Persahabatan Bagai Gulali


suho blue

Judul || Persahabatan Bagai Gulali

Chapter 1

Maincast ||  Suho and Kai

Pairing || KaiHo | ChanSoo | KrisHun | KrisHo

Support Cast || Kris Wu, DO Kyungsoo, Park Chanyeol

Genre || Romance | Angst |Comedy gagal

Length || Chapter

.

.

Disclaimer || I Own Nothing But The Story

.

.

.


PENGENALAN PARA PEMAIN

Kim Jongin as Kim Kai – Guru Bahasa Inggris dan Matematika

Kim Junmyeon as Kim Suho – Fotomodel kondang, bintang Film, Bintang Sinetron dan Bintang Iklan

Park Chanyeol – Guru Olahraga dan Biologi

DO Kyungsoo – Guru Kesenian merangkap Penasehat Murid

Kris Wu – Fotomodel, temannya Suho,

Oh Sehun – Fotomodel juga, temannya Kris Wu

Pemain Lain, figuran : Ibuknya Kim Kai, Ibuknya Kim Suho sama murid-murid di SD Negri I Kota Kecil Indah Sekali

.

.

.

Enjoy Reading

.

.


Dulu mereka bersahabat, sekarang pun masih. Mungkin. Sejak dia meninggalkan kota kecil di mana tadinya mereka tumbuh bersama sebagai seorang sahabat, Suho menjadi terkenal karena karirnya sebagai model menanjak dengan pesat.

Apa daya Kai hanya bisa mengagumi semua itu di dalam hatinya. Banyak cerita yang terjadi dalam persahabatan mereka sejak kecil— dulu. Kai masih mengingatnya. Dia tidak akan melupakan semua itu, meski kini dia merasa bahwa Suho mungkn sudah melupakannya.

Namja dengan postur atletis itu memasuki bangunan rumahnya dan melihat ibunya sedang melihat acara di layar teve National. Di sana ada sebuah wawancara yang menampilkan figur seorang Suho yang selama ini dikenalnya.

“Kau sudah pulang mengajar, Nak!” Ibunya menyuruh anaknya itu untuk duduk di sebelahnya. Kai menurut, dia duduk dengan sikap baik, layaknya putra yang tidak pernah membantah omongan ibunya. Sebentar dia menyeka keringatnya. Kipas anginnya sedang rusak, jadi udara di dalam ruangan ini agak panas, dan membuat tubuh eksotisnya ini berkeringat.

“Bukankah dia Suho kita, Nak.” Wanita itu menepuk bahu Kai.

Nde, dia Suho kita, ibu.” Dia menegaskan

“Dia ganteng sekali. Lihat itu, kulitnya bersih dan putih, wajahnya semakin tampan dan mulus. Astaga, Kai! Dia benar-benar tampan. Ibu sampai pangling liatnya, Nak.”

“Dia itu model, Buk. Ya jelas dia merawat tubuhnya. Memangnya kita!”

“Lho, kita juga merawat tubuh kita Kai. Memangnya kita tidak mandi dan menyabuni tubuh kita.”

Kai mendengus mendengat ocehan ibunya.

“Bu, penampilan Suho itu sudah diperhitungkan. Dia tidak hanya mandi pakai sabun wangi, Bu, tapi juga pakai dirawat di salon, di lulur, di spa, di bleecing, di vitamin, dan pokoknya, Bu tubuhnya itu adalah aset agar dia laku menjadi model.”

“Lho…Lho..itu siapa ya yang di samping Suho. Gantengnya kayak dewa yang terjun dari kayangan!” celetuk ibunya mengindahkan omongan Kai

Kai langsung menoleh pada layar teve.

“Ya ampun, dia lebih ganteng dari Suho, Nak. Dia itu bule atau gimana ya. Rambutnya pirang dan kayaknya dia bukan orang Korea ya?”

Kai menatap malas pada reaksi ibunya mengenai laki-laki yang duduk di sebelah Suho di sana. Dia itu Kris. Siapa yang tidak tahu Kris, dia itu bintang film dan model terkenal. Memang benar dia lebih tampan dari Suho, dan dia selalu menatap Suho dengan tatapan yang manis. Kai geram melihatnya. Bisa jadi dia teman Suho, atau mungkin pacarnya. Mereka di dunia yang sama, pantas kalau mereka saling mengenal.

“Kai, kenapa kamu ga jadi model aja, Nak. Kamu juga ganteng. Anak ibuk ini gantengnya selangit, masa iya ga bisa jadi model kaya Suho.”

Kai berdiri dan meninggalkan ibunya dengan hati kesal. Dia tidak mau meladeni obrolan ngawur ini. Jadi model bukan cita-citanya. Kai lebih suka dekat dengan anak-anak.

