LIE TO ME 6th


you r not my destiny

LIE TO ME 6

Lee Taeyong feat Park Jiyeon

 

 

 

Sementara itu, Jiyeon di tempat yang berbeda masih terlelap bersama perutnya yang telah membesar. Malam menjelang pagi yang dipeluknya itu hanya memberikan sebuah mimpi pertemuan dengan seorang pria dengan motor sport hitam dan semua atribut angker dengan warna serupa.

 

Pria itu tengah melarikan motornya di dalam sebuah arena balap yang mengerikan. Seseorang dari motor yang hampir menyalipnya melemparkan cakram tajam dari arah belakang dan mengenai tengkuk Taeyong, yang akhirnya terjungkal, meninggalkan motornya yang melaju cepat meninggalkannya.

 

Tubuh itu ambruk di atas kilauan aspal dan pekatnya malam bersama warna merah kental mengalir dari kepala dan sekujur badannya.

 

”TAEYONG!”  Jiyeon terbangun, dan merasakan perutnya bergejolak dengan hebat.

 

”Eoh! Apakah aku akan melahirkan?” dia berusaha untuk bangun, tapi mendadak seperti ada cairan yang merembes di kakinya.

 

EOMAAAA!”  teriaknya kemudian.

 

.

.

.

 

Jiyeon terbaring lemah d rumah sakit, setelah melahirkan bayi premature. Bayi dengan bobot kurang dari dua kilogram itu saat ini masih di rawat di ruang inkubator. Kulitnya begitu tipis dan keriput.  Meskipun terlahir premature,  dia adalah bayi perempuan yang sehat. Jiyeon masih belum melihatnya, tapi ibunya mengatakan padanya kalau anaknya baik-baik saja.  Entah nama apa yang akan dia berikan, dia belum berpikir mengenai nama selama kehamilannya.

 

Tae Yeon Mungkin Lee Tae Yeon. Sesimple itu, namun itu adalah nama yang indah. Banyak doa dan harapan untuk bayi Tae Yeon.

 

“Namanya  Tae Yeon, Eomma.  Katakan pada mereka namanya Tae Yeon.” Sebut Jiyeon lemah. Ibunya mengangguk kemudian berjalan menemui perawat bagian kebidanan. Bersamaan dengan itu, ibunya mendengar gunjingan dari para perawat itu kalau ada sebuah kecelakaan motor yang mengorbankan satu pengendara motor mengalami luka parah. Hanya saja sampai detik ini, identitasnya masih belum diketahui. Tidak ada tanda pengenal yang ditemukan pada tubuh pengendara motor balap itu.

 

Dia kembali pada Jiyeon dan menceritakan gosip itu pada putrinya dengan mengelus dada.

 

”Kasihan sekali orang itu. Dia katanya luka parah.”

“Siapa,  eomma?”

”Orang itu, yang mengalami kecelakaan.”

”Paling mereka kebut-kebutan. Beberapa waktu belakangan ini, bukit di belakang rumah kita itu ramai suara motor, sangat mengganggu. Mereka melakukan balap liar hingga pagi. Padahal sudah diperingatkan bahwa jalan sedang licin, tapi mereka tidak menggubrisnya.”

 

Ny. Park mengangguk, ”Aku sudah mengatakan pada perawat tentang Tae Yeon.”  ada nada seih di sana, bagaimana tidak sedih, Jiyeon melahirkan bayi itu tanpa seorang ayah, meskipun dia bersikeras memberikan marga Lee untuk putrinya, tetap saja ayahnya tidak mengakui.

 

”Kau tidak apa-apa, Jiyeon?” melihat putrinya sedang menatap kosong ke arah jendela,

 

”Aku baik-baik saja, ingin segera bertemu Tae Yeon.”

 

”Dia masih memerlukan perawatan. Sabarlah, mungkin dalam beberapa hari kau bisa melihatnya.”

 

Jiyeon sudah merencanakan untuk mengasuh anaknya sendiri. Putrinya itu pasti mirip dengan ayahnya, Taeyong, asalkan tidak mewarisi sifat jeleknya saja.

 

Dua hari kemudian, Jiyeon diijinkan untuk melihat putrinya, dia berjalan ke ruang perawatan bayi dan menatap pada Tae Yeon yang terlihat tenang. Diamnya memang mirip dengan ayahnya. Wajah dan bentuk hidungnya. Jiyeon tersenyum, tidak menyesal dengan keputusannya untuk melahirkan Tae Yeon. Bayi seindah ini, siapa yang sanggup menolaknya. Ingin rasanya segera menggendong Tae Yeon, tapi perawat itu belum mengijinkan.

