For Better Or Worse 2nd


for better or worse

Title – For Better Or Worse 2

Cast – Wu Yifan, Park JIyeon and Park Chanyeol

Author – Mochaccino

Genre- Cute Romance

Rated  –  G

.

.

 

 

 

Sementara itu, di dalam kamarnya Jiyeon tidak bisa menahan debaran hatinya. Ini sungguh diluar dugaannya , ternyata dosen itu adalah orang suruhan ibunya yang dengan sengaja ingin mengambil hatinya. Apakah ini hebat?

 

Demi Tuhan, ini sangat hebat. Tapi tidak—

 

 

Dia tidak akan membiarkan Yifan dengan mudah mendapatkan hatinya meski detik ini, Jiyeon sudah merasa terperdaya dan masuk dalam perangkapnya. Dia tidak akan mudah untuk mempersunting seorang Jiyeon. Ingat itu Wu Yifan, seorang Jiyeon tidak akan gampang kau tundukkan!

.

.

 

 


For Better Or Worse  bagian ke 2


 

.

.

 

Mungkin Jiyeon sudah bosan untuk melihat langit  yang selalu menjadi abu-abu. Namun entah kenapa belakangan ini langit lebih sering menjadi abu-abu ketimbang biru. Seperti hari ini, ketika ada sebuah firasat yang mengatakan kalau dia akan bertemu dengan dosen itu, ternyata langit memang sedang abu-abu.

 

Abu-abu—

 

Bukan hitam,  seperti yang dia takutkan,

 

Ini hanya sekedar abu-abu.

 

Absurt

Sekarang, setelah dia mengetahui semua mengenai siapa sebenarnya sang dosen, Jiyeon seakan-akan tidak menjadi gentar pada ancaman dan intimidasi laki-laki yang sebenarnya cukup membuatnya ngilu itu.  Sssh! Dia berdesis sambil berjalan menuju ka arah kelasnya—mendongkol. Hari ini ada mata kuliah dari sosok yang menurut ibunya akan menjadi suaminya itu. Laki-laki yang akan memberikan nafkah padanya, menjaganya, seumur hidupnya.

 

Wu Yifan.

 

Dia—

 

Dia tampan sekali pagi ini. Jiyeon menelan liurnya dan memilih untuk memujinya ketimbang menyumpahinya tenggelam di langit abu-abu.

 

Eoh, Miss Park, kau baru datang!”  sapanya di depan kelas.  Suaranya merdu dan dalam. Tapi tetap saja tak direspon baik oleh Jiyeon. Sementara mahasiswa lain sudah bersiap untuk materi yang akan disampaikan, Jiyeon melangkah santai seakan ruang kelas ini hanya miliknya bersama Yifan.

 

“Duduklah di depan sini, jangan di belakang.”  Yifan mencegah Jiyeon untuk duduk di dekat Chanyeol pada deretan paling belakang. Singgasana sang Chanyeol yang sedang  menunggunya, meski sebenarnya Jiyeon sudah mati rasa pada sosok berkaki panjang itu.

 

 

Gadis dengan helai rambut indah itu menoleh sebentar sambil memicingkan matanya pada sang dosen yang masih menunggunya.

 

Deg, ternyata Yifan pun di buat terlena oleh kesan sinis calon istrinya.  Dia semakin cantik jika sedang memaki lewat tatapannya. It’s okay Sayang! Batin sang dosen diam-diam, namun kemudian dia   menunjuk bangku yang tepat berada di depan mejanya. Bangku itu kosong, sengaja Yifan persiapkan untuk gadis cantiknya itu, tapi sepertinya Jiyeon punya pilihan lain, seperti biasanya. Yifan sangat tidak suka dengan hal itu.

 

“Di sini!” perintahnya lagi, dengan sorot tajam— memaksa.

 

“Di situ?” Jiyeon mencibir— tak perduli.

 

“Ya,” kedip Yifan tanpa ekspresi.

 

Mereka sedang apa di depan sana. Pikir Chanyeol dengan cibiran.

 

“Saya rabun dekat, Mr. Wu. Pengelihatan saya tidak jelas jika saya terlalu dekat. Lagi pula saya alergi dengan bau marker. Jadi mohon maaf kalau saya lebih baik duduk di belakang.”

 

Yifan menahan senyum sebentar. Calon istrinya ini rabun dekat, dan alergi marker. Yeah, yang benar saja. Yeoja itu pasti akan membuatnya emosi dengan memilih duduk bersama playboy murahan itu.

