Walkin’ The Dream [Part-6]


wtd

WALKIN’ THE DREAM   6th

By. Mochaccino

Kim Myungsoo feat Park Jiyeon

Support Cast.

Kim Minseok  aka. Xiumin

And Other

Romance-Angst-Hurt

.

.

 

”Jiyeon!”  panggilnya keras dari depan pintu—

 

Kegaduhan itu membuat para tetangga terbangun dan melongoknya. Membuat keributan di tengah malam, tapi ketika mereka menyadari siapa yang berteriak itu, mereka justru merubungnya.

 

Apa-apaan ini?

 

Myungsoo berusaha untuk menyingkir dari kerumunan para tetangganya yang merasa tidak asing dengannya.

 

”Myungsoo. Bukankah kau Kim Myungsoo itu?”

 

”Bukan. Kalian salah!” Myungsoo tak tahan, kenapa Jiyeon merubah sandi masuk pintu apartemennya. Apakah dia tidak berharap lagi kedatangannya. Baru saja dua bulan dia meninggalkannya, kenapa harus seperti ini balasannya.

 

”Di mana penghuni Flat ini?”  tanya Myungsoo dengan pandangan buram.

 

”Siapa? Nona Park?”  tanya seorang wanita paruh baya

 

”Apa hubunganmu dengannya?”

 

Eoh! Kenapa harus seperti ini.

 

Dengan langkah cepat Myungsoo berjalan meninggalkan mereka. Dia mencoba untuk menghubungi Jiyeon, tapi—

 

AARGH!”  bukankah ponsel itu sudah dibantingnya hingga hancur waktu itu. Tatapannya nanar pada sebuah titik tak jelas. ”Jiyeon…” gumamnya.

 

”Tuan, apa kita bisa pergi dari sini?”  sopirnya meminta ijin untuk melajukan mobilnya, tapi Myungsoo tak menjawab, tapi kemudian—

 

”Kita ke rumah Xiumin.”  titahnya yakin.

 

.

.

.

 

Tatapannya seperti serigala yang yang mengincar buruannya di tengah hutan rimbun di kegelapan. Antara bisikan emosi dan rasa cemas yang menggantung di setiap sudut benaknya, juga ambisinya untuk segera menuntaskan tanda tanya yang meluap di dalam dadanya ini memaksa seorang Myungsoo mencengkram kerah kaku kemeja dari sepupunya yang terpaksa harus bangun dari lelapnya.

 

Malam ini, ketika Myungsoo tidak menemukan Jiyeon di apartemennya, hatinya terbakar cemas dan cemburu yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya.

 

Sorot menyala itu, menerjang kebekuan Xiumin. ”wtf are you doing, Myung!” melayangkan sebuah tolakan dengan telapak tangannya.  Bayangan mimpinya masih simpang siur di pengelihatannya, namun harus kembali fokus ketika tubuh sepupunya itu maju dan meminta sebuah respon sama darinya. Menukik dengan bahu turun, dan mendorong namja berpipi chubby itu rebah di atas kasur, mendudukinya dan menghujaninya dengan pukulan.

 

Hell yah! Myungsoo!” teriaknya keras. Dia tak sanggup menghadapi emosi yang didatangkan Myungsoo dari neraka.

 

”Di mana Jiyeon?”  tanyanya dingin

 

”Jiyeon?”  pria itu masih berusaha menahan tangan Myungsoo yang nyaris mematahka hidungnya.

 

”Kau pasti tahu di mana dia!”  desaknya membabi buta

 

”Aku tidak tahu. Dia pergi! Aku pun mencarinya.”   Dia berhasil menyingkirkan tubuh Myungsoo darinya, dan bergerak mengambil ancang-ancang sekiranya sepupunya ini akan melakukan serangan lagi, tapi tidak—

 

Dia duduk, mengatur nafasnya meski tetap dengan hati kalut.

