Rose In The City [Part-12]


rose-in-the-city1

Rose In The City – 11

Cast |  Song Joong Ki, Park Jiyeon,

Support Cast | Kim Heechul, Yuka Tachibana [OC]/Heechul’s step sister

 Genre | ROmance – Angst

Length | Chapter

.

.

 

Jiyeon mengangguk, dia sudah mendengar itu darinya, bahwa untuk mendapatkan donor itu tidak mudah. Dia pun mengantri bersama ribuan orang di seluruh dunia ini untuk mendapatkan jantung yang sesuai. Terlalu banyak speck yang digunakan untuk melakukan cangkok jantung.

“Aku dan ibu mertuamu sudah mempersiapkan gaun penikahanmu.”

Jiyeon hanya menahan nafasnya dan mulai merasakan ada simpul rumit yang membuatnya harus meraba perutnya. Mual.

Eum? Mual?

Eoh!

Dia menutup mulutnya dan berjalan ke kamarnya. Sudah satu bulan dari hari itu, dan—

Apakah ini gejala kehamilan.

.

.

.

“Aku berada di depan kampus.”

Jiyeon melongok dari jendela kelasnya dan melihat sedan hitam Joong Ki terparkir di halaman kampus, sedangkan pemiliknya tidak terlihat.

“Aku masih ada kelas hingga tiga jam ke depan.”

“Aku akan menunggumu.” Ujarnya yakin

“Itu terlalu lama.”

“Tidak masalah.” Jawabnya singkat, seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Hatinya sedang tidak ingin ditawar, mungkin dia sedang mengalami hari yang buruk, yang mempengaruhi emosinya.

“Aku akan berusaha secepatnya menemuimu, Tuan,” eoh ini sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan laki-laki itu.

“That’s good!”

Kemudian sambungan terputus.

JIyeon nanar pada layar ponselnya yang mulai menggelap. Ada apa dengan Joong Ki. Apakah dia sudah mengetahui mengenai kondisi ini, kehamilannya. Apakah pria itu akan bersikeras untuk memilikinya dengan kondisi kehamilan ini. Bahkan Heechul saja belum diberitahunya.

Kakinya melangkah ragu menemui pemilik sedan hitam itu, yang tengah berdiri dengan wajah kaku. Tatapannya pun tidak sehangat biasanya. Dia sedingin salju yang sedang luruh memutihkan bumi. Beberapa angin sedang meniupi helai pirangnya yang tampak ringan.

Jiyeon menghadapinya dengan perasaan serba salah. Dia tidak ingin membuat perasaan Joong Ki menjadi kalut, namun dia pun tidak ingin menghindari semua ini.

“I miss you!” bisiknya dengan rapuh.

Kalimatnya seperti memaksa daun terakhir di ranting maple yang masih ingin berusaha bertahan itu terbang. Jiyeon menatapnya dengan hati cemas.

“Kau tidak merindukanku?” itu lebih terdengar seperti harapan ketimbang pertanyaan.

“I miss you,”

“Kau tidak ingin bertemu denganku belakangan ini.”

“Aku sibuk, dan kau pun sibuk—”

“Yeah…” bibirnya pucat di tengah hawa dingin ini

“Masuklah ke dalam mobil , kau terlihat pucat.”

“I’m okay! Fuck you don’t speak as me as a weak person!”

“I’m not.”

Pria itu menarik pergelangan tangan Jiyeon untuk mendekatinya, “Ada apa?” telitinya di kedalaman manik hazel yeoja cantiknya ini.

Jiyeon menggeleng, lalu Joong Ki membawanya masuk ke dalam mobil.

“Aku tidak ingin mencampuri urusanmu dengan Heechul , tapi apakah kau bertengkar dengannya?”

“Tidak.”

Joong Ki mendongak jengah melemparkan rasa kesalnya pada langit-langit mobilnya.

“Aku punya waktu hingga jam sembilan malam. Temani aku makan dan beristirahat hingga aku harus kembali melakukan perjalanan ke New York.”

“Kau akan pergi lagi?”

Pria itu mengagguk. “Hanya beberapa hari.” memastikan dengan menilik pada kecemasan JIyeon. “Hubungi aku, sesekali. Aku senang jika kau yang menghubungiku lebih dulu.” pintanya

Jiyeon merasa malu pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak pernah melakukannya. Meskipun dia ingin, namun untuk melakukan hal itu masih teramat sulit.

