BIG GIRL [Part-4]


big girll

BIG GIRL  4

By. Mochaccino

Main Cast || Park Chanyeol and Park Jiyeon

Support Cast ||  EXO member

Genre || Teen-schoollife/ Angst / Absurd

Length ||  Drable – Series

Rated ||  PG – 15

Disclaimer ||  I own Nothing but story

Ndak suka, jangan baca! Gampang toh!

.

.

Sejak kami tahu kalau kami bersaudara, kami menjadi jarang bicara satu sama lain. Kecewa mendalam yang aku rasakan. Mungkin itu juga yang dirasakan Jiyeon. Haruskah kami kembar—

Ini menyedihkan.

Tapi bagiku harapan ini kenapa tidak pernah mati. Lupakan kalau waktu itu aku pernah mengatakan aku hancur berantakan, duniaku buram, atau semua konsentrariku harus punah ketika aku berfantasi mengenai tubuh indahnya yang membuatku harus melepas klimaksku di kamar mandi— berkali-kali.

Bohong, aku tidak pernah menghentikan semua itu, karena nyatanya jauh di dalam dasar hatiku, aku tidak perduli.  Aku tetap melakukan hal bodoh itu, sampai sekarang.

Ya, sekarang.

Bahkan sejak tadi pintu itu masih digedor-gedor dari luar karena aku sedang memfokuskan diri hampir…

“Arrgh! Jiji….” cairanku melesat ke dinding, Ough Sialan! lemas sudah…

“Samchon! Kita terlambat ke sekolah!” teriaknya.

Bodoh, sudah tahu kalau kami saudara kembar, masih saja meneriakiku Samchon.

Kubuka pintu dengan sedikit kesal.

“Kenapa lama sekali?”  makinya sambil menyingkirkan badanku yang menghalanginya.

“Jiyeon, jangan memanggilku Samchon lagi, Ara!”

BRAKH

Dia malah membanting pintu. Kelakuan!

 Tidak berapa lama kemudian, kami sudah duduk  menghadapi meja makan. Eomma kami yang cantik itu sudah menyediakan sarapan yang enak, tapi tetap saja menggunakan sayuran yang sejak tadi kami sudah singkir-singkirkan.

Kutoleh sekitarku untuk mencari anjing kesayanganku, dan Eomma melirik.

“Aku ikat di luar.”  Ujarnya seolah-olah mengerti apa yang aku cari. Cengiranku hanya ditanggapi seringaian.  Ketahuan juga— batinku resah.

“Chan, kami ada urusan dan akan pergi sekitar tiga hari. Kalian akan berada di rumah ini berdua.”

Aku tahu maksud Eomma mengatakan itu. kulirik Jiyeon yang sepertinya tak perduli, dia masih saja asik dengan sarapan dan ponselnya.

“Kalian jangan bertengkar,  atau aku akan mengirimkan team gegana, atau anti teroris untuk menjaga kalian, dan kalau itu tidak berfungsi, Eomma akan kirim sniper untuk membunuh kalian berdua!” ancam wanita iti serius.

Dont’ worry!”  jawabku santai. Eomma sudah sering mengatakan itu karena hanya untuk sekedar mengancam. Dasar istri Kolonel. Pikirku geli.

“Good! Sekarang berangkat sekolah dan jangan terlambat!” diktenya mutlak.

“Baiklah! Apakah kami bisa menggunakan mobil?”

“Jangan harap!”  jawab Eomma dengan muka sadis. Kenapa wanita itu mendadak galak. Apakah karena sudah memasuki masa menopouse? Aku gelengkan kepalaku sambil menyeret Jiyeon yang masih murung. Dia mengekor di belakangku sambil meremas-remas tanganku yang menggenggamnya.

“Samchon—“

“Ish, sudah berapa kali kubilang jangan memanggilku Samchon.” Kulirik dia tajam. Kali ini aku tidak mau kalah darinya, karena jelas-jelas aku lebih tua darinya, pun menjadi kakak kembarnya.

Jiyeon bersungut manja menampilkan wajah tanpa dosa. Jinjja!

