Rose In The City [Part-13]


rose-in-the-city1

Rose In The City -13

Park Jiyeon and Song Joong Ki

Romance-Hurt

.

.

.

 

 

Joong Ki berdiri di depan sebuah gedung di mana dia akan bertemu dengan keluarga Kim. Hati lelakinya sedang berteriak minta diampuni dan langkahnya seolah-olah mati. Saat ini, dia mempunyai tanggung jawab sebagai laki-laki dewasa. Jika dia masih ingin mempunyai materi untuk memberikan kebahagiaan untuk JIyeon, maka dia harus melakukan ini. Ya, syarat ini harus dia jalani, untuk kebaikan semua.

Sebentar dia terdiam. Mantel tebalnya terasa begitu memberatkan pundak tegapnya. Hatinya ikut menjadi berat, dihelanya nafas sebentar sebelum akhirnya—

BRUG

Dia menjatuhkannya ke lantai. Sang sopir mengambilnya.

“Tuan, udara begitu dingin. Anda harus tetap memakainya.” Joong Ki mengibaskan tangannya ketika pria berwajah lembut itu ingin mengenakannya lagi di tubuhnya. Dia berbalik ke arah pintu. Seperti ada seseorang yang memanggilnya, sayup-sayup diantara desiran angin, namun ketika dia melihat pada hujan salju yang luruh, semua tampak sepi. Dia hanya menatapnya kosong.

Apakah JIyeon mencarinya.

“Mana ponselku!” Joong Ki meminta ponsel dari tangan sopir Jung.

Sejak tadi dia menitipkan benda itu padanya dan melarang mengganggunya ketika tertidur di dalam mobil untuk sebentar beristirahat.

Jadwalnya sedang padat. Setelah pertemuan bisnis dengan keluarga Kim, dia harus kembali terbang ke Guang Zhou dan tinggal di sana untuk dua minggu.

JIyeon.

Dia melihat begitu banyak missed call dari yeoja tercintanya itu. Senyum bodohnya mendadak merekah indah. Hatinya seperti dipenuhi oleh jutaan sel bahagia yang sedang bersorak sorai di kegelapan. Ternyata laki-laki munafik sepertinya pun bisa merasa seperti bocah lima tahun.

“Aku harus kembali ke apartemen, Jung.”

“Tapi Tuan harus menemui Tn. Kim saat ini juga.”

“Aku akan menemuinya di Guang Zhou esok. Aku ada urusan lain malam ini.”

Dia mengambil coatnya dari tangan laki-laki itu dan berlari ke arah mobilnya. Sang sopir berlari cepat dan membukakan pintunya.

“Kita pulang Jung, kita pulang. CEPAT!” Sopirnya segera melajukan mobilnya menuju ke apartemen majikannya.

Jiyeon tidak menemukan siapapun di apartemen ini. Semua terlihat sepi dan kosong. Apakah Joong Ki tidak kembali. Apakah dia mempunyai urusan lain. Hatinya gelisah menapaki setiap ruangan yang dia lewati, kemudian terpekur pada ranjang yang masih tampak rapi. Dia tidak berada di sini.

Ada rasa hampa yang merayap di dalam dadanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Jiyeon menekan dadanya sendri. Apa yang harus di raihnya dari semua ini.

Dia berjongkok dengan punggungnya bersandar pada dinding dingin itu.

Kenapa dia tidak bisa memastikan hatinya.

Suasana begitu sepi dan dingin di sini, JIyeon hanya bisa terpekur menatap di kegelapan ruangan. Dia masih enggan untuk pergi meskipun dia tahu Joong Ki tidak berada di sini.

Ting

Pintu lift terbuka, dia menoleh dramatis pada bayangan seseorang yang muncul di sana. Ada deru nafas yang didengarnya, bahunya turun naik melerai lelah. Sosok itu terlihat sedang mengatur emosinya. Jiyeon mengerjap sebentar, kemudian menjatuhkan kepalanya pada lututnya yang tengah menyiku di dadanya.

Dia mendekat,

“Kau sedang apa di situ?” Joong Ki berdiri tepat di depannya.

“Aku pikir Anda di sini, Tuan.” Jiyeon mendongak sosok setinggi menara itu. Tangan itu membantunya berdiri, mereka saling menatap dalam keremangan.

“Kau mencariku?”

JIyeon tak menjawab, dia hanya lurus menatap mata itu. Sebenarnya untuk apa dia mencar laki-laki ini lagi, hanya akan menambah panjang buntut persoalan, tapi batinnya sungguh merasa ingin bertemu.

 

Dia tidak mungkin berpikir berlebihan pada pria ini, tapi nyatanya dia memikirkannya.

Pria itu mengambil tangannya, menggenggamnya.

Kiss me?” Bisiknya seolah sebuah mandat.

Jiyeon ragu, ada bergalon-galon oksigen yang berebut masuk melalui lubang hidungnya, hingga dia harus terbatuk, tapi perlahan  mendaratkan bibirnya pada pria di hadapannya. Ya, setinggi inilah hal yang bisa dia genapi mengenai perasaan yang tak pasti ini.

Joong Ki meresapinya.

Dia menguatkan denyut jantungnya dengan semua pelukannya, berpegang pada tangan yang diyakininya cinta. Dia tidak akan pergi meninggalkan pria ini tanpa sebuah harapan, menemaninya seperti angin yang akan selalu berhembus dalam segala karakternya. Terkadang lembut, terkadang kasar, terkadang pun begitu mesra, dan menghadirkan getaran ajaib di dalam hatinya.

