More And More [Part-11]


Jiyeon-and-leaf1

More & More 11

Wu Yifan

Park Jiyeon

Support Cast

Kim Seok Jin [ BTS ]

Seo Kahi [ OC ]

Romance/ Angst

PG

Chapter

.

.

.

Pintunya diketuk tiga kali, begitu menggema, membuat jantungnya  seakan melompat dari tempatnya. Kemudian terduduk dengan gugup ketika pintu itu terbuka. Dia tahu malam ini adalah malam pertamanya dengan suaminya, tapi entah kenapa—

 

Yifan masuk dengan sebuah senyuman lembut. Oh tidak! Apakah dia akan meminta Jiyeon untuk melakukan tugasnya di malam pertama ini. Gadis itu meremas jemari dan melirik sebentar, sebelum fokus pada sesuatu yang tak jelas di depannya.

 

”Kenapa kau gugup?”

”Yifan,…a…a…n”  sahutnya

 

Pria itu tampak geli, namun tidak menganggap itu hal lucu. Dia hembuskan nafasnya dengan sekali gelengan kepala, dan cukup mengerti kalau Jiyeon gugup.  Benar-benar gugup hingga tubuhnya gemetar.

 

”Aku hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saja?”  bisiknya, menyusul duduk di sebelahnya.

 

”Aku baik.” Jiyeon menunduk. ”Eum…jangan mendekat!”

 

”Kenapa? Kau sekarang istriku,  milikku, aku mempunyai hak atas dirimu, ..ehm…tubuhmu.”  godanya.

 

”Aku belum siap.”

 

”Hhh… tidak perlu siap untuk melakukan hal itu, kau cukup memasrahkan diri dan aku akan menanganinya.”  sekali lagi Yifan mengulas senyum demi melihat rona itu membayang di wajah wanita cantik ini. ”Bagaimana?” senggolnya menggoda.

 

”Yifan!” pekiknya kaget

”Kenapa kau harus gugup sekali, lihatlah tanganmu begitu dingin seperti ini. Ini tidak akan mengerikan, kau pasti tahu. Bukankah kau selalu membuat novel bertemakan romance, aku baca sebagian, di dalam novelmu itu ada adegan yang cukup seru mengenai sebuah percintaan.”  Yifan mengintip di wajah itu.  ”Kau tahu dari mana tentang hal itu? Apa kau sudah pernah melakukannya?” semakin gencar menggoda.

 

”Hetikan, Tuan Wu! Kau membuatku kesal. Aku punya cara sendiri untuk tau masalah itu!”

 

”Tck! Berarti kau memang tau, kan!”

 

”Tapi aku belum mau melakukannya, beri aku waktu—”

 

”Walau aku memohon pun kau belum mau memberikannya sekarang?”

 

Jiyeon menggeleng.

 

”Agh, padahal aku sudah mempersiapkan diri sejak tadi.”

 

”Maaf!”  lirih Jiyeon

 

”Hm, baiklah aku tidak menuntutmu sekarang.”

 

”Agh— kau  mengerti?”

 

Pria itu mengangguk

 

”Tidurlah, ada sesuatu yang harus aku urus dulu malam ini.”

 

”Kau akan pergi?”

 

”Hanya sebentar.”

 

”Yifan!”  panggilnya lirih, mereka saling menatap sebentar. Kenapa rasanya masih aneh—asing.

 

”Kenapa?” Yifan mendekat

 

”Sampai kapan kita akan berada di sini?”

 

Pria berpostur tinggi ini menekur dengan sedikit menghela nafas. Dia pun tak tahu sampai kapan mereka akan berada di sini, karena jujur, dia sendiri sudah harus kembali dan menjalani pekerjaan yang terbengkalai, pun ketika Ny. Park sudah menghubunginya sejak kemarin, hanya saja Yifan masih belum ingin angkat bicara mengenai Jiyeon.

 

Wanita itu pasti tidak akan keberatan putrinya menikah dengannya.

