Belonging 7th


Belonging

BELONGING 7

Park Jiyeon feat Byun Baekhyun

Support cast.

Nam Woohyun

Han Yuna (OC)

Romance

PG

.

.

 Untuk mengulas lagi episode yang sudah di post

Chap. 1

Jiyeon belum menentukan apapun dalam hidupnya. Beberapa waktu lalu dia dan Baekhyun pernah membicarakan mengenai rencana masa depan yang telah disusun oleh sepupunya itu. Ya, rencana hidup seorang Baekhyun, bukan rencana hidup seorang Jiyeon. Dan sepertinya dalam rencana hidupnya tidak tercantum satu point pun mengenai Jiyeon.

Dunianya dan dunia Jiyeon sepertinya bertolak belakang. Sementara dia mersasa bahwa dia dan Woohyun sepertinya searah dan sejalan.

Chapt. 2

“Apa ?”  tanya Jiyeon tanpa menoleh sedikitpun.

“Eum… menurutmu , apakah Yuna mencintaiku?”

Deg

Jiyeon meremas penanya lebih kuat. Dia menanyakan hal itu pada dan Jiyeon hanya memutar  bola matanya dengan malas.

“Baekhyun Oppa, aku rasa dia mecintaimu. ”  Jiyeon menjawabnya dengan sedikit menahan nafas dan terbatuk.

“Apa kau yakin ?”  Tanyanya lagi.

Chapt.3

Ada hal yang tidak diketahui Jiyeon hingga detik ini. Jika sepupunya ini masih menganggapnya sebagai sepupu, itu memang benar. Baekhyun telah terlahir di dalam keluarga Byun, namun bukan sebagai putra dari keluarga Byun. Dia hanya putra dari seorang pelayan yang dulu bekerja pada keluarga ini.  Seorang pelayan dengan penyakit paru-parunya. Dia tidak diijinkan untuk memeluk anaknya, juga menyusuinya,karena penyakit yang diderita ibunya takut tertular padanya, sehingga Baekhyun kecil tidak pernah mengenal ibunya.

.

.

Chapt. 4

Mata mereka bertemu, kemudian sedikit berkelit karena rasa canggung.  Sejumlah energy berterbangan di sekitar mereka, dan membuat ruangan di dalam hati mereka menjadi lebih sejuk.

”Biarkan aku masuk ke kamarku.”  Baekhyun meminta

”Silahkan! Apa aku menghalangimu?”

”Kenyataannya YA. Kau berdiri di tengah pintu. Bagaimana kalau nanti mendadak aku memelukmu dan membawamu masuk ke dalam kamar, kemudian …” kalimatnya terhenti, ketika Jiyeon mengecup bibir namja yang tengah berkomat-kamit itu.

Emhhh…”  Baekhyun tercengang sesaat tapi kemudian langsung mendorong Jiyeon masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu dan membuat Jiyeon terbaring di atas ranjangnya. Mereka bergumul sebentar dengan bibir terpaut hangat.

.

.

Chapt. 5

Jiyeon tanpa sadar sudah duduk di pangkuan Baekhyun yang tengah memeluknya dengan erat.  Tidak ada rumus yang jelas kenapa mereka bisa langsung terlibat seperti ini. Baik Jiyeon maupun Baekhyun, terlihat sama-sama menikmati gairah yang ada.

Suasana yang tenang dan nyaman itu semakin membuat mereka tak terkendali. Jiyeon tahu, bahwa pada akhirnya mereka akan berakhir seperti ini. Kejadian beberapa waktu lalu cukup membuat Baekhyun bersikap lebih berani padanya.  Perlahan namja itu sudah melepaskan t-hirt  Jiyeon.

.

.

Chapt. 6

Oppa, apa kau mencintai Jiyeon? Kenapa kau tidak mengejarnya dan merebut hatinya supaya dia tidak mengganggu hubunganku dengan Baekhyun.”

