Maybe [Ficlet]


maybe-alana

Maybe

Park Jiyeon and Oh Sehun

 

 

 

 

 

Ketika aku masuk ke dalam kamarnya, dia masih berdiri di dekat jendela yang terbuka, menatap pada kegelapan malam yang pekat. Wajah itu tampak tenang, meski udara dingin itu menyerangnya dengan semena-mena. Bahunya sempat menggigil di balik pijama biru tuanya itu.

 

Kasihan

 

“Tuan, lebih baik jendelanya di tutup saja!”  ujarku menyarankan, karena aku tidak mau dia harus kedinginan seperti itu.

 

Aku memang memanggilnya dengan sebutan Tuan, meski usianya lebih muda dariku. Ini adalah peraturan di tempat ini, jadi aku hanya bisa mengikuti. Aku baru bekerja di rumah sakit ini sebulan lalu, dan merasa beruntung ketika aku langsung mendapatkan tugas untuk merawatnya.

 

Dia tidak bergeming.

 

Ruangan ini dan semua yang telah menjadi tempat tinggalnya hampir selama satu minggu ini, tampak sepi. Tempat tidurnya masih rapi, bahkan makan malamnya pun belum disentuh sama sekali. Apakah dia tidak lapar.

 

“Tuan Oh, kenapa Anda tidak makan?” Namanya Oh Sehun, seorang pemuda tampan berumur 23 tahun yang kerap membuatku bingung dengan tingkahnya, dia sebenarnya tampan, posturnya pun tinggi, dan sering membuat orang terkecoh dengan tatapannya.

 

Mungkin juga aku pun sering terkecoh, namun aku sadar siapa diriku di sini.

 

“Tuan, tidurlah! Ini sudah malam.”  Suruhku lagi.

 

“Aku tidak bisa tidur.” Sahutnya lirih.

 

Jantungku meloncat kaget mendengarnya.

 

Kedekati lagi posisi berdirinya, untuk melihat raut wajahnya, juga bahasa tubuhnya ketika mengatakan kalimat jawaban dari pertanyaan yang kuberikan sesaat lalu. Itu adalah suara pertamanya yang baru aku dengar dalam kurun waktu satu minggu ini.

 

Benarkah dia mampu menjawabnya.

 

“Tuan Oh, Anda menjawab pertanyaan saya.” Timpalku dengan nada keraguan.

 

Dia mengangguk dengan senyuman tipis. Sesuatu telah terjadi dengan dirinya. Itu yang aku yakini.

 

“Kenapa Anda tidak bisa tidur? Apakah ada sesuatu yang ingin Anda katakan pada saya, Tuan? Apakah Anda ingin bercerita mengenai permasalahan yang membuat Anda merasa sulit tidur?”

 

Aku berubah menjadi serius, karena kupikir aku harus menunjukkan perhatianku padanya.

 

 

Dia selalu bersikap diam dan tak bersahabat, cenderung  membuat semua teman-temanku menjadi panik jika dia sudah bertingkah. Tak ada yang bisa mendekatinya selain aku, dan untuk itulah hanya aku yang selalu memperhatikannya. Semua yang dia lakukan sejak membuka mata, hingga pada waktunya dia harus kembali tidur, adalah menjadi tanggung jawabku.

 

“Tidurlah, Tuan!” saranku lagi.

 

“Tidak bisa.” Jawabnya lagi, kali ini alisnya ikut melengkung untuk meyakinkanku.

 

“Apa kau ingin aku menyanyi untukmu, Tuan?”

 

Sehun menggeleng lemah. Aku mulai lega dia menunjukkan kemajuan, bisa berinteraksi denganku. Mungkin besok akan menjadi bahan laporan untukku, ini sangat bangus.

 

“Kalau begitu ceritakanlah padaku, apa yang membuat Anda tidak bisa tidur?”

 

Sehun menoleh.

 

“Setiap malam aku tidak pernah bisa memejamkan mata.” Jawabnya dengan gerak bola matanya yang lincah, tapi dia tetap berdiri di dekat jendela.

 

“Duduklah di sini, Tuan, dan tutuplah jendela itu!”

 

“Aku tidak bisa!” jawabnya lagi.

 

“Kenapa?” tanyaku bingung, karena kupikir apa susahnya menutup jendela itu dan duduk di sini bersamaku, untuk membicarakan sesuatu.

 

“Apa yang ingin dibicarakan?”  bibirnya menyungging seulas senyum. Dadaku bergetar, benarkah dia tersenyum atau ini hanya sebuah halusinasi dari reaksi kesenanganku yang berlebihan mengenai figurnya.

 

“Ya mungkin mengenai kenapa Anda tidak mau menutup jendela itu atau mungkin kenapa Anda tidak bisa tidur?”

 

Dagunya turun hingga sedikit menyamarkan bentuk jakunnya yang menonjol runcing.

