LIE TO ME 7th


you r not my destiny

Lie To Me – 7

Park Jiyeon and Lee Taeyong

”Lalu bagaimana jika Tae Yeon menangis?”

”Peluk saja dia, nanti akan diam.” Jiyeon tersenyum sendiri meninggalkan Taeyong yang terlihat gugup dengan anaknya sendiri.

.

.

.

Beberapa hari Taeyong berada di dalam kamar, mendengar Tae Yeon menangis, dan menjerit keras, mengganggu tidurnya, dan suasana hening yang dia inginkan . Wajahnya selalu terpasang muram tapi juga ada rasa penasaran ketika Jiyeon menggedong putrinya. Ada rasa ingin mengintip wajah anaknya ketika dia berada dalam gendongan, terlebih ketika dia sedang menyusu. , namun ketika Jiyeon mendekatinya dan menepuk pipinya, namja itu tidak berani melakukan apa-apa. Kakinya belum sembuh, dia tidak bisa melakukan apapun, dan dia yakin saat ini orang tuanya pasti sedang mencarinya.

”Jangan menganggapku musuh, Taeyong!”  Jiyeon duduk di sebelahnya, memangku putri kecilnya dan membelainya dengan penuh cinta.

”Aku butuh istirahat.”  keluhnya lirih, dengan wajah yang memelas frustasi.

”Kau tidak melakukan apapun, kau hanya melihat bagaimana putirmu ini tumbuh. Kau tau, seharusnya kau merasa senang, ada yang mengurusmu Taeyong.”

”Apa kau begitu dendam padaku?”   namja itu melirik sedikit rasa takut.

”Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak dendam sedikitpun padamu.”

”Apakah kau mencintaiku?”

Jiyeon mengangkat wajahnya dan memberikan senyuman untuk pria tampan di sebelahnya.

”Apa kau tidak merasa terhormat jika seorang Jiyeon ini mencintaimu, Lee Taeyong?”

Dia terdiam, tidak berani menjawab, memperhatikan wanita itu membawa putrinya kembali ke tempat tidurnya, kemudian kembali ke sisinya. Mereka saling menatap sebentar.

”Apa aku terlalu memperlakukanmu buruk, Lee Taeyong Ssi?”  ditariknya selimut untuk mereka berdua.  Taeyong menggeleng,

Kenapa Jiyeon mengucapkan namanya berkali-kali setiap kali diamenjawab pertanyaannya.

”Mereka pasti akan mencariku, Jiyeon.”  dia terbaring, menyandingi Jiyeon. Malam ini suasana menjadi lebih hening ketika putri mereka tertidur.

”Baiklah, biarkan mereka mencarimu. Lalu kenapa, Lee Taeyong?”  matanya memberikan senyum untuk kegelisahan Taeyong.  ”Aku akan menyerahkanmu, Lee Taeyong.”jawab Jiyeon dengan hati sedikit terhimpit.

”Aku tidak ingin mereka menyakitimu.”

”Kalau begitu lindungilah aku, dan juga purtimu. Kami berhak mendapatkan prioritas utamamu, Lee Taeyong.”

”Berhentilah menyebut namaku seperti itu, Nunna.”

Jiyeon tersenyum,

”Kenapa?”

”Entahlah, aku merasa aneh.”

”Itu kann namamu, aku hanya ingin putri kita mendengar aku menyebut nama ayahnya.”

Taeyong terdiam, manatap langit-langit ruangan.  Mungkin ini sudah satu minggu berjalan sejak hari itu,dan Jiyeon memaksanya untuk ikut mengasuh Taeyon, menimangnya, menggendongnya meski dalam posisi duduk.  Semua itu terasa aneh bagi seorang Taeyong.

”Lebih baik kau mengatarkan aku kembali ke rumah sakit itu, agar mereka bisa menemukan aku di sana..”

”Kenapa, kau tidak mau mereka menemukan aku?”

Namja itu menoleh pada posisi Jiyeon yang sedang memiringkan tubuhnya menatapnya. Tidak ada jawaban.

”Taeyong, aku adalah satu-satunya wanita dalam hidupmu. Katakan itu!”tegas Jiyeon dengan senyumnya. Sepertinya dia ingin memberikan keyakinan itu pada namja di sisinya.  ”Dan kau adalah satu-satunya laki-laki dalam hidupku.”  lanjutnya.

”Aku tidak harus mengatakan hal yang sama, kan!”

