuruh Taeyong duduk di sofanya.

“Ada apa Nunna?”

Namja itu merasa khawatir.

“Tae, bagaimana ujianmu?”  Jiyeon memulai pembicaraan.

“Baik. “

“Baguslah.”

“Apa kau hanya ingin menanyakan itu padaku?”

“Tidak. Ada hal lain.”  Jawab Jiyeon

“Apa?”

“Taeyong,  aku hamil.”  Jiyeon menatap kebekuan itu.

Wajah bocah itu menjadi pias dan kaku. Denyut jantungnya mengejar hebat. Dia tidak berpikir kalau apa yang telah dia lakukan pada Jiyeon akan membuat  wanita ini hamil.

“Apa yang akan kita lakukan?” Jiyeon terlihat frustasi. Pasalnya Taeyong masih bersekolah. Yang bodoh adalah dirinya sendiri, karena tidak berpikir untuk melakukan dengan cara yang aman ketika berhubungan.

“Apa kau ingin menjebakku?”  kalimat itu—

Jiyeon mengernyit seketika.

“Tae, apa maksudmu?”

“Tidak ada.”  Tanpa rasa bimbang. Dia ini punya hati atau tidak. Jiyeon memakinya lewat iris matanya

“Kau bilang apa aku menjebakmu? Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?”

Taeyong mengangguk

“Aborsi saja. Kau punya obat untuk mengaborsinya,kan. Kenapa harus dipersulit.”

WHAT!

 

Begitu mudahnya namja ini berkata-kata. Jiyeon menghempaskan punggungnya dengan lemas pada sandaran sofa.  Memang betul, Taeyong masih sekolah. Dia pun memang belum pantas untuk berkeluarga. Tapi dia adalah laki-laki yang dengan spermanya dia bisa membuahi sel telur untuk kemudian menjadikan semua itu menjadi kehidupan.

Kehidupan yang berada di dalam perutnya. Jiyeon menyeringai dengan rasa heran. Dia hamil dari laki-laki labil dan tidak bertanggung jawab. Seharusnya dia bisa menprediksi semua ini.

“Aborsi.” Ulang Jiyeon.  “Jadi ini keputusanmu untukku.”

Taeyong mengangguk tenang.

“Aku tidak mengharapkan hal itu.” Ujarnya lagi. “Apa Nunna setuju?”

Jiyeon tak menyahut, dia duduk dalam diamnya. Lalu namja itu mendekat, merengkuhkan tangannya pada bahu yang terlihat tanpa tenaga.

“Apa kau tidak akan menyesal. Lee Taeyong?”

Di dalam hati kecilnya, Jiyeon masih berusaha bersabar, meski ingin rasanya dia mencakar wajah namja yang tengah merengkuhnya tanpa rasa bersalah ini. Dia memaklumi sifat angkuh dan egois itu dengan rasa prihatin juga ketidakdewasaannya menghadapi kondisi ini.

“Kau pun tidak ingin mempunyai anak sebelum menikah, bukan.”

Jiyeon tidak menyahut,

“Kuharap kau tidak membenciku, Nunna hanya karena persoalan ini.”

Jiyeon memejamkan matanya, dan  terus mengucap sabar di benaknya.

“Bagaimana jika aku tidak ingin mengaborsinya?”

Taeyong mengatupkan rahangnya.

“Apakah kau akan sanggup untuk mengandung anak ini, dan melahirkannya?”

“Kenapa tidak?”

BRUGH

Jiyeon dan Taeyong menoleh pada seseorang yang tengah berdiri di muka pintu. Jiyeon ternganga hebat ketika melihat tubuh Ayahnya ambruk di sana.

“APPAAA!” pekiknya panik. Sementara ibunya terduduk lemas ketika melihat putrinya datang tergopoh-gopoh untuk meraih ayahnya.

“Ji…Jiyeon, apa yang baru kau katakan tadi, Sayang? Apa kau hamil, Nak?”  Ny. Park menatap pada namja yang berdiri di sebelah putrinya.

“Apakah dengan laki-laki ini kau hamil?”

“Tae, bantu aku mengangkat Ayahku!”

