BLUE [Chapter-11]


blue1

 Blue

Maincast : Jeon Jungkook and Park Jiyeon

Support Cast : Kwon Jiyong and Jei Fiestar

Length : Chapter

Genre : Romance/ Angst

Rated : PG

.

.

 

Jiyeon masih berusaha untuk menggoda Jungkook ketika bel itu berbunyi nyaring. Mereka saling menatap sebentar.

”Aku akan masuk ke dalam kamarku!”  Jiyeon segera berlari ke kamarnya, sementara Jungkook merapikan pakaian dan rambutnya.

”Jei!”  Jungkook hampir terjungkal ketika dia melihat kakak tirinya itu berdiri di muka pintu dengan wajah yang dipasang manis. Dia mengangkat sebuah rantang tiga susun di depan Jungkook

”Aku membawa makan malam untuk kita.”  ujarnya sambil melangkah masuk.

”Ta…tapi, aku sudah makan malam.”

Jei berdiri di ruang tamu dengan senyum aneh. Dia melihat kondisi meja di meja makan berantakan, sedangkan buku pun berjatuhan ke lantai. Ada aroma tak sedap yang membayang di dalam sini. Yeoja itu menoleh pada Jungkook yang mencoba untuk mengusirnya dengan menarik tangannya.

”Aku tidak mau diganggu, Jei.”

”Kau habis mengamuk?”

”Tidak, aku hanya sedikit kesal.”

”Kalau masalah pelajaran, aku bisa membantumu,”

”Tidak perlu.”

…….

Ting Tong…… diam dan saling menatap,  mengatur nafas—

……

Bel pintu berbunyi lagi.

……

”Aku harus membukanya. ” Jungkook segera berlari ke pintu kemudian membukanya, berharap itu seseorang yang bisa membantunya keluar dari situasi ini, tapi yang didapatinya justru seorang Jiyong yang dengan rasa percaya dirinya masuk sambil membawa bucket bunga.

”Kau tidak diijinkan masuk Jiyong.”  serbu Jungkook panik, sedikit membara karena emosi, juga cemburu.

”Aku ingin bertemu dengan Jiyeon.” tanpa basa basi

Jei mengernyit— curiga? Bingung?

”Jiyeon?” tanyanya tak mengerti

”Di mana dia?”  Jiyong berjalan ke arah kamar Jungkook. ”Apakah ini kamarnya?”

Mereka lancang! Pikir Jungkook kesal.

Jei ikut berjalan ke kamar lainnya untuk mencari tau. Dia merasa curiga dan ingin tau apakah yang dikatakan Jiyong itu benar.

Dengan wajah was-was Jungkook mencoba untuk mencegah mereka melakukan invasi.

HENTIKAN! Ini apartemenku, kalian tidak punya hak melakukan itu di sini!”

”Apakah benar Jiyeon tinggal di sini, Jeon Jungkook?” Jei begitu mendakwa— begitu sengit menilik dengan matanya.

”Jika dia memang tinggal di sini, kau mau apa?”  Tantang Jungkook berani

DI MANA DIAAAAA?!”  teriak Jei keras

Pria dengan penampilan keren itu pun menyipitkan mata melihat gadis itu berteriak. Suaranya begitu nyaring dan memekakkan kupingnya.

”Aku di sini.”  Jiyeon keluar dengan wajah tenang sambil  memperhatikan Jiyong dan Jei satu-persatu. ”Ada urusan apa kalian begitu ingin bertemu aku.”

”KENAPA DIA BISA DI SINI?” bentak Jei pada Jungkook.

”Jiyeon, aku ke sini untuk mengajakmu makan malam,” ajak Jiyong berusaha mendekat, tapi Jungkook melarang dan menahannya— memasang badan di depan Jiyeon.

Oppa, kita bisa makan malam lain kali. Aku sedang tidak ingin keluar denganmu.”  jawab Jiyeon sambil mendekati Jungkook.

”Kami memang tinggal bersama Jei, kau harus tau mulai sekarang. Aku dan Jiyeon Nunna, saling mencintai, dan apa yang kau pikirkan mengenai dia sama sekali tidak benar. Aku sangat  mencintainya.”

Jei menggeleng rapuh— menatap benci pada Jiyeon. ”Dia lebih tua darimu.” dengan nada jijik

”Jiyeon, aku mempunyai berita mengenai ibumu. Aku sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaannya. Apa kau ingin tau?” Jiyong tidak terlalu terprovokasi dengan kondisi ini, dia terlihat tenang dengan menarik tangan Jiyeon dari Jungkook.

”Jangan menyentuhnya!”  mendadak Jungkook menunjukkan otoritasnya. Dia terlihat jauh lebih berani sekarang.

”Tunggu Kookie, aku ingin bicara sebentar dengan Jiyong Oppa.”  Jiyeon melepaskan tangannya dari Jungkook dan mendekati namja yang tengah tersenyum penuh kemenangan itu. Jika ini mengenai eommanya, Jiyeon tidak ingin Jungkook melarangnya.

”Kau ingin bicara apa Oppa?”   dia berharap semoga Jiyong tidak berbohong.

”Ikutlah denganku dulu, nanti akan kuceritakan.”

Jiyeon menoleh ke arah Jungkook, ”Aku akan keluar bersamanya sebentar, Kookie.”

Jungkook tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya merasa sedikit diabaikan hanya karena Jiyong mengatakan bahwa kedatangannya ini ada hubungan dengan eommanya..

”Aku akan mengatakan ini pada Appa, bahwa kau tinggal bersama wanita. Aku yakin Appa akan mengusirmu dari sini.”

”Kenapa kau selalu ingin mencampuri kehidupanku, Jei?” Jungkook mendengus kasar sambil menatap Jiyeon yang berlalu bersama Jiyong, sedangkan dia sendiri harus menghadapi konseuensi bahwa Jei kemungkinan akan menghancurkan kehidupannya.

”Kookie, aku sangat memperhatikanmu, dan tidak ada maksud mencampuri kehidupanmu, hanya saja ini sudah keterlaluan. Kau menyalahgunakan fasilitas yang diberikan Appa padamu. Apartemen ini sebenarnya untukku, tapi kau menggunakannya lebih dulu, lalu sekarang kau menempatinya bersama wanita itu. Apa kau pikir aku akan tinggal diam?”

Ya, memang benar Jungkook telah merebut apartemen ini dari Jei dulu, dan sekarang entah apa yang akan terjadi. Apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan.

”Tapi—”

”Tapi apa?” Jungkook mengejar

”Aku tidak akan mengatakan apapun seandainyaaku bisa tinggal di sini.” Jei tersenyum iblis.

Bocah dengan wajah tampan itu menatap Jiyeon yang tak mungkin bias membelanya. Jika menyangkut masalah apartemen ini, dia memang sudah tidak bisa ikut campur.

”Aku akan pergi, jika kau berani tinggal di sini.”

”Apa kau berani pergi dari sini? Di mana kau akan tinggal?”

”Di manapun itu asal tidak denganmu!”

”Kenapa kau selalu kejam padaku. Kata-katamu itu, benar-benar membuatku terhina. Kenapa kau tidak bisa berpikir biasa-biasa saja padaku, dulu kau tidak begini, Kookie, kita—”

”Kookie,!”  Jiyeon menyentuh bahu Jungkook, dan membuatnya berpaling pada tatapannya, tapi kemudian justru Jungkook menarik pinggang Jiyeon dan memberikan sebuah kecupan pada pipi Nunnanya, membuat Jiyong dan Jei berdecih kesal.

