Once Upon A Time 7th


once upon a time

ONCE UPON A TIME

Episode 7#

Park Jiyeon

Kim Mingyu

Zhang Yixing

Romance

Rated-PG

***

.

Samar-samar Jiyeon mendengar bel pintunya berbunyi. Ada seseorang yang datang sepagi ini ke apartemennya. Diliriknya Mingyu yang masih tidur di bawah selimutnya. Namja itu menepati janji tidak menyentuhnya. Kenapa bisa seperti ini— maksudnya kenapa bisa dia tidak menyentuhnya. Seharusnya Mingyu tidak usah menepati janjinya

Jiyeon menekan-nekan pelipisnya sedikit agak kuat. Dia selalu merasakan pening belakangan ini di bagian yang sama. Efek dari kurang tidurnya.

Dengan rambut berantakan dia bangkit dan melangkah ke luar kamarnya. Sedikit merapikan diri seadanya dan mengambil air untuk melegakan kerongkongannya.

Beberapa detik kemudian, dia menculik semua oksigen itu serentak untuk di masukkan ke dalam dadanya. Dia seharusnya tidak kaget dengan tamu  yang berdiri di depan pintunya, karena Mingyu sudah menunjukkan padanya profil mengenai sosok ibunya dengan sangat detail.

Tapi kenapa harus secepat ini—

Bukankah dia seharusnya baru akan tiba sekitar dua minggu lagi ke depan.

Annyeong!” sapa wanita itu dengan wajah ramah, suaranya pun lembut dan penuh kharisma. Dia adalah wanita tercantik di usianya. Rambutnya pirang tersanggul manis. Mingyu mewarisi wajah rupawan sang eomma.

”Eoh?” Jiyeo memicing bingung dan hilang gaya

”Mingyu?”  tanya wanita itu sambil membuka sarung tangannya.

”Dia di—”

Jiyeon menggaruk kepalanya sambil menoleh ke arah kamarnya.

”Saya, Kim Hye Sa.” dia memperkenalkan diri.

Jiyeon mengangguk sambil mempersilahkan masuk. Dia mengangguk  lagi dan hampir terbatuk. Kemudian mundur sambil mengangguk untuk kesekian kalinya.  Dari celah bibirnya dia tak sanggup berkata dan hanya memberi bahasa isyarat untuk menunggu sebentar saja.

”Di mana putraku?”

”Kamar.” jawab Jiyeon

”Kamar siapa?”

Jiyeon menunjuk dirinya dengan telunjuknya yang lentik,

Eoh, dia keceplosan.

Langkah kakinya setengah berlari menuju ke kamarnya. Diikuti oleh tatapan curiga dari wanita yang telah duduk dengan sikap anggun dan manis di atas sofa. Di mana dia?  Di kamarnya? Yang benar saja.

Kim Mingyu  menggeliat ketika Jiyeon tergopoh-gopoh masuk dan menghambur di atas tubuhnya.  Tangan itu langsung menangkap tubuh Noonanya.

”Mingyu-ah!”  ucap Jiyeon dengan menggoncang-goncang tubuh itu sekuat tenaga.

Noona!” jawab Mingyu malas. Postur tegapnya bangun dan menghadapi Jiyeon dengan raut bingung.

”Ibu Suri datang!” bisiknya. Mingyu mengernyit.

”Ibu Suri siapa?”

Mingyu bangkit dan menyeret langkahnya keluar kamar, bersama dengan Jiyeon yang mengamit lengannya.

Dari kejauhan wanita itu menatap mereka dengan sikap kaku, tentu saja dia terkejut. Bagaimana mungkin putranya itu keluar dari kamar wanita itu. Park Jiyeon. Apakah mereka?

”Sayangku, kau sudah pulang!”  sambut  Mingyu langsung menghambur ke pelukan eommanya. Layaknya ibu dan anak mereka saling melepas rindu. Manja sekali bocah ini. Pikir Jiyeon sambil berlari ke dapur dan rencananya ingin menyiapkan minuman hangat untuk mereka, tapi—

”Noona, kesinilah!”  Mingyu melambai manis. Jiyeon  termangu dengan panci buntut di tangan kanannya.

”Aku?”

”Ya.”