Bocah itu langsung mengangkat tubuh dr. Park yan terlihat lemas ke atas sofa, sedangkan Jiyeon harus meratap dalam rasa sesalnya karena telah membuat ayahnya kaget. Selama ini ayahnya menderita penyakit jantung. Bagaimana ini…

“Jiyeon..” ibunya masih bingung sambil memegangi suaminya. Dengan cepat Jiyeon mengambil alat-alat kedokteran yang dimilikinya untuk memeriksa kondisi ayahnya.

Dia menggeleng lemah,

“Eomma, kita harus membawanya ke rumah sakit. Detak jantung Appa sangat lemah.”

“Dia kaget karena mendengar percakapan kalian sejak tadi.”

Jiyeon melirik Taeyong yang masih berdiri diantara mereka. Namja itu tak tahu harus  mengatakan apa.

“Eomma, aku memang hamil. Dia adalah kekasihku. Tenang saja, kami akan segera menikah.”

“Dia itu siapa? Kenapa kau tidak pernah mengatakan pada eomma, kalau kau mempunyai kekasih. Selama ini kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu, lalu kenapa sekarang mendadak kau hamil.”

Wanita itu menatap Taeyong,

“Siapa namamu, kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu padaku?”

Eomma, kita harus membawa Appa ke rumah sakit! Taeyong kau menyetir mobilnya, CEPAT!”

.

.

.

tbc

Advertisements

20 Comments Add yours

  1. Bb says:

    Aishhh, beneran nni mo nikah, aduh si taeyong nakal nyebelin bnget sih.labil oalah bagaimana selanjutnya nasib mereka

  2. yola says:

    Sumpah ngga nyangka kalo jiyeon bakal hamil, dan parahnya ayah jiyeon tau. Taeyong juga nga mau tanggung jawab, entah bagaimana paman taeyong kalo denger ini.
    Apa taeyong bakal nikah sma jiyeon? Atau malah diaborsi? Semoga happy ending.
    Di tunggu lanjutannya eonn. Jangan lama2 ya. . . .

  3. kwonjiyeon says:

    Tae adunh enak bnget jdi cwok bsnya menikmati tanp kuatir akn akibatnya jiyi dah d perkosa trus dpt dampaknya bgnilah nasib peremp huhuhuhu sbr yah jiyi

  4. diah.dimin says:

    Omg tae benar2 menyebalkan tingkat akut.. Berani berbuat tpi tidak mau bertanggung jawab.. Aduh boleh tak cincang g… . lana next ok di tunggu cin..

  5. loveJIYEON says:

    Taeyong tidak punya prasaan apa sih!!sudah hamilin ank org,dgn sng2 mau d’suruh aborsi..kasian jiyeon…pdahal aku yakin taeyong udah ada rasa cinta trhadap jiyeon tp ttp egois..huh!!ksal sama taeyong..aku hrap dia mau brtnggungjawab dan moga aja jiyeon x jd aborsi…mian thor,aku bru komen d chapter ini..aku suka jlan critanya..bgus!!!tggu lnjutannya.

  6. sookyung says:

    taeyong please jgn jadi namja yg pengecut nan brengsek yg lari dr tanggungjwb,, siapa yg jiyeon maksud dg sih ‘dia’ yg akan jiyeon jadikan kekasih yg menghamilinya untuk dikenalkan pd orangtuanya?

  7. rasma says:

    kalau saja taeyeong ada di depan ku,sudah ta remet” dua.enak banget bilang aborsi saja.sudah berbuat malh gamau tanggung jawab, duh appa nya jiyeon punya penyakitjantung,senoga tidak apa” ..

  8. Akhirnya.. Tae akui jg lw dy cinta jiyi…
    Hmmm tp mslh kluarga mrk sgt rumit,
    Ni jd slh 1 penghalang, d + g Tae msh skolah..
    Sng crita na penuh dg konflik 😁 keren

  9. lanjiyeon says:

    dasar Taeyong remaja labil benci keluarga park tp suka deket2 k Jiyeon….suka pas bag Taeyong diem2 msk rumahnya Jiyeon sweet bgt

  10. dwiki says:

    jiyeon hamil?????
    awas aja kalo taeyong gak mau tanggung jawab atau nyuruh jiyeon aborsi.

