Save Our Love [Part-4]


save-suho-for-me

SAVE OUR LOVE

Main cast | Kim Joon Myeon feat Park Jiyeon

Suport Cast | Song Kyung-il

Genre | Romance

Length | Chaptered

Rated | PG

Disclaimer |  I own nothing but the story

 

 

 

Pria ini tampak sendirian, menekur  memandangi ruangan kamarnya yang sepi. Semua masih tampak sama, dia tidak merubah detailnya, bahkan gaun tidur Jiyeon masih tersampir manis di atas rajang tanpa ada yang menyentuhnya. Pria ini tidak tidur di kamar ini, tidak pernah, hanya jika dia mengajak Jiyeon untuk melayaninya saja— dulu.

 

Pintu itu, dia meliriknya. Pria ini membayangkan, Jiyeon pasti  gemetar saat pintu itu terbuka, atau ketika dia mendengar langkah kakinya mendekat di sana. Di dalam benaknya, terbersit sebuah rasa bangga, bahwa hanya dengan auranya saja, dia bisa membuat seorang Jiyeon yang dikatakan teman-temannya sebagai Singa Liar Betina yang begitu ganas itu tunduk di bawah kakinya.

 

Joon Myeon mengkeramatkan kamar ini hanya untuk dirinya dan Jiyeon. Dia tidak pernah membawa wanita lain ke dalam rumah ini, terlebih untuk terbaring di atas ranjang yang sama dengan yang Jiyeon tempati.

 

Ini bukan mengenai perasaannya, Joon Myeon sudah berusaha untuk tidak bersikap kasar pada perempuan yang selalu dianggapnya sebagai janda mendiang kakaknya, Ho Jun.  Mungkin, semula emosinya terbentuk, karena  kebebasannya telah dirampok, dan di halalkan oleh kedua orang tuanya untuk sebuah harga diri hanya karena istrinya itu seorang terkenal. Dia hanya tidak suka kepopuleran Jiyeon selalu dijadikan sebagai kebanggaan, kesombongan yang membuat harga diri Joon Myeon berada di bawahnya.

 

Satu-satunya hal yang bisa membuat Joon Myeon merasa dirinya di segani oleh orang-orang disekitarnya adalah mengkhianati pernikahan mereka dengan tetap berhubungan dengan Yerim, dan membuat Jiyeon harus menerima kenyataan bahwa dia hanya dijadikan sebuah pelarian.

 

Keburukan sikapnya ini, mungkin mengharuskannya menerima upah sepadan. Beberapa hari sebelum pertengkaran hebat itu Jiyeon pernah mengatakan bahwa dia akan pergi, sejauh mungkin agar Joon Myeon tidak menemukannya, agar pria pengecut ini tidak memakinya dan menyalahkan atas kemalangan yang menimpa hidupnya, dan agar dia bisa hidup tenang dengan Yerim kekasihnya.

 

#Flashback

 

Malam itu—

 

Jiyeon pulang terlambat, ketika Joon Myeon berada di dalam kamar dengan lampu menyala, mungkin dia memang sengaja menyalakannya. Jantungnya berdegup kencang. Sudah hampir setahun ini, dia mengalami hal ini. Sikap canggungnya tidak pernah hilang jika berhadapan dengannya.

 

Jiyeon masuk, dan melihat pada suaminya yang sedang duduk di  ranjang dengan kaki lurus. Kimono tidurnya yang terbuka itu memperlihatkan pemandangan yang membuat Jiyeon sedikit manahan napas. Joon Myeon memamerkan abs nya yang sempurna itu untuk menggoda.

 

”Jam berapa ini?”  tanyanya dengan mimik datar. Setiap gerakan matanya mengekori Jiyeon

 

”Jam sebelas.” Jiyeon menjawab lirih

 

”Liat mataku jika sedang bicara denganku.” hardiknya

 

”Aku mengunjungi Nenekku dulu.” jawab Jiyeon lagi, dengan menatap matanya.