Jiyeon ragu, namun wanita itu tersenyum ke arahnya. Kelihatannya dia sangat bersahabat. Tidak ada petunjuk dia akan bersikap anarkhis karena telah meracuni putranya yang manja itu.  Meracuni apa? Memangnya dia sudah berbuat apa pada Mingyu. Meskipun dia ingin, tetap saja dia tidak tega, karena Mingyu masih di bawah umur.

Apakah ini semacam restu darinya.

Apakah ini—

Kenapa mendadak lututnya gemetar. Dia tidak berbuat apapun pada Mingyu. Namja itu malah menarik senyum polos yang jika tidak ada sosok anggun itu didekatnya,maka tangan Jiyeon sudah mencubit pipinya.

”Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga putraku.”  dia mengacak rambut putranya.

Jiyeon mengangguk.

”Nyonya silahkan duduk!”

Wanita itu duduk dan Mingyu menyandinginya, tapi mendadak dia bangkit dan duduk di sebelah Jiyeon dengan ekspresi bahagia.

”Dia meyulitkanmu?”  tanya wanita itu kemudian seperti memahami kelakuan putranya.

”Tidak, Nyonya. Dia sangat baik.” jawab Jiyeon dan Mingyu mengangguk untuk mendukung jawaban itu.

”Dia tidur di kamarmu?”  pertanyaan itu yang sudah di wanti-wanti di benak Jiyeon.

Mingyu dan Jiyeon saling menatap.

”Aku selalu berjalan ke kamarnya, Eomma. Dia selalu berusaha mengikatku di sini. Apa kau tidak melihat talinya.” Mingyu memperlihatkan tali itu pada Eommanya.

Dia hanya menggeleng lemah. ”Kalian tidur bersama.” ujarnya tenang dengan lirikan curiga pada Jiyeon.

”Agh Aniya…kami tidak tidur bersama. Kami hanya—”

Tangan Mingyu tertumpang dengan sengaja di lengan Jiyeon untuk menahan Noonanya itu agar tidak terlalu banyak bicara.

”Aku rasa, aku tidak bisa hidup tanpanya Eomma!”

Hening

Masih hening

Keheningan yang teramat panjang

Jiyeon merayapkan tangannya ke belakang Mingyu, menelusup ke bagian pinggang agak turun sedikit, dan—

Namja itu melirik dengan senyum kaku dan mata mendelik. Mencoba untuk melepaskan cubitan tangan Jiyeon dari pinggangnya dengan tubuh meliuk.

”Mingyu!”  panggil wanita itu pelan.

”Ya Sayangku!”  fokus Mingyu berganti

Eomma sengaja pulang secepat ini untuk menjemputmu. Maafkan Aku Jiyeon, karena selama di Amerika aku tidak tenang. Mingyu mempunyai penyakit semacam itu dan dia pasti menyusahkanmu.” jelas wanita itu

”Saya mengerti Nyonya.” Jiyeon bersikap objective kali ini. Dia tidak mungkin beradu argument dengan wanita ini.

Eomma, kau sudah berjanji akan membawaku ke Amerika jika aku lulus SMA.”  sikap protes itu membawa alis Ny. Kim terangkat.

”Lebih cepat lebih baik. Eomma akan membawamu ke sebuah tempat rehabilitasi untuk menangani penyakit tidur berjalanmu, Sayang.”

Mingyu menoleh dan memberikan tatapan dalam pada Jiyeon. Gadis itu mendadak bimbang. Wajah itu, dan semua tatapan itu akan berlalu darinya secepat ini.

”Di manapun aku tidur, aku selalu mencarinya eomma. Aku rasa Jiyeon Noona adalah satu-satunya obat penyembuhanku.”\

Si Brengsek ini! Umpat Jiyeon dalam hati.

Jiyeon menggeleng.  Tidak mempunyai kalimat apapun untuk dia ucapkan. Kenapa hatinya mendadak berat. Sesak. Mingyu akan pergi dari kehidupannya. Seharusnya  tidak seberat ini.

”Maafkan kami, tapi lebih baik secepatnya aku membawa Mingyu. Hari ini kami akan mengurus kepindahannya, agar besok kami bisa berangkat kembali ke Amerika.”

Mingyu menggenggam erat tangan Jiyeon dengan bibir terkatup rapat. Seandainya dia bukan bocah di bawa umur yang bisa menolak keingginann orang tuanya.

