Love Sky [4]


love-sky-sehun

LOVE SKY 4

Maincast | Oh Sehun – Park Jiyeon

Support Cast | DO Kyungsoo- Song Kyung-il

Genre | Romance

Rated | PG

Length | Chapter

.

.

.

 

Jiyeon tidak pernah tahu di mana letak kekurangannya yang membuat seorang Oh Sehun selalu berpikir untuk mencari kelebihan pada yeoja lain, dan dia pun tidak tahu apa kelebihannya, yang selalu membuat seorang Oh Sehun tidak pernah meninggalkannya.

 

Cinta ini  terlalu rumit untuk mereka, bahkan langit pun sering menjadi pelampiasan keluh kesah dua manusia yang tak pernah bisa menemukan titik temu hati dan jiwa mereka yang karam itu.

 

”Aku akan berkencan dengan seseorang.”  Jiyeon menegaskan dari depan pintu balkonnya. Di sebelah seperti biasa, Sehun sedang melakukan hal sama, menatap matahari senja yang perlahan meluncur ke peraduan. Cahaya kekuningannya memantul di kaca-kaca jendela. Sore ini udara tampak lembut di kulit-kulit indah mereka.

 

”Aku juga.”  sahut si namja berkulit poreselein itu santai, tanpa lirikan.

 

”Jangan bilang kalau kau akan kembali pada Aki.”

 

”Kau bicara masalah hutangku pada Aki kemarin —”

 

Tidak jelas dengan omongan beberapa hari lalu itu, tapi Jiyeon punya firasat kalau hutang itu bukan mengenai uang. Hhh!  Bahunya jatuh— apa itu artinya hutang piutang itu ada kaitannya dengan aktifitas sex mereka. Menjijikkan.

 

”Kau pasti dengan Kyungsoo.”  tebaknya seperti mengejek.

 

”Tidak!”

 

Seketika Sehun menoleh, sorot matanya seperti diliputi oleh cahaya emas, pantulan dari matahari senja. Dia gelisah

 

”Kenapa tidak dengan Kyungsoo? Bukankah selama ini kau dekat dengannya.”

 

Jiyeon santai duduk pada bangku kayu sambil memegangi ponselnya. Pikirannya melayang pada seorang Kyung Il. Pria berpostur tinggi dengan wajah tampan itu pasti bisa membuat Sehun tergugah, bukan seorang Kyungsoo yang selalu mengajaknya bertengkar setiap waktu.  Kyung Il adalah manager teamnya, yang selama selalu bersikap manis padanya. Dia tegas, tapi selalu bertutur santun padanya. Semua orang di sekitar mereka selalu berpikir bahwa namja dengan senyum seksi itu menyukai Jiyeon.

 

Sore  kemarin, Jiyeon diantar pulang, dan gosip itu beredar pagi ini bahwa Jiyeon sedang berkencan dengan Kyung Il. Apa boleh buat, bukan dirinya yang meminta ada affair semacam ini. Tinggal menunggu reaksi pria itu, apakah dia merasa terganggu atau tidak  anak buahnya menggosipkan dirinya.

 

Kembali melirik Sehun yang masih menunggu kepastian Jiyeon.

 

”Apa kau pikir tidak ada namja lain yang menyukaiku?” sengit Jiyeon

 

Sehun mencoba tersenyum,

”Kau cantik dan berwajah polos, kau pasti disukai banyak namja Jiyeon.” pujinya.

 

Belum selesai Jiyeon bicara, ponselnya berbunyi, ehm? Song  Kyung Il— Jinjja?  Dia hampir memekik.

 

Sehun mendengus sambil membuang muka, mungkin dia memang cemburu, kesal dan tidak suka dengan situasi semacam ini, tapi dia tidak bisa memprotes yeoja yang selalu dicintainya itu. Memang benar dia selalu membuat Jiyeon begitu frustasi pada hubungan mereka selama ini. Kenapa harus seperti ini.

