Rose In The City [Part-3]


rose-in-the-city1

Rose In The City

Story by. Mochaccino

Cast| Park Jiyeon and SOng JoongKi

Genre | Romance-Angst

Rated |PG

LEngth | Chapter

.

.

 

Sekali lagi dia memastikan hatinya, bahwa dia bukan bukan pelacur. Baik dengan akal sehatnya dan dengan nuraninya yang terkontrol dengan baik.

 

Dia bukan pelacur.

 

Oh bagaimana ini, dia sudah merasa ternoda hanya karena Joong Ki sudah menciumnya

 

Bibir ini,… bengkak. Laki-laki itu sudah memperkosa bibirnya dengan sangat— brutal.

 

 Ash jjinjja!

 

Haruskan dia menikmati semua ini, karena jujur, he is a good kisser. Kalau saja bukan karena Heechul tadi menghubunginya, mungkin dia tidak bisa menyembunyikan rasa nervousnya karena dia tidak tahan dengan tonjolan yang mengembung itu.

 

 

Mungkinkah, semua ini harus menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, bertemu dengan seorang pria berambisi sepertinya yang memaksanya untuk menjadi kekasih. Iming-iming mengenai materi yang akan dipenuhi oleh sang aritokrat itu bukan perkara yang kecil.

 

Joong Ki terlihat sangat serius. Apakah dia harus menerima semua ini, dan mengambil resiko bahwa dia akan membuat hati wanita tercintanya terluka. Ibunya, dan satu , kekasihnya Heechul.

 

”Jiyeon!”  pria itu memanggil dari luar toilet.

 

Dag dig dug jantungnya membuat paras cantik Jiyeon kini menjadi kian pucat. Dia masih belum menjawab keinginan Laki-laki itu meski itu sama sekali tidak penting, karena bagi Joong Ki, jawabannya tidak akan diperdebatkan.  Secara mutlak JIyeon adalah miliknya.

 

Pintu itu dibukanya,

 

Pria itu menyudutkan senyum. ”Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

 

”Hm?”

 

”Tidak akan lama.” ujarnya

 

Dia hanya mengenakan jaket dan menenteng tasnya. Jeans ketatnya sungguh sesuatu, karena dengan penampilannya itu, dia sama sekali tidak terlihat seperti manusia yang mempunyai perilaku tegas dan otoriter. Oh entahlah, Jiyeon belum mengenal dengan baik.

 

 

”Aku sudah menghubungi seseorang yang bisa menempatkanmu di universitas terbaik di Seoul.”  jelasnya sambil memasuki lift.

 

”Aku masih mempertimbangkan penawaran ini, Tuan.”  jawabnya hati-hati, tapi pria dengan penampilan brunet itu meliriknya sengit. Dia tidak suka jika apa yang sudah tercetus dari mulutnya dikomentari dengan nada pesimis.

 

”Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu.”  timpalnya sedikit menyeringai.  ”Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku Oppa—”  intonasinya menaik di akhir kalimat—menggertak.

 

Okay!” Jiyeon mengatupkan rahangnya dan menghimpun oksigen dalam-dalam, memutar otak untuk mencari pelarian. Pelarian yang bagus, meski itu bukan hal yang bisa mengentengkan nasibnya.

 

”Apakah kau hidup sendirian di sini?”   akhirnya dia merubah topic pembicaraan agar suasana genting ini sedikit bersahabat.

 

Joong Ki mengenakan kaca mata hitamnya, terdiam sebentar dan tersenyum. Please, senyum itu benar-benar aneh dari arah samping di mana Jiyeon sedang mengamatinya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan arti senyuman itu. Mengejek pertanyaannya atau dia tidak mau menjelaskannya.

 

Mengangguk-angguk kemudian menoleh

 

”Aku mempunyai seorang kakak, tapi dia sudah lama meninggal.”  dengan nada ringan tanpa beban.

