Rose In The City [Part-2]


rose-in-the-city1

Rose In The City 2

A Story by. Mochaccino

Maincast

Song Junki

Park Jiyeon

.

.

“Biarkan dia tinggal di sini!” titahnya dengan nada sedikit berat.

DEG

Jiyeon membulatkan matanya cemas.

Apa yang akan dikerjakannya di dalam sini. Apa dia harus menghibur laki-laki itu.

“Kau di sini saja!” pengawal itu menahan langkah Jiyeon

“Baik.” Sebenarnya dia bingung kenapa harus menjawab, tapi itu tidak terlalu dipikirkannya. Dia tidak ingin membuat masalah di hari pertamanya bekerja.

“Kau keluarlah!” usir laki-laki itu pada pengawalnya.

Beberapa saat kemudian, ruangan ini menjadi hening, hanya dihuni oleh laki-laki itu dan Jiyeon yang masih berdiri di dekat pintu— gugup.

Pria itu seolah mengerti, dia memberikan tatapan yang lembut dan sedikit senyuman yang membuat wajahnya terlihat lebih simpatik. Dia tidak jelek. Jelas dia adalah pria tampan dan berkelas.

“Siapa namamu?” tanya pria itu dengan menaruh sebelah kakinya di paha sebelahnya. God! Dia memang keren. Batin Jiyeon kagum.

“Park Jiyeon”

“Berapa umurmu?”

“19 tahun.” Jawab Jiyeon lirih,

Laki-laki itu mengangguk dan memberi isyarat pada Jiyeon untuk mendekat.

“Tuangkan minuman untukku!” perintahnya kemudian.

“Baik Tuan.”

“Panggil aku Joonki.” Ujarnya seiring menghembuskan nafas beratnya. Dia terlihat sedikit lelah.

Jiyeon mendongak dari posisi bersimpuhnya dan mengangguk

“Baik Tn. Joong Ki.”

“Song Joong ki.” Ulangnya

“Baik. Tn. Song.”

Laki-laki itu tersenyum puas. JIyeon tidak mengira kalau laki-laki yang terlihat angkuh itu bisa tersenyum dengan tulus. Sepertinya dia bukan laki-laki hidung belang yang mencari kesenangan. Terlihat sekali dari gesture dan tatapannya yang berwibawa.

“Duduklah di sampingku.” Ajaknya,

Eoh, salah! Jiyeon memejamkan matanya sebentar. Untuk apa dia mengajaknya duduk di sana.

Tapi Jiyeon tidak bisa menghindar, dia membawa cawan kecil berisi vodka itu dan duduk di sebelah kanan Joonki dengan sopan. Dia terlihat sangat berhati-hati sekali dengan sikapnya. Begitulah yang dipesankan oleh managernya tadi.

Joong  Ki mengamati wajah Jiyeon yang menunduk.

“Kau cantik sekali.”

“Terima kasih, Tn. Song.” Jawab Jiyeon

Joonki meneguk minumannya sambil terus melirik yeoja di sebelahnya. Sebentar mereka beradu pandang dan sempat membuat Jiyeon tersentak. Tatapan laki-laki itu begitu tajam dan mengintimidasi. Senyumannya sungguh sebuah cobaan baginya. Dia memiliki sesuatu di sana.

Mendadak dia menyingkap helai rambut Jiyeon yang menutupi telinganya, memiringkan tubuhnya dan menghadapi gadis itu dengan senyumnya.

“Apa kau gugup?” tone baritonnya sungguh merasuk di dalam benak Jiyeon.

“Sedikit, Tuan.”

“Jangan takut padaku, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya minta di temani.” Jelasnya sambil meneguk vodkanya.

“Kau pasti baru lulus dari sekolah.”

“Benar Tn. Song.”

“Apa sudah menentukan di mana akan kuliah?”

“Belum. Saya belum memiliki biaya untuk kuliah, itu sebabya saya bekerja di sini.”

Agh kenapa dia harus mengatakan itu, seolah-olah dia memohon belas kasihan dari pria ini.

