Rose In The City [Part-11]


rose-in-the-city1

Rose In The City – 11

Cast |  Song Joong Ki, Park Jiyeon,

Support Cast | Kim Heechul, Yuka Tachibana [OC]/Heechul’s step sister

 Genre | ROmance – Angst

Length | Chapter

Rated | PG

Disclaimer | I own nothing but the story

.

.

Perlahan, Jiyeon membuka setiap butir kancing bajunya, dan membuat Heechul berpaling ke arahnya.  Bajunya dihempaskan di sisinya,menarik tangan Heechul untuk menyentuhnya. “Sentuhlah aku Oppa!”

“Apa kau menjadi seperti pelacur karena laki-laki itu?”

PLAK

“OPPA, aku masih milikmu, aku masih milikmu!”

Heechul menatap tak percaya, meski dia sudah merasa kasihan dengan Jiyeon yang sejak tadi terisak dengan rasa bersalahnya. Mungkin hati lelakinya berkata egois dan semena-mena, telah memperlakukan Jiyeon seperti ini.

Dia beranjak dari pangkuan kekasihnya.  Dikecupnya kening Jiyeon, mengusap air matanya dan melerai semua emosinya. Mulai berpikir jernih dan tidak membabi buta, bercermin pada dirinya sendiri, dengan sepak terjangnya sendiri saat di Amerika.

“Sudahlah rapikan pakaianmu lagi! Kepalaku pusing.”  Meninggalkan Jiyeon yang masih tergugu bingung, kenapa Heechul mudah turun dari puncak amarahnya.

Jiyeon mengambil bajunya lagi, mengenakannya dan duduk diam tak tahu apa yang harus dilakukannya, sementara Heechul sedang duduk menatap pada kekosongan di luar sana melalui jendela. Rumah ini belum terdapat apa-apa, masih kosong dan berdebu.

Situasi ini membuatnya seakan-akan semakin jauh darinya. Perasaannya mencoba untuk memastikan bahwa mereka akan baik-baik saja, tapi sulit, setiap kali Heechul memperhatikannya, dia merasa bahwa ternyata semua cinta itu tidak lagi ada untuknya.

“Kita akan menikah bulan Januari.” Ujarnya dengan melangkah mendekati Jiyeon kembali.

Deg

Dia melirik,

“Kau berharap seperti itu, kan mempercepat tanggal pernikahan kita.”

“Ya.” Angguknya

“As you wish. Apa kau tahu apa akibatnya jika  kau berani menemuinya lagi?”  tatapan itu mengancamnya.  “Aku tidak akan melepaskanmu, dan juga tidak membiarkannya mudah menemuimu. Aku tau dia kaya, tampan dan  membuatmu sulit bernafas, tapi akupun bisa membuatmu tidak sanggup bernafas, Jiyeon. Aku tidak main-main!”  bibirnya mengecup manis lengkungan lembut tanpa lipstik itu. Jiyeon terpejam, gemetar dan mencoba untuk tidak menolak bibir Heechul ketika memainkan bongkahan kenyalnya dan menggigitnya.

Lumatannya berubah kian dalam, membuka mulutnya, menerjang dengan ilitan lidahnya yang seolah-olah mencapai pangkal lidan Jiyeon dengan nafas yang memburu, menuntut dengan desakan tubuhnya. Setiap desah nafas Jiyeon terasa tersumbat dan sulit baginya untuk melepaskan diri. Semangat Heechul terasa berlebihan dalam mencumbunya, atau dia memang sedang dilanda nafsunya, hingga tanpa sadar mendorong Jiyeon untuk rebah pada sofa yang sejak tadi tak ditinggalkannya.

Meskipun dia berusaha untuk menolak, tapi nyatanya  Jiyeon justru mengusap punggung  itu, yang terasa gemetar dan hangat ketika membuka posisi kakinya, menekannya dan menghangatkan tubuh kekasih yang ditindihnya. Jiyeon menyukai lidah yang tak pernah puas menyiksanya dengan kenikmatan. Entah kenapa, dia ingin merelakan semua ini terjadi. Di dalam hatinya dia tidak harus merasa bersalah, berbeda ketika dia harus menerima semua perlakuan ini dari Joong Ki.