“APA?” bentakku

“Celanamu, resletingnya belum dinaikkan, BODOH! Apa kau sengaja supaya aku melihatnya. Apa kau ingin memamerkan milikmu padaku?”  Jiyeon mengibaskan tangannya dariku.

Dengan cibirannya dia melewatiku, meninggalkan wajahku terlihat semakin bodoh. Kutundukkan kepala dan melihat resleting celanaku memang belum kunaikkan. Apa dia melihat?

“Hhhh!”   menghela nafas

.

.

.

Kai makin menjengkelkan. Tingkahnya semakin membuat Jiyeon risih. Sudah tahu Jiyeon jijik padanya, masih saja nempel seperti kotoran di sepatu snikernya.

“Minggir kedelai hitam!”  kuhadang badannya waktu ingin mendahuluiku masuk ke dalam bus jemputan.

“?”  alis Kai naik

“Kenapa?” kutantang dia

“Kau bicara dengan siapa?” tanyanya

“Agh iya, aku lupa kau itu tak terlihat.”

“Oppa!” hardik Jiyeon.

“What?”

“Kau bicara dengan siapa?” tanya Jiyeon mengikuti,

“Hhh..kalian sama saja, tidak bisa menghargai kulit seeksotis ini.”  Kai kesal, menggerutu dan pergi meninggalkan kepulan asap hitam di sekitarnya. BUZZ

“Cepat masuk!”  aku mendorong Jiyeon naik ke dalam bus jemputan karena mendadak gerimis berhamburan jatuh

“Hujan—“ gumam gadis preman itu ketika akhirnya duduk di sebelah kembarannya.  Bus berjalan pelan di bawah kaki-kaki hujan yang mengguyur bumi. Aku merasa sangat romantis sore ini.

Melirik Jiyeon yang sedang menatap hujan dari jendela.

“Kau masih jatuh cinta padaku tidak?” tanyaku usil mencari kesempatan, tentu dengan suara seminim mungkin.

“Masih.” Jawab Jiyeon tanpa menoleh, dia menjauhkan wajah Chanyeol dari bahunya dengan telapak tangannya. “Jangan dekat-dekat Samchon!” imbuhnya cuek.

Dasar preman! Makiku dalam hati,

“Kenapa masih memanggilku Samchon?” keluhku  dengan muka kesal.

“Aku sudah biasa memanggilmu begitu. Harus bagaimana lagi?”  Jiyeon melirik sengit. “Kenapa kau rewel sekali hari ini, Samchon?”

“Aku rewel?”  Yang benar saja. Kenapa dia menyebutku rewel.

“Ya.” Tegas Jiyeon

“Kenapa kau—“  ucapanku terhenti ketika Jiyeon berdiri. “Kau mau ke mana?” tanyaku gugup.

“Aku akan duduk dengan Kai, kalau kau terus rewel.” Ancamnya.

Kutarik tangannya untuk duduk kembali.

“Kita ini kembar, saudara kembar, kalau menurut legenda, kita ini sejodoh. Kau adalah jodohku, dan tidak diijinkan untuk berada di sebelah laki-laki lain selain aku!”

“Kau pikir kita ini burung merpati.”

BRAKH

Kami menoleh ke arah sopir Bus

“Kalian mau turun atau tidak?”  tanyanya.

Aku melihat ke arah luar dan ternyata memang sudah sampai di pertigaan, dan kami harus menunggu hujan reda di halte itu dulu.

Halte yang tidak bersahabat, dengan hujan yang seakan-akan bernafas dengan kasar. Mereka menebar udara dingin dan kabut yang membuat tubuh Jiyeonku menggigil. Haruskah aku  memeluknya?

Tentu saja aku mau.

Itu tidak diragukan lagi, tapi apakah dia mau aku peluk. Aku ini Oppanya sekarang. Benar-benar Oppanya. Hm, ya harus aku tegaskan begitu agar aku tidak lepas kendali.

Kujejeri dia

Jiyeon melirik.

