STAY 1st


photo edit by alana
photo edit by alana

Title | STAY

Maincast | Wu Yifan feat Oh Sehun

Genre | Romance

Length | Chapter

Rated | PG

Disclaimer  | I Own  Nothing But The Story

boy x boy

ga suka jangan dibaca, gampang toh!

.

.

.

Aku menatapnya, pagi ini. Dia sungguh mempesona. Wajahnya memancarkan kesegaran. Dan tentu saja dia tersenyum, lalu mengunyah sarapannya dengan baik. Aku tidak berharap dia bicara banyak, atau aku tidak akan sanggub betkata-kata untuk membalas perkataannya karena nafasku terputus-putus.

Oh Tuhan , aku membutuhkan oksigen lebih banyak kali ini. Kenapa dia bisa menarik semua jatah oksigenku, …. berikut hatiku.

Aku sungguh tak berdaya. Wu Yifan… kau sungguh serakah!

Makiku dalm hati. Namun aku tidak bersungguh-sungguh.

Kami duduk berhadapan, berseberangan meja.

Dia menuangkan air untukku. Menatanya tepat di depanku.  Meneliti mataku, lalu tersenyum.

Jangan membalas senyumnya !  Aku menegaskan di dalam otakku. Aku sungguh tidak ingin dia mengira aku menyukainya.

Padahal aku tergila-gila padanya.

Apa yang kulihat membuatku sedikit menyeringai, menyelipkan senyumku di dalam kantong seragamku.

Apa yang sudah dilakukannya ?

Dia seperti melumat semua isi mulutku. Lidahnya yang bermain di celah-celah bibirnya itu sungguh keparat, dia bergerak indah dan menggodaku. Juga tatap matanya yang sesekali memperhatikan caraku menyantap makananku, seperti sedang menelanjangiku hidup-hidup.

Kutundukkan semua egoku di hadapannya demi sebuah pesona pagi ini yang luar biasa. Entah kenapa aku hanya menyembunyikan semua ini di balik wajah kakuku.

“Sehun, sudah satu minggu ini aku berusaha ramah padamu, namun kau sepertinya belum bisa menerima kehadiranku.”  ujarnya lirih.

Aku berdehem sambil meneguk air dalam gelasku.

Dia bicara apa— kuabaikan.

Apa karena aku mendiamkannya, dia mengira aku tidak menyukainya.

Demi Tuhan, sejak pertama kali aku melihatnya, aku sudah menyukainya. Mungkin juga ini perasaan yang tak layak.

Kuseka mulutku dengan tissue. Menyembunyikan sedikit senyum yang tadi hampir merekah. Dia tidak boleh melihat senyumku

Lalu aku berdiri dan menatap wanita yang melangkah ke arahnya. Dia mendekapnya dan memberikan kecupan di pipinya. Dan dia membalas dengan tatapan mesra. Yifan membalasnya.

Aku berharap tidak melihatnya.

Sayangya aku akan terus melihatnya. Bukan hanya untuk pagi ini saja, tapi mungkn sepanjang hari, dan sepanjang tahun…selama sisa umurku aku akan terus melihat hal itu.

Kutinggalkan dia dengan semua rasa sesak yang menyelubungi dadaku. Aku tidak mungkin merebut suami dari ibuku.

.


STAY

Wu Yifan feat Oh Sehun


.

Hari minggu yang cerah. Tidak ada yang kulakukan. Berbaring di ranjangku dan membaca komik yang kupinjam dari Kai kemarin siang. Di luar Yifan sedang sibuk. Mungkin kelihatannya agak aneh, karena sejak tadi aku diam-diam mengintipnya dari kaca jendela di lantai dua ini. Ayah tiriku sedang mengelap jeepnya yang terlihat keren. Kularikan  jemariku untuk menyingkap poni rambut yang jatuh ke dahiku.

Eomma sungguh mahir memilih calon suami seperti Yifan. Dia sangat keren. Posturnya tinggi, dan tegap. Kenapa ada manusia seperti itu mau menikahi janda beranak satu seperti eommaku. Dia pasti gembel yang berharap mendapatkan sedikit keberuntungan dari kekayaan eommaku.

Benar eomma dulu memang menikah muda. Di usia 17 tahun dia sudah mengandung aku, tapi kemudian dia bercerai degan ayahku hanya karena perbedaan prinsip. Saat itu aku masih kecil jadi tidak terlalu paham urusan manusia dewasa.