”Saya yakin di sana dia akan mendapatkan pengobatan yang lebih baik.” Jiyeon tersenyum tulus.

Sebentar kemudian, adegan sesudahnya seperti sebuah fragmen yang putus-putus. Dia melihat Mingyu berdiri, kemudian menatapnya hampa, melangkah ke arah tasnya dan semua tumpukan bukunya. Wanita itu merapikan semuanya, termasuk jaket dan sepatunya.

Tidak ada yang diucapkan Mingyu. Dia seperti dihipnotis untuk bungkam. Dari sudut matanya, Jiyeon mengikuti semua geraknya yang seolah berjalan lambat.  Baru saja kemarin dia menemukan Mingyu diantara hujan, kemudian beradu emosi dan kecemasan, lalu kini dia harus melihat Mingyu berdiri di depan pintu itu, menantinya berdiri dari sofa untuk berpamitan.

”Kami pergi sekarang!”  wanita itu membungkuk halus.

Tubuhnya terasa kian berat. Dia melangkah mendekati Mingyu dan menatapnya. Apakah ini akan menjadi saat terakhir baginya.  Kenapa harus secepat ini.

Noona, aku akan sangat merindukanmu.”  Bisik Mingyu, perlahan dia menarik Jiyeon masuk dalam pelukannya. Tubuh ini begitu hangat. Bukankah setiap malam dia merasakan kehangatan ini. Tanpa rasa canggung, Jiyeon menelusup masuk dalam dada bidang bocah ini.

”Kau harus sembuh, Mingyu!”

”Aku akan sembuh untukmu, Noona!”

”Bodoh! Kau harus sembuh untuk dirimu sendiri. Jangan pikirkan aku.”

”Mingyu, ayo kita berangkat, Sayang!”

Sepertinya memang ada sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan di dalam benak Jiyeon mengenai kisah ini. Mungkinkah dia terlalu berharap episode ini menjadi kisah drama yang mengharu biru, atau hanya sebuah kisah menye-menye yang akan segera berlalu dari hidupnya.

Dengan perlahan Mingyu melepaskan pelukannya. Demi Tuhan, jika menatap matanya, Jiyeon akan jatuh seketika itu juga.

”See you again Noona!”

Jiyeon mengangguk pasrah tanpa berani menatapnya. Hatinya lemah menghadapi perpisahan.

.

.

.

Sebuah pop-up dari messenger muncul di ponselnya, membuyarkan keseriusannya menatap burung logam raksasa mengambang di langit sana. Tatapannya memicing diantara sembab. Dia menangis, itu sudah pasti. Sesaat lalu Jiyeon menerima pesan dari Mingyu,

Noona, jika suatu hari nanti kau belum menikah, aku akan datang untuk menikahimu.

Bodoh!

Jiyeon tergugu dalam isak tangisnya. Cengeng sekali menghadapi pesan konyol semacam ini. Mungkin saja, kelak Mingyu akan kembali dengan membawa wanita bule yang akan sepadan dengan pesona dan kharismanya.

Dia akan bahagia dengan wanita yang usianya seimbang dengannya, bukannya wanita berumur dan galak sepertinya. Eoh, sepi!

Jiyeon menapak diantara lantai yang terasa sangat dingin. Dia masih bisa merasakan kehangatan Mingyu menemaninya di sini. Aneh, kenapa bukan Yixing , yang jelas-jelas tunangannya. Seharusnya hanya dia yang dia rindukan. Pernikahan. Dalam waktu dekat ini dia akan menikahi laki-laki tampan itu.

.

.

.

Beberapa minggu berlalu, dan Jiyeon mulai terbiasa lagi untuk sendiri. Dia tidak lagi mencari Mingyu di tempat tidurnya ketika pagi, atau merindukan kaki  itu  ketika menyenggol-nyenggol kakinya di bawah meja ketika makan, terlebih ketika tubuh itu mengurungnya ketika dia memeluknya.

Mungkin semua akan berjalan seperti biasanya.

Sore ini, Jiyeon pulang lebih awal. Dia sedikit merasa nyaman dengan suasana hatinya, namun ada seseorang yang berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah cemas. Jiyeon tidak mengenalnya. Dia menoleh kedatangan Jiyeon.

