Lost In Seduction [Part. 5-End]


lost in S

Lost In Seduction

Part. 5-End

Cho Kyuhyun

Park Jiyeon

Park Jungsu. Aka Lee Teuk

And Bae Irene

Romance Agst

Chapter

PG

.

.

 

Hening

Jiyeon tidak tahu apa yang terjadi. Apa keputusan Irene. Kenapa dia bisa begitu hebat menentukan kehidupan seseorang.

Suara gerendel pintu dibuka dari luar, langkah kaki itu menggema dan langsung mendekatinya.

Siapa?  Pandangan Jiyeon buram. Siapa yang telah mendekati dan menyentuhnya.  Jiyeon ingin meronta dan berteriak. Dia tidak bisa mengenali siapapun. Apakah dia akan mati. Mendadak lehernya seperti ditusuk oleh jarum. Nyeri, dan beberapa detik kemudian gelap kembali melingkupinya.

Gelap ini  teramat panjang. Hening, tanpa satupun suara. Tak ada yang kupikirkan, tak ada yang kurasakan. Bahkan sama tidak bisa membayangkan, apakah aku diam atau  bergerak.

Keberadaanku tak bisa kupastikan.

Apakah aku bernapas—

Mungkin

Dan wangi yang perlahan menyapaku ini, begitu lembut, aku melangkah ke sana, mengikutinya pada sebuah cahaya dan bayangan yang samar. Tempat yang tidak kuketahui. Mungkin aku telah mati. Dunia gelap yang sesaat lalu mengantarku, mungkin sebuah tempat tergelap yang menggurung semua bebanku, dia begitu pekat, hampa seperti diriku

Wujut hampa di dalam kegelapan. Tidak berarti, setitik debu yang merayap pada celah cahaya

–dan  pada titik cahaya itu aku melangkah.

Perlahan,

 sejuk.

Kesejukan yang tipis dan samar, tapi membayang di wajahku, membuaiku. Mungkin aku merasa lega, aku masih bisa merasakan tubuhku kembali,

Teramat sejuk, dan semakin banyak kesejukan yang hadir. Dia berada di sekitarku, melayang, dan menerpaku dari segala arah. Angin-angin itu yang membuat napasku terhembus dengan ringan, aku merasakan kesegaran. Bahkan aku bisa merasakan detak jantungku kembali, dan kicau burung.

Kicau burung—

Telingaku bisa menangkap kicauan merdu di sana, diantara gemerisik dedaunan. Aku masih  bisa mengenalinya. Daun-daun yang terhempas angin, dan juga langkah kaki. Bukan kakiku,  namun kurasakan semakin mendekat, kemudian berhadapan denganku. Hangat. Dia terasa hangat,

Apakah aku hidup

Kehangatan adalah kehidupan,

Tapi siapa.

Siapa?

Adakah seseorang atau mungkin malaikat

”Jiyeon..”  diam memanggilku, tapi aku masih belum bisa melihatnya. Tanganku bergerak untuk menggapai kekosongan di depanku. Mengapa begitu berat.

Tubuhku berputar mengitari sesuatu yang bisa kurasakan namun tak bisa kulihat. Adakah seseorang di sekitarku, siapapun.

Seseorang

Siapapun itu,

Kenapa aku sendiri

”Jiyeon!” sebutnya lagi, suaranya begitu dalam dan tenang. Menggema diantara kekosongan ini. Dia laki-laki, dan menyebut namaku dengan indah.

TAP

Aku merasakan tangannya, seseorang di depanku menangkap tanganku,

”Jiyeon, sadarlah!”

Jiyeon,

Aku

Aku adalah Jiyeon,

Biarkah aku melihatnya,

Jangan biarkan aku merasakan kesan hampa ini. Biarkan aku melihatnya.

”Sayangku!”  di telingaku, desah napasnya menerpaku, di sampingku. Aku menoleh ke arahnya. Tidak ada siapapun di sisiku, namun dia menggenggam tanganku— erat, dan aku tak melepaskannya.

”Bangunlah, aku di sini.” bisiknya lagi. ”Buka matamu.”

Aku telah membuka mataku, tapi aku tak melihat siapapun. Hanya sebuah taman yang dipenuhi pepohonan, juga rerumputan. Tak ada siapapun selain diriku dan suara lembut itu.

