More And More 12th


more and

More & More 12

Wu Yifan

Park Jiyeon

Support Cast

Kim Seok Jin [ BTS ]

Seo Kahi [ OC ]

Romance/ Angst

PG

Chapter

.

.

 

 

 

 

Untuk beberapa detik dia hanya bersandar di pintu lemari, menatap suaminya yang duduk dengan tubuhnya yang condong ke belakang bertumpu dengan dua tangannya di atas kasur. Matanya mengawasi Jiyeon lekat-lekat.

 

”Apa yang kau lakukan di situ?” tanyanya

 

”Berpikir.” jawab Jiyeon

 

”Lebih baik kau berpikir di sini saja. Aku akan membantumu berpikir!”

 

Jiyeon menunduk sembari memasang senyum konyol, tapi Jiyeon menurut dan mendekat ke arah suaminya.

 

Yifan menyambutnya, memegang tongkatnya, dan meletakkannya agak jauh, kemudian membantu Jiyeon duduk, mereka bersisian. Demi Tuhan, Jiyeon merasa ini sangat menggelikan.

 

”Apa yang kau pikirkan?”  tangan Yifan menyibak helai rambut Jiyeon yang menutupi wajah cantik itu, kemudian mengecup pelipisnya.

 

”Memikirkanmu.”

 

Suaminya mengangguk, ”Baguslah kau mulai memikirkanku. Mengenai apa?”

 

”Mengenai besok, bukankah kita akan kembali ke Seoul.”

 

”Ya, kita sudah sepakat, besok kita akan pulang dari pelarian kita.”

 

”Hhh… kau yang menculikku, Yifan.”

 

”Bukankah penculikan ini menuai hasil. Katakan kau suka aku  menculikmu. Ini kedengarannya seperti sebuah adventure untuk perjalanan cinta kita.”

 

Jiyeon terkekeh, tapi gelak tawanya itu tak berlanjut lama karena medadak kehangatan itu menyapa bibirnya. Gerakannya terlalu cepat sampai Jiyeon tak bisa menebak apalagi menghindar. Tubuhnya di bimbing untuk terbaring dengan posisi yang sangat  menguntungkan bagi Yifan. Apakah ini akan menjadi malam pertama bagi mereka.

 

Benar-benar malam pertama?

 

Mendadak ponsel Jiyeon berbunyi nyaring. Mereka semula tidak memperdulikan, karena Jiyeon tidak mungkin mengambilnya, di saat Yifan sedang menciumnya dengan begitu indahnya. Membuka matanya saja dia tak sanggup. Benar-benar tak sanggup. Demi Tuhan, tubuh  Yifan bergerak indah dan menstimulasi dengan gairah yang tak bisa dibendungnya.

 

Namun ponsel itu berbunyi lagi, membuat bibir Yifan sebentar meninggalkan keasikannya pada tubuh Jiyeon. Sebentuk senyum mengambang, meningkahi hal ini. Yifan bangkit, dan menutup tubuhnya sendiri untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja.

 

”Haruskah aku mengangkatnya, ini adalah ibumu.”  Yifan membawanya ke samping Jiyeon, duduk di sana saat istrinya  mengambil benda ramping itu dari tangannya. Yifan tak kuasa untuk tidak melanjutkan kegiatannya yang sesaat lalu tertunda. Dia menelusup masuk ke dalam pakaian dalam Jiyeon sembari memberikan gigitan mesra pada bahu terbukanya. Suara desahannya membuat Jiyeon sedikit risih.

 

”Mungkin kita tidak usah mengangkatnya.” menoleh pada Yifan yang sudah begitu mabuk oleh nafsu. Di sentuhnya bibir itu, kemudian dikecupnya dengan manis, menatap wajah suaminya, dan mencoba untuk menggodanya. Jiyeon tidak tahu kenapa dia begitu berani seperti ini, di mana semua rasa malunya itu sampai harus begitu agrasif dan membuatnya malu.

