Rose In The City [Part-10]


rose-in-the-city1

Rose In The City – 10

Cast |  Song Joong Ki, Park Jiyeon,

Support Cast | Kim Heechul, Yuka Tachibana [OC]/Heechul’s step sister

 Genre | ROmance – Angst

Length | Chapter

Rated | PG

Disclaimer | I own nothing but the story

.

.

 

Jiyeon meninggalkan halaman kampus dan menaiki taxi. Bagi Yuka ini tidak terlalu aneh, kerena semenjak JIyeon mengenal laki-laki itu, dia tidak pernah lagi menggunakan jasa angkutan Bus yang selama ini digunakannya.  Kenapa dia harus melakukan ini. Membuntuti sahabatnya sendiri. Kasihan kakaknya  jika dia tidak tahu apa yang dilakukan calon istrinya itu. bukannya dia ingin membela Heechul yang terang-terangan mengakui kalau dia bukan laki-laki setia juga untuk Jiyeon, tapi itu bisa dikatakan wajar meski sialan untuk kaum laki-laki yang cenderung bersikap tidak setia pada pasangannya.

 

Yuka tidak pernah merasa sepanik ini menghadapi sesuatu, terlebih ini bukan persoalan sederahana. Jika memang Jiyeon menyerahkan tubuhnya pada laki-laki lain, maka gadis itu tidak akan dia ampuni.

 

“Oppa, kau di mana?” Yuka berdiam diri di sebuah bangku di halaman gedung apartemen di mana Jiyeon baru saja memasukinya. Temannya itu tampak tergesa-gesa ketika memasuki bangunan paing elite di kawasan ini.

 

“Aku dalam perjalanan menemui client. Kenapa ?”

“Apakah kau bisa menjemputku?”

“Yuka, aku sedang sibuk.”

“Aku benar-benar ingin kau menjemputku sekali-kali, Oppa!”

“Tapi tidak di saat-saat seperti ini.”

“Kumohon!”

Heechul mendengus—

“Kau di mana?”

“Di Gedung Apartemen dekat dengan Galery Pauline. Kau tahu apartemen berlantai duapuluh lima itu—“

“Astaga, Yuka kau menghitung jumlah lantainya?”

“Ya, kau mau apa?”  kesal Yuka

“Agh, baiklah! Aku satu jalur ke arah sana.”

“Aku menunggu di halaman, dekat dengan pintu masuk.”

“Sebenarnya kenapa kau bisa sampai di tempat itu?”

“Aku di rumah teman,”

“Kenapa tidak naik taxi atau Bus seperti biasa. Di mana Jiyeon?”

“Aku tidak tahu. Kenapa kau tanya padaku, kami bahkan tidak satu tempat kuliah!”  semakin kesal dan emosi.

“Aku sudah di depan gerbang, apakah aku harus masuk?”

Yuka menoleh dan melihat mobil kakaknya itu melaju lambat memasuki area parkir.

 

.

.

.

 

 

“Tuan Song!” Jiyeon memanggil sekali sambil meletakkan buku-bukunya di atas meja. Tadi menurut sopirnya, Tuannya itu sudah kembali. Dia membuka kulkas dan mengambil air dingin kemudian berjalan ke arah kamar, dan menemukan pria itu sedang terbaring di sana. Mungkin dia lelah dan tertidur, jadi Jiyeon tidak akan mengganggunya dan kembali ke dapur untuk membuat makan malam untuknya.

 

Dia masih mempunyai waktu hingga jam delapan nanti, karena Heechul mengajaknya bertemu membahas masalah pernikahan mereka dengan ibunya.

 

“Kau sedang apa?”

“OH GOD!” Jiyeon tersentak kaget, menghindar dari seragapan Joong Ki yang mendadak berada di belakangnya. Hampir saja wajan yang dipegangnya terjatuh

“Kupikir Anda tidur.”

“Aku pura-pura, kupikir kau akan mendekatiku dan memelukku.” Dia mengambil pinggang Jiyeon dan berusaha menariknya, tapi Jiyeon mundur.

“Aku akan membuatkan makan malam untuk Anda.”

“Eoh, baiklah!”

 

Ting Tong

 

Mereka saling menatap, kemudian Joong Ki berjalan untuk melihat tamunya dari interkom. Dia  mengernyit sebenetar sambil melirik ke arah Jiyeon yang sibuk di dapur. Kenapa pria ini ada di sini, pun dengan yeoja itu. siapa dia?

 

Joong Ki tidak ingin membiarkan pria ini masuk, terlebih semua itu akan membuat Jiyeon terpojok.