”Akan kulakukan apa yang harus kulakukan. Kau tidak perlu mengatur kehidupanku. Sudah cukup dengan semua yang pernah kau lakukan pada keluargaku saat itu. Kau membuatku terpuruk hingga kini. Apa kau tahu, karena ulahmu aku kehilangan dia.”  Woohyun terlihat berapi-api. Dia tidak menyangka akan berhadapan dengan Yuna lagi. Kisah lama, dan ini hanya sebuah kesalahan. Ya, kesalahan yang fatal.

.

.

BELONGING 7

Park Jiyeon | Byun Baekhyun

Nam Woohyun|Han Yuna (OC)

.

.

“YUna ada di sini, dan dia mengatakan kalau dia hamil, dan aku menyuruhnya untuk mengaborsi kandungannya. “  BAekhyun menggeram kesal. Mungkin saat ini dia sedang mengunci diri di dalam kamar Jiyeon.

“What! Aborsi?”

JIyeon memekik keras sambil berjalan ke sana ke mari seperti orang bingung.

“Ya, dia mengarang cerita konyol ini dan membuat orangtua kita syok. Kau tahu apa yang mereka bilang padaku?  Aku harus menikah dengan Yuna secepatnya, karena mereka tidak enak dengan keluarga Yuna.”

JIyeon memijat keningnya semakin kuat. Apa yang baru saja dikatakan Woohyun terjadi juga padanya. Oh tidak!

“Pulanglah, Jiyeon!”

“Aku dalam perjalanan Oppa.

“Ada apa?” Tanya pria di sebelahnya.

“Yuna, dia mengatakan pada orang tua BAekhyun, kalau dia hamil. Dia mengancam akan menggugurkan kandungan itu jika Baekhyun tidak menikahinya. “

“Begitukah?”

Sunbae Oppa, kenapa kau begitu santai. Kau harus membantuku!”    rengek Jiyeon sambil menarik-narik lengan Woohyun berkali-kali. Pria berwajah sendu itu hanya bias merengut menatap pada wajah cemberut Jiyeon dengan risih.

“BAiklah, aku akan membantumu, tapi apa imbalanku?”

“Akan kupikirkan dalam perjalanan.” Sahut Jiyeon. Dia sungguh tidak bisa berpikir apapun, menghadapi kenyataan ini. Bagaimana jika Yuna benar-benar hamil. Meskpun itu bukan hasil hubungannya dengan BAekhyun sekalipun, tetap saja orang tuanya tidak akan terima jika BAekhyun mengelak.  Selama ini, mereka hanya tau bahwa BAekhyunlah yang dekat dengan Yuna.  Mereka sudah seperti itu sejak kecil. Bagaimana ini?

“Dia pasti berbohong lagi.”  Tegas Woohyun dengan muka serius.

“Agh entahlah!” Jiyeon sudah malas menanggapi

Mereka tiba di rumah keluarga Byun setengah jam kemudian, tapi tak mendapati sepupu labilnya itu berada di rumah. Baik Paman dan Bibi semuanya tidak ada. Jiyeon dibuat kesal, sampai dia harus menggigit lengan Woohyun untuk yang kesekian kalinya. Namja itu hanya menghela nafasnya saja, di jadikan pelampiasan Jiyeon yang membabi buta.

“Kenapa kau begitu gusar menghadapi ini?”

“Sunbae Oppa, aku sangat berharap Yuna tidak hamil.”

“Memangnya kenapa?”

“Agar mereka tidak menikah. MAsa kau masih saja bertanya.”

“Itu karena aku berharap mereka menikah, dan kau akan menjadi milikku, Jiyeon. Bukankah ini adil.”

Jiyeon melirik sengit, “Sunbae Oppa, kau mencari kesempatan di dalam kesempitan.”

“Ya apa boleh buat, memang ada kesempatan untukku, kan.”

“Aku tetap berharap mereka tidak akan menikah.”  Jiyeon menatap langit yang gelap. Kira-kira mereka pergi ke mana.