 

Apakah luput dari pembahasan yang kemarin, kalau Jiyeon dan Sehun nyaris bertunangan. Sebenarnya saat Jiyeon memergoki Sehun dan Seol Hyun sedang bersama, di sana pun ada Baekhyun, hanya saja Baekhyun sedang memesan makanan untuk mereka sehingga Jiyeon hanya melihat bahwa Sehun sedang berkencan dengan Seol Hyun. Mereka sedang membahas sebuah acara pertunangan kecil-kecilan untuk Sehun dan Jiyeon. Hanya saja Jiyeon terlanjur berkata PUTUS.

 

Dan ketika, acara kelulusan itu, Sehun kembali mengajak Jiyeon menjalin hubungan karena memang Sehun tidak ingin berpisah dengan Jiyeon. Beruntung Jiyeon masih menerimanya, dan itu membuat Sehun bahagia. Mereka bersama, dan kuliah di tempat yang sama. Sehun menjadi kakak kelas lagi untuk Jiyeon. Mereka selalu bersama— tapi kemudian, Jiyeon menderanya dengan sebuah perkataan drama.

 

”Sehun, apa kau selalu begini? Mempermainkanku sekejam ini. Apa hanya denganku kau bersikap seperti ini?”

 

Terus terang saat itu Sehun bingung, kenapa mendadak Jiyeon ikut-ikutan berlatih drama seperti Seul Gi. Sehun tak habis mengerti kenapa Jiyeon selalu salah paham dan menganggap apa yang dilihatnya itu adalah hal yang mutlak menyakiti hatinya.  Antara Sehun dan Seul Gi tidak ada hubungan apa-apa. Sehun selalu berada di dekat Jiyeon, meski Jiyeon memutuskan hubungan dengannya. Pria tampan bertubuh ramping ini selalu menganggap Jiyeon sebagai gadis yang menggemaskan dengan pola pikirnya.

 

Hanya saja waktu itu, Kwon Yuri memang berlebihan. Dia mengajak Sehun bercinta, padahal tujuan awalnya mereka hanya ingin membuat Jiyeon merasa cemburu, karena sudah lama Sehun tidak merasakan kegelisahan Jiyeon mengganggunya. Itu sedikit membuat batinnya gersang, tidak mengalami fruktuasi emosi yang  meledak-ledak dari Jiyeon.

 

Kwon Yuri sangat lihai, dan Sehun pun sedikit terbuai. Aish, akibatnya benar-benar mutlak, Jiyeon bermonolog di depannya—

 

”Sepertinya, aku tidak akan pernah lagi menjadi kekasihmu, Sehun. Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menjadi kekasihmu. Apa kau dengar itu!” 

 

Tapi Sehun masih ingin menjadikan Jiyeon sebagai kekasih. Itu masalahnya, jadi Jiyeon tidak bisa menghindar ketika Sehun tidak pernah pergi dari kehidupan seorang Jiyeon, memilih untuk menjadi  Number One Fans Jiyeon selama-lamanya.

 

Ya, mereka dekat tanpa komitmen apapun dan itu membuat hubungan mereka jauh lebih dekat dan lebih akrab, tapi tanpa menyinggung masalah hati dan perasaan.

 

Sehun tidak pernah menganggap semua ini sekedar bermain-main atau tidak serius. Menjalani perasaan yang tak mudah untuk dilenyapkan ini dia  mengalami beberapakali jatuh bangun dan keterpurukan. Kesabaran dan ketelatenannya menghadapi sikap Jiyeon yang cenderung bersikap spontan tanpa pertimbangan membuatnya harus lebih bersikap mengalah dan menunggu.

 

 

”Jadi kau berkencan dengan dia.”

 

Pada sebuah malam ketika Sehun baru saja turun dari mobilnya dan melihat Jiyeon sedang di bimbing masuk oleh seorang pria tinggi berwajah setengah bule.

 

”Kenalkan dia, Song Kyung Il!”  sebut Jiyeon dengan senyuman.

 

Jadi dia namja yang dia katakan sebagai teman kencannya. Ehm, lumayan! Sepadan dengannya. Sehun merasa Kyung-il cukup tampan, tinggi dan seksi. Paling tidak Sehun tidak merasa di jatuhkan jika yang dijadikan teman kencan Jiyeon bukan seorang Kyungsoo.