Dengan wajah merona, Jiyeon tersenyum. ”Aku akan keluar sebentar dengan Jiyong Oppa.”

”Kenapa masih ingin keluar dengannya Nunna?”  sedikit merajuk,

”Hanya sebentar!” ditepuk pipi bocah itu dan melepaskan tangan Jungkook dari pinggangnya

”Jangan terlalu lama, kau janji untuk membantuku mengerjakan tugasku.”

Jiyeon mengangguk sambil berjalan ke arah luar.

.

.

.

Ternyata tidak mudah menghadapi hidup ini sendirian. Bersandar pada sosok yang salah adalah hal yang fatal. Jika eommanya sudah menempuh kehidupannya sejauh ini, dan belum menemukan satu pegangan yang pasti, itu bukanlah kesalahannya. Dulu, hati siapa yang tidak akan luluh dengan rayuan dan perhatian yang dia terima dari laki-laki itu sampai dia harus menikahinya, meski dia tahu laki-laki itu bukan sosok yang menyenangkan. Di mata Jiyeon, ayah tirinya itu tidak pernah memandang eommanya sebagai wanita yang telah ikut membantunya mencari nafkah dan bisa mewujutkan keinginan laki-laki itu untuk membeli rumah.

Sama sekali tidak ada rasa curiga ketika semua itu di atas namakan dirinya sendiri. Sebenarnya jika dia mencintai eommanya, maka semua itu pasti akan dia persembahkan pada istrinya. Jiyeon menghela napasnya, mungkin sudah menjadi garis kehidupan eommanya untuk berkali-kali jatuh dalam luka hati semacam ini.

Jiyong mendadak muncul, ketika Jiyeon baru saja keluar dari dalam lift. Mereka saling menatap canggung.

Oppa, kenapa kau ada di sini lagi. Semalam kita sudah bertemu dan makan malam. kau berbohong padaku ingin mengatakan di mana eomma, tapi nyatanya kau hanya memanfaatkanku.”  Jiyeon melengos, dia was-was, karena sejak kedatangan Jiyong, Jungkook mempertontonkan kecemburuannya.

Sepulang makan malam itu, bocah itu memang menunggunya. Meskipun tidak berani bertanya  tapi jelas dia menunjukkan kalau dia tidak suka jika Jiyeon pergi bersama pria yang baginya dianggap sebagai saingan terbesarnya.

”Aku sungguh sudah menemukannya. Kau tahu, aku tidak mungkin mengajakmu ke sana, karena sudah terlanjur malam. bagaimana jika hari ini kita ke sana.”

Jiyeon mengernyit. Bau busuk! Pikirnya

Apakah ini sebuah perangkap?

Siapa yang tidak mengenal Jiyong. Pria ini sanggup membuat sebuah drama menye-menye  hanya untuk menjebak korbannya.

Oppa, aku harus bekerja.” jawab Jiyeon, toh benar. Dia tidak berbohong untuk menghindari, tapi sebenarnya dia pun penasaran. Apalagi ini ibunya sendiri.

”Aku memang ingin bertemu dengannya, Oppa.

”Kalau begitu kau menunggu apa lagi? Kita harus segera berangkat, karena sepertinya kita akan pulang kampung bersama.”

Jiyeon tercengang, ”Apakah eomma berada di rumah hameoni?”

”Dia tidak punya tujuan lain selain ke sana. Aku pikir kau berpikir sampai ke sana.”

Jiyeon menoleh, ini sebuah sindiran atau semacam ejekan.

Dia memastikan Jungkook tidak muncul, tapi jika dia harus pergi diam-diam, ini akan membuatnya kecewa.

”Ayolah, kenapa kau menunggu bocah ingusan itu?”

”Namanya Jungkook.”  tegas Jiyeon yang merasa tidak nyaman Jiyong meremehkan namja yang hidup bersamanya pun telah diajaknya bercinta. Hm, siapa yang mengajak bercinta lebih dulu—

Sangat sulit dipastikan, karena mereka semalam dalam atmosfer yang begitu mendukung

Whatever!”  Jiyong mendengus jengah.

”Kuharap kau tidak membuat masalah dengannya. Kami sudah saling memiliki, dan ini serius, karena latar belakang kehidupan kami sama. ”

Pria di depannya ini mulai jengah dengan tetek bengek yang Jiyeon paparkan, membuat kupingnya panas. Sepertinya tidak ada bahan pembicaraan lain selain membela seorang bocah dengan prilaku absurd itu. Kenapa Jiyeon bisa terjatuh dalam pesona seorang Jungkook yang masih kekanak kanakan seperti itu. Apa hebatnya dia? Gerutunya dalam hati.

”Kau tidak memandangku hanya karena dia terlihat lebih fresh. Kau sungguh menyukai daun muda, dan membuang pria terbaik untuk masa depanmu ini? Aku bahkan jauh lebih berpengalaman di banding dia dalam segala hal.”

Jiyong menahan nafas sebentar— sombong sekali jagoan kita ini!  Makinya.

Mungkin memang dia salah omong, mimiknya menyebut garis kebodohan yang sepertinya telat untuk di sembunyikan, seharusnya dia tidak membuat Jiyeon murka di pagi buta seperti ini. Bukankah tujuannya untuk mendekati dia apapun caranya. Dengan semua lahan yang dimiliki oleh keluarga Jiyeon di kampung halamannya itu, Jiyong bisa mendapatkan keuntungan jika bisa mengelolanya. Otak bisnisnya bekerja—licik.

Jiyeon sendiri mencium gelagat buruk mengenai sikap Jiyong yang kelewatan menempel seperti parasit di tubuhnya.

Lalu apa Jiyong tidak salah ucap menyebut dirinya sebagai masa depan seorang Jiyeon. Itu, kan bullshit! Siapa yang bisa menentukan masa depan siapa. Cih!

”Ayolah kita berangkat!”Jiyeon tak tahan, dan segera ingin bertemu dengan ibunya yang menurut Jiyong berada di kampung halaman mereka.

Selama ini, Jiyeon tidak pernah tahu di mana Jiyong tinggal, hanya saja mereka memang satu sekolah tadinya, dan selebihnya tidak ada hal lain yang Jiyeon perdulikan tentang seorang Jiyong selain kepopulerannya.

Sementara itu, Jungkook yang baru keluar dari dalam lift sempat melihat Jiyong dan Jiyeon berjalan bersisian keluar dari gedung dan berjalan ke arah mobil pria brengsek yang selalu berusaha mendekati Nunnanya. Hatinya sempat merasa di tusuk benang sulam.

Apakah mereka benar-benar akan pergi mencari Bibi Park. Pikirnya. Mungkin memang Jiyong terlihat lebih dewasa, dia mungkin juga pasangan yang sepadan untuk Nunnanya. Mereka terlihat sama-sama dewasa dan sepertinya semua orang akan langsung memberi restu untuk hubungan mereka. Berbeda dengan dirinya, yang mungkin bagi sebagian orang akan memandang miring.

.

.

.

Setengah perjalanan ini di lewati Jiyeon dengan bayangan wajah bocah itu ketika mereka sedang melakukan percintaan yang begitu panas dan mendadak tadi malam. bukankah itu sebuah kejutan. Tidak pernah dia bayangakan bahwa dia akan melakukan itu dengan seorang namja yang umurnya lebih muda darinya.