Jiyeon terkekeh miris.

”Hm, tidak! Terserah kau saja. Aku hanya ingin mengatakan padamu apa yang ingin kukatakan.”

Jiyeon memejamkan matanya, berusaha untuk tidur, tapi tangan Taeyong menyentuhnya. Mereka saling menatap… jangan katakan kalau namja ini menginginkannya.

”Aku ingin~”

”Ingin apa?”  Jiyeon berusaha untuk bersikap tenang, meski pipinya sudah merona.

”Ingin ke toilet.”  cengirnya lembut, seakan menggoda,

Jiyeon bangkit dan beranjak, dia sudah merasa hilang kendali saat mendengar bocah ini mengatakan’ingin’ God, ke mana imajinasinya ini menari. Tapi namja pendiam sepertinya, sungguh menggairahkan. Jiyeon tidak memungkiri, kalau beberapa hari ini selama membantunya buang kecil, hasratnya sedikit liar dan imajinasinya membawanya sendiri ke masa lalu, ketika Taeyong dengan ganasnya menyetubuhinya, menanamkan kejantanannya di dalam tubuhnya. Membuatnya harus merasakan kenikmatan yang luar biasa.

”Nunna, kau tidak usah lagi membantuku sekarang, aku sudah bisa sendiri.”

Jiyeon mengangguk dan berjalan keluar dari toilet dengan wajah kecewa, what? Kecewa.  Sudahlah ini keterlaluan karena terlalu berharap. Bisa-bisa dia nanti akan mengandung bayi kedua.

Suara gemericik air kecingnya terdengar menggema di keheningan dan Jiyeon hanya memutar bola matanya. Tadi pagi dia masih bisa memeganginya, dan membuat Taeyong tersenyum aneh untuknya. Terlebih lagi ketika dia harus menyeka tubuh itu, membersihkannya dari debu dan keringat.

”Nunna, kau masih berdiri di sini?”

”Sudah selesai?”  Jiyeon membantunya berjalan kembali ke atas ranjang.

”Thanks Nunna,  kau selalu bersikap baik padaku.”

”Hm, ” sahut Jiyeon sambil menarik selimut untuk Taeyong, tatapan bocah itu mengekorinya sampai Jiyeon kembali ke sisinya dan menarik selimut yang sama.

”Nunna…”

”Tidurlah!”  Jiyeon mematikan lampu di sisinya,kemudian memejamkan mata. Dia tidak lagi ingin membicarakan apapun dengan Taeyong karena seharian ini dia sudah lelah. Sangat lelah… tapi kemudian, dia merasakan tangan itu mengusap kepala dan rambutnya. Jiyeon mendiamkannya dan memilih meresapinya.

Setiap malam mereka tidur bersama di dalam ranjang yang sama, dan Taeyong pun harus ikut merasa repot ketika Taeyeon bangun dan meminta perhatian dari ibunya. Mau tidak mau, namja itu membantu Jiyeon. Di saat air susu Jiyeon kurang cukup untuk membuat putrinya kenyang, tak jarang Jiyeon harus membuatkan susu tambahan, dan Taeyong ikut membantu mengganti popoknya, kemudian menimangnya dan menidurkannya lagi. Lama-lama, dia terbiasa dengan Taeyeon. Dia mulai mengajaknya bicara, dan diam berlama-lama menatap wajah putrinya.

Jiyeon pun selalu sigap melatih Taeyong berjalan kembali, memanggil dokter untuk memeriksa kondisi kakinya, dan dalam waktu satu bulan kemudian, Taeyong sudah bisa berjalan lagi, meskipun masih dibantu dengan tongkat. Dia sudah bisa berjalan-jalan di luar ruangan yang langsung berhadapan dengan halaman samping yang luas.

Di saat Jiyeon sedang memandikan Taeyeon sinar ultraviolet, dia pun memperhatikan Taeyong berjalan-jalan, sesekali mereka saling menatap. Interaksi tanpa ekspresi itu menyamankan batin Jiyeon, namun entah untuk berapa lama. Jika apa yang dikatakan Taeyong benar, maka dia tidak bisa menahan Taeyong untuk tetap berada di sisinya, kecuali Taeyong sendiri yang rela untuk bersamanya.

