Rose In The City [Part-5]


rose-in-the-city1

Rose In The City

Story by. Mochaccino

Cast|

Park Jiyeon and SOng JoongKi and Kim Heechul

Genre | Romance-Angst

Rated |PG

LEngth | Chapter

.

.

 

Jiyeon sempat menangkap butir butir keringat itu membayang di wajah pucatnya, juga tubuh itu yang akhirnya terbaring di atas ranjang dengan lemah.

 

Apa yang harus dia lakukan sekarang.

 

Tidak lama kemudian,

 

”Jiyeon!” panggil pria itu

 

Gadis itu menghampiri, tapi hanya berdiri agak jauh darinya.

 

”Kenapa kau di situ, tolong bantu aku lepaskan bajuku.”  pintanya.

 

”Hh?”

 

”Lepaskan bajuku, aku merasa panas.”

 

Jiyeon masih mematung diam meski pria itu sudah memberikan akses mudah baginya agar dia bisa membuka pakaian berlengan panjang itu dengan mudah.

 

”Cepatlah!”  liriknya tajam pun tanpa senyum. Mungkin dia memang serius hanya ingin berganti baju.

 

Jiyeon mendekat dan mengulurkan tangannya untuk membuka butir-butir kancing itu satu persatu. Jarak yang teramat dekat itu membuat Jiyeon semakin gugup. Dia tahu pria ini tidak melepaskan tatapan dari wajahnya.

 

”Kau cantik Jiyeon.” bisiknya di telinganya

 

”Sudah Tuan.” Jiyeon melepas kemeja itu dan segera menjauh.

 

Joong Ki mengangguk, dengan tubuhnya yan masih berbalut kaos dalam berwarna putih.

 

”Celanaku juga.” sambungnya sambil berusaha berdiri. Fokus mereka bertemu

 

”Celana?”  ulang Jiyeon

 

”Ya.”

 

”Eum…”

 

”Cepat!”

 

Jiyeon mendekat lagi tapi tak berani mendekat sampai Joong Ki harus maju dan meminta Jiyeon dengan tatapan tajamnya.

 

Kenapa harus begini. Memangnya pria ini tidak bisa membuka celana sendiri. Keluh Jiyeon dalam hati. CHU~  tatapan mereka bertemu seketika saat bibir Joong Ki mampir di keningnya sebentar, tapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun selain menunggu Jiyeon selesai melepaskan ikat pinggangnya.

 

Entah tangannya atau otaknya yang harus bekerja double untuk menurunkan zipper itu karena sesungguhnya dia tidak punya nyali untuk melakukannya. Mendadak jemari Joong Ki bermain di helai rambutnya, terkesan seperti sedang merayunya.

 

”Open it!” bisiknya.

 

”Tuan~”

 

”Lakukan perintahku!” pintanya. Mereka saling menatap lagi. Eoh, jangan mempercayai omongan laki-laki meski dia terlihat baik sekalipun. Bisikan sayup-sayup itu terus didengar Jiyeon.

 

Dia  memejamkan mata saat tangannya menurunkan zipper itu dengan hati-hati. Mungkin saat ini pria di depannya yang berada satu jengkal dari posisinya ini sedang menertawai kegugupannya.  SIALAN! Maki Jiyeon tak henti.

 

Dengan pelan Jiyeon menurunkannya ke bawah, hingga dia bisa melihat sepasang kaki telanjang yang tak berani dia tonton berlama-lama. Durasinya hanya sekejab saja kemudian dia berdiri lagi dan menjumpai sorot mata itu tengah menatapnya.

 

”Ambilkan baju untukku!” titahnya kemudian

 

”Di…di mana?”

 

Joong Ki menunjukkan sebuah ruangan lain di sisi kanan.

 

Kenapa dia merasa di perlakukan seperti pelayan. Membuatnya repot seperti mengurus balita. Jiyeon terus menggerutu dalam hati sampai dia menjumpai ruangan yang berisi penuh oleh pakaian dan semua keperluan pria kaya itu.

