[Chapter-16] Crazy Little Thing Called Crazy-ending


The Crazy

The Crazy Thing Called Crazy 16

16th

Maincast  Lee Donghae feat Park Jiyeon

Support Cast.

Kim  Mingyu [Seventeen]

Genre Romance

Length Chapter

Rated G

.

.

.

”Kemarilah!”  Donghae manarik tangan Jiyeon dan membawa gadis itu duduk di pangkuannya. Untuk sebentar, gadis itu sempat menolak, tapi dia tidak berdaya ketika Donghae mendekapnya. Dia memeluk dengan sangat erat, dan membuat Jiyeon mematung tanpa ekspresi yang jelas.

Wajah itu dia sandarkan di punggung Jiyeon.

”Aku sungguh minta maaf, Jiyeon.” bisiknya. ”aku tidak punya maksud untuk menghilang dan meninggalkanmu.”

Dengan perasaan sedih, Jiyeon berusaha untuk bertahan. Dia tidak harus mendengarkan Donghae lagi. Dia tidak sudi terperangkap di lubang yang sama.

”Aku ingin memperbaiki semuanya.”

”Aku tidak bisa.” gumam Jiyeon kemudian,

”Kenapa?”

”Aku takut kau akan meninggalkan aku.”

”Tidak akan.”

”Siapa yang akan menjamin itu?”

”Aku mempertaruhkan nyawaku untuk mempertahankanmu, Jiyeon.”

Gadis itu tergelak dingin. Hatinya menangis mendengarnya. Seandainya itu bisa membuat hatinya tenang.

Jiyeon melepaskan diri dari pelukan Donghae,

”Apakah kakimu bisa disembuhkan, Oppa?”

Donghae menatap nanar, ”Aku tidak tahu. Kenapa? Apa karena kaki ini, kau tidak lagi mau untuk menerimaku.”

Laki-laki itu sedikit sentimentil sekarang. Hatinya mudah terbawa perasaan. Apakah karena faktor usia, dia jadi lebih bijaksana. Jiyeon serba salah untuk menjawabnya.

”Kau tidak memerlukan aku. Bukankah kau sudah mempunyai Josephine dan Haneul. Untuk apa kau mengingkan aku.”

”Aku tidak tahu.” jawabnya ”Apakah aku cukup menyedihkan?”

Jiyeon mengangguk, ”Aku bahkan berpikir kau tidak bisa lagi—” Jiyeon membungkam  mulutnya.

”Apa maksudmu?”  belum-belum dia sudah tersinggung. Matanya memerah karena marah. Jiyeon ingat ketika tatapan itu seperti ingin melubangi wajahnya. Malam ketika Donghae menculiknya, dan kemarahannya menyeret Jiyeon hingga harus merelakan kesuciannya di makan oleh monster ini.

”Oppa, jangan terlalu emosi. ” lerai Jiyeon

”Kau pikir aku tidak sanggup untuk bercinta denganmu lagi?”

Jiyeon mematung bingung.  Ini salahnya, kenapa dia harus berpikir ke arah itu. Laki-laki mana yang tidak akan marah jika diragukan kejantanannya/

”Kemarilah!”  titah Donghae lirih, tapi Jiyeon tidak bergeming. ”KEMARILAH!”  bentaknya,

”Jangan membentakku Oppa!”

Donghae berusaha untuk berdiri, dia ingin menggapai tubuh Jiyeon, tapi begitu sulit. Kakinya harus melangkah pelan untuk menggapai tubuh itu. Jiyeon masih menunggunya, tapi mendadak kaki Donghae tersandung, kemudian tersungkur dengan setengah badan berada di sofa. Jiyeon memekik—

”DAMNT!” Donghae memaki kesal. Dia berusaha untuk membawa kakinya berdiri tegak, tapi tidak bisa dan akhirnya membuat Jiyeon harus mendekatinya. Dia memegang lengan itu dan mengajaknya untuk duduk.  Donghae tidak ingin melepaskan pegangan tangan itu, dan terus menatap wanita cantiknya yang masih memasang wajah tak bersahabat.

”Kalau kau tidak mencintaiku lagi, kenapa kau masih menggunakan tanggal lahirku sebagai kode sandi masuk apartemen ini?”

Mereka saling menatap,

Satu detik,

Dua detik berlalu,

”Kau tidak punya jawaban karena kau memang masih mengharapkanku.”

Laki-laki itu dengan tenang membawa wajah Jiyeon masuk dalam pelukannya, lalu perlahan menarik tubuhnya hingga semakin erat dalam dekapannya.

”Apartemen ini milik Yonghwa, dan kami tinggal bersama saat itu.”

Donghae mengangguk, berusaha untuk tidak cemburu. Saat itu dia sudah tahu kalau Jiyeon bersama dengan laki-laki itu. Dia bisa menerimanya saat ini, dan tidak terlalu memusingkannya karena dia sudah mati.

”Dia memberiku semua ini, lalu pergi untuk selama-lamanya.” terang Jiyeon

”Dia laki-laki yang bodoh.”  ujar Donghae menanggapi. Mau tidak mau Jiyeon sedikit kesal karena perkataan itu.

”Lalu kau sendiri apa? Kau tidak memberiku apa-apa, justru mengambil segala-galanya lalu pergi meninggalkanku. Apa kau tahu di mana letak perbedaanmu dengannya Oppa?”

”YA, aku tahu.” Donghae begitu yakin. ”Perbedaannya, terletak di dalam hatimu. Kau mencintaiku. Aku memiliki hatimu, dan dia tidak. Dia memang memeberimu segala-galanya, tapi kau tidak pernah memberikan hatimu padanya. Hatimu tetap menjadi milikku. Apa itu jelas.” jawab Donghae lugas.

