BIG GIRL [Part-5] End


 

BIG GIRL  5

By. Mochaccino

Main Cast || Park Chanyeol and Park Jiyeon

Support Cast ||  EXO member

Genre || Teen-schoollife/ Angst / Absurd

Length ||  Chaptered-end

Rated ||  PG – 15

Disclaimer ||  I own Nothing but story

Ndak suka, jangan baca! Gampang toh!

 .

.

 

 

 

 

Aku mungkin menghitung hari, yang setiap hari berjalan seperti tak penah bisa berhenti.  Dari waktu ke waktu, hanya bisa menahan diri. Eomma sudah tidak banyak menasehatiku dengan berbagai petuah kolotnya mengenai ini dan itu dan sebagainya yang membuat jiwa mudaku seperti sekarat.

 

Aku sudah cukup mengerti, dan kupikir apa yang sudah terjadi ini, menjadi bahan permenunganku yang harus kusimpan dan kutelaah. Jiyeon dan aku memang seharusnya dipisahkan. Begitulah yang wanita itu katakan. Tapi aku harus bertemu dulu dengannya dan memastikan bahwa dia dalam kondisi yang baik, kalaupun tidak baik, aku berharap bisa memperbaikinya.

 

Mereka terlalu berlebihan menyikapi semua ini, mambuatku sedikit muak.

 

Sudah berlalu satu bulan dan ini terlalu lama. Apakah aku boleh gila. Terkadang ini membuatku marah, down dan gelisah. Kenapa kami harus saudara kembar. Ini terlalu tragedi untukku. Tidak bisakah kami ini adalah bayi yang tertukar di rumah sakit, atau apapun itu—

 

Aku berharap sekali hal itu menjadi nyata

 

Benar-benar susah—

 

Bahkan untuk menghubunginya saja, aku belum diijinkan, dengan alasan bahwa aku hanya akan mengganggunya saja. Mengganggu seperti apa, memangnya selama ini siapa yang mengganggu siapa… Perpisahan dengan  Jiyeon ini membuat jiwaku mengering.

 

Ini bukan masalah menunggu kepastian, atau menanti sebuah hari yang mereka ijinkan agar kami bisa bertemu, tapi aku benar-benar merindukannya.

 

Rindu,

 

taukah mereka arti kata rindu itu. Pasti tabu untuk di artikan.

 

Aku ingin tahu apa yang terjadi dengannya.

 

Jika perkiraanku benar, bahwa dia sudah mengalami sebuah perkosaan, maka aku sudah sepantasnya diberi tahu, bukan justru mempersulit batinku dengan tidak memberi secuil kabar apapun mengenai keadaannya.

 

Jungsu Hyung pun terlihat diam saat dia kuhubungi. Apakah aku harus ke sana dan menanyakannya langsung.

 

“Kau tahu, perampokan itu bukan semata-mata sebuah perampokan biasa.”  Mendadak Appa mengatakannya sambil membaca sebuah majalah religi dengan kacamata Appa  yang menambah penampilannya terlihat semakin tua. Dia memang tua, tapi tetap terlihat fit dan bugar. Apa yang dikatakannya, jelas  membuat wajahku segar dan benderang, nyatanya tanpa aku minta akhirnya ada juga yang ingin mengutarakannya.

 

 

Yeah, aku pun tahu kalau itu bukan sekedar perampokan. Orang memgatakann ini perampokan, tapi tidak ada satupun barang di rumah ini yang lenyap. Satu-satunya yang lenyap dari hidupku adalah Park Jiyeon. Itu saja—

 

“Apa yang terjadi pada Jiyeon, Appa?” tanyaku frustasi,  “Siapa  mereka, kenapa semua orang sepertinya menyembunyikan identitas mereka.

 

Pria beruban itu berdehem sambil melegakan pernafasannya. “Apakah dia diperkosa?” tanyaku lagi

 

“Kami tahu, tidak bisa menyembunyikan semua ini lagi darimu, Chan.”

 

“Kalau begitu tolong katakan padaku apa yang terjadi padanya. Kenapa dia harus mengalami trauma?”

 

Appanya meletakkan majalah itu, kemudian dia mengambil cangkir teh yang sejak tadi berada di depannya. Teh hangat itu sungguh mengena diminum dalam cuaca sedingin ini. Aku sungguh tak sabar untuk mendengar apa yang akan dikatakan laki-laki yang telah dia anggap ayahnya ini.

 

“Jiyeon saat ini sedang berada dalam pengawasan sebuah instansi perlindungan remaja.”