”Apakah kau Jiyeon?” tanyanya langsung.

Jiyeon mengangguk bingung. Kenapa wanita itu mengenalnya.

”Kau siapa? Kenapa mengenal namaku?”

”Namaku  Yumi.” jawabnya ragu. Matanya berkelana meneliti Jiyeon dari setiap sudut.

”Apa aku mengenalmu?”

”Tidak.” jawabnya

Jiyeon membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan wanita itu masuk. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu dengan situasinya.

”Duduklah! Kau pasti ingin mengatakan padaku mengenai suatu hal. Wajahmu begitu pucat. Apa kau sakit?” tanya Jiyeon sambil menuangkan air untuknya. Dia meminumnya sedikit dan menatap Jiyeon lagi.

”Jiyeon, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu.”

”Katakan saja!”  Jiyeon duduk di depannya.

Wanita ini cantik dengan rambut hitam yang tebal. Dia terkesan anggun dan diam. Jiyeon merasa was-was dengan kondisi ini.

”Aku mencintai Yixing.”  mendadak dia meneteskan air mata.

Jiyeon mengatupkan mulutnya dan mencoba untuk menebak-nebak apa yang terjadi. Dia mencintai Yixing. Apa maksudnya. Apakah mereka menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya.

Jiyeon tertawa getir.

”Aku sungguh mencintainya. Tolong batalkan pernikahanmu dengannya.”  pintanya dengan tangan gemetar

”Yumi, kenapa aku harus membatalkan pernikahanku dengannya. Aku mencintainya juga. Dia adalah tunanganku. Kami akan menikah bulan depan.”

Wanita itu semakin deras meneteskan air matanya.

”Aku mohon padamu demi anaknya yang berada dalam kandunganku!”

DEG

Jantungnya seakan berhenti. Wanita yang duduk di depannya ini hamil.

”Maafkan aku!” ujarnya

Jiyeon menggeleng tak percaya.  Benarkah apa yang telah didengarnya ini. Yixing, lak-laki yang diharapkannya selama ini bisa menghangatkan kehidupannya dan membuat rasa aman dan nyaman di hatinya itu telah mengkhianatinya.

Seharusnya Jiyeon tidak sekecewa ini, karena memang dia sudah mengerti dngan perangai calon suaminya itu. Yixing memang bukan type laki-laki yang bisa hidup tenang dengan satu wanita dalam hidupnya. Dia—

”Tolonglah, katakan padaku apa yang harus kulakukan Jiyeon ssi!”

”Kenapa kau bisa melakukan ini padaku? Kau pun wanita. Apa yang harus kau lakukan jika kau menjadi aku juga.”  Jiyeon berusaha untuk tegar meski di benaknya dia menyimpan rasa kasihan, karena wanita ini sungguh bodoh mau dihamili oleh Yixing.

Selama ini Jiyeon selalu berusaha setia. Mingyu baginya bukanlah perkara mudah. Selama menjalani hari-harinya bersama bocah itu, dia sudauh berusaha untuk tidak mengumbar hawa nafsunya. Menahan diri dan selalu bersikap positip meski di otaknya pikiran negatif itu selalu menggodanya.

Jiyeon bangga pada dirinya sendiri karena dia tidak mudah tergoda.

”Aku tahu… maafkan aku.”  Yumi menunduk gelisah.

”Pernikahanku dengan Yixing, bukanlah hal yang sederhana. Keluarga kami terlibat, dan mereka sudah melakukan persiapan ini sejak lama. Bahkan orangtua Yixing sendiri yang memilihkan gaun pengantinku. Apa kau tahu, apa artinya itu?”  jelas Jiyeon

Yumi mengangguk. Dia benar-benar depresi dengan air mata itu. Kasihan sekali. Seandainya saja Jiyeon bisa menentukan apa yang harus dilakukannya. Wanita ini harus menghadapinya bersama Yixing, di depan orang tua Yixing dan orangtua Jiyeon, jika memang dia ingin agar pernikahan ini tidak terjadi.

”Di mana dia?” tanya Jiyeon pada Yumi

”Siapa?”

”Yixing.”

”Dia tidak tahu kalau aku hamil. Dia masih berada di Busan, dan aku bernisiatip untuk datang memohon padamu untuk melepaskannya. ”

”Kalian hidup bersama di sana?” tanya Jiyeon dengan batin teriris

Dia mengangguk

”Aku sudah menduganya.”