“Kau sedang apa ?”  Wanita tercantikku muncul begitu saja. Membuatku gugub. .

“Bangunlah. Eomma hari ini akan ke rumah bibimu. Apa kau mau ikut ?” tanyanya sambil meletakkan baju bersih yang terlipat rapi di atas meja. Dia selalu melakukannya sendiri. Mengurus rumah dan memperhatikan kebutuhanku.  Di dalam hati ini ada rasa berdosa jika harus merasakan betapa hebatnya aku menyukai Yifan.

“Aku capek Eomma.”  jawabkusedikit malas.

“Kalau begitu kau jaga rumah.”

Aku tidak menjawab. Apakah wanita ini sudah melupakan Appa kandungkku. Aku tidak menyalahkannya karena dia menikah lagi, hanya saja apakah dia merasa bahagia dengan laki-laki ini.

“Jangan terlalu lama Eomma.”

“Kenapa? kau biasanya tidak pernah protes kalau eomma pergi lama.”

Aku tersenyum.

“Eomma, aku lapar.”  Entah kenapa aku begitu manja seperti ini. Aku sangat menyayangi eommaku, dan berharap dia tidak meninggalkan aku. Ya, terkadang aku merasa sangat takut dia akan pergi dengan laki-laki yang dinikahinya. Seperti seorang Yifan itu. Dia adalah seorang blasteran yang mempunyai prospek menjauhkan eomma dariku.

Aku masih memeluk eommaku.

Eomma sudah memasak untukmu, Hun-ah.”

“Eomma~ ”  Kugesekkan hidung di pipi wanita cantik ini.

“Aigoo, nae Hunyi~ keunde? Eomma sudah ditunggu Appa tirimu di luar.”  Aku mulai merengut kesal sambil menghentakkan kaki, kemudian berlalu meninggalkan kamar.

”Sehun, eomma janji akan pulang cepat. “

“Kenapa eomma menikahi dia ?”  aku berhenti di tangga, ketika mendadak Yifan muncul di muka pintu, sekilas dia menangkap kesan sinis dari wajahku. Mulutnya masih terbuka dengan mimik bodoh, tapi kemudian tersenyum datar sambil  eommaku.

Yifan, kajja !”  Eomma mengalung di lengan kekarnya  dan berlalu.

Apakah dia tersinggung.

Bagaimana jika dia memang tersinggung. Hancurlah aku, karena kemungkinan dia akan memberikan banyak kuliah padaku nanti malam. Aku benci dinasehati, terlebih oleh orang yang ingin kubenci.

Demi Tuhan, aku ingin membencinya, tapi tidak pernah bisa.

.

.

.

Author pov

Yifan terdiam sepanjang perjalanan. Di sisinya, Park So Ra terlihat serba salah menghadapi suaminya.

“Maafkan Sehun!”

Laki-laki tampan itu menarik napas panjang dan menyimpannya sebentar di dada. Setelah dia sedikit pengapp, barulah dia melepaskannya.

“Dia tidak menyukaiku karena mungkin aku dianggab telah merebut kasih sayangmu darinya. “

“Mungkin saja. Selama ini perhatianku memang hanya untuknya. “

“Kurasa begitu.”  jawab Yifan dengan senyuman. Dia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal itu karena mungkin hal itu hanya sementara. Lambat laun Sehun pasti akan luluh.

So Ra mengangguk. Dia sedikit merasa lega jika suami yang lebih muda lima tahun darinya itu berpikir seperti itu.

.

.

.

Sekitar jam tujuh malam, Baekhyun baru mengantarku pulang. Eomma sudah berada di rumah, dan tidak kulihat bayangan manusia jangkung itu di sekitar rumah. Jeepnya terparkir dengan angkernya di garasi. Aku turun dari motor, dan mendadak dia muncul di muka pintu sambil memperhatikan penampilanku.

Kami bertemu tatap untuk dua detik lamanya. Aku tidak terlalu menghitungnya, mungkin lebih atau mungkin waktu ini terhenti saat aku menatapnya. Darahku berdesir, aku bisa merasakan getarannya begitu menghangatkan tubuhku.

“Apa dia ayah tirimu?” tanya BAekhyun saat menerima helm dariku.

“Hm.”  sahutku

“Lain kali saja aku menyapanya. Sekarang aku buru-buru, ditunggu eommaku. Tidak apa-apa,kan ?”  Baekhyun menepuk pundakku

“Tidak masalah!”

“Bye!”  dia melambai sambil tersenyum.