 

”Lalu keluargamu yang lain. Ayah dan ibumu?”  tanya Jiyeon lagi seakan menuntut walaupun sebenarnya dia tidak terlalu memikirkan. Masa bodoh dengan hal itu.

 

Tapi pria itu perlahan mendekat dan menghadapi tubuh Jiyeon, dengan tatapan seductive. Di telitinya wajah cantik itu, dengan kesan hangat, bersama senyum yang menari-nari— menggoda . Ada sedikit rasa haru ketika dia menerima pertanyaan Jiyeon mengenai keluarganya, tapi bayangan di matanya berkabut. Beruntung Jiyeon tidak melihatnya, karena semua bayangan kabut itu terhalang oleh lensa hitam yang bertengger manis di batang hidungnya.

 

”Aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan baik, Sayang. Tapi nanti. Aku senang kau mulai ingin tahu mengenai kehidupanku. Aku harap ini akan semakin membuat hubungan kita menjadi lebih akrab, dan…intim tentunya.”  jemarinya menari di helai rambut Jiyeon, kemudian bibir Itu mendarat manis di ceruk leher  yeoja yang berdiri kaku tanpa ekspresi ketika dia mengecupnya. Sebuah kecupan yang sedikit dalam, hangat dan basah. Ada rasa terhisap, dan aliran ransangnya membuat kuduk Jiyeon berdiri. Dia terpejam, bibirnya menahan agar tidak mendesah, namun Joong Ki bisa merasakan tubuh Jiyeon gemetar.

 

Gotcha!

 

Ting

 

Pintu lift terbuka, lalu dengan santainya pria berpostur tinggi itu menggandeng tangan Jiyeon keluar dari lift dengan cengiran nakal.

 

Jiyeon tidak bisa berkomentar selain mengikuti langkah kaki itu yang begitu penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi. Bahunya bergerak tegap tanpa kesan lesu.

 

Dia sunggguh—

 

Lagi-lagi Jiyeon tidak mempunyai kalimat yang tepat untuk mendeskripsikannya. Dia hanya terpukau dan terus terpukau, tanpa jelas kenapa dia harus merasakan perasaan terpukau seperti ini.

 

”Kau akan mengajakku ke mana?”  tanyanya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.  Sopir mereka memperbaiki letak spion dan mulai menyalakan mesinnya.

 

”Kita akan berbelanja. Kau membutuhkan pakaian yang bagus untuk berada di sisiku.”

 

Eoh!

 

”Kenapa harus seperti itu? Aku suka dengan penampilanku, dan kau tidak bisa mengubahku menjadi seperti apa yang kau mau, Tuan.”  protes  Jiyeon

 

Tck! Aku hanya ingin  membelikanmu pakaian yang bagus, bukan merubah gayamu. Kau silahkan memilih pakaian yang kau suka, aku tidak perduli, hanya saja semua itu harus bagus dan terlihat baik.” tegasnya. ”Aku tidak suka melihatmu tidak terurus seperti itu.”  Menggeleng jengah.

 

”Kenapa Anda begitu menyukai aku jika penampilanku seperti ini.”  keluh Jiyeon dengan sungut.

 

Joong Ki memberikan senyuman ketika melihat raut muka yeoja di sebelahnya ini menjadi kusut.

 

Come here!”  dengan telunjuknya lagi.  Jiyeon memantung sebentar, dia sudah berani bersikap membangkang. Hh, ada apa dengan telunjuknya itu. Jiyeon merasa bahwa ketika JoongKi mengacungkan telunjuknya itu maka itu adalah sebuah command yang harus dia lakukan, dan herannya dia menurut.

 

Jiyeon mendekatinya dan pria tampan itu mencuri sebuah kecupan di bibirnya. Jiyeon reflek mengambil jarak mundur, tapi tangan Pria itu menahan tengkuknya dan yang terjadi kemudian bibirnya justru tenggelam di dalam bibir sensual itu.