  11. cassanova yoo says:

    Arghhh kan kan taeyong bener2 deh greget jadinya, ayah jiyi jd kena serangan jantung gegara gak sengaja denger percakapan mrk , jiy jgn asal ngomong gimna kalo taeyong gak mau tanggung jawab 😥 moga next bisa bikin tenang dikit krn tau kelanjutan mrk 🙂

    Fighting !! 😀

  12. Kim yeon says:

    Nyesek melulu idup jiyeon,,,
    Taeyong gak mau tanggung jawab lagi,,
    Huawaaaa,,, jiyeon tinggalin aja tu taeyong tingkahnya masih kayak ABG labil tu,,,,,
    Taeyong cuma maunya menang banyak suru jiyeon gak benci dia setelah apa yang dia lakukan dan nyuruh jiyeon untuk gugurkan,, lalu sekarang ayah jiyeon kena serangan jantung mendadak gara2 tau semua itu,,
    Semoga aja paman taeyong cepet tau sepaya taeyong kena semprot tu,, tpi kalau keluarga taeyong tau gimana nasib jiyeon jangan bilang kalau mereka bakalan bersikap buruk k jiyeon dan suruh taeyong jauh dari jiyeon ,,

  13. kriswulan says:

    mau taeyong itu apa sih? kalo gx mau bertanggung jawab ya jangan berbuat. 😡
    bikin jiyi susah aja, mana Appanya jadi kena serangan jantung 😦

  14. Kina J says:

    Klo sampai taeyong mau bertanggung jwb pasti bnyk bngt msalh yg bkal mereka hadapi..apalagi kalau dia gk mau bertanggung jwb makin bnyk lg msalah..huhhh entahlah mna yg terbaik dr 2 pilihan itu..tentu nya mereka akn menerima akibat x apapun itu..si brengsek tae benar2..next eon!

  15. May andriani says:

    Jiyeon hamil,,,, Apa taehyung sma jiyeon bkalam menikah,,?? Tpi taehyung msih sekolah n kluarga taehyung juga benci sma appanya jiyeon ,, trus apa jiyeon bkalan gugurin kandunganx ya??

  16. nissa says:

    Huft Jiyeon hamil dan seenak pidatonya taeyong nyuruh Jiyeon ngugurin tu kandungan.kenapa appa Jiyeon harus dengar kan kasian penyakitnya kambuh.ditunggu kelanjutannya.

  17. indaah says:

    aihhh taeyong pengen ceburin tu anak k samudra hindia ..
    egois amat sih, kasian jiyeon nya cuma bisa sabar dan nerima kelakuan taeyong ..
    yg denger appa jiyeon lg duhh , taeyong aja malah nyuruh aborsi . tp jiyeon blg nikah ma eomma nya pusing dahh
    next lan dtunggu fighting

  18. mega says:

    Jiyi hamil trus tae seenaknya nyuruh jiyi aborsi ckck…tae tanggung jawab dong itukan perbuatanmu..moga aja appa jiyi gkpp

  19. Chacha says:

    Taeyong saeki… labil, nakal, dan menyebalkan… udah sering melakukan dgn pacar2nya dan seenaknya ngelakuin ke jiyeon, dgn pemikiran jiyeon nggak bakal hamil hah… sayangnya jiyeon subur (?) hahaha dan skrg deh ngerasain hukuman dri perbuatan nakalnya. Jiyeon cuma asal ngomong akan menikah, tpi gimana dgn taeyong ? Sdgkan dia udah nyuruh jiyeon aborsi. Mungkin paman taeyong harus tau, lebih baik, entahlah, bisa aja tetep jiyeon yg dipersalahkan atau makin benci. Tpi mungkin lebih baik tau….
    Keep writing… update soo…

  20. iineey says:

    taeyong bikin esmosi aja nih.. enteng bgt bilang aborsi, bagus deh ortu jiyeon denger semua pembicaraan jiyeon ma taeyong,, biar taeyong dipaksa tanggung jawab deh

    taeyong menyebalkan enak bgt dy yg memperkosa jiyeon trus skrg hamil minta aborsi
    ihhhh gregetannnnnnn bgt
    jiyeon koq bisa sih masih se sabar itu ngadepin tuh bocah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s