Love Sky [5]


 

LOVE SKY 6

Maincast | Oh Sehun – Park Jiyeon

Support Cast | DO Kyungsoo- Song Kyung-il

Genre | Romance

Rated | PG

Length | Chapter

.

.

.

Sehun membuka selimutnya setelah  mendengar Jiyeon keluar, dia duduk di pinggir ranjangnya sambil merapikan rambut pirangnya yang ringan. Menghela nafas berkali-kali, menggerutu dan—

 

”Aku tahu kau belum tidur!”

 

”KYAAAA!”  teriak Sehun kaget saat Jiyeon sudah berada di sebelahnya, namja itu menoleh dengan rasa kagetnya. Dia pikir Jiyeon sudah pergi kembali ke markasnya.

 

Dia ingin melepaskan emosinya, tapi melihat wajah Jiyeon yang sedikit pucat, mau tidak mau dia meneilitinya dengan jeli.

 

”Kau tadi minum?”

 

”Sedikit.”

 

Sehun mendengus, dan menyeret Jiyeon ke dapur, mendudukkannya sebentar kemudian dengan cekatan dia membuatkan air madu untuknya.

 

”Minum!”

 

”Kau terlalu mencemaskanku, Sehun.”

 

Pria ini hanya menggegat bibirnya. Dia hanya tidak mau, Jiyeon mengalami hal yang sama dengannya. Ini tidak bisa dibiarkan. Beberapa waktu lalu, Sehun memang sempat merasa ketagihan dengan alkohol. Dia sering melobby beberapa orang yang akan bekerja sama dengannya, dan tak jarang dia mabuk saat pulang. Terlalu banyak alkohol membuat levernya bermasalah, juga kerja ginjalnya yang belakangan invalid, dan sering merasa nyeri.

 

”Bagaimana kencanmu tadi?”

 

”Aku sudah mengatakan kalau kami pacaran mulai malam ini.”

 

Sehun mengangguk, menenangkan hatinya.

 

”Apa kau tidak menyesal?”

 

Menyesal?

 

Jiyeon menunduk, memutar-mutar gelas di dalam genggamannya. Tentu saja, dia menyesal, bahkan dia tidak tahu kenapa dia harus mengambil resiko ini, bukankah dia mencintai Sehun.

 

”Kau akan menyesal karena kau salah mengambil keputusan seperti biasa, Park Jiyeon. Aku sudah mengatakan padamu, jangan sembarangan dengan apa yang kau katakan!”

 

Batinnya sedikit tercubit, dengan perkataan Sehun.  Dia tahu bahwa selama ini dia selalu salah mengambil keputusan, tapi Sehun pun tidak pernah memberikan kepastian tentang hatinya.  Jiyeon berdiri di tempat yang serba menyulitkannya. Dia tidak bisa melangkah maju atau mundur kembali. Berhenti di tempat yang sama dengan bayangan Sehun setiap  harinya. Memang betul dia yang berikrar bahwa dia tidak akan menjadikan Sehun sebagai kekasih seumur hidupnya, dan Sehun tidak pernah keberatan.

 

Kenapa Sehun tidak berjuang untuknya.  Jika dia bertanya itu padanya, maka Sehun akan bertanya sebaliknya juga, lalu akhirnya mereka akan saling diam untuk beberapa hari, hingga suasana panas ini sejuk kembali.

 

Mereka saling menatap,

 

”Kau ingin membuktikan apa padaku, Park Jiyeon? Apa kau pikir, kau bisa mendapatkan laki-laki lain yang lebih mencintaimu lebih dari aku mencintaimu?”

 

Hati Jiyeon terbakar di tantang Sehun dengan cara yang tidak mengenakkannya. Mungkin malam ini dia salah mengadu. Gadis ini berjalan menjauh dengan lirikan sengit. Tanpa komentar dia berlalu dari depan muka namja yang selalu membuatnya bersikap serba salah itu.

 

Sehun menunduk, menyesali perkataannya dan duduk menuangkan whiskey-nya lagi. Mengerang dengan rasa panas di tenggorokannya dan menghempaskan nafas seiring dia beranjak untuk kembali melanjutkan tidurnya.

 

.

.

.

 

Seandainya saja, Jiyeon bisa memutar kembali waktu, atau menembus kehidupan ini untuk memasuki kehidupan yang lain, dia akan melakukannya.