Joong Ki menarik tengkuknya dan meletakkan kegelisahan Jiyeon pada bahunya. Untuk sejenak dia merasa ragu untuk memeluk pria ini lagi, tapi ketika tangan itu mengusap punggungnya, entah kenapa semua perasaan penat itu seperti lenyap perlahan. Dia terpejam dan menikmati kehangatan tubuh Joong Ki yang begitu menenangkan.

“Jung, kita berangkat sekarang!” Joong Ki memerintahkan sopirnya untuk meninggalkan halaman kampus.

Uap hangat dari bak mandi yang tengah mereka diami tampak membuat merah kulit-kulit bersih Joongki. Pria ini mengusap kepala Jiyeon yang menggosok punggungya. Ini untuk kesekian kalinya Jiyeon harus beradu ketegangan dengan batinnya sendiri. Tangan itu menelusup ke depan mengusap dada pria tampan ini,  dan  membuatnya mendesah. Joong Ki menikmatinya.

Sedangkan dengan penuh gairah, Joong Ki mengecup dan menghisapi tangan Jiyeon yang begitu pasrah.

Salju di luar turun dengan derasnya. Malam ini sepertinya, akan terjadi badai salju. Joong Ki sempat merasa khawatir dengan penerbangan malam ini ke New York. Jika karena tidak ada janji bertemu dengan Na Young di sana, maka semua ini akan dia batalkan. Dia tidak bisa membawa Jiyeon ke sana demi untuk menyemangati apa yang akan dikerjakannya.

Tunanangannya itu tetap bersikukuh ingin melakukan pernikahan dengannya, meskipun dia tahu bahwa Joong Ki tidak akan mungkin mencintainya, hanya saja demi sebuah dinasti Song dan Kim, dia harus melakukannya.

Mendadak Jiyeon mendengar ponselnya berbunyi, dia membuka matanya dan berniat untuk bangkit.

“Andwaeeeh!” gertak Joong Ki keras. Dia seperti benar-benar emosi ketika Jiyeon harus mengabaikan semua sentuhannya. Hatinya yang sedang tidak tenang, dia lampiaskan pada sosok di depannya.

Mereka saling menatap dengan rancu.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu?” gadis itu bersikeras untuk bangkit.

JOong Ki berdiri dan meninggalkan bak mandi lebih dulu dengan wajah tanpa simpati, mengenakan handuknya dan berjalan meninggalkan Jiyeon yang mematung bingung.

Perlahan Jiyeon mengikuti langkah itu yang ditemuinya tengah mengenakan pakaiannya lagi. Sekarang masih menunjukkan pukul tujuh. Masih tersisa dua jam sebelum pria itu kembali sibuk.

Jiyeon mengambil ponselnya, namun si ramping tipis itu sudah tidak berbunyi lagi. Sebuah missed call dari Heechul. Dia mendesah berat dan menyimpannya. Joong Ki melirik sebentar, sambil merapikan rambutnya. Dia melihat wajah kalut JIyeon yang tak biasa ditemuinya itu.

“Kau punya masalah?” tanyanya datar. Meskipun hatinya sedang kesal, tapi dia tidak bisa mengabaikan yeoja kesayangannya ini begitu saja.

“Berapa lama kau pergi Tuan?” Jiyeon mengenakan pakaiannya lagi

“Hanya tiga hari.”

Dia mengekori langkah Joong Ki yang mencapai pantry, mengambil satu buah apel dan memakannya hati-hati. Mulutnya bergerak santun ketika gigi-giginya meremukkan potongan apel itu di sana.

Mereka saling menatap lagi dalam keheningan.

“Kenapa?” tanya pria itu. “Sepertinya kau ingin segera pergi dari sini untuk menemuinya.” Dengan mengacungkan apelnya dia menuduh.

“Apakah aku bisa pergi sekarang?”

“Jangan harap kau bisa melakukannya. Aku hanya memintamu menemaniku sampai jam sembilan. Bukankah selama aku pergi, kau bebas mempunyai waktu bersamanya.”

Joong Ki benar.

Kenyataan inilah yang membuatnya harus menunduk.