Namun mendadak suasana tenang dan damai mereka diganggu oleh suara derungan mobil yang mungkin berjumlah tiga terparkir di depan pagar rumahnya. Jiyeon melihat pembantunya berlari untuk membukanya sedangkan Taeyong yang tengah berdiri di dekat keranjang Taeyon menatap canggung pada kehadiran seorang wanita yang langsung menghampirinya. Jiyeon sudah bisa menduga kalau wanita itu adalah orang tua Taeyong.

Eomma!” sapa namja itu lirih.

Kemudian beberapa orang muncul, mereka terlihat sedang berjaga seperti ada seorang penjahat yang akan mereka tangkap.

”Apa yang kau lakukan di sini?”  tanyanya dingin, denga sorot mata yang begitu jeli menyimak situasi, berganti-ganti melirik ke arah Jiyeon yang kemudian menghampiri.

”Silahkan duduk Nyonya!”  Jiyeon mempersilahkan wanita itu untuk duduk.

”Kau siapa?” sinis

”Saya Park Jiyeon, pemilik rumah ini.”

”Kau akan kuadukan karena sudah berani menculik putraku.”

Jiyeon dan Taeyong saling menatap.

Eomma, sudahlah!”

”Atas hak apa kau membawa anakku ke sini?”  nada bicarannya begitu tinggi, sampai Taeyeon harus terbangun, dan seketika itu Taeyong menggendongnya. Wanita itu bertambah kaget.

”Taeyong, apa yang kau lakukan?”

Eum, kau membangunkan tidurnya Eomma. Tidak bisakah kau bicara pelan?”

”Kenapa kau menggeondongnya?Apakah bayi ini anak wanita ini?”  Jiyeon mengambilnya dari pelukan Taeyong. Di dalam hatinya, Jiyeon cukup senang karena Taeyong sudah bisa merespon kondisi anaknya. Taeyeon tidak menangis, saat di gendong ayahnya, namun kemudian menjadi menangis saat Jiyeon mengambilnya. Tatapan Taeyong begitu cemas, tapi Jiyeon menenangkannya.

”Eomma, dia anakku.”  ujarnya kemudian, baik Jiyeon dan wanita itu sama-sama terkejut. Bagaimana mungkin Taeyong mau mengakuinya secara sadar bahwa Taeyon adalah putrinya. Eoh, ingin rasanya Jiyeon memeluk bocah itu tapi ketika melihat tatapan ibunya, Jiyeon hanya memberikan senyuman pada Taeyong. Hatinya sedang mengatakan terima kasih karena berani mengakui Taeyeon adalah anaknya di depan wanita ini.

”Eomma tidak mengerti? Bagaimana mungkin kau bisa mempunyai anak dari wanita ini. Bukankah dia terlihat lebih tua darimu. Lagi pula siapa dia dan apa maksudnya membuat dirinya hamil darimu?”

Eoh, kalimat itu begitu menyakitkan, dan jujur saja sangat tidak pantas untuk dikatakan oleh wanita terhormat sepertinya.

”Sewaktu di rumah Paman, waktu itu—”

”Aku tidak perlu mendengarnya. Apa kau pikir aku bisa menerima ini?”  potongnya.

Kemudian dua orang maju untuk menggandeng Taeyong. Pria itu ingin memeberontak saat akan di bawa dari sisi Jiyeon. ”Eomma, biarkan aku di sini dulu.”

Detak jantungnya seakan mengembara hingga ke tenggorokannya saat melihat Taeyong akan di bawa pergi, sedangkan wanita itu menatap sinis padanya.

”Aku akan memperkarakan masalah ini pada polisi. Kau dengan sengaja menebus putraku dari rumah sakit dan membawanya ke sini. Semua ini bukan hakmu, kau bukan siapa-siapanya tapi sudah begitu lancang mengambil hak-hak kami sebagai keluarganya.”

”Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud begitu, saya melakukannya karena saya perduli pada Taeyong, dan saya memberikan perhatian dan perawatan yang baik. Ayah saya seorang dokter, jadi saya tidak merasa khawatir dia berada di sini.”

”Di mana ayahmu?”  matanya berpindah pada bangunan rumah yang tampak sepi. Kebetulan memang mereka sedang tidak ada di rumah, karena ibunya sedang membawa ayahnya untuk berobat ke rumah sakit atas penyakit jantungnya.

”Mereka sedang pergi. Maafkan saya karena tidak bisa mengenalkan ayah saya pada Anda.”

”Siapa namamu tadi?”

”Park Jiyeon.”