 

Pria itu berdiri dan mendekati Jiyeon

 

”Kau tidak berbohong,kan.”  wajahnya mendekat di area telinganya dan memberikan kehangatan di sana. Bulu kuduk Jiyon meremang perlahan.

 

”Tanyakan saja pada Ji Sung.”   Jiyeon melemparkan tanggung jawab pada sopirnya dengan lirikan tajam matanya, tangannya dicengkram Joon Myeon dengan erat

 

”Kau tidak bersama dengannya,kan.”

 

”Siapa?”

 

”Kau tahu siapa.” tuduhnya

 

Jiyeon menggeleng lemah, dan berusaha menjauh darinya, tapi tangan itu memegangnya dengan kuat.

 

Oppa!”

 

”Malam ini, layani aku sampai puas.”

 

”Aku lelah.”

 

”Aku tidak perduli!”

 

Jiyeon menatap pada kedalaman mata suaminya, dan mungkin dia memang tidak bisa menghindarinya. Joon Myeon tidak pernah ingin dirinya ditolak.

 

”Baiklah, tapi biarkan aku mandi sebentar.”

 

Tangan itu melepaskannya, dan membiarkannya menjauh darinya. Bergegas, Jiyeon masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya, dan memastikannya terkunci. Dia berjalan mundur, hingga punggungnya menabrak washtafel. Mungkin Joon Myeon sudah menunggunya sejak tadi.

 

Apakah dia marah?

 

Dia melepaskan cincin di jemarinya dan meletakkannya di laci. Kemudian menyiapkan air hangat di dalam bak. Dia ingin membersihkan tubuhnya sebersih-bersihnya. Perasaan kotor ini melekat kian pekat.

 

Pandangannya lurus pada bayanganya sendiri di cermin. Apa yang telah terjadi dengan dirinya. Kenapa semua ini bisa terjadi…

 

Jiyeon terus menatap wajahnya di sana, ….

 

”Park Jiyeon!” panggil Joon Myeon dari luar pintu.

 

”Sebentar!”

 

”Kenapa kau mengunci pintunya?”

 

Wanita berparas cantik itu membukanya, dan wajah suaminya tampak semakin kesal.

 

”Ada apa?” tanyanya

 

Pria itu mendorongnya masuk dan menutup pintunya. Tidak ada jawaban, dan hanya tangannya yang berkelana dan langsung melepaskan kemeja Jiyeon. Senyumnya terlihat sangat aneh ketika istrinya berusaha menutupi sesuatu di kulit lengannya. Kenapa masih ada cipratan darah.

 

”Kau kenapa?” tanyanya sedikit curiga. Diambilnya tangan Jiyeon dan memperhatikan noda darah itu masih melekat di sana. Padahal dia sudah berusaha untuk membersihkannya.

 

”Tadi aku menyingkirkan hewan yang kutabrak di tengah jalan.” jawabnya setenang mungkin, menahan sesuatu yang dia pikir benar.

 

”Kenapa tidak Ji Sung yang melakukannya.”

 

”Dia mengalami kesulitan, jadi aku membantunya.”

 

”Aku akan bicara dengannya besok pagi.”

 

”Tidak usah!”

 

Mata itu menyelidik pada raut wajah Jiyeon. dia mulai risih, jika  suaminya itu mulai memperhatikannya seperti ini.  Tapi beruntung itu tidak berlangsung lama, kemudian Joon Myeon meninggalkan istrinya untuk mandi.

 

Wajah Jiyeon terlihat lega ketika tubuh suaminya menghilang di balik pintu. Dia berusaha melupakan mengenai malam ini—

 

Beberapa hari kemudian, Joon Myeon tampak gusar. Situasi itu bisa Jiyeon rasakan, dan mereka tidak saling bertegur sapa dalam dua hari sejak Yerim dinyatakan hilang. Peristiwa itu, mungkin bisa dikaitkan dengan hubungan rumah tangga Jiyeon dan Joon Myeon, tapi semua itu belum bisa di buktikan, karena Yerim sama sekali tidak terlihat di manapun.

