Rose In The City [Part-6]


rose-in-the-city1

ROSE IN THE CITY

Park Jiyeon feat Song Joong Ki

support cast. Kim Heechul

I own nothing but the story

.

.

.

 

 

Jiyeon turun dari taxinya dan berjalan sedikit cepat menuju pintu rumahnya yang terbuka. Jam berapa ini, dan kenapa pintu itu masih terbuka.

 

Mendadak dia terpaku dengan sosok yang menyambutnya. Heechul. Yuka seperti telah menyihir kekasihnya itu kembali dari Amerika tepat pada waktunya.

 

”Kau dari mana?”  Yuka pun berada di rumahnya, tapi Jiyeon hanya menatap pada wajah Heechul yang tak bisa dimengertinya.

 

”Oppa~”

 

”Kau dari mana? Kenapa selarut ini baru pulang?”

 

Kenapa Heechul tidak memeluknya. Apakah dia sudah mendengar sesuatu dari Yuka. Diliriknya adik tiri kekasihnya yang masih saja curiga dengan kepulangan Jiyeon.

 

Eomma! ” wanita yang terlihat lemah dan terpejam itu dengan wajah panik. ”Kenapa dengan Eomma?”  tanyaku bingung

 

”Aku mencarimu, menunggumu. Apa kau tahu, ibumu mendadak tak sadar. Dia mungkin terlalu lelah!”   Heechul memegang tangan Jiyeon

 

”Kita harus membawanya ke rumah sakit.”

 

”Kami baru saja akan berangkat..”

 

Heechul menggendong ibunya kemudian berjalan ke arah mobilnya. Sedangkan Jiyeon merasa bersalah  karena tidak memperhatikan kondisi ibunya. Hatinya sedikit memaki Joong Ki. Laki-laki itu membawa dirinya dalam masalah.

 

Bukan,

 

Jiyeon meralatnya, ini bukan kesalahannya.

 

”Oppa~”  Jiyeon memegang lengan Heechul yang masih menatapnya penuh anda tanya dan membuat Jiyeon harus menunduk.

 

”Kenapa?” nadanya masih hangat. Jiyeon merindukan suara itu—sangat. Hanya saja sekarang sedikit agak berbeda.

 

Sebenarnya dia hanya ingin mengatakan kalau dirinya tidak punya cukup uang untuk membayar rumah sakit. Bagaimana ini? Apakah dia harus bergantung pada Heechul.

 

Kenapa harus menjadi begini, dia tidak mungkin menggantungkan hidup pada laki-laki yang belum resmi menikahinya. Akan dikemanakan muka dan harga dirinya ini terlebih di hadapan keluarg Kim.

 

 

Beberapa menit kemudian, ibunya sudah berada di dalam instalasi gawat darurat.

 

Yuka menariknya keluar ketika wanita itu mendapatkan penanganan.

 

Heechul memperhatikan sikap duduk JIyeon yang terlihat muram, memangku tangan dengan wajah kaku. Bukan hanya sekedar perkara ibunya, namun juga seperti ada bayangan lain dari auranya yang mungkin sedang terluka.

 

Diusapnya punggung itu

 

”Kau kenapa?” tanya  pria itu, yang kemudian merengkuhnya masuk ke dalam pelukannya, sementara Yuka membuang muka. Sebenarnya dia tidak suka jika Heechul bersikap mesra pada Jiyeon. Entah kenapa dia harus merasakan perasaan ini. Sejak kecil mereka selalu bersama. Kakak tirinya itu selalu memberikan perhatiannya padanya sampai pada ketika dia harus mengencani Jiyeon yang notabene temannya sewaktu mereka masih di SMP dulu.

 

Oppa, aku tidak punya uang.”  jawab Jiyeon lirih

 

Heechul tersenyum,

 

”Benarkah?” seakan menggoda

 

”Bisakah aku meminjam darimu dulu, nanti kalau aku punya uang, aku akan kembalikan.”

