Save Our Love [3]


SAVE OUR LOVE

Main cast | Kim Joon Myeon feat Park Jiyeon

Suport Cast | Song Kyung-il

Genre | Romance

Length | Chaptered

Rated | PG

Disclaimer |  I own nothing but the story

 

 

Pria itu, sosok berpostur tinggi, dengan wajah tampan dan rambut sedikit ikal, dia adalah seseorang yang selama ini mengenal Jiyeon cukup baik. Boleh dikatakan dia ingin mempunyai cerita khusus dengan wanita yang selama ini dikenalnya sebagai  Singa Liar Betina itu. Lelaki jantan sepertinya ingin sekali menaklukan gelar kehormatan itu dan membuat Jiyeon tunduk dalam kuasanya di dalam dunia kerja, maupun di atas ranjang.

 

Dan hari ini pun tiba, dia tidak sabar untuk bertemu dengannya—

 

Sementara itu,

 

Jiyeon keluar dari rumahnya  di kawasan Haight-Ashbury. Bangunan bergaya Victoria yang menjadi cirri khas dari kota San Fransisco itu dia peroleh dari salah seorang temannya, seorang Spanyol yang menyewakannya untuk waktu tak terbatas. Mereka pindah karena ada pekerjaan lain di New York. Elenora Damian, adalah seorang wanita berumur 40 tahun yang mempunyai seorang suami dari Mexico. Mereka belum mempunyai anak, dan tidak pernah pusing mengenai masalah itu meski sudah lima tahun menikah. Mereka terlalu sibuk dengan karir, dan mengenai keturunan entahlah, kenapa terkadang manusia mempunyai pemikiran masing-masing tentang hidup ini. Tidak ada alasan harus dan tidak harus bagi mereka, karena setiap kehidupan ini berjalan sebagai mana mestinya. Banyak peluang dalam hidup ini yang bisa membahagiakan mereka. Yeah, kenapa harus pusing dengan apa yang dipikirkan orang lain.

 

Dengan penuh rasa percaya diri, Jiyeon melenggang manis di lalulintas padat dengan si merah Hyunday Genesis Coupe-nya. Entah juga kenapa dia ingin sedikit terlihat pamer mengenai kesuksesannya pada pria itu. Masa bodoh jika dia akan dikatakan sombong, tapi dia pantas untuk sombong karena ada hal yang bisa dia sombongkan. Yeah, pakaian yang dipakainya ini pun merupakan pakaian yang dirancang oleh salah satu perancang busana berkelas di kawasan Noe Valley, meskipun terkesan kuno, tapi dia tetap terlihat elegant dengan gaya vintage yang manis.

 

”Apakah dia sudah datang?” tanya Jiyeon pada seorang temannya Erick.

 

Pria bule berambut keriting itu menjawab belum, yang kemudian di sambut hembusan nafas ringan Jiyeon. Dia melangkah ke arah ruangannya, dan melihat beberapa teman satu teamnya melirik jengah. It’s okay, dia sudah terbiasa begini.

 

.

.

.

 

 

 

Jiyeon menatap ke arah telepromter sekali lagi untuk tersenyum. Dia menampilkan wajah tercantiknya untuk menutup siaran berita sore ini. Ruangan terasa sedikit panas ketika semua orang mulai bersuara. Sang operator telah mengambil teks display yang tadi terpasang pada alat yang hampir selama setengah jam itu menyorot ke wajahnya.  Begitu juga dengan semua lampu yang menyala dan hanpir membuat wajahnya menjadi kering.

 

Sesaat lalu, JIyeon berada di seluruh penjuru dunia. Siaran berita yang dia sampaikan adalah siaran langsung, yang mungkin mendapat perhatian seluruh warga Korea dan dunia. Dia tersenyum bangga.

 

“Jiyeon!”    Sebuah suara memanggilnya

 

Dia berdiri dan melepaskan semua peralatan dari tubuhnya, termasuk juga mikrophone yang tadi berada di celah telinganya.

 

“Hai!” Jiyeon melambai. “O my God! “ Jiyeon berlari pada sosok seniornya yang dulu pernah mengajarnya juga. Katakan saja semua usahanya itu hanya setengahnya saja yang berhasil, dia keburu pergi waktu itu.

 

Sudah lama Kyung Il pindah pekerjaan ke studio teve lain, meninggalkannya untuk melakukan semua pekerjaan penyiaran berita di jam utama ini sendirian. Tidak sepenuhnya sendirian, karena ada seorang  Jong Hyun yang menggantikan posisinya dengan instan. Kejadian itu hanya berselang dua jam setelah Kyung Il dinyatakan hengkang.