 

Mungkin suaminya tidak berani untuk bertanya masalah Yerim pada Jiyeon, karena jujur istrinya itu tidak terlalu memperdulikan hubungan gelap suaminya dengan pacarnya itu.

 

Di dalam hatinya, Jiyeon menyimpan sebuah tanda tanya besar, akankah Yerim muncul kembali ?

.

.

.

Mobil terpakir manis tepat di depan hunian klasiknya. Tampak sepi di dalam sana. Bangunan bertingkat dua itu terlihat penuh misteri bagi seorang Jiyeon yang lebih memilih hidup sendiri pun hanya berdua dengan Nena, tapi sekarang sepertinya Kyung-il akan bersamanya. Bukan partner hidup, hanya tamu dan besok dia akan mengusirnya, jika itu mungkin.

 

Sekali lagi, pria berpostur tinggi itu berdecak kagum untuk seorang Jiyeon. Wajah lelahnya tampak memburamkan semua pesona yang tadi sempat di simak Jiyeon.

 

“Masuklah!”  beberapa detik sesudah Jiyeon membuka pintu. Pria bermarga Song itu melangkah masuk menenteng ranselnya. Jiyeon menggeleng. Se-simple itukah seorang laki-laki, mungkin jiwa wanita akan merasa kehilangan separuh hidupnya jika hanya membawa tas sekecil itu.

 

“Apa?”  pria itu tampak heran dengan lirikan Jiyeon

 

“Is that your stuff?” tunjuknya pada ransel yang tergeletak di lantai.

 

“Yeah, semua barang-barangku masih berada di Bandara. Aku titipkan karena aku tidak tau harus ke mana. Jadi besok aku akan  mengambilnya.”

 

Jiyeon berjalan ke kamarnya, sementara Kyung-il mebuntutinya, melancarkan agresinya. Langkahnya pelan dengan senyum simpatik yang terpasang dalam bias cahaya yang tak terlalu mengusik. Jiwanya seakan sedang dihantar untuk segera bergabung dengan sebuah kesenangan, tapi tidak—

 

Jiyeon menolehnya di muka pintu, memasang badan menghalangi jalan.

 

“Kau pikir kemana kau akan menghantar nyalimu, Tuan? Berhenti di disitu atau kau akan menyesal,” ancam wanita berhati singa itu diantara rasa nervousnya. Dia wanita, dan mahluk di depannya ini laki-laki, eoh bukan. Dia itu monster. Matanya tajam menggoda gairah, memainkan tipu daya dari kemolekan senyumnya, mematut manja seakan Jiyeon akan tergerak.

 

Sebenarnya dia ingin,

 

Wanita sepertinya pun membutuhkan hal semacam itu, gairah. Ransangan, kehangatan dari pria yang dicintainya. Hanya saja, pria yang dicintainya itu masih tak berwujut.

 

“Duduklah di sana, nanti aku akan kembali padamu!”  titahnya tajam setajam telunjuknya yang mengarahkan sosok tinggi itu ke arah sofa.

 

But, Kyung-il mengambil langkah maju, menyentuh daun pintu memangkas jarak, menyemangati jiwanya dengan sebersit cahaya dari tatapan Jiyeon yang sepertinya begitu ragu dengan perintahnya.

 

“Jangan kurang ajar padaku, Sunbae!”

 

“Ahhh!” lenguhnya sembari menggeleng, jemarinya mengusap wajah cantik Jiyeon yang terlihat lelah.  “Aku tahu, Park Jiyeon. Mianhae!”  pria itu berbalik, dengan punggung lesu.

 

Ketika dia berbali, Jiyeon sudah menutup pintu kamarnya. DANMT! Dia masih sekeras dulu. Butuh strategi berbeda untuk menundukkannya.

.

.

.