 

Kekasihnya itu menjentik hidungnya gemas.

 

”Kenapa kau masih berpikir seperti ini, kau pikir untuk apa aku ada di sini?”

 

Jiyeon merengut bingung dan tak tahu harus mengatakan apa lagi pada pria ini.

 

”Kapan kau datang, Oppa?”

 

”Tadi sore. Aku terus menghubungimu tapi kau tidak aktif.”

 

Wajah Jiyeon memerah, ketika mengingat apa yang terjadi dengan dirinya tadi.

 

Oppa—”  dia sangat rindu pada Heechulnya sampai menenggelamkan kepala sedalam mungkin dalam dekapan pria ini.

 

”Apa? Kenapa kau begitu manja seperti ini.”  bibir penuh Heechul melekat di kepalanya, memberikan ketenangan untuknya. Bagaimana mungkin Jiyeon bisa meninggalkan pria ini untuk seorang kaya seperti Joong Ki.

 

”Aku senang kau pulang.”

 

Pembicaraan mereka terhenti, ketika ada salah satu perawat keluar dan menghampiri mereka. Dia menyerahkan sebuah kertas yang diyakini Jiyeon ada sebuah resep obat yang harus ditebusnya. Ini sangat mendebarkan.

 

Dia melihat nominal yang tertera di sana. Jumlahnya tidak sesuai dengan kondisi keuangannya. Dia menatap kekasihnya.

 

”Berapa?”  tanya Heechul

 

JIyeon memperlihatkan kertas itu dan akhirnya kekasihnya itu berjalan ke arah apotek untuk menebusnya. Semoga ini tidak terlalu lama, karena dia berharap bisa segera memperoleh pekerjaan secepat mungkin.

 

Dia bersyukur karena ibunya tidak harus di rawat, dan diijinkan untuk menjalani rawat jalan. Ibunya menderita gula darah yang tinggi. Padahal dia sudah sering berdiet hingga tubuhnya begitu kecil saat ini.

 

 

.

.

.

 

”Apakah Eomma sudah tidur?”  Heechul menunggunya di kamar. Jiyeon mengangguk dan menyusul kekasihnya yang sedang melepas lelah.

 

”Kau tidak pulang dulu ke rumah? Mereka pasti sudah menunggumu.”

 

”Yuka sudah mengatakan kalau aku di sini, di rumah calon istriku.”  pria itu menarik Jiyeon dalam pelukannya, mengecup pipi dan hidung lancip.

 

”Kenapa kau terlihat semakin cantik dan sexy, Sayang…”

 

”Ini sebuah pertanyaan atau rayuan.”

 

Both!” bibir itu mendekat dan mendarat tepat pada bibir Jiyeon yang sudah menantinya. Sebuah pagutan yang manis, dengan hembusan nafas yang tenang, dengan sentuhan tangan yang begitu menenangkan, kemudian bertaut semakin dalam, semakin menuntut.

 

Heechul menarik selimut dan membuat tubuh mereka terselubung kehangatan.  Perlahan tangannya menelusup, mengusap kulit lembut kekasihnya.

 

”Ehm,,

 

Di tahannya tangan itu agar tidak bergerak bebas di tubuhnya. Jiyeon masih merasakan trauma dengan sentuhan  pria kaya yang terobsesi dengannya itu beberapa saat lalu.

 

Oppa…Oppaaa…”  dia mendorong Heechul yang mulai lebih agresive

 

“Kenapa? Kau tidak merindukan aku?”

 

”Ah… bukankah kau berjanji kita akan melakukan ini setelah kita menikah nanti.”

 

Wajah kekasihnya itu berubah muram, terlihat sekali kalau dia sedang menyesali perjanjian itu. Kenapa dia harus mengatakan janji itu hanya karena untuk membuat Jiyeon merasa yakin kalau Heechul adalah pria baik-baik dan bertanggung jawab. Padahal selama dia berada di Amerika, dia sering melakukan ha itu bersama dengan beberapa teman kencannya.