 

”Aku tidak bisa memastikan, tapi yang jelas di manapun ke manapun aku berada kau tetap bersamaku, karena kau sekarang adalah istriku. statusmu sekarang adalah sebagai Ny. Wu.”

 

Jiyeon menunduk, pria ini benar-benar pemaksa. Seharusnya dia bahagia. Tapi apakah semudah ini untuk merasakan kebahagiaan.

 

”Kenapa? Kau tidak suka menjadi Ny. Wu?”

 

”Apa aku punya pilihan suka atau tidak suka?”

 

Yifan menekuni wajah itu dan mencari kepastian dari tatapan mata yang masih diliputi kekalutan. Rasa ini begitu nyata, namun entah kenapa di dalam benak seorang Jiyeon kini masih merasakan kegelisahan.

 

”Aku akan memastikan semua ini akan baik-baik saja.” ujarnya dengan suara yang begitu merdu.

 

”Oh Yifan, aku sudah mengkhianati Jin, dan juga Kahi. Mereka—”

 

”Aku tahu, tapi aku sudah mengatakan padamu, bahwa aku yang akan bertanggung jawab. Kau dengar itu!”

 

Jiyeon mengangguk lemah, dengan bayang-bayang senyuman seorang Yifan yang mencoba memberi ketenangan untuknya.  Pria itu mendekat, memberikan bibirnya, menyentuh hangat, menekan.  Reflek Jiyeon menahan nafas dan mencengkram lengan suaminya, dan merasakan deru nafas itu menghangat itu di wajahnya.  Pria ini adalah suaminya saat ini, dan dengan kesadarannya dia mungkin akan menerima semua perlakuan khusus yang seharusnya terjadi malam ini, hanya saja—

 

Yifan melepaskannya, dan membuat detak jantung Jiyeon menanggung rasa kehilangan ketika bibir itu menjauh. Senyuman Yifan kembali mencandai.

 

”Are you okay?”

 

Paras malu Jiyeon tak bisa menanggung semua itu, dia berpaling begitu saja, dan membiarkan Yifan menyimaknya.

 

”Aku harus pergi sebentar, kau tidak apa-apa sendiri?”

 

”Aku akan baik-baik saja.”

 

Setelah mengangguk, pria itu berjalan dengan langkah tegapnya. Jiyeon hanya menekuni punggung itu yang kemudian menghilang di balik pintu.

 

Kini dia sendirian di sini, apa yang harus dia lakukan di malam pertama pernikahannya dengan Yifan ini. Kenapa ironis sekali kelihatannya. Seharusnya mereka bisa melepaskan semua rasa ini dengan bebas, tapi kenyataannya, pernikahan ini masih belum bisa membuat hatinya tenang.

 

.

.

.

 

 

Ajussi, maafkan aku malam ini aku sedikit memanfaatkanmu, Ara!”  Chorong melepaskan pakaian Jin dan membuatnya telanjang. Gadis manja itu sedikit malu ketika melihat tubuh Jin telanjang di depan matanya. Ini pertama kalinya dia melihat fenomena ganjil semacam ini.

 

 

”Ini semua karena eomma, tidak mengijinkan terlalu sibuk dengan urusannya, dia mengabaikan aku. Sekarang aku akan membuat Eomma melihat ke arahku!” Lalu dia pun melakukan hal yang sama pada dirinya, membuat tubuhnya sendiri telanjang dan berada dalam pelukan Jin yang terlihat payah.

 

”Eoh… Jiyeon, benarkah ini malam pengantin kita, Sayang?”  tangan Jin memeluk tubuh Chorong.

 

”Persetn dengan Jiyeon, Ajussi. Kau sungguh tampan, ayo kita berfoto dulu!”  gadis itu mengambil posisi seerotis mungkin bersama pria ini, dan mengirimkannya pada ibunya. ”Ya, biar dia mengerti, bahwa aku bisa mencari kesenanganku sendiri.”  dilirknya Jin yang masih tenggelam di dalam ceruk lehernya.