 

Dia bergelut untuk menolak, tapi justru penolakan itu menjadi semangat bagi Joong Ki untuk meringkusnya. Dengan mudah dia menginvasi Jiyeon dengan sentuhannya pada area-area sensitivenya, sehingga tanpa sadar dia mendesah dalam rongga mulut pria itu.

 

Setelah beberapa detik mereka beradu ketegangan dan desahan, Joong Ki melepaskannya dengan rela. Dia mengusap saliva dari bibir Jiyeon dan menjilatnya.

 

Gadis itu membuang pandangan ke arah lain dan mengutuki semua ini harus terjadi pada dirinya. Harga diri dan egonya sungguh runtuh berjatuhan seperti tidak ada nilainya di hadapan seorang Joong Ki.

 

.

Wanita itu meliriknya ketika masuk, mengernyit karena Jiyeon membawa begitu banyak paper bag. Langkah itu lurus berjalan ke kamarnya dan mencoba untuk tidak memperhitungan pemikiran ibunya mengenai semua yang telah di dapatnya.

 

Dia menghempaskan diri di ranjangnya dengan otak keruh. Baru saja dia selesai berbelanja dan Joong Ki sungguh menepati apa yang dia katakan.

 

Beberapa produk bermerk sudah berada di tangannya, dan entah apa dia mempunyai nyali untuk mengenakannya. Dengan kondisi ekonomi ibunya yang seperti ini, apakah orang tidak akan langsung berpikir miring mengenai dirinya.

 

”Kau dari mana?”  ibunya masuk dan memperhatikan semua barang bawaan Jiyeon yang berserakan di lantai

 

”Jalan-jalan dengan teman.”

 

”Semua ini apa?”

 

”Ini semua hadiah darinya.” jawabnya was-was, dia sudah mempersiapkan jawaban cadangan seandainya jawaban pertama tidak mempan. Ibunya bukan wanita bodoh, dia cerdas, hanya nasipnya sama tidak beruntungnya dengan anaknya yang cantik ini.

 

”Tadi itu siapa?”

 

Nah! Pertanyaan itu.

 

Jiyeon sudah menduganya, pasti ibunya sempat melihat dia turun dari mobil mewah itu sesaat lalu.

 

”Dia temanku.”  singkat

 

”Dia kaya.”

 

”Ya, dia kaya.”

 

”Laki-laki atau perempuan?”

 

Terus mengejar, sepertinya dia memang tidak akan puas sampai Jiyeon menjawab dengan lengkap

 

Dia duduk dan menghela napasnya sebentar.

 

”Ya eomma, dia laki-laki yang sangat kaya, dan aku bekerja padanya. Semua pakaian ini dia berikan agar aku bisa bekerja dengan baik. Aku tidak bekerja lagi club malam itu. Bukankah ini lebih baik.”

 

Ibunya mengangguk bijak, namun matanya menyipit curiga.

 

”Dia mempunyai perusahaan?”

 

”Ya.” jawab Jiyeon lagi, meski tidak yakin karena pria itu tidak mengatakannya. Jiyeon hanya menganggap dia kaya dan mungkin juga mempunyai perusahaan.

 

”Kau  bekerja sebagai apa?” lanjutnya

 

Eomma, kau akan tahu nanti.”  sejujurnya Jiyeon juga tidak tahu dia akan bekerja sebagai apa. Mungkin nanti dia bisa menanyakannya lagi pada laki-laki  itu.

 

Ibunya hanya menatapnya dengan kecemasan. Jiyeon mengerti dia pasti mencemaskannya. Tidak ada seorang ibu yang tidak was-was dengan perubahan yang terjadi begitu drastis ini.

 

”Orang tidak akan memberikan sesuatu dengan cuma-cuma tanpa imbalan. Apa kau dengar itu.”  ujarnya sambil berjalan keluar dari kamar.

 

Mendadak ponselnya bergetar lagi. Song Joong Ki menghubunginya lagi, padahal dia baru saja mengantarnya pulang.

