Once Upon A Time 12th-End


once upon a time

Once Upon A Time 12

Kim Mingyu feat Park Jiyeon

.

.

Sudah dua malam Mingyu tidak datang, dan Jiyeon mengerti betul dengan kondisi ini. Mingyu sedang mengerjakan hal yang penting. Sungguh tidak menyangka bocah yang belum lulus SMA itu kini sudah mempunyai sebuah tanggung jawab mengenai perusahaan. Memang betul perusahaan itu bukan sepenuhnya milik Ayahnya, hanya saja Mingyu memnpunyai saham tertinggi di dalam perusahaan milik keluarga tersebut.

Menjelang Natal semua toko di padati pengunjung. Suasana ramai dan penuh nuansa bahagia. Udara semakin dingin, dan salju lebih sering turun. Beberapa orang lebih senang berada di ruangan hangat dan menikmati suasana menjelang Natal dengan berbelanja. Jiyen tidak punya rencana untuk memberikan kado Natal apa untuk Mingyu, dia merasa ini adalah Natal yang kesekian kalinya yang dia lewati tanpa rencana.

Sepulang bekerja, dia sengaja mampir ke sebuah Mall di dekat kantornya. Seperti biasa dia senang berjalan kaki, berada diantara lalu lalang orang dengan berbagai karakter bahagia masing-masing. Bergandengan tangan, menebar senyum, namun tak jarang juga dia melihat kesedihan. Sekelumit kesan sedih yang sering juga terjadi ketika menjelang hari Raya, mereka tidak bisa bersama dengan orang-orang yang mereka sayangi, cintai, rindukan. Jieyon merasakan hal yang sama, ketika dia merindukan bisa merasakan hari raya Natal bersama kedua orang tuanya. Saat ini dia hanya sendiri, mungkin berdua dengan kakaknya, karena kedua orang tua mereka sudah lama tiada.

Ini yang disukai seorang Jiyeon ketika dia berada di pusat keramaian menjelang hari Raya, suasana heterogen itu sedikit banyak menghiburnya. Melihat banyak lampu berkelap-kelip, juga pohon Natal setinggi dua lantai gedung. Ini sungguh memukaunya. Mereka semua bekerja keras untuk mewujutkan suasana yang luar biasa.

Toko-toko yang dia lewati, menampilkan banyak pernak pernik hadiah yang menggiurkan. Entahlah, sejak tadi Jiyeon berdiri di depan sebuah toko penjual perak. Barang-barang yang dijual di sana terbuat dari perak, ada juga yang emas putih. Semua indah. Secara garis besar, Jiyeon masih memikirkan hadiah apa yang pantas untuk dia berikan pada Mingyu, Eonnienya, juga mungkin Heechul. Dia termasuk andil membuat hari-harinya belakangan ini sedikit meriah.

Ponselnya bergetar di sakunya saat dia sedang meneliti sebuah pematik api. Ini kelihatannya kuna tapi antik, Jiyeon selalu membayangkan bisa menyalakan api untuk pria dewasanya saat akan merokok. Bukan sebuah cita-cita, hanya sebuah imajinasi yang terasa romantis untuknya. Tapi dia tidak berharap Mingyu merokok, itu akan merusak kesehatannya.

“Aku masih di Mall.” Jawab Jiyeon pada Mingyu. Bocah itu sepertinya benar-benar ingin segera bertemu dengannya.

“Agh, seandainya aku bisa menemanimu, Nunna. Sayangnya aku masih bersama Appa.

“Yah, kau harus melakukan apa yang harus kau lakukan dulu. Kau bisa menemuiku saat selesai.”

“Kau sedang apa?”

“Sedang berjalan pulang.”

“Apa kau merasa kesepian, Nunna?”

“Tidak. DI sini ramai, aku menikmatinya. Mungkin kau yang kesepian Mingyu.”

“Sedikit. Aku ingin bersamamu Nunna, menamanimu berbelanja.”