 

Ajussi,  kau ingin malam pertama?”

 

”Ya Jiyeon… aku ingin dirimu.”  bisiknya yang kemudian langsung menerkam Chorong dan bergumul dengannya. Gadis manja itu merasa senang dirinya mendapatkan sentuhan dan pelukan dari pria yang menurutnya asing. Meski dia akui, ajussi ini tampan. Mereka saling mendesah dan berbagi sentuhan sampai pada akhirnya Chorong bisa merasakan kejantanan Jin memasukinya, memacunya dan membuat semua desahannya berserakan di mana-mana.  Pria mabuk ini sanggup membuatnya merasa senang  malam ini, meski dia tahu semua ini mungkin akan disesalinya esok.

 

 

.

.

.

 

 

”Oh Tuhan, apa yang dilakukan Chorong dengan calon suami Jiyeon? Kenapa mereka saling mengenal dan berfoto seperti ini?”  wanita itu menahan histerisnya ketika melihat putrid keduanya itu mengiriminya foto yang tak pantas semacam itu.

 

”Ada apa?”  tanya suaminya yang mendadak muncul di sampingnya. Wanita itu segera menyimpan ponselnya.

 

”Agh, tidak ada apa-apa. Hanya berita dari teman.” jawabnya berbohong. ”Kau sudah merasa lebih baik?”

 

”Masih sedikit lelah. Aku terpaksa pulang, karena kau selalu sibuk sendiri. Sebenarnya apa yang kau kerjakan belakangan ini sampai meninggalkanku sendiri di New York.”

 

”Aku ada janji dengan temanku.” jawabnya berbohong

 

”Di mana Chorong? Kenapa malam ini dia tidak pulang?”

 

”Eoh, tadi dia mengirim pesan, katanya menginap di rumah Hani.”

 

”Aku membelikan dia oleh-oleh banyak.”

 

Istrinya itu hanya mengulum senyum. Apakah suaminya ini masih mengingat mengenai putrinya yang lain, yang telah dia buang? Demi Tuhan, dia tidak sanggup untuk menanyakannya. Kasihan Jiyeon, pernikahannya batal, dan sekarang dia sendiri bersama dengan Yifan.

 

Kenapa Yifan menculiknya. Apakah dia benar-benar mencintai putrinya itu.

 

”Aku mau tidur dulu!”  laki-laki berwatak keras itu berjalan ke kamarnya, meninggalkan istrinya yang masih duduk menonton acara teve.

 

”Kau tidak tidur?”

 

”Nanti. Aku ingin menelepon Chorong dulu.”

 

Setelah suaminya berlalu, dia segera menghubungi ponsel putrinya itu tapi memang sudah di nonaktifkan. Gadis itu memang benar-benar manja. Kenapa dia berbeda dengan JIyeon yang begitu mandiri dan berdedikasi.

 

Kemudian seperti halnya kemarin, dia tidak lupa untuk menghubungi Yifan. Di mana dia menyembunyikan Jiyeon, dan kenapa harus melakukan itu.

 

Mereka tersambung, syukurlah. Wanita itu berjalan masuk ke dalam ruang kerja suaminya dan mengunci diri di sana. Semua pembicaraan ini tidak boleh didengar oleh siapapun.

 

”Yifan!” Sapanya

 

”Ya, saya tahu kenapa Anda menghubungi saya, Nyonya Park.”

”Kenapa kau melakukan ini pada anakku?”

Terdengar helaan nafas

”Maafkan saya Nyonya—”

”Di mana dia?”

”Di ruma kami.”

”Kami? Apa maksudmu, Yifan?”

”Nyonya, kami sudah menikah.”

”APA?!”

”Kami baru saja menikah.”

”Apa alasanmu melakukan ini? Apa kalian memang sengaja membuat keributan ini?”

Wanita ini terlihat gusar, meski dia tidak membenci Yifan, tapi dia merasa apa yang sudah dilakukan Yifan ini sangat tidak bertanggungjawab dan membuat posisi Jiyeon menjadi sulit.

