BIG GIRL


big girl

BIG GIRL

edisi 1-5

By. Mochaccino

Main Cast || Park Chanyeol and Park Jiyeon

Support Cast ||  EXO member

Genre || Teen-schoollife/ Angst / Absurt

Length ||  Drable – Series

Rated ||  PG – 15

Disclaimer ||  I own Nothing but story

Ndak suka, jangan baca! Gampang toh!

,

.

 

Tidak bisa lagi mengenali diri ini ketika tatapan itu mencandaiku dengan sorot manja. Mungkin ini adalah saat-saat genting yang membuat jiwaku terkikis. Situasi yang membuat waktu terkalkulasi sendiri hingga detik ini, dan kenapa harus seperti ini, perasaan yang aku miliki.

 Jenjang periode yang tak kusadari, mengantar kedewasaan merenggut semua kelucuannya. Wajah itu dan semua yang terlukis di sana, seperti garis alisnya yang sering kali melakukan aksi protes padaku, juga ketika bibir lembut itu mengerucut dan merajuk penuh nuansa pink, mungkin dengan strawberry taste yang manis. Sungguh sebuah cobaan berat untuk laki-laki sepertiku.

Dia masih duduk meluruskan kaki jenjangnya di atas meja, menguji kesabaranku yang nyaris tak terbendung. Oh my Big Girl, what are you doing with those sexiness. I’m dying.

Samcon!” panggilnya

Aku menoleh dan pura-pura kaget. Tidak bisakah tanpa embel-embel kehornatan itu. Samcon. Benar aku adalah Pamannya. Paman yang tidak bisa menahan diri karena teralu hina mempunyai perasaan indah untuk keponakan cantiknya ini.

“Ada apa, Jiyeon?”  aku menghampiri.

“Kenapa kau tidak mau satu kelas denganku?”

Aku terpaku dengan sikap ambigu. Ya, kenapa aku tidak mau sekelas dengannya. Ini pertanyaan yang memang tidak pernah aku jawab sejak kehadirannya di rumah ini. Hyung pertamaku menitipkan dia di sini karena dia selalu membuat masalah di sekolah sebelumnya. Appa dan Eomma, yang notabene adalah nenek dan kakeknya, berinitiatip untuk menariknya ke sini dan membiarkan dia bersekolah denganku. Kami sama-sama berada di tingkat yang sama.

Bibirnya mematut lucu, membuatku gemas.

“Tidak bisakah kau memanggilku Oppa atau Chan Oppa saja?” pintaku

Gelengan spontannya membuatku jengah. Baiklah, mungkin aku harus mencari cara lain agar dia mau memanggilku dengan sebutan lainnya, tapi tidak dengan sebutan keramat itu. SAMCON… aku meringis geli. Usia kami sebaya, tapi dia memanggilku Paman. Apa itu tidak membuatku terlihat seperti laki-laki beruban yang berumur empatpuluhan. TIDAK BISA!

“Samcon!” panggilnya lagi

“Ugh shut up Jiyeon !”  gertakku kesal dan aku melihat cengirannya mewarnai penampilan wajahnya yang dipasang menggoda. Dia tahu aku sangat benci dengan panggilan itu.

“Samcon-ah, kenapa kau terlihat manis saat marah?”

Wajahku merona habis-habisan di sindir manis. Itu sangat membuat nyali lelakiku tunduk dan larut dalam hiforia absud yang tak bisa kukendalikan. Jiyeon, seandainya kau bukan keponakanku, putri dari Hyungku, maka aku akan menjadikanmu yeojachinguku.

.

.

.

Ini seperti belaian kain sutra yang begitu lembut—harum dan membiusku. Jadi jangan salahkan aku jika aku sekarang begitu terbuai.