 

Semua teratur rapi dan tersusun pada tempatnya masing-masing. Baru kali i ni dia melihat lemari pakaian sebesar ini, tapi semua isinya sama, hanya kemeja dan celana. Laki-laki memang tidak variatif. Mereka monoton dalam segi pakaian. Membosankan.

 

Jiyeon memilih satu set pijama berbahan lembut dari dalam laci yang dia rasa cocok untuk suasana malam ini.

 

Joong Ki menunggunya dengan posisi sama, berdiri. Dia terlihat tidak bermasalah dengan pijama yang diambil Jiyeon.

 

”Kau tidak mengambil celana dalamku?”

 

”A..apa?”

 

Joong Ki menunduk dan melihat dirinya masih mengenakan celana dalam yang belum di turunkan. Demi Tuhan, boxer ketat itu membuat Jiyeon harus menelan ludah. Mata polosnya harus menyaksikan apa yang seharusnya tidak dia saksikan—

 

”Tuan~~~” dengan setengah merengek dia berjongkok menahan frustasi.

 

Semua itu membuat pria itu menahan senyum.

 

”Jiyeon!”  panggilnya

 

”Aku tidak bisa Tuan.”

 

”Kenapa?”

 

”Tidak berani.”

 

”Jiyeon!” panggilnya kemudian, sambil melangkah mendekat. Ditariknya tubuh itu hingga berdiri dan menghadapinya. ”Kiss me!” pintanya lembut.

 

”Tapi~”

 

”Cium bibirku.” pintanya tanpa ekspresi dengan tubuhnya yang semakin mendekat. Eoh!  Jiyeon berusaha menahannya dengan telapak tangannya yang menempel di dada pria tampan ini yang kemudian mengambil tangan itu, mengecupnya, dan mengalungkan di lehernya, menuntut agar Jiyeon memeluknya, lalu perlahan dia menarik tubuh itu mendekat, memangkas jarak hingga kening mereka menyatu.

 

Jiyeon bisa merasakan kehangatan tubuh itu merapat di tubuhnya. Aroma maskulinnya memabukkan. Sama seperti wewangian kekasihnya.  Eoh Heechul Oppa! Jiyeon berusaha untuk melepaskan diri. Tapi Joong Ki justru membawanya bergerak mendekati ranjang.

 

Jangan mempercayai omongan laki-laki! Tegasnya dalam otak kerdilnya ini.  Demi Tuhan, jangan sampai kesuciannya hilang malam ini. Dia ingin memberikan semua itu untuk Heechulnya. Jiyeon berusaha meronta,

 

”Tu…Tuaaan…Jangan!”  rintihnya memohon, tapi JoongKi justru merebahkannya dengan paksa,  menindihnya.

 

”Tuan—” Jiyeon menggeleng

 

”Aku tidak melakukan apa-apa padamu, Sayang. Kenapa kau harus takut?”

 

”Tapi Anda pasti akan melakukan apa-apa padaku, kan?”

 

Pria itu tersenyum,

 

”Itu kedengarannya seperti kau sedang berharap.”

 

”TIDAK!”  pekik Jiyeon keras dan memaksa Joong Ki terpejam mendengar lengkingan nadanya

 

”Aku akan melakukan taruhan.”  kemudian dia duduk meninggalkan tubuh Jiyeon. Tapi tetap saja posisi duduknya itu membuat Jiyeon tak berani menoleh ke arahnya.

 

Tidak ada sahutan,

 

JIyeon merasa ada yang tidak beres dengan pembicaraan ini. Pria di sebelahnya itu mulai mengarahkan semua ini pada permainannya, dan yang jelas semuanya pasti akan menguntungkannya.

 

”Apa kau takut?” tanyanya sedikit menyeringai

 

”Taruhan apa?”   dengan nada ragu

 

 

Joong Ki tersenyum karena merasa menang. Dia merubah posisi duduknya dan menghadapi Jiyeon.

 

”Anda mau apa?”

 

”Begini,… aku akan menyentuhmu.”   jawab Joong Ki tegas

 

”Menyentuhku?”  Jiyeon beringsut menjauh, tapi Joong Ki manariknya bahkan semakin dekat.