“Kapan-kapan saja.”

Jiyeon mengambil satu pematik api dengan detail ukiran yang terlihat cantik. Ditimang-timangnya benda itu sebentar sambil memperhatikan motiv yang lain.

“Apa kau serius membeli itu, Nunna?

“Hm?”  Jiyeon memperhatikan layar ponselnya, kemudian memperhatikan sekitarnya. Kenapa Mingyu tahu kalau Jiyeon sedang mempertimbangkan untuk membeli pematik api itu.

“Mingyu, keluar kau dari persembunyianmu!”  ancamnya kemudian. Terdengar kekehan Mingyu, lalu munculah bocah itu dari balik pilar. Berjalan mendekat, memeluk Jiyeon dengan erat.

Tubuh Jiyeon tenggelam di dalam mantel tebal yang dikenakan namja berpostur tinggi ini. Hangat.

“Aku pikir aku harus menunggu lama lagi untuk bertemu denganmu, Mingyu.”

“Aku diijinkan keluar. Kebetulan tadi aku melihatmu, Nunna.”

“Kau mau ke mana?”

“Menemuimu.”

“Bagaimana dengan Pamanmu itu?”  terus terang Jiyeon khawatir dengan hubungan ini.  Mungkinkah mereka bisa menerima Jiyeon.

“Dia belum tau.”

Tidak ada perasaan keberatan di benak Jiyeon jika memang Mingyu masih belum ingin mengungkap hubungan yang cukup terlarang ini, mengingat semua yang Mingyu lakukan sekarang ini termasuk sedang mempersiapkan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Jiyeon tidak akan membebaninya.

“Kau sudah makan, Nunna?

“Belum.”

“Ayo kita makan!”

“Kita pulang saja, aku akan memasak untukmu.” Jiyeon meletakkan kembali pematik api yang tidak jadi dibelinya itu. Mungkin Mingyu memang tidak akan pernah merokok.

Ketika mereka berbalik, entah kenapa ada sesuatu yang membuat Jiyeon harus menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Mingyu sendiri, berusaha tersenyum pada sosok yang ditemuinya.

Kim Heechul. Dia sedang membawa begitu banyak barang belanjaan di tangannya, dan tentu saja pria itu tak bergeming dengan kedekatan Mingyu dan Jiyeon, terlebih tangan keponakan itu tengah merengkuh bahu wanita yang selama ini bekerja bersamanya.

“Mingyu!”  sapanya kaku, sekaku wajahnya yang sedikit merasa kedinginan.

“Samchon! Apa kau kerepotan dengan bawaanmu, sini aku bantu!”  Mingyu melepaskan rengkuhan tangannya kemudian mencoba mengambil beberapa tentengan yang sedang di bawa Pamannnya itu.

“Tidak usah, aku baik-baik saja. Ini tidak terlalu berat.” Sambil matanya melirik Jiyeon yang berusaha tersenyum.

“Jiyeon?”

“Sunbae!”

“Kalian— ??”  matanya memcing

Sementara itu Mingyu tidak menampakkan rasa sungkan, dia sangat tenang, dan santai. “Aku dan Nunna sedang berjalan-jalan mencari hadiah Natal.” Jawabnya, “Tapi belum mendapatkan barang yang bagus.”

“Tapi kau mendapatkan hal yang luar biasa.” Menyindir keberadaan Jiyeon yang meringis canggung

“Dia Nunnaku yang cantik. Kami sudah bersama hampir satu tahun ini. Kami memang pacaran. Samchon saja yang tidak tahu.”  Jelas namja ini lugas. Jiyeon tidak menyangka kalau Mingyu bisa begitu lancar menjelaskan semua itu pada pamannya. Eoh, ini point plus lagi untuk sosok di sisinya ini. Gentle sekali! Senyum Jiyeon merekah sempurna, dan tidak memperdulikan tatapan miring Heechul padanya. Dia tidak memperdulikan itu, yang dia perdulikan hanya Mingyu.