”Bangunlah dan kita akan bahagia.”

Usapan di kepalaku membimbingku untuk masuk dalam sebuah rengkuhan. Tubuhku,

Dia memelukku dalam sebuah keharuman. Aroma yang terasa begitu akrab dalam benakku. Begitu mendalam dan membuatku ingin berteriak dengan semua kesan ambigu ini.

”Aku tahu kau bisa mendengarku, dan merasakan diriku.”

Dia berkata lagi,

Suaranya menghadirkan getaran yang tak kumengerti. Di dalam hatiku, seperti ada sebuah sekam, yang masih memiliki bara api. Dia menghangat ketika hembusan napasnya menyalakan kembali api itu hingga perasaan hangat ini semakin meluap.

”Jangan tidur terlalu lama, aku membutuhkanmu. Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Siapa yang tidak bisa hidup tanpaku.

Aku

Berharga

Katakan padaku siapa dirimu, supaya aku bisa meyakinkan hatiku mengenai perasaanku. Kenapa aku seperti dilahirkan kembali sebagai manusia baru.

”Aku akan mengatakan padamu, mengenai bayi yang tengah kau kandung. Dia masih berumur empat minggu. Dia hanya seujung jari, tapi kita memilikinya.”

Tubuhku di rengkuh semakin dalam, tubuhnya memelukku semakin erat, dan aku merasakan hembusan napasnya berada di wajahku. Aku terbaring di rerumputan bersama sosok yang tak bisa kulihat, namun bisa kurasakan keseluruhan jiwanya menarik jiwaku. Aku begitu pasrah hingga menitikkan air mata. Di dalam perutku, ada janin yang hidup. Siapa yang telah memberikan kehidupan di dalam tubuhku.

Kisah apa yang pernah kulalui bersama manusia ini.

”Jiyeon, kau menggenggamku begitu erat.”

Kpandangi tanganku yang seolah-olah digenggam

Tangan itu begitu kokoh dan besar, dia menguasai jemariku dan aku mencoba untuk meremasnya, lalu sebuah kecupan menyapa keningku. Setitik air mataku mengalir. Dan bisa kurasakan tangan itu mengusapnya dan semakin membawaku masuk dalam pelukannya.

”Aku sangat merindukanmu, Jiyeonku.” bisiknya lagi

.

.

.

Hari ini cuaca begitu hangat, langit pun terlihat biru. Aku berjalan diantara rerumputan tinggi.  Ada jalan setapak yang tak kukenal menuju ke sebuah danau. Di sana, di tengah airnya ada sekelompok lotus yang tengah berbunga.  Batangnya meliuk ketika angin mendadak menghempasnya. Angin kencang yang cukup membawa anak-anak rambutku terbang kian kemari.

Hari ini, aku tak merasakan ada orang lain di sekitarku. Hanya suara denyut jantungku yang kian cepat, juga kesejukan di aliran darahku. Ada sebuah ransangan di dalam otakku yang perlahan namun pasti membuatku bisa melihat sebuah bayangan. Masih samar, tapi aku bisa mematikan bahwa dia adalah sosok yang selama ini selalu berbicara padaku dan juga memelukku.

Aku,

Mungkin sedang menunggu waktuku,

Entahlah,

Semua ini, tak bisa kujelaskan. Aku hidup, namun aku sendiri. Dunia ini di dalam mataku, tak bisa kupastikan. Kegelisahan rumput yang selalu berbisik di sekitarku, tak bisa menjelaskan di mana aku saat ini.

”Jiyeon!”

Aku menoleh,

Suara itu datang dari arah belakangnku,

Tidak ada siapapun lagi.  Hari ini, sepertinya tekanan suaranya agak berbeda, atau aku yang mungkin salah mengenalinya. Apakah dia orang yang sama.

Laki-laki itu, dia berada di dalam bayanganku. Wajah yang tampan, dengan tatapan yang lembut dan teduh. Ketika dia tersenyum, matanya ikut memberikan keceriaan. Hatiku terenyuh menatapnya. Namun semua itu kembali menghilang.

”Bayi kita perempuan. Kau pasti bahagia.” bisiknya

Perempuan.

Di dalam perutku ada seorang bayi perempuan, tapi ketika aku merabanya, kondisiku sama sekali tidak terlihat berbeda. Perutku begitu ramping dan rata. Apakah dia sedang bercanda.

