Rose In The City [Part – 8]


rose-in-the-city1

Rose In The City – 8

Cast |  Song Joong Ki, Park Jiyeon,

Support Cast | Kim Heechul, Yuka Tachibana [OC]/Heechul’s step sister

 Genre | ROmance – Angst

Length | Chapter

Rated | PG-17 [warning]

Disclaimer | I own nothing but the story

.

.

 

 

Matahari bersinar lembut, dan awan-awan seperti permen kapas yang terbuat dari wools berwarna putih keperak-perakkan. Begitupun dengan udara segar yang berhembus di permukaan wajah kota. Setiap detail kehidupan tampak mengagumkan di matanya. Lembut dan menyegarkan. Semua cantik, seperti mimpi….mimpi orang lain. Meskipun saat ini adalah musim gugur, namun dunia terlihat sangat manis dan hidup. Musim ini tidak membunuh segala-galanya, termasuk mimpinya. Hanya saja musim ini sedikit membuatnya depresi.

Pria ini masih terbaring dengan kondisi lemah.

Sudah berlalu tiga hari, dan semua masih tidak bisa dipastikan apakah dia akan membaik atau justru—

JIyeon masih menunggunya. Ini kesalahannya, karena tidak bisa sebentar saja menunggunya di sana. Joong Ki pernah berkata, dia hanya membutuhkannya di sana untuk menemaninya menghadapi mereka.  Dia hanya diminta untuk tersenyum, menguatkan jantungnya, bukan justru membuatnya terkapar seperti ini.

Dia hanya membutuhkannya untuk berada di sisinya.

Bukankah dia sudah mengatakannya, kenapa Jiyeon tidak bisa peka dengan keadaannya. Harusnya dia bisa memahami apa yang dirasakannya, bukan meninggalkannya dalam kondisi terdesak.

Ditatapnya wajah pucat itu, bersama semua mesin penguat denyut jantungnya, dan selang oksigen yang masih terpasang sejak tiga hari lalu.

”Tuan!”

Dia membuka kelopak matanya,

Di irisnya tergambar bayangan Jiyeon yang tengah menatapnya dengan senyum dan memberikan ucapan selamat datang kembali ke dunia ini pada lelaki tampan ini.

”Aku berjanji akan selalu berada di dekatmu, Tuan.” bisik Jiyeon lirih, namun Joong Ki kembali terpejam.

”Tuan!” sebut Jiyeon panik, namun tangan itu akhirnya menggenggamnya. Pria ini menggenggamnya dengan erat. Detak jantungnya berdetak kian cepat.

-o0o-

Sejak hari itu, Jiyeon tidak pernah berkata tidak pada Tuannya. Di manapun, kapan pun dia berada jika pria itu memanggilnya maka dia akan datang. Hanya saja, Jiyeon masih belum ingin Joong Ki menyentuhnya lagi selain dari sekedar berciuman. Namun hari ini, Yuka mulai mencurigainya. Dia mengendus ada hal yang aneh dengan hubungannya dengan Joong Ki. Mungkin karena Jiyeon tidak pernah menolak keinginan Joong Ki, dan selalu mengabaikan Kakaknya.

”Apa kau dan pria kaya itu mempunyai rahasia?”

Jiyeon mengacuhkannya  untuk membaca pesan dari Joong Ki. Pria itu mengatakan bahwa malam ini dia harus ke London untuk sebuah bisnis.

London

Kenapa begitu jauh.

”Jiyeon!” panggil calon adik iparnya itu

”Kau tidak mencintaiku Oppa ku lagi?”

”Kenapa kau bertanya begitu?”

Gadis itu menunduk. Diamnya begitu lama hingga Jiyeon harus menyentuh bahunya.

”Orang tua kami begitu menyayangimu, Jiyeon.”

”Aku tahu, Yuka. Kau jangan khawatir!”

”Bukan seperti itu—”

”Lalu apa?”

”Kau berubah.”  terka yeoja itu yakin.

Jiyeon menggeleng.

”Apakah dia menganggapmu sebagai kekasih?”

”Siapa?”

”Pria kaya itu!”

”Astaga Yuka, jangan berteriak!”  Jiyeon melirik ke arah ibunya.