“Benarkah?” Joonki tampak terkejut. Dia sedikit merasa iba dengan penjelasan itu.

“Maafkan saya, Tuan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ini. Sungguh maafkan saya. Mungkin tahun depan saya baru mendaftar untuk kuliah.” Jelas Jiyeon sungkan

Pria tampan itu mengangguk dan menghela napasnya dengan berat.

“Bolehkan aku tahu berapa nomor ponselmu?”

Jiyeon mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada laki-laki itu. Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan oleh JoonKi sehingga dia harus meminta nomor ponselnya.

Tidak lama dia mengembalikannya.

“Apakah boleh, aku bertemu denganmu lagi?”

“Ya. Why not! Anda orang baik Tn. Song. Saya senang mengenal Anda.”

JoonKI tertawa, menampakkan deretan giginya yang rapi. Dia terlihat lebih hangat dan bersahabat. Ada sedikit kerutan di ujung matanya ketika pipinya terangkat.

“Aku buru-buru malam ini karena ada urusan lain. Orang yang ingin kutemui tidak jadi datang.”

“Silahkan Tn. Song!” Jiyeon berdiri dan mempersilahkan laki-laki itu beranjak. Dia tersenyum ke arah Jiyeon sebelum menghilang di balik pintu.

FIUUUUH!

Jiyeon menggelepar di sofa. Dia tidak menyangka bahwa di hari pertamanya bekerja dia bisa bertemu dengan laki-laki yang baik. Ini tidak terlalu buruk, karena menurut rumor sebagian dari mereka yang sering menyewa ruang VIP adalah maniak. Peluhnya menetes di ruangan ber-AC ini.

Oke, sepertinya dia bernasib baik malam ini.

.

.

.

Jiyeon sedang membereskan beberapa tanaman hias yang dikelola ibunya siang ini ketika ponselnya bergetar di sakunya. Eoh, Tn. Song Dia segera berdiri dan berjalan menjauh dari ibunya.

“Siapa?” tanya Ibunya ingin tahu

“Yuka, Eomma.” Jawabnya bohong

“Suruhlah dia ke sini, eomma butuh bantuannya.”

“Nde eomma!” Jiyeon berlalu dan menghilang dari pandangan ibunya, dia tahu jika berhubungan dengan laki-laki itu pasti bukan urusan biasa, mengingat bahwa Tn. Song adalah laki-laki yang—

“Jiyeon!” sebut suara di seberang sana

“Ya, saya.”

“Aku Song Joong Ki.”

“Ya. Tn. Song. Ada apa Anda menghubungi saya?”

“Aku ingin bertemu denganmu.”

“Eoh!”

“Sopirku akan menjemputmu.”

“Anda tahu rumah saya?”

“Maafkan aku, karena semalam aku menyuruh orang untuk mengikutimu.”

Jantung Jiyeon berkejaran. Laki-laki itu menyuruh orang untuk mengikutinya. Berapa besar dia menginginkannya. Semoga laki-laki itu tidak berharap apa-apa darinya.

“Jiyeon!”

“Ya, Tn. Song.”

“Kenapa kau tidak memanggilku dengan Oppa saja. Itu lebih enak didengar. Kau bukan karyawanku dan bukan juga pembantuku.”

“Baik Tuan, maksudku Oppa.”

Good! Apakah mobilnya sudah sampai?”

Jiyeon menoleh ke sekitarnya dan melihat ada sebuah sedan mewah berwarna pekat mendekatinya.

“Sudah.” Jawabnya gugup. Dia menoleh ke arah rumahnya, khawatir jika ibunya melihat ini.

“Naiklah, dan cepat temui aku!” ujarnya seraya memutus sambungan.

Laki-laki yang semalam itu ternyata sopir Tn. Song itu turun dan mempersilahkan JIyeon untuk masuk. Dia tidak bertanya ini dan itu, karena mungkin dia sudah tahu sejak semalam.

Perjalanan ini terasa sangat menegangkan bagi Jiyeon. Apakah dia harus melayani laki-laki itu. Beberapa saat kemudian, mobil itu memasuki sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Jiyeon semakin gemetar dan terus menerka-nerka apa yang akan terjadi.

