Rose In The City [Part-4]


rose-in-the-city1

Rose In The City

Story by. Mochaccino

Cast| Park Jiyeon and SOng JoongKi

Genre | Romance-Angst

Rated |PG

LEngth | Chapter

Dengan mata terpejam, JIyeon mencoba memutar kembali kejadian pagi tadi.  Laki-laki itu pingsan mendadak dan membuat ketengangan itu begitu memakunya untuk diam beberapa saat sebelum dia memberikan sebuah pertolongan pertama padanya.

 

Jiyeon hanya tidak pernah menyangka bahwa laki-laki tampan bertubuh sehat ini mempunyai penyakit jantung yang kronis. Bahkan Jiyeon baru sadar bahwa di dalam apartemennya itu pria kaya arogant ini menyediakan sebuah tabung oksigen lengkap dengan selang dan beberapa alat medis lainnya.

 

Mungkin Jiyeon memang bukan seorang dokter, tapi dia pernah bekerja sambilan di sebuah klinik untuk membantu seorang dokter umum, sehingga sedikit banyak Jiyeon tahu bagaiaman memberikan pertolongan pertama. Tapi tetap saja dalam khasus Joong Ki dia tidak bisa gegabah, dan segera memanggil bantuan dari rumah sakit.

 

Kondisi Joong Ki tidak bisa dikatakan baik, saat ambulance  membawanya ke sini. Detak jantung Jiyeon mendadak mengatakan mengenai sebuah firasat bahwa dirinya tidak akan mungkin bisa terlepas dari laki-laki ini.

 

Laki-laki ini sakit, dan penyakitnya bukan main-main.

 

Menurut dokter yang menanganinya, Tuan Song ini pernah melakukan oprasi jantung saat usianya enam tahun. Usia yang terbilang rentan untuk melakukan pencangkokan.

 

 

Sebentar kemudian pria yang sedang ditungguinya ini sadar. Dia membuka matanya dan menemukan JIyeon duduk di sisinya dengan wajah cemas.

 

Joong Ki tersenyum lemah. Dia tidak menyangka bahwa gadis ini mau menjaganya. Hatinya terenyuh, padahal mereka baru saja berkenalan pun dengan cara yang tidak lazim— sebuah pemaksaan, tapi Jiyeon mau menolongnya.

 

Memang sangat memalukan dengan apa yang dialaminya. Seharusnya dia tidak pingsan hanya karena penyakit bodoh ini.

 

Hi!” sapanya dengan suara lemah ketika Jiyeon menatapnya cemas

 

”Kau sudah sadar, Tuan.”

 

”Ya, thanks!” sahutnya

 

”Kau tidak seharusnya hidup sendirian seperti itu, Tuan.”

 

Joong Ki mengangguk, ”Itu sebabnya aku mengajakmu tinggal denganku.”  lirikannya maut, menebas langsung spekulasinya.

 

Checkmate

 

Jiyeon seperti mendapatkan boomerangnya. Seharusnya dia tidak perlu membahas masalah itu secepat ini. Sekarang apa—

 

”Mungkin orangtuaku akan segera datang. Kau jangan pergi ke mana-mana, aku  membutuhkanmu saat dia muncul.”  ujarnya

 

”Aku harus segera pulang,”

 

”Jangan tinggalkan aku!”  ucapan itu seperti sebuah permohonan yang mutlak. Apapun yang tercetus dari mulutnya adalah permintaan mutlak,

 

”Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi orang tuamu, Tuan. Aku bukan siapa-siapa di sini.”

 

”Kau hanya perlu berada di sisiku, dan tersenyum untukku agar aku bisa bertahan.”   jelasnya dengan suara rapuh,

 

Jiyeon sungguh tak mengerti dengan kata-kata itu, tapi dia merasa tidak tega juga meninggalkan Joong Ki yang masih terlihat pucat itu sendiri. Hanya itulah alasan satu-satunya yang dia gunakan sebagai alibi, demi rasa kemanusiaan, dan mungkin sedikit rasa setia kawan, meski mereka belum sampai pada titik tersebut.