Mereka saling menatap dan tersenyum,

Jinjja, jadi ketika waktu itu aku mengenalkan kalian—“

“Ya, kami memang sudah saling mengenal.”

“Laku ketika aku  mencarimu—?”

“Aku berada bersama Nunnaku.” Jawab Mingyu lagi, dan Heechul menggeram kesal,

“Waktu itu aku mengantarmu pulang, waktu itu aku kembali mencari kunci, dia ada bersamamu?”  tanya Heechul pada Jiyeon yang sedikit memberikan senyum.

“Hm, ya.. aku tidak tahu, kalau dia adalah keponakanmu.”

“Ya, akupun tidak tahu kalau sepupumu itu adalah keponakanku. SEJAK KAPAN KITA BERSAUDARA ‘adjh*&&;da@kj!’?”  ucapnya histeris, membuat Mingyu harus memeganginya.

Samchon…apa kau sudah minum obat?” tanya Mingyu cengengesan. Pamannya ini memang terkesan menggelikan.

“Oh Tuhan, sepupu? Dan kau keponakanku— kau mencuri yeoja incaranku.”

YAK, aku tidak pernah memberi harapan padamu, Sunbae!” protes Jiyeon.

“Jadi kau lebih memilih Mingyu ketimbang aku?”  Heechul menjatuhkan bahunya, sementara Mingyu memeluknya.

“Samchon aku mencarikan Nunna yang lain untukmu.”

Ugh Shut up Mingyu! Kau benar-benar keterlaluan, apa kau tidak bisa memilih yeoja yang seumuran denganmu?”

Tck, aku menyukai Nunna. Dia bisa membuatku nyaman, terlebih sejak hidup bersamanya, penyakit tidur berjalanku sembuh.”

Kali Heechul tercengang, “Jadi karena Jiyeon, penyakitmu sembuh?”

Mingyu mengangguk.

“Lalu untuk apa orang tuamu sampai pindah ke Amerika dan membawamu berobat dan mengeluarkan biaya  mahal. Kalau kenyataannya kau bisa sembuh dengan hidup bersamanya.”

“Ya, seharusnya Samchon membantuku mengatakan semua itu pada Eomma. Aku hanya ingin tidur bersama Jiyeon Nunna.”

PLAK

Tamparan ringan mengenai lengan Mingyu. Namja itu menoleh pada wajah Nunnanya yang merona.

“Hati-hati kalau bicara.”

Jinjja, kalian bahkan sudah tidur bersama. Kau benar-benar membuatku kalah telak, Mingyu.” Heechul menggeleng lesu.

“Apa boleh buat aku sudah berpisah lama dengan Nunna, jadi ketika kami bertemu lagi, aku tidak bisa menahan diri.”

“Sudah jangan ceritakan lagi, kau hanya membuatku iri.”  Pria ini merengut kesal. “Aku yakin Ibumu pasti kaget kalau kau tahu kau bersama Jiyeon.”

“Agh sebenarnya dia sudah tahu sejak pertama kali dia menjemputku di rumah Nunna waktu itu, hanya saja dia belum bisa menerima kenyataan kalau anak kesayangannya ini jatuh cinta pada Jiyeon Nunna.

“Lalu kenapa kau nekad?”

“Sudahlah Sunbae, kau jangan menginterogasi dia. Kasihan! Kami tidak sengaja bertemu waktu itu, saat Mingyu dititipkan pada kakakku, karena orangtuanya sedang dalam proses pindah ke Amerika.”

“Ya aku tahu waktu itu, tapi kenapa dia tidak dititipkan padaku?”  Heechul menggaruk kepalanya.

“Ya, tanyakan itu pada kakakmu, Sunbae! Jangan padaku, karena aku tidak tahu.”

Heechul tampak belum puas dengan semua penjelasan itu, tapi suasana bertambah ramai dan riuh, memaksa mereka harus menyingkir.