Kedengarannya memang benar.  Jiyeon tidak menyangkal, itu sebabnya dia diam.

Secepat itu Donghae mencuri kecupan dari bibir Jiyeon yang tengah termangu tanpa gairah itu. Mereka saling menatap lagi dan terdiam. Tidak lama kemudian, Donghae mendekat lagi. Hanya saja kali ini Jiyeon bergerak mundur, dan meneteskan air mata.

”Ini hanya sebuah kecupan, kenapa kau menangis?” Donghae mengusap air mata itu.

”Ini mengingatkanku pada hari pertama kau menciumku dengan paksa.”

Donghae tersenyum,

”Ya, saat itu aku mengatakan kau jelek saat menangis. Dan sekarang juga, jadi berhentilah menangis! Kau bukan anak tujuh tahun yang menangis karena gurumu menciummu.”  Donghae mengacak rambut Jiyeon.

”Kenapa aku harus bertemu denganmu waktu itu?”  Jiyeon menarik napasnya dalam-dalam sedangkah Donghae malah tertawa,

”Salahkan saja Baekhyun yang mendorong guru matematika kalian hingga jatuh di tangga. Kalau tidak ada kejadian itu, aku tidak akan ada di sekolah itu.” jelas Donghae lucu, namun Jiyeon tidak tertawa, sehingga senyumnya sendiri harus menguap di telan hawa ruangan.

Apakah saat ini mereka sedang bernostalgia untuk kisah lama.

”Bagaimana  keadaan Haneul?”

”Dia…”  Donghae ragu untuk mengatakan. ”Baik-baik saja. Kau ingin bertemu dengannya?”  tatapan itu mencoba untuk mengambil hatinya, meski dengan keyakinan yang hanya sepersekian persen saja.

”Aku tidak akan memaksa.” sambung Donghae setelah sekian detik dia tidak mendapat tanggapan.

”Aku tidak punya alasan untuk bertemu dengannya.” sahut Jiyeon. Dia hanya ingin bersikap netral. Walau bagaimanapun Donghae tetap ayah dari anak itu,dan dia tidak akan memberikan komentar yang panjang lebar.

”Aku sudah berubah banyak.”

”Ya, kau semakin tua.”

”Lalu kau mengingingkan bocah itu. Dia jauh lebih muda darimu.”

”Hanya empat tahun.” Jiyeon tidak yakin dengan jawabannya.

”Jadi benar kau menyukainya.”

Jiyeon bungkam.

”Setiap kali kau diam, itu artinya kau tidak yakin dengan perasaanmu. Lagi pula untuk apa kau berharap padanya. Dia tidak memiliki apapun untuk membuatmu bahagia. Menikahlah denganku. ”

Jiyeon kembali melemparkan pandangannya ke arah lain. Untuk menjawab pertanyaan itu, dia harus berpikir dengan kepala yang jernih. Dia tidak akan gegabah.

”Sudah malam, aku ingin beristirahat.”

Laki-laki itu mengangguk.

”Aku menunggu jawabanmu.”

.

.

.

Beberapa hari ini Jiyeon sudah kembali aktive di kedainya, dan Mingyu selalu bersamanya. Bocah itu terlihat lebih tenang setelah Jungshin tidak ada lagi di sekitar mereka, dan Jiyeon memberikan kepercayaan padanya untuk mengurus beberapa hal yang semula ditangani Jungshin.

Sampai detik ini, polisi masih menyelidiki khasus ini. Ada banyak alibi yang mengarah pada Mingyu, tapi Jiyeon menolak untuk berpikir ke arah sana. Entahlah—

Jiyeon membuka pintu ruang kerjanya dan memperhatikan bocah yang sedang bersemangat mengurus kedainya. Berbagai macam pemikiran terbersit di dalam benaknya.

Apa mungkin?

Tapi?

Bagaimana mungkin,

Jiyeon menggeleng.

Mingyu menyembunyikan senyum ketika dia melangkah mendekat pada nunnanya yang pagi ini terlihat sedikit aware padanya. Kenapa? Apakah karena selentingan mengenai gossip itu   yang mengatakan bahwa Mingyu mempunyai andil juga dengan kejadian pagi itu.

Dia tidak ingin terlalu memikirkan, tapi ketika melihat Nunnanya menatap curiga pada dirinya, mau tidak mau dia merasa tidak nyaman. Langkahnya mendekat,

Nunna!” sebutnya dengan rapuh, dia tidak suka Nunnanya ini mencurigainya, menyalahkannya, terlebih dia begitu berharap perempuan cantik ini melihat kearahnya dengan rasa suka, karena Mingyu menyelamatkannya, membantunya, menemaninya ketika Jiyeon tidak bisa melakukan apa-apa.

”Mingyu, aku harus mengerjakan sesuatu.” Jiyeon berusaha untuk menolak bocah itu dengan sikap tenang. Jika memang Mingyu mempunyai kepribadian lain yang tidak diketahuinya, bukanlah lebih baik dia bersikap biasa saja, agar tidak membuat kepribadian yang lainnya itu mencelakai Jiyeon lagi.

”Apa Nunna sudah sarapan? Aku akan membuatkan sarapan terbaik yang kau sukai.”

Wajahnya sungguh menjanjikan, dia terlihat manis dan tampan. Hm, Jiyeon memperhatikan semua itu, berikut meneliti di mana letak kesalahan seorang Mingyu, kenapa namja setampan ini mempunyai hal yang begitu berbahaya.  Dia masih berpikir kalau Mingyu mungkin bisa mencelakainya

”Kau suka masakan Eropa, Nunna? Aku mempelajari masalan Italy belakangan ini.”