”Katakan di mana kalian?”

”Maafkan saya, tapi untuk saat ini kami sedang tidak ingin di ganggu. Aku dan Jiyeon masih menjalani masa bulan madu kami.”

”Kalian menikah tanpa restuku, apa kau pikir kau bisa hidup tenang dengan melakukan hal itu?”

Yifan terdiam,

”Yifan!” hardik Ny. Park sedikit keras, tapi dia menoleh ke arah pintu, khawatir kegiatannya ini mengundang curiga suaminya

”Tolong restuilah kami, Eommonie!” pinta Yifan.

”Aku ingin bicara dengannya.”

”Saya sedang berada di luar saat ini, mungkin setengah jam lagi nanti saya akan menghubungi Anda lagi.”

Eoh, jam berapa ini. Wanita ini tidak bisa berlama-lama meninggalkan suaminya. Jika harus menunggu setengah jam lagi, suaminya itu akan segera menyusulnya ke sini.

”Besok saja! Kumohon, jagalah Jiyeonku. Aku tidak mau kau menyakitinya! Kau dengar itu, WU YIFAN!”

”Jangan khawatir, Eommonie, aku akan segera membawa Jiyeon pada Anda untuk meminta restu.”

 

Dengan mata terpejam, dia memutus sambungan. Eoh, apa ini? Kenapa menjadi seperti ini. Benarkah Yifan nekad melakukan itu. Kenapa? Untuk alasan apa dia membuat Jiyeon menjadi seperti ini. Apa yang sudah dia rencanakan.

 

.

.

.

 

Jin terbangun dengan seluruh persendiannya lolos. Rasa lelah memaksanya untuk tetap terbaring.  Tatapannya menerawang pada langit-langit ruangan yang— asing?

 

Ditolehnya ke sebelah kirinya, pada tubuh yang masih memeluk lengannya. Siapa dia? ”YAK!” bentaknya dengan ragu. Ingin mendorongnya, tapi sebelah tangannya tengah tertindih— di mana? Di mana tangan kirinya. Apakah semalam dia membawa gadis ini ke sini? Pelacurkah? Bagaimana jika Jin yang telah memaksa yeoja ini ke sini dan  melayaninya. Astaga! Kelihatannya dia masih anak-anak.  Oh Tuhan!

 

Ngggh, Ajussi— kau mau lagi?”  gumamnya, dan membuat Jin harus terpaku.  Mau lagi? Pertanyaan macam apa itu? Sudah berapa kali mereka melakukan semalaman ini.  Di mana tangannya? Eoh! ”Yak, lepaskan tanganku!”  dia tidak mempercayai ini, bahkan tangannya sendiri masih berada di celah paha yeoja ini. Apa yang terjadi?  Jin segera menariknya dari dalam kehangatan itu.

 

”Katakan kau siapa?”  dia berusaha  membangunkan Chorong sambil mengenakan pakaiannya lagi. Demi Tuhan, semalam dia tidak mengingat apapun.

 

Ajussi!”  Chorong membuka mata, menguceknya pelan dan  menatap pria yang sudah lengkap berpakaian itu dengan senyum konyol.  ”Kau tidak ingat aku, Ajussi?”

 

”Kau siapa?”

”Aku Chorong,  kita pernah bertemu di rumah sakit, saat ayahku dicelakai oleh pacarmu!”

”Di rumah sakit?”

 

Chorong mengangguk dan mencari bajunya sendiri

 

”Kau putri TuanPArk?” Jin baru mengingatnya

”Betul.” sahutnya tenang

”Yang mencelakai ayahmu bukan pacarku?”

”Ah bukan?” Chorong merengut , agh iya,  perempuan yang sudah mencelakai ayahnya itu adalah kekasih Yifan, laki-laki yang sudah menolaknya mentah-mentah. SIALAN!

”Aku tidak harus menjelaskan padamu, tapi kau harus menjelaskan padaku kenapa aku bisa berada di sini?”