“Kau menginginkan ini~”  nadanya mengayun membentuk sebuah kesan bertanya yang ragu terlantun.  Sebuah senyuman itu melebihi jawaban. Mungkin ini memang harus dilakukannya, mengingat terlalu sulit baginya menghindari kehangatan Joong Ki yang belakangan ini semakin gencar ingin menaklukannya.

.

.

.

Jiyeon menyingkirkan tangan Heechul yang memeluk tubuhnya.  Malam tadi, dia sudah menyerahkan semua itu pada Heechulnya. Masih ada rasa sakit di selakangannya dan  juga bercak darah di area pahanya.  Sekarang Jiyeon merasa seperti kosong. Jadi seperti ini rasanya orang yang baru saja kehilangan keperawanannya.

Masih begitu lekat di matanya ketika  Heechul  begitu penuh gairah membelah tubuhnya, kemudian membangkitkan gairah lain di dalam tubuh Jiyeon untuk mendaki semua kenikmatan itu bersama, beradu tatapan, desahan, gelisah dan ciuman.

Pria ini terlihat tidak bisa memungkiri perasaan senangnya. Sedikit ada rasa bangga ketika meihat Heechul tersenyum puas untuk Jiyeon yang bisa membuktikan bahwa dia memang tidak ingkar janji.

Suara dengungan itu mengagetkannya. Sepagi ini sudah ada yang menghubunginya, jika itu bukan Joong Ki pasti ibunya. Diraihnya ponsel dari dalam tasnya, lalu menekur lemas. Melirik sebentar pada kekasihnya yang masih terlelap kemudian bangkit untuk menerima panggilan itu dari Joong Ki.

Rumah ini memang tidak bagus, mungkin jauh dari kata mewah. Berbeda dengan rumah yang  diberikan Joong Ki yang tidak pernah lagi disambanginya. Mana dia punya nyali untuk ke sana, meski Joong Ki menyerahkan kunci itu padanya. Jiyeon bebas untuk menempatinya atau tidak.

Haruskah dia menjawabnya. Jiyeon menggigit bibir bawahnya saat menentukan hatinya untuk menekan tombol terima atau tidak.

SET

Tangan itu meraihnya ponsel dari genggamannya, menoleh dan mendapati wajah Heechul terpasang geram. “Kau masih berpikir untuk menghubunginya.”

“Bukan~”

Bibirnya membuka tanpa tahu kalimat apa yang akan meluncur untuk melakukan pembelaan. Secepat itu, emosi Heechul membawa gerak tangannya untuk membanting ponsel itu ke lantai. Benda ramping itu berserakan di sana, dengan tatapan nanar pemiliknya.

Oppa!” pekiknya,

Dia berusaha untuk memungutinya, tapi tangan Heechul lebih cepat menarik, kemudian menyeretnya.  “Aku tidak ingin bersikap kasar padamu, Jiyeon. Jadi jangan paksa aku untuk melakukan ini—“

Oppa aku—“

“Jangan bertemu, jangan bicara lagi dengannya jika kau ingin aku  mengampunimu.”

Gemerutuk giginya di simpan dalam rasa sesak,

“Bagaimana jika aku tidak ingin bersamamu lagi, bagaimana jika aku meninggalkanmu, Oppa!”

“Kau tidak akan melakukan itu. Kau tidak akan meninggalkan aku. Kau pikir apa yang bisa pria kaya lakukan untukmu, kau hanya akan menjadi wanita simpanannya.”

Itu benar,  Jiyeon tidak mengelak, mungkin saja dia hanya dijadikan wanita kedua oleh pria kaya itu. Apa yang harus dia lakukan kini, bertahan di sisi seorang Heechul atau memilih menjadi wanita pecundang di sisi Joong Ki.

“Entah kenapa kini aku tak menginginkan keduanya.”

Jiyeon meninggalkan Heechul dan menghilang di balik pintu kamar mandi.

.

.

.