 

Suara pintu terdengar dari luar, ada sedikit keributan ketika suara benda terjatuh itu mengagetkan Jiyeon. Dia mengintip dari lubang pintu, dan melihat Sehun meninggalkan apartemennya dengan sedikit terburu-buru.

 

Semalam dia begitu kesal dengan perdebatan itu. Kenapa Sehun selalu benar, dan kenapa Jiyeon tidak pernah mau terima dipersalahkan.  Apakah dia memang seegois ini.

 

Ayahnya pernah mengatakan , kalau Jiyeon tidak boleh tertarik pada pria yang hanya memiliki paras tampan atau dengan kekayaan yang melimpah, karena wajah tampan itu menyesatkan dan kekayaan itu akan musnah. Itu memang benar, karena Sehun terlalu tampan, dan Jiyeon memang sering tersesat di sana, tapi kalau masalah kaya, Sehun tidak mempunyai kekayaan apapun, selain otak cerdasnya, dan sifat sedikit pendiamnya yang terkadang membingungkan.

 

Lalu bagaimana dengan Kyung-il.

 

Memandangi ponselnya yang sejak tadi berbunyi, ini sungguh tidak mengenakkan hati, jika harus melarikan diri pria itu. Kenapa sepagi ini dua sudah menghubungi.

 

”Aku menunggumu di bawah!”  ujarnya

 

”WHAT!”  Jiyeon melongok ke bawah, pada halaman parkir, dan di sana, mereka… Sehun dan Kyung-il sedang menatap ke arah jendela di mana Jiyeon sedang menatap mereka.

 

”Aku naik atau kau yang turun?” tanyanya sambil melirik Sehun.

 

”Naiklah!” tantang Jiyeon sambil menatap Sehun, kemudian mantan kekasihnya itu hanya melengos, saat Kyung-il berjalan mendekati gedung. Jiyeon memperhatikan langkah kaki Sehun yang begitu mantap membwa ransel berukuran besar di punggungnya. Pria itu, selalu membuat Jiyeon cemas.

 

Beberapa saat kemudian, Kyung-il sudah berdiri di depan pintunya. Jiyeon menyambutnya dengan kondisi seadanya, rambut berantakan, tanpa alas kaki, celana pendek dan kaos oblong sembarangan. Jelas pria dengan jabatan leader teamnya itu mengernyit dengan alis yang cukup tinggi. Dia sempat meneliti nomor apartemen itu kembali, takut dia salah pintu.

 

”Masuklah, aku baru bangun!”  Jiyeon mempersilahkan masuk kemudian, berjalan ke mini pantrynya untuk mencuci muka di washtafel. Pria yang tengah memperhatikannya itu hanya tersenyum melihat prilaku Jiyeon.

 

”Siapa nama laki-laki itu?” sepertinya dia menanyakan masalah Sehun.

 

”Sehun.” jawab Jiyeon

 

”Ya, dia bilang kalau kau mantannya.”

 

Jiyeon mengerjap sebentar. Jadi Sehun mengatakan begitu pada Kyung-il. Benar-benar pembuat masalah! Apa dia pikir jika sudah mengatakan itu, hubungan Jiyeon dengan Kyung-il akan berantakan?

 

”Jangan terlalu di pikirkan, dia memang selalu begitu. Kami hanya berteman.”

 

”Aku tau, dia pasti cemburu.”

 

”Bagaimana dengan program baru kita?”  Jiyeon berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

”Aku sudah mengajukan proposal pada atasan kita, nanti jika disetujui, kita akan sering berada di lapangan. Kau tahu, sepertinya, kau dan Kyungsoo akan lebih syuting di berbagai lokasi.”

 

Gadis itu mengangguk sambil menyerahkan kopi pekat untuk pria di depannya yang mendadak mengerutkan keningnya. ”Aku lebih suka teh, Jiyeon!”

 

”Agh, lupa!”  diambilnya lagi cangkir itu, kemudian menggantinya dengan teh.

 

”Aku bosan bekerja sama dengan Kyungsoo, tidak bisakah di ganti. Kami selalu bertengkar, bahkan disela-sela pengambilan gambar dia selalu menyerangku.”  keluh Jiyeon seakan mengadu.

 

Tapi pria ini menggeleng, ”Kalian tetap kompak, aku suka. Tidak ada chemistry sesempurna kalian!”

 

”O my God! Kau bilang kami sempurna, apakah sempurna, jika kami saling menyerang dan menjambak ketika syuting selesai?”