”Tidak Mingyu, tapi tolong buatkan aku salad buah saja. Aku harus diet.”

”Kau baik-baik saja dengan tubuhmu Nunna, kau cantik, kau ramping, kau sungguh mempesona.”

”Mingyu, aku berada di dalam jika kau membutuhkan aku, dan lagi…”  Jiyeon berhenti sebentar untuk memperhatikan ruangan mereka. ”Tolong perlakukan langganan kita dengan baik.” itu yang dikatakan Jiyeon, ketika ada seorang laki-laki memasuki kedai mereka.

Namja ini langsung berpaling, berjalan cepat pada orang itu, tapi Jiyeon memutuskan untuk masuk ke dalam ruangannya. Ini sedikit membuatnya bisa bernafas.

Setengah jam kemudian, pintunya diketuk, dan Mingyu masuk bersama satu buah nampan. Jiyeon bahkan lupa dia tadi memesan makanan pada bocah ini.

”Nunna, Salad buahmu!” ujarnya sambil meletakkan di meja. Satu piring salad buah yang cantik. Mau-tidak mau Jiyeon tersenyum puas. Warna-warna itu membangkitkan moodnya hari ini.

“Kau cerdas sekali, Mingyu.”

“Thank You, Nunna. Kau selalu bisa mengandalkanku!”  ujarnya.

Jiyeon mengambil satu buah potongan apel,kemudian mengunyahnya. Matanya berbinar ceria, menyaksikan namja di depannya ini begitu antusias menunggu respon darinya.

”Bagaimana rasanya?”

”Enak.” jawab Jiyeon.

”Benarkah?”  spontan Minyu mengambil satu buah irisan buah yang sama, dan mengunyahnya, dia pun tersenyum menemani keceriaan Jiyeon. Dia sudah mengira kalau Nunnanya ini pasti akan suka dengan salad buatannya.

”Jadi Nunna, apakah kau sekarang sudah memutuskannya—” Kalimatnya terhenti,

”Apa?”

”Tentang, Tuan Lee. Laki-laki itu terlalu tua untukmu.”

Jadi ini mengenai Donghae. Jiyeon heran, kenapa Mingyu bisa tahu masalah itu,bukankah saat itu, dia sudah di giring pergi oleh bodyguard Donghae meninggalkannya.

”Aku belum memikirkan apapun.” Jiyeon berhati-hati sekali dengan ucapannya.

”Hm, Nunna kita bisa memulai semua ini bersama. Aku akan selalu berada di sisimu, selamanya. Aku akan selalu membantumu, melayanimu dan setia untukmu.”

Jiyeon mengernyit, kedengarannya terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin seorang bocah sepertinya memiliki pemikiran seperti itu,

”Apa pekerjaanmu sudah selesai Mingyu?”

”Belum.”  namja itu memperbaiki posisi berdirinya, dan bersiap untuk keluar. Ginsulnya menyembul dari celah senyumnya. Dia terlalu manis. Batin Jiyeon, dan Mingyu menyadari bahwa Nunnanya ini terpesona pada ketampanannya. Dia semakin besar kepala.

”Nunna, bolehkah aku mengajakmu berkencan?”

DAMNT, Mingyu kenapa kau mengajakku berkencan? Jiyeon mematung pada wajah itu lagi, di mana semua yang dilihat di wajah itu tampak sedang menampilkan raut penuh harap.

”Kenapa harus aku? Kau tidak punya kekasih?”

”Tidak.” senyumnya hilang. ”Apa salahnya menjadikanmu kekasihku Nunna?”

”Aku hanya merasa tua untukmu.”

”Sudah kukatakan aku menyukai wanita yang dewasa.”

”Kenapa?”

Ditariknya nafas dalam-dalam. Ya kenapa?  Pertanyaan itu berulang-ulang menggema di kepalanya, tapi belum sempat dia menjawab, pintunya diketuk.

”Nona, di luar ada seorang pria ingin bertemu.”  seketika Mingyu berjalan keluar, dan Jiyeon mengikutinya dengan tergesa. Bisa jadi itu Donghae, karena pria itu sama nekadnya. Mereka hanya berbeda umur, tapi masalah prilaku tidak ada bedanya. Demi Tuhan, kenapa Jiyeon selalu dikeliingi oleh laki-laki yang nekad dan menindasnya.

”Hi Jiyeon!” sapa pria itu. Song Mino— thanks GOD!

”Siapa dia Nunna?”

”Kakak iparku.”  What? Jiyeon menutup mulutnya. Mana mungkin kakak ipar, jika Jiyeon sendiri tidak menikah dengan Donghae.

Mino tersenyum. ”Jadi benar kau dan Donghae bertemu, dan memutuskan untuk menyambung hubungan?”

”Please, Mino Oppa, jangan berlebihan!” Jiyeon mempersilahkan Mino duduk sedangkan Mingyu meninggalkan mereka dengan raut muram. Kenapa Jiyeon menyebut Mino sebagai kakak ipar…

”Kau terlihat lebih baik saat ini.”

”Kalian semua bullshit! Kenapa menutupi sesuatu dariku. Kenapa tidak mengatakan hal sebenarnya mengenai Donghae.”  Jiyeon menggigit bibirnya memikirkan kondisi kaki manusia keji itu. Hm, dia masih mencintai manusia keji itu. ”Kakinya—”

Laki-lai di depannya ini mengurai senyum, dan menerima cengiran protes Jiyeon dengan ikhlas. ”Maafkan aku, semua ini karena Haeri. Dia memintaku untuk merahasiakannya.”