 

Di dalam kamarnya, Jiyeon melepas rasa gugupnya. Jantungnya cukup berdebar dengan hanya melakukan aksi blockir pada sosok seniornya. Mungkin ini tidak semudah yang dia kira. Kyung-il tampak lebih menantang dan seksi. Lalu kenapa dia tidak menyerahkan dirinya saja, dan lupakan Joon Myeon. Bukankah suaminya itu pun melakukan hal buruk tanpa memperhitungkan perasaannya.

 

Hojun.

 

Semua ini karena Hojun.

 

Kenapa harus dia. Kenapa harus Joon Myeon brengsek, dan kenapa tanpa perasaan itu, mereka bisa merasakan gairah sex yang begitu meluap.

 

Bayangan gairah itu, Jiyeon mengingatnya lagi ketika satu tehun pernikahannya dengan Joon Myeon.

 

 

Malam ini dia terlalu diam. Meletakkan kunci mobil itu di atas meja dengan tatapan dingin.  Sikapnya terlalu berhati-hati— misterius.

 

Ada jarak sekitar dua meter antara letak berdirinya dan posisi duduk Jiyeon yang tengah memperhatikan suaminya dengan serius.  Dia sudah memenuhi apa yang diperintahkan suaminya sesaat sebelum suaminya itu pulang dari meliput berita.

 

Menghitung detak jantungnya yang nyaris bersamaan dengan helaan setiap nafas yang dia hempaskan. Dia masih berada di sana dengan semua rahasianya.

 

Dalam beberapa hal Jiyeon sangat memuja sikap diam dan tenang yang dia miliki selama ini.  Di lain pihak, Jiyeon sedikit merasa lelah dengan semua rahasia dan misteri yang dia sembuyikan. Juga mengenai wanita lain itu—

 

“Aku sungguh membencimu jika kau terlihat cantik seperti itu.” keluhnya. Apakah itu pujian?

 

Jiyeon tak menanggapi, smirk nakal yang Joon Myeon berikan.

 

Dia laki-laki yang tenang. Wajahnya lembut dan sangat menyenangkan, namun bisa begitu mengerikan ketika dengan nafsunya dia seperti membangkitkan arwah nenek moyangnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Jiyeon, dia tidak bisa melepaskan seorang laki-laki hanya karena dia menyukai gaya bercintanya, bukan karena perasaannya.

 

 

Tanpa sadar ada sapuan hangat di pipinya. Jiyeon memejamkan mata, ketika tubuh dan pelukannya begitu dekat, rapat di dalam keremangan.

 

“Kenapa kau memakai gaun ini?”  tangannya menelusup pada belahan gaun di bagian paha mulus Jiyeon, dan mulai melebarkan kaki istrinya dengan perlahan. Intimidasi tatapannya berkelana dekat di wajah Jiyeon— dingin dan penuh dengan tuntutan.

 

Beberapa kali melakukan kontak mata. Menggigit keranuman berselaput warna merah menyala dari bibir yang tengah menantinya. Smirks malaikatnya, melantunkan bisikan kalimat kotor yang  menodai kepolosan Jiyeon untuk berharap Joon Myeon memperlakuan lebih dari sekedar mencium.

 

“Katakan apa yang harus kau katakan!” tegas pria itu

 

“Happy Aniverssary Oppa!” bisik Jiyeon di depan telinga suaminya.

 

Dia sempat melihat ketika Joon Myeon memejamkan mata dan mengulum  bibirnya dengan sangat rakus sebelum akhirnya dia menariknya ke dalam pangkuannya.

 

Hari ini adalah ulang tahun  pernikahan mereka yang pertama. Joon Myeon mengingatnya dan entah kenapa semua ini harus diingatnya.

 

“Happy Aniverssary to you to, Mrs. Kim! You look so hot to night!.”

 

Jiyeon terdiam, saat melihat suaminya mengambil sebuah gunting. “Katakan semua ini untukku!” cengirnya.

 

For you!”  balas Jiyeon gemetar.

 

Joon Myeon mengambil wajah dan lidah Jiyeon. Menggoda untuk segera menggigitnya. Tapi dia menghindar dan mencandai gairah istrinya.