“Kau dingin?” tanyaku

“Hm.” Jawabnya

SYUUUT

Kenapa suaranya terdengar manis dan lembut meski hanya deheman.

“Kau mau aku peluk?”

“Mau.” Jawabnya kemudian. “Tapi jangan di sini.”

“Lalu di mana?”

“Di rumah.” Jawabnya sambil kemudian berlari menembus hujan lebat. SIAL! Dia ini sedang mengerjaiku atau bagaimana. Kukejar langkah kakinya yang sama sekali tidak berarti, karena pada akhirnya aku yang lebih dulu melewatinya. Sambil menarik rambutnya aku mendahuluinya, dan Jiyeon berusaha mengejarku.

Dia terlihat begitu bebas dan ceria di bawah-bawah kaki hujan yang menerjang wajahnya, rambutnya, juga tu…buh…nya….bibirnya,,, basah,…. segar….GLUP.

Pakaian itu basah dan menampikan bayangan tubuh indah yang membuatku ingin…..

Kupalingkan wajah dan berusah untuk mencapai rumah lebih dulu.

“Samchoooon!” teriaknya ketika aku  masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu, membuka semua bajuku dan mengguyur tubuhku dengan air hangat.

Beberapa saat kemudian, aku keluar dan mencari Jiyeon.

“Jiyeon!” panggilku

“Aku di belakang.” Sahutnya

Kakiku melangkah ke sana, sambil membawa seragam basahku ke sana. Mendadak aku berhenti di depan pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang laundry. Jiyeon berdiri di sana dengan menggunakan pakaian dalamnya tanpa rasa risih ketika aku melihatnya.

“J…Ji…yeon…”

“Masukkan seragammu sekalian di dalam mesin cuci Samchon!” perintahnya tanpa rasa sungkan. Dia mengambil handuk kering dan dililitkan di tubuh indahnya itu.

“Mandilah! Aku sudah selesai.”  Kupalingkan wajah— munafik. Padahal aku sungguh menanti kesempatan ini.

“Dingin.” Jawabnya sambil melirikku.

“Ehm…” aku jadi serba salah. Apa dia minta dipeluk…

“Oppa,..!”  panggilnya. Hh, tumben memanggilku Oppa, biasanya selalu dengan panggilan terkutuk itu. kubalikkan tubuhku dan melihatnya tersenyum.

“Wae?” tanyaku sambil menggaruk kepala.

“Kau masih jatuh cinta padaku?” tanyanya.

“Ehm.” Jawabku sambil menelan saliva.

“Kau tidak merasa aneh kalau kita jatuh cinta.”

“Tentu saja, tapi harus bagamana. Perasaan ini sudah ada sejak aku belum tau kalau kita ini saudara kembar.”

“Tapi kau adalah samchonku sebelum ini.”

“Itulah…”  kutinggalkan dia yang masih mengawasiku dengan tatapan protesnya. Ya..ya ..ya aku tahu kalau aku memang terlalu nista untuk merasakan perasaan ini lebih dulu. Aku pun harus berhadapan dengan Jungsu Hyung jika memang semua ini terang-terangan terdeteksi oleh mereka.

Jiyeon mengikutiku ke kamar dan duduk di ranjangnya yang juga ranjangku. Seharusnya kami tidak ada masalah kan karena kami nyatanya bersaudara.

Kami bersaudara.

“Jiyeon!” panggilku.

“Oppa, aku tertarik secara fisik padamu. Kau tahu, tubuhmu itu indah sekali dari belakang sini. STOP, jangan menoleh!” pintanya. Aku jadi tidak jadi menghadapinya.

“Oke!” sahutku. Jadi dia menyukaiku dari posisi ini. Jiyeon berjalan mendekat, melepaskan handuk yang melilit di pinggangku.

“Jiyeon, aku malu!” seruku kemudian

“Kenapa, nanti kau boleh melihat tubuhku juga, Oppa.”

“Benarkah?” cengirku senang

“Yup!” serunya dengan rasa antusias.

Ough Shit!” pekikku “Kenapa kau melakukan itu?”  Jiyeon menyentuh pantatku dan meremasnya.