 

”Berhentilah mencarinya, berhentilah mengganggu kehidupanku dengannya. Apa kau tahu, aku tidak suka kau berada diantara kami.”

 

”Myungsoo, kau bersikap buruk padanya. Kau sibuk dengan urusanmu. Kau membuat Jiyeon menderita.”

 

”Jangan bicara sembarangan, apa yang kau tau tentang dia, apa yang kau tahu tentang aku dan dia. Kim Xiumin, itu BUKAN URUSANMU!”  Myungsoo benar-benar berada pada titik emosi genting.

 

Pria ini dengan sedikit gemetar, memulai pembelaannya,

 

”Dulu dia ceria dan percaya diri, dia bisa menaklukanmu, dan membuatmu begitu terpenjara oleh pesonanya.  Kau seharusnya tau sendiri perubahan itu.”  Xiumin tidak melupakan bahwa dirinya sendiri pernah membantu Myungsoo untuk menyelamatkan Jiyeon.

 

”Aku merasa dia baik-baik saja, sebelum kau selalu mengganggu kehidupannya.”

 

”Myungsoo, apa kau tahu …?”  Namja chubby ini berusaha untuk tidak mengatakan hal itu pada Myungsoo, jika Jiyeon sedang mengandung anaknya. Bibirnya gemetar penuh dengan kebencian. Dia tidak ingin Myungsoo merasa bangga atas apapun yang terjadi pada Jiyeon. Tapi jika dia tidak mengatakannya maka hal itu tidak adil bagi Jiyeon yang berharap dia bisa hidup bahagia dengan sepupunya ini.

 

”Xiumin, katakan padaku di mana dia!”

 

”Aku tidak tahu, dia tidak mengatakannya padaku. Terakhir aku mengunjunginya dia masih ada di sana, tapi kemarin dia sudah tidak ada.”

 

Myungsoo semakin geram mendengar penjelasan itu, kenapa Xiumin masih saja datang. ”Xiumin, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu tapi kau yang sudah memaksaku.  Jiyeon memintaku untuk merahasiakan ini dari semua orang—”

 

”Rahasia apa?”   kejarnya dengan jantung berdegup kencang

 

”Kami sudah menikah.”

 

”MENIKAH?”  sepupunya itu gagal berekspresi, meski dia berteriak dengan keras. Myungsoo membungkam mulut sepupunya yang berdarah, akibat tinjunya.

 

”Kami sudah menikah, dan memang kedengarannya gila, tapi kami sudah menikah. ” ulangnya dengan sangat meyakinkan.

 

”Hebat! Ini benar-benar hebat, pantas saja kalian sepertinya selalu tinggal bersama.”

 

Myungsoo berdiri, meninggalkan Xiumin yang masih terpaku di tempatnya. Mereka menatap sengit lagi

 

”Jadi jangan pernah mengganggu istriku lagi, Kim Xiumin. Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau masih berniat mendekatinya lagi.”

 

”Aku masih tidak mempercayai ini.” Xiumin menggeleng lagi dan berdecak beberapa kali.

 

”Kau harus percaya, karena memang begitulah kenyataannya.”

 

Diam-diam Xiumin merasa dengki. Dia tidak suka jika kenyataannya Myungsoo sudah menikah dengan Jiyeon. Kenapa dia tidak pernah mencium hal aneh ini sebelumnya, dan Jiyeon hamil. Si brengsek Myungsoo itu benar-benar berhasil membuat kesengsaraan untuk Jiyeon berlipat ganda. Apa maksudnya menikahi Jiyeon dengan cara sembunyi-sembunyi seperti itu.   Seharusnya Xiumin bisa memanfaatkan kondisi ini dengan memiliki Jiyeon dengan rela bertanggung jawab atas bayi itu.

 

Myungsoo keparat, bahkan dia tidak tahu bahwa saat ini kedua orang tuanya sedang mengatur pertunangan Myungsoo dengan Tzuyu. Ini menggelikan.  Pria ini terkekeh sendiri menyadari lakon apa yang sedang dimainkan sepupunya itu.  Lihat saja nanti, apakah dia akan berhasil menghindari apa yang sudah ditentukan orang tuanya untuk kehidupannya.