Selama ini dia sudah betah dengan karirnya yang hanya seorang guru, karena menjadi guru adalah keinginan mutlaknya sejak kecil.

Sejak dia lulus dari perguruan tinggi calon guru, dia sudah bertekat untuk mendarma baktikan dirinya mengajar di sebuah SD negri di kota kecilnya ini. Ya, selain dekat dengan rumahnya, dia juga tidak harus beradaptasi dengan lingkungan yang asing. Dia senang bisa menjaga ibunya yang sudah terlihat lelah di usia senjanya.

Kai masuk ke dalam kamarnya, duduk menghadapi meja kerjanya. Dia membiarkan jendela itu terbuka, untuk memberikan hawa sejuk ke dalam kamarnya. Di dalam hatinya, dia masih menyimpan perasaan ini pada Suho.

Memang kedengarannya aneh, tapi dia memang mempunyai perasaan tersendiri pada sahabtnya itu. Suho mengetahui perasaannya ini, mungkin karena hal itulah dia pergi dari kota ini, meninggalkannya.

Aku ingin menjadi terkenal, Kai. Aku tidak mungkin berada di kota ini dan tidak berkembang.”

Begitu yang dia bilang pada Kai, waktu dia akan pergi. Mereka baru lulus SMA waktu itu dan ada seorang kerabatnya menawari Suho untuk bekerja sebagai assisten artis di Seoul. Ya, dia langsung menyetujuinya. Dia tidak berniat kuliah dan hanya ingin terkenal dengan modal wajah tampannya.

Di kalangan industri hiburan, wajah seperti Suho memang menjanjikan. Wajah putih, tampan dan mulus itu pasti akan membawa keberuntungan, dan benar saja. Tidak lama kemudian, Kai sudah bisa melihat Suho menjadi bintang iklan sebuah product popok bayi. Maksudnya dia menjadi sosok sang ayah bayi yang menjadi maskot product tersebut.

Beginilah awalnya Kai harus mulai merelakan seorang Suho untuk menjadi terkenal. Dia memang tidak punya hak apapun atas hidup seorang Kim Suho.

Ya, hanya sesekali berhubungan lewat telepon dan surel. Mereka masih mengobrol masalah masa kecil mereka. But itu hanya masa lalu, dan Kai merasa, dengan obrolan itu tidak akan mengemas apapun untuk masa depan mereka.

Kehidupan mereka berbeda sejak Suho tinggal di kota besar. Dia pasti tidak akan mungkin mau kembali ke kota kecil ini dan menjalani hari-hari seperti layaknya orang biasa.

“Kai!” ibunya memanggil dari luar kamar

“Ya, Buk!” Kai berdiri dan membuka pintu kamarnya.

“Itu, ada temanmu datang.” Ujar ibunya dengan senyum sumringah

“Siapa sih Buk?” mau tidak mau Kai berjalan menuruni tangga dan menemukan sosok Kyungsoo sedang berdiri di dekat pintu.

“Lho, kenapa berdiri di situ sih, Soo?”

“Itu, aku Cuma sebenta, kok. “

“Sebentar atau lama kamu harus duduk dulu. Ibu ini, kenapa dia dibiarin berdiri di pintu sih Buk?”

Ibunya hanya menatap bingung.

“Tadi udah di suruh masuk sama ibu, tapi dia ngeyel sambil meringis di situ.” Jawab ibunya. “Sekarang ya disuruh masuk saja, sekalian di tawarin mau minum apa nggak?”

Kyungsoo meringis lagi,

“Mau.” Jawabnya malu-malu.

“Lho, aku belum nanya, Soo.” Kai mencandainya.

“Ya ga papa, aku juga jawabnya becanda.”

Kai menyuruh Kyungsoo duduk di bangku kayu. Maklum Cuma ada itu di ruang tamunya. Kalau dia memasang sofa di sana, nanti tamunya bakalan betah bertamu di sini. Bahaya itu kalau sampai betah.

“Tadi mau bilang apa?” tanya Kai meneruskan topik pembicaraan.

Kyungsoo merengut sedikit

“Lha aku belum ngomong apa-apa tuh. Aku Cuma bilang aku ga lama.”

“O kalo gitu ya udah cepetan, biar ga lama, diomongin aja maksudnya apa datang ke sini?”

“Tapi aku belum minum.”

Kai menggaruk kepalanya, kemudian menoleh pada ibunya yang masih nonton acara wawancara mengenai Suho.

“Bu, Kyungsoo minta minum katanya.”

Ibunya menoleh,

“Minum apa?”

“Kamu mau minum apa, Soo?”

“Nganu, aku mau minum apa ya?”

“Hm, jadinya lama kan…”

Kyungsoo meringis lagi.

“Itu, aku sebenarnya pengen kamu nyomblangin aku sama guru olah raga di sekolah kita itu.” Ungkap Kyungsoo malu-malu,

“Oh, Pak Guru Chanyeol maksudmu?”