.

.

.

Dua jam kemudian, Jiyeon mengintip dari kamarnya ketika mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Rupanya mereka sudah kembali, tapi dia tidak melihat BAekhyun. Mungkin dia kembali ke apartemennya. Semakin rumit saja. Apa Jiyeon sudah tidak dianggap keluarga, sampai mereka tidak menyertakan Jiyeon untuk semua urusan.

HAruskah dia bertanya pada Paman dan Bibi Byun. Mereka terlihat sedang kesal, mana berani Jiyeon mengganggunya.  Salah-salah nanti malah dijadikan pelampiasan emosi mereka yang salah alamat. Jiyeon mengurungkan niatnya dan kembali ke kamarnya. Di sana dia mencoba untuk tidur, meski itu terasa sulit. Di dadanya ini rasanya sangat cemas, jantung dan hatinya serasa di remas-remas. Sangat menyiksa sampai Jiyeon harus meringis, dan memukul-mukul bantalnya.

Namun kemudian ponselnya di atas meja bergetar. Segera di sambarnya sampai dia hamper terjatuh.

“KAu di mana ?”   sepupunya itu menghubunginya dengan desah nada yang kacau,tak bias dilukiskan wajahnya yang mungkin sangat kusut itu. Jiyeon menarik nafasnya dalam-dalam.

“Aku tau aku di mana.”

“BODOH!”

“JAngan marah padaku!”  sepertinya dia begitu frustasi dengan situasi ini.

Oppa, apa kau benar-benar menghamilinya?”

“Tidak! Aku bersumpah aku tidak pernah menidurinya.”

“LAlu apa keputusan mereka?”

“Yuna, memang hamil. Kami tadi memeriksakan kondisinya, dan dia hamil.Demi Tuhan dia hamil Park Jiyeon. Aku harus bagaimana?”

“Apa kau akan menikahi dia?”

“Aku tidak tahu, mereka memaksaku untuk menikahi Yuna.”

“LAlu aku bagaimana, Oppa?”

BAekhyun terdiam. “Aku tidak mau kau menikah dengannya Oppa. Aku tidak mau. Aku hanya mau kau menikahiku! TITIK!

“Mereka sudah memutuskan, Jiyeon. “

“Sepertinya Yuna sudah berhasil menyingkirkan aku, Oppa.”

Jiyeon memeluk bantalnya semakin erat. Percuma dia bicara pada orang labil seperti Baekhyun. Sampai kapanpun dia akan terus labil. Sifatnya ini sungguh tidak bisa diampuni membuat kepala Jiyeon mau pecah rasanya.

“Jiyeon!”

“JAngan bicara padaku lagi Oppa! Kuperingatkan padamu, aku tidak akan pernah bicara lagi padamu. Apa kau dengar itu!”

“JAngan—“

Jiyeon segera menonaktifkan ponselnya. Entah kenapa semua ini jadi harus seperti ini. Baru saja kemarin mereka merancang masa depan yang indah mengenai kehidupan mereka, tapi dalam sekejab saja semua itu berakhir.

.

.

.

“KAu tidak makan?”

Woohyun datang sambil membawa banyak buku di sampingnya.  Gazebo ini mendadak kian sempit dengan semua bencana yang ditimbulkan namja calon dokter di sebelahnya. Muka Jiyeon yang kusut itu sudah bisa ditebak, kalau gadis ini pasti masih belum bisa merelakan BAekhyun. Woohyun hanya berdecak kesal.

“Lebih baik kau tidak memikirkan dia, dan focus pada ujianmu.”

Jiyeon melirik lesu.

“BAgaimana aku bisa belajar?”

“Ini aku bawakan buku-buku untukmu!”

“Aku tidak bisa membaca buku sebanyak itu, Sunbae Oppa!”  jawabnya sambil mengamati buku-buku itu dari posisi  malasnya.