“Bye !” balasku

Lalu Baekhyun meninggalkan halaman rumah dengan raungan motornya yang memekakkan kuping semua penghuni komplek perumahan.

“Siapa dia ?” tanya Yifan  saat mencegatku

“Teman.” jawabku singkat.

Aku berlari menaiki tangga dengan setengah berlari tanpa kuperdulikan dia yang mengikuti langkahku.

”Sehun, aku ingin bicara!”  Yifan menarik lenganku, terpaksa langkahku terhenti begitu saja. Apakah karena urusan kemarin.

Kami saling beradu tatapan. Terus terang ini bukan perkara mudah, di saat aku sedang berusaha untuk melenyapkan perasaan ini, dia justru memberikan intimidasi sedekat ini. Hentikan itu, Tn. Penggoda! Makiku kesal.

“Di mana Eomma ?” tanyaku

“E-hm, Sora sedang mandi.”

”Kau mau bicara apa?”

Kami berdiri berhadapan. Punggungnya terlempar pelan pada dinding, sementara aku berusaha bertarung dengan degup jantungku dengan mencengkram pembatas tangga yang terasa dingin di telapakku.

Semoga dia tidak menasehatiku mengenai masalah kemarin.

”Jam berapa ini kau baru pulang?”

”Jam tujuh.”

”Seharusnya kau sudah berada di rumah saat kami pulang bekerja.”

Aku mendengus sinis. Membuang pandangan dan mencandai sikap seriusnya dengan cengiran.

”Back off! Do your own!” gumamku sambil berlalu.

“Sehun!”  Yifan memanggil,

“Yifan!”

Eomma memanggilnya ganti

Sepertinya dia tidak jadi mengejarku. Langkahku terhenti untuk mengintip apa yang akan dilakukan Eomma padanya. Yifan menuruni tangga untuk menemuinya. Ini adalah kali pertama aku langsung bersitegang dengan ayah tiriku. Hatiku berdebar hebat. Entahlah, aku justru merasa ini sangat luar biasa.

Dengan bersikap seperti ini, aku memancing perhatiannya. But—

Wajah eommaku terlihat muram. Wanita cantikku itu pasti sangat menyayangkan sikapku yang kasar, terlebih kata-kataku sungguh tidak  terpuji.

Maafkan aku, Eomma!

.

.

.

Author Pov,

Yifan mengambil rokoknya dan duduk di depan rumah sambil mengutuki dirinya. Dia merasa serba salah pada Sehun. Anak tirinya itu sangat keras dan sulit untuk dimengerti. Berkali-kali dia berusaha untuk mengambil hatinya, tetap saja dia tidak bisa menerimanya.

Entahlah,

Ada apa dengan semua sikap sinisnya itu, juga tatapan mata yang seharusnya tidak seperti itu. Sangat berbeda dengan prilakunya. Yifan tidak bodoh. Dia bisa melihat bahwa bahasa tubuh dan kata-kata kasar itu bertentangan.

Dia menyeringai, karena bisa berpikir seperti ini. Sehun adalah tanggung jawabnya. Dia adalah putra dari istrinya, dan dia sekarang telah menjadi sosok seorang ayah untuk laki-laki itu.   Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dia akan menjadi seorang ayah dari bocah yang—

Yifan menyeringai hampa.

Asap mengepul tinggi dari bibirnya.

Bagaimana mungkin dia, yang seorang petualang cinta kini bisa menikah dengan seorag janda yang mempunyai anak laki-laki tampan seperti Sehun. So Ra adalah seorang agent asuransi.

Yifan dan Sora tidak sengaja bertemu ketika Yifan mengalami kecelakaan. Sora menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Saat itu Yifan sangat terpukau dengan keanggunan Sora. Wanita itu meskipun sudah berusia 34 tahun, tapi tetap terlihat cantik. Dia sangat bugar dan berseri-seri.

Yifan akhirnya memutuskan untuk berkencan dengan Sora. Lambat laun mereka semakin dekat. Sora menginginkan Yifan menikahinya, dan Yeah….seperti itulah akhirnya. Mereka menikah dan betapa terkejutnya Yifan ketika mengetahui Sora mempunyai seorang anak yang sudah menginjak remaja. Sora tidak pernah mengatakan kalau dia punya anak yang sudah sebesar itu.

Juga setampan dan seindah itu. Ini bukan hal aneh jika dia merasa Sehun begitu tampan. Dia memang seperti itu.