 

”Apakah Paman dan Bibi tahu mengenai itu?”  selidiknya dengan cengiran iblisnya

 

Myungsoo berjalan mendekat, dengan menghunus telunjuknya. ”JANGAN PERNAH KAU MEMBOCORKAN HAL ITU PADA  MEREKA!”  ancamnya

 

”Kenapa? Kenapa kau takut mengakui kalau kau sudah menikah dengannya. Bukankah seharusnya itu adalah hal yang sangat membahagiakan. Kalian menikah tanpa restu mereka, ini sebuah kejutan, terlebih kau akan memberikan—” dengan cepat dia menggigit lidahnya untuk tidak melanjutkan omongannya. Apa jadinya jika dia keceplosan.

 

”Aku tidak bisa memberitahukan mereka mengenai Jiyeon.”  Myungsoo cemas, mengacak rambutnya dan menahan nafas sebentar,

 

”Apa kau tahu kenapa orang tuaku tidak menyukai Jiyeon.”

 

”Kau seharusnya bertanya pada mereka.”  Xiumin bercermin untuk melihat kondisinya. Wajahnya yang tampan ini harus babak belur di tangan sepupunya sendiri. Sialan! Makinya dalam hati.  Dia bersumpah akan membuat Myungsoo menderita.

 

”Aku harus mencari Jiyeon.”

 

”Yah, carilah dia!”  Xiumin membiarkan Myungsoo keluar dari kamarnya.   Semoga dia tidak menemukannya, karena Jiyeon memang bertekat untuk tidak ditemukan oleh siapapun.

 

.

.

.

 

Di mana Jiyeon.

 

Kenyataannya Jiyeon  memang pergi meninggalkan mereka. Dia dengan kandungannya yang sudah berumur lima bulan itu, kini bekerja di sebuah panti jompo yang letaknya agak di pinggiran kota. Panti Jompo itu menampung sekitar tigapuluh orang-orang dengan rata-rata usia di atas lima puluh tahun.

 

Memang bayarannya tidak sebesar saat dia bekerja di salon, tapi ini sudah lebih dari cukup, karena di panti itu menyediakan kamar untuknya. Di dalam kamar yang tidak terlalu luas itu, Jiyeon merasa nyaman dan tenang. Dia tidak kedinginan dan kepanasan, di tambah lagi dia bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di sana dengan cuma-cuma.

 

Ada seorang kakek, bernama Ok Tae Jung yang menyukai Jiyeon. Setiap hari dia selalu meminta Jiyeon yang merawatnya, karena menurutnya Jiyeon sangar mirip dengan anak perempuannya yang telah meninggal. Sayangnya, suami dari anaknya itu  menikah lagi, dan menguasai perusahaan. Beruntung semua yang dimilikinya termasuk sahan dan aset masih menjadi hak mutlaknya, tapi Kakek Ok dibuang ke panti jompo oleh menantunya.

 

Laki-laki malang. Jiyeon dengan senang hati merawatnya. Dia menyuapi kakek Ok dengan sabar, dan menganggap itu sebagai kakeknya. Mungkin ini yang bisa dia lakukan agar dia bisa tetap bertahan bekerja di tempat itu.

 

Dia tidak tahu apakah Myungsoo mencarinya atau tidak, terlebih Jiyeon tidak pernah mengatakan pada Myungsoo kalau dirinya tengah hamil. Entahlah, seharusnya dia mengatakannya, tapi dengan emosi Myungsoo yang begitu labil, dia tidak yakin jika Myungsoo akan bahagia di tengah-tengah kondisinya yang serba tidak memungkinkan itu.