 

”Apa kau takut?”

 

”Kenapa harus bertaruh seperti itu, Tuan?”

 

”Kenapa? Ini akan menyenangkan.”

 

”Tidak mungkin  menyenangkan.”

 

”Kenapa kau tidak mencobanya. Kau tidak usah merespon apapun seandainya sentuhanku tidak menyenangkan untukmu.”

 

Mereka saling menatap, Joong Ki merasa sungguh senang karena dia bisa melemparkan khasus permainan ini menjadi hal yang  menyenangkannya.

 

Dia merasa peningkatan adrenalin membuatnya nyaman. Bukankah ini menarik. Hatinya pun berdebar, seandainya Jiyeon tidak meresponnya dan justru berlari pergi meninggalkannya

 

”Kau tidak menjawab, apakah itu berarti aku bisa menyentuhmu sekarang?”  Dia mulai membuka kancing kemeja JIyeon tanpa perlawanan dari pemiliknya. Senyumnya menari dan terus memberikan kontak mata yang seductive yeoja kesayangannya itu.

 

Jiyeon menanti dengan jantung berdebar. Apakah dia bodoh sudah membiarkan pria ini memperdayainya seperti ini tapi pergerakan apapun membuatnya merasa sia-sia. Joong Ki mulai membelai kulit lehernya, juga wajahnya.

 

”Aku tidak tahu kenapa aku menyukaimu, Sayang.” gumamnya.

 

”Apalagi aku, Tuan.”

 

Joong Ki tertawa,

 

Dia mendekat dan mengecup pipinya, menumpangkan sebelah tangannya diantara selakangan Jiyeon hampir menyenggol organ kewanitaan Jiyeon yang sedang bertingkah gugup. Joogn Ki menumpukan berat tubuhnya condong ke depan.

 

Bibirnya terasa hangat—

 

Hangat.

 

Jiyeon menggaris bawahi kata hangat itu di dalam benaknya

 

Kemudian, kecupan itu bergerak turun dan mengenai satu titik kelemahannya. Pria itu mengigit dan menghisapnya kuat-kuat. Dia meninggalkan rona kemerahan yang pekat di antara daun telinga dan rahangnya. Gawat!

 

Secepat itu impulsnya melesat pada titik sarap nikmatnya. Dia terpejam, namun berupaya keras untuk tidak menyuarakan apapun. Tubuhnya menjadi kaku karena dia benar-benar menahan diri.

 

Joong Ki tersenyum sambil memaki bodoh pada gadis  ini di dalam hatinya, sementara tangannya mulai merayap pada payudara Jiyeon.

 

Seketika itu Jiyeon menepis tangan itu. Dia benar-benar merasa dirinya sedang dilecehkan. Sebagai wanita yang mempunyai harga diri dan kehormatan dia merasa begitu marah diperlakukan seperti ini.

 

Kenapa bisa seperti ini—

 

”Hentikan Tuan!”  Jiyeon berusaha bangkit dari atas ranjang, tapi Joong Ki menariknya.

 

”Sayang…” sebut Pria itu lembut

 

”Apa kau merasakan sesuatu?”  tanyanya setengah membentak

 

Jiyeon menggeleng

 

”Aku bertanya apa kau merasakannya?”

 

Menggeleng lagi, menolak untuk mengatakan hal sebenarnya. Dia tidak siap melakukan ini.

 

”Kau merasakannya, Park Jiyeon. Kita sedang bertaruh di sini. Apa kau dengar?”

 

Dengan tegas Jiyeon menggeleng,.

 

”Aku harus pergi!”  dia berdiri untuk menghindari suasan panas di dalam tubuhnya. Dia menolak untuk mengakui bahwa dirinya teransang.

 

”Tidak! Permainan ini belum selesai.” tangan Joong Ki menahannya.

 

”Kau sudah berjanji tidak memperlakukanku seperti ini.”

 

”Apa kau merasa aku memperlakukanmu kasar?”  Joong Ki mempermainkan matanya.

