LIE TO ME [Part-8]


you-r-not-my-destiny

Lie To Me – 8

by. Mochaccino

Maincast. Park Jiyeon and Lee Taeyong

.

.

.

Di kejauhan Taeyong terus menatap ke arah Jiyeon tanpa bisa mengatakan apapun. Mungkin memang semua ini harus berjalan seperti ini, tapi kenapa saat ini hatinya merasakan sakit itu lagi. Lebih sakit, karena selama kebersamaan mereka ini, dia sudah menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya. Bahkan semalam Taeyong sempat menyentuh wajah Jiyeon, mengamatinya di saat Jiyeon pura-pura terpejam.

 

Tolong katakan kalau dia bukan takdir hidupnya. Jangan dia, karena ini sungguh menyakitkan jika kenyataannya selalu akan seperti ini.

 

Just tell me that he is not my destiny…

 

 

 

.

.

.

 

 

Dua hari berselang, ada seorang pengacara keluarga Lee datang membawa sebuah surat tuntutan atas penculikan Taeyong yang dilakukan Jiyeon. Mereka meminta Jiyeon untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan Jiyeon pada putra mereka. Terus terang saja, Jiyeon merasa semua ini konyol, tapi dia tidak bisa menghindar, dan apapun yang terjadi dia harus diperiksa oleh pihak yang berwajib.

 

JIyeon harus datang memenuhi panggilan kepolisian untuk pemeriksaan.  Dia membawa Tae Yeon, ketika dia harus menjalani  pemeriksaan itu, berharap semua masalah ini cepat berlalu, tapi kenyataannya, wanita itu, Ny, Lee, tidak membuat masalah ini selesai begitu saja. Entah apa yang membuatnya kesal, padahal Taeyong tidak kurang secuil pun ketika berada bersamanya.

 

Tae Yeon menangis ketika dia digendong pengasuhnya dan membuat Jiyeon gelisah. Emosinya berada diujung tanduk, dia ingin menangis, dan mencaci Taeyong yang tak bisa melakukan apa-apa padanya juga Tae Yeon.

 

Polisi itu tercekat, ketika Jiyeon berdiri dan berjalan untuk menemui anaknya, digendongnya Tae Yeon dan memberikan ketenangan. Anaknya ini merasakan apa yang dirasakan ibunya sehingga dia menangis.

 

Mendadak dia muncul, Taeyong berdiri di dekatnya dengan wajah iba, mengusap kepala putrinya dan melangkah di dampingi laki-laki, mungkin sopirnya. Dia menghadap pada polisi yang tadi memeriksa Jiyeon.

 

Tak ada yang bisa dikatakan Jiyeon dengan kondisi depresi seperti ini, namun dia lega Taeyong datang, itu sudah cukup membuktikan bahwa dia perduli padanya. Jiyeon duduk dan menanti apa yang akan terjadi setelah kedatangannya.

 

#Flashback

 

Di rumah keluarga Lee,

 

”Apa yang kau lihat dari wanita itu?”  suara itu melengking tinggi dikeheningan, membuat Taeyong harus terpejam sesaat. Dia duduk pada sofa dan meluruskan kakinya di atas meja, melemparkan semua rasa lelahnya di sana.

 

”Dia wanita hebat.”  sahutnya tanpa memperdulikan reaksi ibunya.

 

”Wanita kampung itu melahirkan anak untukmu?”

 

”Memangnya kenapa?”

 

”Apa kau sadar dengan wanita seperti apa kau bergaul?”

 

Taeyong mengernyit, ”Apa eomma tau dia wanita seperti apa. Kau mengenalnya?”  serangnya telak dengan cibiran. ”Jangan pernah menghakimi orang lain tanpa mengenalnya!” sindirnya kemudian.

 

”Kau membelanya mati-matian, beginikah yang kau dapat dari berhubungan dengan wanita itu?”

 

”Aku menyukainya, dia tidak seperti yang eomma pikirkan.” entah bagaimana Taeyong harus mengatakannya, tapi dia merasa Jiyeon adalah wanita yang berharga.

 

”Lalu kau menghamilinya?”

 

”Jangan terlalu kejam padanya, Eomma.”