 

“Aku tidak bisa menceritakan itu juga padamu, Nunna.” Ulasnya sambil kemudian memalingkan diri dari tatapanku dan membuatku harus puas dengan memandangi punggung sepinya lagi.

 

“Sehun!” panggilku tanpa embel-embel Tuan.  Dia menoleh langsung dan membenturkan pandangan dengan tatapanku. Mendadak aku pun seperti tersentak  dalam rasa kaget. Alam bawah sadarku menyebut nama itu tanpa keraguan.

 

“Kau tidak memanggilku dengan sebuatan Tuan.”

 

“Maaf, Saya lupa.”

 

“Apa kau sengaja atau kau ingin mempermainkanku?”  dia menuduhku. Ini sudah jelas, kalau dia sebenarnya waras. Dia bisa menuduhku!

 

“Jika kau memanggilku tanpa sebutan Tuan lagi, aku akan mengadukanmu pada atasanmu.” Ancamnya.

 

“Baiklah, Tuan! Maafkan saya.”

 

Aku berdiri dan berjalan ke arahnya.

 

Dengan sikap keras kepalanya itu, mungkin esok pun aku akan terkena masalah jika pasien ini mengalami hipotermia.

 

“Kau mau apa?” cegahnya ketika aku ingin menutup daun jendela itu

 

“Jangan di tutup!” hardiknya

 

“Anda bisa terkena hipotermia, Tuan.” Aku bersikeras menutupnya

 

Lalu dengan tangannya dia menyingkirkan tubuhku dari jendela. Tak bisa kumengerti dengan sikapnya itu. Wajahnya bersungut kesal dengan semua yang kulakukan.

 

“Jika kau menutup jendela itu, aku khawatir kau akan pergi dari kamar ini dan membuatku tidur.” Ujarnya dengan rasa gelisah

 

Eoh!

 

Apa maksudnya. Kenapa dia bisa mengatakan hal seperti itu. Apakah dia—

 

“Tuan?”

 

“Aku ingin kau terus merasa khawatir padaku, Nunna!

 

“Tuan, kau kenapa?”

 

“Kau yang kenapa Nunna.”  Dia melangkah ke arah kasurnya dan membaringkan tubuhnya, lalu mulai mengacuhkan keberadaanku. Ternyata sikapnya tak berubah, dia masih Sehun yang sama.

 

“Apakah aku bisa menutup jendelanya, Tuan. Bukankah kau akan tidur?”  tanyaku menegaskan

 

Dia tidak menjawab, jadi kuputuskan untuk menutupnya. Ternyata dia tidak menoleh dan tetap meringkuk di atas kasurnya. Kudekati dia dan menarik selimut untuknya. Matanya masih terbuka, tapi enggan menatapku lagi.

 

“Selamat malam, Tuan!”  bisikku lirih.

 

“Mungkin aku bisa menemukan dirimu yang dulu di dalam mimpiku, Nunna.”  Ujarnya ketika memejamkan mata.

 

 

“Apa Tuan?”  tanyaku bingung. Apa yang bisa dia temukan di dalam mimpinya.

 

Diriku yang dulu.

 

Otakku seperti sedang bekerja ganda memikirkan setiap kalimat yang tercetus dari mulutnya sejak lima menit yang lalu, tapi sepertinya aku hanya terbentur pada sebuah dinding yang tinggi.

 

Dinding yang begitu menghalangi,

 

Punggung itu—

 

Kenapa ketika aku menatap punggungnya, aku seperti melihat kehidupanku yang pernah ada di dalam kehidupannya.

 

Berkali-kali aku ingin menggali semua itu, tapi nyatanya keping-keping kenangan itu tak pernah aku temui lagi dalam kehidupanku yang mungkin pernah  berada di dalam kehidupannya.

 

Mungkin—

 

 

.

.

.

 

fin

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. indaah says:

    hah apaann ,
    bener2 gk nanggung ya ficlet nya baru aja mau nyambung dg crita nya ehh malah d bawahh
    mungkin ….
    bikin mood lgsng brubah wkwk

    1. mochaccino says:

      mianhae, nanti akan aku kasih cerit a lengkapnya ini memang hanya sekedar iseng, bukan maksud menipu.membeli kucing dalam karung… halah apa ini, bener ini aku lagi error, ntar aku lanjut deh hik hik jangan dimarahin dong akunya

  2. minew says:

    fin ?????
    kykx slah ktik tuh, hrusx tbc…
    kn blm jlas apa hbgan mreka sbnrx…
    dtggu sequelx

  3. amliaofficial says:

    pendek sekali :(( syng bgt gk panjang, msh banyak pertanyaan nih chingu

  4. nova says:

    Ahhhhh kok tiba2 ceritanya tamat.. author jeballlll buat sequelnya dong.. penasarannnn kelanjutannya

    1. mochaccino says:

      mianhae, suatu hari nanti akan aku kasih cerita lengkapnya, ini emang lagi error pen bkin beginian. ada lagi di blogspot, aku bikin Hunji comedy Love Sky judulnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s