”Katakan padaku!”

”Aku tidak harus menjelaskan padamu mengenai dia.”

”Kenapa? Dia membiayai hidupmu, dan tak perduli kau akan menikah sekalipun. Kau menjijikkan Jiyeon. Aku membencimu karena hal ini.”

”Kau bicara apa?”  sambil memperhatikan kondisi rumahnya. ”Jangan bicara sembaranga mengenai hal ini.”

”Aku belum mengatakan apapun pada Heechul oppa, karena aku pikir kau tidak akan melanjutkan semua ini!”

”Kau tahu Yuka, Tuang Song yang membiayai kuliahku dan memberikan semua ini padaku. Dia memberi Eomma sebuah bisnis florist untuk dikelola.”

Yuka mematung,

”Seharusnya aku menyadari hal itu.”

”Kau harus melepaskan Heechul Oppa.”

”Kenapa?”

”Karena kau tidak pantas untuknya.”

Jiyeon tertawa getir. Mungkin memang aneh kedengarannya jika dia masih mempertahankan Heechul. Untuk apa dia melakukan semua ini sementara sudah ada pria kaya, tampan dan begitu berharap padanya sebanyak ini.

Dia masih menjaga cintganya, harga dirinya, juga janjinya pada Heechul. Mereka sudah bersepakat untuk saling menjaga kesetiaan dan selalu bersama apapun yang terjadi.

Ding

Jiyeon menatap layar ponselnya

Apa kau bisa mengantarku, Sayang.

Ke bandara?

Ya

Entahlah Tuan. Sepertinya tidak.

 

Baiklah. Jaga dirimu, mungkin aku akan sedikit lama di sana.

 

Anda yang harus menjaga diri Tuan. Jangan lupa dengan obatnya.

 

Aku akan sangat merindukanmu.

 

Jiyeon tak membalasnya.

.

-o0o-

.

Sore ini calon ibu mertuanya mengadakan perayaan ulang tahunnya yang ke 55 tahun. Wanita yang masih terlihat segar itu tampak senang dengan kedatangan Jiyeon.YA mereka selalu menyambut baik kedatangan calon menantunya ini.  Begitu pun dengan Heechul yang selalu terlihat antusias padanya.

”Ini salahmu karena aku tidak bisa memberikan apa-apa pada Eommonie.”  Jiyeon hanya memberikan satu bucket bunga kesukaan wanita itu dan melirik kesal pada namja di sebelahnya.

”Dia tidak akan protes.”

”Tapi paling tidak aku bisa membelikan dia satu potong pakaian untuk melegakan hatinya.”

”Kau punya uang?” lirik kekasihnya ini.  Mereka sedang rehat setelah makan malam tadi. Heechul menarik Jiyeon ke kamarnya, dan mulai bersikap agresive, tapi baru saja sebuah kecupan menyapa bibirnya, pintu kamar sudah diketik seseorang.

”Jangan ganggu Yuka!” titahnya pada sosok di luar pintu.

”Oppa, kau dipanggil Eomma!

Jiyeon tersenyum sambil menyeka bibir kekasihnya dari sisa lipstik. ”Temuilah eommonie dulu.”

”Dia bukan eommaku,” gerutunya

”Tapi dia yang sudah mengurusmu sejak kau sepuluh tahun.”

Heechul mendengus dan berdecak. Seperti ada sebuah rasa berat di dalam benaknya.

”Oppa!” panggil Yuka Lagi.

”Nah, keluarlah dan temui dia dulu!”

”Okay!”

Pintu itu dibukanya, dan mendapati Yuka tengah menatap dengan cengiran, tapi senyuman itu lenyap ketika Jiyeon menyapanya.

”Kau pasti sengaja, kan!”  selidiknya kemudian.

”Sengaja apa?” tanya Jiyeon bingung

”Bersikap manis di depan Oppa, hanya karena kau takut  dia tau tentang hubunganmu dengan laki-laki itu.”

”Kau masih saja mencampuri urusan orang lain, Yuka.”

”Jelas aku mencampuri urusanmu, karena itu menyangkut Oppaku. Kau kuliah di biayai oleh pria kaya itu, apa kau pikir dia tidak meminta imbalan darimu!”