 

”Hi, Sayang! Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku berada di depan rumahmu, kau meninggalkan jaketmu di mobil, jadi— ”  belum sempat Pria itu selesai bicara, Jiyeon langsung melebarkan langkahnya untuk mencapai pintu. Demi Tuhan manusia itu tengah berdiri di sana dengan sebuah senyum yang dia tujukan pada ibunya.

 

”Eoh Tuan, ada apa?”   sambut Jiyeon menyerbu

 

”Jaketmu.”  dia menyodorkan jaket Jiyeon

 

”Suruhlah dia masuk, eomma akan buatkan teh untuknya.”

 

Jiyeon menatap bingung pada laki-laki itu. Dia terlihat kurang nyaman berada di sini. Maklum ini hanya rumah sederhana, tidak seperti apartemennya yang mewah. Ada kesan jijik ketika dia harus membalas tatapan Jiyeon

 

”Dia buru-buru, Eomma.”  serunya kemudian, seakan mengusir Joong Ki

 

”Tidak,aku tidak buru-buru. Aku akan masuk.”  ujarnya,

 

tanpa rasa ragu  pria itu segera masuk.

 

”Eommonie, Anda senang bercocok tanam?”  tanyanya seolah-olah sedang mengambil hati ibunya. Jiyeon menggeleng jengah.  Dia itu bukan calon ibu mertuamu, Tuan!

 

“Ya begitulah, aku tidak bisa melakukan hal lain selain bercocok tanam. Aku menyukai tanaman bunga.”  jawab ibunya

 

Joong Ki tersenyum, menampilkan kesan ramah.

 

”Anda sangat terampil. Tanaman Anda terlihat cantik dan terawat. Apakah ada niat untuk membuka toko bunga, Eommonie?”

 

Ibunya tertawa mendengar omongan itu.  Mereka terlihat akrab. Tidak terlihat jenjang sosial diantar ibunya dan Tuan Song yang terhormat ini. Apakah laki-laki ini sungguh sehebat itu.  Jiyeon tanpa sadar tersenyum, yang kemudian langsung mendapatkan perhatian Joong Ki.

 

”Kau manis sekali jika tersenyum seperti itu.” bisiknya dengan gaya coolnya. Eoh, ini pasti sudah gila, kenapa dia harus tersanjung di puji oleh seorang Joong Ki

 

 

”Aku sengaja menyembunyikan jaketmu karena aku berniat untuk mengantarnya sendiri ke sini. Aku masih ingin dekat-dekat denganmu. ”

 

Haruskah Jiyeon merasa senang.

 

Joong Ki merengkuh bahunya dan mengintimidasi nyalinya.

 

”TUan, jangan seperti ini, kita berada di mana sekarang?”

 

Pria itu mengangguk,

 

”Baiklah, kalau begitu besok kau harus segera menemuiku, karena aku sudah menjanjikanmu sebuah pekerjaan. Aku harap kau bisa tinggal bersamaku dan itu akan jauh lebih mudah bagiku untuk lebih dekat denganmu.”  jelasnya.

 

Jiyeon hanya menggigit bibirnya. Tinggal bersamanya. Apakah ini kedengarannya tidak terlalu berlebihan. Menjadi kekasihnya saja sudah bukan hal yang wajar baginya, dan kini laki-laki ini mengajaknya tinggal bersama.

 

”Terima kasih, Eommonie! Saya permisi sebentar. Lain kali saya akan datang lagi.”  pamitnya renyah berikut langkahnya yang segera menapak di luar pintu.

 

Jiyeon menghela nafas berkali-kali sampai ibunya itu menggeleng.

 

”Dia yang kau sebut sebagai Bossmu.”  sindirnya.  ”Dia tidak seperti Boss menurut Eomma.”

 

”Eomma, aku tidak ingin membahasnya.”

 

”Bagaimana dengan Heechul?”