Joong Ki mendekatinya dan mengangkat dagu itu hingga mereka saling menatap kembali.

Dia mendekatkan bibirnya, mengecupnya sedikit dan menatapnya dari jarak yang teramat dekat. Ada rasa manis dari apel yang melekat di bibirnya ketika Jiyeon menjilati bibir penuhnya.

Kiss me back!” pinta Joong Ki

Selama ini, Joong Ki yang selalu berjuang untuk mendapatkan sebuah ciuman dari Jiyeon. Selalu dia yang berinisiatif melakukannya, karena dia menyadari bahwa hanya dia lah yang mempunyai perasaan ini. senyumnya tergambar pahit ketika Jiyeon menatapnya seolah-olah dia adalah laki-laki berbahaya.

Kiss me!” pintanya lagi tanpa tenaga.

Meskipun dia sudah begitu bangga karena bisa menaklukkan tubuh manusia tampan di depannya ini, namun entah kenapa sejak malam itu, Jiyeon terlihat seperti sedang membentengi hati dari serangan-serangannya. Itu membuat perasannya hancur.

Karena sebenarnya yang dia inginkan, bukan hanya sekedar tubuh hampa itu, melainkan hatinya, jika itu mungkin.

Jiyeon mendekat perlahan tanpa memutus tatapan. Dia mengecup bibir itu yang telah menantinya frustasi. Joong Ki menyambutnya, kemudian mengalungkan tangannya dengan erat pada leher laki-laki ini. Entah apa yang ada di dalam otaknya. Ada apa dengan perasaannya yang kisruh ini. Dia tidak harus melayaninya lagi, tapi perasaannya berkata lain. Kesedihan dan rasa bingungnya menjadi satu.

Joongki terlihat pasrah dan hanya menerima bibir itu tanpa melakukan serangan balik yang menuntut pria ini melayaninya. Hanya mengemban banyak kecupan dan hisapan.

Perahan Jiyeon mengaungkan lengannya, mengusap helai rambut prianya dan memberikan sebuah ketenangan seandainya itu mungkin.

Mereka saling melintasi perasaan masing-masing bersama semua kupu-kupu yang tengah bermain dalam perut mereka. Gelitiknya menyemangati permainan itu menjadi kian panas.

Lalu beberapa menit kemudian, mereka harus berhenti ketika ponsel Jiyeon berdengung lagi.

“Heechul Oppa!”

Kemudian suara bel di pintu itu menyala nyaring. Jiyeon terpejam dan harus mendapati dirinya berada dalam kondisi yang sama lagi.

Dia melepaskan pelukannya dari Joong Ki. Kali ini pria ini tampak emosi dengan kehadiran Heechul di apartemennya yang seharusnya tidak dijamah oleh pria itu.

“Kenapa dia bisa sampai ke sini lagi?” ujarnya dingin

“Aku akan pergi, Tuan.”

“Tidak, aku harus menghadapinya.”

“Jangan!” Jiyeon menahan. “Tuan, kami akan menikah bulan depan.”

Pria itu mendadak lemas, dan berjalan mundur. Jiyeon berusaha untuk menangkap tangan itu dan memapahnya ke sofa, tapi sepertinya Joong Ki sudah terlanjur lemas. Dia duduk dengan tatapannya yang hampa.

Jiyeon menggeleng dengan perasaan sedih, namun Joong Ki menatapnya dengan rasa kekecewaan yang begitu mendalam.

“Bukalah pintu itu, dan jangan membiarkan kekasihmu itu merusak propertiku.” Perintahnya.

Jiyeon berjalan untuk membuka pintu itu,

“Apa yang kau lakukan di sini?” bentak Heechul sambil menerobos masuk dan langsung berdiri di hadapan Joong Ki.

“Sebaiknya kita pergi dari sini!” ajak Jiyeon sambil menarik tangan Heechul, tapi tentu saja tidak akan sanggup menarik tubuh itu dengan tenaganya yang tidak berarti.

“TIDAK!” gertaknya, dia berjalan mendekati Joong Ki, namun tangan Jiyeon menariknya.

“Jangan Oppa!” cegahnya.

“Apa kau sudah mengatakan padanya?”

“Apa?” tanya Jiyeon bingung, tapi Heechul justru tertawa getir.