Jiyeon memejamkan mata demi mendengar perkataan Yuka.

”Yuka, aku tidak tahu harus bilang apa, kau berhak mengatakan aku wanita tidak setia, brengsek atau pelacur sekalipun, tapi asal kau tahu, aku masih suci. Aku hanya ingin menyerahkan semua itu pada Heechul Oppa. Aku mencintainya.”

Setelah mengatakan itu, Jiyeon menyingkir dari hadapan Yuka, menuruni tangga dan meninggalkan rumah itu tanpa permisi.  Dia semakin menemukan ketidakcocokan dengan calon iparnya itu. Sikap Yuna terlalu ekstreem menjaga kakaknya, tapi semua itu justru terlihat seperti kedengkian, dan cemburu—

Cemburu?

Jiyeon tidak pernah yakin mengenai itu, tapi dulu Yuka pernah bercerita padanya, kalau dia menyukai namja yang sepertinya tidak mungkin untuk dia miliki. Tapi itu dulu sekali, saat mereka masih SMP. Apakah laki-laki itu adalah Heechul, kakak tirinya. Bukankah mereka tidak ada hubungan darah.

Beberapa menit kemudian, ketika Jiyeon sudah berada di dalam taxinya, Heechul menghubunginya.

”Kau di mana? Kenapa pergi tanpa berpamitan, Park Jiyeon. Aku sungguh marah dan kesal padamu!”

”Mianhe, Oppa! Aku harus menjemput Eomma di toko bunga.”

”Paling tidak kau harus bicara padaku dulu!” hentaknya. Jiyeon diam dan merenungi perbuatannya yang memang sangat tidak bertanggung jawab.

”Aku akan menyusulmu ke toko bunga eommonie.”

Setelah itu dia memutuskan sambungan.

Semua karena Yuka. Gadis itu mungkin memang menyukai Heechul, dan memperlalukan Jiyeon seperti musuhnya saat Heechul pulang dari Amerika, terlebih saat ini mereka akan menikah, dia semakin sengit dan berusaha untuk merusak suasana, termasuk memanfaatkan kesalahan Jiyeon.

.

.

.

Selama  pergi untuk perjalanan bisnisnya, Jiyeon sesekali menyambangi apartemen pria kaya itu yang ditinggalkan kosong. Dia memeriksa kalau-kalau ada sesuatu yang janggal di sana, tapi tidak hal yang janggal di sana.

Apartemen itu terlihat sangat normal tanpa penghuninya.

Jiyeon tersenyum.

Entah kenapa dia harus tersenyum.

Jika pada suatu malam, Jiyeon datang dan melihat Joong Ki sedang sibuk dengan pekerjaannya di atas sofa itu,  atau sedang memegang remote teve dengan posisi duduk yang angkuh, menumpangkan kaki pada kaki sebelahnya dan bersidekap pun alisnya tak pernah terlihat santai dengan alur wajah serius cenderung kaku, ketika menonton acara reality show yang terkesan comedy. Itu adalah hal yang tidak normal.

Dia tersenyum lagi,

Ya, tersenyum

Hal itulah yang sering dilakukan Joong Ki belakangan ini. Tersenyum. selalu tersenyum ketika melirik ke arah Jiyeon yang mungkin sedang sibuk dengan menyiapkan makan malamnya atau duduk di sebelahnya tanpa kata-kata.

Terlebih ketika pria itu mengganggu kegiatannya, dan mendadak merayu ingin menciumnya. Laki-laki itu seperti bocah saat sedang ingin.

Tatapannya— juga bahasa tubuhnya ketika bergerak mendekat dan mengurung tubuhnya dengan pelukan hangatnya, apakah ini normal, dan apakah hatinya menjerit untuk semua hal tidak normal itu.

Tidak ada deskripsi paling indah selain menikmati bibir penuh dan lembut miliknya. Jiyeon sadar bahwa dirinya sudah terjebak dalam sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskannya. Banyak sensasi yang dia dapat ketika bibirnya mendapatkan serangannya. DIa tidak memungkiri, kalau Heechul adalah laki-laki yang sangat menggairahkan, pun bibirnya masih memiiki kesan yang manis ketika menyentuhnya, hanya saja semua itu kini tenggelam dalam gelombang panas Joong Ki

”Kau di mana?”