 

Jiyeon yang curiga, meneliti sikap canggung Tuannya itu yang masih berdiri di depan interkom yang masih menyala itu. “Tuan Song! Kenapa tidak dibuka?”

 

“Apakah harus?”  tanyanya.

Jiyeon merengut, mengambil langkah mendekat. Di jarak separuh lengan itu dia membeku, dan menghempaskan nafas dengan rasa panik.

 

“Apakah aku harus membukanya?”

 

Ting Tong

 

Bel itu berbunyi lagi, dan mereka saling menatap tanpa ada sebuah keputusan.

 

“Apa yang harus kulakukan, Tuan?”

“Aku tidak akan membukanya Jiyeon. Kau tau itu,kan.”

“Tapi dari mana dia tahu aku di sini? apakah dia sudah membuntuti aku.”

“Kurasa begitu.”

 

Jiyeon terus menatap wajah kekasihnya yang sedang gelisah, mungkin emosi dan kesal karena dia tidak bisa memastikan siapa yang berada di balik pintu ini. Jiyeon selalu mendapatkan akses khusus masuk dari lantai basement langsung menuju ke ruangan ini, dengan pascode  rahasia, tapi kekasihnya ini pasti masuk melalui lobby sehingga bertemu dengan pintu ini.

 

“Biarkan saja.”

“Aku takut.”

“Kita pergi dari sini?”  pria itu mengusap wajah Jiyeon, merasa cemas melihat raut itu begitu ketakutan. Dia tidak ingin melihat wajah gadis kesayangannya ini terpojok, lalu memeluknya.

“Aku akan pulang!”

“Siapa yang mengijinkanmu pulang. Kau sudah di sini, paling tidak temani aku hingga makan malam nanti.”

Jiyeon menggeleng, karena moodnya sudah lenyap, seluruh tubuhnya menjadi hambar. Hatinya dijangkiti perasaan takut dan bersalah. Heechul pasti sudah mengetahui ini dari Yuka, itu sebabnya dia berada di sini saat ini.

 

“Sopirku akan mengantar!”

“Tidak usah!” Jiyeon menekan tombol di pintu lift. “Maafkan aku Tuan!”

 

Pria itu menggegat bibirnya dan mengangguk. “Okay!” sahutnya

 

Ketika pintu lift itu terbuka, dia segera berjalan masuk, Joong Ki masih menarik tangannya dan memberikan sebuah kecupan lembut di keningnya.

 

“Aku akan menghubungimu, Sayang!”

Tanpa memberi jawaban, tubuh Jiyeon menghilang ketika pintu itu tertutup. Kini Joong Ki menghadapi interkom itu lagi dan melihat bayangan pria itu berjalan menjauh dari depan pintunya.

 

Diapun berjalan ke dapur dan menemukan tas Jiyeon dan buku-bukunya tergeletak di sana. Gadisnya itu pasti terlalu panik, sampai meninggalkan tasnya di sini. di raihnya benda itu, untuk di susulkan. Mungkin Jiyeon masih berada di area parkir di basement.

 

Sebentar kemudian, dia sudah berada di tempat parkir yang terlihat lengang. Mobilnya terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sopirnya menghampiri dengan wajah bingung melihat majikannya berdiri seperti sedang mencari sesuatu.

 

“Tuan mencari Nona Jiyeon?”

“YA, di mana dia?”

“Tadi berjalan ke sana!” tunjuknya pada pintu keluar.

Pria itu berjalan ke sana dengan langkah sedikit cepat, dan tentu saja dia melihatnya, karena dia memang belum pergi ke mana-mana. Bersandar pada dinding di batas jalan keluar yang langsung menuju ke halaman depan gedung.

“Jiyeon!” panggilnya,gadis itu  menoleh

“Tuan?”

“Tas dan bukumu tertinggal.”

“Eoh!” Jiyeon baru sadar, kemudiana menerima semua itu dengan raut cemas yang sama.

Dasar keras kepala! Maki pria ini dengan senyuman, lalu menarik Jiyeon kembali.

“Tuan!”

“Sopirku akan mengantarmu!”  hardiknya,

Jiyeon tidak bisa berkata apa-apa selain menuruti keinginan pria ini. Ketika mencapai mobil sedan itu, sopirnya segera masuk tanpa diperintah.  Bahkan Joong Ki sendiri yang membukakan pintu untuk Jiyeon,

 

“Kau tidak usah sungkan padaku, Park Jiyeon. Kau bisa menggunakan semua fasilitas yang aku miliki untuk kau gunakan. Apapun itu!” di kecupnya lagi kening Jiyeon, tapi pria ini masih enggan melepas genggaman tangannya, justru mendekat dan mengambil gerak  untuk memposisikan wajahnya semakin dekat pada bibir beku gadis di depannya.