Eoh, aku yang membawamu ke sini Ajussi. Semalam kau begitu mabuk, dan—”

”Dan apa? Apakah kita benar-benar melakukan ini, atau kau hanya ingin mencari masalah denganku dan memenjarakan aku karena memperkosamu?”

 

Chorong tertawa, sambil berjalan dengan celana dalam dan t-shirtnya. GLUP!

 

Jin harus menelan ludahnya dengan menyaksikan semua itu dia hadapi dengan kesadarannya. Gadis ini sedang berbuat apa padanya.

 

Ajussi, apa kau tidak ingin mandi?”  Chorong mempermainkan rambutnya di depan pintu kamar mandi, melilit-lilitkan di jari telunjuknya, dengan senyuman manggoda.  Pria yang sedang dihadapinya hanya menjatuhkan bahu dengan pemikiran gilanya. Seorang  bocah perempuan menggoda dan memancing hasratya. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan hal semacam ini dari Jiyeon. Ya, Jiyeon memang kelewat dingin, sehingga sampai beberapa tahun mereka bersama, Jin tidak pernah melihat Jiyeon melakukan hal semacam itu. Meski sebenarnya dia ingin melakukannya. Dia ingin menyentuhnya, mencumbunya dan bercinta dengannya—

 

Bahkan semua keinginan itu harus lenyap, setelah pernikahan mereka gagal. Yifan telah menculiknya, dan menghancurkan semua mimpinya.

 

Ajussi, aku tidak mau mandi sendirian!”  ajaknya manja.

”Eoh?”  Jin merona

 

Mendadak jiwanya seperti sedang di penuhi oleh perasaan melambung.

 

Ajussi~ aku menunggumu!”

”Jangan memanggilku Ajussi! Siapa namamu sebenarnya.”

”Namaku Chorong, Oppa!

 

Jin melangkah mendekati gadis yang sedang tersenyum senang. Ternyata dalam kondisi tidak mabuk, Jin terlihat lebih tampan dan dewasa.

 

”Kau tampan sekali Oppa, maukan kau menjadi pacarku?”

”Berapa umurmu?”

”Kenapa menanyakan umur? Apa aku tidak pantas menjadi pacarmu?”

 

Jin mematung di depan gadis itu, yang sudah mengalungkan lengan di lehernya dan mencandai dengan tatap matanya yang sendu. Jin tergoda, dia merasa hasratnya naik ketika dengan sengaja, Chorong menurunkan tangannya dan menyentuhi miliknya.

 

”Kita bicarakan itu setelah kita mandi.”   bisiknya sebelum Jin menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi.

 

.

.

.

 

Hari ke tiga setelah pernikahan itu, Yifan mengajak Jiyeon ke sebuah pantai. Hanya saja, memang saat ini sudah terlanjur sore. Seharian ini Yifan sibuk dengan beberapa pekerjaannya, dan sedikit mengabaikan Jiyeon. Dia ingin menebusnya dengan mengajaknya melepas kejenuhan.

 

Mereka hanya berdua, dan pria itu terlihat sedang menggendong Jiyeon di punggungnya ketika menapaki pasir-pasir di bibir pantai. Tak ada yang mereka bicarakan, hanya diam menikmati angin-angin yang  berhembus menerpa tubuh yang sedang merasakan sebuah gairah.

 

Jiyeon masih belum bisa memperlihatkan semua itu, hatinya masih malu untuk mengakui bahwa dia berharap Yifan bersikap mesra untuknya. Sifat pendiamnya ini selalu membuat masalah, bahkan saat bersama Jin pun dia tidak pernah berani untuk menunjukkan apapun. Datar dan dingin.

 

Pria yang tengah menggendongnya ini menoleh saat Jiyeon menyandarkan kepala di bahunya. ”Kau lelah?” tanyanya

 

”Tidak, kau mungkin yang lelah. Turunkan aku!” suruhnya, sambil melihat matahari yang hampir tenggelam di batas laut. Warnanya begitu cantik, menyepuh semua permukaan air menjadi serupa dengannya.

