Rose In The City [Part-7]


rose-in-the-city1

Rose In The City 12

Song Joong Ki feat Park Jiyeon

I own Nothing But The Story

Read my new Story!

Love Sky

.

.

.

Pintu lift terbuka, dan sopir Jung menghadangnya.

“Maaf Nona, Tuan Song menyuruh saya untuk menahan Anda.” Ujarnya

“Siapa Tuan Song?”  Jiyeon masih kesal tanpa alasan jelas.

Sopir itu memberikan senyum, dan menyuruh Jiyeon untuk masuk ke dalam mobil majikannya.

“Bagaimana kalau aku tidak mau—“ sungutnya

“Saya akan memaksa dengan cara apapun, karena Tuan Song mengijinkan saya melakukan itu.”

“Melakukan apa?” bentak Jiyeon was was

“Untuk memaksa.” Jawabnya

Tapi karena Jiyeon masih mengantongi rasa kesal dan emosinya, dia tidak sudi untuk masuk ke dalam mobil itu dan memilih untuk berlalu, dan benar saja sopir bertubuh kurus yang begitu setia itu menghadang dengan badannya. Hh, Jiyeon memutar bola matanya, ingin sekali  menendangnya untuk melampiaskan rasa kesal di benaknya.

“Minggir!’ bentaknya lepas

“Maafkan saya Nona, saya terpaksa melakukan ini.” Mendadak pria kurus itu menggendong Jiyeon

“Jung Ssi!” pekiknya tapi sopir itu justru memasukkan Jiyeon ke dalam mobil dan menguncinya, kemudian dengan cepat dia itu membawa Jiyeon keluar dari gedung apartemen.

“Kau ingin membawaku ke mana?”

“KE sebuah tempat yang diperintahkan Tuan Song untuk membawa Anda.”

“Ke mana?”

“Rumah Tuan Song yang lain.”

“Laki-laki itu mempunyai banyak rumah?”

“Ya.”

“Sialan! Berhenti di sini, Jung Ssi!”

“Saya hanya mematuhi perintah dari Tuan Song, Nona.”

Jiyeon menghempaskan diri di bangku belakang dengan kekesalan yang berlipat ganda. Mereka orang kaya bisa memperlakukan dirinya seenaknya seperti ini.

Song Joong Ki lihat saja nanti!

Memangnya apa yang bisa dilakukan Jiyeon.

Ternyata keputusannya untuk mendatangi pria itu salah total. Mungkin malam ini dia tidak mungkin lagi bisa melepaskan diri dari rongrongan Tuan Besar yang selalu berpura-pura gentle namun sebenarnya mempunyai hasrat yang tinggi juga untuknya, atau untuk beberapa wanita lain juga. Bukankah tadi wanita itu mengatakan bahwa Joong Ki sering membuat kesalahpahaman dengan beberapa wanita. Dua kali Sialan! Maki Jiyeon dalam hati

Mobil menepi di sebuah rumah berpagar tinggi yang kemudian pintu itu terbuka dan meluaskan jalan untuk masuk ke dalamnya. Astaga! Rumah ini pun sungguh luar biasa indahnya. Hanya saja memang terlihat sepi.

“Silahkan turun, Nona!”

“Aku tidak mau.Antarkan aku pulang saja!”  Jiyeon masih bersikeras.

“Rumah ini di beli Tuan Song untuk Anda. Jadi ini adalah rumah Anda.”

“Jinjja! JINJJA!”  pekiknya keras dengan jantung meloncat. Benarkah laki-laki itu membelikannya rumah. Padahal diantara mereka belum terjalin hubungan apa-apa.

Jiyeon memperhatikan kondisi rumah itu. bagaimana mungkin dia bisa menerima ini semua tanpa melakukan apapun untuk pria itu. Jiyeon tidak ingin menjadi simpanan pria yang akan menikah itu.TIDAK MAU! Dia juga tidak mau menjadi budak sexnya.

Bagaimana ini?

“Nona, Tuan Song dalam perjalanan ke sini. Sebaiknya Anda segera masuk.”