Joong Ki mengerjabkan matanya ketika dia mendengar suara JIyeon yang terdengar seperti sihir di dalam otaknya. Dia langsung terpenjara dalam mantranya, seolah-olah menatapnya dan diam. Friksi yang diperolehnya membuatnya tenang.  Jantungnya mengalun lebih leluasa. Jiyeon bisa membuatnya  merasa begitu nyaman.

Ini yang dia  butuhkan.

”Ya, aku menunggumu kapanpun kau akan datang, Sayang.”  balasnya, kemudian memutuskan sambungan ponselnya.

Jiyeon tergugu.

 

Beberapa minggu ini, dia menghindari pria itu.  Meninggalkan sebentar semua kerumitannya dengan menyendiri.

Desember,

Salju turun di bulan ini. Dingin. Semua terasa dingin dan beku meski mentari sedang melawan tatapannya dengan kejam. Pagi ini, dia sendiri, melangkah seperti tanpa nyawa.

Beberapa momen lalu alarm terkutuk itu membangunkannya dengan deringan sadis, membuyarkan semua mimpi-mimpinya tentang—

Song Joong Ki

Dia tidak ingin bermimpi tentang Joog Ki, namun kenapa di dalam mimpinya hanya ada dia dan kesunyiannya. Keheningan yang melingkupinya dan membelengunya pun seperti sedang menunggu sesuatu.

Sendiri.

Dia tidak pernah merasa seaneh ini. Seharusnya tidak.

Ini yang Jiyeon alami selama beberapa hari ini,  dia tidak bisa melihat hal lain dalam mimpinya selain Joong Ki yang menantinya dengan wajah pucat.

JIyeon mengacak rambutnya sendiri, ketika tiba dan duduk di bangku kelasnya dengan wajah semrawut. Heechul mempertahankannya dari Joong Ki.  Memang seharusnya seperti itu.  Kekasihnya itu harus bertindak lebih ekstreem padanya agar akal sehat dan jiwanya tidak terbalik.

Joong Ki.

Ya, Jiyeon sudah berusaha untuk tidak tidak terlalu sering bertemu dengannya lagi untuk menjaga perasaan ibunya,  perasaan orang-orang yang menyayanginya.

Ibunya—  wanita itu sedikit lebih teliti dengan aktivitasnya di luar rumah dan toko bunga mereka. Jika itu untuk bersama dengan Yuka, maka ibunya akan mengijinkan, tapi jika untuk keperluan lain, dia akan selalu bertanya apakah urusan itu menyangkut mengenai Joong Ki atau tidak.

Perasaannya tertekan, karena Heechul selalu semakin ketat padanya. Dia hampir setiap hari bersamanya, dan sulit baginya untuk menemui Joong Ki. Jiyeon nyaris membunuh semua keinginannya untuk pria kaya itu, dan melupakan semuanya, demi pernikahan mereka yang sudah di depan mata.

Joong Ki pun masih sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Belakangan dia memang lebih sering berada di luar kota bahkan ke luar negri untuk beberapa urusan penting. Sesekali dia menelepon sekedar mengatakan rindu. Mengiriminya foto-foto tidak pentingnya yang hanya membuat JIyeon meringis. Hampir semua foto yang dia kirimkan segera di hapusnya agar Heechul tidak memergokinya.

Ya, JIyeon membiarkan dirinya tenggelam dalam ketidakberdayaannya.

Tidak ada yang berubah.

Dia tidak mengatakan bahwa dirinya telah berubah. Dia tidak akan berubah hanya karena dia sering menerima ciuman dan sentuhan dari pria tampan itu tadinya. Jiyeon hanya bersikap seperti sedang membalas budi dengan memuaskan hasrat majikannya.

Ini membuatnya harus menelan pil pahit kehidupannya. Antara sadar dan tidak, dia menikmati dan meresapi semuanya. Dia membutuhkannya, untuk membangun masa depannya sendiri.

Joong Ki masih mengiriminya uang, dan mengiriminya beberapa barang, terkadang hadiah-hadiah yang tidak pernah diduganya. Semua itu dia simpan, dia jaga agar tidak menimbulkan pertikaian.