”Aku ingin dia ke sini bersamamu. Ajaklah dia!”

”Apa kau akan membiarkan kami bersama?”

”Tergantung keputusan orang tuanya. Bukan aku yang merencanakan pernikahan untuk kami berdua. Kau seharusnya bisa berpikir dua kali untuk hamil darinya.”

”Aku mencintainya, dan aku tidak pernah berpikir dua kali untuk mengandung darah dagingnya. Aku rela melakukan apa saja untuknya.”

JLEB

Shit! Dia tidak harus mendengar omong kosong semacam ini. Mungkin baginya memang indah melakukan hal itu, tapi bagi Jiyeon, itu sebuah malapetaka.

Jantung Jiyeon seakan ditusuk belati. ada keinginan samar untuk menangis, tapi dia tidak sudi menangis untuk Yixing. Laki-laki itu sama sekali tidak pantas untu air mata sucinya.

.

.

.

”Kenapa kau membatalkan pernikahan ini, Jiyeon?”  Ny. Zhang, ibu mertuanya itu menatapnya tajam. ”Aku sudah melakukan banyak hal padamu, kau bahkan tidak membantuku sama sekali dengan alasan sibuk bekerja. Wanita macam apa kau ini memutuskan sepihak seperti ini. Apa kau pikir kami  bisa menerima keputusanmu ini. Seenaknya saja berbuat tidak adil pada anakku seperti ini.”

Jiyeon hanya tersenyum menghadapi sikap ibu mertuanya ini. Dia memang egois. Apa dia tidak tahu kalau putranya sendiri yang membuat masalah.

”Nyonya, aku sudah setia pada putramu. Aku sangat mengharapkan pernikahan ini terjadi, aku pun menginginkannya hidup bersamaku selama-lamanya.”

”Lalu kenapa kau melakukan ini? Apa kau mencintai laki-laki lain?”  wanita ini picik sekali tidak menelaah kelakukan putranya sendiri malah melemparkan kesalahan pada Jiyeon. Beruntung Jiyeon tidak  jadi masuk dalam keluarganya.

”Silahkan Anda tanya sendiri pada putra Anda. Beberapa hari lalu, saya di datangi oleh wanita yang mengaku telah dihamili oleh putra Anda, Nyonya.”   Jiyeon berdiri dan membungkuk untuk berpamitan.

Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya berkomitmen dengan janjinya untuk setia pada Yixing.

.

.

.

Yixing berdiri di hadapannya dengan tatapan sendu. Jiyeon muak melihatnya. Dia tidak seharusnya menghadapi semua ini dan diperlakukan tidak adil oleh mereka. Jiyeon sudah bersabar dengan kelakuan calon mertuanya yang semena-mena, lalu juga sikap Yixing yang seenaknya saja mengendalikan hidupnya.

”Kenapa kau harus datang lagi ke sini? Bukankan aku sudah mengirimkan padamu semua barang-barang milikmu ke orang tuamu. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Yixing. Kau bebas.”

Namja berwajah lembut itu mendekat dengan bibir terbuka. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan di tenggorokannya. Seharusnya dia tidak mengatakan apapun, selain maaf.

”Apa kau serius membatalkan pernikahan kita?”

Jiyeon menyeringai geli

”Kenapa masih bertanya padaku. Apa tidak lucu kedengarannya.”

”Yumi mendatangimu dan mengatakan dia hamil dariku, kan.”

”Kenyataannya kan begitu. Kenapa? Apa kau masih ingin menyangkalnya. Apa kau memang serendah ini sebagai laki-laki.”

Yixing meraih tangan Jiyeon, dan menariknya ke dalam pelukannya. Untuk sebentar Jiyeon masih masu berada di sana, hanya sekedar ingin mengucapan tubuh yang selama ini dicintainya. Mungkin, tapi sekarang tidak lagi.

”Aku tidak akan menyangkalnya. Aku minta maaf atas semua ini.”

Jiyeon menarik napasnya dalam-dalam dan melepaskan diri dari peluan Yixing.

”Kau harus menikahinya, dan perlakukan dia dengan baik dari kau memperlakukanku. Cukup aku saja yang kau anggap lemah, karena membiarkan semua ini terjadi.”