 

Yifan menurunkannya, namun kemudian menyekapnya dalam pelukan. Dia meninggalkan tongkat yang bisa Jiyeon gunakan untuk berjalan di mobil. ”Duduklah! Kita melihat Sunset.”

 

Pada pasir itu, Jiyeon menempatkan diri.

 

”Besok kita kembali ke Seoul?” ujarnya

”Hh?” Jiyeon tak terlalu jelas, karena suara ombak itu begitu menderu saat terpecah di depannya.  ”Kau bilang apa?”

Yifan mendekat, melebarkan kaki Jiyeon dan bersimpuh di depannya, ”Besok kita pulang ke Seoul.” ujarnya , tatapannya begitu dalam dan meluluhkan hati wanita di depannya.

”Aku tahu kau sibuk, jadi baiklah kita pulang, tapi—” Jiyeon hanya berpikir, akan di mana dirinya kini.

”Kau memikirkan apa?”

”Hm, apakah aku akan tinggal di rumahmu?”

”Ya, kenapa?”

”Apakah Kahi—

Pria itu menggeleng,  dan menarik tubuhnya dari hadapan Jiyeon, kemudian duduk di sisinya. Dia memang tidak bisa dikatakan laki-laki yang baik. Memikirkan tentang Kahi yang telah dibuatnya gila itu, apakah dia pantas untuk disebut sebagai seorang pria.

 

Paman Wang sudah membawanya kesebuah tempat rehabilitasi yang letaknya agak jauh dari Seoul. Yifan menjadi laki-laki paling jahat untuk seorang Kahi yang selama ini sudah begitu banyak menolongnya.

 

Jiyeon mengusap punggung itu, dan mencoba mengerti. Dia tidak bisa menghakimi seorang Yifan dengan semena-mena. Bukan karena dirinya merasa diuntungkan dengan kisah ini, bukan. Jiyeon hanya merasa kebersamaan ini masih belum bisa membuat mereka bahagia sepenuhnya. Itu saja.

 

Yifan menumpangkan kepalanya di bahu rapuh Jiyeon dan menenangkan hatinya. Demi wanita ini,  dia rela melakukan semua ini, membuat masalah dan menghancurkan harapan semua orang.

 

Disematkan jemarinya diantara jemari Jiyeon dan meremasnya. Sekali lagi mereka tidak berkata-kata, dan menyimak tenggelamnya mentari dengan banyak permenungan.

 

”Ayo pulang!” ajaknya kemudian, sambil menekuni wajah Jiyeon dari samping. Istrinya itu tidak berani menoleh, dia cukup gugup jika Yifan mulai mengintimidasinya seperti itu.

 

”Let’s go home!” ajaknya lembut, lebih kepada desahan. Jiyeon mengangkat bahunya untuk menghalau rasa geli karena tiupan Yifan di kupingnya.

 

”Ayo~” ajaknya lagi.

 

Jiyeon menunduk sebentar, yah… mungkin memang sebaiknya mereka kembali. Disenyuminya sikap kekanak-kanakan Yifan yang sepertinya sedang mencoba untuk merayunya. Sudah tiga hari sejak hari pernikahan itu, dia belum mengijinkan Yifan menyentuhnya—

 

Ya, tiga hari, haruskah menjadi empat hari, atau mungkin…

 

Pria itu menelusup di ceruk lehernya dan mengendus keharuman kulitnya, dia mabuk sebentar dan tanpa sadar mengecup, kemudian menggigitnya— gemas.

 

Jiyeon menepuk lengan kokoh itu, ”Ayo kita pulang saja!”  rintihnya sembari menghindar.

 

Sorot mata berbinar ditunjukkan Yifan berikut sebuah cengiran,

 

Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di dalam kamar. Mungkin karena memang dia tidak berani untuk melakukan hal itu tanpa seijin Jiyeon, sehingga dengan sikap canggungnya dia hanya duduk di pinggir kasur, menatap Jiyeon yang sedang melepas jaketnya.