 

Kenapa Jiyeon tidak pernah bisa berhenti mengatakan Joong Ki itu tampan. Meskipun dalam kondisi sakit seperti itu pun dia masih saja terlihat memukau.  Hanya saja Jiyeon tidak ingin berebihan. Masih ada Heechul yang berharap Jiyeon setia menantinya.

 

Laki-laki itu menghunus telunjuknya lagi, Ash Jinjja! Telunjuk itu lagi. Dalam kondisi  lemah seperti itupun dia selalu berhasil dengan mantra dari telunjuknya yang panjang itu. Jika terlalu lama dia berhadapan dengan telunjuk itu, Jiyeon  khawatir dia akan menderita phobia telunjuk.

 

”Kau perlu sesuatu?”  Jiyeon mendekat

 

”Ya, aku butuh ciumanmu.”  bisiknya sambil menggegat bibirnya sendiri. Damnt! Dia ini bicara apa? Laki-laki ini masih berpikir seperti itu di saat-saat lemahnya ini.

 

Jiyeon hanya menggeleng jengah

 

”Tidak adakah hal lain?”

 

”Kenapa, kau tidak mau menciumku?”

 

”Aku bukan perempuanmu. Aku minta maaf, tapi jujur aku kurang nyaman jika kau memperlakukanku seperti itu. Kenapa kita tidak bersikap seperti teman saja.”

 

Mereka saling menatap sebelum akhirnya Joong Ki berdehem dengan sedikit rasa kesal.

 

Dia mengangguk,

 

”Oke!” Pria itu setuju— mungkin. Dia harus bisa menahan egonya jika  masih ingin  Jiyeon bersamanya saat ini.

 

”Tolong buka tirai jendela itu, aku ingin melihat ke arah luar!”

 

Jiyeon menoleh pada tirai jendela yang tertutup di dekatnya, kemudian dia membukanya. Apa yang bisa dia lihat dari langit malam, tapi Joong Ki sepertinya menikmatinya.

 

Mengambil sikap duduk dan menikmati malam dengan iris almodnya.

 

”Di mana ayahmu?” tanyanya kemudian sambil merapikan rambut hitamnya.

 

”Sudah meninggal.”

 

”Jadi kalian hanya berdua saja.”

 

”Begitulah.”

 

”Kalau begitu aku tidak memaksamu untuk tinggal bersamaku, mengingat kau masih mempunyai tanggung jawab pada ibumu, tapi aku harap kau bisa sesekali bersamaku.” Ada nada sepi di sana. Apakah dia tidak mempunyai teman, sahabat untuk menemaninya. Kenapa dia tidak bersama keluarganya jika dia merasa kesepian. Jiyeon berusaha mencari itu di dalam tatapannya yang sunyi. Laki-laki ini, mungkin bersikap selayak manusia angkuh hanya karena dia ingin melindungi hatinya yang rapuh, sepi dan tak berdaya.

 

”Apakah itu harus?”  Jiyeon sedang menimang-nimang permintaan itu.

 

Joong Ki mengangguk

 

”Ya.” jawabnya tegas— lirih. Dia tidak memberikan tekanan, hanya sebuah senyuman yang terkesan plastik, tapi memang seperti itulah Joong Ki

 

”Lalu bagaimana dengan pacarmu itu?”

 

”Maksudmu?”  Jiyeon tak mengerti. Dia duduk kembali pada bangku di sebelah pria kaya ini

 

”Apakah kalian sudah lama menjalin hubungan?”

 

”Ya, cukup lama, sejak kami di bangku SMP. Dia adalah sunbae ku”

 

Joong Ki mendengus halus, dia merasa tersaingi dengan keberadaan laki-laki lain dalam kehidupan Jiyeon

 

”Aku harus segera kembali, mungkin ibuku sudah mencemaskan aku.”  Jiyeon benar-benar berdiri dan mengambi beberapa jarak dari pria itu untuk berlalu. Terlihat wajah panik itu mengiringi bayangan Jiyeon yang mulai mendekati pintu.

 

”Datanglah sepagi mungkin.”  pesan pria itu tanpa menatap ke arah Jiyeon.

 

”Akan aku usahakan.” Jiyeon pun tak menoleh.