 

Dia hanya melambai ketika Jiyeon berlalu bersama pria tampan itu. Tidak masalah, yang jelas Sehun selalu tahu kalau Jiyeon selalu mencintainya dan akan tetap bersamanya. Semoga!

 

Ponselnya berbunyi, Hironobu Aki. Wanita itu—

 

”Yup Aki-san?”

 

“Jam berapa ini?”

 

“Aku lelah, kenapa tidak besok saja, kan Sabtu.”

 

”Kenapa, apa karena kau takut dengan Jiyeon?”

 

Alisnya menyatu dengan sendirinya, kenapa Aki sampai tahu  mengenai hubungannya dengan Jiyeon, padahal selama ini mereka tidak pernah menunjukkan hal itu di depan umum.

 

”Besok, adalah harga mati, Aki. Kalau kau tidak mau, terserah saja. Aku tidak akan melakukannya. Got it!”  ancam Sehun. Dia tidak suka diatur oleh wanita itu, apalagi urusannya tidak mudah. Dia punya hutang untuk melakukan sebuah investigasi data. Dulu Sehun dan Aki memang bekerja sama di bidang IT, dan karena suatu hal, pekerjaan Sehun belum dirampungkan. Aki menuntutnya untuk menyelesaikannya.

 

”Okay, Handsome! And how about our date?”

 

No date between us!”

 

Hm!

 

Bye, Aki!”

 

Namja bermata bening itu memutus sambungan ponselnya, menuangkan satu gelas whiskey ke dalam gelasnya, dan menunggu hingga tarikan nafas ke tiga baru di minumnya. Rasanya sedikit membakar tenggorokannya tapi kemudian membuatnya merasa nyaman,

 

Oh SIAL!  Ternyata alkohol pun tak bisa memusnahkan kekesalannya pada sikap Jiyeon yang mengambil keputusan berkencan dengan laki-laki lain.  Harus berapa tahun lagi Jiyeon harus bertahan dengan ikrarnya sendiri bahwa tidak akan menjadikan Sehun sebagai kekasih sampai kapanpun. Itu hukuman yang cukup menyiksa.

 

Di tempat lain,

 

Jiyeon terdampar di dada bidang Kyung-il, DAMNT! Kenapa bisa begini kejadiannya. Dia memutat balik kejadian yang baru saja terjadi. Sepintas memang lahan parkir ini tidak berbahaya, sangat sepi dan aman. Mereka baru saja turun, dan Jiyeon berdiri di samping pintu untuk merapikan rambut dan make-upnya, bercermin sebentar pada cermin kecil yang dia bawa dalam tas mungilnya, tapi kemudian suara deru motor terdengar dari arah sampingnya, melesat cepat seolah tidak melihat ada bidadari cantik sedang berdiri di sana.

 

WUSH

 

SET

 

Tangan itu, melingkar di pinggangnya, menarik dan langsung mendekapnya diantara mobi dan keharuman parfum yang memabukkan. Matanya terpejam sebentar, meresapi kehangatan dan degup jantung yang bertambur kencang menghentak wajahnya. Eoh! Sehun~  agh ani, ini namja lain. Dia Kyung-il, manager teamnya, dan dia menarih telapak tangannya pada pinggang rampingnya, juga meletakkan pipinya di dada bidangnya.

 

Begitulah kejadiannya, sampai kemudian,

 

”Ek-hem!”  suara khasnya mengambang. Ini seperti alarm yang mengingatkan Jiyeon untuk segera bangun dari mimpi.

 

Bergerak mundur, mengatur posisi berdiri yang akhirnya goyah. Ketika mengintip senyum sosok di depannya, Jiyeon hanya bisa mengangguk penuh rasa canggung.

 

”Seandainya aku polisi, aku akan menangkap pelakunya!” geram Jiyeon merujuk pada pengendara motor yang tadi hampir menabraknya,

 

”Seandainya aku polisi, aku lebih senang mengankapmu dan memenjarakanmu di dalam hatiku, Park Jiyeon!”