“Aku akan mengatakannya jika kau tidak bisa mengatakannya.” dia bersikeras untuk mendekati pria yang tengah duduk dengan wajah pucatnya

“Ayo kita pulang!” ajak Jiyeon lagi panik, namun Joong Ki menatapnya gamang, bergantian ke arah Heechul yang masih menyimpan emosi.

“Aku akan katakan padamu, Tuan Song tentang apa yang tidak berani wanita ini katakan padamu.”

Oppa!” Jiyeon begitu ketakutan, sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh Heechul hingga dia begitu memaksa seperti itu

“Hentikan Jiyeon! Biarkan dia mengatakan apa yang ingin dia katakan. Aku berjanji tidak akan merubah apapun mengenai perjanjian kita.” Ucapnya memastikan.

Jiyeon terlihat semakin cemas.

Heechul menarik kerah baju pria yang dianggabnya sombong itu,

“Jangan Oppa, dia sedang sakit!”

Hhh! Kenapa kau selalu membelanya, Park Jiyeon?”

Please Oppa, kalau kau terus memaksa, aku akan—”

Jiyeon berlari ke arah pintu balkon dan membukanya, “Aku akan menjatuhkan diri dari lantai 25 ini!” ancamnya gemetar

Mereka berdua panik seketika.

“JIYEON!” Joong Ki berusaha untuk mengejar, begitu pun dengan Heechul yang tak sanggup melihat Jiyeon sudah tepat berada di bibir pagar pembatas balkon.

Seluruh tubuhnya gemetar, ketika menyadari bahwa Jiyeon berniat bunuh diri. Hatinya begitu hancur .

Jiyeon menatap keduanya.

“Jangan lakukan hal bodoh itu, Jiyeon! Aku tidak akan memaksamu untuk bersamaku lagi.” Joong Ki memohon

Gadis itu menggeleng sebentar, menarik nafasnya dan—

“Aku hamil.” Lirihnya di hadapan Heechul. “Aku hamil, Oppa.” Lalu menoleh pada Joong Ki. ” Aku hamil, Tuan.”

Joong Ki tampak kaget. Dia melirik Heechul yang tengah membuang muka ke arah lain.

 

Jongg Ki membeku,

Benarkah wanita ini hamil. Haruskah dia marah dan tidak menerima kenyataan ini.

Dia mendekati JIyeon dan menghadapinya dengan sebuah senyum.

Okay, aku sudah mendengar apa yang ingin kau katakan, JIyeon. menjahlah dari tempat itu.”

Namun kekasihnya menghalangi gerak Joong Ki, dan menarik tangannya pergi. Dia sudah tahu jika Jiyeon hamil tadi pagi ketika menemukan ada sebuah alat pendeteksi kehamilan di laci meja Jiyeon.

“Dia milikku!” sengit Heechul

“Apa karena hal ini kau terlihat gugup dan menghindariku beberapa waktu belakangan ini?” tanya Joong Ki dengan sisa tenaganya, tapi Jiyeon tak menjawab

“Apa kau mencemaskan penyakitku?” tanyanya lagi, setengah berteriak. nafasnya mulai tak beraturan. Jiyeon….JIyeon….

“JAngan berhenti menemuiku!” lirihnya

dia berusah menjangkau dengan llangkah kecilnya.

“Seperti yang kau tahu Jieyonku, apapun yang terjadi padamu, kau tetap milikku.” Bisiknya lirih saat bayangan Jiyeon menghilang dari pandangan.

Katakan saja cintaku ini memang bukan cinta manusia biasa JIyeon, tapi kau harus tahu, bahwa semua cinta yang aku rasakan ini, sungguh nyata adanya.

Bisiknya di dalam hati.

Malam ini terasa begitu sesak baginya.

Joong Ki terduduk di sofa kembali dengan tatapan nanar. Dia tahu apa yang harus dialaminya ini bukan hal mudah. Dia harus berbagi JIyeon dengan Heechul, terlebih lagi jika kelak bayi itu lahir.

Pandangannya semakin nanar menatap langit-langit ruangannya. Dia berharap atap itu runtuh dan menjatuhinya sehingga dia bisa mati saat ini juga, bukan merasakan semua penderitaan atas penyakit terkutuknya ini seumur hidupnya.

.

.

.