“Aku akan ke tempat Nunna.”  Ketika mereka berdiri di pinggir jalan.

“Kau menginap di sana?”  Heechul tampak pucat

“Tentu saja, sudah dua hari aku bersama Appa dan Samchon, aku ingin bersama Nunna malam ini!”

“Ish Jinjja!”  Jiyeon mencubit pinggang bocah nakal ini.

Sedangkan Heechul hanya menggelengkan kepala, merasa iri dengan keponakannya.

“Apa dia begitu hebat?”  celetuknya pada Jiyeon. Mau tidak mau wajah Jiyeon merona, dia ingin menjawab, kalau Mingyu lebih dari kata hebat, tapi tentu saja itu hanya rahasia antara dirinya dan Mingyu saja.

“Apa aku harus mengatakan ini pada ayahmu, Kim Mingyu?”

“Katakan saja! Aku merasa lebih tenang jika semua orang mengetahuinya, jadi kami tidak perlu sembunyi-sembunyi menjalin hubungan.”

“Tapi kau hanya sebentar di sini, minggu depan kau akan kembali lagi ke Amerika.”

“Tidak masalah, setelah aku lulus, aku akan menetap di sini, dan ikut mengawasi perusahaan sambil aku kuliah.”   Mingyu menggenggam tangan Jiyeon dan mengajaknya berinteraksi lewat tatap matanya. Diam-diam Jiyeon mengagumi sikap dewasa Mingyu yang diluar perkiraannya. Benarkah ini seorang Mingyu.

Pamannya mengangguk. “Terserah kau saja!” akhirnya Heechul mengalah, dia mencoba untuk memahami prilaku keponakannya yang mungkin sedang dilanda asmara. Dia akan sulit menerima nasehat apapun.

Dia berjalan menjauh, bersama tatapan Jiyeon dan Mingyu.

Samchon sudah lama sendiri, dia berharap mendapatkan kekasih tahun ini. Kemarin dia mengatakan itu pada Appa.”

“Apa kau ingin melepaskan aku untuk pamanmu?”

Andwaeee! Memangnya dia tidak bisa mencari sendiri! Kau hanya untukku Nunna!”

Namja itu merengkuh Jiyeon kembali dan berjalan menyusruri trotoar yang sedang sibuk-sibuknya. Suasana malam menjelang Natal ini membuat Jiyeon ikut menyumbang kebahagiaan di sekitarnya.  Sayup-sayup dia mendengar lagi-lagu Natal berkumandang, dan hatinya semakin merasa nyaman di samping Mingyu-nya.

.

.

.

Setengah tahun kemudian, Mingyu kembali lagi dan mereka tetap tinggal bersama. Namja itu memilih untuk kuliah di Seoul seperti rencana semula, dan Jiyeon pun masih bekerja seperti biasanya.  Semula Jiyeon sempat merasa jika hubungannya dengan Mingyu akan mengalami banyak rintangan, tapi nyatanya, Heechul tidak mempermasalahkannya, lalu ketika Tn. Kim mengetahuinya, dia pun tidak terlalu ambil pusing dengan urusan percintaan Mingyu dengan Jiyeon. Entah apa yang ada di dalam otaknya itu sehingga dia merasa kalau putranya itu termasuk berani, kalau mengambil resiko memilih wanita yang lebih dewasa dibanding dirinya. Terlebih sikap Mingyu yang belakangan ini terkesan lebih tertata, lebih disiplin dalam mengawasi perusahaan, membuat pria itu bangga.

Untuk masalah Sang Eomma, Jiyeon bisa mengerti jika sampai detik Mingyu kembali ke sisi Jiyeon lagi, wanita itu masih saja merasa berat, tapi dia sadar bahwa putranya tidak bisa tidur dengan aman jika tidak ada Jiyeon di sisinya.

“Jadi, kapan kita akan menikah Nunna?”

“Eum?” Jiyeon hampir tersedak ketika dia sedang menikmati kopinya.