 

Dua kali sialan! Gombalan macam apa itu!  Jiyeon dibuat tersenyum aneh menyikapi perkataan Kyung-il. Jadi dia pandai merayu wanita juga. So, sudah berapa wanita yang berhasil di rayunya.

 

”Lain kali harus lebih berhati-hati!”  ujarnya sambil melangkah menjauh.

 

Apa dia  lupa menggandeng Jiyeon yang akhirnya akhirnya membawa dirinya  sendiri masuk ke sebuah kaffee.

 

Suasana romantis ini membuat Jiyeon merinding. Sehun tidak pernah mengajaknya ke tempat semacam ini. Dia bukan orang yang senang dengan hal romantis. Terakhir kali mereka makan malam bersama, di dekat pantai, dengan motornya Jiyeon membonceng, kemudian berhenti di pinggir jalan, duduk di depan sebuah mobil pick-up yang menjual berbagai macam panganan sate, di situlah mereka makan malam sambil menikmati debur ombak di bawah rasi bintang yang membentang di angkasa.

 

Menurut Sehun itu romantis, ya— versi romantis, di benak orang berbeda-beda, tapi toh Jiyeon tetap menyukainya. Lalu kenapa mereka masih sulit untuk menyatukan hati.

 

Jiyeon menunduk, memikirkan kisah mereka.

 

”Namja itu, siapa?”  Kyung-il memberikan tatapan menyelidik

 

”Dia dulu bekerja dengan Miss Aki, tapi sekarang dia pindah. Namanya Oh Sehun. ”

 

”Jadi dia pindah sebelum aku masuk.”

 

”Ya.” Jawab Jiyeon sembari tersenyum, menikmati moccalatte kesukaannya.

 

”Dia tinggal satu apartemen denganmu?”

 

”Ya, di sebelahku. Kami berteman.”

 

”Teman?”

 

”Ya.” angguk Jiyeon.

 

Kyung-il memasukkan gula non kolesterol ke dalam teh jasmine-nya. Dia pria yang terlihat disiplin dengan kesehatannya.

 

Hidup memang tidak selalu manis, namun jika kebetulan menemukan sesuatu yang manis, jangan pernah melupakan bahwa rasa manis itu tidak mutlak manis. Tidak ada yang total merasakan manisnya hidup ini dengan hati tanpa beban.

 

Please! Monolog ini pernah dikatakan Sehun di depannya, ketika mereka berdebat mengenai rasa bahagia.  Tidak ada satu orang pun di dunia ini merasakan bahagia dengan hati yang bebas, karena memang benar kebahagiaan itu tidak pernah mutlak.

 

”Hallo!”  tangan namja di depannya ini menari, untuk menyadarkan Jiyeon dari lamunan.

 

”Kau tidak berada di sini.” sindirnya

 

Jiyeon tidak pernah berhenti memikirkan Sehun.   Itulah masalahnya.

 

”Aku menyukaimu sejak awal masuk menjadi leader di team kalian.”  ungkap pria itu, dengan suara yang dalam, berikut tatapan yang manis. Kelopaknya meredup, ketika mengambil jemari Jiyeon yang tertumpang di atas meja. Sekelumit bayangannya meliuk ketika cahaya dari api lilin di dekatnya itu bergoyang.

 

”Eoh!”  bagaimana ini?  Apa yang harus di jawabnya.

 

”Apakah kita bisa memulai sebuah hubungan setelah malam ini?” lanjutnya

 

”Ehm, kita akan mencoba.” jawab Jiyeon, mengulas senyum palsunya. Ini akan membuat suasana semakin memanas antara dirinya dan Sehun.

 

.

.

.

 

 

Sehun mendengar suara di sebelahnya, pintu terbuka, kemudian langkah kaki yang menuju ruangan yang bersebelahan dengan kamarnya— kamar tidur Jiyeon. Gadis itu biasanya langsung membuka pintu balkonnya dan berdiri di sana sebentar.