 

Baiklah, dia tetap akan mencatat kalau Jiyeon memang rabun dekat dan alergi pada marker.

 

“Ehm, okay!” sahutnya tenang dia tidak akan berdebat di depan mahasiswa lain, dan  akhirnya dia membiarkan JIyeon berjalan mendekati Chanyeol yang menantinya dengan tangan terbuka. GAdis itu  menyambutnya dan bergayut mesra di lengan sang pacar playboynya sambil melirik pada dosennya— menggoda.

 

Yah, ini hanya sekedar ingin membuat Yifan merintih dalam hati. Jika dia memang menginginkannya, maka dia harus berjuang lebih keras, atau menghancurkan lebih banyak.

 

Penghancuran masal.

 

Yifan tersenyum sinis.  Tidak akan lama Park Jiyeon!  Batinnya kesal. Di dalam otaknya dia sungguh menggeram histeris, tapi di luar kepalanya, begitu hening dan senyap. Ada semilir angin yang mempermainkan anak rambutnya. Dia berganti focus pada mahluk di sebelah gadisnya.

 

“Mr. Park Chanyeol,!” panggilnya kemudian tanpa memutus tatapan dari calon permaisurinya.

 

“Saya?”  Chanyeol berubah bingung setengah curiga. Setelah apa yang terjadi dengan Jiyeon, tiang listrik berjalan itu tidak akan melepaskannya dengan mudah.

 

“Ya,  silahkan ke depan!”  panggil Yifan kemudian,

 

Jiyeon dan Chanyeol saling menatap dengan penuh keharuan. Mungkin dosen itu akan mengkremasi Chanyeol kali ini.

 

“MEngenai apa?”  Chanyeol masih tidak mengerti

 

“Apa kau sudah siap dengan presentasimu mengenai  Debt. Signalling?”

 

What Debt Signalling, Honey?”  Chanyeol melirik Jiyeon,

 

Mwolla? Kau pikir aku tahu, tapi itu ada kaitannya dengan exam Introductory Finance bulan depan.”

 

“Silahkan Mr. Park, aku menantimu di sini!”  Yifan  memang dosen yang penuh sentuhan romansa, kata-katanya sungguh menggiurkan. Pantas saja, mahasiswinya tersihir oleh mantra-mantranya yang membabi buta

 

Yifan tergelak dalam hati melihat ekspresi tuan berkaki panjang itu, dia memang telah memberikan mereka tugas untuk melakukan sebuah observarsi mengenai Debt.Singnalling, yang sebenarnya pun bukan hari ini untuk mempresentasikannya, hanya saja karena pikiran isengnya ini dan juga karena Jiyeon yang dengan sengaja tidak menuruti perkataannya untuk tidak mendekati playboy itu, maka dia akan menghancurkan manusia mesum itu.

 

Park Chanyeol.

 

Dia tergelak sendiri, terkadang dengan otak cerdasnya ini, dia bisa berpikir kekanak-kanakan juga. Tapi Park Chanyeol bukan rival yang sepadan dengannya, dia mudah sekali disingkirkan.

 

“Sial, aku pun kena peluru nyasar, hanya karena dia tidak bisa membidik targetnya dengan benar.” Sindiran Chanyeol ditujukan untuk Jiyeon yang hanya bisa mendengus kesal pada pada sang dosen.

 

.

.

.

 

 

“Apa kau puas?”  dia bicara lirih, nadanya pun ringan tanpa tekanan. Jiyeon melirik laki-laki yang duduk di sampingnya dengan sangat anggunnya. Dia mengenakan sweater hitam dengan sehelai slayer berwarna biru.  Malam ini ibunya memaksa Jiyeon untuk menerima kedatangan dosen ini di ruang tamu.

 

Dia melipat tangannya dan masih bersikap seolah-olah apa yang mereka tekuni ini tidak berjalan pada jalan yang sama, terlebih dalam  satu arah.

 

“Jam berapa ini?” gumam Yifan, dia tengah sibuk dengan ponselnya, dan hanya sesekali melirik Jiyeon dari balik kacamatanya, gadisnya itu yang masih menggerutu mengenai aksinya siang tadi di kampus.