“Menikah.” Ulang Mingyu

“Kau mengajakku menikah?”

“Ya, bukankah kita harus menikah.”

“Apa kau sudah berpikir masak mengajakku menikah.”

Namja itu mengangguk sambil memainkan bola matanya. Dia merasa penghasilannya lebih dari cukup untuk menghidupi Nunnanya.

“Nanti sajalah setelah kau lulus kuliah. Memangnya kau tidak cukup dengan hidup seperti ini?”

Bukannya tidak mau diajak menikah Mingyu, tapi dengan kondisi yang seperti ini, Jiyeon meragukan apakah keluarga Mingyu akan mengijinkan atau tidak.

“Kau tidak mau menikah denganku, Nunna. Apa karena aku kurang dewasa untukmu. Kau pasti menganggapku anak kecil dan tidak pantas untuk menikahimu.”

Aish Jinjja!” Jiyeon menepuk lengan bocah nakal ini.  “Kenapa kau berpikir begitu?”

“Kau pasti berharap laki-laki yang menikahimu itu lebih dewasa darimu, lebih matang dan—“

Jiyeon segera menutup mulut itu dengan bibirnya. Ucapan Mingyu terpotong begitu saja, dan justru terpejam meresapi pagutan bibir Nunnanya yang begitu membiusnya. Beberapa detik lamanya Jiyeon mengulum bibir itu, dan memberikan sentuhan manis di dada Mingyu.

Kemudian saling menatap saat ciuman itu terlepas. Tatapan Mingyu berubah sendu dengan bibir yang terbuka, dia masih merasa kurang dengan ciuman itu, di dadanya masih merasakan badai yang begitu hebat ketika bibir Nunnanya menyerang dengan begitu indahnya.

“Bagiku, kau kelewat dewasa dibanding laki-laki lain yang pernah menjadi pacarku, Yang Mulia Mingyu!”

Mingyu menarik tubuh Nunnanya, mendudukkannya di pangkuannya, menyingkap helai rambutnya dari pundak itu dan menelusuri keharuman alami kulit lembab Jiyeon.

“Nunna—“

“Hm?”

“Aku ingin—“

“Tidak boleh, aku sedang berhalangan, Mingyu!”

Bocah itu langsung menjatuhkan keningnya di dada Jiyeon. “Kalau kau sedang berhalangan kenapa kau menciumku, ini membuatku— ehmmm!”  Namja ini menggeram.

“Memangnya tidak boleh menciummu?”

“Hnnghh!”  namja ini masih berusaha menahan hasratnya dalam pelukan Jiyeon, sedangkan Jiyeon sendiri terkekeh sambil mengusap punggung Mingyunya.  Ya, dia harus bisa menerima tingkah Minyu begitu manja seperti ini.

“Mingyu~” sebut Jiyeon merdu

Mmmhh!” sahut namja itu

“Berbaringlah!”

“Aku belum mengantuk!”

“Siapa yang menyuruhmu tidur?”

Bocah itu langsung mengangkat kepalanya dengan sebuah cengiran, kemudian dengan sigap dia naik ke sofa dan duduk di sana sambil menatap Nunnanya yang bergerak mendekatinya.

“Kau benar-benar manja.”

“Aku hanya manja padamu Nunna.” Cengirnya senang ketika tangan Jiyeon mulai mengusap kakinya. Sebuah tatapan sendu Jiyeon berikan untuk membuat Mingyu semakin gila.

O come on Nunna, cepatlah!”

“Benar-benar tidak sabaran!”

SRET

Jiyeon menurunkan zipper celana jeans Mingyu dan menariknya turun meninggalkan boxer ketat itu sendirian. Namja itu sudah tidak sabar bibir Jiyeon berada di puncak penisnya. “Please Nunna!