Rambutnya panjang dan bergelombang. Keharumannya tak terbantahkan. Aku tahu dia memakai shampoo yang sama denganku, karena dia mandi di dalam kamar mandiku, mengenakn bak yang sama, dan sabun cair yang sama. Kalau saja aku memasang camera cctv di sana sebelumnya, tapi lupakan saja! Ini sangat terkutuk. Aku tidak akan senajis itu memanfaatkan situasi menguntungkan ini dengan seman-mena. Aku cukup senang dia berada di sana pagi ini, bercermin dan memamerkan deretan giginya yang putih itu di depan kaca dengan bangga. Ya, dia manis sekali dengan seragam itu. Sempurna.

Sekarang dia duduk di sebelahku, dengan rambutnya yang sejak tadi menutupi wajahku. Kenapa dia membiarkannya begini, atau kenapa aku membiarkannya begini. Apa otakku sedang kram dan tidak bisa berpikir. Helainya begitu lembut dan menghipnotisku.

Jiyeon, seandainya kau tahu, saat ini aku sangat berusaha untuk merengkuhkan tanganku di bahumu, dan menarikmu hingga tubuhmu bersandar di dadaku, kau pasti akan menertawaiku.

Kau selalu tertawa dan mengejekku sebagai paman yang labil. Aku yang selama ini tumbuh dalam pengasuhan yang baik dalam keluargaku, harus merasa bingung menghadapimu. Baiklah, aku menyerah. Jadi kubiarkan rambutnya tetap berada di mukaku, dan semua teman-teman tertawa cekikikan melihat tampang bodohku.

“Samcon, apa kau baik-baik saja?” tanya Jiyeon setengah mengantuk. Dia memang mengantuk, karena semalam dia tidur lewat tengah malam. Menonton acara bola kesukaannya. Menyebalkan, karena aku dipaksanya duduk menemaninya.

“Aku baik-baik saja, kau tenanglah!” jawabku dengan sabar.

“Kenapa mereka tertawa?” tanyanya lagi sambil kemudian menarik rambutnya dari wajahku. Aku kehilangan keharuman itu, kulirik wajah cemberutnya yang menggemaskan itu.

“Please,jangan memanggilku Samcon jika berada di sekolah.” Pintaku lagi

“Kau mau aku tidak memanggilmu dengan sebutan Samcon, lalu aku harus memanggilmu apa?” tanyanya lagi. Dari nadanya agak menantang, kujepit hidungnya dengan jariku.

“Chan Oppa.” Jawabku dengan ragu

“Fine! Aku akan memanggilmu Chan Oppa”  ujarnya dengan cuek. Di mulutnya itu  dia sedang megunyah permen karet dengan deretan gigi-giginya. Sekali lagi aku merasa iri dengan permen karet itu. Dia bisa merasakan bibir dan lidah Jiyeon tanpa rasa berdosa. Sedangkan aku—

Demi apapun, aku sudah merasa diriku terdaftar masuk dalam neraka seandainya aku sampai berpikir kotor mengenai dia.

“Benarkah?”  aku menanggapi persetujuannya dengan girang. Tapi kenapa ada yang aneh. Mataku memicing melihat cengiran iblisnya.

“Dengan satu syarat—“ sambungnya bahagia. Dia berada di atas angin rupanya.

Aku tahu pasti tidak akan gratis. Betapa tertindasnya hidupku berhadapan dengan keponakan sendiri.

“Syarat apa?” tanyaku

“Hehehe…” dia malah tertawa.

“Hehehe…” aku mengulangnya tanpa nada. Dia kesal dan menendang kaki panjangku yang tadi berhimpitan dengan kakinya. Sebagian teman-teman tertawa melihat kami.

“Malam ini, aku ingin tidur di kamarmu, Samcon.”

“HUK HUK HUK!” dia ingin tidur di kamarku. Apakah ini berkah atau musibah. Di kedalaman hatiku aku bersorak. Jutaan kembang api menyala seperti hari kemerdekaan. Dia akan tidur di kamarku—

“Dan Samcon tidur di kamarku.” Sambungnya sambil memegang kedua pipiku. Matanya begitu dekat denganku. Okay, kembang apinya melempem seketika. Dia berjatuhan tanpa menyala. BYURRR!