 

”Kau menyentuhku.”

 

”Itu bagian dari taruhan kita.”

 

”Aku tidak suka ini, Tuan.”

 

Pria itu menahan nafasnya sebentar.

 

”Kau tidak menyukaiku?”

 

”Aku tidak mengatakan begitu.”

 

”Berarti kau menyukaiku.”

 

”Jangan seperti ini.”  Jiyeon berdiri.

 

”Kita bertaruh satu kali lagi.” ajak Joong Ki

 

”Tetap saja akan merugikanku.”

 

”Kenapa kau tidak mencobanya.” Joong Ki bersimpuh di atas kasurnya, menahan Jiyeon dengan memeluknya. Jemarinya bermain di punggung gadisnya dan meletakkan kepala dalam dekapan Jiyeon.

 

”Aku melakukan ini bukan untuk memuaskan aku—”  bisiknya  ”Aku justru ingin menyenangkanmu, Park Jiyeon.”

 

”Tuan Song,  Anda membuat ini seolah-olah saya membutuhkan hal itu. ”

 

Pria itu seketika diam dengan mimik terpukul. Berangsur mundur, kemudian meninggalkan Jiyeon. Dengan tubuh setengah telanjangnya, dia keluar dari kamar

 

 

 

Masih dengan posisi duduknya, Jiyeon melihat ke arah jam dinding. Memang belum terlalu malam, dan masih ada harapan dia segera pulang. Dengan mengendap dia melangkah, mengintip di mana sosok Tuannya yang tadi berkelana dengan tubuh setengah telanjangnya.

 

Irisnya menangkap bayangan pria itu sedang berdiri di pantry, memandangi gelas airnya yang kosong. Haruskah dia melarikan diri sekarang. Terus terang jantungnya berdegup tak karuan. Bagaimana jika dia diteriaki maling ketika berlari ke arah lift itu. Jeda waktu yang dia butuhkan tidak akan cukup untuk segera menghilang dari pandangan laki-laki itu.  Diaturnya nafas agar tidak terlalu membuatnya gugup, kemudian berbalik

 

BRUGH

 

”ARRGH!” pekiknya ketika menumbuk pada sosok yang menghalanginya. Dia terduduk di lantai dengan cengiran sakit pada pantatnya.

 

”Tuan, kenapa kau di situ?” tanyanya bodoh, sementara wajah Joong Ki tergilas oleh kesan lucu yang dihadirkan Jiyeon sehingga dia harus terkekeh.

 

”Kau pasti sedang merencanakan untuk melarikan diri dari sini.”  dengan cepat dia menutup pintu kamar, dan menguncinya.

 

”Tuan, saya harus pulang sebelum terlalu malam.”

 

”Sopirku bisa mengantarmu pulang nanti. Kau tenang saja.”

 

Rasa khawatir Jiyeon membuat kesan kerut di kening Joong Ki bertambah satu

 

”Aku tidak mau,Tuan!”

 

Mendadak Joong Ki bersandar pada dinding dengan kepala menunduk, tangan kanannya meremas dada sebeah kirinya.

 

”Tuan…Tuan….Tuan Song!”  Jiyeon menghambur pada tubuh itu yang kemudian minta di papah ke tempat tidurnya.  Pria ini tidak mengatakan apa-apa lagi selain terbaring dan mencoba untuk menarik selimutnya.

 

”Tuan, kenapa seperti ini? Apa aku harus memanggil ambulance lagi?”  ketika Jiyeon ingin menarik selimut itu, tangan Joong Ki mencengkram lengannya dan menarik Jiyeon hingga tidur di sisinya, dan mendekap dengan seluruh kekuatannya.

 

”Temani aku malam ini.” bisiknya, sambil menelusup di ceruk leher gadis di sebelahnya.

 

Mendadak pun hening. Situasi menjadi genting bagi seorang Jiyeon. Pria ini tidak lagi mengajaknya bermain-main seperti tadi, ini jauh lebih gawat. Malah langsung mengajaknya tidur seperti ini.