 

Jiyeon berusaha untuk menolak namun sepertinya, Tuannya ini selalu tidak bisa mengalah, dan terus menekan bibirnya dan memberikan Jiyeon sebuah ciuman yang penuh hasrat.

 

“JIYEON!” suara itu. mata Jiyeon terbelalak sementara bibir Joong Ki masih melekat di bibirnya. Reflek dia mendorong pria yang tengah memeluknya erat ini, kemudian menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

 

“Oppa!”  sebutnya dengan jantung meletup-letup.

 

Tanpa menunggu satu kata pun dari Jiyeon, Heechul segera menyerbu Joong Ki dengan sebuah dorongan di sambung pukulan telak yang mengenaia wajahnya. Joong Ki tersentak, dan sedikit goyah dengan keseimbangannya.

 

“Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini padaku, PARK JIYEON!” bentaknya keras, sambil menarik kerah Joong Ki dan membuat pria itu harus menerima kepalan tangan Heechul yang kali ini mengenai  perutnya.

 

“OPPAAA…hentikan!” teriak Jiyeon takut.

“KENAPA? Kau tidak mau laki-laki ini hancur di tanganku?”

“OPAAA!”

 

BUG

 

Mendadak Heechul terdorong ke sisi kanan, dengan langkah terhuyung. Sopir Jung menendang Heechul cukup telak hingga Heechul  meringis sakit.

 

“Jung Ssi, hentikan!”  cegah Joong Ki sambil memengangi perutnya. Sopirnya itu tidak mendengar, dan terus mencoba memberikan serangan balasan pada Heechul, tapi kini Jiyeon berlari memeluk kekasihnya.

 

“Oppa, sudahlah! Ayo kita pergi dari sini!”  ajak Jiyeon.

 

Joong Ki memegangi dadanya ketika melihat Jiyeon memeluk laki-laki lain. Benar dia adalah kekasihnya, tapi kenapa rasanya seperti ada yang mencabik-cabik tubuhnya dan membuat jantungnya seakan berhenti mendadak.

 

“Jung Ssi!”  dia mencari sebuah pegangan

 

Sopir Jung terpaksa menghentikan aksinya dan menolong Tuannya.  Jiyeon sempat khawatir pada pria kaya itu yang tengah memegangi dada kirinya, tapi saat ini posisinya sedang tidak memungkinkan untuk memeluknya.

 

“Aku belum selesai denganmu, BRENGSEK!”  ancam Heechul pada Joong Ki, dan dia menolak untuk di pegangi Jiyeon. Dia merasa sakit hati, dan emosi kenapa gadis yang begitu dipercayainya ini sanggup menghianatinya.

 

 

Jiyeon duduk di sisinya dan melihat amarah itu begitu membuat kepala kekasihnya itu mengepul. Dia mengendarai mobilnya dengan begitu beringas. Menekan gas seolah-olah ingin membawa mobil ini ke neraka. Jiyeon memejamkan mata dan tak bisa mengatakan apapun. Dia tahu Heechul pasti begitu ingin memakinya.

 

Oppa!”  lirihnya

 

Heechul tak menjawab, dia melarkan mobilnya ini menjauh dari perkotaan,  memasuki jalur bebas hambatan dan semakin cepat melesat tanpa perhitungan. Sebentar kemudian dia sudah tiba pada sebuah tempat.

 

“Kita di mana Oppa?”

 

Dia menarik tangan Jiyeon dan menyeretnya masuk. Rumah ini tampak kosong tak berpenghuni, karena Heechul sendiri yang membuka menggunakan kunci yang dia satukan dengan kunci mobilnya.

 

“Kau ingin aku segera menikahimu?”  tudingnya lirih dengan deru nafas yang begitu kasar, menghempas di depan wajah Jiyeon

 

Oppa, maafkan aku! Aku bisa menjelaskannya.”

 

“TIDAK PERLU, aku sudah melihatnya. Apa kau pikir kau bisa memberi penjelasan mengenai itu? apa yang ingin kau katakan? Apakah sebuah penjelasan mengenai bibir si brengsek itu yang begitu terkutuknya membuatmu harus terbuai. GOSH, bahkan itu di area terbuka, PARK JIYEON! Kau pasti sudah gila jika kau pikir, aku mau kau bodohi!”

 

Dia menahan nafasnya dalam-dalam mendengar pelampiasan emosi kekasihnya.

 

“Seberapa jauh kau menjalin hubungan dengan pria kaya itu?”