 

Jong Hyun memang bukan sosok yang penting, namun Jiyeon memang harus bisa beradaptasi dengan partner baru itu.   Yeah itu saat dia masih berada di Korea.

 

“Sunbae!”   Jiyeon menyambut pria itu

 

“Apa khabarmu Park? Kau baik-baik saja?”  laki-laki itu bertanya dengan wajah senang. Mereka lama tidak bertemu, hingga pertemuan ini dianggap sebagai pertemuan pertama bagi mereka. Kesan canggung itu nyaris tak ada, yang mereka lakukan adalah menatap dan tersenyum. Beberapa dari kru sudah meninggalkan ruangan, kecuali satu orang yang masih beridiri merapikan kamera.

 

Nde Sunbae, aku baik-baik saja, meski pun sedikit bosan karena kau meninggalkanku.” Jiyeon menoleh pada sang kameramen yang berdehem.  Kenapa dia melakukan hal itu.  Jiyeon bersungut.

 

“Kau sudah menikah, tapi tidak memberitahuku.” Kyung Il mengangguk protes ketika menyerang Jiyeon dengan pernyataannya. Well, dia menyimak perubahan yang terjadi pada sosok seorang Jiyeon kini, dan WOW— tak tahan dengan lekukan bokongnya yang padat, juga pinggang ramping yang membuat lengannya gatal ingin memeluknya.

 

Kesan sungkan Jiyeon terwujut begitu saja. Dia tidak berkomentar atau menanggapi dengan senyuman. Bukan sesuatu yang harus dia banggakan ketika dia harus menikahi seseorang yang  tidak dia cintai.

 

“Aku tidak bisa mengajakmu ke mana-mana dengan statusmu sekarang ini.”  Kekecewaan Kyung Il tergambar diantara senyum pahitnya— acting.

 

“Agh, aku akan meluangkan waktu sebentar jika kau mau.”  Jiyeon melirik lagi sosok yang melintasinya. Laki-laki pemegang kamera yang semula bersikap aneh itu kini telah meninggalkannya. Ada sedikit rasa lega, ketika Jiyeon melihat laki-laki bernama Joe  itu berlalu.

 

Kyung Il memperhatikan raut kecemasan Jiyeon.

 

“Kau kenapa?”   tangan itu menyapa bahu yang tengah dilanda gelisah.

 

“Entahlah!”  Jiyeon mengajak pria tampan itu keluar ruangan. Mereka berjalan di koridor yang masih terlihat ramai. Beberapa dari mereka menyapa Jiyeon dan juga Kyung Il, tapi  mereka tidak mendekat sedikit pun. Jiyeon memang terkenal sebagai  News Reporter yang mempunyai kelas tersendiri. Dia sedikit angkuh dan sombong. Mempunyai klasifikasi khusus mengenai orang-orang yang berteman dengannya.

 

“Bagaimana kalau kita mengadakan acara khusus penyambutanku?”  menebar cengiran sombong

 

“Sayang sekali, kau terlambat. Kemana saja kau seharian ini?”

 

“Berjalan-jalan, melintasi Golden Gate, dan—“

 

Pria ini sedikit merasa risih dengan sorotan beberapa mata yang mengarah tanpa kesan ramah itu. Jiyeon masih belum berubah, meskipun beberapa waktu lalu dia sudah berpesan pada juniornya ini untuk bersikap rendah hati.

 

“Apa kau masih mengingat pesanku, Jiyeon?”

 

“Pesan apa?”  Jiyeon mencandai dengan senyumnya.

 

“Tentang attitude.”  Wajahnya berubah serius.

 

Lirikan Jiyeon menandakan ketidaksetujuan. Dia tidak suka prilakunya di komentari, terlebih oleh orang yang dia kagumi.

 

Agh Sunbae, kau ke sini untuk menemaniku  bekerja, atau karena kau ingin memberi kulian membosankan itu padaku?”

 

Pria itu tertawa ringan, tapi tubuhnya  bergerak maju, menekan Jiyeon pada dinding. “Aku ke sini karena aku tidak ingin kau merasa kesepian.”  Sedikit bermain dengan belaian di lengan mulus Jiyeon yang terbuka. “Apa kau tahu tubuh ini tak akan membuatmu merasa kedinginan lagi, Park Jiyeon.”

 

DAMNT!

 

Jiyeon menahan nafasnya. Dia tahu siapa Kyung Il, dan sepak terjangnya. Benar dia adalah sosok yang sangat dikaguminya, tapi tidak untuk petualanganya di atas ranjang.

.

.

.