”Siapa yang sudah melakukan itu padanya?”

”Itu juga rahasia.”

”KATAKAN!” gertak Jiyeon

”Sudahlah, semua sudah berlalu. Kau tidak seharusnya mengungkit itu.”

Sekali lagi Jiyeon diam, melirik aktifitas Mingyu yang sedang melihat ke arahnya dan juga Mino.

”Bagaimana keadaan Haeri Eonnie . Kalian terlihat baik-baik saja. Apa kau mencaintainya saat ini?”

”Eoh, Haeri itu masih sulit kukendalikan. Kami sering bertengkar, tapi kami baik-baik saja. Dia tidak bisa meninggalkanku, mungkin dia membutuhkanku. Meskipun sulit untuk diterima, dia menikmati juga hidup bersamaku.”

Ya, mengingat orientasi Haeri memang berbeda. Jiyeon tidak akan membahas masalah itu. ”Ada apa kau ke sini sepagi ini?”

”Hanya ingin mengundangmu ke pesta ulang tahun anakku.”

”Agh manisnya, kalian merayakan pesta ulang tahun untuk keponakanku. Siapa namanya, kenapa aku lupa?” Jiyeon tergugu malu,

”Ish Jinjja! Kenapa kau lupa pada keponakan sendiri. Song Yoon He.”

”Yoon He.”

“2 tahun.” Sambung Mino.

“Aku akan datang.”

“Baguslah! Kami akan menunggumu.” Mino berdiri, untuk berpamitan. ”Aku ada pekerjaan mendesak, tidak bisa lama-lama. Kau jangan terlalu sibuk dulu.”

”Nde!” Jiyeon membungkuk memberi salam, kemudian melambai. Mingyu terus memperhatikannya seakan-akan kedatangan Mino sebuah ancaman untuknya.

”Kau kenapa?” Jiyeon menghampiri

”Nunna, kau  menyebutnya sebagai kakak ipar.”

”Maaf, aku salah bicara.”

”Sebenarnya siapa dia?”

”Sudahlah Mingyu, kau tidak harus selalu tahu mengenai semua orang yang dekat denganku.”  Jiyeon meninggalkannya tanpa permisi, sedikit membuat sesuatu di dalam jiwa bocah ini bergejolak.

”Nunna, apa kau sudah menghabiskan sarapanmu?”

”Belum.”  Lalu Jiyeon menutup pintunya.

Di mejanya masih tergeletak nampan dengan salad buah juga segelas air yang disediakan Mingyu, tapi sepertinya nafsu makannya hilang begitu saja. Jiyeon melirik ponselnya di atas meja yang menyala. Bur-buru dia mengangkatnya.

Lee Donghae

”Ada apa, Tn. Lee?”

”Ugh, not again! Kenapa kau memanggilku Tn. Lee, apa kau sedang marah padaku?” suaranya begitu dalam dan berat, sexy menurut Jiyeon.

”Aku baik-baik saja!”

”Aku pun baik-baik saja!” balas Donghae dengan candanya yang tidak lucu.

”Ada apa?” tanya Jiyeon

”Nanti aku akan menjemputmu.”

”Kenapa?”

”Ayolah Jiyeon, aku ingin menikmati makan malam denganmu.”

”Tapi aku—”

Alasan…alasan…munculah.  Jiyeon menarikan jemari di depan mukanya.

”Jam lima sore.”  ’TUT’

DAMNT! Dia memaksa.

Dengan rasa kesal, Jiyeon meminum semua air dalam gelas itu sampai tak bersisa. Sialan! Lee Donghae selalu begitu.

.

.

.

Mingyu masuk ke dalam ruangan Nunnanya karena dia merasa wanita itu tidak kunjung keluar, meski jam istirahat sudah lewat. Di liriknya beberapa karyawan lain yang sedang sibuk dengan beberapa pelanggan.

Jiyeon sedang tertidur di sofanya dengan begitu nyamannya. Dalam hati., Mingyu merasa tenang. Nunnanya mungkin tidak akan bangun hingga sepuluh jam ke depan. Diliriknya gelas air yang telah kosong itu. Astaga! Apa yang sudah dia lakukan pada Nunnanya ini?

Matanya jeli  memperhatikan setiap lekuk wajah Jiyeon yang begitu cantik. Wanita seperti Jiyeon tidak pantas mendapatkan laki-laki tua seperti seorang Lee Donghae. Si brengsek itu tidak akan mendapatkan apa-apa dari Nunnanya.

Entah apa yang merasukinya, sampai dia harus nekad melakukan ini. Jiyeon mungkin sudah mencurigainya mengenai peristiwa waktu itu.  Dia sendiri yang memasang perangkap itu, sebenarnya dia tidak sengaja meracuni Jiyeon. Dia ingin melakukan itu untuk Jungshin yang selalu usil memasuki ruangan Jiyeon dan mencuri berkas-berkas penting mengenai restoran yang dikelola Jiyeon. Tapi dia lupa mengenai pagi itu, dan ketika dia berusaha untuk menolong, Jiyeon sudah dalam keadaan pingsan.

Nunna!”  Mingyu mengguncang tubuh itu, tapi tentu saja Jiyeon tidak bangun. Dia sudah diberi obat tidur.

Nunna, kau cantik sekali. Seharusnya kau menyukaiku. Bukankah aku tampan.”  Mingyu meletakkan kepala Jiyeon dipangkuannya, mengusap wajahnya, rambutnya dan—

Gosh, kenapa dia menjadi seperti ini. Mingyu terdiam, mencoba untuk menguasai dirinya. Ini masih terlalu ramai,pikirnya. Sudut matanya yang runcing meneliti pintu yang dikuncinya. Tidak akan mungkin orang-orang itu mengintip, mereka tahu antara Jiyeon dan dirinya menjalin sebuah hubungan, dan semua itu sudah Mingyu doktrinkan sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di tempat ini.