 

”Baiklah, aku akan menikahimu secepatnya.”

 

.

.

.

 

 

 

Dia berdiri di sebuah distro, sedang mengatur beberapa produk yang akan dilaunching hari ini, diantaranya sudah di iklankan melalui media sosial dan website. Dia hanya bertugas sebagai pengawas barang yang telah disortir untuk di letakkan di dalam galery. Seharian ini dia sudah berjalan hilir mudik untuk memeriksa dan mencatat dengan detail keseluruhannya.

 

Yifan tidak menghubunginya, itu berarti dia memang sudah menyerah pada dirinya. Kenapa perjuangannya tidak sepadan dengan ocehannya. Manusia macam itu yang tidak bisa konsisten pada prinsipnya sendiri.

 

Tapi baguslah, sehingga Jiyeon tidak harus menjalani kehidupan dalam bayang-bayang laki-laki itu lagi.

 

Ding

 

Hatinya meloncat hingga tenggorokannya  ketika bunyi signal pesan itu mengangetkannya. Joong Ki?— bukan.  Heechul.

 

Wait!

 

Apa tadi dia berharap bahwa itu adalah Joong Ki?

 

Jiyeon menggeleng. Tidak mungkin dia berharap pria itu menghubunginya. Dia terkekeh seperti seorang munafik diantara deretan baju yang telah di susunnya.

 

Kenapa dia berharap itu adalah Joong Ki

 

Tidak mungkin,

 

Dia pasti sedang sibuk bekerja sore ini. Mengenakan pakaian resminya yang membuat penampilannya terlihat keren dan elegan. Dia adalah laki-laki terindah dalam sejarah hidupnya pun telah memberikan warna dalam hidupnya yang gersang ini. Laki-laki dari sisi kehidupan yang tak pernah di temuinya.

 

Matanya nanar menatap layar ponsel itu, menghapus pesan dari Heechul dan menyimpannya lagi. Dia bisa berdalih tidak menerima pesan itu dan mengabaikannya.  Hari ini terlalu sibuk untuk memikirkan keduanya.

 

.

.

.

 

Sudah satu minggu berlalu, dan Jiyeon mulai tenang dalam menekuni pekerjaannya. Dia merasa bahagia dengan rasa lelahnya. Ini adalah tetes keringat yang berharga. Dia tidak harus mengemis apapun dari orang lain, karena dengan keringatnya dia bisa menghidupi ibunya dan juga membayar beberapa pinjaman yang memberatkan kehidupan mereka.

 

 

Joong Ki tidak menghubunginya…

 

Itu bagus, tapi dia terus memikirkannya.

 

Apakah ini hanya sekedar rasa cemas atau Jiyeon memang tidak bisa melupakan semua sentuhan Joong Ki yang menghanyutkannya. Pria itu sama sekali tak menghubunginya. Kenapa? Apakah dia melupakan Jiyeon begitu saja. Marahkah?

 

Atukah dia mati karena serangan jantung di malam itu.  Oh Tuhan!

 

Semakin dia memikirkannya, langkahnya semakin tidak bisa dia arahkan. Perlahan dia mendongak ke atas gedung itu, di lantai 25 itu pria itu tinggal.

 

Demi Tuhan, kenapa dia harus berada di depan gedung ini.

 

Dia berpaling dan melangkah menjauh dari tempat itu dengan setengah berlari. Hujan turun tanpa di duga. Apa yang ada di dalam otaknya, kenapa begitu saja terpancing untuk muncul di tempat ini. Pria itu pasti mengira bahwa Jiyeon kembali untuk menyerahkan diri dalam pelukannya lagi.

 

Jiyeon berteduh di halte bus di depan gedung apartemen itu ketika dia melihat mobil Joong Ki memasuki halaman parkir. Dia menyembunyikan wajahnya dengan tas besar yang dibawanya. Akan malu rasanya jika pria kaya itu sampai melihatnya. Tapi ini sebenarnya bukan hanya sekedar rasa malu, tapi harga diri yang telah dia gadaikan pada laki-laki itu, mungkinkah dia bisa menebusnya kembali.