”Aku belum bisa menemukan nama yang tepat untuknya, aku yakin ketika dia lahir nanti, aku pasti sudah bisa memilihkan sebuah nama cantik untuk bayi kita.”

Berapa usia kandunganku.

Kapan dia akan lahir.

Megumi

Aku ingin memberikan dia nama Megumi.

Sebuah nama Jepang. Kumohon, berikan dia nama Megumi.

Tanganku mencari tangan itu, yang biasa memegang tanganku, tapi hari ini tangan itu tidak memegangku. Kenapa semua kekosongan ini membuatku bertanya-tanya. Apakah aku harus berteriak pada angin,

Langitku,

Aku sendiri, dan orang itu menganggap aku hidup bersamanya. Apakah aku ada, ataukah dia ada.

Tubuhku terguncang, emosiku memuncak hingga kepalaku dan tubuku seperti dirayapi oleh berbagai aliran-aliran aneh yang tidak kumengerti. Ada kebisingan dan angin-angin itu mendadak berhenti. Hawa di sekitarku terasa pengap.

Udara

Aku butuh udara…

”Jiyeooooooon!”  teriakan itu—

  Dia memanggilku,

Di mana

Siapa

Oh sesak. Dadaku, dan pandanganku—

Mengapa sekarang terasa kegelapan itu menyapaku kembali, dia berada di hadapanku, merangkah semakin dekat dan ingin memakanku. Jangan biarkan aku kembali dalam kegelapan.

Tolong aku

TOLONG AKUUUUUUU

”Selamatkan dia!” teriakan itu

Ya, selamatkan aku….

Biarkan aku mewujutkan semua ini, apapun itu. Jangan biarkan aku kembali masuk dalam gelap. Paling tidak biarkan aku berada di padang rumput ini, meski aku sendiri

DUG

Jantungku ditekan

Tubuhku terjungkal dengan hebat. Aku terkapar menatap langit. Putih, biru, sepi.

Dadaku terasa sakit. Ough—

DUG

”Aku ingin dia hidup, ”  rintihnya, memohon

Aku masih bisa mendengarnya. Laki-laki itu memohon aku untuk hidup.  Suaranya serak, menangiskah dia?

DUG

Perlahan kegelapan itu menjauh. Rasa sesak di dadaku menghilang. Napasku mengalir teratur.Kemudian angin-angin itu berhembus kembali di sekitarku. Tubuhku melayang dan terombang ambing, ringan.

.

.

.

Aku berjalan-jalan diantara rerumputan yang semakin tinggi. Setiap harinya aku merasa sepertinya aku mulai bosan. Hanya ketika suar itu kudengar lagi, atau aku yang hanya sesekali bisa menyadari kehadirannya. Entahlah,

Di atas langitku ada bulan dan matahari yang bersisian, mereka tidak seakan-akan sedang menatapku di bawah sini dengan cara yang aneh. Mungkin hanya aku yang terlihat aneh di dalam dunia ini, dunia yang tidak kukenali.

Aku ingin mendengar suara laki-laki itu lagi,

Kumohon,

Hari ini,

Hari yang kurasakan semakin sesak, dalam tekanan udara yang semakin membuatku membumbung tinggi. Aku melayang, semakin terangkat. Tubuh lemahku, seperti diantara angin-angin, dan di bawah sana yang kulihat setiap harinya, mengecil dan kemudian menghilang.

Aku terengah-engah dalam atmosfer yang menghimpitku, lalu perlahan dalam satu tarikan napas tubuhku tersentak.

Cahaya lain  yang begitu terang.

Putih,

Hening,

Juga berbeda.

Aku berada di dalam warna putih, dan ini sebuah ruangan, dengan langit-langitnya yang bersudut. Dan tubuhku begitu hangat. Mataku mengerjap sesekali. Keharuman ini, kukenali. Dia berada di sekitarku ketika aku tidak bisa menemukan siapapun di sekitarku.

Aku ingin bersuara. Memanggil siapapun, yang mungkin bisa kulihat. Aku ingin melihat orang lain agar aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku masih hidup.