“Kasur di kamarku tidak enak. Keras dan aku merasa punggungku sakit, ssssaaammmcccooonnnn.”  Dia mencandai panggilan itu dan semakin membuat kepalaku pening.

“Mau atau tidak?” dia mengerjabkan matanya lagi.

Aku mengangguk pasrah.

“MAU. Asal kau memanggilku Chan Oppa, okay!”

Dia mengangguk.

Lega, dan bus tiba di depan gerbang sekolah dengan selamat berikut reputasiku. Semoga di sekolah ini Jiyeon tidak membuat ulah.

“Ayo, Sam….uphs, Chan Oppa!” ajaknya sambil mengamit lenganku

.

.

.

.

“Yeol!”  sebuah senggolan menerjang bahu kiriku. Aku tahu siapa yang sering memanggilku begitu—  Baekhyun.

“Siapa dia?” dagunya menunjuk Jiyeon yang masih berjalan cuek di sebelahku. Matanya berkeliaran memperhatikan setiap sudut termasuk manusia random di sepanjang lorong yang kami lewati. Mendadak dia mencengkram lengan kiriku kuat, tubuhnya menjadi kaku dengan fokus yang condong tertuju pada satu bentuk penampakkan berbahaya di depan kami. Bentuk itu meradiasi kepolosan keponakan tercintaku.

Bahuku jatuh seketika—

“Chan Oppa, siapa dia!”tunjuknya pada namja yang berjalan molek di depan kami.

“Kenapa?”  aku merasa cemburu meski tidak jelas.

“KENAPA?” Jiyeon mencibir gerah ke arahku. “Apa kau tidak lihat betapa seksi pantatnya?”

Baekhyun di sebelahku terjungkal ke belakang dan memegang pundakku. Aku tahu kejadiannya akan seperti ini. Iblis penggoda itu selalu memamerkan pantatnya kian kemari.  Oh Jiyeon, seandainya kau meihat bentuk pantatku, kau akan lebih terpukau pada milikku ketimbang miliknya.

“Apa kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada pantatnya?”  serangku sengit. Aku tidak suka keponakanku berpikir mesum sepertiku. Sepertinya ini sudah garis keturunan keluarga Park selalu berpikir tidak jelas.  Hopeless.

“KENALKAN AKU PADANYA. CEPAT!”  rujuknya

“Tidak mau.” Aku menolak mentah-mentah permintaannya.

“Aku akan memperkenalkan diriku sendiri padanya.”

“Silahkan!”  aku berjalan menduluinya. Kubiarkan dia yang nekat mendekati laki-laki itu. Baekhyun tertawa cekikikan di sampingku.

“Kenapa kau tidak memberi tahu dia siapa dia, Yeol?”

“Biar tau rasa dia!”  aku memperhatikan dari jarak yang tidak jauh ketika Jiyeon menghadang namja yang dia bilang berpantat seksi itu.

“Hi Sexy!”  sapa Jiyeon.

Laki-laki itu terdiam menatap Jiyeon yang mencegat di depannya.

“Annyeong!’ sapanya ganti dengan wajah tenang. Prilakunya sopan, dan dia memperhatikan keponakanku tak berkedip. Aku hampir meledakkan tawaku memperhatikan drama itu. Semua mata menjadi fokus pada kegiatan ini. Apalagi Jiyeon murid baru , dan itu cukup menjadi hiburan pagi ini.

Sebenarnya aku tidak tega, tapi apa boleh buat— nasi dikepal jadi bulat-bulat.

“Kenalkan aku murid baru, namaku Jiyeon.”

Jelas lai-laki itu mengangguk.

“Okay!”

“Siapa namamu?” tanya Jiyeon lagi sambil berjalan mengelilingi namja tinggi dengan rambut blonde itu.

“Namaku tidak penting, tapi terimakasih kau memanggilku sexy. Aku akan mengingat itu terus.”