 

Bola mata indahnya bergerak kian kemari dengan tubuh kaku membeku. Berusaha bergeserpun tak guna, Pria ini menariknya lagi hingga makin tenggelam dalam dekapannya.

 

Tubuhnya yang langsung mengena di tubuh telanjang pria inilah yang menjadi pertimbangan batinnya untuk tidak ter—

 

”Pejamkan matamu!” bisikan itu terdengar lembut

 

”Ehm?”

 

Sebuah kecupan menyapa kulit lengannya.

 

Dengan posisi tanpa spasi ini, semua bisa dirasakan Jiyeon dengan lebih nyata. Apapun ini, dia merasa otaknya buntu.  Setiap jengkal tubuh itu menggetarkan tubuhnya. Detak jantung yang terasa lemah itu seakan menggema di dalam genderang pendengarannya. Satu persatu nafas mengalun semakin pendek. Diliriknya sosok yang tengah terpejam itu.

 

”Tuan..!” Sebutnya lirih

 

”Tuan!”  Jiyeon mengguncang lengan pria yang mendekapnya.

 

”Kau ingin kucium?” terdengar pertanyaan dadakan yang membuatnya mati kutu.

 

”Eoh tidak!”

 

Joong Ki membuka matanya, mengendus aroma kelembapan di area leher Jiyeon dan menjilatinya. Gadis itu menggeliat dengan mata terpejam, berusaha menahannya, dia terus terpejam hingga pada detik lidah itu tiba pada daun telinganya.

 

”Mmmphh!”  mendesah dengan bibir terkatup. Joong Ki mengintipnya, membiarkan bibir itu terobsesi dengan gairahnya sendiri. Semakin lama dia menjilat, mengecup dan menghisapinya, JIyeon semakin gemetar.

 

 

Tubuhnya lemas, demi merasakan titik nikmatnya di manjakan dengan lembut.  Dia merangkul pada leher  Tuannya dan membiarkan laki-laki ini terus melakukan semua keinginannya.

 

Sebuah ’Aaah’ singkatnya menyatukan tatapan mereka, dan Joong Ki menyerang bibir yang telah menyerahkan desahan lepas itu dengan bibir penuhnya. Memagut, menenggelamkan dan memadukannya dengan liukan tubuhnya pada tubuh yang tengah menerima sentuhannya.

 

Ini gila…

 

Ini sangat gila.

 

Jiyeon terpejam dan membayangkan bongkahan bibir itu menginvasinya, melesakkan lidahnya yang seolah-olah ingin membawa semua kehidupannya masuk ke dalam tubuh pria di hadapannya.

 

 

Eoh,

 

Pria ini begitu erotis, dada bidangnya yang hangat dan lembut itu seakan-akan mentransfer alunan detak jantungnya pada tubuh nya

 

 

Joong Ki begitu bahagia. Dia tersenyum ketika mereka menari  dan bergumul bersama. Tatap matanya sayu dan menikmati rona itu di wajah pasangannya.

 

Jiyeon telah menjatuhkan semua egonya dan membalas tatapan itu dengan bibir terbuka, dengan mendesah tanpa rasa malu di hadapan masternya.

 

Gigitan Joong Ki menyapa dagunya, dan turun hingga ke leher jenjangnya, membuat sebuah tanda cantik dengan warna kesukaannya. Dia terlihat puas.

 

”Ini akan menjadi hal yang terindah untuk kita.”

 

Jiyeon tak menjawab, dia menerima tangan itu kembali meremas pantatnya. Dia terbelalak kaget ketika dengan cepat kaki pria di atasnya ini memisahkan kedua kakinya.

 

”Just rileks!” bisiknya sambil mengecup bbirnya sebentar. Dia masih menekan Jiyeon dengan dadanya, dan mendesah dengan nada yang random sambil menggesekkan kejantanannya. Pria ini benar-benar menikmatinya.

 

”Tuan..”

 

”Ssst!”  desisan itu melarang JIyeon untuk bicara

 

Oppa...” Dikte Joong Ki

 

Jiyeon mulai panik dengan memegang kedua tangannya.