 

Mereka saling membuang muka malam ini, namun terlintas sebuah perasaan lain yang mengganggu benak masing-masing— masih samar.

 

.

.

.

 

Dia tidak harus memenuhi semua keinginan pria itu. Mungkin dengan memanfaatkan kondisi sakitnya ini,  dia bisa melarikan diri darinya. Jiyeon sungguh tidak mau terjebak.

 

”Kenapa kau jadi sepanik ini?”  Yuka memperhatikan sahabatnya ini begitu gugup siang ini.

 

”Aku baru saja mencari pekerjaan lain.”

 

”Di mana?”

 

”Ada temanku yang sedang berbisnis dengan pakaian. Dia sedang membuka toko dan aku membantunya. Mungkin hasil yang kuperoleh tidak banyak, tapi aku bisa mencari pekerjaan di lain tempat lagi.”

 

”Kau tidak cocok dengan pekerjaanmu yang kemarin di tawarkan sepupuku?”

 

Jiyeon menggeleng— terlalu beresiko.

 

”Aku tidak masalah, mungkin suatu saat nanti kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi.”

 

”Ya, aku juga berpikir seperti itu.”

 

Mereka sedang berjalan di sepanjang trotoar, menikmati suasana yang tidak terlalu nyaman ini dengan santai. Mereka sering melakukannya dulu. Jika jam sekolah berakhir, mereka menyempatkan diri untuk melihat-lihat beberapa koleksi buku di sebuah toko buku yang tidak jauh dari sekolah, atau  menikmati tokebi hotdog sambil berjalan-jalan diantara kesibukan orang.

 

Ya, mengisi waktu, sebelum akhirnya mereka pulang menjelang malam, itu pun jika tidak ada pekerjaan yang harus dia lakukan.

 

Ibunya sering menyuruhnya untuk mengirim beberapa tanaman pesanan sebuah kedai cepat saji untuk hiasan, atau toko bunga yang secara khusus meminta ibunya membuat beberapa rangkaian bunga. Usaha ini belum berjalan baik, apalagi lancar, tapi dia tidak pernah mengeluh. Jiyeon selalu optimis, jika suatu hari nanti dia akan berhasil.

 

Ding

 

Sebuah pesan masuk.

 

I miss you

 

Dia  segera menghapusnya.

 

Ding

 

Aku sudah kembali ke apartemenku, bisakah kau datang.

 

Dia merenung sebentar. Secepat ini dia pulih, atau rumah sakit sudah mengusirnya karena dia memang manusia bebal dan keras kepala.

 

Dihapusnya lagi pesan itu, dan Yuka mulai curiga.

 

”Siapa?”  tanyanya

 

”Eum. Orang iseng.”

 

”Orang iseng ?”

 

”Ya, mungkin dia sedang ingin mencari gara-gara.” bola mata Jiyeon berpindah fokus.

 

”Lalu kenapa mukamu berubah aneh begitu.”

 

”Bukan masalah penting.” jawab Jiyeon

 

”Apa kau selingkuh?”

 

Mata itu membulat besar,  ”Jangan sembarangan kalau bicara, mana mungkin aku selingkuh.”

 

Ding

 

Posnel di tangan Jiyeon berbunyi lagi, dan secepat itu Yuka berusaha merebutnya, hanya saja Jiyeon berhasil berkelit dan segera membuka pesan baru itu.

 

Aku manunggumu, Sayang!

 

Wajah Jiyeon merona seketika.

 

”Siapa? Kau terlihat merona seperti itu. Apakah itu Heechul Oppa?

 

”Bukan.”

 

”Berarti kau sedang selingkuh. Siapa namja itu?”  Yuka terus mendorong Jiyeon untuk bicara jujur.

 

”Aku tidak selingkuh, Yuka.”  Jiyeon mempercepat langkahnya, karena dia takut Yuka akan mengetahuinya. Hubungannya dengan Tuan Song itu bukan sebuah hubungan yang biasa dan wajar. Jiyeon bahkan terlalu takut untuk masuk dalam dunia seperti itu. Laki-laki itu terlalu dewasa dan menuntut banyak. Dia tidak seperti Heechul yang tidak pernah menyentuhnya seperti itu.