”Di apartemenmu.” jawabnya saat Joong Ki menghubunginya.

”Kau merindukan aku?”

”Tidak.”

”Lalu kenapa kau berada di situ?”

”Aku mengambil beberapa buku yang tertinggal.”

”Eoh!”

Diam. Suaranya begitu lirih, dan pelan. Apa penyakitnya kambuh.

”Tuan, apa kau baik-baik saja?”

Joong Ki tidak menjawab.

”Tuan Song?”

”Jantungku.” bisik pria itu lirih

”Cepat mencari petolongan!”  Jiyeon mendadak panik

”Tidak bisa.” jawabnya.

”Tuan!” Jiyeon menjadi kian panik. Dia beranjak dari ranjang yang tadi ditidurinya.

Dia berbohong ketika Joong Ki menanyakan kalau dia mengambil buku-bukunya. Bohong—

Dia berbohong

Tuan! Kau sudah minum obatnya. Aku akan menghubungi medis sekarang juga.”

”Apa kau bisa? Kau tidak di sini.”

”Tentu saja aku bisa. ”

”Jiyeon, apakah kau mencemaskan aku?”

Hening. Debaran jantungnya seakan menghentak.  Cemas? Dia pasti gila, aku justru takut dia mati sendirian di sana.

”Aku mencemaskanmu, Tuan! Kau harus segera mencari pertolongan.”

”Aku tidak bisa.”  semakin lirih.

”Eothokae?  SONG JOONG KI! Jangan menyerah.”

Jiyeon gemetar demi menahan rasa takutnya. TAKUT.  Takut akan apa. Apa yang dia takutkan. Ya, dia takut…sangat.

”Jantungku…Jiyeon.”

”Di mana kau menyimpan obatnya?”

”Sudah.”

”Jangan berpikir terlalu berat. Jangan membuatku panik, Tuan!”

”Jantungku nyeri.”  Menghela nafas dengan berat. ”Apa kau tahu, Sayang…suatu hari nanti aku akan mengajakmu ke tempat ini.”

”Apa kau yakin sudah meminum obatnya, Tuan?”

”Ya, di sini indah, Jiyeon. Hanya saja aku sendirian.”

”Berapa butir yang kau minum?”

”Aku bisa melihat langit dari atas ranjangku.”

”Aku tidak perduli, Tuan. Aku tidak ingin ke tempat itu!”

Hening

”Tuan….!”

Hanya desah nafas yang semakin lirih.

Tuan! Jangan mencandaiku!”

”Aku ingin memelukmu.” bisiknya.

Jiyeon kembali terduduk lemas demi mendengar penuturan masternya yang begitu memukul batinnya.

I miss you!”  bisiknya lagi dengan nada frustasi. ”I miss you, Jiyeon. hening sebentar. DAMNT YOU PARK JIYEON, I Miss you! teriaknya keras.

Si brengsek ini. Jiyeon mengumpat dalam hati. Kenapa pria arogan itu bisa membuatnya lemas seperti ini. Sangat tidak lucu, mengerjainya seperti ini. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia berhasil memporak porandakan suasana hatinya.

Tuan aku ingin mengataimu Brengsek Tuan!”  bahkan Jiyeon ingin memakinya tapi tidak berani sampai harus meminta ijin dulu.

 

”Katakan aku brengsek kalau begitu!”

 

”Kau brengsek Tuan Song!”

Yeah…yeah.., I miss you too, Park Jiyeon! Jangan mengotori bantalku dengan liurmu, atau menggunakan pasta gigi, dan stock lemari esku terlalu banyak, okay!  JIyeon tertawa mendengar pesan konyol itu.

 

Terdengar tawa yang sama di seberang sana. Pria itu sungguh pintar membuat drama. Untunglah dia baik-baik saja.

JIyeon berdiri di pinggir jendela menatap langit malam sama seperti yang pria itu selalu lakukan setiap malam.

Aku ingin memelukmu.” ujarnya.

Jiyeon tidak bisa menjawabnya

”Aku ingin—”

”Ingin apa?”

”Lupakan, kau tidak akan mau.”