Jiyeon memejamkan matanya dan menoak untuk melakukan apapun. Ada keinginan untuk kabur, tapi sepertinya tidak mungkin. Pagar itu begitu tinggi dan juga—

Ada rasa penasaran dengan rumah yang dibelikan pria itu untuknya. Eoh, wajah jika sebagai wanita dia silau dengan semua kemewahan yang seolah-olah diterjun bebaskan untuk dirinya. Semua ini terlalu menggiurkan.  Eomma! Ratapnya bingung. Apa yang harus dia lakukan? Joong Ki pasti akan memberikan apa saja yang Jiyeon inginkan jika dia mau menjadi wanita kesayangannya.

Tidak lama kemudian, seorang Ahjuma keluar dari pintu itu dan mendekati Jiyeon dengan sikap santun.

“Silahkah Nyonya!” ajak wanita itu.

“Nona. Aku belum menikah, Ahjuma!” protes Jiyeon

“Silahkah Nona. Di sini begitu dingin, Tuan Song memerintahkan Anda untuk masuk dan membuat diri Anda nyaman di dalam.”

Jiyeon menghela nafas dan menuruti ajakan itu. Jadi ini adalah rumahnya. Yeah, sehebat apa sih dirinya sampai bisa menerima sebuah rumah mewah seperti ini.

Kakinya manapaki lantai keramik putih itu dengan hati-hati—licin.  Salah-salah dia bisa terpeleset di sana. Wanita itu membawanya naik ke lantai dua.

Hebat!

Rumah ini mempunyai dua lantai dan semua begitu cerah dengan warna putih dan hitam. Apakah itu warna kesukaan pria itu. Jiyeon merengut.

Kenapa dia harus pusing masalah warna.

“Ini kamar Anda.” Wanita itu keluar dari kamar yang tadi dimasukinya.

Jadi diapun mempunyai kamar di sini.

“Ahjuma, di rumah ini ada berapa kamar?”

“Hanya ini saja Nona.” Jawabnya.

“Hah?”

“Saya permisi, Nona. Kalau Anda perlu, saya ada di dapur.”

Jiyeon tak tahu harus melakukan apa. Semua masih begitu menyesatkan. Semua ini terlihat begitu menyilaukan. Sebenarnya apa yang diinginkan manusia kaya itu darinya. Jika kemarin dia bersikukuh ingin menikahinya, apakah sekarang dia masih mempunyai niat itu terlebih ketika orang tuanya mengatakan dia akan menikah dengan wanita pilihan mereka.

LALU APA!

Jiyeon geram dan berusaha untuk melepas emosinya dengan memukul-mukulkan bantal di kasur empuk itu.

Tok Tok

Pintu terbuka itu diketuk, memutus kesenangannya dengan bantal itu. Joong Ki  berdiri di sana tanpa kesan apapun, membiarkan Jiyeon kehilangan gaya.

“Kau suka rumah barumu?”

“Tidak.” Jawab Jiyeon ketus.

“Kenapa? Kurang besar atau kurang indah. Memang ini tidak mahal, aku menyita dari seseorang yang berhutang padaku, tapi tak sanggup membayarnya.”

“Apa kau ini renternir, Tuan Song?”

“Bisnis, Dear! Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Dunia kejam itu bentuk dari perjudian raksasa.”

Jiyeon duduk di tepi ranjang.

“Jadi dia adalah kekasihmu.” Ujarnya dengan langkah mendekat, mengusik tentang Heechul.

“Ya. Kami akan segera menikah.”

“Bagaimana jika aku menikahimu lebih dulu?”

“Tidak akan pernah mungkin, Tuan.”  Gadis itu segera beranjak dari kasur menghindari laki-laki itu.

“Kenapa tidak mungkin.”

“Kau hanya akan menjadikanku sebagai wanita simpanan. Bukankah Anda akan menikah Tuan.”

“Itu benar.” Dia tersenyum tenang. “Aku memang akan menikah dengan wanita yang mereka pilihkan untukku. Kau ingin tahu siapa dia?”

“Tidak,” jawab Jiyeon singkat, saat ini dia sudah berdiri di dekat jendela dan melihat ke bawah, di mana halaman belakang ini terdapat sebuah kolam renang berukuran sedang.

“Kau ingin berenang?”

Oh God!”  Jiyeon tersentak saat sosok itu mendadak di sebelahnya pun dengan hembusan nafas yang menggentayangi lehernya. Tangan itu langsung menyekap tubuhnya.

