LOVE SKY [2]


love-sky-sehun

LOVE  SKY 2

Pemeran

Oh Sehun

Park Jiyeon

DO Kyungsoo

Kyungsoo menjejerinya duduk di meja makan kantin. Porsinya besar, dengan dua paper cup berisi coke soda yang masih berbuih. Jiyeon melirik jijik. Itu makanan para pecundang, pikirnya memaki dalam hati. Jelas kalau dia lontarkan akan terjadi perang antara Hilary Clinton dan Donald Trumph yang berebut meraih kursi kepresidenan.

 

”Kenapa?”  tanya Kyungsoo dengan bibir berbentuk hatinya, juga bola matanya yang serupa dengan bulatan bakso ikan  di dalam soupnya.

 

 

”Kau mengingatkanku pada seseorang.”

 

”Siapa?” Selidik Kyungsoo,

 

”Rahasia.” jawab Jiyeon sambil menjauh

 

”Siapa?”

 

”Sudah kubilang rahasia.”

 

”Apakah Fans nomor satumu itu?”

 

”Siapa yang kau bilang fans nomor satuku itu.”  Jiyeon sebenarnya sudah tahu siapa yang Kyungsoo maksud. Fans nomor satu itu, ya tetangga sebelah rumahnya. Oh Sehun.

 

”Dia itu tidak sepertimu. Dia itu sopan, dan teratur cara makannya juga sangat berhati-hati. Dia selalu memasukkan suapannya satu persatu ke mulutnya—”

 

”Ya jelas memasukkan suapan itu satu persatu, mulut juga hanya satu!” protesnya.

 

”Agh Sudahlah, aku sedang malas bicara denganmu!”

 

”Kau pikir aku senang bicara denganmu!”  Kyungsoo mencibir, melengos ketika Jiyeon berlalu membawa nampan kosongnya ke pantry. Di perjalanan dia bertemu dengan yeoja itu, Aki. Orang Jepang yang dulu menjadi pacar Oh Sehun. Hironobu Aki. Si seksi dari bagian IT.  Dia yang dikatakan sebagai dokter PC. Malas! Jiyeon melengos serupa dengan tingkah Kyungsoo.

 

”Park Jiyeon-Ssi!” sapanya.

 

”Ya, Miss Aki!”  sahut Jiyeon, semoga dia tidak menanyakan Oh Sehun.

 

”Apa khabar Oh Sehun?”

 

SIAL! Terpaksa menahan langkah.

 

Cengiran membayang setengah hati, ”Masih hidup.” jawab Jiyeon yang kemudian berlalu tanpa permisi.

 

”Kenapa pergi?”

 

”Sudah waktunya bekerja lagi.”

 

”Tapi aku belum selesai.”

 

”Tidak bisakah nanti saja.”  masih berusaha menawar

 

”Jiyeon Ssi, tolong katakan kalau dia harus melunasi hutangnya padaku.”

 

Aki tersnyum dan menggeliat puas, dia pergi setelah mengatakan itu. Jiyeon mencibir kesal. Memangnya Sehun punya hutang padanya. Menyebalkan! Kenapa ganteng-ganteng pengeretan!  Maki Jiyeon. Dia harus melaporkan ini pada Ayahnya.

 

”Jiyeon, kita syuting jam dua!”  Kyungsoo berkicau sambil lewat.

 

.

.

.

 

Ponselnya di matikan. Sejak kapan ponselnya berani dimatikan di jam-jam seperti ini. ”Oh Sehun! ”  teriak Jiyeon di depan layar ponselnya sendiri yang mati, memaksa orang-orang disekitarnya melirik. Dia baru sadar sedang mengantri di ATM.  ”Mianhae!”  tuturnya pada semua orang.

 

Mendadak ponselnya berbunyi lagi tapi bukan dari Sehun, melainkan dari ayahnya. ”Appa!” lirihnya kali ini

 

”Kenapa menghubungiku sejak tadi?” Lho?  Jiyeon memperhatikan nomornya. Bukankah ini nomor ponsel Ayahnya, tapi kenapa itu suara Sehun.

 

”Kenapa kau memakai ponsel Ayahku?”

 

”Karena aku sedang bersamanya.”

 

”Kalian di mana?”

 

”Di apartemenmu, aku sedang membuat yakionigiri kesukaanmu.”

 

Gadis itu menghentakkan kaki seperti biasanya jika sedang kesal, kembali mengundang tatapan orang disekitarnya

 

”Itu bukan makanan kesukaanku, tapi kesukaanmu, Oh Sehun!”

 

”Tidak apa-apa, aku juga membuatnya untukmu.”

 

”Tapi kau memakai bahan makananku!”

 

”Kau juga sering menghabiskan jus jerukku, setiap pagi!”

 

”Yak. Oh Sehun!”

 

”Sebentar, Ayah sedang memanggilku.”

 

”Itu ayahku!”

 

”Aku tahu, kau jangan serakah! Aku juga bisa memanggilnya Ayah.”

 

”Sehun, kau berhutang pada Aki. Berapa hutangmu padanya?”

 

”Aki siapa?”

 

”Hironobu Aki. Kau pura-pura lupa?”

 

”Nanti aku bisa jelaskan! Cepatlah pulang, ayahmu menunggu, aku juga.”

 

Lalu terdengar nada ’tut’ – senyap.

 

”Nona, kau jadi mengambil uang atau tidak?”  tanya orang di belakangnya, ternyata Jiyeon sudah berada  di depan mesin ATM itu.  Dia harus mengambil uang cash untuk keperluan sehari—hari.