 

Kemudian terdengar rebut-ribut para perawat mengenai pasien yang sedang mengalami masa kritis di ruang tidak jauh dari posisi berdirinya. Jiyeon melangkah ke sana, untuk melihat apa yang terjadi.

 

Para perawat itu sibuk membawa alat untuk memacu detak jantung masuk ke dalam ruangan yang berisi dua pasien itu. Sepertinya, pasien kecelakaan motor itu sekarat, dan mereka sedang menolong sebisa mungkin untuk menyelamatkannya, tapi—

 

Bunyi dengung panjang itu menandakan kalau dia tidak tertolong. Jiyeon menunduk menghindari hal yang tidak mengenakkan itu. Dia meninggal tanpa ada yang mengenalinya. Eoh, malang sekali!

 

”AKU TIDAK MAU BERADA DI RUANGAN INI!” teriakan itu—

 

Jiyeon kembali menengok ke dalam, pada ranjang di sebelah pasien meninggal itu. Mungkin orang itu takut berada di kamar orang yang baru saja meninggal. Mendadak rasa gelinya membuatnya menahan senyum, tapi kemudian tirai itu terbuka, dan—

 

Eoh!

 

Jantungnya berdegup kencang. Apa dia tidak salah lihat. Kembali JIyeon menatap namja yang tengah terbaring dengan dua kakinya yang di gips itu. Lee Taeyong. Benarkah dia Lee Taeyong.

 

Kenapa bisa berada di sini.

 

Jiyeon memucat di dekat pintu,

 

”Nyonya, Anda kenapa?” seorang perawat membawa Jiyeon duduk.

 

”Tidak apa-apa.” jawabnya gugup.  ”Pasien itu—”

 

”Ya, dia meninggal.Sayang sekali, kami belum menemukan keluarganya, dan di sebelahnya pun tidak tahu tentang temannya itu. Padahal mereka mengalami kecelakaan di hari yang sama.”

 

”Begitu—”

 

”Anda harus kembali ke ruangan Anda, kami akan sibuk memindahkan pasien Lee Taeyong itu ke ruangan lain. Dia takut di ruangan bekas orang meninggal katanya. Rewe sekali dia!  Untung dia tampan—“  keluah perawt itu sambil membawa JIyeon melangkah kembali ke kamar.

 

“Akan di pindah ke mana?”

 

”Siapa?”

 

”Pasien Lee Taeyong itu.”

 

”Ehm, entahlah rumah sakit sedang penuh, seharusnya dia beruntung mempunyai ruangan, tapi mungkin dia akan dititipkan di bagian kebidanan.”

 

”Oh begitu.”

 

”Tapi tidak akan disatukan dengan pasien yang baru melahirkan.” jelasnya.

 

Jiyeon mengangguk,

 

”Bagaimana keadaan dr. Park saat ini?” tanya perawat itu, yang sepertinya mengenal ayah Jiyeon.

 

”Dia sudah pensiun.”

 

”Dia adalah dokter yang hebat. Saya dulu pernah menjadi pasiennya, dan saya menyukai kesabarannya menangani pasien.”  jelas perawat itu.

 

Jiyeon merasa lega, bahwa ada juga orang yang tidak melupakan jasa baik ayahnya dalam melayani orang sakit. Semoga itu bisa membesarkan hatinya di saat dia harus menerima kenyataan bahwa ada keluarga yang menuduhnya telah membunuh anak mereka.

 

”Nyonya harus beristirahat.” ujar perawat itu.

 

Apakah ini seperti keajaiban, di mana bayinya lahir, Jiyeon bertemu dengan Tae Yong lagi. Tapi apakah bocah itu akan menerima semua ini.

 

”Kau dari mana?”  ibunya  menunggu dengan cemas.

 

”Melihat Tae Yeon.”

 

”Eomma dengan ada pasien meninggal.”

 

”Ya. ” jawab Jiyeon

 

”Kau melihatnya?”

 

Hm.”  duduk dengan muka muram.  “Aku mau tidur dulu Eomma, sepertinya aku lelah sekali.”

 

”Kau sudah minum vitaminmu?”

 

”Sudah.”

 

”Baiklah, tidurlah dulu. Eomma juga harus kembali ke rumah, mempersiapkan kamarmu.”