Ada denyut nadi yang kurasakan menindih di tanganku, namun aku tak bisa menggerakkan kepalaku. Bahkan tenggorakanku tercekat kering. Mulut ini terbuka, dan ada sesuatu yang mengganjal diantara langit-langit mulutku. Apakah aku hidup—

Tanganku,

Aku mencoba untuk menggerakkannya, menggesernya,

Please, siapapun di situ, tolonglah bergerak dan bantu aku melepaskan diri dari belenggu ini.

Mulutku,

Aku ingin bicara,

Aku ingin menyuarakan hatiku.

Dia bergerak, sosok itu yang tengah menindih lenganku dengan berat kepalanya. Bangunlah!

Lihatlah padaku, apakah aku hidup,

Jemariku menyentuh kulitnya. Dia berkeringat, kulitnya lembab namun hatiku begitu senang. Aku bisa menyentuh sesuatu yang kuyakini hidup.

Aku hidup,

Hatiku menggeliat dalam rasa syukur.

Kenapa aku tidak bisa begerak, di saat aku merasakan kehidupan, kenapa justru aku tidak sanggup bergerak. Apakah aku telah terbaring  begitu lama.

Bangunlah!

Kumohon bangunlah sebelum aku kembali tidur.

Kusentuhkan lagi jemariku pada kulit keningnya. Mungkin kukuku sedikit melukainya. Dia menggeliat,

Dia bangun.

Aku bersorak senang. Kutatap pergerakannya,

Ya, tataplah aku, kumohon….

Aku ingin tahu, siapa yang telah berbicara padaku selama ini, yang selalu memelukku dan memberikan kehangatan di tubuhku.

Kepalanya terangkat,

Tatapan kami bertemu,

Mungkin dia belum yakin dengan tatapanku, sehingga dia kembali mengerjap. Wajahnya tampan, tapi dia berbeda dari bayanganku. Dia berbeda,

”Jiyeon!”  sebutnya,

Suara itu sama. Suara yang sama seperti ketika aku berada di dalam taman dan rerumputan.

”Jiyeon!”  dia tersenyum,

Memelukku dan mengecup keningku. Dia gemetar dan tak bisa mengendalikan dirinya. Dia ingin berteriak, namun ditahannya. Kemudian berlari ke arah pintu meninggalkanku

Lalu kembali lagi dengan langkah panjang dan lebar, dan aku tetap memperhatikan wajahnya tanpa kata-kata.

Siapa dia?  Kenapa aku tidak mengingatnya.

Tapi aku bisa merasakan jiwanya, kebahagiaannya. Dia memelukku lagi,

”Aku sangat merindukanmu, Sayang! Syukurlah kau kembali. Aku yakin kau pasti akan segera kembali padaku.”

Kau siapa?

lalu ada beberapa orang muncul. Mereka mengelilingiku, dan melepaskan beberapa alat dari tubuhku, dan juga mulutku. Ada selang panjang yang ditarik dari lubang hidung dan mulutku. Lalu beberapa jepitan di tangan dan kakiku.

”Welcome back!” sapa salah satu dari mereka dengan senyum ramah. Tubuhku di periksa, denyut nadiku, tekanan darahku, juga bola mataku. Semuanya tidak luput dari pengawasan laki-laki itu.

Dan perutku,

Aku melihat perutku begitu besar. Apakah itu yang dia maksud dengan kondisi kehamilanku, bahwa aku akan segera melahirkan.

Bayi perempuan,

Ada seorang bayi perempuan yang akan segera lahir dari dalam tubuhku. Apakah itu putirnya.

Perawat-perawat itu memberikanku posisi tidur yang nyaman. Saat ini aku tak lagi merasa kesusahan untuk menggerakkan tanganku. Meski kondisiku lemah, namun aku bisa menoleh dan mengangkat tanganku dengan pelan.

”Kau coma selama hampir delapan bulan. Kau akan pulih secara perlahan.”

Delapan bulan.

Selama delapan bulan aku tak bergerak. Kemungkinan aku bisa lumpuh, karena otot-ototku tak pernah terpakai selama delapan bulan. Pantas saja aku susah untuk menggerakkan kakiku. Terlebih untuk merasakan perutku yang begitu besar dalam posisi terbaringku.

Dia mengusap perutku,

”Bayi kita.” bisiknya dengan senyum,

Aku mencoba untuk tersenyum, namun aku tidak tahu untuk apa aku tersenyum. Satu-satunya hal yang membuatku lega adalah karena saat ini aku merasakan kehidupan. Aku bernapas dan bisa melihat hal yang nyata.