 

Yifan merintih dalam hati demi merasakan adrenalinya meningkat dengan serangan balik Jiyeon padanya. Istrinya ini  menyimpan hasrat yang tinggi padanya. Ciumannya terasa begitu hidup dan membara. Bibir itu tiada puasnya mengais dan menghisap dengan suara-suara alami yang muncul dari dasar tenggorokkannya. Tidak ada rumus yang jelas, dan semua ini terjadi begitu saja. Yifan pun membalas ciuman itu tak kalah panasnya. Dia sangat berpengalaman dengan hal ini, tidak sudi jika harus tunduk pada gairah Jiyeon  yang baru merekah malam ini.

 

Dengan sekali ringkus, Yifan menindih Jiyeon dan menekan tangan itu di atas kepalanya, lalu dengan kekuatannya dia mencumbui bibir itu hingga terlihat merah dan membengkak. Hisapan dan gigitannya adalah sebagai tanda bahwa dia bukan laki-laki biasa, dia adalah seorang Wu Yifan.

 

Jiyeon  merintih dengan lirih, mendesah dengan suara yang lembut.

 

Dia terbaring kembali, dan membuat posisi mudah untuk Yifan. Mereka masih saling menatap dan tersenyum.

 

“Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Yifan.

 

“I Love You”  lirih Jiyeon

 

Yifan menghela napasnya dan menuntun kejantanannya mendekati organ intim Jiyeon. Dia sudah mendengar apa yang akan dikatakan Jiyeon lewat tatapan itu.

 

“Love you too!”

 

Jiyeon menahan rasa bahagianya. Dia bahagia mendengar Yifan mengatakan kalimat indah itu.

 

Kemudian, detik berlalu, dan dia harus menahan rasa sakitnya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Yifan dan mencoba untuk bernafas sebaik-baiknya. Dia tahu ini pasti akan sakit pada awalnya. Yifan mengusap wajah itu dan menenangkan dengan kecupannya.

 

“Ini sungguh luar biasa SAyang. Sangat lu…ar bi…a…a..sah!” Yifan menahan diri. Apa yang dia rasakan sangatlah lebih dari kata nikmat.

 

“Sakit?”  Yifan mengecup kening dan sekujur wajah Jiyeon.

 

“euhm…” dia masih bisa menahannya, Jiyeon sadar ini adalah bagian penting dari percintaannya dengan Yifan. Ini adalah malam pertamanya, dan dia menyerahkan kesuciannya pada pria ini dengan kesadarannya, meski sama sekali tidak pernah dia duga bahwa pada akhirnya dengan pria ini dia melakukan hal ini untuk pertama kalinya.

 

“Sayang… kau, …” Yifan pun tak sanggup menahannya.

 

Kemudian Jiyeon mengatur napasnya, ketika Yifan mulai bergerak.

 

“Ough My Baby!” desah pria itu merdu. Dia menikmati persetubuhan ini. Pinggulnya bergerak dan terus bergerak, sambil menikmati wajah Jiyeon yang kian merona.

 

Jiyeon mulai mendesah. Dia menggigit bibir dan tengadah. Detak jantungnya berpacu dengan  detak jantung pria yang menindihnya, memacunya dan melesakkan kejantanannya hingga semakin dalam dan menghentak dengan ritme yang kian cepat. Dia menikmati semua itu, erangan Yifan dan tatap mata yang penuh dengan ambisi dan hasrat.

 

“Jiyeon-ah..”  bisiknya

 

“Eum…”

 

“Sebut namaku!”  pinta Yifan.

 

Jiyeon menggeleng dan terpejam. Dia membuang semua itu dan mengabaikan permohonan Yifan untuk sementara, dia masih terfokus untuk meresapi apa yang dirasakannya. Kondisi tubuhnya sedang dijangkiti gelombang yang kian membawanya semakin tinggi dan tinggi. Ini sangat hebat. Bukan karena mengenai persetubuhan ini, melainkan karena dengan siapa dia melakukan ini. “Yi-fan” lirih, akhirnya dia menyebutkan nama terkasihnya.

 

Jiyeon mendapatkan klimaksnya, dia menggigit dada Yifan, dan sebentar kemudian pria di atasnya ini pun mengerang dengan wajah yang begitu indah. Matanya menyipit denga bulir-bulir keringat diantaranya, juga pipi yang memerah sempurna, diantara cengiran kepuasannya. Yifan menyebutkan namanya.