 

Jiyeon tak menyahut, karena hati dan pikirannya sedang tertuju pada Taeyong. Namja itu mengalami kecelakaan dan dua kakinya patah, tapi kenapa tidak ada keluarga yang menemaninya. Sudah berapa lama dia berada di daerah sini. Bagaimana dengan sekolahnya, apakah lulus.

 

Berbagai pertanyaan melintas di kepalanya, dan tak bisa membuatnya tenang. Dia mencoba untuk memejamkan mata dan terlelap, tapi yang didengarnya justru teriakan bocah itu di kepalanya.

 

Apa yang harus dia lakukan, dan haruskah Jiyeon mengatakan padanya kalau, saat ini dia sudah menjadi ayah.

 

.

.

.

Jiyeon berdiri di samping ranjang di mana Taeyong sedang terlelap. Namja ini tidak bisa berbuat apa-apa dengan dua kakinya yang patah itu. Mendadak Jiyeon mempunyai sebuah ide gila. Dia ingin menculik Taeyong dan membawanya pulang, toh selama bocah ini berada di rumah sakit ini tak ada keluarganya yang menjenguk.

 

Dia ingin menunjukkan dan mengajak namja ini mengurus Tae Yeon.

 

Keinginannya itu terwujut, Jiyeon membayar semua tagihan rumah sakit untuk Taeyong dan membawa namja ini tanpa sepengetahuannya, karena Taeyong sengaja di beri obat tidur saat di bawa menggunakan ambulance. Maklum para perawat pun sudah lelah dengan kerewelan bocah manja ini.

 

Hanya saja ibunya sedikit khawatir dengan aksi nekad Jiyeon. Dia beberapa kali mengingatkan, bagaimana jika keluarga Taeyong mencarinya, dan Jiyeon dianggap sebagai penculik.

 

”Dia ayah dari anakku. Taeyong tidak akan menyangkal kalau Tae Yeon adalah anaknya, meskpun dia menyangkalku, eomma.” Jawab Jiyeon tenang.

 

Wanita itu hanya menghela nafas.

 

Mereka tiba di rumah besar milik kelurga Park. Di dalam pagar itu terdapat dua bangunan, yang pertama bangunan utama tempat tinggal Ayah dan ibunya juga kakaknya, sedangkan bangunan ke dua, sengaja di tempati Jiyeon. Tadinya itu sebuah ruangan untuk menerima pasien, tapi karena saat ini ayahnya sudah tua dan tidak bisa lagi menjadi dokter yang teliti akhirnya ruangan itu direnovasi dan dijadikan tempat tinggal Jiyeon.

 

Mereka tinggal di daerah pegunungan yang sejuk, agak jauh dari kota Seoul, tapi tidak sulit untuk mencapai kota, karena ada jalan bebas hambatan yang mempermudah mereka bisa sampai ke Seoul dalam satu jam.

 

”Letakkan di sana!”

 

”Baik!” petugas medis itu meletakkan Taeyong di sebuah ranjang di kamarnya. Jiyeon ingin berdekatan dengan bocah ini dan melihat reaksinya saat membuka mata dan menemukannya.

 

Tae Yeon menangis,

 

Dengan cepat Jiyeon mengambil putrinya itu dan menggendongnya. Bibir Tae Yeon masih kasar saat menyusu padanya. Jiyeon tersenyum merasakan bayinya begitu rakus meminum susu dari payudaranya. Sama seperti ayahnya dulu…

 

Dia melirik Taeyong yang berkeringat,

 

Kenapa berkeringat, bukankah udara di sini cukup sejuk. Apakah dia demam.  Jiyeon meletakkan Tae Yeon dan mendekati namja itu, di sentuhnya kening Taeyong. Hm, dia sedikit demam, tapi sepertinya tidak terlalu berbahaya. Jiyeon mengambil termometer lalu memeriksa tensi darahnya. Sedikit banyak dia masih ingat bagaimana melakukan pertolongan pertama.

 

Taeyong tidak apa-apa, dia hanya sedang mengalami adaptasi dengan lingkungan barunya ini.

 

”Nggghhhh—”

 

Sepertinya dia mulai sadar. Tubuhnya bergerak, tapi tidak bisa bergerak bebas, kedua kakinya itu masih harus di ganjal bantal agar sedikit nyaman. Kasihan sekali! Pikir Jiyeon. Kemana keluarganya, kenapa mengabaikannya seperti ini, apakah mereka juga putus asa dengan tingkah lakunya, sampai tidak mengunjunginya di rumah sakit saat anak mereka mengalami kecelakaan.

