Rose In The City [Part-9]


rose-in-the-city1

Rose In The City – 9

Cast |  Song Joong Ki, Park Jiyeon,

Support Cast | Kim Heechul, Yuka Tachibana [OC]/Heechul’s step sister

 Genre | ROmance – Angst

Length | Chapter

Rated | PG

Disclaimer | I own nothing but the story

.

.

”See, aku tidak harus merusak keperawananmu untuk membuatku puas dengan tubuhmu.” bisiknya pada wajah yang tengah merona itu.

Jantungnya berdetak kencang, sementara dia mengusap puncak kepala Jiyeon dan menghadiahinya dengan kecupan.

.

.

.

”Kau bisa meletakkan pot crysantinum itu di dekat jendela, JIyeon!” ibunya memberi titah sambil terus sibuk dengan beberapa pot lainnya. Hari ini toko bunga mereka sedikit ramai sehingga harus memberi area cukup luas untuk para customer.  Toko mereka penuh, hari ini kebetulan ada banyak pengiriman dari pemasok sehingga mereka harus menatanya. Biasanya, sebentar saja bunga-bunga itu sudah ludes oleh para pelanggan.

Sebenarnya Jiyeon sudah melihat ada raut berbeda di wajah ibunya, dan ini sedikit membuatnya gugup. Mungkin dia sudah mengira-ngira apa yang tengah terjadi pada diri Jiyeon, karena belakangan ini putrinya ini sering pulang malam.

”Yuka mengatakan padaku kalau kau sering menemuinya.”

”Hm?” Jiyeon menoleh— Yuka lagi.

”Siapa?”

”Pria kaya itu, Tuan Song. Apakah kalian menjalin hubungan diam-diam?”  ibunya tampak khawatir, sementara Jiyeon menjadi takut ibunya ini akan semakin depresi menghadapi situasi ini.

”Ingat kau akan menikah”

Jadi Yuka mengadukan hal ini pada ibunya. Lalau apakah Heechul tahu?

”Eomma~”  Jiyeon menahan nafasnya.

Eomma tidak tahu harus bicara apa, karena kita memang menerima bantuan darinya, tapi bukan berarti kau—”

”Aku tidak melakukan apa-apa, Eomma.”  potong Jiyeon

”Bagaimana jika keluarga Kim tahu masalah ini, dan membuat kita harus menerima rasa malu.”

”Aku merasa—” Jiyeon diam sebentar untuk menarik oksigen disekitarnya.

Helaan nafas kecewa terlampir dengan berat. Tatapannya sayu.

”Aku dan Heechul Oppa pasti akan segera menikah, Eomma.”  Dia berusaha menenangkan hati ibunya.  ”Aku akan menemui dia sekarang dan mengatakan untuk mempercepat tanggal pernikahan kami.”

”Jangan pergi dulu! Eomma ingin bicara padamu.”

Dia berhenti,

Eomma sudah menyadari sejak awal dia datang ke rumah kita, Sayang.”  tangan rentanya itu menyentuh bahu putrinya.

Sore ini udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan JIyeon duduk menunduk di hadapan ibunya yang sulit untuk mengungkapkan perasaannya.

”Dia baik. Eomma tahu dia baik dan semua itu pasti karena dia memang mencintaimu sepenuh hatinya.”

”Aku punya alasan kenapa bertahan di sisinya, Eomma.

Wanita itu mengangguk, tentu saja Jiyeon punya alasan, kalau tidak, tidak mungkin saat ini mereka memiliki semua ini. Bisnis ini, dan juga wajah bahagia Jiyeon ketika dia bisa kembali melanjutkan pendidikan sesuai dengan yang diingininya.

”Apapun itu, Eomma mohon padamu, agar kau tidak mengabaikan Heechul. Dia mencintaimu dan hanya memilikimu untuk hidupnya. Laki-laki itu, Tuan Song, anggapah dia sebagai Kakakmu, atau mungkin Ayahmu. Dia patut di hormati, di hargai, hanya saja kau tidak bisa memberikan apapun lagi padanya.  Jangan memberinya harapan, terlebih tubuhmu.”