 

Beberapa menit dia berdiri di sana sampai akhrinya bus yang akan dia naiki muncul. Jiyeon segera berlari untuk menjangkau pintu bus yang terbuka itu dan meloncat gesit hingga tubuhnya terdampar manis pada bangku paling depan yang sejak tadi kosong.

 

Dari dalam mobilnya, Joong Ki sempat meliriknya, dia menangkap bayangan gadis itu sesaat lalu berdiri di halte bus . Hatinya tergerak ingin memanggil, tapi dia mengurungkannya. Joong Ki hanya ingin tahu, apakah Jiyeon akan mencarinya lagi setelah malam itu. Dia masih merasa sakit dengan penolakan itu.

 

”Apakah Anda ingin turun, Tn. Song? Di luar hujan, saya akan mengambil payung dulu.” sopirnya berniat turun, tapi Joong Ki menahannya.

 

”Kita di sini dulu sebantar.”  onix beningnya melirik tubuh Jiyeon yang berlalu di dalam bus itu.

 

Dia pergi—

 

Jiyeon tidak masuk dan menemuinya,

 

Merenung sebentar sambil memeperhatikan aliran air yang menerpa jendela mobilnya. Hatinya merindukan sosok itu. Dia ingin memakinya, menyumpahinya, namun juga memeluknya—

 

”Turunlah!” suruhnya pada sopir setianya itu. Dia membuka pintu mobil dan masuk kembali duduk di belakang setirnya.

 

”Tuan, Anda mau ke mana?”

 

Dengan cepat, Joong Ki melesat kencang pada jalanan basah dengan hati berharap. Bus itu berada tepat di depannya. Dia mengikutinya, dan pada sebuah kesempatan dia menjejerinya. Di liriknya Jiyeon yang duduk dengan tubuh condong pada kaca jendela. Gadis itu terlihat lelah dan mengantuk.

 

TIIIIIIIN

 

 

Suara klakson itu membuatnya harus menyingkir dari sisi kanan jalur bus yang dilaluinya.  Joon Ki memilih untuk mengenderai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tahu di mana dia bisa menemui Jiyeon. Gadis itu pasti pulang ke rumahnya yang sempit itu.

 

 

Dia berhenti di pinggir jalan untuk melihat sosok indah itu berjalan gegas menuju rumahnya selepas turun dari bus yang tadi membawanya.

 

Seorang pria muncul dari dalam meny ke dalam pelukannya. Eoh! Joong Ki mecengkram gagang setir dengan erat.  Apakah dia kekasihnya.

 

Rose In The City 11

 

 

Hujan membuatnya kuyup tapi dia tidak perduli, dia hanya ingin menemui Jiyeon saat ini. Sesekali menyeka wajahnya dari air hujan yang menyerangnya tanpa ampun.

 

”Miss Park!”  panggilnya di depan pintu, seolah-olah menunjukkan diantara mereka terjalin hubungan atasan bawahan yang profesional.

 

Jiyeon dan Heechul menoleh bersamaan, dan menyaksikan sosok pria dengan pakaian mengagumkan itu berdiri dengan tubuh basahnya. Sejenak tercipta atmosfer berbeda diantara mereka. Jiyeon menyembunyikan mimik terpukaunya.

 

”Tuan Song, apa Anda membutuhkan saya?”   bersandiwara dari hadapan Heechul yang sedang mengerutkan keningnya. Ada apa pria ini datang di tengah hujan hanya untuk menemui calon istrinya.

 

”Hari ini—”  kalimatnya terputus,

 

”Maafkan Saya, Tuan. Saya pasti akan membayarnya.”