Tapi Jiyeon memutuskan untuk mendekati wajah Mingyu, mengambil dagunya, dan mencandai namjanya ini dengan senyuman dan tatapan matanya yang begitu bening, menghanyutkan, Jiyeon tenggelam di sana, dalam pusaran airnya dan ketika bibir Minyu menarik bibir bawahnya tangan  Jiyeon sudah meremas kejantanan Mingyu dengan serunya. Sebuah desahan tanpa ampun menggema di dalam rongga mulutnya, bersama semua pagutan bibir dan lidahnya yang berkelana, Mingyu meremas payudara Jiyeon dan berusaha mengeluarkannya. Jiyeon membiarkannya, dia tidak akan melarang Mingyu melakukan apa saja untuknya, termasuk mengulum lembut ujun niplenya, juga menjilatnya— FUCK Kim Mingyu! Ini terlalu nikmat.  Tapi Jiyeon akhirnya menghentikan semua itu, turun dan merayapi tubuh Mingyu hingga—

“Yes?”

“Yes.” Tegas Mingyu

Dengan ujung lidahnya, Jiyeon menjilat bongkahan padat yang masih terbungkus celana dalam itu dengan nakalnya. Hanya sedikit desahan yang meluncur dari mulut Mingyu, dia masih berharap banyak Nunnanya ini  segera bertindak.

Jemari Jiyeon menurunkan celana dalam hitam itu, mengeluarkan paksa bentuk ereksi Mingyu dan menggenggamnya, mengusapnya dari ujung hingga ke pangkal, berkali-kali dengan senyuman dan juga tatapan mata yang menggoda.

Lalu menjilatnya lagi ketika ujung kepalanya yang telah terbentuk sempurna itu mengeluarkan cairan putih yang beraroma khas. Dengan tangannya Jiyeon meratakan cairan itu di sepanjang batang kerasnya, memompanya hingga Mingyu harus mengerang dan berdesis, setelah itu barulah Jiyeon menciumi lubang kecil pada ujungnya, menjilat dan sedikit menyelipkan ujung lidahnya untuk menggelitik bagian dalam dari bagian terbuka itu.

“Kau semakin hebat Nunna—“

Lalu dengan sekali raup, ereksi itu masuk ke dalam mulut Jiyeon, menekannya hingga ke dasar tenggorokan kemudian menariknya keluar dengan bunyi yang keras. Beberapa saliva menetes di ujung bibirnya, dan dia hanya tersenyum mencandai Mingyu yang sudah begitu bernafsu. Wajah hornynya itu membuat Jiyeon merasa teransang juga, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sedang mengalami haid.

Nunna lebih cepat~ “

Jiyeon mempercepat aksinya, dia memompa dengan tangannya, mengulum dan menghisapi ereksi itu hingga benar-benar keras dan berdenyut, dan otot-ototnya menonjol. Mingyu sebentar lagi akan mendapatkan klimaksnya. Kemudian dalam sepuluh kali pompaan juga hisapan pada ujungnya, akhirnya Mingyu melepaskan cairannya dengan hebat dan erangan panjang.

Cairan putihnya meleleh dari ujungnya, dan mengotori tangan Jiyeon.

“Agh Nunna~ kau nakal sekali, kenapa membuatku seperti ini—“

Jiyeon berdiri dan menatap sayu. “Kau membuat mulutku kaku Kim Mingyu.” Sambil memegangi rahangnya dan berjalan ke arah pantry untuk mencuci tangannya meninggalkan Mingyu yang merapikan dirinya.

Tidak berapa lama, bunyi bel pintu terdengar mengganggu konsentrasi mereka.

“Siapa?” tanyanya, dan Jiyeon hanya mengendikan bahunya.

“Apa kau mengundang seseorang Nunna?”

“Aku tidak pernah mengundang siapapun ke sini.”

Jiyeon segera berlari untuk mengintip si tamu yang tak diharapkan itu.  sejenak dia merenung menghadapi pintu itu, sampai Mingyu mendatanginya.

“Siapa?”

“Eommonim.”