“Silahkan!” sopir itu mempersilahkannya turun, kemudian dia melangkah lebih dulu ke arah lift. Jarinya menekan sebuah nomor kemudian mempersilahkan Jiyeon untuk masuk ke dalam lift.

“Tn. Song tinggal di lantai 25. Lift ini akan membawa Nona langsung ke mansion mewahnya. Saat pintu lift terbuka, Nona akan berada di ruang tamunya. Dia sudah menunggu Anda.” Sopir itu kemudian berlalu setelah pintu lift itu tertutup.

Ting

Pintu lift itu terbuka, dan JIyeon langsung dihadapkan pada sebuah ruangan luas dan mewah. Dia tidak bisa menyebutkan karakteristiknya secara detail, namun terlihat jelas kalau pemiliknya adalah seseorang dengan cita rasa yang tinggi dan berkelas.

“Jiyeon !” panggil sebuah suara.

Pria itu muncul dari sebuah ruangan dengan pakaian sederhana. Dia terlihat lebih santai dan kelihatan sedikit berbeda. Apa karena dia tidak mengenakan pakaian resminya sehingga kini dia terlihat sangat membumi.

“Aku senang kau mau datang.”

“Ya, Tuan.”

“Oppa. Kau sudah berjanji untuk memanggilku begitu.” Tegasnya, dia mengcungkan telunjuknya. Kode bahwa itu adalah mutlak. Tak ada bantahan. Alisnya bergerak naik dengan dramatis,

“Oppa.” Ulang Jiyeon sambil mengikuti laki-laki itu berjalan. Pikiran kenapa dia harus berada di sini menjadi topik pilihan otaknya saat ini, namun harus tenggelam bersama rasa cemas yang membuat jantungnya menghentak kuat.

“Duduklah!”

Dia duduk di salah satu sofa yang menghadap ke arah jendela. Di dalam sini, terlihat sangat terang. Sinar matahari masuk ke dalam ruangan dengan baik. Semua sudut tempat terlihat dengan jelas.

Dia duduk menghadapinya, terpisah meja yang berjarak sekitar satu meter darinya. Seperti biasa yang dia lakukan, tatapannya itu langsung menumbuknya. Dia sungguh berkharisma tinggi.

“Kau tau, aku rasa aku menyukaimu.” Ucapnya langsung tanpa ekspresi,

Deg

Jiyeon tersentak di tempatnya. Mereka saling menatap sebentar lalu dengan sendirinya dia menunduk lagi.

“Aku sudah meminta pada managermu untuk memecatmu, karena mulai sekarang kau hanya akan bekerja untukku.” Jelasnya

“Ta…tapi..”

Jiyeon tergagap

“Aku tidak bisa melihatmu bersama laki-laki lain.” Lanjutnya lagi

Eoh, begitukah?” Jiyeon meraba dadanya. Dia tidak mengira ada seorang laki-laki kaya, terhormat, mengutarakan perasaan suka padanya semudah ini. Ini kedengarannya sangat aneh baginya. Ini pasti tidak wajar. Dia pasti menuntut sesuatu dari Jiyeon. Pasti lebih dari sekedar suka—

“Aku memang type laki-laki yang to the point. Aku tidak suka bertele-tele dan membuang-buang waktu. Jika aku menginginkan sesuatu, maka aku harus memilikinya.”

Jiyeon mengangguk gamang. Apa maksudnya dengan hal itu. apa dia secara mutlak ingin memiliki seorang Jiyeon

Joong Ki berdiri, dan secara reflek, Jiyeon pun ikut berdiri, tapi pria itu menyuruhnya untuk tetap duduk.

Kemudian menyandinginya. Mereka duduk dengan begitu rapat, terlebih dengan intimidasinya, dia mulai menyentuh Jiyeon.

Tangannya mengambil dagunya tanpa rasa sungkan. Dia bersikap layaknya seorang laki-laki yang sedang merayu pasangannya. Eoh, Jiyeon benar-benar mati gaya.