 

”Kau meminjam uang darinya?” Heechul melirik,

 

”Nde Oppa, aku butuh dana saat eomma ingin membeli bunga. Saat itu banyak sekali pesanan, dan aku meminjam uang dari Tuan Song.”

 

”Kalian saling mengenal?”  kejar kekasihnya itu

 

”Arg…kenalkan Oppa, dia dulu atasanku, aku sempat bekerja untuknya, tapi sekarang tidak lagi.”

 

Heechul hanya menggeleng-gelengkan kepala dan merasa ada yang aneh dengan mereka.

 

”Maafkan aku, tapi sepertinya aku ingin membawa Jiyeon sebentar. Ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.”

 

”Siapa?”

 

”Siapa?”

 

Tanya Jiyeon dan Heechul bersamaan. Joong Ki menghempaskan nafasnya sebentar. Bukan seoran Joong Ki jika dia tidak bisa membawa Jiyeon saat ini juga bersamanya. Dia harus bisa melepaskan Jiyeon dari pelukan kekasihnya itu.

 

”Istriku. dia memintaku untuk menjemput Jiyeon. Mereka sudah saling mengenal sebelumnya.”

 

”Benarkah?”  Heechul melirik Jiyeon yang sengaja memasang wajah datar. Gadis itu pun tak mengerti kenapa Joong Ki bersikeras melakukan ini. Kenapa dia membuat Jiyeon berada di dalam situasi sulit ini. Apa dia berpikir kalau kekasihnya ini tidak akan curiga, dan lagi siapa istrinya. Dasar pembohong besar.

 

Mereka saling menatap sengit. Antara Jiyeon dan pria kaya dengan sifat yang tak jelas itu. Jiyeon ingin sekali melabrak dan memakinya.

 

”Maafkan aku, Tuan Song, aku tidak bisa menemani istri Anda lagi. Hari ini sedang hujan, dan kekasih saya baru saja pulang dari Amerika.  Kami masih melepas rindu, saya harap Anda mengerti.”

 

Apa ini? Keluh Joong Ki dengan muka pias. Dia tidak datang ke sini untuk mendengar omong kosong semacam itu. Baiklah, dia pun bicara tak jelas hanya untuk memperoleh perhatian Jiyeon, tapi apa sambutan yang dia terima. Sama tidak jelasnya juga.

 

Merapatkan rahang sebentar demi meredam lidahnya agar tidak mengataka sesuatu yang akan menambah bodoh situasi ini, tapi dia masih berharap Jiyeon mau menemaninya lagi malam ini.

 

Dia berbalik, dan melangkah keluar. Jiyeon ingin mencegahnya dan mengundangnya minum sesuatu yang hangat sambil melirik ibunya yang tak bisa berkata apa-apa.

 

”Berikan dia payung, Jiyeon!” ujar wanita itu menyarankan, tapi Heechul memegangi lengannya dengan tatapan dingin.

 

Joong Ki berjalan lagi menyusuri jalan setapak itu di bawah guyuran hujan. Hatinya sesak dan derap jantungnya menyalak di kehampaan.  Hari ini dia kalah lagi, dan tak bisa menundukkan Jiyeon. Haruskah dia bersikeras untuk memilikinya.

 

.

.

.
”Siapa dia sebenarnya?”

”Tuan Song Joong Ki. Dia atasanku, tapi aku hanya bekerja untuknya sebentar.”

”Kau baru bekerja sebentar padanya tapi berani meminjam uang darinya?”

Jiyeon dan ibunya saling menatap. ”Sebenarnya aku yang meminta pinjaman dari Tuan Song, karena aku melihat orang itu baik.” jelas ibunya. ”Kalau kau tidak bisa menerima itu, kau salahkan aku saja, jangan Jiyeon, dia pun merasa serba salah karena aku begitu memaksa waktu itu.”

 

Jiyeon tak bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya pada sang ibu demi melihat kegigihan wanita itu membelanya di hadapan Heechul.