 

 

 

“Jiyeon, kalau kau terus begitu karirmu tidak akan bertahan lama.” Pria ini merubah alur pembicaraan seperti angin yang mendadak berubah arah hembusnya.

 

“Kenapa kau bicara seperti itu?”  Jiyeon cukup dengan menelan saliva.  “Kau tau, aku bisa bertahan sampai detik ini.”

 

Sikapnya yang dengan sengaja melipat tangan itu, sudah menunjukkan siapa Jiyeon sebenarnya, dan bagaimana kepribadiannya. Gadis cantik ini sangat berkarakter, meskipun dia tampak seperti bunga yang begitu cantik, segar dan indah dengan segala pesonanya, namun setiap jengkal bahasa tubuhnya sudah mengisyaratkan sekeras apa jiwanya.

 

“Menjadi penyiar utama itu mungkin hanya bertahan selama dua tahun jika kau tidak bersikap ramah. Apa kau mengerti, Park Jiyeon. Profesional saja tidak cukup. Jika kau tidak bisa mengambil hati banyak orang, kelak akan ada pihak yang menjatuhkanmu. Seperti aku.”

 

Ceramah itu hanya dianggap angin lalu.

 

Sunbae, kau pergi bukan karena ada yang menjatuhkanmu, tapi karena kau mendapatkan tawaran lain yang lebih baik.”

 

Kyung-il menghela napas dan mengajak Jiyeon duduk di dalam ruang kerja yang telah kosong itu. “See, bahkan tidak ada teman-teman dari team mu yang menunggumu.”

 

Jiyeon tersenyum kecut sambil duduk di tempatnya. “Mereka punya urusan masing. Aku tidak memaksa mereka untuk menungguku.”  Jiyeon mencoba berkilah, padahal kenyataan yang ada, adalah karena memang selama ini tidak ada yang dekat dengannya. Mereka bekerja di dalam satu team hanya karena urusan pekerjaan . Lain itu mereka tidak terhubung sama sekali dengan yang namanya tali persaudaran atau pertemanan yang bermutu.

 

Hubungan mereka rapuh. Jika mereka masih mau bertahan dengan Jiyeon, itu karena ada sebuah kekuatan yang berdiri di belakang pembawa berita utama yang cantik dan mempesona itu.

 

“Dulu kondisiku tidak seburuk ini, namun ada saja orang yang tidak menyukaiku. Dalam bidang apapun persaingan itu adalah hal yang sangat manusiawi, tapi jika harus saling menjatuhkan, itu lain cerita, Jiyeon.”

 

Jiyeon megerutkan dahinya. “ Sunbae, siapa manusia itu, yang telah berani menjatuhkanmu?”

 

Actually, dia adalah seseorang yang sangat kau kenal.”

 

Jiyeon menahan tawanya. Selama ini hanya ada beberapa gelintir orang yang dikenal Jiyeon pun tanpa kesan manis.

 

”Aku harus segera pulang.”  Jiyeon melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sebenarnya ini belum malam, hanya saja….

 

“Sudah kubilang kita harus merayakannya dulu.”  Pria itu menarik tangan Jiyeon, menggoyangkannya seperti bocah. “Come’on!”  hm, ya Kyung-il mulai memainkannya. Senyum itu, tatapan itu, juga gerak bibir itu! seandainya saja saat ini Jiyeon masih ada di Seoul, pasti suaminya akan menghabisinya di ranjang karena berani memegang tangan laki-laki lain.

 

Joon Myeon—

 

Terakhir kalinya dia meninggalkan suaminya, tidak ada perasaan yang begitu mendalam seperti ini. Joon Myeon bahkan tidak ada dirumah saat Jiyeon mengemas barang dan menyeretnya keluar dari rumah dengan travel bagnya yang besar. Rodanya menggesek lantai dengan suara gaduh yang disengaja. Beberapa kali Jiyeon memastikan bahwa tidak akan ada penyesalan saat dia meninggalkannya.

 

“Kau menginap di mana?”  mereka berjalan meninggalkan gedung. Saat Jiyeon menoleh, dia sudah menduga bahwa Kyung-il tidak berniat untuk menginap di manapun selain di rumahnya.  Di sini, Jiyeon memang wanita single,   tapi dia tidak sembarangan menerima tamu. Selama  ini dia tidak berkencan atau melakukan hal bodoh dengan laki-laki lain. Bukannya tidak ada— hell, itu tidak mungkin. Jiyeon punya lebih dari seribu pesona untuk menggeret pria dari berbagai kalangan untuk masuk dalam pelukannya, hanya saja dia tidak mau.