 

Taeyong membuka matanya, tapi kemudian terpejam lagi. Mengerjap sambil menarik nafas dalam-dalam, lalu terpejam lagi. Jiyeon menunggunya dengan duduk di sebelahnya. Dia tak sabar ingin melihat bocah ini histeris dengan penampakannya.

 

Beberapa detik dia menunggu, tapi Taeyong tidak juga membuka mata. Apakah dia sedang beracting, tapi terlihat dengan jelas alisnya berkerut, dia mungkin berpikir, apakah ini sebuah mimpi atau halusinasi.

 

”Taeyong, kau bersamaku saat ini. Kau masih ingat aku?”  sapa Jiyeon sambil mengusap lengan bocah yang terlihat kumel itu. Sudah berapa hari dia tidak mandi.

 

”Taeyong!” panggil Jiyeon kemudian,

 

Perlahan namja itu membuka matanya, dan melihat senyuman Jiyeon menggodanya, atau cenderung seperti mengejeknya.

 

”Aku pasti bermimpi.”

 

”Ya, kau bermimpi.” sahut Jiyeon tenang. Dia mendekati wajah itu dan mengecup pipinya. “Wake-up sleeping Asshole!”  gumam JIyeon lirih, dia tidak mau putrinya mendengarnya bersumpah serapah.

 

Shit! Taeyong mengumpat dalam hati mendengar kalimat itu. Dia tahu pasti Jiyeon pasti akan balas dendam padanya. Ditatapnya yeoja itu dengan perasaan cemas.

 

”Hi Nunna, apa kabarmu?”

 

”Aku baik-baik saja. Apa kau tahu, aku menculikmu Taeyong.”  Bisik Jiyeon lagi.

 

“Aku tahu, ..”  diam sebentar sambil memindai sekitarnya, ruangan ini tampak seperti kamar di rumah sakit.   ”Apa yang akan kau lakukan padaku, Nunna?”

 

Jiyeon tersenyum sebentar, kemudian menggeleng. ”Aku tidak tahu, Taeyong. Apa kau bisa memberi bocoran apa yang harus kulakukan padamu?”

 

”Sepertinya kau memang dendam padaku.”  melemaskan bahunya

 

”Tenang saja, Taeyong. Aku tidak seperti itu! Aku bukan type pendendam,aku tidak berniat apapun padamu.”

 

”Lalu kenapa kau melakukan ini padaku?”

 

”Sederhana saja, aku memang membutuhkanmu. Itu saja.”  jawab Jiyeon sambil berjalan pada Tae Yeon yang terbaring di dalam buaiannya. JIyeon menggendongnya dan mendekatkan dia pada ayahnya yang hanya bisa tercengang.

 

”Aku tidak menyangka, bahwa di saat aku melahirkan Tae Yeon, aku bertemu denganmu di rumah sakit Taeyong. Kau ingin melihatnya. Wajahnya mirip dengan wajahmu. Dia cantik dan lucu—“

 

TAeyong melihatnya sekilas, membuat JIyeon kesal, tapi dia masih bisa menahan emosinya demi putrinya.

 

“Aku harus ke kamar mandi!”  ujarnya lirih.

 

Jiyeon menghela nafasnya. Ini sudah menjadi tanggung jawabnya untuk mengantar Taeyong ke kamar mandi, tapi entah kenapa dia sedikit mengulur waktunya.

 

”Sebentar, Tae Yeon lapar, dia tadi belum sempat menyusu padaku.”

 

Wajah itu melengos canggung, ketika Jiyeon membuka kancing bajunya dan memperlihatkan bentuk payudaranya di depan Taeyong. Jelas pemandangan seperti itu sedikit membuat namja ini gugup, meskipun dulu dia pernah merasakan bentuk payudara itu berada di mulutnya, sama seperti saat ini Tae Yeon sedang menyesap dan mengulumnya.

 

Jiyeon bersikap biasa saja dan senormal mungkin, karena dia sedang memberi asupan gizi untuk putrinya, dan juga putri dari namja di depannya ini.

 

”Aku mau ke kamar mandi Jiyeon, aku sudah tidak tahan!”

 

”Ssst! Jangan berisik, Tae Yeon harus tertidur lagi. Kalau kau ingin ke kamar mandi, kenapa tidak pergi sendiri. Kamar mandinya itu, di dekat lemari itu!” tunjuk Jiyeon pada pintu di dekat lemari, tapi Taeyong mengerutkan alisnya.