Joong Ki mendorongnya dan membimbingnya untuk masuk ke dalam kamar. Sebentar saja, mereka sudah bergumul di atas ranjang. dia tampak mengalah, namun tidak terlalu mengalah ketika  sudah berada pada titik tertingginya.

Dia sadar bahwa JIyeon tengah hamil, dan tidak memaksanya.

Kedua tangan tertekan di atas ranjang, dia menatap tajam pada yeoja di bawahnya.

“KEnapa kau masih berani menemuiku?”

Joong Ki melepaskan genggaman tangannya dan menelusuri kulit leher Jiyeon, mengecupnya, dan menikmati keharuman alami pemiliknya dengan sangat rakus. Deru nafasnya terasa menghangat di dalam benak Jiyeon.

“Saya hanya ingin tahu apakah Tuan baik-baik saja.”

“Bohong!” sorot matanya tajam dan dingin

Dia tidak bisa menghindari pria ini merabanya dengan manis. Dia berusaha untuk menguasai hasratnya. Mengerang dan mendesah, pun dengan tatapan mata yang begitu sendu. Jiyeon tidak bisa membohongi tubuhnya.

“Aku ingin kau menikmatiku, Jiyeon. Hanya saja itu tidak memungkinkan.” bisiknya susah payah. Jiyeon terpejam. Itu memang tidak mungkin, dan sikap ini terasa aneh baginya.

Mereka saling menatap rancu, apa yang harus dilakukan Jiyeon. Sementara pria ini tahu, Jiyeon gadis polos, dia tidak berpengalaman menyenangkan pria.

Joong Ki hanya tersenyum, dan menerima semua itu. Mendekati Jiyeon dan mencium bibir itu lagi, dan lagi, menahan hasratnya sendiri. Seandainya Jiyeon tidak sedang hamil, dia sudah menghabisi gadis di bawahnya ini hingga pagi.

“Maafkan aku, Tuan!”

“Kenapa kau berpikir kalau aku akan memaafkanmu?”

”Hh?”  gadis itu menelan salivanya.

Jonggki bersikap dingin

“Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa baik-baik saja dengan kehamilanmu ini?” tatapannya berkilat-kilat menyimpan sebuah misteri.

Jiyeon mengangguk dengan mata terpejam,

“Tuan, apakah kau marah padaku dengan kehamilan ini?”

“Tidak.”  Mereka saling menatap sebelum akhirnya berakhir dengan ciuman, namun terasa sekali ciuman itu begitu  kasar.

“Kenapa bisa seperti itu?” Jiyeon berpikir keras, kenapa ada laki-laki semacam ini. Apa hebatnya seorang Jiyeon, sampai dengan kondisi seperti inipun pria tampan kaya ini masih mau mempertahankannya. Otaknya pasti sesakit jantungnya.

 

kemudian dia tertawa

 

SOng Joong Ki tertawa dengan suara yang begitu ngilu.

 

“Aku tidak tahu, seharusnya aku sakit hati, seharusnya aku memakimu, mengatakan kau tidak konsisten karena sudah membuat dirimu hamil sebelum menikah.” tatapannya tajam, mengusap lembut bibir Jiyeon.

 

“Aku berharap hanya aku yang bisa menghamilimu, Park JIyeon.”

JIyeon mengamati wajah itu…

 

“Aku tidak suka dengan kebohongan, dan juga kemunafikan, tapi aku tidak tahu, kenapa aku bisa menerima semua ini darimu. Bukankah, aku bisa mencari wanita  lain, yang lebih cantik, dan sudi aku tiduri hingga hamil.”  nadanya begitu dingin dan menyakitkan.

 

Kalimat itu menampar perasaan terdalamnya, hingga dia harus menunduk, tapi Joong Ki mengangkat dagunya.

 

“Kenapa aku hanya menginginkanmu?” lanjutnya, dengan tubuh yang akhirnya meninggalkan Jiyeon.

 

“Maafkan aku Tuan.”  dengan serba salah Jiyeon bangkit. Gemetar.

 

Sesaat lalu semua ciuman itu seperti sebuah santapan terakhr sebelum pembantaian baginya, dan kedatangannya ini seperti seekor domba yang menghantarkan nyawa ke kandang singa.

 

“Katakan saja aku laki-laki bodoh dan mau dibodohi….”

 

“Jangan diteruskan, Tuan. Kumohon!” Jiyeon tertatih-tatih menahan batinnya yang nyeri, tapi pria itu justru berdiri menghadapinya.

 

“KEnapa kau harus datang?” tanyanya dengan menahan nafas

 

“Baiklah saya akan pergi.”

 

“Siapa yang menyuruhmu pergi?” hardiknya tajam, dan memaksa Jiyeon untuk kembali duduk di pinggir ranjang.

 

“Kau pasti berpikir kalau aku tidak mungkin menghakimi perbuatanmu, karena kau mengira aku mencintaimu terlalu dalam. ”

 

Tertawa getir.

 

”Aku sungguh bodoh.”

 

“Anda tidak bodoh, Tuan. Akulah yang tidak tahu diri. Ini sungguh memalukan. Anda tidak seharusnya masih bersikap baik padaku. Maafkan aku!”

 

Itulah, ada hal yang tak bisa di telaah dengan sekedar pembicaraan. Bagi Joong Ki, apa yang dia rasakan ini tidak akan terhenti hanya karena kebodohan ini.

 

“Kenapa kau tidak bisa meninggalkannya? Padahal aku sudah menyuruhmu untuk meninggalkannya dan hidup bersamaku…”  Pria itu menggigit bibir bawahnya, geram. tatapannya begitu dalam dan rumit.

 

Tidak ada yang bisa dikatakan Jiyeon, selain diam dan menunggu.