Udara yang dingin menerpa wajahnya seperti sebuah tamparan ketika JIyeon menuruni tangga menuju ke sebuah jalan yang dingin tertutup salju. Dia menyimpan sebelah tangannya di dalam kantong coatnya untuk mempertahankan kehangatan tubuhnya, dan sebelah tangan lainnya memegang sebuah kantong plastik besar berisi beberapa                                                                              pakaian  kotor yang akan di bawanya ke laudry.  Mesin cuci di rumahnya sedang rusak, dan belum sempat di perbaiki. Siapa yang sanggup memperbaiki. Jiyeon tidak bisa melakukannya,

 

Dia hanya tidak ingin merepotkan ibunya yang sedang sakit karena hawa dingin ini. Beberapa hari kemarin dia mengalami demam lagi. Wanita seumuran ibunya memang rentan.  Dan karena sakitnya ini, toko bunga mereka terpaksa harus tutup.  Heechul begitu gusar sejak malam itu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa ketika Jiyeon mengatakan mengenai kehamilannya. Tak ada penyangkalan, karena dia sudah bisa memantikan bahwa itu adalah anaknya.

 

Langkah kakinya terasa sedikit berat dengan beberapa serpihan salju yang menempel di sepatunya. Dia ingin mempercepatnya dan segera kembali untuk memberikan perhatian penuh pada ibunya yang sakit.

 

 

Dia tidak ingin membandingkan kondisi orang tua Heechul yang masih terlihat sehat dan bugar dengan kondisi ibunya. Ini tidak akan ada gunanya. Mereka tinggal di daerah yang tidak kumuh seperti mereka saat ini.

 

Meskipun mereka tidak terlalu kaya, namun mereka selalu menjadi panutan bagi penduduk di sekitar tempat tinggalnya, itu sebabnya mereka menuntut Jiyeon untuk segera menikah dengan Heechul, apalagi kalau mereka tahu sekarang Jiyeon hamil.

 

Hari ini, sudah satu minggu semenjak kepergian Song Joong Ki ke New York, dan dia belum menghubunginya satu kalipun. Mungkin pria itu kecewa dan melepaskan Jiyeon. Gadisi ini tidak sesuai dengan ekspektasinya. Apakah dia akan menghentikan semua aliran dana untuknya.

 

Semoga persoalan dengan pria itu tidak sampai ke telinga calon mertuanya.  Ada rasa bersalah di dalam hatinya karena Joong Ki harus menerima kenyataan ini.

 

Hujan salju luruh di hadapannya dan membuat pandangannya kian terbatas. Udara dingin semakin menggigit kulit wajahnya yang  mulai memerah. Menyaksikan beberapa orang yang berjalan setengah berlari di luar sana dengan hati sepi, haruskah dia menghubungi pria itu seperti yang diinginkannya. Dia mungkin saja menunggu telepon darinya.

 

“Aku senang jika kau yang menghubungiku lebih dulu.”  Begitu ucapnya. Gadis itu menghangatkan pipi dengan telapak tangannya. Ini terlalu dingin.

 

Beberapa menit kemudian setelah dia keluar dari laundry di mana dia menitipkan beberapa pakaiannya, ponselnya berbunyi. Sebuah nomor asing yang membuatnya harus berhenti untuk memfokuskan diri.

 

Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan, menerangi letak berdirinya. Sedikit merapatkan syal biru tuanya, dan melirik pada aktifitas di sekitarnya.

 

“Park JIyeon Ssi!” sapa orang tersebut.

 

“Nde.”

 

“Ibu Anda bersama kami. Ada seseorang yang mengantarkan ke rumah sakit kami, dan sekarang sedang menjalani perawatan intensive.”

 

Jiyeon mendongak kaget dan segera berlari mencari taxi. Dia tidak tahu kenapa mendadak ibunya bisa berada di rumah sakit. Siapa yang telah membawanya ke sana.

 

.

.

.

 

Ketika berada di bangsal tempat ibunya di rawat, dia terpekur, karena mendapati ibunya dalam keadaan tak sadar. Dia mencari sosok yang telah menolong ibunya tapi tidak di temuinya. Seorang perawat masuk membawa sebuah papan catatan. Dia tersenyum pada JIyeon.

 

“Kau putri Ny. Park?” tanyanya, dan Jiyeon mengangguk

 

“Siapa yang telah membawanya ke sini?”