Eomma!”  pekiknya senang. Tanpa menunggu persetujuan Jiyeon, Mingyu segera membuka pintu itu dan menyambut wanita kesayangannya itu.

“Mingyu!”  sebut eommanya ketika putra kesayangannya itu memeluknya erat.

Eomma, kenapa mendadak ke sini? kau pasti merindukanku!” tariknya masuk melewati Jiyeon yang masih termangu. Namja itu mengajak eommanya duduk di sofa yang masih berbau aroma sperma itu. semoga ibunya tidak tahu, kalau barus saja anaknya itu mengalami orgasme di tempatnya duduk itu, tapi alisnya mengernyit dengan ubang hidung yang sedang menyelidiki bau aneh yang mungkin masih tercium itu.

Agh Mingyu!”  dia menatap wajah putranya— mungkin meneliti juga raut muka Mingyu dari sisa-sisa nafsunya.

“Eomma hanya ingin melihat apa kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, Jiyeon selalu menjaga dan merawatku dengan baik.”

Jiyeon mengangguk ketika wanita itu meliriknya.

“Aku tahu, kau pasti bisa menjaganya.” Ujarnya lembut

“Maafkan aku Nyonya, sebenarnya saya masih merasa canggung dengan semua ini. Anda tahu, Kim Mingyu bersikeras untuk tinggal di sini, meski dia mempunyai apartemen yang Anda belikan untuk dia.”

Wanita itu mengangguk,

“Jiyeon ssi, aku pun sedikit merasa kurang nyaman, mengenai ini tapi anakku ini begitu manja. Dia mengatakan padaku, kalau dia tidak mau berpisah darimu.  Dia masih labil, dan aku takut dia membuatmu kecewa.”

“Eomma, aku tidak akan membuat Jiyeon kecewa. Aku mengajaknya untuk menikah barusan, tapi dia masih memikirkan kuliahku. Dia menolakku, Eomma.”  Rengek bocah itu.

“Wajar jika dia menolakmu, Mingyu. Jika eomma jadi Jiyeon, eomma juga akan menolakmu. Kau belum bekerja, tapi sudah berani melamar wanita. Mana ada wanita yang mau kau nikahi jika kau masih semanja ini!” maki wanita itu.

Jiyeon sedikit merasa lega dengan pembicaraan ini, tadinya dia begitu takut, wanita ini datang dan ingin membawa Mingyu pergi lagi, tapi nyatanya dia justru seperti ingin menitipkan Mingyu padanya. Ini sebuah kehormatan dan juga keberuntungan untuknya.

Malam ini, mereka berbicara bertiga di atas sofa. Mingyu sungguh beruntung berada diantara dua wanita yang begitu memanjakannya. Di sebelah kanannya, ibunya. Kemudian di sebelah kirinya Jiyeon Nunnanya. Sepertinya, tidak ada lagi hal yang Jiyeon cemaskan untuk kelangsungan hubungan mereka di masa depan.

.

.

.

Empat tahun kemudian, Mingyu sedang mengenakan baju toganya, dan berlari-ari meninggalkan upacara wisudanya dengan langkah cepat. Dia melarikan diri dari semua itu, karena mendengar Jiyeon akan segera melahirkan dan sedang berada di rumah sakit.

“Eomma, apa kau bersamanya?”

Mingyu berbicara di ponsenya dan mendengar jeritan Jiyeon memanggilnya.

“Mingyu Sialan! Cepat ke sini!”  teriak Jiyeon dari sela-sela mengejannya.

“Sabar-sabar Jiyeon!” sahut Mingyu

“Katakan aku akan segera tiba, Eomma!”

“Arrrrghhh!” jeritan Jiyeon terngar memiukan membuat Mingyu merinding mendengarnya.

“Sudah— oh, dia sudah lahir Mingyu!”

“Benarkah!” teriak Mingyu di dalam mobilnya, dia sibuk menarik jubahnya dan mengendalikan laju mobilnya agar tidak mencelakai orang dengan kecepatannya yang membabi buta.