Kulitnya putih dan lembut, sangat menarik dan penuh pesona.

Seharusnya Yifan tidak memikirkan hal terkutuk ini, karena sesungguhnya dia sudah berusaha keras untuk meninggalkan masa lalunya. Dia sudah berjanji pada mendiang ibunya, kalau dia akan menikah dengan wanita dan mempunyai keturuan hingga dinasti keluarga Wu akan tetap berjalan.

Di hari pertama pernikahan itu, Yifan dihantui oleh tatapan sadis seorang Sehun. Kesan pertama itulah yang membuat Yifan merasa bahwa Sehun tidak menyukai kehadirannya. Mungkin itulah yang membuat hatinya kini merasa terjebak.

.

.

.

“Kenapa dia tidak makan ?”   Yifan tak lepas menatap anak-anak tangga di depannya. Apakah dia masih marah hanya karena teguran itu. Bocah jaman sekarang sulit dinasehati.  Dia menggeleng.

“Dia sudah makan dengan Baekhyun tadi.”   Sora ikut melirik dengan rasa prihatin.

Suasana terasa berbeda saat Sehun tidak berada diantara mereka.   Yifan merasa dirinya ditolak mentah-mentah sebagai orang yang layaknya harus dihormati.

Bagaimana caranya mengambil hatinya, sebagai anak. Yifan tidak pernah berpikir bahwa pernikahannya dengan Sora untuk sementara. Di hatinya dia sudah begitu bertekat untuk membuat mendiang ibunya bangga akan perubahan hidupnya.

”Jangan terlalu dipikirkan!”   tepuk Sora di lengannya

”Tidak.”

”Kalian pasti bisa menemukan momen yang baik agar bisa lebih saling memahami.”

Dalam hati, Yifan pun merasa geli dengan saran istrinya sendiri. Secara tidak langsung dia memberi restu baginya untuk bisa lebih dekat dengan Sehun.

”Yeah, tentu saja.”  mungkin bukan seperti yang dia pikirkan.

.

.

.

“Shit!  what the heel is that!”

Sehun masih terjaga dengan segala kepenatannya. Malam ini terasa lebih pengap dari biasanya,ketika dia harus mendengar suara gaduh dari kamar eommanya.

Mereka melakukannya hampir setiap hari. Apakah Yifan memang sehebat itu, atau memang dia penuh dengan nafsu.

Pasti eommanya merasa begitu puas dengan gaya percintaan ayah tirinya itu. Sekali lagi Sehun memejamkan matanya, kemudian berdiri. Mengambil jaketnya dan berlari menuruni tangga tanpa suara.

”Jongin, apa kau bisa menjemputku?”

”Di mana?”

”Di depan rumah, sekarang juga!”

”Why?”

”Jangan banyak tanya!” gertaknya kasar.

Beberapa menit kemudian suara bising motor menghampirinya. Jongin tidak sendiri, bersamanya ada Baekhyun dan Chanyeol. Mereka selama ini selalu bersama. Tapi bukan kebiasan Sehun untuk keluar malam dengan mereka, ini hanya karena keadaan darurat yang sedang terjadi di dalam rumahnya.

Yifan mengintip dari jendela kamarnya. Bocah itu pergi.

”Sehun?”  Sora melepas lelahnya, sementara Yifan berjalan keluar kamar dengan tubuh setengah telanjangnya. Malam ini adalah malam yang kesekian dia membuat Sehun geram padanya.

”Woooaahhh!”   teriaknya dengan rasa sesak. Tenggorokannya terasa kering setelah beberapa kali mendesah bersama Sora. Sehun pasti mendengarnya dengan jelas. Mungkin karena itu dia keluar meninggalkan rumah ini.

”Yeobo!”  tangan Sora mengusap punggungnya. Mereka saling menatap ketika pria jangkung ini sedang menenggak beer dari kalengnya.

”Apa kau ingin aku mencarinya?”

”Ya. Dia tidak biasa keluar malam. Dia tidak akan tahan berada di udara dingin. Asma. Sehun mempunyai asma.”  wajah Sora khawatir.

”Aku akan mencarinya.”  Yifan berjalan kembali ke kamar kemudian keluar dengan pakaian lengkap.

”Kuncilah pintu! Aku akan kembali secepatnya.”

Sora mengangguk.

.

.

.

Sebenarnya Yifan tidak tahu di mana dia harus mencari Sehun. Sepanjang jalan dia telusuri dengan jeep hitamnya. Setiap ada kerumunan manusia, dia dekati dan teliti.