 

 

Hanya saja kebersamaannya dengan Heechul lebih dari sebuah kata cinta. Keluarga mereka sudah saling mengenal dan akrab. Jiyeon tidak mungkin mengkhianati pria itu. Apa yang sudah dijalaninya dengan kekasihnya itu sangat mendalam. Dia sudah mengetahui ABCD kehidupan Heechul yang begitu dicintainya ini hingga ke tulang sumsumnya.

 

 

”Aku tidak selingkuh, Yuka. Aku tidak akan meninggalkan Heechul Oppa.”

 

Yuka adalah saudara tiri Heechul, itu sebabnya Jiyeon tidak ingin mengatakan apapun pada sahabatnya ini.

 

Mendadak Yuka merebut ponsel Jiyeon, dan mencoba melihat pesan yang baru saja masuk.

 

”Lalu ini siapa?”  dia mengacung-ngacungkan ponsel itu didepan muka Jiyeon yang tengah meringis dengan rasa gugupnya itu.

 

”Dia temanku.”

 

”Tapi kenapa dia begitu mesra memanggilmu Sayang.”

 

Jiyeon menghela nafas sebentar, sementara bahunya terjatuh— bingung.

 

Yuka mulai bersikap absurd. Dia berjalan tak tentu arah tanpa fokus yang jelas. Dia melirik dengan sudut emosi yang tinggi, juga senyuman pahit itu sungguh mengganggu konsentrasi Jiyeon menyusun sebuah penjelasan. Kalimat-kalimat itu berderet mengantri di dasar tenggorokannya, sedangkan di kepalanya berputar-putar wajah Joong Ki yang menganggunya dengan telunjuk panjangya. Jinjja!

 

”Aku tidak selingkuh, tidak ada laki-laki lain dalam hidupku selain Heechul. AKU BERSUMPAH YUKA!”  Jiyeon berkata jujur pada mata-mata Heechul ini.

 

”Aku tidak percaya.”  lirih gadis itu menahan rasa sesaknya, ”Siapa dia?”

 

”Dia hanya temanku. Kau bisa menghubunginya jika tidak percaya. Silahkan! Dia laki-laki yang baru aku kenal beberapa hari lalu. Kemarin aku menolongnya ketika dia mendapat serangan jantung. Saat ini dia sudah kembali ke apartemennya, dan dia menungguku. Itu saja.”

 

Yuka melirik kian kemari. Kemudian, dia menatap layar ponsel itu dan menekan nomor itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.

 

Nomor tersambung, dan langsung diangkat

 

” JIyeon!” sebut suara itu dengan tone seraknya.

 

Tut

 

Tapi Yuka justru memutuskan sambungannya. Menanti cemas.

 

”Siapa namanya tadi?”

 

”Tuan Song.” jawab Jiyeon

 

”Dia terdengar sudah tua.”

 

”Ehm, ya dia menganggap aku sebagai putrinya.”  berbohong lagi.

 

 

Yuka menyerahkan ponsel itu dengan wajah yang masih menyimpan perasaan curiga.

 

 

Jiyeon yakin, semua ini pasti akan sampai pada Heechul.

 

Sekali lagi JIyeon memastikan kalau tidak ada pesan lain lagi muncul di sana. Sampai kapan dia harus menghindari pria itu, apa dia harus mengganti nomornya.

 

 

Ding

 

Aish! Dirogohnya ponsel itu dari sakunya.

 

Bisakah kau membawakan makanan untukku. Aku lapar.

 

Jiyeon menggeleng jengah. Ini pasti hanya alasannya saja agar dia menemuinya. Kenapa dia tidak menelepon restoran cepat saji dan minta dikirimi semua makanan yang dia suka.

 

Gadis itu kembali melangkah di sisi Yuka dan mengacuhkan pesan itu, tapi batinnya terus diremas oleh rasa cemas. Bagaimana jika laki-laki memang benar-benar membutuhkannya.

 

”Shit! ” dia mengumpat kesal.

 

”Kenapa?”  tanya Yuka

 

”Aku harus menengoknya dulu. Kondisinya belum sehat betul. Kau pulanglah, nanti aku menyusul.”