Seharusnya JIyeon merasa malu pada dirinya sendiri, karena sedikit memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih kepentingannya sendiri. Dia sedikit mengabaikan perasaan Joong Ki yang tulus memberikannya cinta dan materi untuk kehidupannya.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan mengenai perasaannya.

Mungkin karena bentuk perhatian itu berbeda. Katakan saja dia telah terbiasa dengan bentuk perhatian Joong Ki yang begitu hangat dan selalu memanjakannya, berbeda dengan Heechul yang terkesan diam belakangann ini.

Ini tidak mudah.

Tak ada yang bisa merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Menjadi seseorang yang selalu diandalkan mengharuskan Jiyeon harus selalu memberikan perhatian dan tanggung jawab pada orang-orang yang berharap padanya, termasuk ibunya.

Selama ini dia  selalu berusaha untuk memberikan perhatian sebanyak yang dia sanggup. Itu sedikit berat untuk seorang yeoja sepertinya.

Namun semenjak mengenal Joong Ki—

Semua terasa seperti meletakkan semua kejenuhan, kepenatan dan seluruh jiwa raganya yang selama ini tertumpah ruah pada senyuman pria kaya itu.

Ini bukan sekedar kata mudah kenapa dia bisa menatap Joong Ki dari sudut pandang yang berbeda. Memahaminya, memikirkan kehidupan yang telah menjadi takdirnya. Memiliki segala-galanya, namun harus bisa menerima bahwa kondisi dirinya begitu menyedihkan dengan penyakit kronisnya.

.

.

.

Satu bulan kemudian,

“Apa kau berusaha menghindariku?”  Joong Ki terdengar frustasi.  “Aku baru saja kembali dari Jepang. Tidak bisakah kita bertemu.” Ajaknya.

Jiyeon melirik ibunya yang sejak tadi mengawasinya.

“Besok aku akan katakan!”  Sahutnya

“Apa ada sesuatu?”  dia mulai curiga

“Hm.” Jawab Jiyeon

“Baiklah, aku akan menunggumu.”

Jiyeon menyimpan ponselnya seiring wanita paruhbaya itu menghampirinya.

“Kau masih menjalin hubungan dengannya?.

“Aku hanya belum bisa mengatakan bahwa aku tidak bisa meninggalkannya. Aku  mengkhawatirkan kondisinya.”

“Dia bisa mencari pengobatan sendiri, bukankah dia orang kaya. Kenapa dia tidak keluar negri untuk mendapatkan donor jantung yang sesuai dengannya.”

Jiyeon mengangguk, dia sudah mendengar itu darinya, bahwa untuk mendapatkan donor itu tidak mudah. Dia pun mengantri bersama ribuan orang di seluruh dunia ini untuk mendapatkan jantung yang sesuai. Terlalu banyak speck yang digunakan untuk melakukan cangkok jantung. Semoga dia bisa cepat mendapatkan jantung itu sebelum~

Jiyeon tak sanggup untuk memikirkannya

“Aku dan ibu mertuamu sudah mempersiapkan penikahanmu.”

Kini Jiyeon hanya menahan nafasnya dan mulai merasakan ada simpul rumit yang membuatnya harus meraba perutnya. Mual.

Eum? Mual?

Eoh!

.

.

.

Tbc

Mianhae, aku harus lakukan ini— apapun yang terjadi aku tetap team HEECHUL.

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. cia says:

    Please jiyeon jgn hamil anak heechul :((
    Pengennya sama joongkiii

  2. sookyung says:

    slalu berharap nanti ending nya smg Jiyeon bisa bersama dg Joongki

  3. anii says:

    Ini ff kn? Imaginasi kn? Kok aku.a sampe kebawa nyata gitu?? Sampe kesel n deg2 gitu, pas tau kalo first.a heechul||heoll
    jeball andwee hamil ank.a heechul?!!! Joongki aja:(

    1. mochaccino says:

      Sabar

  4. May andriani says:

    Jiyeon mual, dia hamil?? Next next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s