Demi putra dewa Zeus, jangan biarkan laki-laki jangkung itu mengingat Jiyeon. Langkahku bergerak mendekat tapi tangan Baekhyun menarikku.

“Aku rasa aku akan betah di sekolah ini.”   Jiyeon menoleh sebentar padaku untuk melihat reaksiku.

“Okay. Aku harap juga begitu. Aku dengar kau mengalami banyak kesulitan selama berada di sekolahmu yang dulu.” Sahut sang namja sexy

“Yeol, selamatkan dia darinya!”  bisik Baekhyun, tapi aku masih ingin melihatnya lebih jauh.

“Kau sudah tau?” Jiyeon semakin berani dan beraksi.

“Ya,”  Si namja berjalan, dan Jiyeon mengikuti. Aku tidak bisa mencegahnya lagi, kelihatannya Jiyeon memang pantang mundur menghadapi si Sexy itu.

“Park Jiyeon, kan?”

“Ya.” Jawab Jiyeon pada laki-laki itu.

“Sebaiknya kau ke kantorku dan menandatangani sesuatu. CEPAT!”  ajaknya kemudian.

Jiyeon melirikku bingung dan aku hanya mengangkat bahu .

“Ke kantor?” tanya Jiyeon

“Ya, kenalkan namaku Wu Yifan. Aku guru matematika merangkap staff bagian kesiswaan di sekolah ini.”

Jiyeon segera berbalik memandangku, sementara semua siswa yang melihat sudah tertawa tak karuan. Sungguh SIAL di hari pertama bersekolah di sini.

“Ayo, dan sekali lagi terima kasih karena memanggilku Sexy. Aku tidak tahu bagian mana dari tubuhku yang kau bilang sexy itu”  Ujar pak guru WuYifan itu sambil menahan senyum di wajah dinginnya.

Semoga Jiyeon akan baik-baik saja di kantor guru killer itu, pintaku dalam doa yang tak henti-hentinya kuucapkan ketika melihatnya masuk ke dalam kantor.

.

.

.

Malam ini Hyungku datang. Tidak jelas kenapa dia mendadak datang dan langsung memanggil Jiyeon masuk ke dalam ruangan kerja Appa. Apa ini ada kaitannya dengan kejadian kemarin di sekolah. Guru matematika killer itu, Mr. Wu. Harap maklum saja, sekolah kami memang berada di komplek angkatan darat Korea. Appa adalah seorang purnawirawan angkatan darat nasional. Kedisiplinan yang membuat sekolah itu menjadi favorit. Kasihan Jiyeon jika dia belum mengerti, dan aku adalah orang pertama yang harus disalahkan karena tidak menghalanginya mendekati guru seksi itu.

“Hyung!” sapaku ketika dia keluar dari ruangan dengan wajah kaku. Sepertinya dia sangat kecewa dengan sikap putrinya. Aku melirik Jiyeon yang berjalan dengan wajah di tekuk melewati kami.

Jungsu Hyung menatapku gamang. Menghela napas berat dan menggeleng

“Ini kesalahanku karena aku menjerumuskannya Hyung.”  Aku lebih dulu mengklarifikasi mengenai apa yang dialami oleh Jiyeon.

“Dia seharusnya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Aku malu karena harus mendapatkan surat peringatan lagi dari sekolah.”  Hyungku meninggalkanku untuk menemui Appa.

Di mana Jiyeon

Aku mencarinya ke kamarnya, tapi tidak mungkin. Sejak kemarin dia tidur di kamarku. Perasaan bersalah ini menghukumku habis-habsan. Aku ini Paman macam apa sampai menjerumuskan keponakan sendiri untuk berbuat tidak benar. Hyungku pasti lebih kecewa padaku karena tidak bisa menjaga Jiyeon…ku. Hati ini tersayat rasanya melihat wajah sedihnya. Jiyeon…ku, kenapa aku memikili deklarasi ini. Kau milikku, dan tak akan kubiarkan laki-laki lain menyentuhmu.