 

”Kenapa kau terus membelanya,….”  ibunya mendekat dengan cepat, dan meneliti wajah putranya,  ”Jangan-jangan kau sudah menikahinya tanpa sepengetahuanku. JANGAN KATAKAN ITU PADAKU!”  dengan suara yang begitu keras.

 

”Hhh, bagaimana jika aku berniat untuk menikahi dia, Eomma.”

 

”Jangan pernah bermimpi!”  ibunya mendengus,

 

”Jangan mengganggunya, dia hanya mencoba untuk menolongku.”

 

”Apa kau tau, eomma begitu khawatir sampai harus begaimana mencarimu. Kabar itu memang terlambat eomma tau, saat kemarin eomma kemarin pulang dari London, orang-orang di rumah baru mengatakan kalau kau mengalami kecelakaan, dan menghilang. Apa kau bisa merasakan apa yang aku rasakan, Lee Taeyong?”

 

”Apapun alasanmu, jangan mengganggunya lagi, atau aku akan meninggalkan rumah ini dan hidup bersamanya.”

 

BRAKH

 

Wanita itu menendang bangk di dekatnya, hingga terjungkal. ”Jangan mengancam Eomm, Taeyong!”

 

”Tidak. Aku akan tinggal bersamanya.” tegasnya lagi

 

”Taeyong, kau harus kuliah di Jerman. Apa kau tau itu?”

 

Taeyong memejamkan matanya lagi. Berpikir sebentar, untuk menyelamatkan Jiyeon dari serangan ibunya.

 

”Baiklah. Aku akan bersekolah ke Jerman, tapi jangan pernah mengganggu kehidupan Jiyeon dan anakku. Apa kau mengerti Eomma.”

 

”Aku sudah mengadukan semua ini pada polisi, mungkin besok wanita itu akan berada di kantor polisi untuk memenuhi panggilan itu.”

 

Taeyong menggeleng jengah..” I hate you, Mom!”

 

#Flashback end

 

 

.

.

.

Jiyeon gemetar saat Taeyong mengambil anaknya dari pelukan Jiyeon, kemudian menggendongnya pergi dari kantor polisi itu. Jiyeon memandang punggung bocah itu, dan dia merasa terharu. Taeyong telah berubah menjadi sosok yang membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya.

 

”Jiyeon Nunna, maafkan eomma. Dia tidak tahu apa yang dia perbuat.”

 

”It’s okay Taeyong. Aku mengerti, hanya saja aku tidak tega pada Taeyeon saat menangis, rasanya tadi aku ingin sekali memakimu, karena kau tidak bisa melindungi kami. Tapi ternyata salah, kau datang dan menolong kami, aku sangat bahagia.”  Jiyeon meneteskan air matanya. Perasaan ini menjadi lemah seketika dengan tatapan bocah itu padanya.

 

Nunna, aku akan kuliah di Jerman. Eomma menyuruhku untuk melanjutkan pendidikan ke sana.”

 

Jiyeon menggigit bibirnya, yeah..tentu saja. Taeyong memang harus melanjutkan pendidikan dan meraih impiannya. Jerman adalah pilihan yang sangat tepat.

 

”Hm, aku akan mendoakan semoga kau bisa meraih semua impianmu Taeyong.”

 

Namja itu mengecup puncak kepala Taeyeon ”Aku pasti akan sangat merindukan TaeYeon.”  ucapnya.

 

”Kami akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir!”

 

Jiyeon mengambil TaeYeon dan menyerahkan pada pengasuhnya.

 

”Nunna, apa kau mau ikut denganku sekarang? Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan sebelum aku berangkat ke Jerman.”

 

”Ehm…?”  Jiyeon tersenyum, benarkah Taeyong berinisiatif untuk membuatnya senang.  Ini seperti sebuah mimpi baginya. Seorang Taeyong yang selama ini dia kenal sebagai namja cuek, dingin, dengan sikap yang tak bisa ditolerir oleh hati manapun, terlebih hati Jiyeon kini menjadi sosok yang perhatian. Terus terang, ini perubahan yang sempurna di mata Jiyeon, meski sebenarnya, semua ini bukan sebuah kebahagiaan yang mutlak.