“Tubuhmu basah. Kenapa kau tidak mandi dan berganti pakaian. Aku sudah menyiapkan banyak pakaian di dalam lemari.”

“Tidak, aku harus segera pulang. Kasihan Eomma, sendirian di rumah. Kondisinya sedang tidak sehat, Tuan.”

Dia berusaha melepaskan diri dari tangan dan tubuh yang menyekapnya, tapi sepertinya pria ini tidak memperdulikannya.

“Jiyeon, apa kau percaya kalau aku mengatakan aku cemburu?”

“Tidak.” Dia masih berusaha

“Aku cemburu Jiyeon.”

“Itu tidak mungkin, Tuan.”

“Kenapa tidak mungkin.”

Jiyeon terdiam. Iya, kenapa tidak mungkin. Memangnya dia mengerti dengan apa yang terjadi. Diliriknya pria di belakangnya ini. Tatapannya begitu sayu dan sendu.

“Kau sudah berani menghadapi orang tuaku, apa kau ingin menghadapinya lagi.”

“Maksud Tuan?”

“Sshhh. Berhentilah memanggilku Tuan, Park Jiyeon!”

“Tidak bisa. Aku sudah  mencoba, tapi tidak bisa. Anda terlihat lebih…”

“Tua?” sebut Joong Ki dengan cengiran konyolnya.  “Aku baru saja 32 tahun dan kau menyebutku tua. Laki-laki di usia sepertiku ini biasanya terlihat lebih menarik dengan kematangannya, kedewasaannya,  ketampanannya, juga keseksiannya. Apa kau tidak melihat itu di diriku, Park Jiyeon?”

Demi Tuhan kenapa pria ini menjadi narsis. Jiyeon ingin tertawa, tapi di tahannya. Tidak mungkin dia mengiyakan pembelaannya yang tidak mendulang keuntungan apapun untuknya itu,

“Apakah Anda baik-baik saja Tuan selama ini?”

“Aku merindukanmu.” Bisiknya

“Jangan!”

“Kau tidak bisa melarangku merindukanmu, Park Jiyeon.”

“Ya. Terserah Anda saja! Aku ingin pulang.” Jiyeon berusaha melepaskan diri. Setelah beberapa kali berjuang dengan hebat, akhirnya Joong Ki melepaskan pelukannya. Dengan cepat Jiyeon berlari keluar kamar meski itu sebenarnya tidak penting. Di depan sana sudah menjaga sopir Jung yang selalu menuruti perintah majikannya.

“Kau tidak akan bisa pergi ke manapun, Park Jiyeon!”

“Aku akan menghubungi Heechul Oppa untuk menjemputku!” Ancam Jiyeon sambil merogoh ponselnya.

“Silahkan saja!” Pria itu  masuk ke dalam kamar itu lagi selagi Jiyeon menuruni tangga dan mendekati pintu, kenapa pria itu tidak mengejarnya.

Eoh! Ponselnya mati. Bagaimana ini.

“Tidak bisakah kau mengantarku pulang, Jung Ssi. Eomma tidak bisa sendirian di rumah. Dia memerlukan aku.”

“Maafkan aku Nona!” jawabnya permisi meninggalkan Jiyeon di ruangan sendirian. Di lihatnya ke atas, Joong Ki sudah menutup pintu kamar itu. Jiyeon dibiarkan sendirian di ruanga seluas ini, di mana ruang tamu dan ruang makan, bahkan dapur sekalipun tidak mempunyai sekat. Semua terlihat luas dengan lampu-lampu gantung yang terlihat seperti sarang laba-laba raksasa di atas sana. Jiyeon tidak bisa tinggal di rumah seluas ini.

Di luar udara begitu dingin, dengan angin sisa hujan yang masuk ke dalam ruangan yang dibiarkan terbuka. Jiyeon terbaring di sofa dan merenungi apa yang telah terjadi dengannya.

Malam ini dia merasa dirinya telah di culik.

.

.

.

Jiyeon tertidur pulas di sofa.

Pria itu memperhatikannya dengan gelengan kepala. Dia memberikan selimut dan menutup jendela terbuka itu. Kenapa dia membiarkan jendela itu terbuka, dan kenapa dia begitu keras kepala seperti ini.