 

“Siapa yang akan mengambil kendali malam ini?”  Joon Myeon menggigit bibirnya sendiri

 

“Katakan padaku!” tegasnya lagi dengan mencengram dagu Jiyeon.

 

You.”  Jiyeon menunduk, dan tangan itu mengambilnya lagi, untuk duduk dalam pangkuannya.

Oppa~!” suara itu gemetar saat menyebutnya, membuat debaran jantung Joon Myeon terpacu lebih cepat, namun pria itu juga tidak lupa dengan siapa tadi Jiyeon menghabiskan sisa waktunya di tempat bekerja.

 

“Sekarang berdirilah !”  Joon Myeon mendorong Jiyeon untuk berdiri, namun sebelumnya dia menarik belahan gaun Jiyeon dan mengguntingnya hingga sobek hingga ke pinggang.

 

Oppa, kau tidak tahu betapa mahalnya gaun ini…” Jiyeon mengerucut kesal

 

Take Off!”  Joon Myeon memainkan lidahnya tanpa memperdulikan gerutu istrinya.

 

Jiyeon menunduk dan melihat kondisi gaunnya. Dia mulai melepaskan sepatunya. Sepatu pemerian Joon Myeon ketika suaminya itu bertugas ke Afrika Selatan.

 

Laki-laki itu melirik ke mana sepatu itu terlempar. Hm, ke atas meja makan. Lumayan. Pikirnya. Jiyeon mempunyai tenaga yang cukup kuat.

 

Jiyeon sudah melucuti semua pakaiannya, dan membuat Joon Myeon semakin tidak bisa tenang mengendalikan hasratnya. Dia cukup senang, meski sudah berkali-kali melihat tubuh istrinya terpampang di depannya, namun malam ini Jiyeon terlihat lebih misterius dan menantang. Jiyeon memutar tubuhnya membelakangi tatapan mengerikan itu. dia merasa dilecehkan.

 

“Tangan di atas meja!” perintahnya kemudian. Jiyeon menoleh sebentar, namun yang dia dapatkan hanya sebuah isyarat tangan yang menyuruhnya agar cepat melakukan perintah itu.

 

Pada akhirnya dia menuruti kehendak sang suami. Dia meletakkan kedua telapak tangannya bertumpu pada meja di depannya, sehingga dengan begitu jelasnya, Joon Myeon bisa menikmati area kewanitaan Jiyeon yang tepat mengarah di depan wajahnya. Cepat dia bersimpuh dan mulai menyentuh tubuh istrinya. Meremas bongkahan pantatnya dan menciuminya dengan penuh gairah.

 

Jiyeon hanya terpejam dan tetap mempertahankan posisinya. Kepalanya menunduk dengan helai rambut yang terjuntai di atas meja. Joon Myeon telah menginvasi rongga bawahnya dengan jilatan lidahnya yang panas.

 

Matanya terpejam dan mendesah, tatkala semua sensasinya mencapai pada pusat kenikmatannya. Dia berusaha untuk tidak melawan keinginan Joon Myeon, dan tetap menerima semua itu dengan kesadarannya. Tangan dan jemari suaminya telah membuatnya masuk pada orgasme pertama.

 

.

.

.

Matanya terpejam dan mendesah, tatkala semua sensasinya mencapai pada pusat kenikmatannya. Dia berusaha untuk tidak melawan keinginan Joon Myeon, dan tetap menerima semua itu dengan kesadarannya. Tangan dan jemari suaminya telah membuatnya masuk pada orgasme pertama.

 

Lalu dengan satu kali tarikan tangan, Joon Myeon membuat posisi Jiyeon kembali berdiri dan menghadapinya.

 

“Ciumi aku!”  perintahnya kemudian,

 

Demi menatap wajah yang penuh rona kemerahan itu Joon Myeon membiarkan Jiyeon menciumnya. Bibir indah itu mencumbui semua texture pada kulit tubuh lelakinya.