Dia ingin memiliki wanita ini, baik sadar atau pun tidak.

Mingyu melirik ponsel Jiyeon yang menyala, ada sebuah panggilan masuk dari Lee Donghae. SIAL! Kenapa laki-laki tua itu mengganggu Nunnanya lagi. Tak ada yang dilakukannya selain mendiamkannya hingga berhenti berbunyi.

Nunna, kau sungguh tidak bisa dipercaya. Kenapa kau masih memberi harapan pada laki-laki itu.” gumamnya dengan menggeleng.

Diletakkan kembali tubuh Nunnanya yang masih dalam kondisi tidur. Dia bersimpuh di lantai, kemudian mendekat dengan pasti. Bibir Jiyeon sungguh indah, dan segar.

Nunna, maafkan aku!”  bisiknya.

Dia harus melakukan ini dan entah kenapa dia harus melakukan ini. Pertama dia hanya mengecupnya, namun sesuatu di dalam tubuhnya seperti bergelombang dengan hebat. Ada semacam desakan untuk melakukan lebih, dia menekan bibir itu lebih dalam, memagutnya, menarik dengan hisapannya. Sangat nikmat. Tubuhnya tidak bisa dibohongi, ada semacam hasrat liar yang menyeruak masuk dan kemudian dengan seluruh kegilaannya Mingyu mulai memposisikan dirinya di atas tubuh Jiyeon, menindihnya dan mengecupi seluruhnya.

Beberapa menit kemudian,

FUCK! Apa yang sudah dilakukannya. Mingyu berakhir dengan rasa gugupnya, ketika menyadari bahwa dia sudah bercinta dengan Jiyeon.  Kenapa Mingyu harus sepengecut ini menghadapi Nunnanya.

Jemarinya gemetar, ketika harus merapikan kembali pakaian Nunnanya. Eoh, apa yang akan terjadi nanti. Tubuh ini terlalu menggiurkan. Bagaimana jika Nunnanya ini hamil. Shit, dia bahkan kelak tidak akan tahu siapa yang menghamilinya. Kenapa tidak tahu?

Mingyu terus bicara dengan dirinya sendiri. Terkadang dia menggerutu, kemudian menyalahkan dirinya sendiri. Nunnanya—

Dia sudah tidak perawan lagi. Pasti laki-laki tua itu yang sudah mengambilnya. Mereka—

Sial! Hubungan guru dan murid macam apa yang mereka lalui.

Namja itu sudah membuat Jiyeon dalam posisi rapi, seperti tak meninggalkan jejak, bahkan Mingyu membersihkan semua ceceran spermanya yang sempat mengotori sofa dan paha Jiyeon. Sekali lagi dia menepuk jidatnya.

.

.

.

Donghae datang, namun para pelayan mengatakan Jiyeon tidak terlihat sejak jam istirahat. Beberapa pelayan lain berasumsi Jiyeon sudah pergi karena sebuah urusan. Sedangkan Mingyu sendiri masih berada di pantry tidak memperdulikan kedatangan Donghae yang semakin membuatnya emosi.  Jiyeon tidak akan bangun hingga nanti jam sepuluh malam. Cengiran iblisnya sedikit membuat Donghae curiga, tapi dia tidak akan memaksa. Dia pergi bersama sopir yang memapah langkahnya.

”Awasi bocah itu!” suruhnya pada sopir setianya.

”Maksud Anda—”

”Dia yang selalu bersama Jiyeon. Aku rasa dia mencurigakan,”

”Baik, Tuan Lee.”

Mereka menyingkir sebentar untuk mencari tempat sembunyi agar bisa mengintai situasi. Donghae sejak awal tidak pernah menyukai bocah ingusan itu, ehm katakan saja, dia memang tidaka pernah menyukai ada laki-laki lain yang mendekati Jiyeon. Kalau saja kondisi kakinya baik-baik saja, dia tidak akan membiarkan bocah itu mempunyai gingsul lagi di deretan gusinya.

Beberapa jam kemudian, para pelayan itu keluar dan rastoran akan tutup.

”Tuan, restorannya akan tutup.” ujar sopirnya

”Kita lihat saja dulu.”

”Baik Tuan.”

Tidak berapa lama Mingyu keluar, dan mengunci pintu restoran itu. Jadi benar, Jiyeon tidak ada di dalam sana, dia sudah pergi.

”Sepertinya Nona Park sudah pergi seperti yang mereka katakan Tuan.”

”Baiklah kita mencari ke apartemennya.” Donghae menyuruh sopirnya untuk meninggalkan tempat pengintaian mereka, tapi entah kenapa Donghae mengatakan kalau Jiyeon masih ada di dalam sana. Hanya sepersekian persen saja, tapi dia tetap curiga—

Setiba mereka di apartemen Jiyeon, Donghae tidak menemukan gadis cantiknya itu di sana, dan perasaannya mulai cemas. Jiyeon tidak pernah bersikap seperti ini.

”Mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya, Tuan.”  tebak sang sopir, tapi Donghae mempertimbangkannya.

”Mungkin, aku akan menghubungi ibunya.”

Lima detik kemudian, dia sudah tersambung pada ponsel Ny. Park.

”Nyonya, selamat malam!”  sapa Donghae berusaha untuk tenang.

”Mr. Lee—”

”Bagaimana kabar Anda?”