 

Jiyeon menggeleng

 

“KATAKAN! Apa kau ingin aku mempercayaimu akan memberikan semua itu untukku?”

 

OPPA, aku—“

 

BRUGH

 

Jiyeon di dorong hingga terjengkang bebas di sofa, menghiba pada tatapan Heechul yang menghunus amarah bercampur kecemburuannya. Dia menekan pergelangan tangan Jiyeon dan duduk di pangkuannya, membungkus  gadis itu dengan tubuhnya.

 

Oppa maafkan aku—“

 

“Aku tidak sudi berbagi bibir, berbagi tubuh terlebih berbagi hati dengan laki-laki itu, apa kau dengar itu?”

 

Jiyeon tak menjawab, tubuhnya gemetar ketakutan memikirkan apa yang akan Heechul lakukan padanya. Kini semuanya sudah berakhir, dia pasti akan menerima penghakiman ini.

 

“Oppa, rumah siapa ini?”

 

“Kau masih mempunyai nyali bertanya?”

 

“Aku tidak akan menemuinya lagi.”

 

Heechul  menarik nafasnya dalam-dalam kemudian memegangi wajah Jiyeon dengan telapak tangannya yang seakan-akan ingin meremukan kepala itu.

 

“Kau tau, rumah ini diberikan orang tuaku untuk hadiah pernikahan kita. Aku berharap di rumah ini , untuk pertama kalinya aku mengawali kehidupanku denganmu.”

 

Jiyeon tercekat. Tatapannya di paksa meladeni bentuk amarah Heechul yang tercetus dalam setiap helai nafas dan sorot matanya, juga semua kata-katanya yang menusuk perasaannya.

 

“Kau memintaku untuk tidak melakukannya sebelum menikah, tapi sekarang aku berubah pikiran, aku yang menentukan sekarang Park Jiyeon, apa kau benar memberikan padaku semua itu, atau justru sudah kau berikan pada si brengsek itu!”

 

Jiyeon berusaha menggeleng, tapi tak bisa.

 

“Aku tahu kau marah dan cemburu, tapi sungguh aku punya alasan untuk melakukan ini Oppa.”

 

“Pasti karena uang.” Tegas kekasihnya itu dengan senyuman dingin

 

Jiyeon tak menampik, tapi dia tak menjawab. Mulutnya terkunci dan menerima semua ini dengan hati terpukul. Bukan karena perkataan Heechul, tapi karena dirinya sendiri yang memang terlalu serakah menginginkan semua ini dengan cara yang mudah. Dia tidak ingin berpisah dari Heechul, kemudian menerima tawaran pria kaya itu untuk membuat hidupnya nyaman dan sempurna.

 

Siapa yang memanfaatkan siapa dalam khasus ini. Air matanya mengalir untuk kebodohannya sendiri. Dia menangis di depan Heechul dengan hati tersayat.

 

Kekasihnya tidak sedang menghinanya mengenai kebutuhan duniawinya. Heechul berkata sebenarnya.

 

Jiyeon memang telah berubah. Dia ingin hidup nyaman, dia ingin semua yang diinginkannya bisa dia miliki.  Dia merasa jenuh dengan kehidupan serba kekurangan yang selama ini dijalaninya, dan Jiyeon pun tidak ingin berpisah dari Heechul, karena dia tidak ingin membuang semua kenangan indah bersamanya, ketika pertama kalinya dia jatuh pada pria itu,  tapi juga tidak bisa melepaskan Joong Ki karena dia bisa memberikan apa yang dia inginkan, tapi Joong Ki pun tidak bisa memberi kepastian, di mata keluarganya, Jiyeon hanya sebuah tempat persinggahan. Mereka berharap ada gadis lain yang sederajat dan pantas untuk bersanding dengan putra mereka.

 

Oppa, aku akan memberikannya untukmu, hanya untukmu Oppa…”

 

Jiyeon berusaha untuk mengecup bibir Heechul  namun kekasihnya itu menghindar.

 

Perlahan, Jiyeon membuka setiap butir kancing bajunya, dan membuat Heechul berpaling ke arahnya.  Bajunya dihempaskan di sisinya,menarik tangan Heechul untuk menyentuhnya. “Sentuhlah aku Oppa!”

 

“Apa kau menjadi seperti pelacur karena laki-laki itu?”

 

PLAK

 

“OPPA, aku masih milikmu, aku masih milikmu!”

 

.

.

.

Tbc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. anii says:

    Ehh sapa? Itu siapa yg ditampar? Hehkk heechul kh first? Hm
    next yaa

  2. May andriani says:

    Apa heechul msih mau nkahi jiyeon stelah tau rahasia jiyeon??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s