“Jiyeon!” aku memanggilnya, tapi kamarku pun sepi. Dia pasti menyembunyikan diri dariku. Setelah kejadian  memalukan kemarin, dia sudah tidak mau bicara denganku lagi. Permusuhan pertama ini menyesakkan batinku. Aku tidak mau dimusuhi oleh gadis cantikku. Memang ini kedengarannya salah, tapi biarkan aku memilikinya di dalam hatiku, imaginasiku, fantasiku.

“Jiyeon!” panggilku lagi.

Aku berlari turun dan menemui Hyungku lagi.

“Dia tidak ada di atas.” Ujarku, tapi hyuku hanya menyeringai.

“Dia selalu berada di dalam lemari jika sedang merajuk.” Jawabnya.

Oh, pantas saja. Dia pasti berada di dalam lemariku saat ini. Aku mengangguk tenang sambil duduk di samping Appa, tapi kemudian aku seperti tersambar petir imajiner ketika mengingat sesuatu. LEMARI.

Kaki panjangku langsung menjangkau empat anak tangga sekaligs ketika mengingat bahwa di dalam lemari itu—

“Jiyeon!” aku menerobos kamarku dan berusahamembuka lemari, tapi terkunci. Jiyeon menguncinya dari dalam. SIYAL! Batinku.

“BUKA!” gertakku.  Aku mulai panik. “JIYEON PARK! BUKA LEMARINYA!”

Dia tidak menjawab.

“Aku hitung sampai tiga, jika kau tidak buka, maka aku akan mengambil gergaji mesin dan membongkar lemari ini dengan paksa.”

CKLEK

Pintu itu terbuka, dan aku mendapati Jiyeon meringkuk duduk di dalam sana. Aku jongkok di sampingnya. Air matanya mengalir deras. Di mana semua keganasannya yang selama ini selalu digunakannya utuk menindasku. Dia terlihat seperti kelinci manis yang ingin sekali aku peluk dan belai.

“Kenapa kau di sini?” sambil mataku meneliti sesuatu di sana , di antara tumpukan pakaian itu ada sebuah kotak yang aku pakai untuk menyimpan semua rahasiaku. Jiyeon tidak mengusiknya— lega.

“Samchon, Appa memarahiku. Dia bilang aku akan dipindahkan lagi dari sekolah itu.”  Dia mengusap air mata dan ingusnya lagi, But wait—

“Jiyeon, apa yang kau lakukan?”

“APA?” tanyanya bingung.

“Itu celana dalamku.” Tunjukku pada benda yang sejak tadi dia pakai untuk mengusap air mata dan ingusnya. Aku langsung mengambil beberapa lainnya yang tergeletak di atas pangkuannya.

“ASH JINJAA! Kenapa kau memakai celana dalamku untuk mengusap ingusmu. BESOK AKU PAKAI APA???”  aku sungguh kesal, sekeranjang celana boxerku habis terkena ingus.

Jiyeon semakin banjir air mata melihatku berteriak. Dia benar-benar membuatku kesal sekaligus gemas. Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan padanya/

“Sssst, diamlah!”

Jiyeon terisak dengan bahu tersengal-sengal, aku menariknya keluar dari lemari, tapi mendadak dia justru menghambur masuk dalam pelukanku. Tangannya memenjarakan tubuhku.

.

.

.

Persegi di depanku ini tidak terkunci. Kuraba dengan penuh rasa sayang seperti manusia waras yang kehilangan instingnya. Dia tinggi melebihi posturku. Bertahun-tahun aku berada di dalamnya, namun kini harus kurelakan ruangan yang menjadi habitatku itu menjadi orbit mahluk lain

Bukan salahku jika aku masuk tanpa permisi. Lagipula ini kamarku, dan dia hanya numpang tidur di sini. Aku hanya ingin mengambil buku dan—

SET

Mataku tergoda lagi untuk meliriknya

Dia ini laki-laki atau perempuan,

Jelasnya dia ini manusia atau siluman.  Kenapa dia harus tidur dengan cara seperti itu.