 

Dia jatuh memeluk tubuh istrinya dengan lemas.

 

.

.

.

 

 

Jiyeon terbangun di tengah malam, karena merasa perutnya sedikit lapar. Memang dia tidak harus makan, tapi entah kenapa sepertinya dia harus makan selain untuk melepaskan rasa lelahnya. Yifan tertidur pulas setelah  beberapa kali percintaan mereka tadi, dia tampak manis dan tabah. Eoh, pria itu, suami yang telah memaksanya untuk mengganti nama marganya menjadi Wu itu begitu mengagumkan.

 

“Kau mau ke mana?”  gumamnya,

 

Jiyeon menoleh,

 

“Aku haus.”

 

“Hm.”

 

“Kau mau kuambilkan minum?”

 

“Boleh.”

 

Jiyeon berjalan meninggalkan pembaringan bersama tongkatnya dengan sedikit rasa nyeri pada selangkannya. Wajahnya berseri merasakan dirinya sekarng tidak perawan lagi.

 

Malam ini, tidak terlalu dingin, dan kehangatan sedikit membuatnya cepat lelah. Pelan-pelan dia membuka lemari esnya, dan mengambil sebotol air dingin, tapi kemudian tertarik dengan buah apel yang begitu segar. Jiyeon memakannya sambil menatap keluar jendela. Besok, dia akan kembali ke Seoul. Apa yang harus dilakukannya seandainya dia bertemu dengan Jin.

 

“Kenapa lama sekali?”  mendadak tubuh Yifan sudah berdiri di belakangnya, memberikan pelukan yang hangat. Tubuh terbukanya itu menggeliti Jiyeon untuk tersenyum. Rasanya sangat emh—

 

Kecupan Yifan menyapa leher, kemudian merambat hingga ke pipi, kemudian, memaksa Jiyeon menoleh untuk memberikannya ciuman yang begitu dalam, bersama semua sentuhan tangannya yang berkelana pada dadanya. Sepertinya Yifan masih begitu tinggi, dan menuntut Jiyeon untuk melayaninya lagi. Beberapa menit pria itu membuatnya mendesah di area pantry. Apalah arti tubuh Jiyeon ketika dikuasai oleh kehangatan dan gairah Yifan yang membabi buta. Dia pasrah pria ini membuatnya terguncang hebat di atas meja pantry dengan kegaduhan yang hampir tak bisa mereka bendung lagi.

 

Jiyeon merasa malu dengan gairahnya sendiri, dan kenapa bisa begitu bersikap apa adanya di depan seorang Yifan. Semua yang dia tutup-tutupi selama ini, mengenai gairah yang sepertinya tidak mungkin akan menjadi seperti ini, ternyata memang harus meluap sedemikian rupa dibawah kekuasaan hasratnya.

 

“Aku ingin  menanamkan benihku sebanyak-banyaknya di dalam rahimmu, Jiyeon.”  Bisiknya. Eoh, ucapannya begitu membakar, dan membuat Jiyeon menggelinjang. Mereka saling menatap dan memagut bibir ketika kejantanan Yifan tertelan ke dalam tubuh istrinya, menumpahkan semua benih putihnya di sana.

 

“Aku menyukai ini— tubuhmu,”

 

“Ssst!”  Jiyeon hanya bisa menutup mulut itu dengan telunjuknya, dia tidak ingin bicara selagi menikmati orgasmenya, kemudian menjatuhkan kepalanya pada bahu tegap di depannya. Yifan menarik miliknya, dan membuat kaki Jiyeon turun dari atas meja. Posisi itu sungguh luar biasa, pikirnya.

 

“Kau tadi mau apa?”  Jiyeon menelas salivanya—

 

“Minum.” Jawab suaminya.

 

“Hm..”

 

“Kalau begitu, cepatlah minum dan kita harus segera beristirahat untuk perjalanan esok.”