Yixing tak berkata-kata. Tidak perlu. Dia hanya harus segera pergi dari hadapan Jiyeon sebelum gadis itu menjambak rambutnya dan menendang kemaluannya.

.

.

.

 

Advertisements

24 Comments Add yours

  1. cassanova yoo says:

    Nappeun kau yixing 😡 tp bagus deh jadi ada kesempatan jiyi bersama mingyu nanti tp semoga mingyu jg gak di jodohkan ortunya , hwaaa jiy ngenes bgt sih km. Berusaha setia malah di khianati dengaan cara yg menyakitkan lagi hiks . Fighting 🙂

  2. Kim yeon says:

    Lana kemana saja kamu huhuhu,,
    Kenapa baru muncul,, tapi sekali muncul bawa banyak ff hahaha,,
    Akhirnya jiyeon gak jadi nikah dh sama yixing,,,
    Mingyu pergi keluar negeri ,,
    ninggalin jiyeon semoga aja dia gak lupakan jiyeon,,

  3. nissa says:

    Yixing sialan berani bgt dia ngikutin jiyeon.semoga mingyu nelayan janjinya buat nikahi Jiyeon.ditunggu kelanjutannya

  4. May andriani says:

    Iss yixing brengsk,, jdi selama ini yixing selingkuh dibelakang jiyeon smpai buat hamil tuh cewek,, apalagi ibunya yixing sllu nyalahin jiyeon ,, utung aja belum jadi mertua.. Wah mingyu ada ksempatan donk .. Moga mingyu cpet sembuh n cpet balik ke korea..

  5. anick says:

    jiyi ksepian deh gk ada cwoknya

  6. Hana park says:

    Yeee akhirnya eonnie update ff lagiiii seneng senengg owo akhirnya ketahuan juga kelakuan yixing gimana!! Udahh jiyeon sama mingming aja lahh

  7. Sookyung says:

    Mingyu palli palli comeback pada noona’mu, noona’mu (jiyeon) sudah dikhianati oleh tunangannya, palli kembali dan tepati janjimu menikahi jiyeon

  8. Hmmm eomma mingyu nmpk bgt gk suka ank na dkt dg jiyi..
    Sbnrnya bgs jg sih ide pengobatan tu.. Tp dg cara mendadak d jmpt..y pantes lh jiyi nangis..
    Tu kn ketahuan jg.. Yixing gk setia..
    Untung terungkap sblm nkh

  9. anotherworld says:

    sukaaa banget dengan pemakaian kata-kata nya.. dalem dan ngena bgt hehe
    Yixing ketahuan selingkuh sampe bikin hamil..ommoo
    nanti pasti nyesel udah nyakitin hati jiyeon.
    Tp seneng jiyeon ga jd nikah ama yixing haha
    Mingyu dibawa pergi eomma nya,
    Gpp asal nanti clo balik mingyu nikah sama jiyeon,
    Dan bukannya balik bawa yeoja lain. hahaha

  10. indaah says:

    yixing aiss gk setia .. mingyu drama bgt pisah nya haha
    untung2 mingyu balik dr luar bner2 nikahin jiyeon
    jiyeon dikhianati , tp untung bgt blum nikah ketahuan belang nya yixing .
    next lan fighting

  11. Bb says:

    Hahh lega akhirnya gak jdi nikah, mingyu nnti comeback ke korea dah makin mateng deh haha

  12. RegitaOhJiSe says:

    Tuh kan sudah ku duga YIXING bejaddd , namanya juga laki2 klo jauh dari tunangan atau bini pasti nyari perempuan lain disana anjayy emosilah ama Yixing! Ibunya juga sama nyebelinnya, dan sekarang tau rasa tuh anaknya yg bikin masalah.

    Sedih liat Mingyu myomes pergii, mimpi apa Jiyi tadi, barusan aja tidur bareng ehh malah Mingyu dijemput sang eomma untuk pergi jauh. Cewe memang bisa nahan nafsu dari pada cowo, Keren emang Jiyi, salutlah bisa nahan diri, iya namanya juga setan yeth selalu menggangu manusia apalagi Mingyu mengoda iman, uyuhan weh Jiyi tahan wkwkw. Mingyu memang romantis banget, padahal dia udah kode ke eomma yg selalu nyaman deket Jiyi, semoga eommanya peka.