 

Semua ini tak pernah dimengertinya. Apapun itu, meskipun di dalam kehidupan pernikahan mereka yang diwarnai oleh rasa benci, dan kecurigaan, tetap saja ketika mereka melakukan sex, mereka menikmatinya, dan semua tersalur dengan apa adanya. Joon Myeon selalu memegang kendali. Dia dan seluruh auranya bisa membuat Jiyeon luluh dan menuruti semua kehendaknya.

“Buat dirimu menjadi sexy!” titah suaminya lagi,

 

“Bagaimana?” sedikit bingung

 

“Menari.” Jawabnya datar

 

Perlahan Jiyeon menari,meliukan tubuhnya pelan-pelan. Sempurna dalam tatapan Joon myeon yang sayu. Bibirnya mengukir cengiran ketika Jiyeon mendorongnya untuk duduk kembali ke sofa. Pria berwajah malaikat itu dengan cepat melepaskan semua pakaiannya dan membuat dirinya telanjang untuk istrinya. Dilebarkan kakinya untuk membuat Jiyeon merasa puas dengan apa yang ingin dilihatnya.

 

Jiyeon menahan debaran jantungnya melihat posisi seorang Joon Myeon yang terlalu percaya diri.

 

“Cepat lakukan sesuatu padaku!”

 

Jiyeon berlutut di depan kaki suaminya yang terbentang. Menatap pada bentuk ereksi yang menjulang.

 

“Kau pasti tau apa yang kuinginkan!” ucapnya dengan senyum yang bagi Jiyeon sudah merupakan ejekan.

Permainan berpindah kendali. Dia membuat seluruh tatapan Joon Myeon mengarah padanya. Wajah yang begitu memohon itu semakin merona karena desakan gairah.

 

Sangat dalam dan kuat.  Tangan yang tertumpang di kepalanya itu berbicara mengenai indahnya rasa yang sedang dirasakan suaminya ketika bibir dan mulut Jiyeon mengulum, dan menghisapinya. Tangan itu meremas rambutnya dengan hebat, begitu juga dengan erangan dan lenguhan yang kian panjang.

 

“Bangunlah!”  Joon Myeon menarik Jiyeon untuk duduk pada ereksinya. Dia tidak pernah menunggu untuk hitungan satu hingga tiga agar Jiyeon bisa merasakan betapa inginnya dia saat ini.

 

“Fuck!” Dia mengumpat dengan suara yang dalam, sementara bibirnya mulai menginvasi rongga mulut Jiyeon,  memberikan banyak ciuman dan sumpah serapah yang membuat Jiyeon semakin bergairah. Dia bergerak, dan bergerak, membiarkan tangan Joon Myeon meremas dan memainkan payudara sintalnya yang terguncang.

 

“Oppa!”  rintihan itu semakin tanpa tenaga. Alisnya semakin merapat dengan alunan merdu desahan yang meluncur dari keduanya.

 

 

Beberapa saat lalu, Jiyeon masih mengingat mengenai kunjungannya terhadap seseorang yang selama ini mengganggu hatinya. Dia tidak perlu menjelaskan, bagaimana dia merasa puas dengan apa yang sudah dilakukannya. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu, tapi entah kenapa dia melakukannya. Ji Sung membantunya, dan ini adalah untuk yang kedua kalinya.

 

Oh ya, dia merasa Ketika dia menatap Joon Myeon suaminya, Jiyeon menjadi lebih agressive bertindak.  Ditumpahkan semua rasa kesal dan cemburunya yang begitu menjulang itu dengan sebuah tamparan kecil di pipi suaminya. Lalu suara erangnya terlempar bersama semua klimaks yang dicapainya.  Jiyeon merasa begitu puas.

 

“Kenapa kau menamparku?”  Joon Myeon mencengkram kedua pergelangan tangan Jiyeon dan membuatnya terikat ke belakang dengan posisi kepala menghujam pada hamparan sofa. Kedua siku kakinya membuat pinggulnya terangkat.

 

“Kau sengaja agar aku menghukummu seperti ini..”