”Dengar Park Jiyeon, aku tidak akan melepaskanmu karena masalah ini. Aku akan membawa Taeyong pergi dari sini, dan jangan mengganggu kehidupannya lagi, terlebih mengenai anak ini. Aku tidak akan pernah mengakui dan menerima kalau Taeyong mempunyai seorang anak dari wanita sepertimu!”

Setelah mengatakan kalimat itu, dia pergi. ’Wanita sepertimu’.  Jiyeon terkekeh mendengarnya. Memangnya Jiyeon wanita seperti apa?

Di kejauhan Taeyong terus menatap ke arah Jiyeon tanpa bisa mengatakan apapun. Mungkin memang semua ini harus berjalan seperti ini, tapi kenapa saat ini hatinya merasakan sakit itu lagi. Lebih sakit, karena selama kebersamaan mereka ini, dia sudah menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya. Bahkan semalam Taeyong sempat menyentuh wajah Jiyeon, mengamatinya di saat Jiyeon pura-pura terpejam.

Tolong katakan kalau dia bukan takdir hidupnya. Jangan dia, karena ini sungguh menyakitkan jika kenyataannya selalu akan seperti ini.

Just tell me that he is not my destiny…

.

.

.

tbc

Advertisements

13 Comments Add yours

  1. riska niami says:

    Akhirnyaa eonni publish disini.. . Kemaren aku udah baca juga di blogspot eoni… Tapi aku nggk pandai masukin akunku buat coment berkali2 ku coba tapi nggk bisa… Ommo kasihan jiji ditinggal lagi sama taeyong padahal baru blketemu lagi… Eonni please palli lanjutkan….

    1. mochaccino says:

      iyah aku ngerti lah kalo di blog emang katanya pada susah, tapi aku belum ngecek kali ada yg kena spam. bedeweh makasih…kaga jadi pos di wattpad.

      1. riska niami says:

        Kok nggk jadi sih eon?

      2. mochaccino says:

        udah mo ending, males ngeposnya. padahal kalo di wattpad paling gampang, ga perlu nulis judul lagi. haha..ntar aja aku kasih ff baru lagi, tau Hong Jong Hyun ga, yg jadi pangeran jahat di moon lover. dia akan aku jadiin moster, judulnya pure monster. hardcore romance.

    2. mochaccino says:

      ya, sabar aku lagi lanjutin yg walkin’ the dream juga sama until you comeback

      1. riska niami says:

        Op iya iya eon aku tau dia yng ikut we got married sma yura girlsday… Omoo benarkah eon… Ditungu lo eon… Pasti seru… Palli eon lanjutkan yang lainbditunggu bngt dn.. Lie to me nya juga… . Semuanya deh pokokny fighting eon

  2. padahal si taeyong dah mulai nerima taeyeon dikehidupanya. gimana enggak sayang cobak sebulan lebih denger suara tangisan, buatin susu ama ganti’in popoknya, nah tiba-tiba eommanya dateng bawa pasukan. nextnya post sini aja ya, biar gampang komenya.

    1. mochaccino says:

      postnya di sana sini, tapi duluan di sana. ga papa yach…

  3. Edc says:

    Ahhh…kog jdi gni sih,, glirn tae” udh ngakuin..eh mlah skrng gntian kluargny… Ya ampun jy knp kmu baik & sbr bngeett sih ?? Hrusny kn mrk brsyukr pny jy kog mlah mw di laporin ke polis.. Toh jy jg pny hak ats tae” kn scr dia kn ayahny taeyeon y wlopun jy blum nikh ma tae”… Ah pkokny sebel sma kluargany tae”, pntsan aja sikpny tae” ngselin gtu..
    Next kak lana.. FIGHTING

    1. mochaccino says:

      iya Dear, makasih yach

  4. loveJIYEON says:

    Bru aja snang mlihat taeyong udah mula mnerima taeyeon jga jiyeon tp mlah ommanya dtg mmbawanya pergi..aku kesal bgt..apalagi saat ommanya mngatakan ‘wanita sepertimu’,aku jgak ikutan sedih..aku hrap taeyong mmg tkdirnya jiyeon..n moga aja mreka bisa brsama sbagai stu family lg…

  5. Dwiki says:

    Aishhhh eommanya taeyong ngeselin bgt sih sumpah aja. Kasian jiyii kyk nya rendah bgt dihadapan eommnya taeyong

  6. May andriani says:

    Knp ibunya taeyong tau kberada.an taeyong ya?? Trus apa dia tau klu jiyeon anknya tuan.park?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s