Betapa wajah itu begitu penuh dengan perasaan canggung dan gairah suilt yang di tahannya, jelas bocah itu merasa serba salah dengan apa yang dilakukannya. Dia tidak bisa berekspresi bebas dan cenderung malu-malu, mungkin karena itu adalah pengalaman pertamanya. Jiyeon menggigit bibir bawahnya, karena semalam bukan sex pertamanya, dan Jungkook adalah pria keduanya, hanya saja sensasinya lebih terasa, dengan perasaan yang aneh, karena sedikit berpikir kalau bocah itu seharusnya menjadi adiknya. Ouh fuck!  Dia merasa telah bercinta dengan adiknya sendiri.

”Sebentar lagi kita sampai.”  pria di sebelahnya ini bergumam.

”Apa kau yakin Eomma benar di rumah halmeoniku.”

”Orang tuaku yang mengatakannya. Kita akan mampir sebentar ke sana, Oke.”

”Ke mana?”

”Ke rumahku.”

”Kau bilang kita akan langsung ke rumah halmeoniku.”

”Hanya sebentar saja.”

Belum apa-apa sudah meleset dari omongan. Perasaan tidak yakin ini memang benar-benar sudah bisa dibuktikan. Dari persoalan sepele ini  pun omongan Jiyong sudah tidak mengenakkan batinnya.

”Apa aku harus turun di sini, dan melanjutkan perjalananku sendiri, Oppa?” sengitku

”Hh, kau ini kenapa, Jiyeon?”

”Aku yang mempunyai kepentingan di sini, tapi kenapa kau yang mendompleng. Kau sendiri yang mengajakku supaya buru-buru ke sana, tapi sekarang malah kau sendiri yang melenceng.”

”Kau marah?”  sedikit menggoda, tidak usah ditanya bagaimana lincahnya gerak matanya yang nakal itu. Kalau saja dia punya nyali untuk meninjunya, pasti sudah dia lakukan. Jiyeon hanya merasa takut, pria ini akan bertindak kelewatan.

”Tidak, aku cukup kesal dengan sikapmu.” Jiyong merengut dengan gaya khasnya, sedikit mengangguk sambil menikmati hawa pegunungan.

”Baiklah, kita menemui Eommamu dulu, baru nanti jika sempat kita mengunjungi orang tuaku.”

Jiyeon tidak suka dengan situasi ini seolah-olah mereka akan menikah, saling mengunjungi orang tua. Apa dia memang sengaja?

”Mereka pasti senang kalau aku datang bersamamu.” timpalnya

”Aku tahu maksudmu Oppa, tapi kau kan sudah tahu, sepertinya aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu.”

Pria yang tengah menyetir itu hanya mematutkan mulutnya ke kiri, mungkin sedang mencandai perkataan Jiyeon. Dia meremehkannya karena Jiyeon tidak punya pilihan.  Di depan eommanya itu, Jiyeon tidak akan mungkin mengatakan kalau dia berharap pada bocah ingusan yang belum jelas masa depannya itu.

.

.

.

Sementara itu,

Jungkook berdiri di depan ibunya,

Wanita itu mendadak berdiri di depan gerbang sekolahnya dengan wajah sedih dan takut menyentuh putranya.  Bertahun-tahun mereka terjalin sebagai ibu dan anak, namun hari ini entah kenapa Jungkook merasa saat ini seperti ada kekosongan yang begitu luas pada spasi yang mereka tempati.

Keringat di wajah itu bercerita mengenai beberapa waktu yang dia pakai untuk menanti bisa bertemu dengan dirinya, seorang Jungkook yang masih merasakan kebimbangan, juga keraguan mengenai jati dirinya.

”Kookie..”  tangan itu berusaha meraihnya

Eomma~!”

Eomma rindu sekali, kau tidak pulang dan menemui Eomma.”  bibirnya bahkan gemetar.

Di dalam hatinya, Jungkook merasa bersalah. Dia tidak seharusnya memperlakukan ibunya seperti itu. Semua ini bukan kesalahannya. Semua situasi ini membuat hubungan ini terjalin timpang.

”Maafkan, kami Nak!”  pintanya

Mereka berjalan di sepanjang trotoar yang tampak lengang, sesekali melirik dan menghela nafas.  Beberapa temannya sempat memperhatikan, tapi Jungkook tidak memperdulikan.  Sore ini dia merasa sedikit cemas mengenai Jiyeon.

Wajar jika berpikir begitu, jauh di lubuk hatinya dia tidak ingin semua ini harus dijadikan sebuah momen sesaat dalam kehidupan Nunnanya. Dia sadar, bahwa dirinya masih belum bisa diandalkan. Bocah SMA pun bermasalah. Apa hebatnya seorang Jungkook. Bagi Jiyeon pasti sebuah dilemma untuk mempertahankannya.

”Kenapa? Kau tidak suka eomma menemuimu di sekolah?”  ibunya menepuk bahu tegap itu, jelas tinggi badannya kini membuat wanita di sampingnya ini kesulitan untuk memberinya ketenangan.

Menoleh canggung dipergoki melamun,

”Eomma,~”

”Kau ingin bicara apa?”

”Aku tinggal di apartemen bersama Jiyeon, Eomma.

”Hm?”  langkahnya terhenti, berikut kejelian matanya yang terpusat pada iris putranya.

”Apartemen?” berpikir keras. Fasilitas apartemen itu, hanya dimiliki oleh suaminya.

”Apakah ayahmu yang membiarkanmu tinggal di salah satu flatnya?”

Jungkook mengangguk

”Appa memberikan sebuah apartemen untuk Jei, tapi aku menempatinya bersama Jiyeon.” jawabnya tenang, tapi dengan hati was-was.

”Apa…ehm.. apa yang kau bilang?” gagap, meski sudah mendengar tapi berusaha untuk memastikan, siapa tahu apa yang di dengar tadi itu salah.

Eomma, kau sudah mendengar.”

Wanita itu diam,

”Kookie, apa kau dan dia—”  keningnya berkeringat di hawa dingin ini.

”Terus terang, aku menyukai dia.”

Eoh, ” menutup mulutnya, …  ”Tadinya eomma mendatangimu untuk memastikan apakah kau baik-baik saja atau tidak, ”

Jungkook menggeleng tak jelas.

”Kurasa aku memang tidak baik-baik saja, aku sangat marah pada semua ini.”

Eomma berharap~…kenapa harus dia? Apa kau tidak tahu keluarganya saja—”

Melirik tajam, ”Eomma, keluarga kita saja begini, kenapa kau membicarakan keluarga orang lain.”

Mulutnya bergerak seperti ingin  bicara, megap-megap seakan-akan banyak kata di dalam benaknya, tapi tak sanggup dia utarakan. Anak lelakinya ini sudah beranjak ke tingkat dewasa, baik secara fisik dan kejiwaannya, dia tidak perlu dijejali dengan banyak omong kosong yang tidak pernah bisa dia, orang tuanya ini  contohkan padanya.

”Meskipun kau tahu, kalau kau bukan putra dari ayahmu, tapi kau adalah anak kandungku, Kookie. Aku yang mengandungmu. Kau dan aku mempunyai ikatan lebih dari darah, kau tau kan.”

Jungkook menghela nafas.

”Jangan menganggapku musuhmu, dan aku harap hubunganmu dengan Jiyeon hanya sebuah kesalahpahaman. Walau bagaimanapun Eomma tetap merasa keberatan kau bersamanya.”

”Kenapa Eomma membencinya?”

”Tidak! Eomma tidak membencinya, hanya saja hati seorang eomma memang seperti ini. Kau harus bisa memahaminya, seperti aku mencoba untuk memahamimu.”