 

Jiyeon mengendikkan bahunya. Sunbaenya itu akan pulang tahun ini. Jujur, di dalam hatinya, Jiyeon masih mencintai Heechul meski selama hubungan jarak jauh ini, sunbaenya itu jarang menghubunginya.

 

Langkahnya lesu dengan wajah cemberut kembali ke kamarnya, dan terbaring di sana berlama-lama.

 

.

.

.

 

 

Jadi pagi ini dia datang untuk menemui pria itu sesuai janjinya. Tapi kenapa harus di apartemennya lagi.

 

Suasana begitu sepi ketika dia datang, tapi kemudian pria itu  muncul sedang berbicara di ponselnya.

 

Wajahnya terlihat kesal.

 

”Tidak bisakah membatalkan semua itu? Aku tidak mungkin sudi menikahinya.”  Joong Ki melirik kehadiran Jiyeon dan mendekatinya, berdiri di depannya dan menatapnya lekat-lekat

 

”Aku sudah mempunyai kekasih, kami akan segera menikah secepatnya.”

 

Deg

 

Lutut Jiyeon mendadak gemetar mendengarnya. Kenapa dia harus menikah dengan laki-laki ini. Jiyeon berpaling dan mencoba untuk meninggalkan tempat ini, apapun resikonya, dia tidak akan melanjutkan semua ini. Kalaupun nanti Joong Ki akan mencarinya, maka dia akan terus menolaknya.

 

Kakinya hampir mencapai pintu lift yang menghubungkannya langsung dengan lantai dasar, tapi—

 

”Berhenti di situ, Park Jiyeon!”  bentak pria itu lepas. Suaranya menggema di penjuru ruangan ini, membuat Jiyeon terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh. Dia melihat tatapan itu seperti merongrongnya.

 

”Apa kau pikir aku main-main?”  ucapnya lagi.

 

Dia mendekat, kemudian mendekapnya erat.

 

”Aku tidak pernah main-main dengan omonganku terlebih dengan niatku, jadi mulai saat ini kau akan kuanggap sebagai calon istriku. Aku akan melamarmu secepatnya dan kau akan tinggal di sini bersamaku. Apa kau dengar itu.”

 

Jiyeon gemetar dalam pelukannya, lalu bagaimana dengan Heechul. Bagaimana jika kekasihnya itu kembali dari Amerika.

 

Dia berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan itu dengan sengit.

 

”Maafkan aku Tuan, aku harus pergi dari sini!”  mendadak pelukan itu mengendur, dan Jiyeon memanfaatkannya untuk segera berlari, tapi kemudian.

 

BRUGH

 

Dia menoleh dan melihat pria itu tergeletak di lantai tak sadarkan diri.

 

”Tuan Song!”

 

.

.

.

tbc

 

 

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. Nah!! Kalo song joong ki aku sukaaaa…. Chapter selanjutnya aku tunggu 😉

  2. indaah says:

    what jongki pingsan knapa? kok bisa
    joongki emg mau kasih kerja jiyeon apa??
    eomma jiyeon bner2 byk tnya yaa
    jiyeon ayolahh sama joongki aja hehe

  3. sookyung says:

    apa yg terjdi dg tn.song, knp tiba2 pingsan?

  4. Nana says:

    Kenapa dg tn song???. Aaa…. Pendek banget author, penasaran nih….

  5. May andriani says:

    Joongki bner” serius tuh sama jiyeon,, smpai dia ngerencanain nikah sma jiyeon, hmm tpi bukan krna terpaksa kn?? Joongki knp tuh pingsan?? Nextnya ditunggu..

  6. Latifa says:

    Mudah2an ibunya jiyi suka sama joongki…

  7. cia says:

    Terima aja deh jiyiii
    Ga bakal kuat nolak song joongkii

  8. anii says:

    Yakk itu knp joongki? Pura² ato betulan pingsan? Ada penyakit kh? Aigooo gregett yee,
    Next yaa

    1. mochaccino says:

      Iya silahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s