“Iyah.”

Kai mendengus.

“Kenapa ga ndeketin aja sendiri.”

“Dia itu kelihatannya angkuh gitu. Aku jadi nervous mau deketin dia. Takut di pites! Dia tinggi banget sih!”

“Memangnya kamu kutu, pake di pites. Dia itu baik. Kamu aja ga pernah ngobrol sama dia. Kenapa sih? Kalau dia nongol kamu ngumpet. Mana bisa ndeketin kalo gitu caranya.”

Kyungsoo meringis lagi

“Iya, aku malu.”

“Malu tapi mau.”

“Iyah.”

“Huuuuh! Trus sekarang gimana maunya? Aku bilangin ke dia, kalau kamu mau kenal lebih deket sama dia.”

“Iyah.”

“Ya udah besok aku bilangin ke Chanyeol.”

Kyungsoo mengangkat kepalanya. Dia bimbang lagi

“Ta…ta…tapi gimana nanti kalau dia ga suka sama aku?”

“Ga suka ya udah, cari lainnya kan ada.”

Kai mengomentari cuek tingkah sahabatnya ini. Kyungsoo ini type cowok yang rumit. Dia pemalu tapi mantan pacarnya banyak. Meskipun sudah beberapa pacaran, dia masih malu kalau mau deketin target baru.

.

.

.

Seminggu kemudian, berita di teve mengabarkan mengenai sebuah kecelakaan yang menyebabkan seorang model bernama Kim Suho harus mengalami patah tulang di bagian kakinya. Tidak jelas kaki sebelah mana, tapi Kai mendadak cemas. Suho pasti merasa terpuruk dengan kondisi seperti itu. Model terkenal itu dinyatakan cuti dari dunia model dan periklanan, juga film, dan sinetron untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

Berita itu benar-benar membuat heboh dunia bisnis hiburan, karena sudah ada beberapa kontrak yang akhirnya harus dibatalkan akibat kecelakaan ini.

Kai mengusap wajahnya yang berkeringat. Dia ingin bertemu dengan Suho dan memberikan perhatiannya tapi rasanya tidak mungkin. Suho selalu dikelilingi oleh orang-orang dari artis. Dia tidak mungkin menerimanya.

Ponselnya berbunyi.

“Lho ini kan nomernya Suho.” Tangan Kai gemetar memegang ponselnya sendiri. Dia kaget setengah mati waktu ada nama Suho tertera di layarnya.

“Halo!” Kai menyapa duluan.

“Kai, ini aku Suho.”

“Suho, bagaimana kondisimu. Katanya kamu kecelakaan.”

“Iya, manager menyuruhku pulang kampung dan istirahat. Soalnya kalau terus di Seoul aku ga bisa istirahat. Fansku ga mau diem, trus mbututin aku ke mana aja.”

Kai tersenyum sumringah mendengar kabar ini. Tentu saja dia senang kalau Suho pulang kampung. Otomatis dia bisa bernostalgia lagi dengan sahabatnya ini dan tentu saja dia ingin memiliki kesempatan itu. Menyatakan perasaannya pada Suho.

“Kapan kamu diantar pulang, Suho?”

“Besok. Ibuku sudah tahu kalau aku akan pulang, tapi ini rahasia. Gada yang tahu kecuali kamu. Janji ya jangan bilang ke orang-orang kalau aku mau pulang kampung. Nanti mereka nyiapan pawai penyambutan lagi…”

Duh Suho ini GE-ER banget. Batin Kai geli. Tapi tidak apa-apa. Dia senang dengan berita ini.

.

.

.

Besoknya,

Kai sudah menunggu kedatangan Suho di rumah orang tua Suho. Mereka sudah membersihkan kamar Suho dan menyediakan kamar tambahan kalau ada orang dari kota mau menginap. Kai juga ikut membantu seharian ini. Antusianismenya berlipat ganda untuk bertemu Suho-nya lagi.

Dari kejauhan ada mobil fan hitam yang mendekat. Sudah dipastikan itu adalah rombongan Suho dan mangaernya. Kai tidak bisa berhenti tersenyum melihat ke arah itu.

Tidak sampai lima menit, mobil itu berhenti di depan rumah ini. Orang pertama yang turun adalah laki-laki gendut berkaos putih dengan jas hitam kesempitan yang tidak menutupi bagian perutnya yang buncit. Dia membuka pintu tengah dengan hati-hati, lalu barulah terlihat sosok yang—

Lho, itu bukan Suho. Dia itu laki-laki ganteng yang dibilang ibunya kemarin. Kris Wu. Kenapa dia ikut ke sini. Astaga, dia malah membantu Suho turun dari mobil. Tangan itu melingkar di bahu dan pinggang Suho.