Kekasihnya itu tidak bisa berkata-kata lagi dan memilih untuk menerima penjelasan itu dengan setengah hati.

 

”Berapa hutangmu?”

”Dua ribu Won.”

”Besok aku akan melunasinya.”

”Tidak usah!” cegah Jiyeon

”Kenapa?”

”Aku tidak mau merepotkanmu lagi, aku akan menyicilnya dari hasil kerja kerasku sendiri.”

”Kenapa kau masih menganggapku  orang lain Park Jiyeon. Mungkin aku memang bukan laki-laki yang baik, aku pun sering mengabaikanmu, tapi sekarang aku di sini, aku ingin melakukan apapun yang bisa aku lakukan untukmu. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya laki-laki yang bisa kau andalkan.”  tegasnya dengan menggenggam tangan Jiyeon. Laki-laki ini merasa bersalah atas semua yang telah dia lakukan ketika masih di Amerika dan mengabaikan Jiyeon untuk waktu yang lama. Dia ingin memperbaiki semua itu—

 

Salahkah?

 

Oppa!”  Jiyeon tak bisa berkata-kata.

”Aku tidak akan membiarkanmu hidup dalam kesulitan lagi, Park Jiyeon.”

 

Pria itu mengecup keningnya di depan ibunya dan membuat Jiyeon merona. Apa yang dikatakan Heechul sungguh menyentuh hatinya, tapi dia masih memikirkan pria itu, yang berjalan dalam hujan. Apa yang akan terjadi padanya.

 

.

.

.

 

Apa yang harus dilakukannya?

 

Jiyeon masih menatap hujan yang mengguyur deras di luar sana. Heechul baru saja pergi setelah makan malam. dia menemui temannya untuk sebuah pekerjaan. Dilirknya ibunya yang sedang merapikan meja makan.

 

”Eomma, aku keluar sebentar!” pamit Jiyeon

”Ke mana?”

 

Jiyeon tidak menjawab, tapi ibunya mengerti. Wanita itu mengangguk lemah.

 

Dengan setengah berlari Jiyeon berusaha untuk mendapatkan taxi secepat mungkin. Dalam hatinya dia memang mengkhawatirkan laki-laki itu, terlebih dengan apa yang dideritanya.

 

Dalam beberapa menit kemudian, dia sudah tiba di depan pintu lift itu. Berpikir sebentar, apakah dia harus naik atau tidak. Sopir Jung memperhatikannya dengan wajah cemas seperti ada yang ingin dikatakannya.

 

Dia tidak tahu kenapa dia harus datang lagi ke sini. Semua dinding di dalam ruangan sempit ini seakan-akan menjadi kotak ajaib yang akan mempertemukan dirinya dengan pria itu.

 

Ting

 

Jantungnya semakin mengejar ketika pintu itu terbuka. Ada keharuman  yang akrab di tangkap di indra penciumannya. Lembut dan membawanya berdiri kaku di hadapan pria itu yang tengah menatapnya kaget.

 

Jiyeon mematung tak jelas di depan orang-orang yang tak dikenalinya. Siapa mereka? Apakah keluarganya. Kenapa dia merasa bodoh seperti ini.

 

”Maaf!” lirihnya berbalik.

 

Mungkin memang mereka adalah orang tua Joong Ki, dan kenapa pria itu tidak menyapanya, justru menatapnya tanpa ekspresi. Jiyeon memejamkan matanya demi menyadari kebodohannya sendiri untuk datang ke tempat ini.

 

”Berhenti di situ!”  perintah sebuah suara, namun yang jelas bukan Joong Ki. Berhenti dalam jarak satu meter dari pintu lift, dan berusah untuk bersikap tenang. Anak rambut dan baju basahnya sedikit membuat lantai keramik yang diinjaknya di genangi air. Bodohnya!

 

”Kau siapa?”  langkah dari heels itu mendekat,

 

Jiyeon berbalik, untuk sedikit bersikap sopan. Di tatapnya wanita paruh baya itu dengan wajah pucat.