 

Kyung-il tertawa dengan suara yang renyah.

 

”Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

 

”Ke mana?”

 

”Aku rasa, lebih baik aku simpan dulu sebagai rahasia.”

 

”Aku tidak suka rahasia!”  Jiyeon menggerutu sambil masuk ke dalam kamar mandinya.

 

.

.

.

 

Rambutnya melambai di terbangkan angin, ketika mobil melaju di jalanan dengan kecepatan sedang. Wajah kaku Kyung-il terpasang begitu saja saat mulai menyadari Jiyeon mungkin sedikit bertingkah konyol dan agak kekanak-kanakkan.

 

”Tidak bisakah kau menutup jendelanya?”  suruhnya

 

”Kenapa? Aku sedang mengeringkan rambutku, tadi kau menyuruhku untuk cepat-cepat, jadi tidak sempat mengeringkannya.”

 

Pria itu menggelengkan kepala. Ya, baiklah kali ini dia akan bersabar. Dia masih melihat apakah Jiyeon pantas untuk dia perjuangkan  meskipun sebenarnya gadis ini bukan type gadis yang dia suka. Jiyeon memang cantik, ceria, dan menggemaskan, tapi dia terlalu cuek dan apa adanya. Tidak memperdulikan cara berpakaiannya, warna sepatunya, atau setelah yang dia kenakan untuk tubuhnya. Semua tampak bertabrakan dan bagi Kyung-il itu merusak matanya.

 

”Maaf!”  ujar Jiyeon, saat menutup jendela mobil itu. Dia menyisir rambutnya, kemudian mengikatnya.

 

”Tidak apa-apa.”

 

Jiyeon jadi serba salah, berpacaran dengan atasan ternyata sedikit merepotkan, atau mungkin karena sifat seorang Kyung-il yang terlalu disiplin dan tertata. Dia lebih mirip Sehun, tapi Sehun tidak pernah protes mengenai hal-hal kecil seperti ini.

 

”Kita akan ke mana?”

 

”Menemui seseorang.”

 

”Siapa?”

 

”Paman dan Bibiku. Selama ini aku jarang mengunjunginya,jadi sekarang sepertinya aku ingin ke sana.”

 

Lagi-lagi Jiyeon merengut, dia pikir mereka akan pergi bersenang-senang ke tempat hiburan atau makan ice cream seperti yang sering dia lakukan bersama Sehun jika hari Minggu.  Ini pasti akan sangat membosankan.

 

Dan benar,

 

Ini sangat membosankan. Jiyeon berkali-kali harus menguap di depan sepasang suami istri yang dikatakan Kyung-il sebagai paman dan bibinya.  Pembicaraan ini sama sekali tidak nyambung dengannya, sehingga sejak tadi jika tidak mengangguk atau menggeleng, Jiyeon hanya memamerkan deretan giginya. Ugh, Kyung-il begitu santun dengan gaya duduknya. Mereka ini dari kalangan ningrat atau apa sih? Menyebalkan.

 

”Permisi, aku ingin ke kamar kecil.”  lirih Jiyeon sambil tersenyum pada pria di sebelahnya.

 

”Silahkan!”

 

Jiyeon berdiri dan berjalan sebuah arah, tapi kemudian wanita itu, dari keluarga Song menghentikan langkah Jiyeon.

 

”Arahnya tidak ke situ!  Kamar kecil untuk tamu ada di dekat pantry!” ujarnya.

 

Jiyeon mengangguk canggung. Ugh, salah! Dia berbalik dan berjalan melewati mereka dengan berulang permisi mengalir dari mulutnya. Ketika tiba di pantry dia segera membuka pintu, tapi kemudian, dia seseorang menghentikan aksinya lagi,

 

”Maaf, itu kamar pembantu. Kamar kecilnya di pintu sebelahnya!”

 

Please, kenapa tidak ditulisi di pintunya kalau itu kamar pembantu, dan ini kamar kecil. Dia menggerutu lagi untuk yang kesekian kalinya.

 

Sementara itu Sehun berada di tempat Aki  baru saja selesai dengan semua pekerjaannya. Dia berusaha fokus agar bisa segera pergi dari rumah wanita berdarah Jepang ini. Memang betul dulu Sehun sempat terlibat kencan satu malam dengan Aki, tanpa perasaan dan itu hanya sebuah sex belaka tidak ada embel-embel lain selain karena alasan sama-sama membutuhkan pelepasan nafsu sesaat. Itupun pada akhirnya di sesali Sehun, karena dia ingin melakukan itu dengan Jiyeon, bukan dengan wanita lain. Hanya saja dia belum pernah melakukannya dengan gadis itu.