Ya, dia pasti ingin melakukan hal itu. Jiyeon memahaminya. Setelah beberapa bulan ini bersamanya, dia menjadi mengerti dengan keinginan itu pun ketika mereka saling berciuman, keinginan itu begitu menyerang dirinya dengan kekuatan bertubi-tubi.

”Apakah aku harus, Tuan?”

”Eum— aku tidak tahu.” 

JIyeon menatap layar ponselnya, getaran suara pria itu begitu merasukinya. Karakter suara mereka hampir sama, dalam dan berat, hanya saja sekarang JIyeon begitu meresapi setiap desahan napas yang mengalir di pendengarannya.

”Aku menunggu saat-saat itu.” bisiknya setelah JIyeon membuat aksara nama pria itu pada kaca jendela di depannya.

”Saat-saat untuk apa?”

”Saat-saat yang kita ingini. Saat perasaan kita membawa kita untuk melakukan itu. Bukan sebuah paksaan seperti yang pernah kulakukan.”

Jiyeon menjatuhkan pandangan pada jemari kakinya. Pikirannya kembali mengingat malam itu. Itu sangat luar biasa, tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu lagi.

”Aku ingin merasakan dirimu, mengisimu, memberi pemenuhan untuk gairahmu. Apa kau tahu, itu bukan hal yang mengerikan.”  jelasnya.

Ini kedengarannya seperti rayuan yang mematikan. Apa maksudnya dengan mengatakan dia ingin mengisi—

Apa laki-laki itu ingin Jiyeon Hamil.  Jinjja! Memangnya dia pikir dia itu siapa?

”Aku tidak tahu, Tuan. Maafkan aku.”

”Hm.”

”Aku sudah berjanji melakukan hal itu hanya dengan Heechul Oppa.” sambut Jiyeon kemudian apa adanya. Dia harus menegaskan itu, agar pria ini bisa memahaminya.

”Hm, jadi kau akan menikah dengannya.”

”Bukankah saya sudah pernah mengatakannya.”

”Hm, Ya.”

”Anda pun akan menikah.”

”Ya. Tapi bedanya aku tidak mencintai wanita yang akan kunikahi, sedangkan kau mencintai laki-laki yang akan kau nikahi.”

 

Hening.

Keheningan ini begitu lama. Joong Ki memberikan waktu pada wanita yang dianggapnya kekasihnya itu untuk berpikir.

” Aku cukup bahagia kau bisa menemaniku.”

TUT

Dia bahkan tidak  mengucapkan ’bye’ or ’see you’.  Apakah pria itu merasa sedih dengan kondisi semacam ini. Bukankah mereka sudah bersepakat bahwa mereka memang hanya akan menjadi seperti ini saja.

Jantungnya.

Jiyeon meraba detak jantungnya.

Ding

Di mana?

Heechul mengirim pesan.

Aku akan segera pulang.

Tidak perlu. Aku di Busan.

I love you Jiyeon

Di tatapnya pesan itu dengan nanar. Empat kalimat yang membuat batinnya merintih,

I Love you too Oppa

.

.

.

Kepulangannya dari London,

Bayangkan, jika seorang Joon Ki duduk pada bangku di bawah rindang pepohonan di halaman kampusnya. Sikapnya tenang, menaruh semua perkaranya dalam lipatan tangan, lalu dengan lirikannya dia menilik beberapa mahasiswa yang bergunjing mengenai dirinya. Mahluk setengah dewa yang sedang tersesat di sarang penyamun. Pikir seorang JIyeon ketika dia harus memergoki pria kaya itu menjemputnya tanpa memberi konfirmasi. Beruntung Jiyeon yang menemukannya di sini, bagaimana jika dia diculik dan dijadikan mumi sebagai bahan penelitian para calon arkeolog di fakultasnya.

Mumi manusia tampan ini akan jadi rebutan para peneliti artefak di seluruh dunia. Meneliti susunan genetik dan kromosomnya untuk membuat kloningnya.

Jiyeon menyandinginya tanpa permisi, membuat tubuh pria di sisinya itu condong ke kanan.

”Sedang apa di sini, Tuan? Kau seperti seorang petinggi negri ini yang salah alamat.”