Dengan berat hati, Jungkook harus bisa menerima semua itu. Dia tahu bahwa hubungan mereka ini pasti akan ditentang banyak orang.

.

.

.

Stop, bukankah kita harus berbelok  di tikungan tadi, Oppa?

Jiyong mengerem mobilnya dan melihat pada pertigaan jalan yang mereka lewati beberapa meter. ”Sepertinya begitu.”  diperhatikan kondisi jalan dari spion samping, untuk berputar balik.

Sudah lama dia tidak pulang kampung, dan ini mungkin menjadi momen pertama dia kembali bersama Jiyeon.

”Itu dia!” tunjuk Jiyeon sedikit gugup, haru dan entahlah—

Ada banyak perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Dia rindu pada ibunya, juga keluarganya. Benar-benar keluarga— setelah sekian lama dia tidak merasakan berada di dalam sebuah keluarga yang mencintainya dengan tulus.

Sudah lama sekali—

”Kau merasa bahagia?”  tebak namja itu dengan cengiran puas, berhasil membuat seorang Jiyeon senang.

”Ehm, Ya.”

”Bukankah itu Ibumu.”  dagunya menunjuk pada sosok wanita yang tengah sibuk dengan beberapa tanaman teh hasil panenan yang siap diangkut ke tempat industri.

”Di sini daerahnya sangat bagus, aku menyukai tempat ini.”  Jiyong berdecak kagum, sambil mengintai beberapa lokasi menarik di sekitarnya.

Jiyeon tak perduli dan bergegas dengan langkahnya yang hanya beberapa detik saja sudah tiba di depan ibunya. Mereka saling menatap dan memeluk.

Jiyong membiarkannya.

”Kau tau eomma di sini Sayang!” wanita itu berkaca-kaca dengan perasaan membuncah bahagia bisa bertemu dengan putrinya lagi

”Gwenchanayo, Eomma?”

 

”Agh ya, eomma tidak bisa bilang apa, semua mungkin memang harus terjadi. Tidak apa-apa~ ehm, siapa dia?”

Jiyeon menoleh Jiyong yang berdiri santun di sisinya. Namja ini sesekali merapikan tatanan rambutnya— mencari muka.

”Dia Jiyong Oppa.”

Annyeonghaseyo, Eommonie!”

“Ek-hem!” Jiyeon menyikut

Karuan wajah ibunya merengut bingung, mungkin dia berpikir di kemanakan bocah ingusan itu, yang mengajak Jiyeon tinggal bareng dengannya itu.

“Kalian menemukanku. Ini bagus.” Gumam ibunya, dan Jiyeon tak mau lepas dari pelukannya. ”Masuklah, nenekmu sedang sakit.”

”Sakit?”

”Hm, mungkin karena terlalu memikirkan Eomma.”  dia menghela napas berat. ”Begitulah menjadi seorang ibu. Kau pasti akan mengalaminya kelak.”

”Aku akan menemuinya.”  Jiyeon berjalan meninggalkan Jiyong, dan membiarkan namja itu terlibat pembicaraan dengan ibunya. Entah apa yang akan dia katakan, mungkin mengenai niatnya.  Jiyeon sebenarnya merasa sedikit aman dengan keberasamaannya dengan namja berwajah tirus itu. Dengan begitu, ada semacam pemikiran yang di tanam dalam benak

Neneknya sakit, dan tampak lemah.  Tidak tega rasanya melihat kondisi ibunya harus seperti ini, tinggal di tempat ini dan jauh dari kata bahagia. Jika dia harus membebani dengan masalahnya, itu sangat tidak adil sekali.

Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia dan Jungkook mulai terlibat sebuah hubungan yang kian erat. Seorang ibu seperti ibunya pasti berharap ada seorang laki-laki  mapan yang bisa membawa hidup anaknya ini ke arah kehidupan yang baik, dan tidak kekurangan apapun.

”Kalian belum makan?”

”Kami sempat berhenti sebentar tadi dan makan siang.”

”Hm., itu sudah tiga jam yang lalu. ”  timpal ibunya

”Ya, kami sudah lapar lagi.”

”Hawa dingin ini akan membuat kalian cepat lapar. Jiyeon, kau bersihkan kamar untuk Jiyong!”

”Nde Eomma!”

Wanita itu berjalan ke arah dapur sederhana. Di rumah yang tidak besar ini, semua masih tampak serba apa adanya.

”Aku akan membantumu, Jiyeon!”  namja itu tanpa rasa sungkan mengikuti Jiyeon masuk ke dalam kamar di sisi kanannya, yang menghadap langsung ke ruangan serba guna. Mereka biasa melakukan apapun di situ, berkumpul, menerima tamu, makan dan menonton teve. Penghangat ruangannya cukup membuat kulitnya berseri kembali.  Sesaat lalu memucat karena hawa pegunungan yang menjadi asing kembali.

Jiyeon mendengus sambil merapikan beberapa barang di dalam kamar itu yang tadinya tergeletak di lantai berwarna kuning itu.  Di kepalanya berputar bermacam pemikiran mengenai ibunya yang memang mungkin akan lebih baik berada di sini.

”Maaf, tempatnya harus seperti ini.” Jiyeon sedikit kesulitan dengan beberapa kardus. Pria itu membantu menaikkannya ke atas lemari dengan senyum konyol.

”It’s okay!”

 

”Rumahmu pasti bagus.”

”Tidak juga.” sahutnya sambil memperhatikan beberapa foto. ”Kami pun bukan orang kaya. Rumahku hanya sedikit lebih luas dari ini. Kami keluarga besar. Ayah dan ibuku masih lengkap, berikut kakek dan nenekku.”

Tangannya sibuk mengelap debu di lantai dengan kain, sementara Jiyong menatapnya lekat. Jiyeon terlihat begitu manis ketika dia mengerjakan pekerjaan rumahan, sama sekali tidak terlihat sebagai wanita kota yang selalu disibukkan dengan karir.

”Sudahlah, jangan terlalu berlebihan, aku bukan orang penting sampai kau harus membersihkan lantai seperti itu.”  ditariknya tangan Jiyeon, untuk dibawanya berdiri, mereka berhadapan. Kondisi canggung tercipta begitu saja.

”Aku masih berharap kita bisa bersama.” bisiknya

Bayangan ibunya menyeruak ketika Jiyong mendadak memberikan kecupan spontan di pipinya. ”Eoh!” pekik gadis itu bingung, melihat ibunya membeku di muka pintu.

”Aku akan membantu Eomma di memasak.”  dia bergegas menghampiri ibunya yang kemudian ditariknya pergi.  Jiyeon kesal sekali, kenapa Jiyong harus menciumnya seperti itu.

”Apakah dia~”

”Jangan di bahas, eomma. Belum waktunya. Dia memang seperti itu, padahal diantara kami tidak terjalin apa-apa.” jelas Jiyeon

”Jangan bilang kalau kau dan bocah SMA itu masih menjalin hubungan.”

Kepalanya tengadah pada langit-langit ruangan beratap rendah ini. Kenapa menjadi kian pengap saja rasanya. Pasti ibunya tidak akan menyetujui ini, tapi bukan karena masalah emosi pribadi, atau kebencian. Ibunya tidak membenci Jungkook, hanya saja tetap berharap Jiyeon lebih memilih lelaki yang lebih dewasa.  Dia sudah tahu masalah itu

Omongan ibunya hanya disenyumi, sekilas.