 

Itulah masalahnya, dia takut jika Jiyeon keburu memberikan tubuhnya pada laki-laki lain terlebih Kyung-il yang notabene sepadan dengan Sehun. Mereka sama-sama tampan dan berpostur tinggi, dengan kredibilitas dan intelektualitas yang sama.  Hanya saja, Sehun memang belum bisa membeli kendaraan pribadi dengan tabungannya.

 

”Aku ingin menemui seseorang sekalian makan malam.”

 

Makan malam. Hm, jam berapa ini, kenapa dia melupakan waktu. ”Sepertinya tidak, aku harus segera pulang.”

 

”Tapi kau pasti tertarik, karena dia bersama dengan Jiyeon.”

 

”Siapa?”  Sehun mengejar curiga

 

”Park Jiyeon, bukankah sekarang dia berpacaran dengan manager teamnya, Kyung-i.”

 

Sehun ingin berpura-pura tidak panik, atau merasa cemas denga situasi ini, tapi dia penasaran, akan seperti apa tingkah Jiyeon jika mereka bertemu dalam kencan buta semacam ini. Anggap saja kencan buta, karena toh Jiyeon tidak pernah tahu hubungannya dengan Aki hanya sekedar teman kerja.

 

”Baiklah, aku ikut makan malam denganmu, tapi kau jangan bertingkah di depan Jiyeon.”

 

Wanita itu hanya tertawa sambil bergayut di lengan Sehun. ”Jangan berlebihan!”  dia menghempaskannya.

 

.

.

.

Sehun ingin berpura-pura tidak panik, atau merasa cemas denga situasi ini, tapi dia penasaran, akan seperti apa tingkah Jiyeon jika mereka bertemu dalam kencan buta semacam ini. Anggap saja kencan buta, karena toh Jiyeon tidak pernah tahu hubungannya dengan Aki hanya sekedar teman kerja, dan kenapa dia selalu ingin bersandiwara.

 

”Baiklah, aku ikut makan malam denganmu, tapi kau jangan bertingkah di depan Jiyeon.”

 

Wanita itu hanya tertawa sambil bergayut di lengan Sehun. ”Jangan berlebihan!”  dia menghempaskannya.

 

.

.

.

 

Menjelang tengah malam mereka berjalan bersisian dengan muka kecut, saling membuang muka dan mendengus jika secara tidak sengaja bersentuhan.  Itu bukan kemauannya, bertingkah sama dengan Jiyeon yang selalu saja tidak pernah bisa mengerem mulutnya.  Mereka bertengkar hebat di sana hanya karena—

 

Malas menjelaskannya.

 

Tanpa saling melirik lagi, Sehun dan Jiyeon masuk ke dalam kandang mereka masing-masing, tapi setelah Jiyeon benar-benar menutup pintu, Sehun kembali melongok keluar, dan memeriksa apakah Jiyeon benar-benar masuk, atau hanya berpura-pura. Dia tidak mau, nanti gadis itu mengganggunya, atau malah Sehun berharap Jiyeon akan mendatanginya. Sialan! Kenapa Kyung-il sampai nekad mencium pipi Jiyeon seperti itu. Itu baru pipi, tapi dada Sehun yang bidang dan mulus itu sudah seperti terbakar rasanya.

 

Sedangkan Jiyeon, di atas kasurnya, hanya bisa menggigit bantalnya, kenapa si suki-Aki itu bisa begitu vulgar menyentuhi bagian itu Sehun. Eoh! ARRGH—  dia saja dulu tidak pernah.  Coba kalau tadi garpu Jiyeon tidak jatuh ke bawah meja, dia tidak akan melihat tangan Aki gentayangan menyentuhi selakangan Sehun. ”BRENGSEK! Dua kali Brengsek!”  teriak Jiyeon, dan Sehun sepertinya menikmati sekali.