Joong Ki memperhatikan posisi tidur gadisnya yang sepertinya tidak nyaman, tapi kalau dia menggendongnya, maka Jiyeon pasti akan terbangun. Dia tidak ingin Jiyeon bangun, dan membuat mereka harus berdebat lagi. Disenyuminya wajah yang tampak tenang itu dari jarak dekat.

“Ahjuma, tolong ambilkan selimut!” suruhnya pada wanita yang sesaat lalu menyediakan minuman hangat untuknya itu.

Untuk sejenak, Joong Ki hanya duduk di sebelah Jiyeon, dan terus menatapnya.

Wanita itu muncul membawa selimut, dan di sodorkan pada majikannya. Sebentar saja dia sudah terbaring bersama Jiyeon dan membuat gadis itu hangat dalam pelukannya.

Sofanya pun cukup besar untuk mereka berdua.

Gadis ini unik dan lucu, menggemaskan dan— menggairahkan. Joong Ki tersenyum sambil menikmati keharuman helai rambut wanitanya. Apa salahnya memberikan rumah untuknya,  toh ini hanya sebuah rumah. Bagi Joong Ki ini bukan hal sulit memberikan Jiyeon sebuah rumah. Bahkan dia ingin memberikan semua yang Jiyeon mau, dia ingin memanjakannya dan memperlakukannya istimewa.

Satu hal yang ingin dia yakinkan di dalam hatinya, untuk apa dia melakukan ini semua.  Mungkin benar dia jatuh cinta pada gadis ini ketika pertama kali dia melihatnya, lalu kemudian muncul sebuah pemikiran untuk memilikinya, karena dia merasa begitu percaya bahwa Jiyeon tidak mungkin menolak pesona yang dimilikinya.

Untuk sebuah alasan subjective inilah dia mengambil sebuah alibi. Kesan egoistik dan terlalu memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan apa yang terjadi pada sisi kehidupan lain dari sosok yang diingini inilah yang dia terapkan pada JIyeon.

Siapa yang tidak akan luluh pada seorang Song Joong Ki.  Pikirnya.

Selama ini, dia selalu bisa membuat hati banyak gadis masuk dalam perangkap yang tidak sengaja dipasangnya. Wanita selalu mudah tunduk pada wajah tampan, rayuan dan kemewahan. Semua itu membuai mereka. Joong Ki melakukannya,  kemudian meninggakannya tanpa kesan apapun.

Dia tidak butuh cinta, karena dia yakin dia bisa mendapatkan kesenangan tanpa cinta. Sejak kecil, dia selalu melihat kedua orang tuanya sibuk di luar rumah. Mereka sering bepergian untuk perjalanan bisnis. Tidak ada yang memperhatikannya selain para pengasuh yang selalu dibulinya, namun terkadang dia pun mendapatkan sebuah hukuman yang mutlak membuatnya harus terkurung berjam-jam di dalam kamarnya dengan rasa kesepian yang mengerikan.

Masa remajanya pun tidak pernah sebebas teman-teman sebayanya yang mempunyai waktu untuk bersenang-senang. Satu-satunya hal yang dianggap kedua orangtuanya kesenangan, adalah les private mengenai bisnis dan bermain saham. Semua hal ini membuatnya nyaris gila, terlebih dengan penyakit jantungnya ini, Joong Ki tidak diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan olah raga yang terlalu menguras energy. Dia hanya diijinkan untuk sedikit berjoging, dan renang , itupun harus dibimbing oleh seorang instruktur.

“Nggghhhh….” Jiyeon  bergeser dan menghadapinya. Eoh!  Kini mereka berhadapan. Joong Ki semakin merona. Hatinya tidak tahan hanya dengan menatap wajah itu menginterupsi keyakinannya.

“Jiyeon!”  bisiknya lirih, tanpa suara. Gadis itu tak bergeming, bahkan merasa hangat dan nyaman ketika Joong Ki membawa kepala itu tenggelam di dalam dadanya.

Jantung ini begitu indah berdetak saat Jiyeon berada dalam pelukannya.

.

.

.

JIyeon membuka mata,

Seketika itu dia duduk dan memperhatikan sekitarnya.  Di mana ini?

“Kau sudah bangun!”  suara itu, dia menoleh dan mendapati pria itu duduk dengan manisnya menghadapi meja makan sambil memegang cangkir teh di tangan kanannya. Menyerahkan senyuman dengan wajah yang segar, lalu menyuruh JIyeon bergabung dengannya.