 

Jiyeon menunduk sedih, sambil mengunyah makan siangnya hari ini. Perutnya sudah terlihat besar, dan sudah banyak pergerakan di dalamnya, sedikit membuatnya repot di saat harus menunduk atau membungkuk. Dalam angan-angannya, dia sudah mencari sebuah nama untuk bayi laki-lakinya ini.  Ya, dia ingin memberinya nama Kim Young Jun.  Nama itu kedengarannya keren, dan pasti akan sangat cocok dengan ketampananya.

 

”Jiyeon!” panggil seseorang.

 

”Sebentar!”  sambil melambai pada seorang namja di kejauhan. Dia segera menyudahi makan siangnya dan berjalan sedikit cepat menghampiri pria tersebut.

 

Matanya menyipit untuk membuat pandangannya fokus.

 

”Ada apa?” tanyanya lagi.

 

”Kakek Ok, dia sakit!” ujarnya sedikit cemas.

 

”Sakit apa?”  Jiyeon bergegas menuju ke kamar di lantai dua, di mana kakek Ok berada. Hyun Bin menjejerinya saat memasuki lift.

 

”Sepertinya dia sudah tidak kuat dengan penyakitnya.”

 

”Kenapa kau bicara seperti itu? Bukankah kita sudah merawatnya dengan baik.”  sahut Jiyeon khawatir.

 

”Apakah perlu menghubungi keluarganya?”

 

”Dia tidak mempunyai keluarga selain menantunya yang tidak tahu diri itu.”

 

Pria di sebelahnya ini mengernyit. ”Dia memang sangat kurang ajar!” geramnya

 

”Kau sudah memanggil dikter Ahn?”

 

”Dia sedang memeriksa Nenek Ara di lantai tiga, akan segera menyusul katanya.”

 

Jiyeon tiba di dalam ruangan Kakek Ok dan melihat pria itu menatapnya sayu. Dengan lembut, Jiyeon menyentuh tangannya.

 

”Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?”

 

”Jiyeon….” bisiknya lirih

 

”Dokter Ahn akan mengobati Anda.”

 

Dia menggeleng lemah dan tersenyum, menggenggam erat tangan Jiyeon kemudian mengusap perut buncit Jiyeon dengan penuh kasih.

 

”Thank you!” ucapnya dengan sangat lemah, bahkan diantara selang oksigen yang bertengger di hidungnya itu, dia masih begitu sulit untuk mengambil nafas.

 

”Tuan, Anda akan sehat kembali. Bukankah Anda ingin melihat anak saya lahir. Namanya Kim Young Jun. Dia laki-laki dan pasti akan tampan, Tuan.”

 

Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum, kemudian memejamkan matanya.

 

”TUAAAAAN!”   Jiyeon mengguncang tangan yang menggenggamnya,

 

”Jiyeon, dia sudah meninggal.”  ujar Hyun Bin sambil memeriksa denyut nadi pada tangan sebelahnya.

 

Kemudian dari arah luar muncul dr. Ahn, yang masuk dengan beberapa perawat, menyingkirkan Jiyeon yang mendadak merasa takut di pisahkan dari Kakek Ok.

 

”Jiyeon, minggirlah!”  seru pria berjubah putih itu dengan wajah dingin.

 

Jiyeon ditarik oleh Hyun Bin agar menghindari dokter angkuh itu. Air matanya berderai merasakan kepedihan yang harus diterima kakek Ok hingga waktu meninggalnya. Tidak ada keluarga dan orang yang disayanginya yang melepas kepergiannya.

 

”Jiyeon, berhentilah menangis.” Hyun Bin menyerahkan tissue untuk mengusap air mata temannya.

 

”Hyun Bin, dia meninggal. Aku merasa kehilangan.”

 

”Dia sudah bertemu dengan anaknya juga istrinya di sana. Kau jangan sedih, dia pasti sudah bahagia.”

 

”Hyun…”

 

”JIYEON!”  mendadak Jiyeon mengangkat dagunya demi melihat dokter Ahn menggertaknya. Dia bangkit berdiri dengan susah payah dengan kondisi perutnya.