JIyeon membuang pandangan ke arah jalanan yang begitu beku.  Sangat sulit untuk menganggap Tuan Song sebagai pria semacam itu. Jiyeon sudah terjebak dalam permainannya, pesonanya, dan juga gairahnya. Laki-laki itu mengajarinya banyak hal.

Ada sebilah pedang yang menancap di jantung Joong Ki ketika mendengarnya. Dia mungkin salah waktu dan tempat untuk menemui JIyeon. Tubuhnya membeku di depan pintu saat mengintip wajah Jiyeon yang pias di depan ibunya.

Meskipun dia tidak mendengar Jiyeon berkata-kata apapun, dia tetap tahu, bahwa wanita tercintanya itu pasti dalam kondisi bimbang.

Dengan langkah pelan dia meninggalkan tempat itu tanpa suara. Kembali masuk ke dalam mobilnya dan duduk dengan dada sesak, nyeri.

”Jung Ssi, kita ke rumah sakit. CEPAT!”  Laki-laki itu seharusnya sudah memeriksakan dirinya kemarin.

Mobil melaju cepat di jalanan padat. Dia  meringkuk di jok belakang mobilnya dengan wajah pucat. Sejak lahir dia mendertia penyakit bawaan  ini dan sudah menjalani oprasi pencangkokan jantung ketika umurnya enam tahun. Dia bisa bertahan hingga sampai detik ini, hanya saja jika kondisi kejiwaannya terganggu, dia akan mudah jatuh. Rasa tertekan atau terdesak, akan menggagalkan kerja jantungnya. Aliran darahnya akan tersendat dan terjadi semacam stagnasi yang mengakibatkan tubuhnya berhenti melakukan kinerjanya.

Dia sadar bahwa manusia tidak hanya terdiri dari daging dan darah, melainkan jiwa yang kedua unsur itu berkesinambungan menopang kehidupannya. Jika tubuhnya sakit, maka jiwanya akan menjadi lemah. Emosinya akan menjadi labil, begitu pun kalau terjadi sebaliknya, jika dia mengalami depresi dan frustasi, maka tubuhnya akan merespon lemah.

Manusia tangguh dan kuat sepertinya ternyata hanya plastik. Dia tidak sekuat dan setegar itu.

.

.

.

Oppa, kenapa kau begitu ingin menikahi Jiyeon?” Yuka merengut di depan kakak tirinya itu. Aish, dia pasti mengingau, kenapa menanyakan masalah ini pada Oppanya, yang terang-terangan akan selalu membela Jiyeon.

Beruntung Heechul sedang tidak fokus padanya, karena sedang berinteraksi dengan tunangannya itu. Wajahnya terlihat serius, karena Jiyeon sedang memintanya untuk memajukan tanggal penikahan mereka yang seharusnya dilakukan pertengahan tahun depan.

Oppa!”  panggil Yuka lagi

”Sebentar!”

”Kau tidak akan mendengarkan aku, Oppa.

”Memangnya kau ingin bicara apa?”

Dilirknya wajah kakaknya yang semakin terlihat bingung. Memajukan tanggal pernikahan itu bukan hal mudah, karena semua tadinya sudah diatur untuk pertengahan tahun depan, sehingga semua bentuk pemesanan dan segala macam sudah ditentukan.

Tidak sabaran dengan mengetik pesan, akhirnya pria itu menghubungi Jiyeon langsung.

”Kau sebenarnya kenapa?”  tanyanya dengan nada sedikit keras.

Oppa, aku hanya ingin merasa tenang.” jawab Jiyeon

”Apa kau tidak berpikir untuk memajukan tanggal pernikahan itu kita harus merubah semuanya.”

”Kita tidak usah bertele-tele, menikah saja tidak perlu menggunakan pesta atau apapun.”