DAMNT!

Jiyeon menggaruk kepalanya. Dia masih berada di tempat ini. “Antarkan aku pulang, Tuan!”

“Makanlah dulu!”

“Aku tidak lapar.”

“Kenapa? Kau muak padaku?”

“Apa Anda tahu apa yang akan terjadi padaku setelah ini?”

“Katakan padaku!”  menggoda dengan wajah datar. Sikap sok cool-nya itu terkadang menyebalkan Jiyeon, dihelanya nafas dengan senyuman pahit. Dia butuh ke kamar mandi sekarang.  “Di mana kamar mandinya?”

“Di kamarmu.” Sahutnya tenang

Jiyeon segera berlari menaiki tangga menuju ke kamar yang dikatakan pria itu sebagai kamarnya. Setelah masuk, Jiyeon memastikan pintu itu benar-benar terkunci sehingga mempersempit kemungkinan pria itu untuk masuk dan memperdayainya seperti malam itu.

Beberapa saat kemudian, dia selesai dengan mandinya dan berniat untuk segera berpakaian, tapi ketika dia membuka pintu, dia sudah melihat Joong Ki duduk dengan manisnya di sofa yang menghadap ke arah ranjang besar itu.

“Kenapa Anda bisa masuk?”

“Bukan hal yang sulit bagiku.” Jawabnya

“Aku harus memakai baju.”

“Silahkan!” ujarnya tanpa beban.

“Tuan….”

“Hm…baiklah, tapi berikan aku satu ciuman saja!”

JIyeon tak membiarkan pria itu mendekatinya. Terlalu riskan memberikan ciuman, terlebih saat ini Jiyeon sedang tidak berpakaian. Apapun bisa terjadi. Rasa takut itu muncul di dalam benaknya, ya takut kalau-kalau dia tidak bisa menghindari semua itu lagi.

Joong Ki menelaah tatapan itu, dan mengangguk. Baiklah dia mengalah.

“Aku menunggumu di mobil. Aku sudah berjanji padamu untuk memberimu pekerjaan.”

“Aku sudah bekerja, Tuan. Anda tidak usah mencemaskan saya.”

“Jangan berdebat denganku sepagi ini, merusak moodku saja!”

Joong Ki berjalan keluar kamar dan menutup pintu lagi, meninggalkan Jiyeon yang terpaku dengan ucapan laki-laki arogant itu. Hhh… merusak mood.  Ini sungguh gila!

.

.

.

Pria ini dengan penuh rasa percaya diri berjalan di depannya.  Semua orang membungkuk untuknya. Jelas sekali jika Joong Ki memang dihormati. Seorang pemimpin perusahaan yang sungguh mempuni.

“Tuan Song~” seorang wanita menghentikannya—sekretarisnya.

“What?”

“Di dalam—“  kalimatnya terpotong.

“Kenapa tidak bicara cepat, ingin kupotong gajimu!” ancam Joong Ki sengit

“Ada Nona Kim.” Jawabnya kemudian.

Joong Ki mengernyit. Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu itu.

Hi Honey!” sapa wanita itu yang baru saja berdiri ketika Joong Ki melangkah masuk dengan sikap dinginnya. Melirik sadis seolah-olah wanita itu adalah sumber bencana.

“Kau baru datang? Aku sudah menunggumu sejak— ehm, lima menit yang lalu.”  Dia mendekati Joong Ki dan tersenyum cerah.  Jiyeon tidak berani mendekat,  justru cenderung ingin segera mengambil kesempatan untuk kabur, tapi tangan Joong Ki  menariknya.

“Siapa dia? Mainan barumu lagi?” tuduh wanita itu dengan lirikan sengitnya ke arah Jiyeon.

Mainan?

Haruskah JIyeon terkejut, tapi sepertinya pria yang tengah menggandengnya ini terdengar santai, meski telapak tangannya berkeringat.

“Keluar dari ruanganku!” usirnya pelan, sebentar-sebentar beralih fokus, dari JIyeon kemudian pada wanita itu, khawatir dengan respon gadis di sisinya. Dia ingin menjaga perasaannya dari ular berbisa yang tengah menyerangnya.

“Hh?”  dengan nada tinggi

“Bukankah kita sepakat untuk bertemu nanti malam.” Seru Joong Ki  tanpa ekspresi

“Aku tidak sabar, Oppa.