 

”Aku bisa memanjakanmu, sepuasku. Menjadikanmu wanita yang paling berharga dalam hidupku, ”

 

”Tapi Tuan, kau akan menikah. Aku tidak akan menjadi wanita berharga seperti yang Anda pikirkan itu, selain hanya menjadi  wanita simpanan yang akan selalu mendapatkan cemoohan.”

 

Joong Ki menyeringai,

”Aku mencintaimu, Jiyeon, dan Demi Tuhan aku pun bingung kenapa aku bisa mencintaimu seperti ini. Kau tidak seharusnya memikirkan orang lain, seolah-olah itu penting bagimu.  Benar, aku akan menikah, tapi hanya kaulah yang paling kupikirkan.  Apa itu tidak cukup?”

”Aku tidak bisa hidup seperti itu, seolah-olah tanpa harga diri.”

”Jadi sekarang memang kau berniat untuk meninggalkan aku.”

Jiyeon mengangguk ragu,

”Kenapa kau tidak memikirkan aku saja, dan kita bisa melanjutkan semua ini.”

Beberapa saat tidak menerima tanggapan dari Jiyeon, hingga membuatnya harus menarik lengan itu dan memaksanya untuk menatap matanya.

”DAMNT, kenapa laki-laki sepertiku harus menjadi seperti ini, Park Jiyeon?”

Jiyeon menunduk, seharusnya dia memang tidak datang dan membuat hati mereka berdua sakit seperti ini.

 

 

“Apa kau tidak melihat betapa menyedihkan dan lemahnya aku, menghadapimu Park Jiyeon.”

 

“Anda tidak harus melakukan ini. Aku akan pergi, dan tidak akan menemui Anda lagi.”

”Kau tidak perlu melakukan itu. ”

”Tuan!”

Pria itu masih diam

”Sudah terjadi, sudahlah—”

Jiyeon berjaan lagi ke arah pintu. Jadi seperti inilah mereka akan berakhir. Sejenak dia berbalik dengan sikap kaku,

”Terima kasih untuk eomma.” ujarnya berpamitan sebelum menghilang dari pandangan Joong Ki.

 

,

,

,

Rose In The City 22

 

 

Joong Ki menatap ke bawah, pada sesuatu yang tidak bisa dia pastikan diantara salju yang luruh diantara lampu-lampu jalan. Dia tidak melihat Jiyeon di sana. Hatinya mengutuki sikapnya malam ini yang terlalu memamerkan rasa sakit hatinya. Jiyeon mungkin tidak bersalah, dia hanya melakukan hal yang benar.

 

Tidak ada yang perlu diharapkan dari laki-laki penyakitan seperti dirinya. Jiyeon layak mencampakkannya dan tetap setia pada Heechul. Lalu kenapa dia harus marah dan mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa tidak jantan di hadapan seorang Jiyeon.

 

Ini hanya sebuah perkara kecil yang dia pertaruhkan.

 

Hingga pada hari itu, akankah Jiyeon bisa  merasakan apa yang dia rasakan. Akankah dia mengakui keberadaan cinta ini di hatinya.

 

Jiyeon tidak harus merasakan hal yang sama dengannya, TIDAK, dan Joong Ki mungkin akan membebaskannya.

 

.

.

.

 

 

 

 

Dia berdiri di dekat jendela. Salju masih tebal. Ada sesuatu yang dirasakan janggal olehnya. Mungkin itu tidak bisa dibacanya lewat tatapan matanya waktu itu. Pria itu menyimpannya sendiri mengelabuinya dengan senyum dan pesonanya.

 

Semua sudah berakhir, Joong Ki  tidak akan lagi mengganggunya, dan semua ini mungkin juga akan segera diambilnya, meski tidak ada konfirmasi yang pasti.

 

Sebentar lagi Natal. Semua berharap akan ada keajaiban di hari Natal. Yah, sesuatu yang ajaib, mungkin Tuhan akan memberikannya kesembuhan sehingga Joong Ki tak lagi harus bergantung padanya untuk memacu detak jantungnya.

 

Apakah dia masih merasa bahwa Jiyeon adalah detak jantungnya.

 

Musim ini begitu dingin,

 

Dia melihatnya bersama tatapan ibunya yang selalu menjadi khawatir dengan kondisi kejiwaan JIyeon. Pada bulan Januari nanti dia akan menikah dengan Heechul. Seharusnya dia bahagia.

 

Seharusnya mereka bahagia. Itu yang sudah diyakininya sejak mereka menjalin hubungan— dulu.

 

 

JIyeon membayangkan anak yang berada di dalam perutnya. Dia seharusnya mendapatkan cinta yang membuatnya nyaman.

 

 

 

Sudah hampir tiga hari ini, kondisi tubuhnya tak nyaman, bahkan dengan alasan inipun dia terpaksa harus absen dari kuliahnya. Jiyeon merasa ada sesuatu yang mengganggu tenggorokannya. Dia  menekannya lagi. Rasanya sedikit sakit ketika dia harus menelan ludahnya. Dia menoleh ibunya yang kembali menunduk.

 

”Aku akan keluar sebentar, Eomma.”

 

”Ke mana?”

 

”Ada hal yang harus kulakukan.”

 

Ibunya tahu, kalau Joong Ki sedang berada di Guang Zhou. Dia tidak terlalu menhkhawatirkan putrinya itu ketika dia terlepas dari pengawasannya.

 

 

Ya, pada musim dingin ini Jiyeon menderita sakit tenggorokan yang parah, sehingga dia tidak bisa menelan makanannya. Bahkan minum pun tidak bisa. Saluran pernafasannya penuh dengan benda tebal, seperti tali yang ditarik keluar oleh dokter setiap hari dengan alat khusus.