“Ketika kau memasuki ruangan itu malam tadi, kau tahu…jantungku menghentak begitu kuat.”

Jiyeon mengangguk bingung. Dia harus menjawab apa padanya karena dia tidak merasakan hal yang sama, tapi dia suka jika laki-laki ini terkesan dengan kecantikannya.

“Aku tahu ini pasti mengejutkanmu.” Dia menghela nafasnya

“Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu padamu.”

Joong Ki mengangguk bijak.

“Okay, silahkan!”

“Aku mungkin tidak seperti yang kau pikirkan, Tuan Song. Aku bukan wanita yang bisa diperlakukan seenaknya, aku bukan pelacur.”

Hening.

Joong Ki meneliti tatapan Jiyeon padanya. Mungkin tadinya dia mengira kalau Jiyeon adalah wanita yang bisa di ajak bersenang-senang atau apapun itu.

“Kau bukan pelacur.” Jawabnya tegas.

Jiyeon memucat, sedangkan pria di sebelahnya ini tertawa. Dia benar-benar tertawa di depan muka Jiyeon yang pias. Dengan rasa bingungnya, Jiyeon mendengus.

“I don’t care!” ucapnya langsung. “Aku benar-benar tidak perduli meskipun kau bukan pelacur sekalipun, karena aku sudah mengatakan padamu, jika aku menginginkan sesuatu, maka aku harus mendapatkannya. Apa kau mengerti!” dia terdiam sebentar, “Lagi pula kalau kau bukan pelacur, itu ada bagusnya juga.”

Jiyeon tercekat, dan tidak menampik bisa lari dari situasi ini, terlebih dari laki-laki ini.

“Aku benar-benar menginginkanmu, dan aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa. Aku akan membayar semua biaya kuliahmu. Kau tidak perlu bekerja keras lagi, dan jadilah kekasihku.”

Jiyeon mengangguk-angguk seakan dia mengerti, padahal tidak. Dia tidak bisa mencerna semua ini. Dalam hatinya, dia begitu berat untuk menjalani kehidupan ini sebagai kekasih dari laki-laki kaya dan terhormat ini, yeah meskipun dia tampan sekalipun.

“Aku sudah punya kekasih.”

“Putuskan dia.”

“Aku tidak bisa, Tuan.”

Jiyeon tidak melupakan Heechul. Selama ini dia sudah menjalin hubungan dengan sunbaenya itu meski saat ini dia sedang melanjutkan pendidikan kuliahnya di Amerika.

Pria itu kembali menyentuh wajah Jiyeon dan mengusapnya. Sentuhan itu teramat aneh dan tidak bisa diterima Jiyeon begitu saja sehingga dia menepiskan tangan itu dari wajahnya.

“Jangan menolakku!” pinta pria itu dengan tatapan sengit

“Bagaimana jika aku tidak ingin menjadi kekasihmu?”

“Aku akan tetap mengejarmu. Kemanapun itu kau pergi, aku akan mencarimu, dan memaksamu untuk berada di sisiku sampai pada akhirnya kau mencintaiku.”

Bulu kuduk Jiyeon meremang mendengar jawaban telak itu.

Eoh bagaimana ini.

Dia duduk tegak dengan punggung kaku, namun Joong Ki mendorongnya untuk bersandar, kemudian dia menekuni wajah Jiyeon dalam jarak yang begitu dekat. Dia tersenyum, dia menatap, dan dia membelai wajah itu dengan penuh kelembutan.

“Aku ingin menciummu.” Bisiknya sambil jemarinya menyentuhi bibir penuh Jiyeon

“Eum, ….” Jiyeon berusaha untuk bangkit, tapi justru Joong Ki menarik tubuh Jiyeon ke pangkuannya, menyekapnya dan mencuri sebuah kecupan dari bibir itu.

Yeoja itu tersentak dan membelalakkan matanya semakin lebar. Demi Tuhan, dia dicium oleh seorang laki-laki yang menurutnya asing, pun tanpa perasaan yang jelas.