 

”Ada apa, dr. Ahn?”

 

”Ikut aku!”  ajaknya dengan muka tanpa ekspresi.

 

Hyun Bin menyuruhnya untuk segera mengikuti dokter tampan itu. Namanya Ahn Jae Hyun. Dia merupakan dokter muda yang ditugaskan di panti jompo ini sebagai dokter magang.  Dia bukan dokter tetap, tapi dr. Ahn adalah seorang dokter ahli.

 

”Ada apa, dokter?”

Jiyeon berusaha bertanya, meski dia ketakutan setengah mati, jangan-jangan dia dipersalahkan atas apa yang terjadi pada kakek Ok.

 

”Apa makanan terakhir yang kau berikan pada Kakek Ok?”

 

Jieon memutar bola matanya mencoba mengingatnya, karena dia merasa tidak memberikan apapun pada kakek Ok selain makanan yang disediakan dari dapur panti. Mereka mereka dilarang untuk memberikan makanan lain selalin yang diberikan oleh ahli kesehatan panti jompo ini.

 

”Apakah ada sesuatu yang terjadi karena saya, dok?”

 

Dokter itu mengerutkan alisnya.

 

”Gula darahnya meningkat, mungkin itu yang menyebabkan dia seperti ini.”

 

Jiyeon menunduk. Apakah ini karena dirinya.

 

”Kau sudah merawatnya dengan baik. Untuk itulah aku memintamu lagi untuk merawat Ny. Ara di di lantai tiga.”

 

Sungguh leganya, Jiyeon mendengar kalimat itu. Dia sudah ketakutan sekali akan dipecat dari panti jompo ini. Senyumnya mengembang seiring tatapan lembut dokter yang telah memberinya perintah itu.

 

”Terima kasih dokter!”

 

Pria bertubuh jangkung itu mengangguk.

 

”Saya akan mengurusi kakek Ok dulu.”

 

”Ya, para petugas medis sedang mensterilkan jenasahnya, kemungkinan dia akan di bawa pergi dari panti ini oleh kerabat dekatnya.”

 

Jiyeon mengangguk mendengar penjelasan itu.

 

”Jiyeon!” panggil dokter itu lagi sesaat sebelum Jiyeon mencapai pintu.

 

”Ada yang perlu saya lakukan lagi, dokter?”

 

”Berapa umur kandunganmu?”

 

”Lima bulan, dok.” jawabnya dengan senyum datar.  Ada apa dengan kandungannya? Apakah menimbulkan masalah?

 

”Apa kau sudah memeriksakannya lagi?”

 

”Belum.”

 

”Aku punya kenalan dokter kandungan yang bagus.”

 

Jiyeon mengangguk, meski tidak mengerti apa maksudnya. Dokter itu ingin sepertinya sedang mencari kata-kata tepat untuk mengutarakan sesuatu.

 

”Jiyeon, aku bisa mengantarmu menemui dokter Hong jika kau mau.”

 

”Apa Anda serius, dokter? Tapi saya sudah mempunyai dokter sendiri.”

 

Pria itu menunduk dan menggeleng sebentar, kemudian mengangkat wajahnya sambil memberikan senyuman tipis.

 

”Baiklah, terserah kau saja.” sahutnya.

 

Lalu kemudian Jiyeon pergi meninggalkannya dengan tanda tanya besar di kepalanya.

 

Kenapa dia menawari dokter lain untuk kandungannya, sementara dokter yang dulupun merupakan saran darinya. Ini sangat aneh dan lucu.

 

.

.

.

 

 

Beberapa hari kemudian, setelah Kakek Hong di kremasi, seorang pengacara datang untuk Jiyeon. Dia sengaja menemui Jiyeon secara empat mata karena ada hal yang benar-benar serius yang ada hubungannya dengan wanita hamil itu.