”Baik. Kenapa kau menghubungiku, tumben sekali.” wanita itu sudah terrdengar bersahabat lagi seperti pertama mereka berkenalan. Donghae merasa lega, itu artinya tidak ada halangan lagi untuk menikahi Jiyeon.

”Apakah Jiyeon ada bersama Anda?”

”Tidak, apakah dia berniat datang. Apakah kalian akan datang?”

”Sebenarnya begitu, saya pikir dia sudah bersama Anda.”  Donghae berbohong, dia hanya mencari sebuah alasan agar wanita itu tidak cemas.

”Tidak. Mungkin dia mampir dulu ke tempat Baekhyun.”

”Baiklah, saya akan menghubunginya langsung.”

Donghae menoleh pada sopirnya, mereka sudah masuk ke apartemen Jiyeon tanpa permisi, terlebih penghuninya tidak ada. Ini cukup membuat mereka merasa seperti maling.

”Kita kembali ke restoran itu!” sambil melangkah pergi.

Dalam perjalanan, Donghae mendapatkan pemberitahuan dari Haeri kalau Jungshin dibebaskan karena kurangnya bukti. Penacaranya membayar sejumlah uang pada pria jangkung itu. Terus terang Donghae semakin tidak tenang. Ada dua manusia berbahaya yang berada di sekitar Jiyeon.

Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di depan restoran yang terlihat pintunya sedang terbuka. Pria itu segera masuk ke dalam dengan kecemasan yang dia tujukan untuk Jiyeon.

”Jiyeon!” sebutnya saat dia melihat sesuatu tengah terjadi di dalam ruangan kerjanya. Mingyu tengah berusaha melindungi Jiyeon dari Jungshin. Pria tinggi itu sedang memegang senjata, meski tidak ditodongkan, tapi untuk orang awam seperti  Jiyeon, benar-benar menjadi ketakutan.

”Panggil Polisi!”  suruh Donghae pada sopirnya.

”Kenapa memanggil polisi, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya ingin sedikit membuat perhitungan untuk dua orang ini yang dengan sengaja memasukkan aku dalam penjara. Kalian bersekongkol, kan?”

”Jungsin, kau salah paham!”

Cukup membuat Donghae sport jantung, melihat Jiyeon terdesak, terlebih dia tidak bisa keluar dari dalam ruangan kerjanya. Posisi duduknya itu terlalu rapat dengan Mingyu. Bocah itu—

]

Donghae masih berpikir keras, kenapa dia selalu berada di dekat Jiyeon, dan kenapa selalu melibatkannya.

”Mingyu, kenapa kau tidak mengakui saja, kalau semua itu perbuatanmu. Kau yang telah membuat Jiyeon buta.”  tuduh Jungshin

Antara Jiyeon dan Mingyu saling menatap,  ”Aku hanya melindungi Nunnaku! Kau selalu berusaha mencelakainya Jungshin!”

Bullshit, kau yang meletakkan semua itu di atas meja Jiyeon.”

”Aku meletakkan apa?”  Mingyu  menyeringai,

Jungshin menggeleng tak tahu, dia tidak paham dengan masalah semacam itu, hanya Mingyu lah yang tahum zat apa yang dia gunakan untuk membuat tubuh Jiyeon ambruk tak sadarkan diri.

Mungkin jika hanya semacam etanol, semua itu tidak terlalu berbahaya, tapi karena reaksinya bercampur dengan beberapa zat  lain yang Mingyu pakai untuk membuat bahan bakar kompor penghangat pada hidangan di atas meja, hal itu membuat kandungan etanol murni dalam alkohol kadar tinggi bereaksi dan efeknya menjadi significant. Mingyu pun tidak berniat untuk membuat Jiyeon harus buta karena metanol. Itu tidak seharusnya, karena tujuannya hanya ingin membuat Jungshin terjebak.

”Aku tidak melakukan apapun padamu Nunna, aku mungkin berniat untuk menjebak Jungshin, tapi ternyata kau yang kena.” ungkapnya jujur, dan hal itu membuat Jiyeon lega, karena Mingyu tidak pernah berniat buruk padanya.

”Jadi kau mengakuinya, Kim Mingyu!”  hardik Jungshin.

”Aku tidak sengaja.”

”Tapi kau menuduhku!”  todongnya dengan senjata, seketika itu Donghae menyerbu masuk, karena begitu khawatirnya dengan Jiyeon. Pria itu tidak memperhitungkan dirinya sehingga beberapa detik kemudian, kepanikan Jungshin membawa gerak reflek tangannya menarik pelatuknya, dan suara mengerikan itu terdengar memecahkan kehampaan, satu timah panas menerjang tepat di lengah kiri Donghae.

Jiyeon dan Mingyu tersentak kaget melihatnya, terlebih Jiyeon yang kemudian segera menyerbu pada tubuh pria tercintanya, dan Mingyu segera berlari pada Jungshin yang sedang lengah, dia memukul wajah itu hingga terhempas ke dinding di belakangnya. Senjata itu jatuh ke lantai, tapi Mingyu keburu menduduki tubuh Jungshin dan memberinya tinju bertubi-tubi hingga laki-laki itu tak sadarkan diri dengan luka berdarah di sekujur wajahnya.

Jiyeon menangis di hadapan Donghae, sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka bahwa pria ini akan nekad masuk.

”Aish, sudahlah tidak usah ditangisi, ini hanya tangan.”  dia mengusap kepala Jiyeon dengan tangannya yang lain.

”Tapi kakimu sudah luka, sekarang tanganmu, dan semua ini karena aku.”  isak Jiyeon

Donghae menghela nafasnya, seiring kedatangan sopirnya.