”Jiyeon, apa kau mengenaliku?”

Aku menggeleng lemah.

Dia menunduk dan mengecup telapak tanganku, lalu menyentuhkannya dengan pipinya.

”Maafkan aku, karena diriku kau harus menghadapi mimpi buruk ini.”

Aku diam,

Mimpi terburuk,

Ini adalah mimpi terburuk,namun aku tidak pernah tahu apa yang sudah aku alami. Tak ada bekas di dalam otakku mengenai sebuah peristiwa. Dari kegelapan itu aku muncul, setelah itu—

Dirimu.

”Aku akan membahagiakanmu, mulai sekarang. Tak akan ada lagi masa-masa sulit. Aku hanya untukmu, untuk hidupmu. Aku akan mengganti semua kekosongan itu dengan kehidupanku.”

Kenapa kata-katanya terdengar begitu indah, dan kenapa aku begitu luluh ketika mendengarnya. Apakah aku mencintai laki-laki ini sebelumnya.

Leherku terasa kering,

Aku ingin bicara padanya, menjawabnya dan bertanya siapa dia, dan kenapa begitu indah dengan kalimatnya, tapi tenggorakanku kering.

”A…a…ir.”  ucapku dengan susah.

”Kau haus.” dia segera mengambilkan air untukku. Dia menyuapkan ke mulutku setetes air dari pipet.

”Perawat itu mengatakan, kau hanya boleh minum sedikit dulu.”

Aku mengerjap,

Di lidahku aku merasakan kesejukan yang merembes hingga usus-ususku. Rasanya seperti dialiri kembali oleh kehidupan. Mungkin memang benar, ini terlalu lama.

Laki-laki ini mengusap rambutku dan selalu tersenyum,

Kami saling menatap,

”Aku sudah menemukan nama untuk bayi kita.” ujarnya

Nama.

Siapa?

Tanyaku lewat tatap mata.

”Cho Anais.”

Cho.

Cho

Cho

Nama itu menggema di kepalaku.

Cho….

Cho Kyuhyun

Mataku terpejam. Cho Kyuhyun, dan bayangan-bayangan dari manusia-manusia yang lain mulai memasuki kepalaku. Cho seperti sebuah kunci untuk memasuki masa lalu. Dia membuka semuanya, dan keringat dinginku mengalir.

”Oppaaaaah!” jeritku dengan suara lirih. Jantungku memburu.

”Jiyeon, kau kenapa? Apa yang terjadi?”

Kyuhyun memegang tanganku dan membawaku dalam pelukannya, dia terbaring di sisiku, mendekapku dan melindungiku di dadaku. Rasanya seperti ini, hangat. Pelukan ini sama…

Jungsu,

Aku mengingatnya,

Ada laki-laki lain di dalam ingatanku. Dokter itu, yang telah mengambil alih kehidupanku. Dia yang membawaku dalam permasalahn ini. Mungkinkah dia mencoba membunuhku.

Irena. Mereka—

Di mana mereka,

Lalu aku,

Apa yang terjadi setelah itu, malam itu.

”Kau bersamaku, Jiyeon. Park Jiyeon. Aku tidak akan membuatmu kembali pada masa lalu itu. Aku adalah milikmu,percayalah!”

.

.

.

Perjalanan ini terasa tidak asing. Aku bisa melihat lautan yang luas. Kyuhyun menggenggam tanganku sesekali, dia tersenyum untuk memastikan bahwa aku akan baik-baik saja. Perutku sudah semakin besar, menurut dokter aku akan melahirkan pada akhir bulan ini. Bayi perempuan kami akan lahir dalam keluarga yang bahagia.

Aku tidak menanyakan padanya mengenai Irene. Kyuhyun tidak membahasnya, bahkan menyebut namanya saja dia tidak mau. Mungkin itu ada bagusnya, karena aku pun tidak mau mengingat kejadian malam itu.

Aku melihat masih ada luka tembak di leher Kyuhyun. Tapi laki-laki ini hidup, mungkin dia ingin tetap hidup untuk hidupku, juga bayiku.

Kuusap perutku,

Entah bagaimana kisahnya kenapa aku mendadak bisa hamil seperti ini, karena sebelum kejadian itu, aku tidak merasakan ada hal yang aneh dalam tubuhku.