”Kau pikir keluargaku akan sudi dengan semua itu. Kami punya keluarga besar yang harus kami beritahu.”

Jiyeon merenung sebentar, belakangan ini Heechul sering uring-uringan, dan nadanya selalu tinggi jika sedang bicara padanya.

”Jiyeon, apa kau ada masalah?”

Yuka mengernyit, demi mendengar semua itu. Jadi Jiyeon ingin memajukan tanggal pernikahan, apakah dia hamil, dan berharap kakaknya ini bertanggung jawab, karena mungkin pria yang membiayai kuliah dan hidupnya itu tak mau menerima anak itu.

EOH!”  dia membungkam mulutnya, berbarengan dengan kakaknya itu ketika menolehnya.

”Aku akan bicarakan ini pada orang tuaku, Jiyeon. Aku pun senang kita bisa menikah secepatnya. Apa kau pikir aku tidak menginginkanmu. Kalau kau sungguh tidak sabaran, maka aku bisa melakukannya sekarang juga.”

Oppa!” jerit Yuka keras. Dia tak tahan Kakaknya ini bicara mesra pada Jiyeon.

”Agh, baiklah kalau begitu.”

Heechul mengernyit pada adik tirinya. ”Kau kenapa?” tunjuknya geram

Oppa, apa kau tidak merasa curiga, kenapa Jiyeon memintamu untuk segera menikahinya?”

Pria itu mendengus, kemudian menggeleng

”Kau jangan berprasangka buruk, dia bilang ingin segera menikah denganku, karena dia sudah tidak tahan, Yuka!”

OPPAAA!” jerit Yuka lagi, semakin kesal

”Kau ini kenapa?”

”Kau seharusnya menyelidiki apa yang terjadi pada Jiyeon.”  gadis itu berdiri di iringin tatapan aneh Heechul.

”Kenapa?”

Adiknya itu merengut bingung, dia tidak bisa mengatakannya, juga rasa keberatannya kenapa Jiyeon tidak diijinkan untuk menikah dengan kakaknya ini. Dia tidak sudi menjadi iparnya.

”Selama ini Oppa selalu mempercayainya,”

”Tentu saja aku mempercayainya, dia baik, setia dan selalu mencintaiku. Mungkin akulah yang selama ini jahat padanya. Apa kau tahu, Yuka. Apa kau pikir laki-laki sepertiku ini pantas untuknya. Aku sudah mengkhianatinya ketika aku berada di Amerika.”

”Kau kenapa di Amerika, Oppa? Apa kau—”

”Jangan kau tanya, Yuka. Oppamu ini sungguh lelaku brengsek.”

Yuka memainkan bola matanya, jadi sekarang apa yang harus dia lakukan? Membuntuti Jiyeon sendiri dan membuat sebuah laporan untuk kakaknya ini.

.

.

.

Sementara itu,

Joong Ki terbaring lemah di atas ranjangnya dengan tatapan sayu pada langit-langit ruangannya. Kenapa Jiyeon tidak menghubunginya, dan kenapa ponselnya tidak aktif. Apakah saat ini dia  sedang gelisah menghadapi kenyataan ini. Menjadi kekasih seorang laki-laki kaya, penyakitan sepertinya. Hhhh…

Pria ini tersenyum pahit, menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Dia tidak harus menjadi melankolis seperti ini. Cara seperti ini, bukan kebiasaannya. Merengek pada kehidupan yang entah sampai kapan akan memberikannya kekuatan. Jantung ini… dia hanya menunggu sampai benda plastik di tubuhnya ini rusak dan berhenti bergerak.

JIyeon…..

.

.

.

Tbc

 

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. cia says:

    Kasian joongki :((
    Jd jiyeon pasti bingung jg sih mesti gmn

  2. anii says:

    Haduhh kok aku baper yaa, sampe nyes2 gitu kasian joongki
    itu astga sampe masuk lagi diRs, huaaa

  3. May andriani says:

    Jiyeon mempercepat pernikahanya brarti di nolak joongki donk,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s