Oh Tuhan!

Kuurut dadaku pelan-pelan. Mataku teracuni oleh pemandangan yang seharusnya tidak kulihat, tapi sebenarnya berharap sekali untuk kulihat. Apa dia tidak pernah diajari bagaimana tidur dengan posisi yang benar, atau bagaimana seharusnya seorang manusia itu tidur, terlebih di atas ranjangnya.

Dan apakah aneh, kalau aku menggerutu seperti ini.

Seharusnya aku tidak menggerutu,

Seharusnya aku bersyukur, kan

Mendekat

Tidak!

Mendekat

Tidak!

Apakah aku harus mendekat?

Sebenarnya itu bukan pertanyaan penting, karena tidak ada yang akan menjawab selain diriku sendiri, dan sebagai orang pertama, alias manusia tunggal yang mempunyai hak independen untuk menentukan jawaban dan pilihan, aku pasti akan langsung  memastikan diriku untuk mendekat.

Si preman imut ini, …

Benar-benar sangat menggiurkan.

Kakinya mengantung sebelah dengan posisi tengkurap, sedangkan lolipop itu sangat beruntung bisa ada di mulutnya.

Lolipop—

Huh, lolipop.

Kenapa dia tidur sambil mengemut lolipop. Atas dasar apa dia melakukan hal itu.

“Jiyeon!” kutendang kakinya yang masih menjuntai setengah di samping ranjang. Dia menggeliat dengan indah, memamerkan lekuk mulus kecantikannya. Memukau mataku.

Sangat sulit untuk tidak mengatakan kalau dia membuatku merasa gerah.

 Hanya saja dia tidak bangun. Kudekati tidurnya dan kuambil lolipop itu dari mulutnya.

Anak kecil saja tahu kalau tidur harus menggosok gigi dulu, ini malah sengaja menimbun glukosa di dalam liurnya.

Kunaikkan kakinya dan menarik selimut untuknya. Jangan sampai bocah ini masuk angin karena kedinginan.

Begitu lebih baik. Dasar preman! Makiku dalam hati. Kakiku melangkah mendekati rak buku, tapi—

Samcon…!”  serunya ketika aku sedang memilih buku-buku pelajaranku untuk esok.

Reflek aku menoleh dan melihat matanya memicing.

“Kau pura-pura tidur?” sindirku sambil melanjutkan kegiatanku memilih buku

“Samcon!” panggilnya lagi,

“Apa?”  jawabku tanpa menoleh

“Samcon!”

Hh, aku mulai kesal. Dia masih sempat menggodaku di saat-saat seperti ini.

“Samcon!”

“APAAA?”  sedikit menghardik. Aku sudah selesai dengan buku-bukuku.

“Kembalikan lolipopku!” rengeknya.

Lolipop?   Kujatuhkan mataku pada gagang loliop yang berada di mulutku.

Jiyeon bangkit dan menyingkap selimut yang tadi kututupkan di atas tubuhnya. Kalau saja aku bisa berlari, aku akan berlari, tapi aku tidak mau, karena aku lebih senang berada di sini, berdiri dan menatap tubuhnya di balik baju tidur tipisnya. Chanyeol, kau nakal! Makiku sendiri. Ya, tentu saja. Aku memang seperti ini. Aku adalah Paman yang nakal.

“Lolipopku yang kau emut itu!”  tunjuknya ke mulutku.

‘O’panjang mengalun dari mulutku seiring kulepas permen itu dan kusodorkan balik dengan cengiran nakalku. Jiyeon menerimanya dan memasukkannya kembali ke dalam mulutnya dengan muka cemberut.

“Mengganggu saja!” gerutunya kesal

Apa aku tidak salah lihat. Dia mengemut lolipop itu lagi dan masuk ke dalam selimutnya. Bocah ini kelainan atau kerasukan. Padahal tadi aku sudah mengemutnya, sekarang dia mengemutnya lagi.