Kyuhyun,

Cho Kyuhyun…

”Jadi siapa nama bayi kita?” gumamku dengan lirikan.

”Anais.” jawabnya

”Megumi.”

Dia tertawa. Perubahan sikapnya itu membuatku syok. Tak ada lagi senyuman sinis, atau caci maki. Dia menjadi laki-laki yang tenang seutuhnya. Hangat dan penuh cinta.

”Kalau begitu kita berikan keduanya. Anais Megumi.”

”Megumi Anais.” tegasku

Lalu dia tertawa lagi,

”Fine!”

.

.

.

Dua bulan berikutnya,

Bayiku lahir, perempuan dan begitu cantik. Kulitnya begitu jernih. Dia seperti malaikat. Kyuhyun menggendongnya, membawanya dalam dekapan. Aku bangga menatapnya. Di dalam hatiku, aku begitu rindu untuk merasakan laki-lakiku yang telah membuatku memiliki kehidupan yang penuh dengan tragedi. Aku menggilai semua itu,

Mungkin aku memang gila,

Hanya untuknya

Dia menghampiriku, langkahnya lirih dan berhati-hati, menyerahkan padaku Megumi yang masih tertidur. Dia masih begitu rapuh, membuatku iri, karena dia selalu mendapatkan ciuman lebih dari laki-laki tercintaku.

Kutatap dia— lelakiku,

I miss you!” bisiknya di telingaku, dan aku mengerti apa yang tersirat dalam tatapannya.

Dia mengambil kembali Megumi, dan meletakkanya di dalam boxnya. Bayiku tertidur dengan pulasnya. Lagi-lagi Kyuhyun mengecupnya,

Aku berpaling, menyembunyikan rasa gugupku. Akankah dia melakukan itu lagi?

Gaya bercintanya,

Mungkinkah akan berbeda setelah kami memiliki Megumi,

”Kau menungguku?” kyuhyun masuk ke dalam selimut, dan langsung mengambil daguku. Mengecup, dan memberikan kehangatan lewat sentuhannya. Tubuhnya gemetar,

Aku tahu dia sudah menunggu lama untuk melakukan ini. Sangat lama,

”Kau bisa merasakannya?”  dia mengusap lenganku, lalu menjatuhkanku hingga aku terbaring. Mungkin kondisiku belum pulih benar setelah melahirkan Megumi,tapi aku tak bisa menahan godaan ini. Aku merindukan desahan dan makiannya ketika mencumbuku.

FIN-END

.

.

.

OMAKE

”Maafkan aku Irene, karena hanya dengan cara seperti inilah aku bisa melindungi dirimu.”

Jungsu mengusap pipi mulus Irene dengan tangannya. Dia mengecup kening gadis itu dengan segala ketulusan. Sore ini dia mengijinkan Irene untuk menatap Sunset dari jendela kaca apartemennya di lantai sembilan.

”Bukankah sore ini terlihat indah.”

Jungsu membalas tatapan Irene yang menyapanya. Ambigu, dia tersenyum tipis, dan mengangguk dengan sebuah genangan air mata.

”Kau akan membaik , Sayang!”

Laki-laki santun itu memeluk tubuh Irene dan membiarkan dia menangis di dadanya.  Entah kenapa laki-laki ini tetap memilih untuk bersama dengan Irene, dan merelakan Jiyeon untuk manusia yang paling di bencinya.

Jika manusia selalu berpikir pintar, maka dia akan menjadi yang terbodoh diantara yang terbodoh. Oleh karena itu, Jungsu tidak ingin menjadikan hidupnya berada dalam kebodohan.  Meskipun dengan perasaan ini, dia sanggup untuk membuat Jiyeon hidup bersamanya, tapi itu tidak akan pernah membuat hatinya merasa bahagia.

Dia hanya ingin hidup bersama dengan apa yang sudah dimilikinya, dan Irene tidak akan pernah membuatnya kecewa.

”Apa kau ingin makan sekarang?” Jungsu mengusap jemari Irene, dan gadis itu mengangguk. Kemudian, Jungsu mendorong gadis itu menjauh dari jendela. Meninggalkan sunset  yang tinggal separuh di telan malam.