 

Sangat menarik,

 

Ada cengiran di bibir dosen tampan ini. Mana mungkin JIyeon tidak tertarik padanya. Mustahil, dengan pesonanya ini, mana ada wanita yang sanggup menolaknya. Bahkan rekan sesama dosen pun banyak yang ingin berkencan dengannya. But, sekali lagi prisnsip is prinsip. Yifan hanya punya satu peluang untuk memberikan kesempatan pada wanita yang kelak akan disandingnya.

 

Apakah itu Jiyeon.

 

Hm,

 

Dia menarik,

 

Karena Jiyeon cukup seru dalam mempertahankan prinsip. Yifan pun begitu. Dia tidak sabar ingin mengenali Jiyeon dari sisi yang berbeda

 

“Apa kau sudah selesai?” Yifan memperbaiki letak kaca matanya dan membasahi bibirnya dengan sengaja di depan Jiyeon.

 

Gadis itu melirik dengan aksi manis yang diusung Yifan ketika dia harus  beberapa kali mengambil gambar selfie bersamanya. LAki-laki ini terlihat sangat santai dengan gaya rambut di ikat seperti itu.

 

Chu~

 

Yifan mengecup pipinya ketika dia melakukan selfie lagi. Dia ingin bertanya mengenai sikap anehnya yang terlalu membabi buta ini.

 

“Kita sangat serasi, Sayang!” bisiknya

 

“Aku heran kenapa eomma mengijinkanmu untuk menjadi suamiku.”

 

“Sebenarnya, tidak semudah itu, Park Jiyeon.” Yifan menarik Jiyeon untuk duduk di sebelahnya. Dia terlihat bijaksana dan sabar. Jurus apa lagi yang dia kerahkan. BAtin Jiyeon meraba situasi ini.

 

“Tidak mudah? Jelaskan!” pinta JIyeon dengan menggeser sedikit pantatnya dari dosennya, agar dosennya itu menghentikan tangan nakalnya untuk menyentuhi pahanya.

 

Yifan menahan gelaknya,

 

“Aku harus membatalkan janji dengan Naeun, hanya karena aku ingin bertemu denganmu sebentar, tapi aku malah mendapatkan penolakan dan makian.”

 

“Makian apa?”  gerutu Jiyeon dengan menyelipkan cengiran di bibirnya.

 

Yifan ini ternyata laki-laki dengan type ‘baperan’ juga. Hanya saja terselubung di balik sikap inteleknya yang salah guna. Dia tidak harus pamer kecerdasan di depan Jiyeon jika hanya ingin sekedar menarik perhatiannya.

 

Dia kurang cerdas untuk hal yang satu itu.

 

“Aku membaca sesuatu di wajahmu.”  Tatapannya berubah serius dalam sekejap. Ini cukup mengerikan. Apakah dia juga bisa membaca pikirannya.

 

“What?”

 

“Kau sedang meneliti apakah aku bisa mengambil hatimu atau tidak.”

 

“Terus?” kejar Jiyeon

 

Yifan tertawa dengan nada yang fals. Bahunya ikut bergerak naik turun untuk menyeimbangkan praduga tak bersalahnya atas tuduhan JIyeon mengenai prilakunya, meski untuk 80%-nya dia membenarkan pemikiran JIyeon yang konyol.

 

“Kapan kau akan berhenti membela Chanyeol?”

 

Dia menyerah dan melarikan diri dengan pertanyaan bodoh.

 

“Jadi ini masih mengenai Chanyeol.”

 

Yifan mengangguk sekali.

 

“Kalau kau memang sibuk dengan para mahasiswamu, kenapa kau tidak meladeni mereka dan urungkan niatmu untuk menikahiku, Mr. Wu.”

 

Kurampingkan lagi pembicaraan ini ke arah yang lebih specifik.

 

“Aku sudah terlanjur masuk dalam masalah ini.”

 

“Jadi aku adalah masalah?”

 

“Ya. Kau membuat hidupku bergairah.”

 

“Jadi kau sungguh serius ingin menikahiku.”

 

Yifan mengangguk lebih dari satu. Sebersit kesan ambisi itu tertangkap dalam sorot hitamnya.

 

“Mr. Wu, kenapa kau tidak menemui Naeun seperti yang kau bilang tadi.”

 

“Kau berharap aku melakukan itu?”

 

“Ya.”

 

Okay!” Yifan berdiri. “Aku akan menemui Naeun sekarang juga.” Laki-laki itu melirik Jiyeon. “Kau tahu apa artinya lebih, Park Jiyeon?”

 

Yang diajak bicara malah melengos, mungkin memang Yifan sudah terbiasa memberikan nilai plus untuk para mahasiswinya jika mau diajaknya bertemu di luar kampus.