Sudah hampir delapan blok dia kelilingi, tapi belum terlihat ada penampakan Sehun dan teman-temannya yang ditangkap matanya.

”Sayang, dia biasa berkumpul di dekat danau. Kau tahu,kan di sana ada beberapa kios penjual sate ikan, dan minuman hangat. Mereka biasa di sana .”  jelas Sora.

Setelah menyimpan kembali ponselnya dia segera melarikan laju jeepnya ke arah yang ditunjukkan Sora padanya. Benar juga, baru di persimpangan, dia sudah bisa melihat beberapa penjual makanan dengan mobil box itu dipenuhi oleh beberapa orang yang sedang menikmati suasana malam di pinggir danau buatan ini.

Sehun duduk di sebelah Jongin. Sejak tadi dia menyimpan rasa kesalnya namun harus terjebak karena tak bisa mengumbarnya pada teman-temannya. Dia tahu tentang kode etik itu. Mana mungkin dia menceritakan manusia yang telah menjadi anggota keluarganya itu pada orang lain. Sama saja mencooreng arang di muka sendiri.

Meskipun saat ini Sehun begitu tertekan tinggal bersama eommanya, tetap saja dia tidak bisa menceritakan apapun walau sekedar ingin meringankan beban hatinya.

”Minumlah! Tubuhmu terasa dingin. Kau harus minum supaya lebih hangat.” Jongin menyenggol.

”Apa karena laki-laki itu, kau jadi begini? Biasanya kau tidak pernah keluar selarut ini. Penyakitmu bisa kambuh, Hun!”  celetuk Baekhyun

Jongin mengambil dagu Sehun dan mengamati raut muka namja yang masih terlihat kecut dengan mulut mengerucut itu. Benar dia pucat.

”Kau sakit?”

Sehun menggeleng

”Siapa yang sudah berani mengganggumu?”  nadanya menginterogasi.

Sehun melirik iris gelap itu.

”Tidak ada.”  sahutnya malas. Dengan cepat Jongin merengkuh bahunya dan menggesekkan keningnya pada pipi Sehun.

”Kau tahu, hanya aku yang akan memperdulikanmu.”  tegasnya

”I know!”

”Dia sedang tidak akur dengan ayah tirinya.” ujar Chanyeol sambil menyikat satenya. Dia hampir menghabiskan porsi keduanya.

”Apa dia membuatmu susah?”  tanya Jongin lagi. Kali ini level nadanya lebih tinggi.

Lagi-lagi Sehun menggeleng. ”I’m fine guys!”  ujarnya sambil meneguk botol sojunya, tapi mendadak sebuah tangan menyudahi aksinya. Sejenak Sehun mendiamkan botol itu berpindah tangan. Dia hanya mampu memperhatikan mata yang tengah menyorot ke arahnya.

Baekhyun langsung membungkuk untuk memberi salam pada Yifan, sementara yang lain hanya bingung, bahkan Jongin cenderung terbawa emosi.

”Ajussi, kau bisa memesan di sana, jangan mengganggu pacarku!”

Sehun yang mendengarnya segera menyekap mulut Jongin yang kelewatan. Bisa-bisanya dia menyebut dirinya sebagai pacarnya.

”Sehun, kita pulang!” ajak Yifan pelan tanpa memperdulikan omongan Jongin. Dia cemas dengan raut pucat Sehun. Bibirnya mulai membiru. Demi Tuhan dia menjadi lebih khawatir jika penyakit asma Sehun kambuh di tempat ini.

Sehun menolak untuk pergi. Dia seperti dipaku di tempat duduknya.

”Dia tidak mau pulang bersamamu. Biarkan aku yang mengantarnya.” Jongin sudah melunak meski dia masih terlihat garang. Sehun adalah pria yang disukainya.

”Sehun, apa kau mendengarkan aku?”  tegur Yifan lagi, kali ini dia memegang lengan bocah tampan ini dengan sedikit memaksa. Sehun menepiskannya, tapi dia berdiri. Mengambil sikap menghadapinya, meski hatinya gemetar. Dia tidak sanggup beradu getaran dengan sosok di depannya ini.

Dia berjalan sempoyongan meninggalkan Jongin dan lainnya. Yifan menyusul di belakangnya, menjaga langkahnya dengan tubuhnya. Sehun mungkin sedikit mabuk.

”HUN!”  panggil Jongin.