“Aku sudah membuat rangkuman, untuk kau baca. Sebenarnya ini aku buat saat aku mempelajari buku buku ini waktu itu, dan aku berikan ini untukmu supaya kau bisa mempelajarinya dengan mudah.”  Pria itu melirik Jiyeon, mencoba untuk memberi semangat.

“JIyeon, kapan kau akan melihat ke arahku?”

Hh?”

“Di saat BAekhyun sudah begitu dalam mengecewakanmu saja, kau masih belum bisa melihat ke arahku.”

Perkataan Woohyun membuat wajah Jiyeoan seakan ditampar.  Tak ada jawaban darinya, dan hanya mampu menunduk, menyembunyikan perasaan bimbangnya. Dari dalam hatinya, dia masih berusaha untuk mempertahankan BAekhyun, tapi sepertinya semua itu  sudah tidak mungkin lagi. Ayah Yuna adalah orang yang terpandang, meski anaknya sakit jiwa seperti itu. Mereka pasti menghendaki Yuna segera menikah dengan kondisi hamilnya.

HAri pernikahan mereka bahkan sudah diputuskan, dan Jiyeon masih belum bersedia berbicara pada sepupu labilnya itu. Masa bodoh dengannya, membiarkannya bersikap semaunya, asalkan tidak muncul tiba-tiba di depannya saja. JIyeon bersumpah akan menghajarnya jika BAekhyun berani muncul di depannya.

“Aku tidak bisa membantumu banyak Park Jiyeon. Mungkin setelah ini, aku tidak akan mau lagi kau ajak berdebat masalah Baekhyun. Kau urusi saja dirimu sendiri, dan keinginanmu, tujuanmu dan masa depanmu. KAlau kau pikirkan dia terus, kau tidak akan maju.”  Pria itu berdiri, berjalan agak menjauh tapi kemudian menoleh lagi.

“Aku hanya berpikir, dia sengaja menyabotase kesuksesanmu dengan masalahnya, kau tidak pantas diperlakukan seperti ini, Jiyeon.”  Menghela nafas lagi.

“BAiklah ini yang terakhir, aku rasa kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya. Aku tidak mengatakan itu adalah aku, tapi paling tidak, kau harus bersama dengan laki-laki yang lebih baik dari dia, agar aku tidak merasa dilecehkan. Apa kau mengerti?”

Jiyeon masih memasang raut muram, yang kemudian hanya ditinggalkan Woohyun dengan helaan nafas sepanjang mungkin.

.

.

.

JIyeon mengganti nomor ponselnya, dan BAekhyun tidak mengganggunya lagi, tapi hasilnya justru namja itu mendatanginya. BAhkan ketika paman dan bibirnya tidak ada di rumah, mendadak dia muncul begitu saja di dalam kamarnya.  Berani-beraninya dia muncul di depan mata. Memangnya punya hak apa dia masuk ke dalam kamar seperti ini.

Wajahnya menjadi kian kurus, dan jelek. Maksud JIyeon, tadinya dia tidak sejelek ini…ehm, baiklah dia agak sedikit tidak jelek, tapi tidak tampan juga jika sedang tidak konsisten. Whatever!

“Aku akan menghajarmu!”  JIyeon berdiri dari bangkunya, kemudian menyerang BAekhyun dengan tinjunya, yang langsung mengarah telak ke perutnya. Namja itu terjungkal ke atas kasur, tapi dengan muka datar tanpa ekspresi— pasrah.

“LAgi!” katanya menantang. Demi Tuhan, jika Jiyeon memukulnya lagi, maka tubuh itu akan hancur lebur. Dia tidak mengatakan masalah fisik, tetapi jiwanya. Di mana dia sudah menggadaikan jiwanya itu. Manusia ini sepertinya sedang tidak ingin hidup lagi. Dia malah terpejam di atas kasurnya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau itu bukan anakmu, BODOH!” JIyeon semakin kesal saja melihatnya.