 

Dia memeriksakan kondisinya ini karena penyakit ini datang secara mendadak. Apakah karena musim dingin ini, atau kondisi emosionalnya yang tidak stabil. Menurut para ahli, kondisi kejiwaan mempengaruhi kondisi fisik.

 

Dalam beberapa hari dia semakin kurus dan lemah, dan pria itu tak lagi mengiriminya pesan atau menghubunginya. Mungkin memang benar-benar berakhir.

 

Tapi kenapa Jiyeon masih saja berharap pria itu memberinya sedikit kabar mengenai kesehatannya, atau apapun itu.

 

Heechul selalu bersikap manis padanya. Mungkin karena dia sudah merasa yakin, JIyeon sebentar lagi akan menjadi miliknya. Dia tampak bersemangat, seperti tidak ada beban, mungkin dia sudah mengabaikan semua kejadian di malam itu. Wajahnya tampak lebih cerah dan berseri-seri.

 

”Cepatlah sembuh!”  bisiknya lembut. Jiyeon tersenyum, dan menggenggam tangannya.

 

Malam ini, hujan salju turun lagi. Hawa dingin ini, semakin membuatnya parah, dan harus terbaring total di atas ranjang rumah sakit. Ibunya sesekali menangis melihat kondisinya.

 

”Kalian jangan berlebihan seperti ini. Kenapa harus menungguku sepanjang waktu. Aku tidak akan mati hanya karena sakit tenggorokan, Eomma.”

 

”Seharusnya tidak separah ini. ” keluhnya.

 

”Bukankah dokter sudah mendiagnosa semuanya.”  lirihnya

 

Wanita itu mengangguk. ”Ya.”  jawabnya frustasi.

 

Dia terdiam sebentar

 

 

Dia tidak tahu harus bicara bagaimana. Dia tidak mempunyai suara sampai harus mengeluarkan tenaganya saja dia merasa mual. Ini adalah sakit terparahnya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sejak dia harus mengalami oprasi amandelnya.

 

 

Jiyeon menggigit bibirnya. Bersamaan dengan munculnya Heechul yang seketika mengernyit menatap aktifitas Jiyeon yang menatap lekat pada ponselnya.

 

”Apa kau  berhubungan lagi dengannya?”

 

Dia tidak bisa menjawab, karena memang suaranya terbatas. Jiyeon menatap kekasihnya itu dan mengajaknya untuk duduk di sebelahnya. Heechul berusaha bersabar, dia sungguh tidak ingin bertengkar lagi dengan calon istrinya ini, karena sebenarnya, pertengkaran itu sungguh bodoh pada kenyataannya. Dia tidak harus melakukan itu.

 

Jiyeon mengandung bayinya saat ini, dan laki-laki itu pasti tidak sudi untuk bersaing lagi dengannya. Saat ini yang dia inginkan adalah sebuah ikatan. Masalah hati, kelak dia akan kembali memupuk perasaan cinta itu setiap hari. Mungkin dengan kehadiran bayi mereka nanti, Jiyeon akan lebih memahami, bahwa takdir hidupnya di dunia ini adalah untuk menjadi istrinya

 

”Apa anakku sudah makan hari ini?” tanyanya sambil mengusap perut JIyeon

 

”Dia makan cukup banyak hari ini, Oppa.”

 

”Baguslah.”

 

”Aku sudah memesan gaun pengantin yang sesuai dengan bentuk tubuhku yang mulai gemuk ini, Oppa.”

 

”Ya, kau terlihat gemuk.”

 

Jiyeon merengut kesal. ”Kalian kaum namja memang tidak pernah pusing dengan bentuk tubuh. Kalian tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hamil.”

 

Heechul tidak menjawab, hanya terkekeh memperhatikan raut cemberut Jiyeon

 

.

.

.

 

 

 

Dua hari berikutnya, Jiyeon terbangun dengan tubuh ringan. Ada kilauan cahaya matahari yang terpantul di botol beling di sebelahnya. Satu hal yang dia temui di luar sana, sinar mentari terlihat lebih cerah dan hangat dibanding kemarin.

 

Semoga hari ini dia bisa keluar dari rumah sakit dan melakukan aktifitasnya seperti biasa. Lusa adalah Natal, dan ada sesuatu yang ingin dia lakukan sebelum Natal.

 

Tidak ada siapapun di sini. Mungkin ibunya memilih untuk pulang karena melihat kondisnya sudah membaik sejak semalam. Suhu tubuhnya tidak tinggi, dan semua infeksi di tenggorokannya tidak terasa nyeri lagi.

 

Ponselnya bergetar, dan sebuah pesan dari Heechul masuk. Dia hanya mengatakan bahwa hari ini tidak bisa menemani di rumah sakit, tapi Yuka akan datang bersama orang tuanya.

 

Jiyeon menyimpan kembali ponselnya dan berjalan ke kamar mandi bersama tiang infusnya. Memang agak kesulitan dengan benda itu, tapi tidak ada siapa-siapa  di sini.

 

”Eoh!”

 

Mendadak perutnya terasa begitu nyeri. Dia mencari pegangan dan berusaha untuk kembali ke tempat tidurnya. Saat menunduk, dia melihat darah mengalir di kakinya.

”Darah! Bayiku…Tolong !”  lirihnya.

 

Begitu paniknya hingga dia tidak memperhatikan langkahnya, kakinya menyandung kaki tiang infusnya. Tubuhnya roboh ke depan mengenai pembatas stainless tempat tidurnya, kemudian jatuh ke lantai tak sadarkan diri.