 

”Bagaimana mungkin aku bisa ke sana, kakiku cidera seperti ini Jiyeon!”

 

Namun Jiyeon hanya mengangkat dua bahunya masa bodoh. Biar dia rasakan! Pikir Jiyeon dalam hati.

 

”Kau pasti sengaja!”  lirih bocah itu dengan tatapan membidik

 

”Bagaimana jika iya?”

 

Tidak ada jawaban, dan mereka saling menatap. Beberapa detik kemudian, Jiyeon mengembalikan Tae Yeon pada buaiannya. Dia berjalan ke kamar mandi dan mengambil urinal yang sudah dia siapkan.

 

Taeyong melihatnya, dan sedikit gusar dengan benda itu.

 

”Apa kau akan menyuruhku buang air kecil pada benda itu?” tanyanya histeris

 

”Ssst! Jangan berteriak, anakmu sedang tidur!”  Jiyeon meletakkan alat itu di lantai, kemudian membantu Taeyong untuk bangun dari posisi tidurnya, dia duduk dengan dua kakinya dia letakkan di atas bangku, Jiyeon melirik sebentar ekspresi yang ditampilkan Taeyong ketika dia menyentuh resleting celana itu.

 

”Biarkan aku sendiri saja!”

 

”Kenapa? Apa kau malu? Kenapa harus malu, dengan benda itu, kau berhasil membuatku hamil, lalu kenapa kau harus malu.”  Jiyeon bersikeras untuk membuka celana Taeyong. Di dalam otaknya tidak terbesit pikiran mesum, karena kenyataannya Taeyong memang belum diijinkan untuk ke kamar mandi. Dua kaki yang masih di gips ini tidak boleh terkena air.

 

”Apakah harus seperti ini?” namja itu tampak risih, sementara Jiyeon tanpa sungkan memegangnya dan mengrahkan penis itu untuk membuang urine-nya. Dia tidak ingin urine itu tercecer dan mengotori lantai dan juga karpetnya.

 

Taeyong cukup banyak membuang air seninya, dan Jiyeon melayaninya dengan baik tanpa rasa jijik. Dia melanjutkannya dengan menyeka tubuh Taeyong yang terlihat kotor. Selama berada di rumah sakit, dia menolak untuk diperlalukan seperti ini, tapi ketika tangan Jiyeon menyentuhnya, dia merasa tenang dan nyaman.

 

Dengan penuh kesabaran Jiyeon mengusap tubuh Taeyong tanpa terkecuali. Bahkan mengganti pakaian dalamnya juga. Namja itu merasa tidak enak dengan semua itu. Hatinya terenyuh menerima perlakuan baik Jieyon. Semua pikiran buruknya pada wanita ini lenyap dengan sendirinya.

 

Sekarang dia merasa segar dengan tubuh yang bersih.

 

”Jagalah Tae Yeon sebentar!”  Jiyeon menyerahkan putrinya pada pria itu,

 

”Kau mau ke mana?”

 

”Aku mau memasak dulu. Kau harus makan. Apa kau tidak lapar?”  Jiyeon berjalan ke arah pintu,

 

”Lalu bagaimana jika Tae Yeon menangis?”

 

”Peluk saja dia, nanti akan diam.” Jiyeon tersenyum sendiri meninggalkan Taeyong yang terlihat gugup dengan anaknya sendiri.

 

.

.

.

Tbc.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. rasma says:

    njirr dah tu jiyeon tampa rasa canggung bantuin tae pipis tae kan jadi mati kutu kkk.keren jiyeon balas dendam nya secara lembut. tapi was” juga sih apa taeyong mau ngakui anak nya ..secara dia dulu nolak..

    1. mochaccino says:

      ya, di chapter 7nya jawabannya.

  2. Edc says:

    Ksihn jy lhrin prematur… Eh tpi knp tae” ada di rs? Trus jg knp kakiny bsa ptah gtu,? Kok g da kluarga yg nmenin.. Ya ampun jy baik bngt sih.. Smoga aj tae” cpet sdar dg kelakuannya.. & nrima jy ma taeyeon mski sebel jg sih ma tae”!!

  3. kwonjiyeon says:

    shit lana bner3 bkin horny jiyi megang apaaaa???????

  4. May andriani says:

    Taeyong knp bisa blapan di dket rmah jiyeon?? Trus apa taeyong msih benci sma tuan.park ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s