 

Rasa takut Jiyeon benar-benar menjadi topik bahasan terkini di dalam panti jompo itu, termasuk dokter Ahn yang mendadak ikut concern dengan Jiyeon belakangan ini.

 

”Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu.” ujar laki-laki berumur empat puluh tahun itu. Dia duduk dengan tenang sambil menatap Jiyeon secara teliti.

 

”Ehm, kau memang mirip dengan putrinya.”

 

”Putri siapa?”

 

”Putri mendiang Tn.Ok.”

 

Jiyeon tak menjawab, tapi pria itu mengeluarkan sebuha map yang diletakkan di atas meja. ”Kau sungguh beruntung, Nyonya.”

 

”Apa maksud Anda, Tuan?”

 

”Apakah kau sudah menikah?”

 

Jiyeon mengangguk, meski dia tidak tahu apa status pernikahan mereka saat ini.

 

”Nyonya, apakah Anda tahu, kalau Tuan Ok sangat menyayangi Anda seperti dia menyayangi putrinya sendiri?”

 

”Ya, saya tahu Tuan. Dia pun saya anggap sebagai kakek saya. Dia baik dan sangat sabar. Tapi saya heran, kenapa dia ditelantarkan di sini, padahal dia tidak merepotkan sama sekali.”

 

Laki-laki itu menghela nafas berat. ”Itulah masalahnya aku datang ke sini, Nyonya. Saya membawa sebuah kabar baik, tapi entahlah sepertinya perjuangan Anda masih akan berlanjut karena setelah Tuan Ok meninggal, dia memberikan semua aset kekakyaannya untuk Anda, berikut saham perusahaan, rumah dan beberapa investasi yang dia dia tanamkan di luar negri.”

 

Jiyeon mendadak seperti tuli, dan dunia di sekitarnya menjadi hening. Dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu saking kagetnya. Ada apa ini? Pikirnya.

 

Setelah beberapa waktu kemudian, dia hanya bisa melihat pria itu menyodorkan pena untuk Jiyeon agar Jiyeon menandatangani sesuatu, setelah itu pengacara itu mengangguk.

 

”Anda sudah sah menjadi pemilik perusahaan dan semua yang diwariskan tuan Ok pada Anda, Nyonya.” pria itu membungkuk memberi selamat. Semntara Jiyeon sendiri masih belum bisa bersuara.

 

”Anda boleh kapan saja menempati rumah  itu, karena menantu Tuan Ok sudah tidak tinggal di sana lagi.  Kami sudah mengusirnya.”

 

”Eoh!”  Jiyeon masih bingung dengan apa yang sudah terjadi pada hidupnya. Dalam sekejap saja dia sudah menjadi orang kaya, terlebih memiliki perusahaan dan tanggung jawab. Apa yang harus dia lakukan.

 

Langakhnya gontai meninggalkan ruangan. Dia melihat dokter Ahn sedang berjalan dari arah berlawanan, tapi Jiyeon tidak berani menyapanya. Kepalanya masih pusing dan rasanya begitu sesak dengan hal yang begitu mengejutkannya itu.

 

”Aku harus memberi ucapan selama untukmu, Park Jiyeon!”

 

Jiyeon menggeleng. ”Saya tidak tahu, dokter. Apa yang harus saya lakukan?”

 

”Jalani apa yang harus kau jalani, Jiyeon.  Itu adalah hakmu saat ini. Aku hanya mempercayai bahwa perbuatan baik, pasti akan menuai kebaikan, Jiyeon.”

 

Entah kenapa Jiyeon meneteskan air matanya ketika pria itu mengatakan kalimat barusan.

 

”Benarkah saya orang baik, dokter?”  tanyanya lirih. Pria itu panik saat Jiyeon menangis, dia tidak tahu harus bagaimana, memeluknya?

 

.

.

.

 

Myungsoo baru saja tiba dari kuliahnya ketika di ruang tamunya keluarga Chou ada di rumahnya. Sementara Tzuyu sendiri begitu diam menatapnya. Ada apa ini?