 

Perawat itu menggeleng, “Kami menerima dari ruang IGD, dan tidak mengetahui siapa yang telah membawanya ke sini.  Dia mengalami komplikasi ringan. Jangan khawatir, dia akan kami rawat sebaik mungkin.”

 

Apakah Heechul?  Tidak mungkin, jika itu memang dia, maka dia akan menghubunginya langsung, tidak melalui pihak rumah sakit.

 

Song Joong Ki?

 

Tapi sepertinya pria itu masih berada di New York

 

Dia berjalan ke dekat jendela dan menatap hujan salju yang turun dengan derasnya. Sebentar lagi Natal, dan sepertinya Natal kali ini sedikit membuatnya frustasi.  Dia harus menghadapi banyak masalah pelik menjelang hari raya.

 

Tatapannya terpekur pada jalan yang terlihat lengang. Yeah, siapa yang berniat keluar di hawa sedingin ini.

 

“JIyeon!” dia menoleh pada suara ibunya yang tersadar. Gadis itu mendekat.

 

Eomma, kau tadi pingsan.”

 

Dia mengangguk. Wanita itu memegang tangan putrinya.

 

“Kenapa kau membawaku ke sini?”

 

“Aku sungguh khawatir.” Ujarnya berbohong, dia memang tidak tahu siapa yang telah membawanya ke sini.

 

Sementara itu Joong Ki di dalam mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit masih lekat menatap layar ponselnya. Dia berharap JIyeon akan menghubunginya.

 

Semenjak kepergiaannya hingga kembalinya, dia tidak mendapatkan panggilan itu darinya. Hatinya merasa diabaikan.

 

Meski ini bukan kesalahan seorang Jiyeon karena dia memang tidak harus meraskan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan, tapi  apakah sebuah dosa jika dia masih berharap JIyeon memberikan sedikit perhatiannya.

 

 

Rumah itu, dia masih mengingatnya kapan terakhir dia ke sana, tapi sayangnya Jiyeon tidak berada di sana, justru menemui ibunya yang tengah tergeletak di lantai dengan suhu tubuhnya yang  tinggi.

 

Apakah Jiyeon sadar, bahwa Joong Ki lah yang telah membawa ibunya itu ke rumah sakit.

 

Pria malang itu terus menatap layar ponselnya, dan menunggu JIyeon menghubunginya. Dia terus mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa dia berhak mendapatkan kesempatan ini,

 

Kesempatan untuk dicintai dari seseorang yang dicintainya.

 

Eoh, hatinya begitu sepi.

 

“Apakah kita sudah bisa pergi dari sini, Tuan?”   sopirnya mengkhawatirkan tuannya

 

”Sebentar, aku masih menunggunya, apa dia akan muncul.”  Jonggki masih berharapdan terus  melihat ke arah pintu masuk rumah sakit itu yang terlihat sepi. Jantungnya berdebar dengan lembut. Dia ingin melihat wajah itu menyongsongnya di sana. Hatinya begitu merindukannya.

 

Pria itu bisa saja berjalan ke sana, menemuinya langsung untuk melepaskan rasa rindu ini, tapi dia hanya berharap kali ini Jiyeon yang melakukan itu untuknya.

 

Mungkinkah?

 

Sepertinya JIyeon memang belum ingin membuka hatinya untuknya

 

Pria itu tersenyum pahit, kemampuannya untuk menahan rindu ini sungguh luar biasa.

 

Diantara salju yang luruh, sedan hitam Joong Ki berlalu.

 

 

Jiyeon sempat melihatnya sebentar, sebelum mobil itu meninggalkan gerbang. Dia tidak mungkin tidak mengenali mobil yang selama ini menjadi saksi kedekatannya dengan pemiliknya itu.

 

Song Joong Ki

 

Diambilnya ponsel dari dalam sakunya. Apakah terlambat jika dia menghubungi pria itu saat ini. Mungkinkah dia yang telah menolong ibunya.

 

Beberapa kali dia mencoba menghubunginya, namun sepertinya Joong Ki tidak mengangkatnya. Dia tidak mungkin marah.

 

”Kenapa?” ibunya bertanya

 

Dia tidak mungkin mengatakannya. Wanita ini tidak akan mungkin mengijinkannya keluar jika itu untuk seorang Joong Ki.