Bukan Sehun yang menoleh, melainkan Yifan. Dia memberikan tatapan bengisnya pada laki-laki itu. Seperti ada sebuah isyarat bahwa dia adalah manusia yang akan berada dalam kehidupan Sehun selanjutnya. Yifan tidak suka. Benar-benar tidak suka.

BRAKH

Sehun membanting pintu mobilnya dan duduk dengan posisi malas. Dia memperhatikan bayangan Yifan telah berada di sebelahnya.

”Lain kali jangan menggangguku kalau aku sedang bersama temanku!”  Sehun berpaling dan meringkuk karena hawa dingin. Dia mulai kesulitan bernapas. Sesak di dadanya merambat hingga membuat kepalanya terasa berat.

”Sehun, kau kenapa?”  tangan Yifan mengusap punggung yang kaku itu. Dia merasa Sehun sedang dalam kesulitan.

”Jangan menyentuhku, Brengsek!”  makinya dingin. Dia menepiskan tangan itu dan menolak perhatian Yifan yang terasa aneh baginya.

Yifan cukup mengangguk dan bersabar dengan kondisi ini. Dibiarkan Sehun yang tengah berjuang untuk melegakan napasnya. Dia tahu itu tidak akan mungkin sebelum Sehun mendapatkan obatnya.  Dalam perjalanan menuju rumahnya, Sehun terlihat semakin payah bernapas. Dia mendorong sandaran jok agar terjengkang ke belakang. Kemudian dengan usahanya, Sehun mengangkat tangannya ke atas, dan terpejam.

Dia harus rileks, jangan panik dan jangan gugup, karena semua itu akan membuatnya semakin terlihat  memalukan di depan pria ini. Semoga dia tidak menertawai kondisi ini.

Mobil mendadak berhenti.

Untuk beberapa saat Sehun tidak merespon keheningan ini, jujur dia sedang tidak perduli pada apapun kecuali pernapasannya yang sedang tersendat hebat.

”Hufff!” dia mengusap dadanya, tapi kemudian ada tangan lain yang menumpang di tangannya, bergerak bersama untuk mengusap dada sesaknya. Sehun membuka matanya, dan mendapati tatapan Yifan tengah mengarah padanya, sangat dekat bahkan dia bisa merasakan kehangatan hembusan napas itu di wajahnya.

Deg

Pertemuan dengan iris pekat itu, membuatnya semakin gugup. Debarannya mempercepat jantungnya memompa darah lebih banyak, mengalir di sekujur tubuhnya, tapi Sehun masih menolak untuk bersikap baik padanya.

”Are you okay?”

 

”I said, don’t touch me!”  lirihnya susah payah.

Yifan mendengus pelan, sambil mengangkat tangannya dari tangan Sehun.

“Kenapa kau membenciku sedalam ini?”

Bibirnya bergerak dengan lambat di depannya. Sehun terpaku, di tengah-tengah kesulitannya bernapas. Dia terpejam

”Sehun!”

Sehun tidak menjawab dan terpejam kembali, lalu semuanya menjadi gelap.

Yifan segera melarikan Sehun ke rumah sakit. Dia khawatir, Sora akan memarahinya jika membiarkan sesuatu terjadi pada putra kesayangannya ini.

.

.

.

 

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. kwonjiyeon says:

    Oooooh ya ampun terjebk dlm cinta terlarng dngn ayah tiri jdi ingat ff kmu jiyidonghae

    1. mochaccino says:

      emang ini idenya dari sana, ini kan awalannya Lover itu, judulnya forbidden love, tapi di ff stay ini aku bikin versi beda.

      1. kwonjiyeon says:

        Akhirnya kmu……..

      2. mochaccino says:

        wkwkwk…iya..aku ga jelas inih

  2. kwonjiyeon says:

    Tdinya aku kuatir..kuatir kmu bnr menghilng

    1. mochaccino says:

      terharu aq hik hik aq lagi menghibur diri menulis yaoi dulu. di sana ada penyegaran pikiran, dan readerku juga mulai banyak. antusianisme mereka mulai bikin aku semangat. aku masih galau di sini.

  3. kwonjiyeon says:

    Tdinya aku kuatir…kuatir kmu bner2 menghilng
    Minta fw ff baru yg d protec

  4. kwonjiyeon says:

    Tdinya aku kuatir…kuatir kmu bner2 menghilng
    Minta fw ff baru yg d protec lewat fb aja

    1. mochaccino says:

      iyeh aku baru buka lafi ini wp, ntar ane kasih di fb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s