Eomma akan lebih setuju jika kau bersama Jiyong. Siapa nama keluarganya? Apakah dia berasal dari Seoul?”

”Tidak Eomma, dia dari daerah sini, kami dulu satu sekolah, hanya saja dia Sunbaenim ku. Kami tidak berteman, dia asing, hanya saja kami bertemu di Seoul, lalu kami menjadi seperti ini. Aku berusaha untuk bersikap baik padanya, bukan berarti aku menyukainya. ”

Jiyong mengangguk dari balik pintu mendengar pembicaraan mengenai dirinya. Jiyeon tidak menyukainya, ini membuatnya cukup tau diri, hanya saja belum terlambat untuk memilikinya. Jiyeon tidak mungkin bersama dengan bocah sialan itu.

.

.

.

Ruangan ini terasa kosong lagi, dari sudut ke sudut yang terlihat hanya senyuman Jiyeon dalam imajinasinya, kemudian mendengar jam di dinding yang berdetak pertanda kesepian. Dia tak menyangka bahwa hari ini dia akan merasa kesepian lagi.

Jungkook terbaring di ranjangnya sendiri. Kenapa Nunnanya tidak menelepon dan memberi khabar. Apa mereka terlalu sibuk berdua, sampai lupa memberi berita.

Kaki sebelahnya tampak pegal, mencoba memijatnya sebentar, tapi tetap saja pegal. Seandainya ada Jiyeon, dia pasti mau memijatnya.

Me      :  Di mana?

Me      :  Kau tidak pulang?

 

*Kirim

 Kemudian ditaruh di sebelahnya. Menunggu lama sekali, tanpa memegangnya. Tatapannya begitu fokus, mengabaikan waktu yang berlalu bersama detak jantungnya yang mengejar cemas.  Mungkin Jiyeon memang sedikit sibuk. Bibirnya mengerucut, memasang muka kesal, meski tak jelas harus kesal bagaimana.

Dia tidak bisa menuntut banyak, karena dia sendiri pun tak bisa diharapkan.

Kadang dia ingin sekali menjadi pria brengsek dan tak punya harga diri, memanfaatkan ketampanannya untuk mencari uang dengan cara yang gampang.  Bukankah mudah baginya mencari penghasillan dengan cara menjajakan diri. Mendadak tawa getirnya pecah. Ini tidak akan membuatnya bangga atas kehidupan ini.

Ding

Jiyeon membalas,

Nunna  :   Aku sudah bertemu dengan Eomma, Kookie.

Agh leganya,

Namja itu tersenyum, kemudian diketiknya balasan

Me  :   Bagaimana keadaan Bibi?

*Kirim

Nunna           :  Baik. Kau belum tidur?

Me                  :  belum, menunggumu pulang

Jungkook mendengus, kemudian mangambil sebanyak mungkin oksigen dan menahannya di dalam dada. Dia rindu sekali pada Nunnanya. Hh, baru pagi tadi, dan seharian ini tidak bertemu, kenapa sepertinya sudah jutaan tahun lamanya dia tidak melihatnya. Benarkah cinta ini memang begitu—

Ding

Nunna           :  Aku tidak pulang. Jangan menunggu. Kau memikirkanku?

Me                  : ??

Nunna           : Tidak jelas

Me                  : Nunna kau bersamanya

Nunna           : Ya

 

Jungkook tidak membalas, melempar kepalanya pada bantal dan menyimpan ponselnya di bawah bantal. Ada dengungan yang memberisiki telinganya tapi diabaikan sampai berhenti sendiri. Ini cukup memberi signal pada Nunnanya itu, bahwa dia tidak suka dengan situasi ini.

Pesan itu hanya dibacanya lagi, dengan hati berdebar.

Nunna            :  Aku akan kembali dalam tiga hari.

Nunna            :  Jangan terlalu memikirkanku, ehm… kirimkan senyummu untuk teman tidurku, Kookie.

Senyumnya mengembang, ini terlalu membuatnya kegirangan. Seandainya saja Nunnanya berada di sebelahnya saat ini, bukan hanya saja senyum yang akan dia berikan, tapi juga bentuk indah bibirnya ini akan membuat Nunnanya kewalahan.

Tapi dia tak membalas, dan membiarkan Nunnanya panik.

.

.

.

Jiyong memang seorang namja yang mudah membuat seorang yeoja menjadi serba salah dengan tingkahnya. Pagi ini ketika Jiyeon membuka pintu kamar itu, untuk membangunkannya, pria itu masih tidur dengan posisi tengkurap, selimut berserakan tak karuan, sementara tubuhnya setengah telanjang membentang hampir memenuhi ruangan sempit itu.

Ibunya yang berniat untuk mengambil sesuatu di dalam sana, harus berpaling dan memiringkan senyum konyol untuk putrinya.

”Bangunkan dia! Ini sudah cukup siang, apa dia tidak berniat kembali ke Seoul. Kalian tidak punya pekerjaan yang menunggu atau memang berniat untuk tinggal di sini selamanya.”

”Agh Nde, kami akan segera kembali, eomma.  Aku sudah tenang kau di sini.”

”Proses perceraian sedang berjalan, aku akan ke Seoul untuk menjalani sidang.”  dengan nada dingin

Jiyeon merogoh ponselnya yang berdengung. Agh,Jungkook baru menghubunginya setelah semalam dia mengabaikan permintaannya. Tidak mungkin dia tertidur secepat itu. Ini menggelikan, karena terus terang Jiyeon malu dengan sikap konyolnya semalam. Bocah itu pasti hanya menertawainya saja.

”Jiyong menanyakan masalah perkebunan teh di sini.”

”Hm?”  dia tidak fokus ”Sebentar Eomma,~”

Wanita itu menghela nafasnya dan melihat Jiyeon berjalan ke arah pintu depan yang terbuka, kemudian duduk pada lantai kayu beranda.

”Kau tidak mungkin ketiduran!”  ujarnya sengit.

”Cepatlah kembali.”

”Bagaimana jika aku tak kembali?”

”Aku akan mendatangimu Nunna!”

”Kau mengancam?”

”Akan kubuktikan.”

”Kapan kau akan selesai dengan sekolahmu?”

Jiyeon menyandarkan kepala pada pilar kayu, menghirup bebas banyak oksigen disekitar dan membayangkan bocah itu berada di depannya. Halusinasi seorang Jungkook tersenyum padanya. Tidak, ini hanya bentuk dari rasa anehnya. Mungkin ini yang ingin diakuinya, bahwa dia merindukan bocah itu, sadar atau tidak dia mengharapkan terlalu banyak darinya.

”Jiyeon di mana kau taruh celana panjangku?” suara itu begitu keras hingga Jiyeon harus tersentak dari tempatnya. Ditolehnya Jiyong yang hanya mengenakan celana pendek pun bertelanjang dada.

Nunna?”  Jungkook pasti mendengarnya

”Aku akan meneleponmu lagi nanti, Kookie!”

Dia berdiri, bersungut pada pria konyol di dekatnya,

”Aku simpan di dalam lemari, Oppa, dan berhentilah berkeliaran di rumahku dengan cara seprti ini, orang-orang di sekitar sini akan menganggap kau aneh.”

Pria itu justru tertawa, ”Aku biasa seperti ini, Jiyeon. Kau pun harus membiasakan diri denganku.”

”Memangnya kalian akan menikah?”  celetuk ibunya ketika dia melintas dengan sekeranjang pakaian yang akan dijemurnya. Kasihan ibunya harus bekerja sendirian.

”Apa kau tidak kembali ke Seoul?”