“Aku sudah mengatakannya. Mereka tidak percaya.” Jawabnya pelan

“Tapi…”

“Apa kau punya racun?” Baekhyun mengintip dari matanya yang terpejam.

Sianida? Maaf aku tidak punya, apa kau mau kaus kakiku yang tidak aku cuci selama satu bulan, itu jauh  lebih beracun dari racun.”

Ada sedikit senyum di bibir BAekhyun mendengar jawab Jiyeon. Hh, memangnya lucu! Jiyeon membuang muka. “PErgilah dari kamarku, nanti kalau paman dan bibi tau kau disini, aku bisa kena masalah.”

“Aku rindu sekali padamu Jiyeon. RINDUUUUU.” Ucapnya dengan bibir maju.  Tapi itu,kan konyol. Seorang Baekhyun mengatakan rindu dengan cara seperti itu.

“Ya, aku tau.”   Sahut Jiyeon dengan helaan nafas yang panjang—sangat panjang.

Mereka sama-sama membuang nafas.

“Kau bisa pergi sejauh mungkin jika kau mau, tapi jangan mengajak aku.”  Ucap Jiyeon sambil membuka-buka rangkuman yang dipersiapkan Woohyun untuknya.

“Kau tidak mau ikut denganku?”

“Tidak. Aku sibuk, banyak kerjaan. Tidak ada waktu mengurusi hidupmu.” Ketus Jiyeon

BAekhyun duduk dengan bahu lemas, sambil menatap Jiyeon dengan senyumnya. “Kau sungguh tidak ingin pergi bersamaku seandainya aku memang akan pergi.”

“Tidak. Aku punya cita-cita, tujuan hidup… apa kau tau Oppa, kau tidak bisa menyabotase semua itu.”  Jiyeon merenungkan kalimat yang ditinggalkan laki-laki bermarga Nam itu. Mukanya sungguh sendu saat mengatakannya.

“Ya, aku tau. Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggumu lagi.”

SIALAN!  Maki Jiyeon dalam hati. Memangnya mereka itu siapa, kenapa semua mengatakan tidak akan mengganggu kehidupannya lagi. Woohyun pun pernah mengatakan hal itu padanya, dan sekarang Baekhyun. Apa-apaan ini?

Tck! Sejujurnya aku tidak mau kau menikahinya, jika itu memang bukan anakmu. Paling tidak kau harus berjuang sendiri untuk hidupmu, Oppa. Aku akan baik-baik saja jika memang  kau harus bertanggung jawab.”

BAekhyun berdiri, meninggalkan Jiyeon.

“Aku akan melakukannya.”

“Melakukan apa?”

“Pergi.”

Jiyeon mematung di bangkunya. Apakah sepupu labilnya ini akan pergi seturut omongannya. “ Terserah kau saja Oppa!

Beberapa hari menjelang tanggal pernikahan itu, Baekhyun memang menghilang, dan Yuna mendatanginya dengan wajah sengit. Untung saja suasana di kampus tidak terlalu ramai, tapi bukan berarti tidak ada orang.  Ada beberapa, tapi syukurlah tidak terlalu dekat, saat Yuna memakinya dan mengatakan Jiyeon adalah dalang di belakang pelarian seorang Baekhyun.

“Aku akan melaporkan pada polisi mengenai semua ini.”

“Melapor bagaimana, maksudmu?” mendadak Woohyun muncul di belakangnya, dan membuat sikap berdirinya canggung. Matanya berkelit tanpa focus.

Oppa, BAekhyun pergi. Dia menghilang dan Jiyeonlah orang yang menyembunyikannya.”

“Aku menyembunyikannya di mana? Dasar bodoh, kau piker aku tidak punya kerjaan mengurusi hidup kalian!”

“Munafik! Kau pasti tau semua ini dan tau di mana dia bersembunyi.”  Maki Yuna lagi.