“Laki-laki!” teriak ibunya.

“O my God Anakku laki-laki!”

Tidak berapa lama kemudian, dia tiba di rumah sakit, dan berlari untuk menemui Jiyeon tapi yang mencegatnya adalah ibunya.

“Di mana istriku?”

“Dia masih beristirahat!”

“Aku ingin menemuinya.”

“Sabarah, berikan dia waktu bernafas dulu. Apa kau pikir dia tidak lelah setelah mengejan mengeluarkan anakmu.”

“Aku ingin melihatnya!”

“Dia di ruang bayi.” Jawab ibunya sambil menggandeng putranya yang sedang terengah-engah.

“Eoh aku gugup— bagaimana wajahnya?”

“Kenapa harus gugup? Saat membuatnya kau sama sekali tidak gugup.” Ledek ibunya.

“Eomma, proses pembuatannya itu tidak membuatku segugup seperti ini.”

“Laki-laki memang seperti itu. Kasihan Jiyeon!”

Mereka berhenti ketika tiba di ruang bayi, dan Mingyu bisa melihat wajah bayinya begitu tampan. Senyumnya mengambang dengan cerahnya. Dia merasa begitu puas dan bangga dengan apa yang diperolehnya. Semua gelar yang sudah dia dapat tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang dia peroleh bersama Jiyeon.

“Bayi kita, kau sudah melihatnya?”  tanya Jiyeon ketika Mingyu mengecup keningnya.

“Dia tampan sepertiku!”

“Ya, kalau ibunya tidak cantik sepertiku, mana ada bayimu akan tampan.” Protes Jiyeon sambil mencubit hidung suaminya.

“Bagaimana wisudamu?”

“Mwolla? Aku langsung tinggalkan saat mendengar kau sudah di rumah sakit.”

“Siapa namanya?” tanya Jiyeon

“Kim Yoo Jin.”

.

.

.

.

Empat bulan kemudian,

“Jiyeon— !” Mingyu masuk dengan tergopoh-gopoh menemui Jiyeon yang sedang merapikan dapur setelah selesai memasak. Suaminya itu sudah tidak memanggilnya dengan sebutan Nunna, sejak mereka menikah dulu. Menyebalkan!

“Ada apa?” istrinya menanggapi bingung melihat sikap suaminya yang mencurigakan.

“Apa Yoo Jin masih bersama eomma?”

Jiyeon mengangguk,

“Agh baguslah! Ayo!” ajaknya kemudian

“Ke mana?”

“Aku ingin memanggilmu Nunna.” Ujarnya dengan kedipan mata.

“What?”

“Ayolah!”

Sial! Jiyeon baru saja membatin mengenai hal itu, dan sekarang suaminya itu malah menguasnya dengan cara yang seksi. Jadi begitukah kini kodenya, jika Mingyu mengajaknya bercinta.

“Aku ingin memanggilu Nunna—“

.

.

.

END-FINISH

Note,

Makasih untuk semuanya—

See you dilain FF

 

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. rasma says:

    akhir nya happy ending juga ,pok pok pok .untung semua nya verjalan lancar , tapi kasihan juga paman haechul di langkahi ma ponakan nya wkwkkkk…

    1. mochaccino says:

      Heechul nasibnya ga beruntung terus di tanganku. cian …

  2. kwonjiyeon says:

    iya kasian abng heechul ……ama ane aja bang d jamin puaaas kkkkkkkk aduuuh d timpuk lana ..benjol dahh

    1. mochaccino says:

      sama ane juga bisa puas…hahaha…

  3. MFAAEM says:

    Akhirnya berakhir bahagia wkwkwk dasar itu dua duanya mesum ternyata wkwkwk “aku ingin memanggilmu nuna” sa ae mas wkwkwk

  4. May andriani says:

    Haha endingnya mingyu sma pngen buat adik buat yoo jin tuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s