”Aku akan pulang ke rumah orang tuaku dulu, kau ikut denganku.”

”Aku akan tinggal dua atau tiga hari lagi di sini.”

”Kenapa?”

”Aku masih ingin bersama eomma.

Ibunya melirik,

”Jangan memikirkan aku, kalian punya pekerjaan, jangan abaikan itu!”

Eomma, pekerjaanku tidak terlalu penting, aku masih ingin bersamamu. Apa kau sadar, Eomma kenapa wajahmu begitu pucat hari ini?”  Jiiyeon mendekati sang eomma dan memperhatikan detail paras wanita cantik itu.

Eomma baik-baik saja. Kau jangan cemas.”

”Kita akan membawanya ke dokter”  Jiyong mendekat,

Oppa, tidak bisakah  berpakaian dulu—”

Cengirannya membuat wanita di sebelahnya terkekeh. ”Eomma senang dia apa adanya.”

”Jangan membuatnya besar kepala Eomma, aku tidak suka jika dia beranggapan kau menyukainya.”

”Apa salahnya mendapatkan perhatian dari calon ibu mertuaku.”

”YAK, kau bukan calon menantunya.” sengit Jiyeon kesal.  Sikap ketus itu tidak membuat Jiyong merubah cengirannya.

Eomma,  kau harus mengusir dia!”  keluh JIyeon

Wanita itu  menggeleng,

Eomma lebih menyukainya ketimbang bocah itu, Jiyeon.” bisiknya

”Apa eomma tau,kalau dia itu licik, dan suka mempermainkan perempuan.”

”Hhh…”

Jiyeon merasa sedikit terpojok kali ini, dan ibunya sama sekali tidak mempercayai omongannya.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, Jiyeon meninggalkan rumah neneknya sendiri tanpa Jiyong. Namja itu bersikeras membawa Jiyeon menemui orang tuanya, tapi gadis itu menolak mentah-mentah karena dia sama sekali tidak mau hubungan mereka menjadi semakin dalam. Ini tidak sesuai dengan keinginannya. Dia membiarkan Jiyong pergi sendiri, dan mengambil kesempatan itu untuk kembali ke Seoul.

Setibanya di apartemen itu, hari sudah gelap tapi tidak terlalu malam, dan semua masih terlihat ramai di bawah sana. Kondisi jalan dan semua kesibukan masih berlangsung.

Jiyeon merindukan aroma dari ruangan ini yang senantiasa mengingatkan dirinya akan bocah itu.

”Kau di mana?”   ada suara bising sebelum Jungkook menjawabnya.

”Aku di rumah teman.” tapi sepertinya dia mabuk. Suaranya mengalun berat dan terdengar tawa dan omongan tak jelas di sekitarnya.

”Kookie, kau di mana?Aku akan menjemputmu!”

”Aku di— Aku di mana?”

”Sini biar aku saja yang bilang!” seseorang mengambil ponselnya, dan mendengus dulu sebelum dia bicara

”Kami di rumah Jei. Dia berulang tahun, katanya Jungkook tidak boleh pulang, malam ini dia miliknya.”  lalu meledak tawa yang menjijikkan. Ini sangat tidak bisa diampuni. Bagaimana mungkin bocah itu berada di dekat Jei. Bukankah dia sendiri bilang kalau dia tidak menyukai kakak tirinya itu.

”Kookie, aku akan menjemputmu!”

”Nunna, kau sudaha pulang, Sayang?”

Matanya terpejam, mendengar Jungkook begitu mabuk. Bagaimana kalau Jei memanfaatkan kondisi mabuknya itu, dan membuat bocah itu terjebak. Semua pikiran buruk itu berjubel di otaknya.

Dengan cepat dia melesat keluar, tapi di mana rumah Jei. Demi Tuhan, dia tidak bisa berpikir jernih. Dengan cara apapun, dia harus menyeret Jungkook pulang. Dia tidak boleh berada di dalam pelukan Jei, atau wanita lain.

Langkahnya seperti orang kesetanan ketika keuar dari gedung, sampai dia tidak menyadari di depannya ada seorang wanita yang tengah menunggunya.

Mereka berpapasan, tapi semula Jiyeon tidak mengidahka, sampai pada sebuah deheman singkat yang seakan menyentil benaknya itu, dia menoleh.  Kakinya terpaku dua meter dari posisi wanita yang tengah menghadapinya.

”Hi Jiyeon!”

What? Amber? Kenapa dia masih saja menghantui hidupnya. Jiyeon mendengus kasar dan berusaha meninggalkannya.

”Jiyeon!”

”Aku buru-buru, Amber! Jangan dekati aku!”  Jiyeon berlari, tapi Amber mengejarnya.

”Kenapa kau lari?” tariknya, dan menahan geraknya. Apa boleh buat, Amber memang lebih kuat darinya.  ”Aku senang kau baik-baik saja.”

”Tidak ada urusannya denganmu, kenapa kau harus pusing aku baik-baik saja atau tidak. ”  sengit Jiyeon, dia tidak lupa karena siapa ibunya pergi dari rumah itu.

”Kau ingin ke mana? Kenapa buru-buru?”

”Eonnie, aku tidak harus menjelaskannya padamu.”

”Apa kau mencari bocah nakal itu?  Apa dia benar-benar nakal, sampai kau harus mencarinya seperti ini?”

”Jangan meledek!”

Amber tertawa dan mencubit pipi Jiyeon dengan serunya.

”Kau semakin menggemaskan Jiyeon.”

”Berhentilah menyukaiku, Eonnie.”

”Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu, Sayang! Kalau kau ingin mencarinya, aku bisa mengantarnya. ”

”Kau tidak tahu di mana dia.”

”Siapa yang bilang aku tidak tahu. Aku tahu dia ada di mana sekarang ini.”

Jiyeon mengernyit bingung.

”Di mana?”

”Akan kukatakan jika kau melakukan satu hal untukku.”

Bahunya terjatuh lemas. Kenapa tidak ada yang gratis di muka bumi ini.

”Kau minta apa dariku?”

”Kiss me!” pintanya.

WHAT?”

Amber membuat tawa yang mengerikan. Suaranya sungguh buruk dan tidak mengenakkan.

”Sudahlah Eonnie, kau tidak usah mengatakan apapun padaku, akau akan mencarinya sendiri.”

”Aku tahu dia di rumah Jei.”

Jiyeon menoleh. ”Kau tahu tentang Jei?”

”Dia muridku di dojo. Dia mengundangku juga, tapi aku tidak datang.”

”Kalau begitu antarkan aku, Eonnie!”

”Okay, no problem. Kiss me?”

“Once?”  usulnya ragu, tapi dengan perasaan yang begitu berat. Dia tidak memikirkan bagaimana efeknya untuk dirinya sendiri.  Lagipula Jungkook pasti tidak akan marah. Amber masih terbilang saudara pun perempuan. Tidak akan terjadi apa-apa.

.

.

.

Tidak berapa lama kemudian, mereka tiba. Dia tahu dengan siapa Jei tinggal. Pasti dengan Tn. Jeon. Tapi kenapa Jungkook mau datang ke tempat ini. Bukankah mereka tidak akur.

”Aku akan masuk, kau tunggulah di sini, Eonnie.”

”Oke!”

Jiyeon melangkah masuk dan sebentar saja sudah berdiri di depan pintu itu. Rumah ini lebih bagus dari rumah Tn. Jiyeon dengan ibu kandung Jungkook. Pasti sungguh berat bagi wanita itu, harus menerima kenyataan bahwa pernikahannya dengan Tn. Jeon tidak seperti yang dia harapkan.