Akhirnya kutinggalkan dia sebelum aku ikut kerasukan juga.

.

.

.

Jiyeon menyendokkan wortel dari sopnya lalu diletakkan di dalam sopku tanpa rasa berdosa. Kupandangi aksinya sampai dia selesai mentransfer semua wortel dalam mangkoknya ke dalam mangkokku.

“Apa ini?”  bentakku,

“Wortel.”  Sahutnya santai

“Kenapa di taruh di mangkokku?”

“Aku tidak suka wortel!” liriknya sengit

“Kalau tidak suka jangan di taruh di mangkokku!”

“Memangnya kenapa?”

“Apa kau tidak lihat, aku juga sedang berusaha untuk membuang wortelku. “

Kusingkap taplak meja untuk memperlihatkan Bona pada Jiyeon. Bona adalah mahluk berkaki empat jenis labrador, yang telah menjadi peliharaanku sejak setahun lalu.

Jiyeon mengangkat bahunya tak perduli.

“Anjing suka wortel?”  dia memicing sebentar

“Anjngku ini vegetarian.”

“Lalu majikannya ?”

“Ek-hem!”  tatapan tajam ibuku menyerangku juga Jiyeon. “Kalian ini tidak ada bedanya. Sejak kecil selalu membuang-buang sayuran!”

“Eomma, kalau kau tahu aku tidak suka sayur, kenapa masih memberku sayur?”

“Jangan tanya kenapa, karena semua eomma pasti melakukan hal yang sama untuk anak–anaknya.”

Kudengar kekehan di sebelahku. Jiyeon sedang menertawai kejadian ini.

“Eomma, kenapa umurku dan umurnya sama?” aku berusaha untuk bertanya. Wajah eommaku menjadi pias. Dia memperhatikanku dan Jiyeon bergantian. Seperti ada sebuah rahasia yang dia sembunyikan.

I knew it!

Entah kenapa aku merasa ada rahasia dalam keluarga ini, terutama mengenai aku dan Jiyeon. Usia kami, juga persamaan yang kami miliki. Jangan bilang kalau kami adalah anak kembar.

.

.

.

tbc.

 

Advertisements

18 Comments Add yours

  1. cassanova yoo says:

    Gak kebayang kalo mereka kembar, apa jadinya chanyeol yg merasa jadi paman aja pikirannya nakal lah kalo kembar pupus sudah hatimu yeol wkwkwk
    Maaf aku belom baca ch.pertama sampai empat hehe

  2. Kina J says:

    Gk kebayang klo mereka beneran kembar,apa jadi x sama perasaan chan? Ini part berapa eon?msh bngung..bukan part 1 ya?

  3. Kim yeon says:

    Sumpah ini kocak hahah,,, jiyeon yang goda kris itu,,,
    Lalu chanyeol yang suka sama jiyeon,, kalau jiyeon suka gak si sama chanyeol,,
    Anak kembar (-_-) jangan deh makin hancur tu harapan chanyeol buat bersama jiyeonn
    Akun malah dapat kode sinyal kalau mereka itu enggak ada hubungan saudara,,, jdi bisa bersama dong,,,
    Tapi sumpah kelakuan jiyeon konyol bangetttt,,,,
    Daru a sampai z,,,, hahahaha

  4. windy_pjy says:

    Alah klau mreka kembar gmana nasib sgala fantasi chanyeol
    Ngakak wktu jiyeon godain yifan
    Guru killer dbilang sekseh
    Hahahaha
    Suka2 dtunggu lanjutannya

  5. May andriani says:

    Kyknya ada yg disembunyi’in sma ibunya chanyeol ,, iya tuh knp umur chanyeol sma jiyeon sma ya??