 

EOMMA!”  Jiyeon berteriak memanggil eommanya ketika Yifan mendekat. Laki-laki itu mundur untuk mengurungkan niatnya.

 

Ny. Park datang dengan langkah ringan.

 

“Kenapa kau menjodohkan aku dengan dosen mesum sepertinya?” teriak Jiyeon sambil terus mencibir di depan Yifan.

 

 

“KEnapa kau berteriak seperti itu”

 

“Dia ingin menciumku lagi.”  Jiyeon memperhatikan senyuman Yifan sungguh menggoda.

 

“Dia calon suamimu, dia pantas menciummu.”

 

“Tidak sebelum dia menikahiku secara resmi.” Jelas Jiyeon sambil berlalu. “Katakan padanya agar tidak menggangguku di kampus, atau aku tidak akan menikahinya.”

 

Wanita itu menyenggol lengan calon menantunya dengan rasa geli.

 

“Itu artinya dia memang benar-benar ingin menikahimu.”

 

“Aku pun berharap seperti itu.”  Yifan menghela napasnya. Malam ini pembicaraannya dengan Jiyeon cukup rumit.

 

“Jangan terlalu sering mengganggunya. Cukup kau diamkan saja, dan nanti dia akan mencarimu sendiri.”

 

Yifan mengangguk,

 

“Tapi sepertinya aku bukan tipe semacam itu, Eomonie.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Yifan tidak mengatakan apa pun, selain memberikan senyum penuh misteri.

 

.

.

.

Langit sedang kosong tanpa awan, dan debu bertebaran di jalanan. Hari ini memang sangat panas. Bahkan daun pun tak bergerak. Jiyeon menunggu jam kuliah di bangku di depan koridor kampusnya. Dia malas untuk break makan siang. Cuaca ini membuatnya lesu. Beberapa mahasiswa lain bercengkrama dan membuat gosip di setiap pojok, ada juga yang diam sama sepertinya. Dengan sibuk memegang buku finance-nya, Jiyeon terkantuk-kantuk dengan rasa bosan tingkat dewanya.

 

Chanyeol tidak masuk hari ini. Jiyeon mengakui, meskipun dia tidak berguna sama sekali, tetap saja dia akan selalu mencari sosok yang selama ini menjadi kapten team basket di kampusnya ini.  Dia bisa membunuh rasa bosan ini dengan mudah.

 

Tring

 

Pop-up di sambungan ponselnya

 

-Kau bisa menyelinap ke kantorku dan tidur dengan nyaman di sofaku-

 

Jiyeon melirik ke kiri , kemudian ke kana. Dia seperti orang bodoh yang sedang menguntit. Tapi ini adalah Yifan. Dia tidak perlu menguntit, karena dia tahu di mana letak kantornya.

 

Dia tahu, Jiyeon sedang terkantuk-kantuk dengan hebatnya, tapi  Jiyeon mengabaikannya dan memilih berjalan untuk menghilangkan semua kesan bosan ini.

 

Ada langkah yang mengikutinya, tapi tetap saja dia abaikan. Jiyeon hanya merasa dia begitu kesepian hari ini.

 

“Beloklah ke kanan!”  suara itu seperti mensugestinya untuk belok ke kanan. Langkah Jiyeon berbelok dengan sendirinya ke arah yang ditentukan oleh suara menggema itu.

 

“Berhenti!”  dia mendengar lagi suara itu dan entah kenapa dia berhenti.

 

Sekarang dia sudah berhadapan dengan sebuah ruangan laboratorium yang digunakan oleh mahasiswa dari fakultas  ekonomi.

 

“Masuklah!” 

 

Sebuah gerakan pelan tangannya begitu pasti  memegang gagang pintunya dan mendorongnya ke dalam. Ruangan itu sepi, dan tidak terpakai hari ini. Jiyeon masuk dan melangkah ke arah bangku kosong yang terletak tidak jauh darinya.

 

BRUGH

 

Pintu itu tertutup dan suasana menjadi begitu hening. Jiyeon menikmati keheningan itu dan mulai terlena. Di sini dia bisa tidur dengan santai. Tapi siapa yang telah membimbingnya masuk ke dalam sini.

 

.

.

.

 

 

Jiyeon membuka mata dan mengerjap sebentar untuk melihat ada cahaya yang masuk ke dalam pengelihatannya.