Pintu itu terbuka, dan Jiyeon sama sekali tidak tahu siapa orang itu, yang membukakan pintu dengan muka memerah. Pasti sedang mabuk.

”Di mana Jungkook?” tanya Jiyeon dengan menjulurkan lehernya setinggi mungkin, mengintip ke dalam untuk mencari bocah nakal itu.

”Dia di atas, di kamar Jei. Di sekap, katanya malam ini dia akan menghabisinya.”

”Eoh!”  kemudian dengan sekuat tenaga dia menyingkirkan bocah mabuk itu dan menerobos masuk. Di dalam sini bau alkkohol begitu menyengat, dan Jiyeon sudah memastikan Tn. Jeon tidak tahu menahu masalah ini. Mungkin pria itu sedang pergi atau ke rumah istrinya yang lain sehingga meninggalkan putri gila nya itu sendirian dan membuat pesta edan semacam ini.

Jiyeon harus menelepon polisi, agar mereka kena batunya, tapi sebelumnya dia harus membawa Jungkook dulu keluar dari sini.

Kakinya berlari menaiki tangga dan mencari kamar Jei. Tidak sulit untuk menemukannya, karena kamar gadis remaja itu selalu ceria dengan warna-warna yang mendekati ke arah pink atau ungu.

Pntunya terkunci,

Menghela nafas sebentar untuk menekan keningnya. Saking pusingnya dan tak mau terlambat, dia berjalan kian kemari dengan wajah panik, tapi Amber muncul seperti seorang Dewi Penyelamat. Dia tahu, suatu hari nanti dia bisa mengandalkan wanita perkasa ini, dan hari itu adalah malam ini.

”Baru kali ini aku melihatmu senang karena kemunculanku.”  sindirnya

”Aku minta tolong untuk pintunya.”

”Apa itu artinya kau menggandakan imbalannya?”  cengirannya menakutkan Jiyeon.

”Eoh?”

BRAKH

Belum sempat di jawabnya, Amber sudah menendang pintu itu hingga jebol. Jiyeon tenganga hebat, tapi Amber sudah membuka handlenya dan mempersilahkan Jiyeon masuk. Di dalam sana dia bisa melihat Jungkook sudah setengah telanjang, dan Jei sedang panik di bawah selimut dengan tubuh telanjangnya.

”MURAHAN!”  makinya pada gadis itu,

”Aku akan mengadukanmu pada Ayahku!”

”Silahkan, aku bahkan sudah menelepon polisi dan melapor ada pesta narkoba di rumah ini!”

Amber menyekap Jei dengan senang hati, sementara Jiyeon membawa Jungkook dan berusaha memapahnya. Dia benar-benar mabuk sampai tidak bisa membuka mata.

”Agh, dia berat sekali!”

”Biarkan aku yang menggendongnya.”  Amber langsung berjongkok dan membiarkan Jungkook berada di punggungnya. Jangan-jangan Amber meminta tambahan imbalan dengan menggendong Jungkook untuknya. Aish, dipeganginya bibir indahnya ini yang akan dikonsumsi mantan kakak tirinya itu.

”Jangan pernah lagi mengganggu Kookie-ku, apa kau dengan itu, Jei!”  ancam Jiyeon berani.

”Aku tidak akan membiarkan ini terjadi! Kalian akan menerima akibatnya nanti!”  ancamnya balik

Entahlah, kenapa Jiyeon harus sampai seperti ini, tapi dia benar-benar tidak rela Jungkook diperdayai oleh gadis jalang itu.

.

.

.

”Letakkan dia di sini!”  Jiyeon menunjuk ranjang di dalam kamar Jungkook.

”Kalian ini pacaran sungguhan atau hanya main-main?” selidik Amber setelah membaringkan bocah itu di atas kasurnya.

”Kasihan dia!” Jiyeon mengusap wajahnya dan menarik selimut untuknya.

”Kenapa harus kasihan? Dia itu laki-laki kenapa harus kasihan?”

Jiyeon tersenyum, tentu saja Amber akan berkata seperti itu, dia membenci laki-laki. Mungkin semua laki-laki di muka bumi ini di blacklist olehnya. Sosok laki-laki sepeti ayahnya itulah yang seharusnya dikremasi hidup-hidup.

GREP

Tangan itu lansung menarik Jiyeon keluar dari kamar Jungkook, dan ehm… ini pasti jatahnya mengambil imbalan. Jiyeon bergidik sendri.

”Eonnie, apa kau sunggu-sungguh ingin aku menciummu?”

Amber mengangguk,

”kenapa kau pikir aku tidak sungguh-sungguh?”

Jiyeon diam, dan membuang muka ketika kakak tirinya itu mendekat. Bagaimana ini? ~

”Jangan seperti itu, kau membuatku tidak bergairah.”   keluhnya sambil memegangi dagu runcing Jiyeon dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menahan tubuh itu agar tetap di tempatnya.

”Kenapa aku harus membuatmu bergairah.”

”Apa kau pikir aku tidak punya perasaan.”

Eoh,  mianhae eonnie, aku akan melakukannya.” sahut Jiyeon. Dia cukup berterima kasih  pada Amber karena mau menolongnya. Coba tidak ada dia, tidak mungkin tadi dia berhasil membawa Jungkook keluar dari rumah itu.

Jiyeon memejamkan mata,

Menanti bibir itu menyapanya. Suasana tampak mendebarkan baginya, bagaimana mungkin ini akan terjadi juga. Selama ini dia selalu menolak mentah-mentah hal ini terjadi, dan berharap dia tidak akan melihat Amber lagi, tapi nyatanya—

”Kalian sedang apa?”

”KYAAAAA!” teriak keduanya ketika mendapati Jungkook sudah berdiri di dekat  mereka dengan muka memerah dan mata sayu. Bau mulutnya tak terkira, hingga Jiyeon dan Amber harus menutup hidung mereka.

”Kookie!”  Jiyeon menangkap tubuh itu, dan membawanya kembali ke kasur. Dia berusaha menyelimutinya, tapi tangan bocah itu menariknya dan mendekapnya.

”Sudah malah, Nunna. Tidurlah!”  dia terus menarik sampai Jiyeon terbaring dan masuk dalam pelukannya. Amber mendengus kesal melihat pemandangan itu.

”Aku harus pergi sekarang!”  ujarnya sambil menutup pintu.

Jiyeon mengusap wajah bocah kesayangannya ini, dan mengecup keningnya.

”Terima kasih sudah menyelamatkan aku, Kookie. Aku tahu meskipun kau tidak sadar sekalipun, kau bisa melindungiku.” bisiknya dan terus mengusap wajah innocentnya.

I miss you, Nunna!” gumamnya dengan mata terpejam, kemudian semakin menarik tubuh Jiyeon masuk dalam dekapannya.

.

.

.

tbc

 

Advertisements

25 Comments Add yours

  1. yenniez says:

    Ahh makin so sweet aja mah yeonkook…. Aduh cinta mereka berdua bakal banyak halangan x mengingat jurangx terlalu lebar. Kupikir jiyoung tulus suka sama jiyeon tp ada udang dibalik batu juga. Tp suka sih tingkahnya lucu. Hei menjijikkan murahan. Amber juga bikin geli wkwkwkw next sangat ditunggu lana… Ffmu terbaik😊

    1. mochaccino says:

      ah apalah apalah, mana ada ff terbaik mbak, tiap author tuh punya ciri khas. ini lagi ga ngefeel, jadinya kek gitu. tapi makasih udah mampir.