 

Jiyeon menoleh setelah dia menggantungkan jaketnya di dalam lemari. Wajah itu sungguh menggemaskan, pikirnya. Bayangan seorang Yifan yang dulu begitu gencar menyerangnya di berbagai kondisi baik dengan kata-kata dan sikapnya itu kini terlihat seperti bocah lima tahun yang sedang menerima hukuman dari ibunya.

 

Apakah dia menanti sampai Jiyeon mengatakan ’iya’.

 

Untuk beberapa detik dia hanya bersandar di pintu lemari, menatap suaminya yang duduk dengan tubuhnya yang condong ke beakang bertumpu dengan dua tangannya di atas kasur. Matanya mengawasi Jiyeon lekat-lekat.

 

”Apa yang kau lakukan di situ?” tanyanya

”Berpikir.” jawab Jiyeon

”Lebih baik kau berpikir di sini saja. Aku akan membantumu berpikir!”

 

Jiyeon menunduk sembari memasang senyum konyol, tapi Jiyeon menurut dan mendekat ke arah suaminya.

 

Yifan menyambutnya, memegang tongkatnya, dan meletakkannya agak jauh, kemudian membantu Jiyeon duduk, mereka bersisian. Demi Tuhan, Jiyeon merasa ini sangat menggelikan.

 

”Apa yang kau pikirkan?”  tangan Yifan menyibak helai rambut Jiyeon yang menutupi wajah cantik itu, kemudian mengecup pelipisnya.

”Memikirkanmu.”

Suaminya mengangguk, ”Baguslah kau mulai memikirkanku. Mengenai apa?”

”Mengenai besok, bukankah kita akan kembali ke Seoul.”

”Ya, kita sudah sepakat, besok kita akan pulang dari pelarian kita.”

”Hhh… kau yang menculikku, Yifan.”

”Bukankah penculikan ini menuai hasil. Katakan kau suka aku  menculikmu. Ini kedengarannya seperti sebuah adventure untuk perjalanan cinta kita.”

Jiyeon terkekeh, tapi gelak tawanya itu tak berlanjut lama karena medadak kehangatan itu menyapa bibirnya. Gerakannya terlalu cepat sampai Jiyeon tak bisa menebak apalagi menghindar. Tubuhnya di bimbing untuk terbaring dengan posisi yang sangat  menguntungkan bagi Yifan. Apakah ini akan menjadi malam pertama bagi mereka. Benar-benar malam pertama?

.

.

.

 

TBC

 

Note.

Mianhae, aku lagi belum mood bikin malam pertama mereka… takut ga ngefeel, jadinya aku pending aja… next chapter ya…

Apa yang akan terjadi setelah mereka menikah?

Apa Jin ga bakal gangguin Jiyeon lagi ya, setelah dia tahu, kalau Jiyeon itu kakaknya Chorong dst…

Dan lagi Chorong, apa ga bakalan gondog kalau tau Yifan nikahin cewe yang ternyata kakaknya…

Duet ’Chorong Jin’ nih keknya sesuatu deh…

 

 

 

 

 

 

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. Edc says:

    Wahhh q komen prtma..prok2,,hehe

    g tw deh mo komen ap, bru bca chap ini.. Hehe biasa reader bru telat gbung.. Hehe”…

    Bca part ini kok rsany nano nano..
    Ooh jd jy itu diculik yfn wktu nikh..trs jinny mlah kna prngkp chorong.. Haha itu jin shockny lucu..JIN mah diksih ikn asin aplgi ikn asiny kyk corong mah ok” aj..
    Issh ini crt kok kompleks bngt sih dri kluarga,cinta ah lngkp deh.. Pngenny jin chorong g gngu mrk, trs mslh kluarga jg cpt slesai.. Dan mrk always happy end..
    Q agak aneh sih bca ff yg sad” romance soalny q pnggmar rom-com hehe..tpi krn q pnsrn pke bngt q bca deh?? Trs wktu bca ff ini cuacany lgi mndung mkin nano nano q ny..
    FIGHTING & see you kak lanaaaaaaa