 

”Ini karena kau akan meninggalkan kami.”  lirih Jiyeon

 

”Aku harus melakukannya.”

 

”Aku mengerti, Taeyong. Don’t worry aku sangat bisa mengerti semua ini.”

 

Taeyong tertawa.

 

”Hanya Nunna yang bisa mengerti siapa aku, sebodoh apa diriku, seburuk apa kelakuanku, dan senista apa lahir batinku, tapi kau bisa menerimaku. Memahamiku…”

 

”Ya, kurasa kau mulai harus mempertimbangkan lagi diriku.”

 

Beberapa saat kemudian, setelah mengantar Tae Yeon pulang dan menyerahkannya pada ibunya, Jiyeon pergi bersama Taeyong dan sopirnya. Jiyeon menurut saja ketika bocah itu menggandeng tangannya.

 

Mereka pergi ke sebuah pantai yang tidak jauh dari rumah Jiyeon. Tempat di mana Taeyong sebenarnya biasa menyendiri, tapi kali ini dia mengajak Jiyeon. Mereka berjalan pada pasir-pasir basah, dengan sedikit canggung, mengukir banyak senyum yang mungkin akan di simpan Jiyeon selamanya. Entah lakon apa lagi yang akan terjadi pada hidupnya.

 

Lie To Me 9

 

Mereka pergi ke sebuah pantai yang tidak jauh dari rumah Jiyeon. Tempat di mana Taeyong sebenarnya biasa menyendiri, tapi kali ini dia mengajak Jiyeon. Mereka berjalan pada pasir-pasir basah, dengan sedikit canggung, mengukir banyak senyum yang mungkin akan di simpan Jiyeon selamanya. Entah lakon apa lagi yang akan terjadi pada hidupnya.

 

Sore ini, angin berhembus kencang mempermainkan langkah mereka pada bibir pantai yang landai. Di kejauhan anak-anak ombak berlarian ke arah mereka. Taeyong menggeret Jiyeon untuk menjauh dari terjangan ombak yang sedikit tinggi mencapai lututnya.

 

”Nunna, apa rencanamu setelah hari ini?”  Taeyong mendadak serius, membuat Jiyeon tercengang

 

”Aku~”  menggelengkan kepala— ”Mungkin aku akan melanjutkan kuliahku juga, mencari pekerjaan yang layak untuk membesarkan anakku.”  jawab Jiyeon yakin.

 

”Suatu hari ini aku akan kembali dan mungkin—”

 

Jiyeon menggeleng, ”Jangan menjanjikan apa-apa padaku! Lakukan saja apa yang ingin kau lakuka, jangan terlalu memikirkan aku.”

 

Taeyong diam. Ya, dia pun takut kelak dia tidak bisa menepati semua janji itu, jadi lebih baik tidak usah berjanji, tapi di dalam hati kecilnya dia tetap akan melakukan yang terbaik untuk Taeyeon. Itu adalah janji yang dia ucap sendiri, dan Jiyeon tidak pernah tau.

 

.

.

.

 

Setelah Taeyong pergi ke Jerman, Jiyeon pun mulai melakukan aktifitasnya lagi. Dia mencoba untuk mendaftar lagi di fakultas kedokteran di Universitas Nasional Seoul. Sejak dulu dia hanya mencita-citakan diri untuk menjadi dokter seperti ayahnya, dan kini dia bisa mewujutkannya.

 

Memang sulit membagi waktu antara kuliah dan bekerja, juga merawat Taeyeon yang sekarang terpaksa dia titipkan pada ibunya. Jiyeon hanya tidak mau orang lain memegang anaknya yang sangat berharga itu. Waktunya habis untuk kuliah di pagi hari, kemudian bekerja hingga larut malam di sore hari. Di akhir pekan dia menyempatkan diri untuk mengunjungi Taeyeon. Dan semua itu berlangsung sampai Taeyeon berumur tiga tahun.  Jiyeon merasa sedikit kehilangan masa-masa berharganya melihat pertumbuhan dan perkembangan putri semata wayangnya, dan jenjang yang telah dicapainya kini tinggal bersisa dua tahun lagi. Dia benar-benar semakin serius menjalaninya, terlebih dengan pengalamannya bekerja sebagai pembantu dokter di pedesaan dulu, dia sedikit merasa terbantu dengan kegiatan prakteknya.