“Ternyata pantatmu lebih seksi dari pada pantat guru killer itu.”

“Tentu saja begitu!”  jawabku bangga. Ayolah, aku pun tidak sabar ingin melihat pantatmu Jiyeon. Rengekku dalam hati.

“Sudah, sekarang kau boleh menghadapiku!”  dengan cepat aku berbalik penuh semangat.

Kami sama-sama tersenyum…

Saling menatap.

“Oke, kita ini kembar. Aku hanya ingin tahu, bagian mana dari tubuh kita yang terlihat sama.”  Ujarnya tanpa beban sambil menyentuhiku.

“Please Jiyeon, kita ini kembar tidak identik, dan juga kita berbeda jenis kelamin. Kau pikir bagian mana dari tubuh kita yang sama?”  kugelengkan kepalaku bertubi-tubi. Cengirannya berubah semakin menggemaskan. Ke sentuh bahunya yang terbuka.

“Oppa aku merasa aneh.” Lirihnya

“Apakah kau merasa aneh saat aku menyentuhmu?”

Dia mengangguk, lalu kulepaskan tanganku dari bahunya.

“Oppa, sentuh aku lagi!”

“Jangan, aku pun merasa aneh.”

“Kita memang aneh, Oppa. Jadi kenapa tidak sekalian saja kita melakukan hal yang aneh.”

“Seaneh apa?” tanyaku sambil membidik bola matanya. Ugh, dia semakin menggemaskan.

Tidak ada yang aneh dari hubungan ini. Aku sering membaca hubungan yang dilakukan antar saudara bahkan sekandung pun ada, tapi apakah aku tega?

Jiyeon itu sangat—

Nanti saja dipikirkan, dia sedang mengalungkan tangannya di leherku, sepertinya ingin menciumku, jadi lebih baik aku fokus dulu dengan yang satu ini. Tidak mungkin aku menolak bibir itu, kan. Pasti rasanya surga bisa merasakan bibirnya yang ranum dan menggoda itu. Dia yang menyerahkan diri lebih dulu, bukan aku. Kutangkap saja sekalian pinggangnya dan mengurungnya dalam tubuh hangatku. Kulit kami melekat dan menghadirkan getaran yang sungguh aneh.

“Oppa, bukankah halmeoni sedang pergi.”

“Ya.”

“Jadi sekarang kita berdua saja di rumah ini.”

“Ya.” Cengiranku menyaingi cengirannya.

“Apakah kita diperbolehkan melakukan ini?”

“Apa?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Berciuman.”

“Kenapa tidak. Kita hanya berciuman saja kan.”

Jiyeon mengangguk, dan aku langsung mendorongnya ke atas kasur. Ugh! Bad Chanyeol! Bad Chanyeol ! kenapa kau mendorongnya ke kasur. Makiku dalam hati.

Tubuhku ini memang sudah tidak bisa lagi di tahan untuk tidak bergerak bebas di atas tubuh JIyeon. Bayangkan selama ini aku sudah memimpikan hal ini terjadi dan sekarang menjadi sebuah kenyataan yang—

Bibir kami sudah melekat sejak tadi, saling mengulum dan menghisap. Kenapa tidak ada rasa canggung, justru kegiatan kami menjadi kian gila. Jiyeon mengunci tubuhku dengan kedua kakinya yang melingkar di pinggangku dan membuat posisi ini begitu, ehm…aku tidak tahu, tidak jelas dengan apa yang kupikirkan.  Mendadak tumpu dan mengikuti permainan ini.

Lidah hangat JIyeon mulai merespon lidahku yang melesak masuk ke dalam mulutnya, menari di dalamnya dan beradu kekuatan dengan lidahnya.

“Mmmmph!” dia mendesah, tubuhnya menggelinjang, dan apakah dia berharap aku melakukan lebih dari ini.

“Oppa,  kenapa rasanya aku seperti ingin di masuki.” Kami saling menatap. Ya, kenapa aku pun ingin memasuki.

“Kau mau?” tanyaku

“Aku tidak tahu.”