Kai menahan diri untuk tidak mendekat. Dia gugup hanya dengan melihat Suho terlihat begitu mempesona. Bagaimana tidak, dia tetap terlihat tampan dan manis meskipun sedang pincang seperti itu.

“Kai!” panggil Suho, dia berjingkat-jingkat dalam pelukan Kris.

“Hi Suho!” Kai mengangguk layaknya orang yang berwibawa. Dia ini guru dan pantas untuk menjadi wibawa.

“Kai, dia itu Kris Wu.”

“Ya, aku sudah tahu.” Kai menjawab canggung. Senyumnya terukir aneh.

Suho dibopong masuk dan melihat ibunya yang menitikkan air mata. Mereka berpelukan sebentar, lalu membiarkan Suho duduk di sofa. Beberapa orang lainnya duduk di luar. Cuaca memang panas, jadi maklum lah kalau mereka merasa di neraka.

“Suho, apa kau yakin akan berada di sini?” Kris mengusap keringat di kening Suho, membuat Kai melengos karena cemburu. Hatinya panas melihat pemandangan seperti itu.

“Tidak ada jalan lain, aku harus di sini. mereka tidak tahu kalau aku berada di sini, jadi aku bisa tenang memulihkan kondisiku.”

“Tempat ini…” Kris memindai seluruh sudut rumahnya.

“Ya, memang seperti inilah rumahku, Kris. Berbeda dengan apartemen kita.”

Apartemen kita. Apa mereka tinggal bersama.

Kai langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu, di sini dia merasa seperti elien. Diacuhkan.

Suho melirik Kai yang terlihat gusar.

“Kai, aku haus.” Suho menahan langkah Kai yang akhirnya tidak jadi keluar. Mereka bertatapan untuk sebentar,

“Aku akan mengambilkan minum untukmu.”

Kris melirik Kai yang berjalan ke belakang.

“Dia teman masa kecilmu yang kau ceritakan itu?” tanya Kris sngit

“Ya. Dia temanku, kami biasa bermain bersama sejak kecil.”

“Bermain apa?” selidik Kris sambil mencubit pipi Suho.

Namja tampan itu tersenyum,

“Kau jangan cemburu, Kris.”

“Tidak. Aku percaya padamu.” Sahutnya.

“Nak, ibu sempat khawatir, kalau kecelakaan itu membuat kondisimu parah.”

Suho berpaling pada ibunya. Wanita itu mengusap kakinya yang dibalut gip.

“Aku masih beruntung Bu.”

Lalu Kai muncul membawa satu gelas minuman yang dia serahkan langsung pada Suho.

“Aku akan pulang dulu. Nanti aku kembali lagi. Kalau butuh apa-apa hubungi aku saja seperti biasanya.”

Suho tidak sempat menjawab, karena Kai segera berjalan keluar. Dia sedikit cemberut melihat sikap Kai yang dingin padanya. Tadinya dia berharap Kai memberinya pelukan atau perhatian seperti dulu lagi.

“Kami tidak bisa berlama-lama di sini, Suho.”

Orang-orang dari pihak management itu minta ijin untuk segera kembali ke Seoul. Begitu juga dengan Kris. Dia tidak bisa menemani Suho di sini, karena dia harus menjalani beberapa syuting. Jadwalnya juga padat.

“Baiklah!”

.

.

.

Malam ini, Kai duduk menghadapi meja kerjanya untuk mempersiapkan materi pelajaran. Ya, selalu melakukan ini setiap malam. Dia adalah guru teladan dan selalu menjadi guru terbaik setiap tahunnya.

Tapi kemudian, ponselnya berbunyi—

“Kai, kau sedang apa?”

“Sedang duduk.”

“Apa kau bisa ke rumahku.”

“Sekarang?” Kai memperhatikan pekerjaannya yang belum selesai.

“Ya, sekarang. Aku ingin ngobrol denganmu.”

Namja berkulit tan itu tersenyum. Suho ingin mengajaknya ngobrol. Apa dia akan menuruti panggilan ini. Tapi pekerjaannya—

“Aku sedikit merasa bosan. Bisakah kau menginap di sini, kita bisa ngobrol sampai pagi.”

Kelihatannya ajakannya ini sangat menjanjikan. Menginap dengan Suho. Demi Tuhan ini sangat mendebarkan…

Kai segera membereskan buku-buku dan laptopnya kemudian memasukkannya ke dalam tas, kemudian membawanya ke rumah Suho. Dia mungkin akan berangkat ke sekolah untuk mengajar esoknya dari rumah Suho.

.

.

.

tbc

Advertisements

One Comment Add yours

  1. kwonjiyeon says:

    Yaoi oke deh kriss sm suho pacaran yah kalo iya aduh kasian s kai jgn sedih kai trus maju jgn mundur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s