 

Satu hal lagi, dia tidak bisa menghindari beberapa teman pria yang kerap mengajaknya berkencan. Mereka tidak tahu, sebenarnya Jiyeon sudah mempunyai anak, itu sebabnya Jiyeon menolak ajakan-ajakan kencan mereka dan memilih untuk tetap sendiri.   Tak ada yang berhasil membuat Jiyeon luluh dengan perhatian mereka, tapi tidak dengan seorang dokter yang selama ini menjadi dosen pembimbingnya. Dia sedikit aneh jika menghadapi Jiyeon. Mungkin dia bukan pria yang cukup ideal untuknya, karena dokter itu galak dan selalu pelit memberikan nilai untuk Jiyeon, dan sering memberi tugas yang tidak mengenakkan. Jiyeon harus berjaga di rumah sakit pada malam hari, membantu para perawat yang mendapat tugas jaga shift malam. Apa boleh buat, Jiyeon tidak bisa mengelak karena dia berada di tahap akhir perkuliahannya. Banyak hal yang dia dapat dari semua yang diperintahkan dokter killer itu.

 

TaeYeon berusia empat tahun, dan ibunya sudah memasukkannya ke sebuah sekolah playgroup. Jiyeon hanya mendengarnya lewat ponsel ketika Taeyeon bernyanyi dengan nada yang masih acak-acakan. Senyumnya merekah begitu saja. Rasa haru membayang di wajahnya. Seandainya saja Jiyeon bisa berada di samping putrinya dan menemaninya berada di hari pertama sekolahnya.

 

”Kau seperti orang gila!”  mendadak ponsel di tangannya terjatuh, dan dokter killer itu yang mengambilnya dari rerumputan di dekat kakinya.

 

”Dr. Hong, maaf! Saya hanya sedang bicara dengan ibu saya.”  jawab Jiyeon menanggapi komentar dosennya itu.

 

”Apa kau sudah mengerjakan tugasmu?”

 

”Sudah.” jawab Jiyeon.

 

”Kalau begitu temani aku makan siang dulu!” ajaknya ketus sambil berjalan melewati mahasiswa didikannya. Pria itu, Hong Jong Hyun, dia adalah dosen yang selama ini membuat hidup Jiyeon berada di dalam neraka.

 

”Kau makan apa saja terserah, aku yang membayar. Aku sedang baik hati, jadi jangan bertanya apa-apa!”  perintahnya kemudian.

 

Jiyeon melirik pria itu, yang tanpa menoleh mengajaknya bicara. Sungguh sangat anguh, eksentrik tapi dia orang yang perhatian, meski perhatiannya itu memang dengan cara yang aneh—menindas.

 

Karena diberi kesempatan untuk memakan apa saja yang disuruh dokter itu, Jiyeon mengambil sebanyak mungkin apa yang dia inginkan, bahkan dia mengambil kotak makannya dari dalam tas, dan mengisinya. Lumayan untuk makan sore nanti kalau lapar. Pikirnya…

 

Pria itu melirik dengan sejumlah makanan mengganjal di mulutnya. Tercengang dengan apa yang dikerjakan Jiyeon, bahkan saat dia menyenggol tubuh Jiyeon dengan lengannya yang kekar itu, Jiyeon hanya mengangguk tanpa dosa.

 

”Kau sungguh tau bagaimana memanfaatkan kesempatan.” umpat dokter itu

 

”Anda sering memberi saya tugas jaga malam, dokter!”

 

Sebuah helaan panjang terlempar, sambil berjalan pergi. Jiyeon tersenyum sambil mensyukuri kondisi ini. Benar-benar rejeki sekali.  Kemudian dia mengikuti dokter itu duduk di dekat taman. Kakinya itu sungguh memenuhi tempat duduk yang ada, sehingga Jiyeon hanya kebagian duduk di ujungnya.

 

”Kau tidak usah jaga malam, hari ini.” ujarnya datar.

 

Jiyeon mengangguk, sambil mengunyah makanannya.

 

”Jadi kembalikan lagi makanan itu pada tempatnya.”

 

”Tidak apa-apa, untuk makan saya di rumah.” jawab Jiyeon dengan sedikit senyum.