 

”Maafkan saya, Nyonya. Saya Park Jiyeon.” jawab Jiyeon kemudian

”Untuk apa kau datang ke sini? Siapa yang ingin kau temui? Apakah kau ingin bertemu dengan putraku?”  ujarnya dengan nada mengintimidasi.

Joong Ki menggeleng jengah, dia membiarkan Jiyeon diinterogasi seperti ini, apakah laki-laki itu sedang membalas dendam atas perlakukan Jiyeon di rumah tadi.

 

”Tidak, saya hanya ingin sekedar memastikan apakah Tuan Song baik-baik saja,Nyonya.”  jawabnya bingung, pun dengan kepala yang menunduk.

 

”Apa kau dan putraku menjalin hubungan?”

 

Jiyeon menggeleng tegas. ”Tidak Nyonya. Tuan Song begitu baik, saya hanya ingin membalas kebaikannya, Nyonya.”

 

”Jangan salah paham dengan kebaikannya. Dia memang selalu seperti itu, dan sering membuat banyak hati wanita jatuh cinta dan menyalahartikan semua kebaikannya.”

 

”Saya mengerti Nyonya.”

 

”Baguslah kalau kau mengerti. Dia akan segera menikah dan tidak akan lagi membuat kesalahpahaman dengan gadis manapun.”

 

Jiyeon mengangguk.

 

”Saya permisi, Nyonya.”

”Ya!” sahut wanita itu

 

Jiyeon segera berbalik dan menekan tombol untuk turun dengan lift yang akan membawanya turun ke lantai satu itu.

 

Gadis itu diam menghadapi dinding lift untuk beberapa saat. Dari lantai 25 ke lantai satu memakan waktu sekitar lima menit. Cukup baginya untuk merenungi apa yang telah terjadi. Sungguh bodohnya!

 

Di tekan keningnya pada dinding cermin itu. Wajahnya memang bodoh, otaknya juga kerdil. Kenapa dia merasa sebodoh ini. Demi Tuhan, ada sebuah perasaan sesak di dalam benaknya, juga marah, benci, dan merasa tertipu.

 

Kenapa dia harus merasa tertipu.

 

”Dasar laki-laki brengsek!”

 

.

.

.

TBC

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. Lusti says:

    Apa bner jongki mw nikah??
    Trus gmn sma jiyeon bknnya jongki pengen bgt mlki jiyeon..
    Klo emg jiyeon ska sm jongki ya udh tinggalin aja heecul.
    Hti hati nnt nyesel lo ji.

  2. sookyung says:

    klo Jiyeon tau kelakuan heechul saat diamrik yg suka kencan dg beberapa yeoja mungkin Jiyeon akan meninggalkan heechul dan itu kesempatan joongki untuk merebut hati Jiyeon.

  3. indaah says:

    waduhh bimbang kk
    antara kesel wktu heechul blg dia sering gitu d amerika sama tmn kencan nya ishh
    tp dia kyk nya udah sungguh2 lg ma jiyeon ,
    jongki kyk nya bner2 gk cocok deh ma jiyeon , eomma appa nya yg gk stuju dan ntahlahh
    gk tau bkal gmna , aku ngikut crita kmu aja lan

  4. Ryin says:

    Merasa tertipu??
    Jiyeon aneh bukannya waktu itu joong ki sempet bilang y???
    Dan apa mungkin jiyeon sekarang suka sama joongki???

  5. cia says:

    Heechul ternyata juga sering gitu pas di amerika
    Uda jiyi, sama joong ki ajaa

  6. May andriani says:

    Jiyeon galau tuh,, aduh mkin seru ceritanya,, aq ngebut bcanya ya lan..

  7. anii says:

    Jinjja? Joongki mw nikah sama siapa? Eh heecul suka begituan disana? Jadi jiyeon diselingkuhin gitu? Aigoo jahat juga heecul,
    next yaaw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s