“Aku tidak tahu  Sunbae Oppa. Aku tidak tahu.”  Jiyeon meminta dukungan dari pria yang selama ini selalu membelanya, tapi sepertinya Woohyun  menatapnya aneh.

“Jiyeon, aku tidak tau kenapa kau bersikap seperti ini. Aku tau kau mencintai Baekhyun, tapi tidak dengan cara seperti ini.”

SUnbae Oppa!”  Jiyeon tercekat dia tidak menyangka Woohyun akan mengatakan semua itu padanya.

“Sebaiknya kau tidak ikut campur urusan mereka, dan membiarkan Baekhyun melakukan tanggung jawabnya.:

“Kenapa kau mengatakan itu?”   dengan rasa gamangnya Jiyeon mencoba untuk membela diri

“Aku tidak menyangka kau begitu Jiyeon!”  sambung Yuna dengan gelengan kepala.  “Ouh!” Yuna mendadak memegangi perutnya

“Kenapa?”  Woohyun bergerak mengajak Yuna duduk.

“Sepertinya dia mengalami depresi, dan membuat perutnya kram.” Pria itu langsug memberikan lirikan dingin, yang kemudian ditinggalkan Jiyeon tanpa kata-kata. Woohyun jadi ikut-ikutan membela si pecundang itu, mimpi apa Jiyeon semalam. Ini cukup mengerikan. Dia tidak suka dengan konspirasi semacam ini. Hatinya merasa dikhianati.

“Kenapa tidak kalian berdua saja yang menikah!”  celetuk Jiyeon sambil berlalu.

.

.

.

Kemana si bodoh itu!

Jiyeon menekan sandi masuk apartemen Baekhyun dan memasukinya. Ruangan memang tampak sepi, mungkin untuk sementara ini, Jiyeon akan menempatinya. Dia malas bertemu dengan Paman dan Bibi Byun yang mungkin akan menyalahkannya juga atas menghilangnya Baekhyun.

Ini membuatnya sedikit senang, karena pada akhirnya Baekhyun tidak jadi menikahi Yuna, tapi tindakannya itu terlalu pengecut. Atas usul siapa dia menjadi pengecut?  Jiyeon mengangkat tangannya sendiri di depan cermin. Semua itu memang karena ide gilanya.

Ponselnya terus saja berbunyi, Jiyeon tidak ingin mengangkatnya. Biarkan saja. Di saat-saat genting seperti ini lebih baik menghindar dan tidak usah muncul sampai semua reda.

Semoga saja BAekhyun dia dalam kondisi yang tidak terlalu payah.

.

.

.

Tbc.

 

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. Edc says:

    Jdi baekhy prgi trus minggat kmn?? Siapa yg ngehamilin yuna? Woohyun kah?

    1. mochaccino says:

      nah itu akan diketahui chapter berikutnya. makasih ya

  2. kwonjiyeon says:

    jngn sampai woohyun oh nooooooooo

  3. loveJIYEON says:

    woah,akhirnya update jgak critanya..aku kangen bgt sama critanya nie..baekhyun kok bodoh bgt ya!!btol kata jiyeon,baekhyun pngecut!!!huh,tp aku senang baekhyun gak jd mnikah sama yuna..tp d’mana baekhyun skarang??aku hrap baekhyun sama jiyeon bisa bersatu wlaupon klihatannya sulit bgt ya..q tggu bgt lnjutannya thor!!!!

  4. Dwiki says:

    Lahhh yuna kok bisa hamil??? Siapa yg ngehamilin??
    Kok woohyun perhatian bgt ke yuna, malah jadi dingin kyk gitu ke jiyi??

  5. May andriani says:

    Knp woohyun bela yuna sih?? Baekhyun juga kmn sih?? Smua pada nyalahin jiyeon ats mehilangnya baekhyun 😦

  6. Just Me says:

    Waah kok Woohyun jadi ikutan ngebela Yuna gt? Jadi dingin pula ke Jiyeon. Seriusan udah nyerah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s