 

Ibunya menyuruhnya duduk.

 

”Myungsoo, mereka datang untuk sebuah alasan.”  jelas ibunya dengan sekali tarikan nafas.

 

”Apakah itu?” Myungsoo mendelik pada Tzuyu.

 

”Kami rasa, kami memang harus segera meresmikan hubungan mereka, Nyonya.” Wanita di sebelah Tzuyu melirik Myungsoo tenang.

 

”Myungsoo, apa kau tahu kalau putri kami hamil.”

 

”APA?”  Myungsoo menusuk tatapan gadis itu dengan sorotnya yang tajam.

 

”Chou Tzuyu!” sebutnya datar.

 

”Oppa, aku hamil. Kau pasti tau kenapa aku bisa hamil.”

 

Myungsoo menggeleng.”Aku tidak tau, Tzuyu.”

 

”Waktu itu, saat kita menginap di Daegu untuk pengambilan gambar iklan sabun. Apa kau ingat Oppa? Kita melakukannya.”

 

Myungsoo masih menggeleng, dengan alis mengkerut. Tidak mungkin dia melakukannya, karena pada waktu itu Myungsoo—

 

”Kau mabuk Oppa, dan kita terbangun dalam kondisi…” gadis itu tidak melanjutkannya.

 

SIAL! Apakah dia melakukannya? Ini benar-benar tidak bisa diampuni. Di saat dia sedang mencari petunjuk di mana keberadaan Jiyeon, kini dia harus menghadapi masalah yang begitu berat.  Dia tidak mungkin menikahi Tzuyu, namun juga sulit mengatakan pada orang tuanya kalau dia sudah menikah dengan Jiyeon, meski dia tidak tahu di mana gadis itu berada kini.

 

”Myungsoo… kalian akan menikah akhir bulan ini. Aku tidak mau, karena hal ini, nama keluarga kita akan tercemar. Apa kau tahu itu?”

 

Sepertinya Tzuyu begitu puas mendengar keputusan ini. Akhirnya mereka akan menikah.  Myungsoo masih begitu keruh dengan perasaannya sendiri menghadapi situasinya dengan Jiyeon. Di mana istrinya itu sekarang berada.

 

Sedangkan Tzuyu sendiri bersorak dalam hati, karena pada akhirnya dia berhasil membuat Kim Myungsoo jatuh dalam pelukannya. Ini salahmu Myungsoo karena selalu mengacuhkanku. Apa kau tahu, bayi ini bukan milikmu, ini adalah milik Kim Xiumin sepupumu. Seandainya saja saat itu, Xiumin tidak mendatanginya, dan mengatakan padanya kalau Myungsoo sudah menikah dengan seorang gadis yang tak jelas, Tzuyu tidak akan seberang itu. Dia memutuskan untuk melakukan apa saja untuk membuat Myungsoo menjadi miliknya secara sah, apapun alasannya, termasuk membuat dirinya hamil.  Xiumin bukan pria jelek, dia tampan dan seksi, dan juga menggairahkan. Sayangnya dia tidak mencintai pria itu. Hati dan cintanya hanya untuk Myungsoo seorang.

 

”Apakah kalian akan menikah?” Xiumin menghubungi Tzuyu sesaat setelah meninggalkan rumah keluarga Myungsoo.

 

”Nde Oppa, aku akan menikah dengannya akhir bulan ini. Aku sangat senang sekali.”

 

”Ehm, aku lega akhirnya kalian bisa menikah.”

 

”Ugh, Oppa, aku sedikit mual.”

 

”Itu biasa, karena kau memang hamil. Jagalah baik-baik anak kita, Tzuyu!”

 

”Aku akan menjaganya Oppa. Kau tenang saja, aku dan Myungsoo pasti akan merawatnya dengan baik.”  jawab Tzuyu sumringah.

 

”Good girl! Apa aku bisa menemuimu sekaran?”