 

Yifan meneguk air yang sudah disiapkan Jiyeon sejak tadi, kemudian menggendong istrinya kembali ke kamar. Mereka terlibat canda selama perjalanan dan kekehan terdengar lembut menyegarkan. Tidak lama kemudian, terdengar lagi kebisingan di sana. Sepertinya mereka memang tidak akan tidur di sisa waktu menjelang pagi ini.

 

 

.

.

.

 

 

“Ini kamarku, dan akan menjadi kamar kita.”  Yifan memperlihatkan kamarnya yang cukup luas dan rapi.  “Aku akan mengganti ranjangnya dan membeli yang baru seandainya kau tidak suka.”

 

“Aku suka. Kau jangan berlebihan padaku, memangnya aku ini siapa sebelumnya.”  Jiyeon tidak suka Yifan terlalu menganggapnya istimewa, kesan itu membuat Jiyeon serba salah. Dia tidak mempermasalahkan apapun, dan semua yang ada di rumah ini sangat lebih dari kata cukup.

 

“Kau adalah Nyonya rumah di sini, kau bebas mengatur semuanya. Akan kukenalkan Paman Wang padamu,”  Yifan menunjuk pada laki-laki yang baru menghampiri mereka.

 

“Selamat datang Nyonya Wu!” sapanya. Jiyeon menunduk malu,

 

“Aku sudah mengenalnya, dulu bukankah kita sudah bertemu.”

 

Yifan tak ingat,

 

“Ya, aku juga ingat.” Sahut pria itu, yang kemudian tersenyum hangat.

 

“Aku akan membawamu pada Ayahku.”  Yifan menggandeng Jiyeon keluar dari kamar dan menuju pada kamar lainnya di sebelah kamarnya.

 

“Tuan besar sedang menjalani teraphy.” Jelas Wang

 

“Sebaiknya nanti saja.”  Yifan mengurungkan niatnya. Ayahnya itu stroke dan harus melakukan teraphy, dan memang membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kondisinya.

 

“Aku ingin menemuinya,”  Jiyeon bersikeras.

 

“Nanti saja, karena kita harus melakukan ritual itu, Jiyeon untuk menghadap pada ayah, dan sebaiknya aku juga mengundang orang tuamu. Kita akan menuang arak untuk mereka. “

 

“Apakah itu budaya dari Cina.”

 

“Menurutmu?”  Yifan menariknya berjalan ke ruang kerjanya, sedangkan Wang memberinya isyarat agar Yifan mendekatinya. Pria itu menaikkan alisnya sebentar demi merasakan ada hal penting yang ingin disampaikan kepala pelayannya itu.

 

“Ada apa, Paman?”

 

“Mengenai Nona Kahi.”  Bisiknya.

 

“Bagaimana keadaannya?”

 

“Dia masih belum stabil dan terus berteriak memaki Anda, Tuan. Saat ini dia masih dikarantina dan tidak diijinkan keluar dari ruangan, karena dia selalu menyerang sesama pasien di sana.”

 

Yifan tampak murung dengan situasi ini. Dia memang jahat, memperlakukan Kahi seperti itu. dihelanya nafas berkali-kali—

 

“Aku akan mengunjunginya lusa, karena hari ini aku ingin mengadakan upacara adat pernikahan kami, Paman. Kau tau apa yang harus kau urus bukan.”  Pria itu  mengangguk.

 

Ketika Yifan menemui Jiyeon di ruang kerjanya, istrinya itu sedang menerima telepon dari ibunya. Yifan membiarkannya, dan menyandinginya duduk.

 

“Kami sudah menikah.”

 

“Aku tahu, eomma sempat khawatir, ketika Jin mengatakan kau diculik.”

 

Jiyeon terpekur pada  ucapan ibunya. Nama pria calon suaminya itu membuatnya gugup, dan kemudian menoleh pada Yifan.

 

“Apakah eomma bisa menemui kalian sekarang?”

 

“Ya, kami akan mengadakan acara adat untuk menghadap orang tua. Menurut Yifan, semua itu wajib dilakukan, Eomma.”

 

“Aku akan datang, sebutkan di mana alamat rumahmu.”
Yifan mengambil ponsel dari tangan Jiyeon, kemudian menyebutkan alamat yang ibu mertuanya butuhkan.