 

Sehun menggelepar di atas kasurnya, jadi keputusannya untuk melakukan double date tadi adalah salah. ”SALAH BESAR!”  teriaknya keras. Tangan itu!  Sehun masih mengingat tangan Kyung-il yang meremas jemari Jiyeon, saat memberikan ciuman hangatnya di pipi gadis kesayangannya itu.   ”BIBIR KURANG KERJAAN!”  teriaknya lagi

 

Mereka berjalan ke arah balkon bersamaan, lalu berdiri berhadapan di sana dengan memasang wajah kesal.  ”PARK JIYEON!”  sebut Sehun lebih dulu

 

”OH SEHUN!”  sebutnya ganti mereka mendekat,

 

Namun tidak ada kalimat lain yang mereka katakan selain saling menatap dalam rasa kesal dan diam. Mungkin emosi itu terlalu tinggi hingga mereka tidak bisa mengungkapkannya dari bagian mana dulu, semua tersusun random, dan dalam bayangan mereka semua itu simpang siur. Berbagai kalimat memenuhi rongga mulut, berjubel ingin dimuntahkan,  hingga melupakan waktu, dinginnya malam dan sepinya langit yang menjadi background jiwa mereka sekarat menghadapi problematik konyol yang seharusnya bisa mereka selesaikan dengan baik.

 

Tak berdaya, pada akhirnya membuang muka.

 

Sehun, menunduk bersandar pada pembatas teras balkonnya.

 

”Segera cabut sumpahmu itu, dan kita bisa melanjutkan hubungan kita, Park Jiyeon.”

 

”Apa kau bisa menjamin, jika kita bisa bersama lagi sebagai kekasih, kau tidak akan membuat hatiku merana.”

 

Sehun melirik,

 

”Kau selalu salah paham!”  ungkapnya frustasi

 

”Aku tidak bisa menerima kau terlalu dekat dengan semua wanita di sekitarmu”

 

”Aku mempunyai privasi, dan juga komitmen pekerjaan. Terkadang ada hal-hal yang tidak bisa kau campuri, Park! Jangan melibatkan hal-hal semacam itu dalam kehidupan pribadi kita, perasaan kita. Bukankah selama ini aku tidak pernah marah jika kau bekerja bersama Kyungsoo.”

 

”Aku selalu jujur padamu mengenai apa yang kulakukan. Kau melihat sendiri kalau aku dan Kyungsoo tidak ada hubungan apapun.”

 

”Bagaimana dengan Kyung-il. Sepertinya dia—”

 

”Kau dan Aki?”

 

”Kami hanya teman kerja.”

 

”Bagaimana dengan tangannya?”  Jiyeon membahas masalah tangan Aki di bawah meja.

 

”Tangannya— ehm, itu…”  Sehun menyentuhi bibirnya.

 

”Cih! Jangan bilang kalau tangannya itu adalah bagian komitmen pekerjaanmu.”  Jiyeon melengos dan berlalu dari hadapan pria tampan itu.

 

Tangan itu—

 

Padahal Sehun sudah berusaha untuk menyingkirkan tangan itu.  Si brengsek Aki, dia memang tidak bisa dipercaya, terlebih tangannya.

 

.

.

.

 

”Miss Aki!”  Jiyeon berdiri di depan wanita itu. Sialnya hari ini karena Jiyeon harus membuat sebuah kerjasama dengan wanita ini. Kenapa Kyung-il menyuruhnya melakukan ini, padahal dia bisa menyuruh Min Hee, yang jelas-jelas dia bertugas sebagai penata setting. Apa hubungannya dengan Aki.

 

Wanita itu tersenyum, menampilkan gingsulnya.

 

”Kau pasti ingin membahas masalah alokasi area denganku, tapi aku sedang sibuk. Bisakah nanti saja, terlebih, apa kau sudah membawa daftarnya. Aku tidak bisa melakukannya jika kau tidak memberikan padaku daftar itu.”

 

”Min Hee tidak masuk hari ini, dia sakit. Aku tidak tahu masalah daftar itu, Miss Aki.”

 

”Ugh, apa boleh buat, Sayang, aku mungkin akan mengalami kesulitan. Kau tau kan pekerjaanku banyak, aku tidak hanya mengurusi masalahmu—”

 

 

Jiyeon segera berbalik. What was that? Apa dia sedang mempermainkannya?  Gadis itu bermuka muram, penuh dengan amukan. Apa karena Sehun.

 

”Jiyeon Park!”  Jiyeon terus melaju, meski namanya di sebut oleh seseorang yang berpapasan dengannya di koridor.

 

”Jiyeon Ssi!”  panggilnya lagi, tapi Jiyeon sudah berbelok.