 

”Aku akan membuatmu merasa nyaman, Sayang.” tatap matanya redup, kedua pipinya memerah dengan hasrat yang tinggi.

 

Telunjuk itu, dia menghunusnya dan meminta Jiyeon mengulumnya….

 

”Ehmm..” Joong Ki mendesah ketika telunjuknya mendapatkan hisapan dari mulut hangat Jiyeon. Kemudian menariknya lagi, dan—

 

 

JIyeon menggeliat ketika telunjuk itu menyentuhi sesuatu yang selama ini tak pernah di duganya.   Merambat melewati sistem saraf, kemudian rasa ringan itu menerbangkannya. Cahaya berpendar di pandangannya, semakin lama semakin menumbuk pada satu titik yang nyaman…bukan… ini tidak sekedar nyaman.

 

”See… aku menemukanmu, Sayang!”  bisik Joong Ki lagi ketika mulut Jiyeon menganga. Bahkan tanpa melepas celana dalamnya, Jiyeon bisa merasakan sentuhan telunjuk itu begitu menyamankannya.

 

Joong Ki puas dengan aksinya. Ya, teruslah  mendesah seperti itu, Sayang.. kau membuatku hampir gila.

 

Oppa, jangan—”

 

”Jangan apa?”

 

Jiyeon melirik, ada rasa ingin segera berlari, tapi semua itu tertahan oleh sebuah kenikmatan yang mulai menagihnya. Telunjuk itu…

 

Kini dia mengerti dengan semua isyarat Pria ini padanya. Jiyeon membencinya…sangat membencinya.  Dia ingin berlari, secepat mungkin dari sekapan monster tampan ini.

 

”Berikan padaku, Sayang…” bisiknya lagi, seduktive sangat menekan. Dia ingin Jiyeon mendesah lagi.

 

”Aku harus pergi!”

 

Sebuah gigitan menyapa bahunya. Sangat kuat dibarengi tatapan menuntut dari Pria yang menindihnya

 

”Jangan pernah berpikir untuk pergi!” geramnya. Tidak lama kemudian, Jiyeon mulai merasa ereksi Joong Ki menekan dibagian intimnya.

 

”Oppa, aku—”  memucat dengan peluh yang membayang di wajahnya.

 

”Virgin?” Joong Ki menebak

 

Jiyeon tak menjawab, tapi pria ini mengerti

 

”Aku tak akan membuatmu kehilangan itu sampai kita menikah nanti.”  Jadi pria ini berharap Jiyeon mau menikah dengannya.

 

Senyuman Joong Ki perlahan turun dibawa menelusup ke bawah selimut. Menyapa semua yang dilintasinya, termasuk payudara yang masih terbungkus pakaian. Pria ini tidak melepaskan, hanya mengecup di permukaan, namun semua itu semakin membuat Jiyeon kehilangan kewarasannya. Ada gairah supaya Joong Ki segera melepaskan semua itu darinya, tapi harga dirinya masih di ubun-ubun kepala.

 

Ehm…”  desahnya lagi

 

”Aku akan menunjukkan padamu sesuatu…”

 

Oppa…. aku—”  dia menyerah pada kondisi, Jiyeon menahan nafasnya kembali.

 

Joong Ki hanya menyingkap ke samping bagian celana dalam Jiyeon tanpa membukanya. Kemudian menyapa permukaan organ intim itu dengan mulut dan bibirnya.

 

”Oppa…”

 

Pria ini membuang selimut dan membiarkan tubuh mereka tak terselubung, dia hanya ingin melihat wajah itu ketika dia harus mengalami klimaksnya. Berkali-kali Jiyeon berperang dengan batinnya sendiri. Kenikmatan ini, dan pria ini…

 

Berhenti…berhenti….

 

Jangan

 

Berhenti,

 

”Oppa.”  tubuhnya gemetar semakin lama semakin ingin segera dituntaskan. Joong Ki terus menghisapnya…dia mempermainkan klitorisnya.