 

“APA!” jelas aku kaget. Tempat macam apa itu, dan kenapa dia harus berada di sana. “Appa, untuk apa dia berada di sana?”

 

“Chan, dia nyaris membunuh orang. Apa kau pikir itu bukan sebuah masalah untuk keluarga kita.”

 

“Nyaris membunuh?”

 

“Orang-orang itu, mereka bermaksud untuk memperkosa adikmu, dia tusuk dengan pisau. Sama sepertimu, mereka mendapatkan luka tusukan di beberapa anggota tubuh.”

 

Laki-laki itu menghela nafas dengan sangat berat. “Appa juga tidak pernah tahu, dari mana dia mempelajari bela diri itu, dan kenapa dia bisa begitu lepas kendali seperti itu.”

 

Dalam hati, ….. aku lega,

 

Aku merasa bersyukur, karena apa yang kupikirkan ternyata meleset. Oh demi Tuhan, ternyata gadis itu benar-benar preman. Seketika senyumku membayang, dan seluruh peredaran darahku seakan mengalir lebih deras hingga ke ujung-ujung jari dan kembali.  Kupikir Jiyeon adalah korban teraniaya, tapi justru dia yang menganiaya orang. Aku sungguh malu sudah meragukan kemampuannya. Dia memang tidak mudah untuk ditundukkan. Tapi siapa yang sudah orang itu.

 

“Mereka menutup khasus karena orang tua mereka tidak berharap nama mereka tercemar. Appa bisa mengerti, mereka anak-anak dari kalangan berpengaruh. Dia adalah Jendral besar, dan atasan Appa di kesatuan.”

 

Aku semakin bingung. “Mereka siapa Appa, kenapa aku tidak boleh tau.”

“Kalau kau di sekolah tidak menemukan tiga teman kalian diantara kalian maka orang-orang itulah yang melakukan hal buruk pada Jiyeon.”

 

Jiyeon, kau sebenarnya telah berbuat apa pada mereka sampai mereka begitu ingin melakukan hal buruk padamu.

 

“Kapan aku diijinkan bertemu dengannya?”

 

“Sampai kau lulus sekolah. Kau tau, dia begitu gelap mata membunuh orang hanya karena melihatmu terkapar di lantai dapur dengan pisau yang menancap di perutmu itu.”

 

“Benarkah?”

 

“Kau kehabisan banyak darah, dan kebetulan di rumah sakit persediaan darah dengan golonganmu pun habis, mereka meminta kami untuk berdonor, tapi tentu saja kau tau, kami tidak mempunyai golongan darah yang sama denganmu.”

 

“Nde, Appa aku tahu, jadi siapa yang sudah menyumbangkan darah untukku. Apakah Jiyeon, karena kami bersaudara dan tentu saja golongan darah kami sama, kan.”

 

Ayahku menyeringai geli. “Kupikir memang begitu, tapi ternyata dia pun mempunyai golongan darah yang berbeda denganmu.”

 

“WHAT?”   Apa ini bisa dikatakan sebagai rasa kaget atau syok.

 

Jelas ayahku mengatakan bahwa golongan darahku dan Jiyeon berbeda.

 

“Ya, kalian mempunyai golongan darah yang berbeda.” Tegasnya lagi,

 

“Kenapa bisa seperti itu?”  pasti mukaku terlihat bodoh di depannya,

 

Appa juga tidak tahu.”  Pria itu menggeleng dan memainkan alisnya tanda dia tak mengerti.

 

Jika golongan darahku dan Jiyeon berbeda, apakah kami bukan saudara sedarah?

 

APPA!” hentakku keras, membuat teh yang diminum Ayahku terguncang dan terciprat ke bajunya.

 

“Chanyeol, kenapa kau harus berteriak seperti itu?”

 

“Apakah Appa tidak berpikir, kalau aku dan Jiyeon bukan saudara kembar.”

 

Ayahku mendengus, “Kami pun berpikir begitu, lalu kenapa kalau dia bukan saudara kembarmu, apa kau pikir kau bisa bebas memacarinya? BODOH!”

 

Aku menekuk wajah seketika, ini membuat angan-anganku terbang sesaat tapi kemudian jatuh lagi. Kenapa mereka tidak segera memastikan semua ini dengan tes DNA atau semacamnya.