 

Langkahnya mengejar ke sana, tapi Sehun tidak ingin keluar kali ini, dia cukup mengintip Jiyeon yang sudah berdiri di balkon terasnya, menatap langit dan menggerutu sendiri. Kebiasaan lama—

 

Ponselnya menyala di atas kasur, sepertinya Jiyeon menghubunginya. Gadis itu sedang memandangi layar ponselnya sendiri.

 

”Kau sudah tidur?”

 

”Hm~”  jawab Sehun dengan suara berat

 

”Jam berapa ini sudah tidur?”

 

”Suka-suka!” sahut Sehun datar

 

”Tck!”

 

Jiyeon memutus sambungan, dan masuk ke dalam huniannya, mematikan penerangan dan sunyi. Sehun menenggelamkan dirinya di dalam bantal. Sebenarnya dia ingin bertanya ini dan itu dan sebagainya, tapi apa haknya. Saat ini Jiyeon pasti sudah tidur.

 

But~

 

Ting Tong—

 

Diangkat mukanya sigap. Apa itu? Siapa? Tidak lama kemudian sandi masuk pintunya di tekan, suaranya terdengar menggema di keheningan ini. Jiyeon—

 

Sebentar saja sudah terdengar langkah kaki  memasuki apartemennya, dan Sehun memutuskan untuk menutup tubuhnya dengan selimut, berpura-pura tidur.

 

BRUGH

 

Terasa ranjang sebelah kanannya melesak, lalu terbaring di sebelahnya. Dia masih menunggu gadis itu mengeluh atau apalah itu, yang jelas kondisinya saat ini sedang tidak bagus. Pasti mengenai kencan itu. Apakah tidak sukses.

 

Namja ini mencibir di bawah selimut.

 

”Sehun, dia memintaku jadi pacarnya dan aku menjawabnya iya.”

 

DAMT!  Sehun memaki dalam hati. Lalu apa masalahnya? Kenapa menggangguku

 

”Aku tau kau belum tidur!”  kakinya menjejak tubuh Sehun yang masih berpura-pura tidur.

 

”SEHUN!”

 

Tapi Sehun enggan berkomentar, dia mendiamkan Jiyeon sampai gadis itu kesal sendiri, dan memukulkan bantal pada tubuhnya. Sehun tetap tak bergeming.

 

”ISH!”  Jiyeon kesal dan meninggalkan namja itu dengan kesal.

 

Sehun membuka selimutnya setelah  mendengar Jiyeon keluar, dia duduk di pinggir ranjangnya sambil merapikan rambut pirangnya yang ringan. Menghela nafas berkali-kali, menggerutu dan—

 

”Aku tahu kau belum tidur!”

 

”KYAAAA!”  teriak Sehun kaget saat Jiyeon sudah berada di sebelahnya, namja itu menoleh dengan rasa kagetnya. Dia pikir Jiyeon sudah pergi kembali ke markasnya.

 

.

.

.

tbc

 

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. Edc says:

    Ish..kok tmbh rumit sihh,, tuhkn bner apa yg kita liat blm tntu bner…knp jy g dnger pnjlsn shun dlu.. Lhoh kok jy trma kyung il sih g tw apa klo sehun pth hti,,hehe.. Ah ksel deh ma mrk b2, yg stu ska nyimpulin sndri & stuny cuma diam dan nunggu aja,,.

    FIGHTING kak

  2. nova says:

    Rasakan sehun sekarang jiyeon mulai berani date dg namja yg lain.. semoga sehun cepat sadar dan berusaha utk merebut hati jiyeon kembali..

  3. indaah says:

    nahlohh sehun udah tau dia gk salah knpa gk kasih penjelasan aja biar clear .. apa jiyeon keras kepala bgt yaa
    haha smpe ikutan kaget juga wktu tau jiyeon blum pergi keke

    akhirnya sempet jg baca ff , sibuk ma kuliah dan magang lan
    next lan fighting

    1. mochaccino says:

      yampun ini di wattpad udah ending, di sini aku males banget postnya, keenakan di wattpad. kalo mo ke sana…https://www.wattpad.com/user/AlanaYuen

  4. May andriani says:

    Huff syng bnget aq gk bisa bca lewt wattpad 😦 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s