 

.

.

.

 

Wanita itu mengajak Joong Ki duduk di sudut lorong, dekat dengan jendela. Agak jauh dari ruangan di mana Jiyeon sedang di rawat. Mereka saling menatap dalam senyum. Pria ini bukan manusia yang mudah gentar oleh sebuah intimidasi, baik secara kasar dan lembut.

 

Jatuh bangunnya di dunia bisniss sudah menempa mentalnya untuk menjadi petarung sejati, itu sebabnya kedua orang tuanya sudah melepasnya ketika dia masih berusia dua puluh tahun.

 

”Bagaimana keadaanmu?” tanya wanita itu santun.

 

”Baik.”

 

Dia menatap wajah Joong Ki dan meneliti ke dalam sinar matanya. Laki-laki di depannya ini, yang mempunyai begitu banyak aura dan kharisma. Dia merinding juga merasakan hal yang mengagumkan itu muncul dari dalam senyumnya. Ya, dia pantas untuk dikagumi banyak hati, termasuk putrinya sendiri.

 

”Anda mengkhawatirkan saya.” lanjut Joong Ki senang

 

”Ya, tentu saja. Kau orang baik, aku merasa sangat senang bisa mengenalmu.”

 

”Kalimat itu yang dikatakan JIyeon saat pertama kali kami bertemu.”  Like mother like daughter

 

”Aku tidak tahu harus bicara bagaimana.”  dia menghela nafas. ”Jiyeon akan menikah.”

 

Pria itu mengangguk, sepertinya dia tahu kemana arah pembicaraan ini pun sejak awal wanita di depannya ini mengatakan ingin bicara dengannya secara pribadi.

 

”Jika Anda meminta saya untuk meninggalkannya, sepertinya itu sangat sulit bagi saya untuk melakukannya.” ujarnya langsung seperti biasanya. Dia tidak suka berbelit-belit.

 

Wanita itu tidak mengatakan kalau Jiyeon barus saja kehilangan bayinya, dan semua tidak mengetahuinya. Ini salahnya karena meninggalkan Jiyeon sendirian.

 

”Dia akan menjadi seorang ibu.”  Joong Ki melihat ke arah luar, pada salju-salju setinggi lutut. Hari ini dia begitu rindu pada Jiyeon, sampai harus memaksakan dirinya untuk melihatnya walau sebentar. Sopirnya mengatakan kalau Jiyeon sakit, dan hatinya menjadi hancur karenanya.

 

”Kau membuatnya berada di dalam situasi sulit.”  tutur wanita itu

 

”Dia jauh lebih sulit ketika saya belum ada dalam kehidupannya.”

 

Wanita itu tertawa getir, ”Tn. Song, ini bukan semata persolan materi—” Kalimatnya terhenti ketika Joong Ki mendengus berat.

 

”Aku minta maaf jika karena diriku dia jadi seperti ini.”

 

”Pengaruhmu terlalu besar baginya.”

 

”Kami jarang bertemu, Eommonie. Kalaupun ada kesempatan bertemu, itu pun hanya beberapa jam saja.”

 

”Aku tahu, kau sibuk. Kau banyak melakukan perjalanan jauh ke luar negri.”

 

”Lalu apa yang memberatkan Anda.”

 

”Aku takut kehilangan dia.”

 

”Anda tidak akan pernah kehilangan dia. Saya tidak mengambil dia dari pelukan Anda. Saya bukan orang semacam itu.”

 

”Aku tidak ingin dia tidak bahagia.”

 

Joong Ki  kembali tersnyum. ”Semua ibu di dunia ini berharap anaknya bahagia, temasuk ibu saya pun demikian. Anda jangan merasa bahwa kebahagiaan JIyeon akan hilang karena saya bersamanya.”  Sejujurnya Joong Ki tidak menceritakan bahwa Jiyeon sudah memutuskan untuk tidak menemuinya lagi.

 

”Bagaimana mungkin kau menempatkan Jiyeon pada situasi seperti ini.” ada nada menghakimi di sana, dan pria ini sedikit tercubit mendengarnya. Dia diam untuk beberapa saat lamanya.

 

”Sampai kapan hal ini akan berlangsung?”  tanya Ny. Park dengan sedikit ragu.

 

”Saya tidak tahu. Saya tidak pernah berharap bisa berpisah darinya.” jawab Joong Ki yakin, meski dia tahu apa yang dikatakannya ini hanya sebuah pledoi yang sudah basi, namun tetap berharap dia bisa diampuni.

 

”Heechul sudah berharap bisa menikahi Jiyeon sejak dulu. Dia mengorbankan banyak waktu untuknya.”

 

”Bukankan begitulah cinta, Eommonie. Cinta itu pengorbanan.” tegas Joong Ki dengan rasa sakit, menunjuk pada pengorbanannya sendiri tapi dia tidak akan pernah mengukurnya.

 

”Kalau begitu apa kau mau berkorban untuk Jiyeonku? Kau mau berkorban untuk kebahagiaannya?”

 

Joong Ki tersudut.

 

Dihelanya nafas sebelum akhirnya dia menggeleng.

 

”Saya akan melakukan apa saja untuk Jiyeon. Anda jangan khawatir.”  ucapnya dengan hati sesak.

 

Wanita itu mengangguk dan mengusap lengan pria tinggi di hadapannya, kemudian berjalan meninggalkannya.

 

Joong Ki terpaku dan tidak memiliki banyak energi untuk berpikir lagi. Dia tidak ingin berdebat dengan wanita itu, mereka sama-sama menyayangi Jiyeon dan berharap yang terbaiklah yang terjadi pada kesayangannya itu.