 

“Jiyeon masih di bawah umur, dia tidak bisa di penjara, namun dia dititipkan pada sebuah lembaga yang diperuntukkan bagi remaja-remaja bermasalah. Itu lebih baik, ketimbang dia dipenjara hanya karena membela diri. Jika bukan seorang jendral lawan mainku, aku sudah membuat keluarga mereka berada di dalam neraka saat ini, Park Chanyeol, apa kau mengerti?”

 

Aku mengangguk. Kasihan Jiyeon—

 

.

.

.

 

Lima bulan kemudian, setelah semua kondisi menjadi kian pulih bagiku, mereka mengajakku mengunjungi Jiyeon yang berada dalam masa hukumannya yang terbilang tidak adil bagiku.

 

Dengan tidak diijinkan bertemu dengan oppanya ini saja dia pasti sudah merasa sangat terhukum. Bagiamana mungkin bisa bisa tahan tidak melihat wajah tampanku juga sosok yang selama ini pasrah dibulinya ini. Dia tidak dipenjara layaknya penjahat, melainkan hanya mendapatkan bimbingan agar dia bisa menjadi seorang manusia yang bertanggung jawab dan berdedikasi untuk ke depannya.

 

Aku sungguh tidak sabar, melihatnya menyerangku dengan makiannya, juga pukulannya dan tatapan kejamnya. Aku sudah mempersiapkan diri dengan makan  makanan yang cukup membuat tubuhku berenergi, supaya aku cukup kuat menerima serangannya. Mungkin saat ini dia pasti sudah bertambah kuat. Agh Jiyeonah, Oppamu ini begitu pasrah, Sayang! Terlebih mereka sekarang mengijinkan kita bersama. Yeah….tapi masih ada satu test lagi yang harus kami jalani, setelah Jiyeon bebas.

 

Jungsu hyung mengacak rambutku. “Kau bawa hadiah apa untuk Jiyeon?”

 

“Rahasia.” Jawabku, sejujurnya aku tidak membawa apa-apa selain bibirku ini. Dia pasti sudah rindu bibirku ini bisa menciuminya. Agh! Kenapa sekian bulan tidak bertemu aku masih saja semesum ini jika memikirkannya.

 

“Dia selalu menanyakanmu, tapi aku bilang kau sibuk. Mungkin dia sangat marah padamu, Chan!”

 

“Ish, sialan! Kenapa Hyung mengatakan aku sibuk. Padahal hyung tau aku selalu berusaha untuk bertemu dengannya, tapi kalian tidak pernah mengijinkanku.”

 

Kakakku ini terbahak, dan itu artinya dia siap menjadi penonton jika Jiyeon menghunus pedang di depanku.

 

“Dia sudah datang!” bisik Hyungku, dan seketika aku melirik ke sisi kananku, ketika pintu itu terbuka dan sesosok yeoja asing masuk bersama seorang wanita paruh baya di sebelahnya.

 

Kupicingkan mataku—

 

“Dia itu siapa?” tanyaku bingung

 

“Jiyeon.” Jawab hyungku dengan senyuman

 

Aku tahu dia itu Jiyeon, tapi kenapa dia sekarang seperti itu. “Jiyeon!” panggilku dan langsung berdiri untuk menyambutnya, tapi Jiyeon menunduk seperti gadis malu-malu.

 

Samchon!” sebutnya dengan suara lirih.

 

“Kau masih memanggilku Samchon.” Kesalku

 

“Harus bagaimana lagi?”

 

“Oke aku tinggalkan kalian berdua di sini. “  Jungsu Hyung permisi keluar, menyilahkan kami bicara berdua.

 

Jiyeon mengangguk pada hyungku yang berjalan keluar. Sesaat kemudian aku kembali memperhatikan wajahnya juga penampilannya. “Duduklah Samchon!” ajaknya.

 

Aku duduk di sebelahnya, karena aku tidak mau terpisah meja. Jiyeon tersnyum manis menatapku. “Apa khabarmu Samchon?”

 

“Baik,” jawabku singkat. Kenapa dengan Jiyeon, apa dia di cuci otaknya selama berada di tempat ini. Kenapa dia menjadi begitu manis dan seperti— yeoja?  Seorang perempuan, bersikap seperti perempuan dan terihat lebih dewasa. My big girl!  Apakah ini aneh? Tidak, Kemana sikap kasar dan premannya itu.

 

Samchon, aku akan keluar dalam waktu dekat.” Ujarnya

 

“Aku tahu.” Jawabku

 

Dia tersenyum lagi dan menunduk. Aish!  Dia menjadi menggemaskan seperti ini. Kenapa dia tidak menuntutku untuk melakukan hal yang aneh, juga bersikap aneh, atau memukulku, menendangku atau mencubit pipiku. Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk melalui masa-masa itu.