Joong Ki merengkuh bahunya dan mengusapnya berkali-kali.

Kajja!” ajaknya sambil menarik tangannya.

Beberapa temannya sempat memperhatikan ketika Joong Ki menariknya masuk ke dalam mobil. Ini pasti akan menjadi bahan gosip terkini di dalam kampusnya.

”Aku harus ke dokter sore ini. Apa kau ingin menemaniku?”

Dia semakin menyayangi Jiyeon dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

”Bagaimana bisniss eommonieku?”  Yah, apa boleh buat, Joong Ki berhak memanggil ibunya dengan sebutan itu, meski terkadang dia harus mengantongi senyumnya dulu.

”Cukup lancar.”

”Kau senang?”  Jiyeon meremas jemarinya. Mereka saling menatap sebentar sebelum sang sopir melirik mereka.

”Aku senang.”

”Kau tidak takut lagi padaku.”

”Kenapa aku harus takut padamu. Tuan Song yang terhormat?”

Pria itu mengangguk mantap, kemudian dengan telunjuknya lagi dia memberi JIyeon titah untuk mendekatinya.

Dia pasti ingin memberikan sebuah ciuman untuknya. Kenapa semua ciumannya kini bukan hal yang asing dan aneh baginya. Dia mulai terbiasa dengan sentuhan bibir itu pada bibirnya.

Sebuah kecupan lembut itu menyapanya, lalu dengan tangannya, Jiyeon menyentuh wajah itu. Dia ingin merasakan bibir itu kali ini, meresapinya, dan menggali semua keinginan yang pernah Joong Ki katakan.

Sesuatu dari dalam tubuhnya.

Joong Ki mengerang lembut sambil menjulurkan lidahnya. Bibir mereka terbuka dan saling memilin dan mengecup. Kecipak suara mereka sedikit mengganggu konsentrasi sang sopir yang giat bekerja di depan sana.  Mereka sungguh keterlaluan membuat huru hara di dalam mobil. Tidak bisakah menunggu hingga mereka tiba di apartemen.

Beberapa menit melepas kerinduan, Jiyeon tersadar. Dia memperhatikan sekitarnya yang tidak lagi berada di tempat terbuka.

Sopir itu mengangguk,

”Maaf Tuan!”  ujarnya

 Joong Ki hanya menggeleng geli sambil keluar dari mobilnya, dia menarik tangan Jiyeon untuk meninggalkan mobil dan melangkah bersama. Ketika mereka berada di dalam lift, suasana panas itu melanda kembali. Joong Ki melonggarkan dasinya dan memenjarakan tubuh Jiyeon diantara dinding lift dan abdomentnya. Mereka saling menatap dan tersenyum.

Jiyeon menyukai aksi ini. Dia sering menerimanya dari pria bermata sendu ini, dan karena hal inilah, dia terkadang mencari kesempatan untuk mendapatkan sentuhan Joong Ki kembali pada tubuhnya.

”Aku harus terbiasa dengan dinding mulai saat ini, mengingat kau sudah meneken kontrak untuk membenci ranjang dalam permainan kita.”

”Hm.” JIyeon hanya menahan senyumnya.

”Kau semakin cantik, Sayang. Aku suka gadis cantik, terlebih yang patuh padaku.”

”Aku tidak selalu patuh, Tuan.”

”Apa malam ini kau ingin mematuhiku?”

Senyuman Joong Ki mencandai kegugupannya.

Dia sedikit mendorong tubuh Tuannya agar menjauh tapi pria itu justru tertawa.

”I miss you, want to touch you…so much!”   dia mulai bergerak erotis atas tubuhnya.

Tring

Pintu lift terbuka

Joong Ki menyeret JIyeon dan menghempaskannya ke sofa. Seperti hari pertama ketika Jiyeon datang ke tempat ini, pria tampan ini mamangku dan memaksanya melayani bibir hangatnya, hanya saja kali ini dia terlihat lebih santai, tersenyum dan mengusap wajah JIyeon dengan segenap hatinya.

Gadis itu tampak ragu untuk menyentuhkan tangannya pada Pria yang sedang memangkunya

”Sentuhlah! Aku senang kau mau menyentuhku.”