  6. Pny ponakan ky’ jiyeon… Namja2 pasti berdoa agar status tu gk da. Hahahaha..
    Kshn chan,, hrs nahan rasa cinta tuk ponakan na..
    HAHAHAHAAAA aduh skt perut q ketawa dg kelakuan jiyeon mggoda guru tu,
    What d pindah kn g?? Aduh kshn bgt jiyeon

  7. minew says:

    kembar???andwaeeee…
    mgkin chan hnya ank asuh biar mreka bersatu hehe

  8. indaah says:

    gyahh , itu chanyeol bener2 sama ma jiyeon otak mesum kk
    jiyeon itu makhluk apaan , knapa bisa kyk gtu sifat nya parahhh
    eits ada yg aneh antara chanyeol bukan anak kandung atau ya mereka kembar ..
    klo kembar udh dehh chanyeol cuma bisa berkhayal aja teruss ..
    keren lan comeback nya lgsung byk , tp blum bisa baca semua ff .. cuma ff yg udah diikutin aja dlu 🙂
    keep fighting lan

  9. peyon93 says:

    andwee jgn anak kembar

  10. Bb says:

    Ouwww gokil,lucu,seru dah pokoknya, ada2 aja mreka b2
    pnasaran apa ada rahasia? Apa yah penasaran jdi cepet2 next chapt nya ya.

  11. Yumi Kim says:

    nah loh. rahasia apa?
    semoga bukan yg ada difikiran chanyeol.
    oh jiyeon pinjemin celana dalam buat chanyeol atau gak cuciin. wkwk

  12. Isti says:

    plis ngukuks bacanya😂 jiyeon kelakuannya absurd banget😂 pake godain guru segala😂 kkkkk
    aku kira si chanyeol ini paman yg udah tue gitu, eh taunya dia seumuran ama ponakannya😂
    nah ini nih yg jadi pertanyaanku juga, mereka ini kan paman dan ponakan, tapi kok bisa seumuran sih? jan jangan si ceye anak adopsi lagi tapi dia amnesia gitu atau apalah/? kek di drama phinoccio itu/? kkkk bukan deh keknya😕
    jadi apa rahasia yg disembunyiin sama keluarga park?😕

  13. rasma says:

    hahaaa dasar dino” jail banget,huaaaa ayang yifan cuma kebagian jadi guru “puk sabar ya bang hee :v
    ayo ada rahasia apa? apa chan anak adopsi,atau kembar ma jiyeon ? maaf ya lan,sebenarnya aga gimana gitu kalau ceritanya menjurus ke incest. :v tapi semoga jiyeon and chan bukan saudara sedarah ..

  14. yustina says:

    Ahhh akhirnya bisa baca juga, lan kmren sempet di protec ya, hiksss kmren ga bisa baca di wp my, skrng baru bisa baca deh, heheheheh
    Ommo ff baru ,
    Jiah kelakuan si jiyeon emang ajaib ya, wkwkkwwk
    Ya tuhan siapa juga yg ga mau punya samachon kaya chan oppa
    Aku juga mau lah, hahahah
    Wait wait wait chan and jiyi twins ? Yg bner ? Lag kalo bnr malah ga bisa bersatu dong mereka
    Semoga mereka bukan saudara kandung yes

    Ahh lan kamu mau hiatus yaaa, hiksss sedih 😦
    Pasti bakal balik lagi kan ? Janji kan ? Heheheh, istrhat saja dlu , kmpulin ide ff yg banyak lan, always waiting 🙂

  15. MkdJY says:

    Ceritanya seru pke bangettt haha

  16. park ji baby dino says:

    lanjut ..
    lanjut …
    lanjut…
    lanjut… *angkat benner :’v

  17. oh ya ampunnn… ini pamanya dah ancur,, ponakanya lebih ancur lagi.. btw paman dan keponakan seumuran kan udah biasa,, jd ga papalah,, yg ga boleh tuh menjalin hubungan cinta… jiyeon knapa kamu nakal bgt.. kamu berasal dari planet mana toh ndok???

    1. mochaccino says:

      aduh cayank ku muupkeun dakuh, ini baru kebaca komenannya ternyara stlah ngecek ada komen yg kena spam, ini udah aku moderasi ya and makasih udah komentar di sini. muaah muaah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s