 

Joon Myeon berkali-kali menggigit gumpalan empuk menggiurkan Jiyeon dengan rakusnya. Menghisapinya dan kembali memasukkan kejantanannya ke dalam tubuh istrinya. Dia menyerangnya dengan memegangi tangan Jiyeon yang terikat di belakang, dan terus bergerak dengan brutal dan cepat.

 

Dia bisa mendengar Jiyeon mengumpat dan menyumpahinya, namun semua itu memang ingin dia dengarkan. Seharusnya Jiyeon tidak memanfaatkan ketenarannya untuk menarik banyak perhatian laki-laki. Shit! Sudah berapa banyak laki-laki yang dia buat jatuh cinta, dan Sung Gyu adalah salah satunya. Siapa dia, kenapa begitu gencar mendekatinya. Tapi sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi lagi. Baginya, dia bukan apa-apa. Tatapannya begitu sengit pada tubuh istrinya yang menggelinjang dalam deraannya.

 

.

.

.

 

 

 

Mendadak suara mobil berhenti di depan rumahnya.  Untuk sebentar, dia mengusap bibirnya, yang masih merasakan kuatnya pengaruh Joon Myeon di dalam tubuhnya. Keringat dinginnya merembes pada baju tidurnya.

 

Dengan cepat dia berdiri dari depan meja riasnya, dan mengintip pada keremangan di luar sana. Siapa ? semoga itu bukan Joon Myeon, lagi pula untuk apa dia datang.

 

 

“Jiyeon!”  panggilan Kyung-il membuatnya berlalu dari pinggir jendela. Dia lupa jika belum sempat mengenakan pakaian, hanya berupa gaun tidur dengan kimononya. Itupun tampak begitu transparan.

 

Tatapan pria itu langsung tertuju pada belahan dadanya yang tersingkap.

 

“Jiyeon kau meracuni mataku, Dear!”  Kyung-il berpura-pura melengos.

 

“Eoh, maaf! “

 

It’s okay. Lain kali kau harus berhati-hati pada srigala ini, Sayang!”

 

Dengan kekehan lembut, Jiyeon meninggalkan kamarnya untuk menunjukkan pada pria ini, kamar yang harus dia tempati.

 

“Kenapa di lantai dua?”

 

“Kenapa kau protes?” lirik tuan rumah pemarah ini.

 

Yeah, itu terlalu jauh. Bagaimana jika aku merasa ketakutan?”  wajah itu dibuat merengut.

 

“Kau bisa memanggil pengasuhmu.” Ledek Jiyeon sambil membuka pintu kamar itu. Sebenarnya kamar ini sudah bersih, hanya saja memang kondisinya tidak serapi kamar Jiyeon di bawah sana.

 

Kyung-il berjalan masuk memperhatikan suasananya. “Ini lumayan. Aku bisa tinggal di sini untuk beberapa bulan.”

 

“Hari.”  Tegas Jiyeon

 

Wae? Kau kejam sekali. Aku akan kesepian tanpamu.”

 

Jiyeon memutar bola matanya tak perduli, kemudian meninggalkannya. “Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita.”  Sebenarnya Jiyeon penasaran dengan mobil yang terparkir di depan rumahnya tadi. Siapa dia, atau hanya orang yang menumpang parkir, atau dia tamu tetangganya. Tampaknya tidak ada tujuan untuk ke rumah ini.

 

“Jiyeon!” Kyung-il menuruni tangga dengan buru-buru.

 

Jiyeon yang masih setengah jalan menuju ke dapur, harus terhenti.

 

“Sepertinya aku  melihat suamimu di luar sana.”  Wajahnya tampak serius, tapi Jiyeon tidak terlalu menanggapi. Tidak mungkin Joon Myeon  berada di sini, bukankah dia sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Tapi dia adalah wartawan yang sering~

 

 

 

.

.

.

 

tbc

 

 

 

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. May andriani says:

    Knp suho ada di tmpat jiyeon ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s