Perlahan, dia meletakkan tangannya di dada bidang itu. Merasakan detak jantungnya, dan meresapinya dengan menatap ketajaman tatapan seorang Joong Ki.

”Apa yang kau lakukan di sini selama tidak ada aku di sini?”

”Tidak ada, hanya tidur.”

”Tidur dan membayangkan aku.”

”Tidak.”  sahut Jiyeon malu

”Hm, kenapa kau masih belum mengakui kalau kau sebenarnya menyukaiku. Kau  mulai tidak bisa melepaskan aku.”

Tatapan mereka bertemu dalam sebuah senyum. Ya, mungkin pria ini benar. JIyeon memang tidak bisa berhenti memikirkannya belakangan ini. Ada saja hal yang selalu membuatnya berpikir tentang dirinya. Seberapa besar dia berjuang untuk melawannya, semua itu tidak bisa dia lenyapkan.

”Aku menyukaimu sejak malam itu.”  gumam Joong Ki.

JIyeon mengusap wajah Tuannya.

Meski Joong Ki menunggu sebuah jawaban, namun dia tidak terlalu memusingkan apakah Jiyeon akan mengatakan hal yang sama atau tidak.

Gadis itu menunduk, dan tak pernah menyangka bahwa tingkat kematangan seorang Joong Ki membuatnya semakin mengagumi sosok ini. Perlahan dia menarik tubuh pria itu merapat dan meminta sebuah ciuman darinya.

Ya, ini aneh. Dia merasa nyaman dalam pelukan Joong Ki, terlebih dengan sentuhan dan ciuman itu. Tubuhnya menggeliat ketika pria ini mulai berkelana pada tubuhnya, menyentuhi payudaranya dan meremasnya dengan ekspresi yang begitu ingin.

Serasa gairahnya di dongkrak kian tinggi, dan cumbuan bibirnya semakin menggila tak terkendali. Semua yang dilakukannya tidak bisa di kontrolnya. Saling mengusap, menyentuh, dan mengerang.

Joong Ki membopongnya.

Oh permainan apalagi yang akan dimainkannya—

Pria ini mengajaknya ke kamar mandi.

Sambil mengedipkan mata, dia mendorong Jiyeon untuk berdiri di bawah guyuran air hangat. Sekujur tubuhnya basah. Guyuran air menelusuri kulit  bersihnya, dan  membuat aliran sungai di sepanjang tubuhnya yang—indah. Joong Ki tahu, bahwa dia memiliki pesona seorang wanita yang luar biasa

”Apa kau merasa dingin?”  sindir Tuannya sedikit menjauh dari posisi berdirinya,

”Kenapa kau melakukan ini, Tuan.”

”Apa kau bisa merasakannya?”   Pria itu melepaskan diri dari atribut terakhir di tubuhnya, dan Jiyeon tak bisa mengeluarkan sepatah kata.  ”Aku tahu kau memang tidak mudah, Sayang.”

”Aku ingin memberikan kesempatan padamu.”

”Apa kita akan melakukan taruhan lagi?”

Pria itu tertawa. ”Ya.”

dan Jiyeon mengangguk cemas ”What is that?”

“Kau bilang kalau kau tidak suka aku menindihmu, jadi kali ini kita akan berkompetisi.”

”Aku ingin melihatmu menyentuh dirimu sendiri…ehm, aku pun akan melakukan hal yang sama. Kita akan menyentuh diri kita masing-masing’”

Jiyeon tersentak hebat mendengarnya, tapi pria di depannya ini sudah melakukan sesuatu pada miliknya. Eoh, apa yang harus dia lalukan! Jiyeon berpaling.

”Kau bisa membayangkan kekasihmu ketika dia telanjang di depanmu, sedangkan aku…nggh…ssshh…aku cukup bahagia karena aku melihat hal nyata di depan mataku. Aku tidak perlu membayangkannya. NAKED FOR ME!”  titahnya.

”Ini tidak terlalu adil buatku.”