 

”Oppa, kau mau apa? Kalau kau ingin berhubungan denganku, rasanya aku belum mengijinkannya. Kau ini, aku kan sedang mengandung anakmu, bagaimana jika nanti aku keguguran. Kau selalu melakukannya terlalu bersemangat saat kita bercinta.”

 

Xiumin terkekeh, tapi dia mengerti. ”Baiklah, katakan padaku kalau kau membutuhkanku.”

 

”Bagaimana jika aku tidak membutuhkanmu, Oppa?”  gadis itu meringis ragu

 

”Kau pasti tau apa akibatnya jika kau tidak mau melayaniku. Semua rencanamu akan gagal, Tzuyu!’ ancam namja itu licik.

 

”Agh Oppa, jangan seperti itu. Aku akan melayanimu, tapi tidak dalam dua bulan ke depan ini.”

 

”Aku tahu, it’s okay.”

 

”TZUYU!” panggil ibunya kemudian. Gadis itu segera memutuskan sambungah ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas saat ibunya menghampiri.

 

”Kau menelepon siapa? Apakah Myungsoo.”

 

”Ya. Aku berbicara dengannya masalah pernikahan kami.”

 

”Ya, sebaiknya kalian memang lebih sering berkomunikasi. Besok, kita akan memilih gaun untuk pernikahanmu. Aku dan calon ibu mertuamu akan menemanimu, Sayang.”

 

”Baiklah.”  Tzuyu tersenyum bahagia. Akhirnya pernikahannya  bak pesta cinderala akan segera terwujut.

 

.

.

.

 

Jiyeon di jemput oleh sebuah mobil mewah. Pengacara itu, Tn. Sung sudah menghubunginya, kalau Jiyeon akan dijemput. Ada beberapa hal yang sudah menanti Jiyeon di kehidupan barunya, termasuk menjadi pemimpin sebuah perusahaan. Pengacara itu sudah menyiapkan team khusus untuk membantu Jiyeon agar dia bisa dengan cepat mengambil alih kepemimpinan perusahaan yang saat ini masih di pimpin oleh CEO sementara, dalam masa transisi. Ini sangat membuatnya pucat. Bayangkan, dari manusia biasa yang hanya bisa menjalani kehidupan sederhana kini dia harus mengurusi perusahaan dan banyak karyawan.

 

”Kami akan membantumu.”   uajr salah satu dari mereka. Orang-orang yang sudah disediakan Pengacara Sung untuknya. Terdiri dari dua orang wanita asing, dan dua orang laki-laki muda, dan setengah baya.

 

Jiyeon benar-benar gugup, terlebih ketika dia memasuki rumah besar dan mewah itu. Apakah ini semua miliknya.  Di saat-saat panik seperti ini, dia kembali teringat perkataan dokter Ahn untuk menghubunginya jika Jiyeon mengalami kesulitan. Agh, memangnya apa yang bisa dilakukan dokter itu. Memangnya dia akan memberikan resep apa di saat Jiyeon merasa panik dengan angka-angka yang dihadapinya di atas kertas ini, atau di layar monitor ini. Pusing.

 

”Nyonya, apa anda butuh sesuatu?” tanya wanita bule itu. Jiyeon melirik sebentar

 

”Ya, panggilkan dokter Ahn kesini!” suruhnya dengan menekan keningnya.

.

.

.

 

Tbc.

 

 

 

 

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. queenie says:

    Aaaa… bnguun,bnar2 lupa total ma crta d chpter sblum’a, sprti’a harus baca ulang deh
    Jiyeonnn.. bruntung skali dirimu
    Eii tzuyu n xiumin mlakukan hal yg sma kyak sulli n suho tuk mmisahkan myungsoo dari jiyeon, mreka spikiran ya

  2. yuliatka says:

    Jd xiumin juga jahat? :/

  3. May andriani says:

    Wah gk nyangka jiyeon jdi kaya,, xiumin dan tzuyu bner licik :@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s