Kuperhatikan rona wajahnya yang begitu ingin. Jadi preman ini sedang teransang hebat. Kusentuhi permukaan organ intimnya, dan bibirnya terbuka. Benar dia memang sangat teransang. Normalkah ini? Aku bingung, tapi semua ini sudah terlanjur sampai di titik ini. Kalau memang ingin disudahi, maka saat inilah waktunya, jika tidak maka semua akan—

 Sebenarnya aku tidak ingin jika permainan ini harus sampai melakukan itu, tapi wajah itu terlalu menggangguku.

Masih sibuknya kau berpikir dan menimang-nimang perkara ini— kemudian itu, lalu ini dan itu….

BRAKH

“Oppa, apa kau  mengunci pintunya?”   Jiyeon memucat

“Sudah.”

“Lalu siapa yang masuk?” menjadi kian panik

“Mungkin Halmeoni, tidak jadi pergi.”

Aku segera menyingkir dari tubuh JIyeon dan mencari pakaian.  Jiyeon pun melakukan hal yang sama. Aku sudah berlari ke luar kamar ketika JIyeon masih sibuk dengan bajunya.

Ketika tubuhku mencapai anak tangga paling bawah, aku melihat seperti ada sebuah bayangan manusia di dalam rumah. Semua penerangan kenapa di padamkan. Jangan-jangan ini perampokan. Aku berjalan ke dapur dengan hati-hati mencari sesuatu yang bisa aku pakai untuk membela diri, tapi mendadak—

JLEB

“OUGH!” apa ini. Dingin dan perih. Sesuatu menancap di perutku. Eoh! Basah. Seketika anyir darah merebak di penciumanku.

Dalam ketidakberdayaanku itu aku melihat ada sekelebat orang menaiki tangga. Aku ingin mengejarnya tapi—

“Jiyeon… JIyeon….!” panggilku lemah.

Sayup sayup aku mendengar jeritan JIyeon di atas sana. Sesuatu pasti terjadi pada Jiyeonku.

“Jiyeon!” panggilku semakin lemah— gelap.

.

.

.

“Chan!” Suara itu begitu jelas terdengar.

“Dia sudah sadar, Nyonya. Anda jangan khawatir. Kondisinya sudah stabil. Mungkin sebentar lagi dia akan membuka mata, memang agak sedikit pusing.”

Kugerakkan tanganku untuk memastikan bahwa omongan itu benar. Aku memang masih merasakan duniaku berputar, dan kelopak mataku masih berat, hanya saja aku ingin segera membuka mata untuk menemukan Jiyeonku. Bagaimana kondisinya. Apa yang terjadi dengannya.

“Chan!”  suara eomma. Dia memegang dan mengusap tanganku dengan lembut. “Dia memang sudah sadar.” Ujarnya pada seseorang di dekatnya.

“Baiklah, saya akan tinggalkan kalian!”

“Terima kasih, Suster!”

 Langkah kaki itu menjauh, dan semua menjadi hening. Hanya deru nafas dari eommaku yang terdengar. Apakah Jiyeon bersamanya.

Perlahan kubuka mataku, dan cahaya itu menyerang dengan sadis. Kenapa begitu menyilaukan seperti ini.

“Eomma!” lirihku.

“Ya, Chan eomma di sini.”

“Jiyeon..”

Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam, membuatku panik. Apa yang sudah terjadi dengan Jiyeonku.

Eomma!” panggilku sedikit berat. Suaraku tertahan di dasar tenggorokan.

“Dia ikut dengan Jungsu.”

“Kenapa?”

“Jungsu membawanya. Dia khawatir, Jiyeon akan merasa trauma.”

“Apakah dia baik-baik ?”

Ehm, ada sedikit masalah.” Jawaban itu membuatku semakin gusar. Aku berusaha untuk duduk, tapi perutku merasa begitu sakit.

“Tenanglah, perutmu itu mengalami trauma akibat penusukan, dan kehilangan banyak darah.”

Perutku.

Ya, aku baru ingat kalau malam itu— pisau menancap di sini. siapa pelakunya?