 

”Memangnya kau kekurangan uang, sampai harus seperti ini?”

 

Jiyeon menganggguk. ”Belakangan ini, saya tidak bisa bekerja, karena Anda menyuruh saya berjaga malam di rumah sakit ini.”

 

”Begitukah? Aku baru tau kalau kau bekerja malam.”

 

”Berapa umurmu?”

 

”Saya sudah tua, dr. Hong.”  Sahut Jiyeon sambil meneguk air dari botol minumnya.

 

Pria yang tengah menelan potongan daging itu memejamkan matanya. ”Kau sengaja menyindirku atau bagaimana?”  liriknya tajam

 

”Saya tidak menyindir, saya memang sudah tua. Umur saya 27 tahun.” jawabnya lagi.

 

”Benar. Umurmu memang sudah tua.”  timpal dokter itu, dan mengundang lirikan sengit Jiyeon ganti.

 

Lalu tersembulah sebuah senyum manis dari dokter yang selama ini terkenal dengan perangainya yang galak itu.

 

”Tapi kau adalah mahasiswa andalanku..e-khem..! Air…”  Jiyeon menyerahkan botol minumnya dan pria itu segera meneguknya tanpa sungkan, padahal Jiyeon baru saja—

 

”Thank you!” ujarnya.

 

Jiyeon senang dirinya dibilang mahasiswa andalan dokter killer ini, dan itu artinya selama ini usahanya tidak sia-sia. Memang betul semua yang diberikan dari dokter ini sungguh bermanfaat untuknya, termasuk pelatihan yang menurut Jiyeon itu semi militer. Kejam dan melatih mental.

 

”Jiyeon, apa kau seorang lesbian?”

 

”Huk…huk!” Jiyeon terbatuk, mengingat apa yang dibilang dokter ini sama seperti yang dituduhkan Taeyong dulu. Hanya karena dia tidak berkencan, maka dia dibilang lesbian.

 

”Bagaimana kalau saya lesbian?”  Jiyeon ingin memastikan itu—

 

Dokter itu manggut-manggut sebentar, tapi kemudian menggeleng. ”Kau tidak lesbian. Kau wanita normal.” jawabnya.

 

”Bagaimana Anda bisa yakin?”

 

”Sebenarnya tidak yakin, hanya menebak.”

 

”Pasti ada satu maksud kenapa Anda menanyakan ini pada saya. Apa Anda seorang gay?”  gantian—

 

”Hahaha….”

 

Jiyeon mengernyit ketika dokter itu terbahak. Kenapa tertawa?

 

”Bagaimana kalau untuk memastikannya, kita harus berkencan.”  ajaknya kemudian.

 

So jadi inilah modusnya. Pikir Jiyeon dengan anggukan kepala. Kencan dengan dosen sendiri, terlebih dia yang selalu bersikap tegas dan mempersulit hidupnya. Yeah—

 

”Saya rasa tidak mungkin kita berkencan dr. Hong, karena saya tidak menyukaimu. Dokter terlalu kejam pada saya.” Jiyeon berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat. ”Terima kasih untuk makanan gratisnya. Sampai bertemu besok lagi!”  pamit Jiyeon yang kemudian ditanggapi dengan tatapan nanar dokter Hong.

 

.

.

.

 

Bersambung—

 

Note.

Ya, di kasih cowo baru buat Jiyeon..Hong Jong Hyun.

 

 

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Edc says:

    Eh..ini digbung ma part 9 ??
    Bnern deh ksel bngt ma kluarga tae”..
    Issh,,knp sih tae” kuliahny hrus jaaauuh gt,knp g dket” aja,? Kn ksian taeyeon psah ma ortunya..ah dosen glkny jg sma aja modusin jy.. Ayo mnculin tae” lgi, biar ntr pda rebutan hehe..
    FIGHTING kak,

  2. sami says:

    Walaupun di gabung sama part 9 tetep aja kurang panjang ✌😸😸
    Ih itu omma nya tae-tae nyebelin deh
    Sebel jg sih ama taeyong,

  3. May andriani says:

    Dokter hong bner” modus ih.. Tpi kpn taeyong balik dri jerman ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s