 

“Apakah Anda akan datang bersama suami Anda, Eommonim?”

 

“Eoh, aku tidak tahu, Yifan. Sepertinya aku belum bisa mengajaknya. Suamiku masih belum tau jika aku sudah menemukan putriku.”

 

Yifan mengangguk dan mencoba untuk mengerti situasi ini. Digenggamnya jemari Jiyeon untuk menghangatkan tangan istrinya. Dia bersumpah, akan membuat laki-laki itu memohon maaf pada Jiyeon, jika perlu harus berlutut di depan anak perempuannya sendiri yang sudah di perlakukan tidak manusiawi selama ini.

 

“Baiklah, kami akan menunggu Anda, Eommonim.

 

Setelah  selesai bicara, Yifan mengembalikan ponsel itu pada Jiyeon. “Ada hal yang harus kau pelajari, dan Bibi Yi Lin, akan membantumu. Dia adalah seorang sesepuh di keluarga Wu, sebentar lagi dia  akan datang.”

 

Jiyeon kian gugup. “Sebenarnya apa yang harus kulakukan?”

 

“Tidak banyak, nanti juga kau akan tahu.”

 

“Aku nervous, Yifan.”

 

“Aku juga.”

 

Mereka tersenyum, lalu kemudian, Yifan menerima sebuah telepon masuk. Dia berjalan keluar ruangan meninggakan Jiyeon. Masalah pekerjaan memang kerap membuatnya harus bertindak sendiri, hanya saja hari ini dia masih harus mempending semua itu demi Jiyeon.

 

“Perusahaan apa?”

 

“….”

 

“Bukankah itu—“  Yifan melirik Jiyeon yang mendadak berada di sampingnya. Tuan Park, mengajaknya bekerja sama.  Kenapa begitu kebetulan sekali. Yifan sungguh penasaran dengan ayah Jiyeon. Laki-laki yang dianggap Yifan begitu kejam karena membuang putrinya sendiri, hanya karena dianggap membawa nasib sial.

 

“Baiklah, buatkan jadwal bertemu dengannya.”

 

.

.

.

 

Saat wanita itu datang, Jiyeon tidak bisa menahan air matanya. Rasa rindu dan hampanya membuat batin Jiyeon melonjak dalam keharuan, terlebih ketika dia menikah, tidak ada wanita ini yang mendampinginya.

 

“Jiyeon-ah!”

 

“Eomma, “

 

Tangan itu  mengusap rambut dan kepala Jiyeon, menelusuri punggungnya dan membisikkan restu untuk pernikahannya dengan Yifan. “Semoga Tuhan memberkati pernikahan kalian.”

 

“Terima kasih, eommonim.” Yifan yang membalasnya. Wanita itu datang dengan membawa beberapa barang bawaan yang banyak jumlahnya, membuat Yifan bingung.

 

“Itu adalah mas kawin yang memang sudah seharusnya aku berikan untuk pengantin pria.”

 

“Anda tidak harus melakukan itu.”  ucap Yifan.

 

“Jangan dipikirkan, biarkan Jiyeon yang mengurusnya.”

 

Jiyeon tak bisa mengatakan apa-apa.

 

“Di mana ayahmu?”

 

“Kami sedang bersiap-siap untuk melakukan tradisi adat kami.”

 

“Apa itu?”

 

“Nanti Anda akan tau.”

 

Mereka dibimbing masuk ke sebuah ruangan. Sedikit banyak dia sudah mengetahui tata cara pernikahan adat menurut Yifan. Bibi Yi Lin sudah memberikan bocoran padanya, dan tidak terlalu sulit baginya untuk mengikuti upacara itu.

 

Di depan mereka terdapat altar dan Ny. Park di bimbing duduk pada sebuah bangku, sedang kan Tuan Wu pun duduk di sebelahnya dipisahkan altar diantara mereka. Jiyeon dan Yifan mengenak baju pengantin berwarna serba merah, dan ruangan ini pun memang didominasi oleh warna merah, harum dupa membuat ketenangan sendiri di benak dan pikiran tiap individu, menambah kekhusukkan. Bibi Yi Lin bertugas sebagai mak comblang yang memberikan perintah pada Jiyeon untuk menuangkan teh pada ayah mertuanya, kemudian pada ibunya, dan menjura tiga kali pada kedua orang tua, dan yang terakhir Yifan dan Jiyeon saling berhadapan, mereka saling membungkuk kemudian tersenyum. Secara adat mereka sah menjadi sepasang pengantin. Begitulah garis besar tata cara pernikahan mereka.