 

Yuka merengut seperti sedang mengancam tapi itu tidak diperdulikan, mengingat gadis itu sekarang sedang mencemaskan Tuannya.

 

Jiyeon menghentikan taxi. Beberapa saat kemudian, dia sudah duduk di dalamnya. Kembali merutuki semua ini. Kenapa dengan mudahnya dia mau mengikuti peritahnya lagi.

 

Nafasnya mengalun landai sambil memperhatikan lampu-lampu jalan yang mulai menyala. Mungkin di dasar hatinya, Jiyeon pun berharap akan kehidupan yang mudah, yang tidak perlu bekerja sekuat tenaga.

 

Terselip rasa munafik di benaknya. Mungkinkah dia kalah pada kehendak duniawinya.

 

Lampu penerangan di dalam apartemen Pria itu tidak dinyalakan.

 

”Tuan Song!”  dia melangkah ke ruangan lain. Mungkin juga kamarnya. Jiyeon belum pernah menyambangi ruangan lain di tempat ini.

 

”Aku di sini.”  Suaranya berasal dari atas ranjang. Setelah Jiyeon menyalakan penerangan barulah dia melihat sosok itu tengah duduk bersandar pada headbed, tersenyum ke arahnya. Demi Tuhan, wajahnya masih pucat.

 

”Kenapa tidak menyalakan lampu?”

 

”Aku belum sempat menyalakannya.”

 

”Apa kau lapar, Tuan?” Jiyeon masih berdiri di sisi ranjang

 

”Eum sialnya iya. Aku memang lapar, tadi aku memaksa untuk keluar dari rumah sakit, karena aku tidak suka makanan di sana. Hambar.”

 

Pria tampan itu berdiri dan meninggalkan Jiyeon termangu begitu saja. Aneh, sikapnya tidak terlalu agresive. Apakah dia sudah jinak setelah serangan jantung kemarin.

 

Jiyeon mengikutinya.

 

”Apa yang kau bawa?”  dia duduk di sofa menyilangkan kakinya dengan penuh kharisma. Di tangan kanannya masih ada perban sisa infusnya.

 

”Aku tidak membawa apa-apa. Aku tidak tahu makanan apa yang kau sukai.”  jawab gadis itu  membela diri

 

”Yeah, baiklah! Aku akan memesan makan malam, dan kita makan bersama. Temani aku di sini malam ini.”

 

Jiyeon menggeleng

 

”Aku sudah berjanji pada sahabatku menginap di rumahnya sekarang.”

 

”Tidak bisa. Malam ini kau harus di sini.”  sahut pria itu tanpa menoleh sedikitpun. Dia tidak memberi toleransi apapun pada Jiyeon.

 

”Aku sudah mencari pekerjaan lain, dan aku rasa aku tidak akan bekerja padamu.”

 

Kali ini dia melirik tajam, di tangannya masih menggenggam ponsel.

 

”Dan mengenai perjanjian kita untuk menjalin hubungan, aku rasa aku tidak bisa Tuan. Aku hanya berjanji padanya untuk setia pada kekasihku.”

 

Perlahan Joong Ki merayapkan tangan di dadanya. Jantungnya merasa sedikit nyeri mendengar hal itu, kemudian dengan pelan dia bersandar pada sofa sembari terus menatap yeoja yang ingin dimilikinya itu. Keningnya berkerut dengan garis alis yang mulai menyatu.

 

”Tuan Song!”  Jiyeon mendekat karena khawatir. Dia berpikir kalau kata-katanya telah membuat pria ini terkena serangan jantung lagi.

 

”Apa kau sakit lagi?”

 

Joong Ki melirik Jiyeon yang mendadak duduk di sebelahnya dengan wajah cemas. Dia sungguh menikmati sekali kecemasan itu yang menurutnya sangat indah.

 

”Kau pasti tahu, aku tidak mudah untuk menerima omong kosong itu, Sayang.”

 

Omong kosong.

 

Jadi pria matang ini menganggap semua yang terjadi pada kehidupannya adalah omong kosong. Mengerikan!