 

Apakah Jiyeon akan bahagia bersama dengan Heechul. Itu masalahnya.

 

.

.

.

 

 

 

Malam Natal ini JIyeon merayakannya bersama dengan keluarga Heechul. Mereka berkumpul bersama untuk makan malam. Kedatangan JIyeon dan ibunya sangat membuat Heechul merasa diperhatikan. Dia memberikan hadiah untuk calon ibu mertuanya itu sebuah.

 

Sedangkan Jiyeon memberikan sebuah dasi dan jam tangan. Hadiah yang biasa-biasa saja, tapi Heechul menyukainya.

 

Apa kau suka hadiahku?”

 

”Suka. Ini bagus. Terima kasih.”  jawab Heechul

 

Jiyeon menyentuh giwang indah yang diberikan Heechul untuknya. Giwang itu dia beli dari uang pemberian Joong Ki. Sungguh menjijikkan, batinnya memaki sendiri. Dia merasa miris dengan dirinya sendiri.

 

Jiyeon berniat untuk memberitahukan mengenai masalah keguguran itu, tapi dia tidak berani. Mungkin Heechul akan marah, tapi entahlah. Malam ini semua orang berbahagia, tapi tidak dengan hatinya.

 

Oppa, cincin ini bagus. ”  Yuka berteriak mempertotonkan cincin di jarinya,

 

Jiyeon melirik jengah, apakah Heechul memberikan adik tirinya itu sebuah cincin, dan untuknya hanya sepasang giwang

 

 

”Hanya cincin biasa.”  Heechul menjelaskan pada Jiyeon meski kekasihnya itu tidak menuntut penjelasan. Yuka tampak tersenyum puas melihat raut iri di wajah Jiyeon.  Gadis itu bergayut di lengan namja di sebelahnya. Tampak mesra hanya Jiyeon yang sedang sensitive.  Hatinya sedang berperang untuk mengatakan masalah janin itu, tapi—

 

”Oppa, ini bukan cincin biasa, kau bilang ini kau pesan jauh-jauh hari, itu artinya ini sangat istimewa.”

 

”YUKA!” hardik kakaknya

 

Yuka membeku seketika dengan wajah pias. Kenapa Heechul begitu keras membentaknya, suaranya bahkan membuat ayahnya harus menoleh dari ruang makan. Mereka belum menyelesaikan hidangan pencuci mulut mereka.

 

”Sudahlah jangan dibesar-besarkan. Malam ini terlalu baik untuk di isi dengan pertengkaran.”

 

Yuka menghela nafas dan melangkah masuk ke dalam ruang makan,  mengacuhkan omongan JIyeon.

 

”Sikapnya acuh belakangan ini padaku.” keluh Jiyeon.

 

”Hm ya.” jawab Heechul datar tanpa kesan apapun.

 

”Apa kau tidak merasa aneh dengan sikapnya itu, Oppa?”

 

Heechul menghela nafasnya lagi, mengambil jemari Jiyeon dan meremasnya. ”Jangan memikirkan dia.”

 

”Tapi—”

 

”Kita tidak usah membahas itu, mungkin dia tidak menyukaimu sejak kau—”

 

Pasti karena peristiwa waktu itu. Jiyeon menunduk sedih. Di rumah inipun dia merasa tertolak. Tatapan calon ibu mertuanya itu pun tampak berbeda padanya.

 

”Bolehkah aku pulang sekarang?”  pintanya dengan sedikit merajuk.

 

Ny. Park, wanita itu menjadi serba salah dengan sikap putrinya. Dia melirik sebentar, untuk memberikan tatapan memohon. Paling tidak untuk malam ini, dia harus bisa menjaga perasaan keluarga Heechul.

 

”Sepertinya kau tidak lagi berniat menjadi istri Oppaku, Park Jiyeon.” kenapa mendadak Yuka begitu sengit dan menyerangnya. Heechul berdiri dan menjauhkan adiknya itu dari Jiyeon untuk menghindari pertengkaran dan sesuatu yang akan dibongkar adiknya itu mengenai Jiyeon.

 

”Kau sudah mempermainkan Heechul Oppa, Jiyeon!”

 

”Yuka kau kenapa?”  Ibunya berusaha menenangkan putrinya. Gadis itu menangis seperti orang gila. Dia hanya mencari perhatian atau memang sengaja ingin menghancurkan rencana pernikahan Jiyeon dengan kakaknya.

 

”YUKA DIAMLAH!”  bentak Heechul keras dan Yuka semakin menangis.

 

”Oppa, aku senang kau memberiku cincin ini, sampai aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Mungkin memang aku gila, karena selama ini membiarkanmu harus dipermainkan olehnya.”

 

Jiyeon menunduk dengan tubuh gemetar. Saat ini dia sudah kehilangan muka dan tidak mungkin lagi berharap untuk menjadi menantu dalam keluarga Kim.

 

”Kenapa kau bicara seperti itu, pada Oppamu, Yuka?”  ibunya mengusap air mata putrinya

 

”Eomma, apakah aku salah kalau aku mencintai Heechul Oppa? KATAKAN! Apakah aku salah?”

 

”Maksudmu?” wanita itu terlihat panik, sementara Heechul terlihat gelisah.

 

Jiyeon mendekati ibunya dan memeluk lengannya.

 

”Aku berharap kalian tidak jadi menikah, karena aku tidak relah kau menikah dengannya Jiyeon!”

 

Jiyeon tak menjawab dan menatap pada Heechul.