Ciuman itu hanya sebentar, dan terkesan singkat.

“Bagaimana rasanya?” Joong ki mencandai rasa kaget Jiyeon yang menggeleng tak jelas. Mungkin ini adalah ciuman dari laki-laki asing pun usianya jauh di atasnya. Joong Ki lebih seperti Pamannya, tapi bibir itu sungguh menyihirnya hingga pipinya merasakan hangat.

“Kau sungguh menggemaskan! Lihatlah pipimu memerah. Kau pasti bisa merasakan diriku.” Joong Ki terlihat lebih antusias. Dia kembali mendekat dan memiringkan kepalanya, lalu dengan cepat dia menekan bibirnya di sana, melumatnya, kemudian menghisapinya.

Jiyeon masih dengan ekspresi aneh menatap wajah yang begitu dekat dengannya itu. Laki-laki tampan ini memang terpejam, dia seperti sedang menikmati apa yang sedang dilakukannya. Kedua tangannya masih menahan tubuh Jiyeon agar tidak bergerak, dan hanya kepalanya saja yang bergerak untuk mengambil arah bibirnya. Sebuah desahan mengalun dari dasar tenggorokannya dan entah kenapa ada sesuatu yang meletup di dalam perut Jiyeon demi merasakan apa yang didudukinya itu mengembung dan mengeras. Eoh!

Jiyeon terpejam untuk mengimbangi pautan bibir itu pada bibirnya. Tangannya mulai terlihat rileks dan santai.

Perlahan Joong Ki mulai melepaskan tangannya dari wajah Jiyeon dan berpindah pada rambut pria di bawahnya. Dengan lidahnya dia memaksa Jiyeon untuk membuka mulutnya, dan yeah pada akhirnya Jiyeon hanya bisa menerima perlakuan itu dengan sama hangatnya.

.

.

.

.TBC

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. ja says:

    Omg jgn d tolak jiyi, pasrah aja sm oppa joongki hhee. Tenyata thor update nya cpt ya hhee. Penasaran sm next part nya. Lnjut thor

    1. mochaccino says:

      makasih, ada juga yg komentar di sini. makasih sangat ya sudah meluangkan waktu…

  2. sookyung says:

    omg joongki bnr2 tipe namja yg pemaksa ^^

  3. Yoo cassanova says:

    Jeng maaf blm bisa komen ataupun baca, sibuk sm tugas tp aku akan baca ff update-tan mu , fighting 🙂

    1. mochaccino says:

      it’s oke, aku cuma giat update bulan ini aja, bulan depan aku akan hiatus lagi… hiatus panjang…. ini biar ga kosong aja blognya.

  4. Nana says:

    Penasaran. Main salpok aja lu joongki. Jiyeon, juga menang bnyak euy…

  5. indaah says:

    cieee jiyeon lgsng disukai joongki yg bisa d sebut pamannya keke
    jongki knapa bisa mendadak gtu yaa
    lan ni kyk nya ff kamu pling pendek deh , gk panjang kyk biasa nya kann
    oke next ya

  6. May andriani says:

    Bneran tuh joongki suka sama jiyeon?? Apa yg di’inginkan joongki selain ciuman,, kyknya joongki gk bkalan ngelepasin jiyeon tuh..

  7. Yumi Kim says:

    padahal habis hujan kok rasanya panas? huu…

  8. Latifa says:

    Ternyata ciuman joongki meluluhkan jiyeon juga

  9. Kina J says:

    Jiy~ kalau kamu gk mau biar aku aja.haha *ygadaakudilempar

  10. cia says:

    Ya ampun joongkiii
    Maksa bgt sihh, tp bikin melelehh

  11. anii says:

    Aigoo jinjja, joongki oppa hwaa greget sifat.a uh aduhee meleleh guaaa╭ (′▽`)╯
    Itu jiyeon dijadikn pelarian kh? Ato bener² dia suka jiyeon,
    Next yaaw

    1. mochaccino says:

      Ini sudah ending di wattpad. Kalo mo baca silahkan di sana aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s