 

Setelah itu, mereka duduk bersama di sebuah ruang makan dengan meja yang berbentuk bundar dan lebar. Banyak menu yang dihidangkan dan mereka tampak berbahagia. Tuan besar Wu, meskpun tidak bisa bicara, tapi dia bisa merasakan bahwa hari ini sungguh meriah dan membahagiakannya. Putranya sudah menikah dan sepertinya dia terlihat bahagia bersama istrinya.

 

Sedangkan Ny. Park merasa lega, karena Jiyeon menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa membuatnya bahagia. Yifan memang penuh misteri sebelumnya, namun sejak dulu dia sudah  mengira jika pemuda itu sudah jatuh cinta pada putrinya. Semua itu bisa dilihat dari perhatiannya pada Jiyeon yang begitu besar.

 

Bibi Yi Lin muncul dan mengatakan bahwa Yifan dan Jiyeon harus memasuki kamar pengantin dan melakukan ritual malam pertama.

 

“Kami sudah melakukan malam pertama Bibi!”  ujar Yifan lantang,

 

“Tapi ini berbeda Yifan. Malam ini, kalian harus tetap melakukannya.”

 

“Ini masih sore, belum malam.”  Sahut Yifan lagi.

 

“Tersearah kalian, tapi setelah makan malam ini, kalian harus segera masuk ke kamar, dan tidak keluar sampai besok pagi. Oke!”

.

.

.

Bersambung.

 

.

.

.note.

Sebenernya aku ga pernah ngelupain FF ku yg belum selesai, semua udah masuk dalam perhitunganku, cuma kadang idenya suka macet, dan ketumpuk sama ide lain yg langsung tercetus di FF yang baru, tapi bukan berarti aku ga lanjtin, cuma butuh waktu. biar di bilang ini sudah lama, dan yang baca juga udah lupa banget ya, aku tetap lanjutin. jadi jangan kaget kalo nanti muncul FF lama yang mendadak muncul lagi ke permukaan.

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. sookyung says:

    wahhh bibi yi lin nyuruh yifan dan jiyeon ngelakuin mlm prtm lg ,,,, sudah pasti yifan akan in langsung dg senang hati mengikuti perintah bibi yi lin

  2. AriePJY says:

    senengnya liat jiyeon ma yifan bahagia,akhirnya mrk melakukan MP jg.di tunggu kelanjutannya

  3. Dwiki says:

    Aigoooo yifan terlalu jujur ngejawab bibi yi lin wkwkwk.
    Moga aja jiyeon bakal bahagia terus kedepannya

  4. diah.dimin says:

    huah yifan terlalu vulgar mlh aq yg malu nih hihi
    wah nasib jin gmn tuh.. apa dia sama adenya jiyi.. ternyata vnr y mending yg br*ngs*k jdi baik dripada kblikannya.. next..

  5. bb says:

    yfan mah yes aja

    1. mochaccino says:

      Ari nteu yes mah no oge teu nanaon

  6. Asyiikk.. Mrk saling ungkap kn cinta melalui tindakan n lisan 😍
    Hubungan indah mrk moga gak berakhir krn pihak2 tertentu,,
    Sedih saat scene jiyi jumpa eomma na 😭
    Ommo!! Tn Park ajak kerja sama.. Hmmm
    Moga part selanjutnya bakal ada scene jiyi brsm appa mertua na 😄

  7. iineey says:

    Skrg udh bener2 sah sah sahhhh dah
    Itu sih mau nya yifan ya klo udh masuk kamar ga keluar lagi smp besok pagi wkwkwkw

  8. May andriani says:

    Rencana apa yg kris buat buat appanya jiyeon yg udah tega buang jiyeon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s