 

Oppa, kau tahu sendiri kalau dia mengkhianatimu. Dia bersama dengan laki-laki lain dan kau sudah dibodohinya!”

 

”Yuka, hentikan! ”  Tn. Kim andil bicara. Dia mendekati Jiyeon dan menatap pada kegelisahannya. ”Maafkan Yuka, Jiyeon!” pintanya

 

”Kenapa Appa minta maaf padanya?”

 

”Karena kau sungguh tidak sopan padanya.  Dia akan menjadi kakak iparmu, istri dari kakakmu, tapi kau justru bicara seperti itu, apa kau sengaja ingin membuat rencana pernikahan mereka hancur?”  itulah yang ada di benak Jiyeon.

 

”Kenapa kau bicara seperti itu pada anakku!”

 

Suasana semakin panas dan Jiyeon tidak tahu harus berbuat apa, dia melangkah mendekati Tn.Kim dan membungkuk.

 

”Maafkan saya, sebaiknya saya pulang.”  Ibunya mendukung. Dia pun tidak ingin putrinya di hakimi.

 

”Jiyeon!” panggil Heechul.

 

Oppa, maafkan aku tapi sepertinya Yuka memang menyukaimu dan sulit menerimaku.”

 

”Dia hanya adik tiriku, kenapa aku harus memperdulikan dia.” tegas pria itu tanpa memperdulikan adiknya itu berlari ke dapur. Ibunya menyusul dan sedetik kemudian terdengar teriakan keras dari sana.

 

Heechul segera menyusul bersama ayahnya, begitupun juga dengan Jiyeon yang kemudian bisa melihat dengan matanya sendiri, Yuka melakukan usaha bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya.

 

”Bawa dia ke rumah sakit Heechul!”  teriak ibunya pada Heechul yang kemudian menggendong tubuh adiknya. Jiyeon hanya membungkam mulutnya, tak tahu harus berbuat apa.

 

Wanita itu berjalan melewatinya dengan muka sengit.

 

 

 

JIyeon dan ibunya mengikuti dengan taxi. Mereka saling menatap dan menyesali kenapa semua ini harus terjadi.

 

”Apa yang akan terjadi setelah ini?” pikirnya kalut.

 

Jiyeon tidak bisa menjawabnya, perasaannya sungguh kalut menghadapi semua peristiwa ini. Dia menghantamkan kepalanya pada kaca jendela taxi dan mengundang sopirnya untuk menoleh.

 

”Ini properti umum, jangan merusaknya!”  ujarnya.

 

”Jiyeon, …” wanita itu hanya memeluk tubuh putrinya dengan erat.

 

.

.

.

 

Sementara itu di tempat yang berbeda, Joong Ki tengah terkulai tak berdaya di atas ranjangnya. Entah kenapa rasa lelahnya beberapa hari ini membuatnya semakin lemah. Kerja jantungnya semakin tidak menentu, terkadang dia menghentak dengan cepat, dan membuat deru nafasnya tak beraturan, tapi terkadang lemah dan membuatnya lesu.

 

 

 

Ruangan ini terasa sepi, dia ingin bertemu dan bicara dengan Jiyeon. Dia ingin gadis itu ada di sini, malam ini. Seharusnya dia bisa merasakan sedikit kehangatan di malam natal ini.

 

”Jiyeon!” panggilnya.

 

”Tuan, apakah saya harus membawa Anda ke rumah sakit. Sepertinya kondisi Anda semakin lemah.”  Jung, sopirnya yang sejak tadi khawatir selalu berjaga di luar kamar. Joong Ki merasa risih dengan perhatian sopirnya itu.

 

Dia menggeleng, ”Aku menunggu JIyeon. Bisakah kau menjemputnya, tapi aku tidak tahu dimana dia.”

 

Sopirnya hanya mengangguk tak jelas.

 

”Anda harus minum obatnya dulu,Tuan!”

 

”Tolong ambilkan!”  titahnya dengan mata terpejam. Dia mulai merasakan seluruh tubuhnya sakit.  Ini adalah gejalanya.

 

Beberapa saat kemudian, ketika sopirnya itu kembali dengan obat, Yifan sudah dalam kondisi tak sadar. Sopirnya itu segera membopongnya dan membawanya ke rumah sakit. Dia hanya merasa heran, kenapa majikannya ini selalu memilih untuk hidup sendiri. Kenapa dia tidak membawa keluarganya untuk hidup bersamanya, atau calon istrinya.

 

.

.

.

 

Untuk beberapa hari Heechul menemani Yuka. Adik tirinya merajuk dan seolah-olah ingin menjauhkannya dari Jiyeon. Sedangkan ibunya sepertinya menekannya agar Heechul lebih memperhatikan Yuka. Kalau sudah begini, Jiyeon merasa seperti orang asing diantara mereka.

 

Kenapa mereka melihat Heechul sebagai penyebab Yuka harus melakukan aksi percobaan bunuh diri itu.

 

”Jiyeon!”

 

”Oppa,..” Jiyeon bicara dengan suara lirih di ponselnya. Sebenarnya dia sudah sangat putus asa dengan hubungan mereka.

 

”Kenapa Yuka bisa seekstrim itu?”

 

”Aku tidak tahu, Jiyeon. Apa kau baik-baik saja? Bagaimana keadaan calon bayi kita?”

 

Eoh, Heechul belum tahu mengenai masalah itu.

 

“Apa kau masih menemui pria itu?”

 

”Aku tidak menemuinya, Oppa. Kau pun tahu sendiri, aku selalu bersamamu.”

 

”Aku tahu, tapi entah kenapa aku merasa meskipun kau bersamaku, pikiran dan hatimu berada di sana, bersamanya.”