Joong Ki melirik Jiyeon yang termangu, dia hanya berharap Jiyeon tidak terlalu memusingkan masalah ini, karena ada hal yang ingin di tegaskan pria ini padanya.

“Aku tidak bisa melakukan ini.” Ujarnya lirih,

“Kau harus mempercayaiku, Park Jiyeon.”

“Sudah berapa kali kau mengatakan itu pada semua wanita yang ajak kencan, Oppa. Geumanhae! Sudah saatnya kau bersikap serius. Jangan bermain-main lagi. “  wanita itu semakin gencar menekan Joong Ki dan membuat situasi semakin tegang.

Dihempaskan tangan pria yang tengah menggenggamnya ini. Seharusnya Jiyeon memang tidak mengikuti alur permainan mereka. Orang-orang kaya ini membuatnya muak.

“Kau tidak harus mendengarkannya, Park Jiyeon. Hanya aku saja yang harus kau dengarkan. Percayalah padaku. Apa kau dengar!”

Sekali lagi Jiyeon menggeleng. Dia tidak harus mempercayai siapapun atau apapun, semua ini bullshit!

“Aku harus pergi, Tuan!”

“Jangan pergi dulu!” setengah menghardik “Na Young, pergilah! Jangan meracuninya dengan omong kosongmu!”  dikte Joong Ki pada sosok yang sejak tadi merongrongnya.

“Kenapa kau mengusirku, aku ini calon istrimu, Oppa!”

“Kau terlalu banyak bicara!”

“Aku bicara apa adanya, kau yang selama ini tidak pernah berpikir logis dan selalu bermain-main hanya untuk membuatku sakit hati. Apa kau pikir, kau bersikap dewasa dengan cara seperti itu, Oppa. Kita tetap akan menikah, meski kau tidak menyukai ini sekalipun.”

Joong Ki terpejam untuk menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubunnya. Sepagi ini dia sudah di hadapkan dengan persoalan menjijikkan ini. Seluruh tubuhnya mendadak di aliri oleh rasa nyeri, keringat dinginnya mulai membasahi sekujur tubuhnya.

“Aku permisi Tuan!”

“Stay!” tegasnya, memaksa Jiyeon dengan mencengkram lengannya, menghadapkannya tepat di depan wajahnya, mencuri dagu runcing itu, dan melekatkan tatapannya, beradu perasaan.

“Berikan aku senyummu, berikan padaku!”

Jiyeon menggeleng bingung. Pria ini gila! Untuk apa dia harus tersenyum untuk alasan yang tidak jelas.

“Aku pergi!”

“Jangan—“  Jangan pergi dulu Jiyeon, aku masih membutuhkanmu untuk—

Teriaknya dalam hati sambil menahan rasa sakit di dadanya. Ough!

“Aku tidak harus mengganggu Anda.”

“Kau tidak menggangguku, Jiyeon. Kumohon tinggalah untukku!” dia berusaha untuk menggapai tangan itu, tapi JIyeon sudah terlanjur berbalik dan melangkah keluar dari ruangan. Sedetik setelah Jiyeon berada di luar pintu—

Oppaaaaa!” teriakan itu membuat JIyeon tersentak kaget, dia menoleh dan mendapati tubuh pria itu sudah tergeletak di lantai, sama seperti waktu itu.

Kenapa di saat dia berpaling, pria itu selalu kehilangan kesadarannya.

.

.

tbc

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. nana says:

    Kasian tuan song…… Jiyeon please heechul itu gk cocok buat kamu.

    1. mochaccino says:

      iyah cocoknya buat Lana aja wkwkw,thanks yaq

  2. cia says:

    Aduh joongki pnykt jantungnya kykny makin parah
    Jgn tinggalin joongki jiyii
    Ditunggu next partnyaa

  3. May andriani says:

    Sp tuh na young, bneran dia clonnya joongki?? Aq Ksian sma joongki dia dulunya di kekang sma ortunya,, gk boleh ini , gk boleh itu..

  4. anii says:

    Aigooo aku suka banget kata2 yg #setiapberpalingpriaitukehilangankesadarannya haaa apa cuman aku yg ngerasa seperti gmna2 gitu greget2 gitu hihii
    next yaaw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s