  2. Dean Jannine says:

    Entah kenapa aku malah suka sama Chorong-Jin moment dipart ini hehehe.. Tapi walau begitu berharap banget Chorong-Jin gak gangguin Krisyeon deh sama Kahi jga y walaupun kesan nya jahat gpp yah sekali-kali ini kebaikan semua orang walau bakal ada yg tersakiti..
    Semangat y kak lanaa next nya

  3. owwww-ooohhh… jgn bilang ntar jin n chorong berkolaborasi bwt ngancurin hubungan jiyeon-yifan,, duh jgn please,, setauku jin kan baik,,..
    n chorong, oh ya ampun dia ini kelewat polos apa kelewat manja apa kelewat murahan sih? bisa2nya dia memperkosa (?) org yg baru dikenalnya beberapa hari, oh please deh… kmu itu kan permpuan.. mangnya kagak sayang kehilangan keperawananmu dimasa sma… jauh bgt ma jiyeon yg begitu tegar, kuat n mandiri… bahkan jiyeonpun msh malu bwt nglakuin malam pertamanya ma suaminya… ah.. jdi inget jiyeon yg udah siap bwt di-anu’in ma yifan dimalem ke3nya… wah part selanjutnya siap2 full Nc nih

  4. sookyung says:

    bagus dehh choron melakukan hal ceroboh dg tdr brsm jin, se egaknya nanti yifan/Jiyeon ada alasan buat ngejawab klo klo jin nantinya bertnya knp yifan membawa lari Jiyeon ^^

  5. rasma says:

    omg krisyeon keduluan sama chorong jin .haaa bagus lah setidak nya chorong ga bakal ganggu krisyeon ” semoga” jiyeon masih malu” hiii tapi semoga tar malam pertama nya lebih hot dari jin chorobg.

  6. Lusti says:

    Ahahaha.
    Semga jiyeon ngelakuin mlam pertma ma yifan dan smg dia bhagia.
    Oiya thor bkin appa nya jiyeon menyesal si krn udh buang jiyeon biar tw rasa.
    Kan ksian jiyeonnya cma krn dia egois.
    Ayo thor lanjut nant ksh moment yifan sma jiyeon sweet bgt ya thor dtnggu klnjtny

  7. May andriani says:

    Jin pasti marah klu kris sma jiyeon udh nikah,, moga gk ada yg ganggu krisyeon,, oia nasip kahi gmn tuh?? Next…

  8. AriePJY says:

    Akhirnya mrk menikah,jin terima aja cintanya chorong jgn ganggu lagi hbngn yifan ma jiyeon,dan smga yifan jg dpt restu dr eommanya jiyeon.jd pnsrn kira2 jd gak ya mrk melakukan mlm pertamanya???? Ini saat yg png di tunggu tunggu 😁

  9. AL says:

    Next chapter ^.^ FIGHTING !!!

  10. kwonjiyeon says:

    aduh chorong berani bngetcm untuk cari perhatian dr ibunya jdi……ingat aku selalu cb cri perhatian bokp nyatanyanya …..

  11. risna says:

    Baru kali ini ada penculikan yg bikin seneng. Semoga jiyeon cepet menyadari perasaannya ke Yifan. Seru liat Kris-Jiyeon, deg2an juga pas mereka mau balik lg ke Seoul. Apa yg akan terjadi?

  12. inanova says:

    Wuahh yifan semoga malam pertamanya sukses ya.. jin malam pertamanya bersama chorong

  13. iineey says:

    Kyk nya aku dah baca part ini tp aku lupa udh komen apa blm.. Apa komen di blog ya???
    Duhhh saya lupa… Maapkeun ya heheheee

    Ini hub krisyeon bikin gregetan ya
    Antara mau tp malu gt jiyeonnya kkk

    1. mochaccino says:

      Sayajg lupa. Tapi makasih masih mau komen sampe skr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s