”Ya, selayaknya kau harus mempertimbangkan lamaranku, Park Jieyon. Mau tidak mau kau memang harus menikah denganku dan mengurusi hidupku. Apa kau tega laki-laki tua sepertiku ini  tak berdaya.”

Jiyeon mengerucutkan bibirnya, mendadak dia menjadi manja di hadapan laki-laki ini, berbeda ketika dia harus berhadapan dengan Mingyu, menjadi sok dewasa dan berlebihan.

Sementara itu, Mingyu sendiri hanya bisa menatap Nunnanya sibuk dengan Donghae, dia tidak tahu harus melakukan apa, hatinya hancur berkeping-keping. Mungkin setelah pengakuannya tadi, Jiyeon tidak lagi akan mau dekat dengannya lagi.

Dia perlahan menjauh dari ruangan itu, pergi diam-diam. Dia takut, jika berada terlalu dekat dengan Jiyeon lagi, dia justru akan menyakitinya.  Namun apa yang sudah dilakukannya tadi siang di sofa itu bersama Nunnanya, adalah hal yang sangat menyenangkan. Katakan saja dia memang brengsek, lebih brengsek dari seorang Donghae.

.

.

.

Dua  minggu kemudian, Jiyeon sudah muncul di pesta ulang tahun Yoon Hee, keponakan lucunya itu mengenakan pakaian rancangan ibunya sendiri yang terkesan norak. Yeah, Jiyeon tidak bisa mengatakan bagus, tapi itu sangat berarti untuk putrinya, jadi sebisa mungkin Jiyeon tidak banyak suara.

”Kau datang juga.”  Mino menyambutnya, sambil menggendong Yoon Hee, Agh, mereka mirip sekali!  Jiyeon gemas dengan wajah itu, dan menciuminya tak henti-henti.

”Kau buatlah sendiri!”  menyindir sambil menjauhkan Yoon Hee dari pedoAunti Jiyeon.

”Jangan pelit!”  gerutu Jiyeon

”Kau bisa memberikan perhatianmu padanya.” tunjuk Mino pada seorang gadis kecil berumur enam tahun yang tengah duduk menyendiri di dekat kue ulang tahun Yoon Hee. Jiyeon mematung sebentar. Bukankah itu Haneul, anak perempuan Donghae. Di mana ayahnya.

”Jangan mencari ayahnya dulu, kau harus bisa menyenangkan Donghae, dengan memberi perhatian pada Haneul. Percayalah dia anak yang baik dan manis. Kau akan suka.”

Jiyeon merona, ugh bagaimana caranya menjadi seorang ibu tiri. Pikirnya bingung, tapi kakinya melangkah ke sana, duduk di sebelah Haneul.

Gadis itu menoleh pada Jiyeon dan tersenyum,

”Annyeong!” sapanya manis.

”Annyeong!” sapa balik Jiyeon

”Eonnie, kau pernah datang ke rumah Appaku.”  tanyanya.

”Kau ingat?”

”Nde!” jawabnya, ”Kau cantik sekali, Appa punya fotomu dan disimpan di dalam kamarnya.”

”Benarkah?” Jiyeon membelalak. Gadis itu mengangguk pasti

”Tunjukkan padaku kapan-kapan.”  ajak Jiyeon,

”Nde!” jawabnya.

”Namamu Haneul, kan.”

”Lee Haneul.” tegasnya.

”Aku tahu, kau sangat cantik. Rambutmu indah, Haneul.” Jiyeon mengusap rambut Haneul. Kemudian, musik mengalun dan semua orang di dalam ruangan berdansa. Jiyeon dan Haneul saling menatap.

”Kau mau dansa dengan Eonnie?”

”Mau.” jawabnya.

Beberapa saat kemudian, Jiyeon dan Haneul bergandengan tangan. Gaun Haneul berwarna kuning, dan gaun itu jauh lebih indah di banding gaun yang dipakai Yoon Hee. Jiyeon tergelak dalam hati, karena masih memikirkan gaun norak Yoon Hee.

”Haneul, kau lincah sekali!”  Jiyeon mengingat kalau Haneul sering demam beberapa waktu belakangan itu. Dia beberapa kali juga masuk rumah sakit dan membuat ayahnya cemas.

Haneul tergelak bahagia dan saling berpengangan sampai musik berhenti, sementara itu di tempat yang tidak terlalu jauh, Donghae memperhatikan dengan senyum bahagia melihat dua gadis tercintanya berdansa dan tertawa bersama. Mereka terlihat sangat serasi.  Dia mendekat dengan tongkatnya. Kondisi tangannya sudah membaik, dan mungkin dia sudah bisa mengajak Jiyeon berdansa.

”Permisi!” tepuknya di bahu Jiyeon,

Jiyeon menoleh, begitupun juga Haneul yang langsung memeluk kaki ayahnya.

”Boleh aku bergabung?”  ujarnya.

”Boleh Appa!”  teriak Haneul ceria. Meeka berpegang tangan bertiga ketika musik mengalun kembali. Jiyeon tak bisa menahan senyumnya lagi, karena melihat Donghae begitu kesulitan bergerak.

”Sudahlah Oppa, kau tidak harus berdansa seperti ini. Duduklah!”  ajak Jiyeon sambil menarik tangan pria itu ke pinggir, tapi Donghae menolaknya.

”Kenapa?”  jawabnya gusar.

”Sudahlah Oppa, aku takut kau jatuh.”

”He-eh!” sambung Haneul.