 

“Kau sudah bangun?”

 

Suara itu

 

Jiyeon segera mengangkat mukanya dan mendapati Yifan sedang duduk di seberang meja dengan sikap yang sama seperti biasanya. Anggun dan berkelas.

 

“Kenapa aku di sini?”  Jiyeon merapikan bajunya dan bercermin di lemari kaca di sampingnya.

 

“Untuk tidur.”  Jawab Yifan yang kemudian melangkah berdiri.  Dia menculik dagu Jiyeon dan memberikan sentuhan lembut bibirnya di permukaan bibir gadis yang masih termangu itu dengan sekilas info saja.

 

Mengucap ‘bye’ yang kental dengan cengiran tanpa embel-embel adegan dramatis, kemudian berlalu. Jiyeon gagal berekspresi, dan hanya mendengus kesal.  Dia tidak menyahut, buntu pada fenomena barusan. Tidak ada jawaban  meski itu hanya cuap-cuap yang standart sekalipun atas aksi Yifan yang sudah begitu berani mencicip bibirnya di siang bolong begini.

 

Pop up

 

-Next, my class. Be right there on time, Beib! I will miss you so much.-

 

Brugh

 

Pintu tertutup.

 

.

.

.

tbc

 

 

note.

harap sabar dengan alurnya.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

17 Comments Add yours

  1. Kim yeon says:

    Di ff dosen tampan,, bikin mahasiswi baperan,,, kedatangan selalu dinanti dan buat happy
    Jiyeon masih jual mahal t sama kris,,, disini belum tahu kris itu gimana,, dan kenapa sampai dijodohkan dengan jiyeon,,,
    Semangat yya lana😄😄

  2. dwiki says:

    astaga yifan bener2 blak2an yaa.
    penasaran knpa bisa yifan mau nikah sama jiyeon? apa mereka pernah bertemu sebelumnya?

  3. Hihihi.. Yifan,,,,
    Bhkn kursi duduk jiyeon d kls pn dh lgsg d sediakan agar gk jauh dr dri na…
    Namja gentle bgt… 😎
    Asyik jg y..lw lelah jiyeon bs numpang isrht d ruang Yifan…
    Ayo Yifan bwt jiyeon cintai mungkin…

  4. Sookyung says:

    Sepertinya klo jiyeon sudah mulai terbuka hatinya untuk yifan ,mungkin moment romantis mereka akan bnyak ^^, ditunggu moment romantis mereka

  5. AriePJY says:

    Emang si yifan bs hipnotis ampe jiyi gak th dia sdh trtdr,
    mkn seru Ni kyknya moga Mrk cpt jadian. Next dong di tunggu

  6. May andriani says:

    Smpai kpan ya jiyeon nolak akn pesona yifan,, begitupun yifan yg meluluhkan hatinya jiyeon?? Keke yifan bner” mesum..

  7. rasma says:

    jiyeon masih tarik ulur ,tapi dah mulai ada rasa .jadi ga sabar nunggu honey moon nya “plakkk ..heee .. suka banget kalau dah menyangkut krisyeon cepet update ya lan :v

  8. park ji dino says:

    berharap punya dosen cem gini d kampus .. hahaha 😀

  9. Bb says:

    Ouu yifan anggun dn berkelas, gmna gitu ngbyanginnya histeris..

  10. diah.dimin says:

    Aduh mencicipi.. Aq mao donk mencicipi.. Juga wkwkwk.. Kata2 ku abis.. Pokonya the best..

  11. MFAAEM says:

    Mangtap yifan agresif parah wkwkwkwkwkwk btw jelasin dari sudut pandang chanyeol dong unn, gimana dia ke jiyeon tuh hehehehe biar ga menerka nerka 😦 huhuhuhu

    1. mochaccino says:

      iya, ini alurnya seperti biasa lelet banget, soalnya aku lagi seneng sama permainan katanya.

  12. mega says:

    sanking ngantuknya jiyi gk tau klo kriss yg ngebimbing dia masuk hahaha

  13. kwonjiyeon says:

    Itu dosen bner7 mesum bnget yah suka curi3 kesempatn tpi pas jiyi tidur g nyuri kesemptnkn ………kkkk

  14. asekk di kejer2 dosen keceh

  15. minew says:

    hahaha jiyeon tuh malu2 mau…
    sapa jg yg bisa lari dr pesona wu yifan…
    dtggu deh next partx…udah lma nieh kykx…fighting bwt lana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s