 

“Jiyeon, kau kenapa?” tanyaku bingung

 

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana Samchon, apakah perutmu sudah membaik? Aku lega bisa melihatmu sehat seperti ini.”

 

“Ya, aku sehat, kuat, juga tampan dan seksi, apa kau ingin membuatku kesal dengan sikapmu ini?”

 

Jiyeon kembali tersenyum dan mengangguk.

 

“Samchon—“

 

“BERHENTILAH MEMANGGILKU SAMCHON!” bentakku di depan wajahnya.

 

“Maaf, aku hanya bisa memanggilmu seperti itu.”

 

“Kita ini dituduh saudara kembar, apa kau tau itu?”

 

Dia mengangguk

 

“Padahal kita bukan.”  Tambahku, dan tak ekspresi di wajahnya.

 

“Aku tidak bisa membantumu waktu itu, kau kehilangan banyak darah, dan darahku tidak bisa menolongmu. Apa kau tahu, Samchon, aku sangat sedih dan hampir gila. Kai dan teman-temanya itu— aku ingin sekali membunuhnya waktu itu”

 

Aku tahu orang itu memang Kai, hanya saja semua itu tidak pernah kutahu kenapa Kai bisa sampai senekad itu. kurengkuh bahunya, “Aku tidak apa-apa Jiyeon. Aku justru mencemaskanmu. Kau terpisah dariku, dan ini membuatku merana.”

 

Jiyeon termangu sebentar. Dia memang berubah, tidak seperti Jiyeon yang dulu yang selalu menderaku dengan lirikan sengit atau sikap kasarnya. Kini dia tampak lebih tenang dan bisa mengendalikan diri.

 

“Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Kai, kenapa dia sampai bisa ingin memperkosamu. Apa kau tau dia itu—“

 

“Aku mengerjainya waktu itu, menyuruhnya telanjang, kemudian aku mengambil gambarnya, merekamnya lewat ponsel, menyuruhnya menari dengan tubuh telanjangnya, karena dia berharap aku mau di setubuhinya.”  Jelas Jiyeon tenang, sementara tubuhku sudah mengejang mendengarnya, kupingku hampir terbakar karena menahan radiasi panasnya, dan kuku-kuku di jariku seakan terlepas semua.

 

“K…k…kau— kau apakan dia?”  mataku memicing seperti orang cacingan.

 

“Hanya menyuruhnya telanjang dan menari—“ ujarnya tanpa perasaan berdosa.

 

Aku bingung harus sedih atau tertawa mendengar hal konyol itu. kapan dia melakukan hal itu, dan kenapa harus Kai— demi apapun itu,…… aku ingin melihatnya juga…Hhhh… kenapa aku merasa telah kehilangan tontonan menarik ini. Kalau saja aku tahu, aku pasti menyebarkan semua itu ke media sosial dan membuatnya terkenal.

 

“Apa kau masih menyimpan rekamannya?”

 

“Aku tidak tahu, Appa mengambil ponselku. Lagi pula di sini tidak diijinkan membawa ponsel.”

 

“Agh, sayang sekali!”  kecewa yang mendalam. “Jiyeon kau sungguh stress!”  lanjutku berpura-pura sok suci.

 

“Itu dulu, Samchon. Sekarang aku sudah menjadi gadis baik-baik.”

 

“Ya… kau sangat manis dan  menggemaskan saat ini. Cepatlah keluar dari tempat ini, lalu kita bisa pacaran.”

 

BUG

 

Sebuah pukulan telak menyapa lenganku, dan ketika menoleh Hyungku sudah berada di samping.

 

“Enak saja pacaran, kalian pikir kalian bisa sebebas itu?”  makinya

 

Hyung, kan sudah jelas, kalau Jiyeon bukan saudaraku. Kami tidak mempunyai hubungan darah sama sekali.”

 

Jungsu Hyung duduk di hadapan kami.

 

“Kalian harus menyelesaikan sekolah, kemudian kuliah, lalu baru setelah itu kalian—“

 

“Boleh pacaran?” potongku

 

“Menikah! Kalian terlalu gila bagiku. Kalian harus segera menikah, supaya tidak terjadi hal-hal aneh lagi diantara kalian.” Tegas hyungku dengan wajah galak.