Kemudian terdengar Mino berteriak di tengah ruangan, untuk melanjutkan acara memotong kue. Beberapa anak-anak maju dengan serunya, termasuk Haneul yang langsung berdiri di samping Yoon Hee. Dia tampak senang dilibatkan dalam acara ulang tahun sepupunya itu. Sedangkan Donghae sendiri sudah menarik ganti tangan Jiyeon masuk ke dalam sebuah ruangan dan mengunci pintunya.

Oppa, apa-apaan ini? Keponakanmu akan memotong kue, kau malah bersikap seperti ini. Sangat tidak dewasa sekali.”

”Aku ingin berdansa denganmu di sini!”  tapi yang dilakukannya justru memangku Jiyeon di sofa, dan menghujaninya dengan ciuman. Bibir dan tangannya berkelana bebas di tubuh Jiyeon.

Oppa, katanya kita akan berdansa..”

Hmm… yah, kita berdansa sambil duduk.”

SRET—

Jiyeon merasakan zipper gaun di punggungnya di tarik turun, sementara gaunnya sejak tadi sudah terangkat hingga ke pinggul, dan tatapan  seorang Lee Donghae sudah tidak bisa lagi dibayangkan bagaimana nakal dan nafsunya.

Tidak berapa lama kemudian, Jiyeon sudah dibuat terengah-engah dalam posisi duduknya. Wajahnya memerah dan berkeringat, melayani hasrat Lee Donghae yang begitu menggairahkannya. Melepaskan seluruh perasaan rindunya yang sekian lama terkungkung.

”Menikahlah denganku..!”  ucapnya menahan tubuh Jiyeon agar tidak bergerak, dan membuatnya harus mendengus kecewa, hasratnya ditanggungkan pria di bawahnya.

Oppa, apa yang kau lakukan?”

Donghae tersenyum,

”Menikahlah denganku!”

”Please Oppa~”  wajah Jiyeon memerah, dia hampir mencapai klimaksnya, tapi Donghae masih mencandainya.

”Katakan dulu!”

Oppa, kau tahu apa jawabanku.”

”Tidak. Katakan dulu supaya aku yakin.”

Fuck, Oppa! Aku mau menikah denganmu!”

Pria itu segera memberikan ciuman yang begitu dalam, bersama tangannya yang membantu Jiyeon bergerak dan memacunya. Sesaat kemudian, Jiyeon mengerang panjang dalam ciuman prianya.

.

.

.

Donghae dan Jiyeon menikah juga pada akhirnya, setelah beberapa waktu berlarut-larut kebersamaan mereka diragukan oleh semua pihak. Jiyeon pasrah dengan apa yang dirasakannya, dia memang tidak bisa berhenti mencintai Lee Donghae, guru mesumnya yang begitu membuat hidupnya penuh liku dan warna. Begitu juga dengan Lee Donghae, yang bermetamorfosa drastis setelah bertemu dan jatuh cinta pada Jiyeon. Banyak hal yang tak terduga dalam hidupnya dan Jiyeon yang membuat mereka nyaris tidak bisa bersama.

Sekarang, mereka bisa bersama, dan sepertinya Jiyeon pun bisa menerima Haneul, begitupun sebaliknya. Josephine kembali ke Paris, dan sekarang mereka benar-benar bertiga, atau berempat— ?

”Aku sepertinya hamil, Oppa.”

Donghae mengernyit.  Ini baru dua minggu dan Jiyeon sudah hamil, apakah spermanya begitu super hingga bisa membuat Jiyeon hamil dalam waktu singkat. Tapi dia tidak mempermasalahkannya, dia bahagia pada akhirnya.

Meski di dalam benak Jiyeon, dia pun merasa heran kenapa dia hamil secepat ini.

.

.

.

Di tempat lain, Mingyu sedang menghitung waktu setelah kepergiannya dari sisi Nunnanya. Mungkin saat ini Jiyeon sudah menikah dengan Lee Donghae, dan mungkin juga Jiyeon sudah mengandung. Ya, mengandung… dan itu pasti anaknya. Pria ini tersenyum. Jiyeon mengandung janin dari Kim Mingyu, tapi Nunnanya itu tidak akan pernah tahu.

.

.

.

FIN.END-TAMAT

Note.

Akhirnya FF ini selesai juga, tdinya ga yakin bisa nyelesaiin. Yang udah lama nunggu muupkeun, karena hanya seperti inilah endingnya, and Mingyu…bad Mingyu…. ! Minta di jewer Nunna ya…!

Oke, makasih untuk semua yang udah nungguin FF ini, ehm setahun ya… apa lebih lupa aku. Ga ada sequel ya… aku mo lanjutin yang lain dulu.

 

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. sookyung says:

    yaaa smga Jiyeon&donghae tdk perna tau apa yg sudah mingyu lakukan pd Jiyeon saat dikantor Jiyeon

  2. nissa says:

    kenapa jadi kayak gini.mingyu ngk gentle bgt.akhirnya dong hae ma jiyeon nikah.ngk sabar bgt mereka.sampe ngelakuin itu ditempat sembarangan

    1. mochaccino says:

      itu mah ff Lover, mereka ngelakuin di sembarang tempat. wkwkw, bedeweh makasih udah mampir

  3. kwonjiyeon says:

    bner3 bad7 mingyu
    g apa3 deh g bs memiliki yg penting punya kenangn manis yg bs d kenang

    1. mochaccino says:

      nanam saham..

  4. May andriani says:

    Aa knp endingnya jiyeon hamil anak mingyu sih.. Kurang sreg sma endingnya…

    1. mochaccino says:

      Gpp aq jg udah ilang feel di sini agak susah untuk menemukan cemistrinya jd sekalian aq bikin begini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s