  2. diah.dimin says:

    kyaaaa next3 kookie kuh kelinci nuna… gemesin… bayi bongsor kuh elah menanti ff ni selalau… ok2 lana di blog yg comen dikit. tpi yg liat banyak gg?.. aq seneng kmu pake blog tpi kurang seneng yg komen cuma bbrpa.. huks.. fighting…

  3. siah.dimin says:

    kyaaaa next3 kookie kuh kelinci nuna… gemesin… bayi bongsor kuh elah menanti ff ni selalau… ok2 lana di blog yg comen dikit. tpi yg liat banyak gg?.. aq seneng kmu pake blog tpi kurang seneng yg komen cuma bbrpa.. huks.. fighting…

    1. mochaccino says:

      kao viewer lumayan sih Ceu, ga papa, gada komenan, aku sih cuma ngala viewer. aku post ff lama aja viwer banyak. ga masalah sih Ceu… bedeweh makasih banyak, mau komentar di sana.

  4. sookyung says:

    untung kookie muncul tepat waktu,, ^^

  5. RegitaOhJiSe says:

    Ahh ane baca ini bener2 masuk kedalam kehidupan yg bimbang njirr, berasa gelap, gelisah, takut njirrr hhhh hidup kenapa berat banget yaaa. Cuma karena cinta yg beda umurr !!

    Sumpah engga ada seorangpun yg merestui Hub JiyKook. Kasian amatt yawloh,, tapi pembaca lebih respect kan JiyKook.

    Siapa yg pertama buat Jiyi? Sehunkan #plak :v .. Ane ngerasain beratnya Jungkook, dia selalu merendah diri, dan selalu berpikiran nething, ayolah Kook oppa kamu pasti bisa kelesss nunjukin klo kamu bisa jadi orang sukses! Cinta tak memandang umur bro!

    Jiyeon ahhh eonni syuka deh sama sifat galaknya ke Jiyong,, sifat Jiyi tegas, ane suka! Hati dia cuma untuk Jungkook (titik!) begitulah isi hati Jiyeon sebenernya wkwkwk.

    JEI IYY sumpah geleuh da klo ada orang kaya gitu,.murahan beud sumpah, melakukan karena ingin mendapatkan laki2 dengan cara kaya gitu khe! iyuhh badai keleuss,, penjarain ajalah gondok ane.

    OH MAY GAT! Moment Jiyi Amber, njir njirr dikit padahal ehh Jungkook dateng dengan bau mulut jihahaha dasar dongkol pasti hati amber hahaha.

    Eh bener ya Jungkook walaupun ga sadar tapi bisa jagain Jiyi lho njirr mancap,, udah ikatan batin emang mereka ya..

    1. mochaccino says:

      ane sebenernya udah kehilangan feel nya, tapi akan aku usahakan diterusin. apa boleh buat…beri aku petunjuk Yang Mulia Mingyu…

      1. RegitaOhJiSe says:

        Oh gitu, ya si klo menurut ane, lanjutin yg ngefeel aja yg sekiranya ada jalan buat ffnya gitu beib, haduhh maafkeun juga ya gara2 ane pengen blue update jadi riweuh ke kamunya…. Emang si masalah brondong susah buat bikinnya hadeuhh,, yaudah sekarang mah fokus ke buku kamu beib ama ff on goingnya yg sekiranya ada ide heuheu, fighting

  6. Lana… Seems hurry… Kok kek kesusu ya…. Buru buru gitu… Dari satu plot ke plot lain terasa bruk gitu gak kena feelnya… Aku sumpah nunggu ff ini jadi tau gimana cara penulisan kamu di ff blue terdahulu… Tapi seneng akhirnya lana update ini juga…

    1. mochaccino says:

      Ane udah kehilangan feel, sumpah ga pengen dilanjutin tapi pada nanyain, jadinya ya bgini. hhuhu… kelamaan di laci.

      1. Kalau menurut aku daripada buru buru mending jangan dulu diterusin dan buat fanfiction yang kamu lagi suka soalnya sayang ni ff masterpiece…😊

      2. mochaccino says:

        ya sih, ane pengen ngerampungin siti ros itu sebelum hiatus lagi. wkwk… masterpis dari Hongkong… ini mah creepy kalo nurut ane, Mingyu ma Kookie itu brondong yg susah, pasti mentog sama status bocah SMA.

      3. Enggak ah… Jangan kepentok sama status… Aku juga lagi mau bikin ff mingyu yg masih anak sekolah… Pedofil gue…masterpiece lah org gue suka hahhaha…

  7. kwonjiyeon says:

    bner aku bcnya jg gmn gitu kurng feelnya terlalu terburu2 ky pengn cepet2 selesai nih ff trus g punya utang dah …sorri lana kali ini aku setuju ama pendpt dewi…jgn terburu2 beib santai yg penting oke….

    1. mochaccino says:

      iyah akan aku pending deh smua ff akan aku kerjain satu satu mpe kelar, harap sabar kalo gitu.

  8. putri JH says:

    aigo kooki imuttnya,,ahhhhh kiyeowo,, bahasanya cmpur ya,, ada yang gk cocok jga,,hehehe,, itu menurutku,, tpi critanya bgus,, fighting

    1. mochaccino says:

      wkwkkw iyah bahasanya ancur, makasih ya udah perhatian.. aku lagi error inih.

  9. mega queens says:

    Ihhhhh omg kya apa klo jiyi beneran nyium amber…aku gelih sendiri bayanginnya…jongkook mmang pnyelamat dia datang waktu yg tepat…

  10. indaah says:

    ommo , jiyeon bimbang bgt pasti antara gk mau kecewain eomma nya dg jungkook yg dsayanginya
    tp ngliat klakuan jiyoung k jiyeon manis jg sihh , semoga itu tulus ..
    amber , ck ngambil kesempatan dlm kesempitan tp gk jd juga sih kkk ada kookie

  11. Senang.. Jiyi berjumpa dg eomma na..
    Syukur lah eomma mau dlm keadaan baek..
    Jiyong bnr2 namja narsis yaa,,
    Jd cpa namja prtm yg menyentuh Jiyi??
    Beruntung bgt dy

  12. May andriani says:

    Aq curiga Jiyoung punya niat gk baik ke jiyeon,, hbungan jikook bner” bnyk halangannya,,

  13. risna says:

    Jiyeon- Jungkook makin mantep.. Seru liat mereka, ciee jiyeon muji Jungkook yg bisa jagain dia terus. Suka liat mereka, lucu…

  14. shinahrin43 says:

    Anjirrrr ngeselin. Bener kan si jiyong ini cuma manfaatin keadaan keluarga Jiyi yg punya lahan kebun luas. Dasar, asli kesel banget. Tapi kok rasanya ada yang aneh ya, teks intro pas nyeritain kehidupan eommanya yg soal pegangan2 itu mirip ama chap sebelumnya di chap 10? Atau aku salah baca?
    Ck, si jei nekat mau jebak jungkook pake acara murahan begitu, menjijikan. Si amber Pula, ada2 aja minta dicium segala. Untung si kookie bangun, hihihi… Dan untung masih mabuk. Ditunggu kelanjutannya alanaaa..

  15. niajoe says:

    Hubungan jikook sulit. Tak seorangpun yg restui mereka. Yah wajar juga sih. Jungkook msih terlalu muda buat jiyeon. Mski gtu aku ttp.mendukung kalian. Semoga smpai akhir happy ending yaaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s