 

Ekspresinya begitu indah saat tengadah. Friksi yang berbeda…

 

”Oppa …”  Jiyeon tersentak kuat melepaskan kenikmatan orgasmenya.

 

Pria itu kembali menghampiri, dan mengecupi leher dan wajahnya, mengusap dan meraba dadanya. Keringat dan deru napas itu menyempurnakan pemandangan indah di matanya.

 

Dia  mengulum bibir itu lagi, menghisapinya hingga Jiyeon merintih.

 

”Kau menyukainya bukan…”

 

Jiyeon menggeleng lagi

 

”Aku ingin pergi dari sini…” sahutnya ketakutan.

 

Ketakutan  yang dirasakannya ini seperti sebuah dilemma. Ada rasa yang tidak ingin diakuinya, penyangkalan, bahwa apa yang akan dirasakannya akan membuat candu untuknya.

 

Please!”  Jiyeon begitu meminta dengan tubuh gemetar

 

”Aku merasa diriku kosong saat ini.”   kalimatnya meluncur dengan tidak sengaja.

 

Joong Ki kembali merasakan harga dirinya terpukul mendengarnya. Dia mengusap wajah itu dan menghentikan aksinya. Bergerak mundur, dan menatap dengan hampa. Cengiran getirnya mengambang.

 

”Kau menghancurkan moodku..”

 

”Mianhae…”   lirih JIyeon

 

”Pergilah!”  serunya lirih.

 

Jiyeon merapikan pakaiannya yang memang tidak sampai terlepas, dan berjalan keluar kamar, kemudian menutupnya. Ada rasa sesak di dalam batinnya ketika melihat wajah pria itu menunduk tanpa memperhatikannya.

 

Mungkin Tuannya itu benar-benar marah kali ini. Dia mengusirnya. Apakah ini artinya, dia bisa berlalu dari laki-laki itu.

 

 

Sementara itu, Joong Ki menatap hampa pada pintu yang terhempas  sesaat lalu ,  terhenyak dengan jantung mengejar frustasi.

 

Hening

 

Kenapa mendadak menjadi sepi.

 

 

Laki-laki itu duduk di tepi ranjangnya dengan menahan langkahnya agar tak mengejarnya. Hatinya sebagai laki-laki serasa hancur berantakan.

 

Jantung ini… dia bisa merasakan detakannya mengalun indah ketika Jiyeon berada dalam pelukannya, menatapnya dan tersenyum untuknya.

 

”Please come back!” bisiknya sambil menatap pintu itu.

 

 

.

.

.

 

TBC

 

 

Note.

 

Banyak yang nanya kapan Heechulnya muncul.

 

Next part bersama Heechul….

 

 

 

tbc

 

 

 

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. May andriani says:

    Akhirnya di update juga.. Iya kpn heechul muncul ya?? Oia ini ada adegan nc.nya gk lan?? Di tunggu nextnya..

    1. mochaccino says:

      ada tapi ntar masih nunggu berapa chapter ya, tapi sama Heechul pa sama JOongki, semua berharap sama joongki tapi secara aku pen sama Heechul hahaha…

      1. May andriani says:

        Sma joongki aja,, atau gk dua”nya aja hahaha 😀

  2. indaah says:

    yaampun , jongki knapa gk blg aja klo suka ma jiyeon pke perintah trus muka datar pula dan pke taruhan pula yg malah nguntungin dia wkwk
    aku gk dpet feel nya jongki ma jiyi td lan ntah knapa mgkin krna jongki yg seenak nya gtu ya
    lagian jongki pnya sakit jantung ya parah gk ??
    jiyeon cobalah utk setia 😉
    ada nc ya , sama heechul??

  3. sookyung says:

    kpn nihh heechul bkal nongol,, ??

  4. cia says:

    Oh my…
    Joongki parahhh

  5. anii says:

    Itu astaga joongki taruhan.a huaaa gk tahan guaa–‘ meleleh bangg
    First.a sama joongki aja yee hehe penasaran gua sama next.a
    next yaaaw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s