“Siapa yang melakukan ini, Eomma?

“Masih di selidiki. Mungkin seseorang yang membenci Jiyeon, dan kau. Mereka—“

“Mereka?” perasaan aku hanya melihat satu orang saja.

“Ya, polisi mengatakan mereka lebih dari satu orang.”

“Apa yang terjadi dengan Jiyeon?”

Eomma tidak berani menjawabnya. Apakah terjadi sesuatu dengan Jiyeonku. Sepertinya ini serius, karena memang jelas sudah aku melihat orang itu naik dan setelah itu Jiyeon berteriak. Hanya itu yang aku tahu.

Eomma, maafkan aku—“ mendadak aku merasa bahwa semua kejadian ini akibat perasaan ini yang telah berani mencintai dan mengumbar nafsu untuk adikku sendiri. Tuhan pasti sudah menghukum kami.

“Apa maksudmu, Chan?”

Eomma, aku mencintai Jiyeon. Aku sangat mencintai adikku sendiri. Bahkan kami saling mencintai.”

Wanita itu membungkam mulutnya dengan rasa kagetnya. Dia langsung berdiri dan menggeleng berkali-kali, sedangkan aku tak berani lagi menatapnya. Ini sangat membuatku merasa malu telah mengakui perasaan terkutuk ini. Aku telah membuat suasana menjadi tidak kondusif. Mereka pasti menyalahkan dan akan menjauhkanku dari Jiyeon.

.

.

.

tbc

.

.

.

 

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. sookyung says:

    duhhh jgn sampe terjadi sesuatu yg buruk pd Jiyeon

    1. mochaccino says:

      eum…. apa ya… aku juga ga tau… heheh, y

  2. loveJIYEON says:

    Kasian nsib mreka..sling mnyintai tp rupanya brsaudara..dan skarang mlah jd kjadian bgini..apa trjadi pda jiyeon??q hrap jiyeon baek2 aja tp knapa aku rsa gak enak ya…q rsa trjadi ssuatu yg bruk pd jiyeon…apa akn jd pd hbungan mreka ya??x sabar tuk next chapternya!!!

    1. mochaccino says:

      makasih masih mau mampir ke sini.

  3. minew says:

    andwaeeee…apa ini ??? bner2 shock d akhir cerita…please jgan bilang jiyeon di rape? hgga dy trauma…satu orang apa bnyak ????omg…sswtu yg bruk tlah trjadi…smpai speechless…
    awalx lucu plus sweet liat klakuan mreka bdua…apalg otak pervert chanyeol itu…tp jiyi jg c…kmbar c, mgkax sma…
    dtggu next partx lana fighting ^^

  4. Lusti says:

    Siapa yg ngelakuin itu ma jiyeon dan chayeol.
    Aduh jiyeon diapain ya smg gk diapa apain deh..
    Kyakny mereka gk bkal di stujuin karn kembar…

  5. MFAAEM says:

    Waduh hubungan incest, asik nih pembawaam ceritanya juga ga terlalu berat jadi enjoy meskipun kadusnya rumit (incest) hehehe yah yah itu jiyeon diapain… Semoga ga di rape huhuhuhu pengennya dia di rape chanyeol aja huakakakaka

  6. park ji dino says:

    hayoo jiyi ny knapa ? ‘-‘
    ku gak tau gmn cerita nya , dateng” langsung baca chapter ini :v
    jd ngikut prnasaran ugha..
    antimainstrem sodara kembar ._.

  7. May andriani says:

    Apa yg terjadi sma jiyeon?? Trus siapa yg ngelakuin itu semua?? Pnasaran nich ,, bisa gk nextnya jngn lama” postnya,, secepetnya ..

  8. indaah says:

    ishh baru aja mikirin hubungan si kembar yg berani aneh2 , ehh malah kejadian yg mengerikan ..
    jiyeon knapa lan, gk mau mikir2 yg lebih parah ..
    duh siapa tu yg benci kembar ,
    chan ngakuin k eomma nya gmna donk
    next lan fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s