Jungsu mendorong Irene ke meja makan. Dengan kursi rodanya itu, Irene hanya bisa menatap Jungsu tanpa kata-kata. Beberapa waktu lalu Irene mengalami kecelakaan dan harus berada di kursi roda untuk waktu yang cukup lama. Dia hanya bisa mengandalkan Jungsu. Laki-laki itu telah memberikan kehidupan yang berbeda untuknya.

Ketika malam itu dia mengatakan telah memilih seorang Jungsu, laki-laki itu membawa Irene menjauh dari apa yang telah dimilikinya.

Mungkin terdengar begitu kejam, tapi dia menolong Kyuhyun sehingga dia bisa hidup kembali, dan membuat Irene merasa yakin kalau Jungsu telah membunuh Jiyeon. Malam itu dia mendekati Jiyeon dan menyuntikkan serum mematikan itu pada tubuh gadis yang telah dilumpuhkannya itu.

Ya, dia membunuhnya

Irene yakin,

”Apa kau bahagia, Irene?”

Irene mengangguk,

Ya, dia bahagia.

.

.

.

ENDING

Note.

Endingnya seperti ini,

Ya, aku pikir, ini akan menjadi ff tererotis, tapi ternyata melenceng dari titik awal. Tidak! Ini gaje.

Semoga bisa menghibur aja, dan mianhae yang berharap ff ini akan menjadi …ya seperti harapan di awal.

Ya sudahlah, aku pusing mo ngemeng apa lagi. Bai!

 

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. nissa says:

    Untunglah jiyeon selamat.tapi kenapa bisa Jiyeon hamil ya.padahal sebelumnya Jiyeon belum hamil

  2. May andriani says:

    Jadi yg nolong jiyeon sma kyuhyun tuh junsu,, lega bnget kyu sma jiyeon bisa hidup lagi,, apalagi mereka udh punya aegi,, irene jga udh dpat karmax,,

  3. Wuuuuaaahhh kalimat2 ff ni bgs bgt..
    Q jd ingat saat pljrn sastra Indonesia,
    Gaya bhs na daebak..
    karya2 lana yg laen bgs d jd kn novel..
    Deskripsi na, n point of view dh perfect,,
    Alur cerita na rapi..
    😁

  4. indaah says:

    ommo bahasa nya berat lan , hampir aja gk sanggup ngecerna bahasa nyaa kk mgkin karna baca nya tengah malam jg kali ya hehe
    kerenn sumpah , itu jiyeon perjuangan nya utk hidup keliatan bgt . kyuhyun jg setia nunggu jiyi ,
    untung mreka selamat semua dan dpt kebahagiaan masing2 ..
    kerenn lan ..
    yaa cerita nya bener2 gk ketebak kirain bakal begini begitu keke

  5. diah.dimin says:

    Lanaaaaaaaaaaa… Omooo yg nyuntik jiyi supaya lumpuh itt irene hmmm dan sekarang dia lumpuh… Haha ganjaran untuk mu cuy.. Puassss lah… Diriku… Jiyi menderita mulu… Giliran dah bahagia… Malah cuma bentaran doank.. Heuh.. Next2 sorry bru koment.. Semalem baca blom beres ktiduran… Giliran pagi diriku dinas…. Wkwk di tunggu ff yg laen.. Hmm fighting jeng…

  6. djeany says:

    gaya bahasanya keren,mendalam banget..
    jadi jiyeon koma selama 8 bulan,dan kyuh tetap bertahan
    penantian yg membuahkan hasil,dan si irene kena karmanya..
    kehamilan jiyeon pun tak terduga.

  7. kwonjiyeon says:

    Its oke happy ending karna irene dan jiyeon berhak bhagia dngn pasangn hidupnya

  8. sami says:

    Ah happy end senangnya tak kirain mau sad
    Akhirnya kyu-ji sama jungsoo-irene menemukan pasangan masing masing
    Walaupun tadinya gedeg banget sama irene,tapi yesungdah lah yg penting
    Kyuji dah hidup bahagia punya anak lg.

  9. iineey says:

    karma berlaku rupanya… irene yg ngerencanain mau ngebunuh jiyeon dgn suntikan yg melumpuhkan justru malah irene yg lumpuh..

    walaupun ff ini ga jd ff tererotis tp ini udh bikin reader dag dig dug bacanya saat kyuyeon dlm bahaya
    dan untungnya jungsu nyelametin kyuhyun juga

    so….. happy ending deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s