 

”Apa kau ingin membuatku mati?” serangnya lagi  dengan wajah kakunya.

 

Tidak ada jawaban. Jiyeon tidak memiiki jawaban yang bagus untuk menjawab pertanyaan konyol itu pun dia akhirnya memalingkan wajah.

 

Joong Ki berdiri dan berjalan ke arah jendela, dia terdiam di sana sambil memperhatikan langit malam. sikapnya sungguh tenang dan misterius meski sesekali masih menahan rasa nyeri di dada kirinya. Kenapa dia bersikukuh meninggalkan perawatan di rumah sakit itu jika kondisinya masih belum sembuh

 

”Aku ingin kau di sini malam ini.” itu yang dikatakannya lagi

 

”Aku bukan perempuan semacam itu.”  Jiyeon menggeleng pucat.

 

”Aku pun bukan laki-laki seperti itu.” balas JoongKi  ”Aku bisa saja membayar seorang pelacur untuk tidur denganku dan membuatku puas hingga pagi, tapi bukan itu yang kumau.”  nafasnya terengah karena menahan emosi.

 

Jiyeon terpekur dengan sudut mata meredup.

 

”Kenapa Anda tidak menikah saja dengan calon istri Anda.”  sebut Jiyeon berani, dan keberaniannya itu memancing emosi Joongki menjadi-jadi. Pria itu mendekat dan mencengkram dagu Jiyeon, menghantui wajah itu dengan dengus nafasnya.

 

”Siapa yang kau bilang dengan calon istriku?”

 

Jiyeon hanya mengingat percakapan pria ini di ponselnya sebelum pingsan kemarin. Apa dia salah menangkap.

 

”Tuan, sakit!” rintih Jiyeon

 

”Apakah aku kurang tampan, kurang baik padamu?” pria itu memindahkan cengkramannya pada bahu Jiyeon dan mendorong gadis itu pada sofa hingga Jiyeon tanpa daya terduduk di sana dengan rasa gugup dan takut.

 

”Tuan Song!”  lirih Jiyeon menggigit bibirnya.

 

”Aku pun sudah memintamu untuk memanggilku Oppa, tapi kau selalu memanggilku dengan sebuatan Tuan. Itu menyakiti perasaanku. ”

 

”Maafkan aku Tuan…ehm…Op…pa.” Jiyeon menunduk, dan meremas jemarinya.

 

”Aku tidak akan mengijinkanmu pulang.” tegasnya sambil melangkah ke kamarnya.

 

Jiyeon sempat menangkap butir butir keringat itu membayang di wajah pucatnya, juga tubuh itu yang akhirnya terbaring di atas ranjang dengan lemah.

 

Apa yang harus dia lakukan sekarang.

Tidak lama kemudian,

 

”Jiyeon!” panggil pria itu

 

Gadis itu menghampiri, tapi hanya berdiri agak jauh darinya.

 

”Kenapa kau di situ, tolong bantu aku lepaskan bajuku.”  pintanya.

 

”Hh?”

 

 

.

.

.

 

Tbc.

 

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. indaah says:

    yaampun , ini bner2 absurd keke
    disini jiyeon gk tegaan dan jongki manfaatin itu , trus jongki kekeh bgt deh ma jiyeon
    dan heechul bneran setia k jiyeon ??
    behh tn.song minta bukain baju , jgn jiyeon masih polos tuan kkkk

  2. May andriani says:

    Penasaran sbenernya ada msalah apa joongki sma keluarganya?? Trus apa jiyeon bkalan nurutin kemauan joongki?? Nextnya bisa gk update skg…

    1. mochaccino says:

      bisa aja sih, hehehe,,, ntar agak malman dikit, Bu May…

  3. Latifa says:

    Joongki sakit jantung dari kecil.? Masih belom sembuh tapi udah keluar RS.turutin napa ji..?

  4. cia says:

    Heechul mana nih blm muncul2
    Wkwk
    Joongki kasian pny pnykt jantungg dr kecil 😦

  5. anii says:

    Aigoo jeongmal joongki kasian.a sakit.a itu~~
    eitsss itu mau diapain yee jiyeon?? Huuaaaa next yaaw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s