    Kim Mingyu cepatlah kembali!!

  13. Yixing kok kelakuanya asu banget, kagak kayak mukannya, berharap mingyu datang kayak pahlawan disaat galau begini

  14. diah.dimin says:

    Ommo ji kenapa icing di lepas.. Cieee mao nunggu janji minggyu ya.. Huhuy.. Kkk next3 ah

  15. rasma says:

    sukur dah yixing ketahuan belang nya juga, tinggal jiyeon nunggu janji mingyu doang nih .. emang jodoh ga kemana…

  16. putri JH says:

    yuhhhuuuuu.., sudah di gariskan jiyeon memang untuk mingyu… mingyu gk sembuh pun tidak apa apa.. hahaha..

  17. mega says:

    Teganya kau yixing selingķuhin jiyi..tpi ada untungnya jua jdi jiyi bsa ma mingyu senangnya..tpi tetap aja kesal jiyi udha setia ehhh malah di selingkuhin..yixing nappeun namja

  18. kwonjiyeon says:

    Ya ampun apa jiyi bs sesadis itu…mmmh kynya bs kalo ampe d selingkuhin ky gitu kkkkk

  19. kriswulan says:

    Yixing Jahat bgt ngelakuin hal itu ke jiyi 😡
    Jiyi kuat weh, betul bgt tuh gx usah ngeluarin air mata nya buat nangisin si Yixing
    Minggu kapan kau kembali? Noona mu udah sendiri sekarang

  20. awwww…. yixing emg kalah pesona ama mingyu mah hahahha brondong emang manis gkkgkgkgkgk

  21. sami says:

    Kurang ajar tuh yixing udah punya tunangan masih aja ngelaba,untung aja Ketauan sebelum mereka marriage.
    Tapi tenang aja ji msh ada noh berondong kkkkk

  22. hidra says:

    Yixing sebenernya ga terlalu sering muncul jadi agak sangsi klo di sebut cinta segitiga di Once upon A time ini, tapi sekali nya masuk tepat banget moment nya -_- yg aku rasain disini sebenernya jiyeon ga terima aja dia dibohongin bukan karena dia punya cinta buat yixing ya walaupun dulu pernah ada.

    1. mochaccino says:

      di sini aku makasih banget karena ada yang bisa menelaah sampai seperti ini, hm, ya di sini emang aku sebutin, bahwa Jiyeon memang sudah kehilangan rasa cinta. dia bertahan untuk tetap menjadi kekasih Yixing, karena dia merasa bahwa dia tidak punya hal lain lagi yang harus dia butuhkan, selain seseorang yang bisa menjadi pendampingnya. Jyeon sndiri udah tahu kalau Yixing juga pernah melakukan selingkuh dengan dalih untuk menunjang karirnya, kan. tapi dengan semua penjelasan Yixing, dia seakan tidak ambil pusing, yg penting Yixing masih bersedia bersamanya. seperti burung liar, yang selalu terbang ke manapun, tapi pada akhirnya dia akan kembali ke sarangnya. Jiyeon. di sisi lain Jiyeon sekarat, dia tidak berkutik, karena mereka memang akan menikah, dan keluarga pun sudah mendukung, jd seoalh-olah dia memang harus menghadapi semua ini sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Mingyu, yang notabene jauh dari kriteria yang dia mau. cowok ini tidak masuk dalam perhitungannya, sama sekali tidak. tapi ga tau kenapa dengan semua kekuarangan dan kelebihannya yang begitu apa adanya itu, Jiyeon merasa Mingyu telah mencuri hatinya. hanya saja sekali lagi dia tertumbuk pada sebauh kenyataan, dia akan menikah dan Mingyu pun masih sekolah, dia juga tidak harus memilih Mingyu dan berusaha menahan diri spaya tidak berebihan dengan apa yang dirasakannya. sebagai wanita yg lebih tua dan dewasa, dia bertindak semestinya.
      itu lah….seneng bisa mengulas bareng, dari kemaren kemaren pasa aku baca semua komentarmu itu selalu bikin aku penasaran, dan baru sempat mbales yg ini. makasih banyak, ya.”

  23. anii says:

    Sabar yaa jiyeon, bejat.a yixing wekk ehehehh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s