 

Appa, kenapa lama sekali, kenapa harus menunggu lulus kuliah dulu.” rengek Jiyeon dengan kepala menunduk. Kupegang tangannya yang tertumpang di pangkuannya.

 

“ya, siapa tahu kau berubah pikiran dan menemukan namja lain. Kau pikir hanya dia saja namja di muka bumi ini?”

 

Jiyeon melirikku,

 

“Aku tahu, Appa memang bukan hanya dia saja namja di muka ini, tapi dia satu-satunya namja berkuping lebar dan bermata besar yang selalu pasrah jika aku buli.”

 

“YAK, Park Jiyeon!” sengitku gemas.

 

Jungsu Hyung hanya tersenyum.

 

“Agh Ara! Terserah kalian, sekarang berikan hadiahmu pada Jiyeon, Chan. Katanya kau tadi membawa hadiah yang kau bilang rahasia untuk anakku.”  Suruh Hyungku.

 

“Hah?”

 

“Berikan, Oppa! Kau membawa hadiah untukku, kau sungguh baik!”

 

“Jiyeon…”

 

“Apa?”

 

“Hadiahnya nanti saja kalau kau sudah bebas dari tempat ini. Ini terlalu rahasia.” Bisikku. Mana mungkin aku memberikan hadiah ini untuk Jiyeon di depan Hyungku.

 

“Kenapa harus menunggu aku bebas?”

 

“Sabar,Jiyeon.” Bisikku menenangkannya.

 

“Yeah, lagi pula ada satu hal lagi—“  ujar Hyungku

 

“Apa?”  kejarku

 

“Setelah beberapa waktu ini aku menyelidiki mengenai kalian, ternyata kalian memang bayi yang tertukar. Kalian bukan kembar, pihak rumah sakit melakukan kesalahan, tapi sepertinya ini justru menjadi kabar bahagia untuk kalian. Benar, kan!”

 

“Tentu saja. Aku selalu berharap kami bukan saudara sejak awal.”

.

.

.

Dua bulan kemudian, Jiyeon di bebaskan dan kami bisa bersama lagi. Sejujurnya Hyungku tidak pernah melarangku untuk bersama dengan Jiyeon. Saat ini kami kuliah di tempat yang sama, dan tinggal di tempat yang— berbeda. Itu masalahnya. Hyungku masih menjaga kami untuk tidak tinggal di bawah atap yang sama, meskipun semua itu percuma. Kami selalu bisa bertemu. Kami bahagia, dan semua bahagia. Aku mempunyai keinginan untuk menemukan di mana kedua orang tua kami berada, tapi itu tidak begitu membuat kami terlalu antusias. Kami akan mencarinya seiring waktu berjalan, toh saat ini kami sudah bahagia.

 

Kesenggol kakinya yang tertumpang di pahaku.

 

“Kau bahagia tidak?”  tanyaku,

 

Dia masih asik mengulum sendok ice creamnya, dan melirik ke arahku. Mengangkat alisnya dan memberikan senyuman.

 

“Kau bahagia tidak?” tanyaku lagi.

 

“Cium aku dulu, nanti baru aku jawab, apakah aku bahagia atau tidak.” Sahutnya dengan cengiran.

 

“Jadi kalau aku tidak menciummu, kau tidak bahagia. Kau sungguh tidak peka.”

 

Jiyeon tidak menaggapi ucapanku, justru menarik kerah bajuku dan mendekatkan bibirnya pada bibirku, melumatnya dan memberikan rasa coklat vanila di indera perasaku. Ehm, ya—

 

“Hmaaah— aku bahagia,asalakan kau mau menggendongku dulu ke kamar.”

 

“Jadi setelah aku menggendongmu, kau baru bahagia?”  tanyaku lagi

 

“Akan kupikirkan setelah berada di kamar.” Jawabnya.

 

Aku hanya memutar bola mataku, nyatanya dia tetap memperbudakku dan bertindak semena-mena padaku. Tapi tidak apa-apa, aku hanya akan menjadi budaknya saja, hanya untuknya.

 

“Sekarang aku sudah menggendongmu sampai di kamar, apakah kau bahagia sekarang?’

 

Dia mengerucut di atas kasurnya.

 

“Kalau kau  mau telanjang dan menari di depanku, akan aku pikirkan, apakah aku akan bahagia atau tidak…..”

 

“YAK PARK JIYEON!” bentakku keras

 

“Siapa yang menyuruhmu berteriak, PARK CHANYEOL! “  kami saling beradu tatapan. “Hhh… kalau begitu aku tidak jadi bahagia saja kalau begitu!”  jawabnya sambil mempermainkan rambutnya.