 

Seharusnya dia mau, hanya saja belum menentukan pilihan. Lalu apakah kini dengan kedatangan seorang Kyung-il, dia tiba pada satu titik untuk menentukan itu.

 

“Please!”  pria dewasa yang memohon dengan wajah sayu, dan cengiran ini tampak menyedihkan.

 

“Aku punya dua kamar kosong lagi di rumahku. Satu milik, pembantuku Nena, dan satu lagi masih berantakan belum dia bereskan, kebetulan dia cuti hari ini. Kau bersihkan sendiri!”

 

Kyung-il tersenyum, sembari menjejeri Jiyeon di dalam mobilnya.

 

“It’s really nice car!”

 

Jiyeon hanya menghea nafas menanggapi, dia sudah tahu bahwa jagoan merahnya ini pasti akan dikomentari. Kyung-il termasuk seorang presenter yang sudah lama malang melintang di dunia penyiaran, dan penghasilannya lebih dari cukup untuk membeli tunggangan semacam ini, tapi mungkin karena bukan manusia yang suka menghamburkan uang, dia memilih untuk mendepositkan kekayaannya dengan berinvestasi.

 

“Kau berpisah dari suamimu?”

 

“Jangan bertanya masalah itu!”

 

Pria itu mengangguk,

 

“Kudengar dia—“

 

Jiyeon memotong dengan lirikan tajam. “Sudah kubilang jangan bicarakan masalah suamiku dan kehidupannya.”

 

“Okay—“

 

Mobilnya berbelok ke kiri, ketika lampu merah menyala. Mereka melaju cepat menembus jalanan lengang menuju rumahnya.

 

 

“Bagaimana kalau membicarakan masalah kita saja?”  mulai terdengar konyol di telinga Jiyeon.

 

“Asal kau tau batasnya saja—“  itupun tanpa simpati dia katakan.

 

“Batas apa?”  Pria ini merasa tertantang dengan keacuhan singa betina ini. Apa masalahnya bersikap sedikit mesra padanya, berbasa-basi atau binal pun bukan masalah untuk seorang Kyung-il, tidak perlu membentengi diri atas kebutuah sexualnya.

 

“You know it!”  dengan tegas.

 

Kyung-il mengangguk dengan sebuah cengiran. Fine, itu bisa diatur. Toh batas seorang Jiyeon itu tidak sama dengan batasnya.

 

 

 

Jadi hanya seperti inilah pertemuannya kembali dengan Kyung-il.  Dulu terakhir kalinya mereka harus berpisah di bawah lampu jalan begitu saja. Jiyeon menemukan bayangan laki-laki yang mungkin pernah dijadikan sandaran itu menghilang setelah berlalu dengan mobilnya.

 

Ya, di malam itu ketika Jiyeon merasa dia harus menyelesaikan sesuatu yang benar-benar ingin dilakukannya sebelum meninggalkan Korea.

 

-Flash back-

 

Gadis berambut hitam tergerai itu menoleh pada sebuah mobil yang telah menunggunya. Ji Sung, sopirnya sudah menunggu dengan sikap santun.

 

Langkah kakinya begitu malas dan lesu sampai dia masuk dan duduk pada jok belakang mobilnya.

 

“Kenapa kau yang menjemputku. Di mana suamiku? Bukankah dia sudah pulang.”  Jiyeon menyandarkan kepalanya dan terpejam. Hujan mulai turun. Semua mendadak menjadi basah. Suaminya baru saja pulang dari luar negri untuk meliput acara resmi kenegaraan.

 

 

“Dia menunggu Anda di rumah.” Jawab Ji Sung dengan nada tenang. Sopirnya ini sudah bekerja padanya sejak dua tahun lalu.

 

“Ji Sung ssi!”  panggil Jiyeon ketika dia tiba pada sebuah tikungan

 

“Ada apa Nyonya?”

 

“Kita pergi ke sebuah tempat dulu.”

 

Ji Sung menoleh sebentar, siluet bayangan wajahnya tampak  penuh pertanyaan, namun kemudian, dia  mengerti dengan maksud bossnya.

 

-Flashback end-

 

.

.

.

 

tbc

 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. rasma says:

    jiyeon selingkuh?dia ninggalin suami nya .. duh jangan dong moga aja jiyeon tetep setia ma suami nya .walau belum tau akar masalah nya,ku harap jiyeon tetp setia .

  2. May andriani says:

    Iss suho pabo jiyeon diacuhkan kyk gitu,,

    1. mochaccino says:

      Hi baru kliatan lagi

    2. mochaccino says:

      Aku di wattpad skr. Yg ini udah ending di sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s