 

.

.

.

 

 

Sehun menyambutnya dengan mulut penuh, dan mata membulat. Dia menyeka sisa nasi di bibirnya. ”Di mana ayahku?” Jiyeon mengusap lagi bibir itu yang masih menyisakan satu butir nasi di sudutnya.

 

”Thanks! Dia sedang tidur, mungkin kekenyangan.” cengir Sehuh senang

 

”Apa kau memberinya obat tidur?” tuduh Jiyeon.

 

”Jangan keterlaluan, Park!”  menariknya duduk di sofa, dan menyerahkan satu piring yakionigiri di depan figur lelahnya. ”Kau harus mencobanya!”

 

Jiyeon mengerut ragu. ”Yakin kau tidak memasukkan strawberry ke dalamnya?”

 

”Aku bersedia menciummu lagi jika aku salah!”  memutar bola matanya. Uphs, wajah yeoja di depannya memerah.

 

”Baiklah, aku akan mencobanya.”  jadi siapa yang rugi di sini? Sehun atau Jiyeon. Gadis itu mengunyah pelan, memastikan texture nasi dan kandungan isian dari onigiri buatan Sehun yang sepertinya terlihat enak ini. ”Hm…”.

 

Namja tampan berkulit putih itu meregang senyuman ketika Jyeon menjatuhkan punggungnya di sofa.

 

”Sudah kubilang ini enak.” ujarnya puas.

 

”Hm, enak sekali!”

 

”Jangan terlalu lelah!” pintanya dengan kesadaran penuh.

 

”Aku baik-baik saja!”  sambil mengambil satu onigiri lagi.

 

”Dokter Yoo bilang kau belum memeriksakan diri.”

 

”Aku sehat.”

 

”Ayahmu bangun!”

 

Jiyeon bangkit dari duduknya menyambut ayahnya yang sedang mengusap matanya. Dia tampak lebih tua belakangan ini, pikir Jiyeon.  Beberapa waktu lalu Jiyeon bahkan belum menemukan uban di helai rambut pria kesayangannya ini.

 

”Appa, kenapa rambutmu memutih?”

 

”Memikirkanmu.”

 

”Sudah kubilang dia mencemaskanmu. Aku juga!”

 

Jiyeon menoleh sengit, tapi dia mengusap pipi itu dan membuat pria di sampingnya tersenyum dan membalas dengan hal serupa pada Jiyeon.

 

”Kalian ini kenapa tidak menikah saja!” gerutu ayahnya.

 

Komentar itu membuat wajah Jiyeon muram.  KEnapa Jiyeon tidak menikahi Sehun, kalau kenyataannya mereka saling suka, saling cinta, dan saling membutuhkan satu sama lain.

 

”Kami akan memikirkannya.” jawab Sehun

 

Peristiwa itu sudah lama berlalu, dan Jiyeon tidak ingin mengungkitnya. Dia merasa baik-baik saja dengan hubungan yang sekarang ini. Meskipun teman, tapi mereka mesra.

 

Hubungan yang rumit, dan semakin rumit dengan sikap Sehun yang selalu mengalami fruktuasi emotional yang berbeda.   Dulu mereka menjalin hubungan, memupuk perasaan cinta dan sebagainya. Indah, sampai pada akhirnya, dia datang.

 

”Jangan terlalu diambil pusing, aku tidak apa-apa dengan hubungan kita yang sekarang ini.”  bisiknya.

 

”Ya, teruslah bersembunyi di balik sebuah predikat sebagai fans nomor satuku.”

 

”Apa kau sudah punyakekasih, Jiyeon?”  ayahnya menengahi pembicaraan Sehun dan putrinya.

 

”Kalau dibilang kekasih bukan, Appa. Kami partner dalam bekerja.”  jawab Jiyeon, dan Sehun mencibir jika dia sudah mendengar Jiyeon menyinggung masalah itu.

 

”Maksudmu Kyungsoo?” sebut ayahnya

 

”Ya. ”

 

”Dia itu pendek!” ejek Sehun.

 

”Aku tau,”

 

”Dan kau lebih sering bertengkar dengannya.”

 

”Aku tau.”

 

Sehun mengacak rambut Jiyeon. Dia pikir, dia tidak sedih apa memikirkan seseorang seperti Sehun. Mungkin jika semua orang selalu melihat Jiyeon selalu tersenyum dan menebar keceriaan sampai ke sudut-sudut gelap di studio tempat kerjanya, itu tidak bisa mengurangi rasa galaunya memikirkan bagaimana dia harus menghadapi Sehun setiap harinya.

 

Perpisahan itu sudah lama,

 

.

.

.

tbc

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. sintadw91 says:

    Ini yg di wattpad juga kan??? Dlanjut terus y… hehehhe

    1. mochaccino says:

      iya, ini sama aja di sana sini sono, akan dilanjut lah, tapi ini chapter pendek, bentar lagi kelar.

  2. Edc says:

    Eh..emgny hunji prnh brsma y?? Trs knp mrk pisah klo sling cnta & lainny toh kykny ayah jy jg ngerestuin tuh,, klo jy ma kyung” yg ada mrka sensian mulu g ada mesra”ny,,hehe
    trus shun jg pny hutng ma aki,, emg hutng ap?? Uang?? Klo iya brarti bner tuh kta jy gnteng” pngeretan..hehe

    1. mochaccino says:

      hahaha… iyah nanti akan aku terusin ke chapter 3.

  3. May andriani says:

    Duh mian baru sempet bca ff km lana,, aq lnjut bca ff lainnya yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s