 

“Agh, baiklah—  baiklah aku akan melakukannya. Untukmu, hanya untukmu. Tapi kau harus bahagia, OKE!”

 

Jiyeon mengerling, kemudian mengambil ponselnya. “JANGAN DIREKAM TAPINYAAAA……”

 

“Kau ingin aku bahagia atau tidak, Samchon?”

 

“JANGAN MEMANGGILKU SAMCHON BOCAH NAKAL!”

 

.

.

.

.

 

 

FIN

 

Note.

 

Dan begitulah mereka yang selalu kekurangan bahagia….

 

 

 

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. Edc says:

    Astga..mrk b2 itu bner” deh ah,
    prtmuan mrk itu sweet bngt aplg chanie udh nyiapin kjutn spesial hehe.. Jy jg wktu ktmu sok manis malu” gtu.. tpi itu lgsg buyar saat jy pnggl ‘SAMCHON’..lgsg deh itu soundny petir” mnymbar.,

    jd yg nglakuin itu kai, y wjar aj sih kainya gtu,, stju sma chanie klo itu disebr lngsng terkenal kainya,haha

    oh ,,akhrny mrk b2 brsma..hehe.. Cie ciee yg g jdi anak kmbr..

    gilaaaa, itu knp endnya nasib chanie kyk kai…demi apa?? q lngsung yg menboong..haha,
    trsrhlah yg pntg mrk happy,,

    nice kak lana..hehe

  2. indaah says:

    haha sumpahh , ngakak wktu jiyeon ngerjain chan ..
    kirain bner jiyeon jd pemalu gadis baik2 eh salah trnyata
    jiyeon trnyata yg menang kirain dia apa2in sama kai . malah jiyeon yg ngerjain kai wkwk
    kerennn
    eits itu tbc kan yaa lan?
    next donk? fighting

    1. mochaccino says:

      finish, udahan,… lupa kebiasaan kasih tbc… udahan finish.,… aku mo kasih mingyu jiyeon lagi, tapi gokil lagi…

  3. minew says:

    omg apa ini, mreka bdua bner2 pasangan super aneh plus pervert bgt…
    n kai???brani2x jiyi nyuruh kai tlanjang n nari d depanx…ikut donk hahaha
    bner2 g hbis pkir…lbh parah jiyeon drpd chanyeol….
    untungx mreka bisa bersatu…dasar couple aneh…

    1. mochaccino says:

      iyah, ga tau deh ini emang aku bikin dua-duanya gila, stresss…makasih ya

  4. May andriani says:

    Aq pkir jiyeon jdi korban ternyata slah,, tpi syukur deh jiyeon gpp,, npa ending mereka gk menikah..

    1. mochaccino says:

      gak lah belum kan masih kuliah…

  5. loveJIYEON says:

    Wah,aku juga bhagia tau mreka trnyata bkn brsaudara..n trnyata jiyeon gak d’perkosa..keke..sweet bgt mreka wlaupon trkadang gila..haha..jiyeon mmg bocah nakal…masa sih,nyuruh si kai tlanjang n mnari..haha..gak bisa d’byangkan…chanyeol harus byk sabar mnghadapi bocah nakal sperti jiyeon.wwkkk!!critanya kerenn thorr!!!daebak!!

  6. Rara Jiyeonni says:

    Udahannnnnnnnnnn…
    Yakkk g ada sesuatu gitu :v yang sapicial

    1. mochaccino says:

      gada! udah gini aja…wkwkwk

  7. nissa says:

    untunglah jiyeon ngk kenapa”.tapi kesel bgt sama kai masa bukan dia yg dipenjara.padahalkan jiyeon cuma berniat ngelindungin chanyeol.yeay merek ngk saudara.ya ampun kenapa mereka yadong bgt sich.dasar yadong couple

  8. Kim yeon says:

    Hahaha jiyeon benar2 nakal uda kawatir aja dia kenapa2 ternyata dia yang bikin masalh nya

  9. park ji dino says:

    ciee ciee ciee . … ud ending ajaa

    ji.. rekam aja trus kirim k aku :v
    aku mau liat juga *-*

  10. MFAAEM says:

    Wuahahahahahaha sayang gaada nc nya nih 😦 sequel doongg ahh lucu ceritanya tapi kurang panjang nih unnieee

    Unnii bales emailku dong unn 😦 aku mau minta pw mingyu-jiyeon part 10 niihh belum bacaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s