Dengan gerakan lambat dia mulai membuka jeansnya yang telah basah. Berdiri dengan jarak satu meter, dengan guyuran air di tubuhnya, Jiyeon mulai melakukan masturbasinya. Mereka berdua melakukannya, saling menatap, tersenyum dan mendesah. Jiyeon merasa dirinya gila karena melihat  Joong Ki begitu bernafsu dengan erangannya. Laki-laki tampan itu sungguh terlihat berbeda. Dia sangat… fuckin’ so hot! Sesekali tangan pria itu merabanya, menjulurkan lidahnya, kemudian menjilati bibirnya sendiri dengan cengiran sexynya.

Miliknya membesar  di dalam genggamannya sendiri.

”Sayangkuu~” desahnya.

SHIT! Jiyeon merinding mendengar pria itu mendesahkan namanya, karena dia sendiri tak bisa menemukan bayangan Heechul di dalam benaknya, pria ini terlalu menggodanya. Bagaimana mungkin dia begitu mematuhi apa yang dia katakan, juga perintahkan. Ini pasti sebuah kesalahan.

Jiyeon berusaha untuk membuat dirinya merasa bergairah, tapi dia malu. Dia terus memunggunginya, dan menyembunyikan diri dari tatapan Joong Ki.  Saat ini yang dia rasakan adalah gairahnya untuknya. Dia justru merasa apa yang dilihatnya ini membuatnya runtuh dalam kepingan gairah.

Ketika tangan pria itu menarik dan memaksanya untuk berhadapan, dan menatap dari jarak yang dekat, dia mendesah, dan memaki. Menumpahkan semua perasaan nikmat yang dia ciptakan sendiri,

“Jiyeon …emmm!” Joong Ki tertunduk dan mengejang, menyemprotkan cairannya ke tubuh Jiyeon, kemudian tengadah menatap gadis polos di depannya dengan wajah puas.

”I’m done!”  cengirnya sexy

Jiyeon menggeleng, dia tidak bisa melakukannya, dia kalah dan harus menerima konsekuensinya— lagi. Joong Ki mendorongnya ke dinding. Dia berusaha membantu gadisnya untuk meraih klimaksnya dengan ciuman di sekitar lehernya, lalu menenggelamkan bibir itu pada mulut Jiyeon yang tengah terbuka melepas desahannya.

Beberapa detik kemudian, dia berhasil mencapai klimaksnya.

Pria itu membasuh tubuh itu dan menarikan senyumnya.

”See, aku tidak harus merusak keperawananmu untuk membuatku puas dengan tubuhmu.” bisiknya pada wajah yang tengah merona itu.

Jantungnya berdetak kencang, sementara dia mengusap puncak kepala Jiyeon dan menghadiahinya dengan kecupan.

.

.

.

tbc

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. May andriani says:

    Jiyeon udh mulai suka sma joongki tuh,, tpi apa hbungan mereka sperti itu terus?? Trus gmn klu heechul tau hbungan jiyeon sma joongki yg sbenernya.. Bisa gawat tuh..

  2. indaah says:

    waw jongki pinter bgt buat nyari alasan yg menguntungkan dia ,
    jongki klo mau jiyeon knapa gk batalin aja tunangannya itu terus fokus k jiyeon kan aman ..
    ciee jiyeon udah teperangkap dg tuannya .
    yuka ambil aja deh heechul nya , hehe

    butuh jongki jiyeon lg keke , tp lebih baik jongki ngambil kesucian jiyeon wktu mreka nikah aih..
    dtunggu lan fighting

  3. cia says:

    Jiyeon mulai suka joongki nihh
    Kasian sih sama heechul, tp emg krg dpt feel liat heechul sama jiyeonn
    Ditunggu next partnyaa

  4. diah.dimin says:

    wowowowoowwww yg ni blm di post di blog klo dsni part 8 di sna jadi part 14 … hmmm bang boss bkin mleleh org mlu… elah…. btw gmn nasib heechul sama clon istri joongki… ..
    hmmm btw maff y aq komennya di part yg blom di coment ni ajj susah minta ampun komen di satu part… mknya aq seneng di blog.. komen gmpang… aq kn buka blog lwt ucbrowser…klo buka wp lwt OM lwt UcB g bisa buka wp….

  5. anii says:

    Udh mulai keliatan yaa kalo jiyeon tertarik sama joongki,
    haaaa hot yaa, first.a joongki yaa mudahan yaa uhh
    next yaaw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s