 

”Aku—”

 

Tatapan itu tidak bisa membohongi hati seorang ibu yang begitu mengerti dengan kondisi hati anaknya.

 

”Duduklah di sini!” ajak wanita itu bijak.

 

”Aku—”  masih tak sanggup mengatakan apapun, sementara batinnya di tikam rasa bersalah. Joong Ki pasti sudah meluangkan waktunya untuk datang ke rumahnya, dan melihat kondisi ibunya.

 

”Apa yang ingin kau katakan?”

 

Dia menggeleng,

 

Eomma tidak akan menghakimimu. Eomma sadar bahwa semua ini memang tidak bisa dihindari.”

 

”Aku ingin menemuinya.”  ungkapnya lirih. Dia mencari persetujuan itu lewat tatapan lembut ibunya. Akankah dia mengijinkan.

 

”Untuk kali ini saja Eomma. Dia yang telah membawamu ke sini. BUkan aku.”” Ucapnya jujur.

 

Tubuhnya begitu lungai ketika dia benar-benar merasa ingin menemuinya. Dia seharusnya tidak merasakan perasaan ini. Perang emosi ini menguras banyak energinya. Sepertinya dia pun merasakan luka yang sama seperti yang Joong Ki sedang rasakan saat ini, ketika apa yang dia inginkan tidak dia dapatkan.

 

”Apa kau sungguh serius tidak bisa meninggalkannya?”

 

”Aku sudah meninggalkannya, Eomma. Tapi kenapa aku merindukannya.” jawab Jiyeon frustasi. Ini sungguh tidak bisa dia prediksi, bahwa hatinya akan menjadi seperti ini.

 

”Kau sedang mengandung Jiyeon, dan akan segera menikah. Sudahi semua ini, dan kita akan mengembalikan apa yang dia berikan pelan-pelan.”

 

”Apa eomma pikir dia akan menerimanya?”

 

Wanita itu mengangguk lemah, memang tidak akan mungkin. Pikirnya, tapi dia tidak mau memberikan putrinya ini untuk dijadikan permainan seperti ini.

 

”Kenapa semua ini harus terjadi pada kita, Nak?”

 

”Aku pun  tidak tahu eomma, kenapa aku bisa seperti ini.”

 

Wanita itu menunduk. Hatinya sungguh tidak bisa menguasai kondisi ini. Dia menyayangi putrinya dan tak ingin melihatnya menderita seperti ini.

 

”Aku masih ingin menemuinya, meski ini terdengar sangat tidak pantas, tapi aku ingin membalas semua yang telah dia berikan untuk kita, eomma.”

 

Dia mengangguk, wanita itu berusaha untuk menyelami perasaan JIyeon

 

”Pergilah!” ujarnya.  ”Aku harap ini yang terakhir kau bisa menemuinya.”

 

Tanpa menunggu dua kali, Jiyeon segera melesat dari hadapan ibunya. Dia ingin segera menjumpai pria itu saat ini juga, ya detik ini juga.

 

Kakinya melangkah lebih lebar dan menjangkau jarak yang cukup jauh dalam sekali hentakan, dan ketika dia tiba di pinggir jalan, dia segera menghentikan taxi pertama yang dia lihat. Beruntung taxi itu kosong, sehingga dengan satu kali tarikan nafas, dia sudah melemparkan pantatnya pada bangku penumpangnya.

 

Jalan-jalan tampak berkabut, dia hampir merasa hilang kendali ketika melihat ada satu mobil yang menghalangi di depannya.

 

Di tangannya dia masih menggenggam ponsel, berusaha untuk menghubunginya, namun entah kenapa pria itu tidak mau mengangkatnya.

.

.

.

 

 

Tbc

 

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. cia says:

    Aduh jiyeon beneran hamil
    Makin susah jauh dr heechul dehh
    Ditunggu next nyaa

  2. anii says:

    Kasian.a joongki:(, aduhh susah aku mw ngomong apa–‘
    andwee haaaa!!! Hahhk keguguran aja udh yee||hmm

  3. May andriani says:

    Ini gk adil deh buat jiyeon,,bkany heechul juga main sma perempuan” lain selain jiyeon.. Trus kmn heechul ps jiyeon hamil ank dia??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s