 

Jiyeon menelan salivanya. Benarkah? Dalam hati dia bertanya mengenai hal itu.

 

”Oppa!” panggi Yuka tiba-tiba, memotong pembicaraan Jiyeon dengan Heechul.

 

Yuka memperlihatkan pergelangan tangannya yang masih diperban. Aksinya itu cukup menarik simpati semua anggota keluarganya, dan membuat Heechul harus berada di pihak yang bersalah.

 

”Aku akan menghubungimu lagi.”

 

”Nde Oppa.”

 

Jiyeon sendiri, berusaha menyibukkan diri dengan membantu ibunya yang sedang kurang enak badan dan harus beristirahat di rumah. Sudah berlalu tiga hari sejak hari itu, dan Jiyeon menggantikan tugas ibunya di toko bunga mereka.

 

Apakah pernikahan ini akan terjadi atau tidak? Bayangan itulah yang menjadi sebuah ketakutan. Dia kehilangan bayinya, kemudian dia memang harus melepaskan Joong Ki, dan kini apakah dia akan kehilangan Heechul.

 

Ibunya tidak seperti biasa menyuruhnya pulang dengan begitu memaksa. Apakah penyakitnya bertambah parah. Terus terang dia merasa cemas. Dia tidak bisa berhenti berpikir mengenai pengobatan yang harus dijalani ibunya. Beberapa waktu ke belakang, dia pasti akan lebih sering kambuh dengan penyakit gulanya.

 

”Eomma!” panggilnya khawatir ketika tiba di rumahnya,

 

”Eoh!” Jiyeon memberi salam pada pria itu.

 

dia merasa heran dengan kedatangan sopir pribadi Tuan Song yang duduk berseberangan meja dengan ibunya.

 

”Ada apa? Kenapa kau di sini, Jung ssi?”

 

Ibunya meremas jemarinya di atas pangkuannya. ”Eomma, apa kau baik-baik saja? Aku pikir terjadi sesuatu denganmu.”

 

”Aku tidak apa-apa, Jiyeon. Kau harus segera pergi bersamanya. Terjadi sesuatu dengan Tn. Song.”

 

”What?”

 

Sopir Jung berdiri dan mempersilahkan Jiyeon untuk mengikutinya.

 

”Ada apa dengan Tn. Song tanyanya.”

 

”Eomma, aku pergi dulu!” ketika dia berjalan setengah berlari mengikuti sopir Jung.

 

Ada rasa bersalah di dalam benak wanita itu ketika mendengar sebuah cerita miris mengenai pria itu. Saat ini, dia hanya berharap agar Joong Ki itu masih diberi kesempatan untuk merasa bahagia.

 

.

.

.

 

 

Ruangan ini tampak gelap, hanya disinari oleh lampu tidur yang remang-remang. Oksigen berdeguk di dalam pipa berwarna hijau di atas ranjangnya. Kaca jendelanya begitu dingin. Di bawah sana, kabut memasuki halaman parkir rumah sakit, sedangkan di atas, awan salju begitu tebal melapisi langit malam. Jiyeon menggigil, dan tak bisa memaafkan dirinya sendiri di samping seorang Joong Ki.

 

Pria itu mengalami serangan jantung ringan sejak malam Natal yang terlalu kesepian baginya itu, kondisinya memang sedang lemah. Seharusnya Jiyeon tahu, dan sesegera mungkin mengunjunginya, namun kenapa dia justru membuat masalah lain yang membuat beban hidupnya semakin menghimpitnya.

 

Apakah dia sehina ini telah membuat pria ini harus menderita seperti ini. Keegoisan dan kebodohannya yang akhirnya menghancurkan harapan semua orang.

 

Tubuh itu bergerak,

 

Dia menyadari dalam ketidaksadaran Joong Ki, pria itu tampak tersengal-sengal. Nafasnya begitu cepat dengan tubuh terguncang-guncang.

 

Dengan cepat Jiyeon segera menekan panggilan untuk perawat melalui interkom.

 

Tidak berapa lama kemudian, perawat itu muncul dan memeriksa kondisi Joong Ki. Dia menaikkan asupan oksigen yang disalurkan melalui hidungnya menjadi delapan liter permenitnya. Setelah menunggu beberapa detik kemudian, pria itu kembali terlihat tenang. Nafasnya mengalun perlahan dan tubuhnya tampak lebih damai.

 

Namun jangan terlalu damai—

 

Pinta Jiyeon. Dia tidak ingin melihat Joong Ki dalam kondisi seperti ini.  Tidak bisa.

.

.

.

 

 

Tbc.

 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. cia says:

    Semoga jiyeon cepet sadar perasaanya ke joongki
    Ditunggu next partnyaa

  2. sookyung says:

    jadi berharap yuka bisa berhasil merayu heechul dan heechul tergoda oleh rayuan yuka , lalu Jiyeon mengetahui semua sifat buruk heechul,, dan Jiyeon bisa mempunyai alasan untuk bersama joongki ^^

  3. anii says:

    Kaya,baik,sabar,ganteng kurang apalagi coba aduhh bkn mewekk joongki ini..
    Yeayyy keguguran hahaaa, udh joongki aja udh yg hamilin yaa||maapknakucerewet//
    itu udh gagal aja udh nikah.a, biar heechul sama yuka aja yee
    trs jiyeon.a sama joongki oppa aja\\eheeyyyy//
    next yaaw:*

  4. May andriani says:

    Ksian Jiyeon jdi serba slah gtu,, dri pertama aq curiga sma yuka klu dia suka sma heechul, bahkan dia nekat bnuh dri gitu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s