 

”Jiyeon Brengsek! Aku memanggilmu!”  teriak orang itu, lalu beberapa detik kemudian Jiyeon berbalik, mendekati laki-laki yang barusan memanggilnya brengsek, dia menggulung kertas dalam pegangannya, dan memukulkan benda itu pada bahu sang pemanggil, yang telah berani memanggilnya brengsek.

 

”Siapa yang brengsek? SIAPA?”  dia membabi buta menyerangnya.

 

”Mianhae, tadi aku memanggilmu tiga kali, tapi kau tidak mendengarku, jadi aku harus memanggilmu begitu, dan ternyata kau merespon.”

 

”Siapa yang tidak merespon, kau sendiri pasti akan merespon jika aku memanggilmu Kyungsoo Pendek Sialan!”

 

Mata pria itu seperti mengembang perlahan di hadapan Jiyeon seperti ingin meledak.

 

”YAK Jiyeon, kenapa kau begitu marah. Aku hanya bercanda.”

 

”Apa kau pernah bercanda denganku?”

 

Kyungsoo menghela nafasnya. Dia merasa bersalah karena telah memprovokasi emosi gadis cantik ini.

 

”Aku sudah minta maaf, bagaimana kalau aku mentraktirmu minum. Aku ingin membahas sesuatu denganmu. Kau tahu, kita akan segera melakukan syuting di luar studio—”

 

”Aku tahu, apa kau pikir aku tidak memikirkannya!”

 

”Sudahlah, jangan terlalu di bawa emosi omongan Miss Aki, aku tahu kau tidak menyukainya sejak awal, karena dia menjadi pelacur untuk Sehunmu.”

 

”Shit, Kyungsoo! Kau akan kena masalah jika Miss Aki dengar kau memanggilnya pelacur.”

 

”Aku sudah mendengarnya!”  mendadak wanita itu muncul di belakang mereka. DAMNT!  Kyungsoo dan Jiyeon terpaksa bergandengan dan melarikan diri dari hadapan siluman itu.

 

Setibanya mereka di luar gedung, nafas mereka diatur satu-satu sambil tertawa terkekeh-kekeh tak jelas.  Tatapan mereka bertemu, dan semua mendadak terlihat akrab.

 

”Kenapa mendadak dia ada di belakang kita?”  tanya pria itu dengan nafas mereda.

 

”Itu cukup mengerikan. Bagaimana jika dia tidak sudi membahas masalah alokasi area itu.”  Jiyeon menepuk jidatnya,

 

”Doakan saja semoga besok Min Hee sudah masuk, jadi kau tidak perlu membahas masalah itu dengannya.”

 

”Ayolah, katanya kau akan mentraktirku minum. Aku butuh minum sekarang.”

 

”Jam kerja belum selesai. Apa kau pikir, Kyung-il tidak akan  membantai kita.”

 

”Kurasa tidak, mana berani dia membantai teman kencannya. Kalau kau, mungkin dia akan langsung menggorokmu,”

 

”Kau berkencan dengan Kyung-il?”

 

”Ya, sudah dua minggu aku berkencan dengannya,”

 

”Lalu bagaimana dengan Sehun?”  Eoh, tau apa Kyungsoo masalah Sehun. Pria ini jangan terlalu dipercaya. Pikir Jiyeon, karena profesi presenter yang mereka sandang saat ini, membuat roh-roh gosip menggentayangi kehidupannya, termasuk pria bermata bulat ini.

 

”Kau cukup tau aku mengencani boss kita. Itu saja, lain hal jangan terlalu kau pikirkan. Arraseo!”

 

”Park!”

 

”Jangan memanggilku Park, cukup Sehun saja yang memanggilku begitu.”

 

Kyungsoo kembali masuk ke dalam gedung. Masih bersisa dua jam hingga jam pulang nanti. Itu artinya mereka harus melakukan  sesi breaving dengan atasan mereka sebelum acara esok.”

 

.

.

.

 

Sehun tidak pulang sejak semalam. Apakah Jiyeon harus bertanya, kan mereka sedang musuhan. Kali ini serius, karena Sehun sudah tidak mengajaknya bicara sejak malam itu. Kalau Sehun sedang marah, alias ngambek, biasanya memang seperti itu. Dia bisa jauh lebih diam dari patung symbol apartemen mereka yang berbentuk kuda itu.

 

Sebenarnya Jiyeon memang marah, tapi dia tidak pernah marah lebih dari tiga hari. Biasanya Sehun akan segera mendatanginya dan mengajaknya berbaikan atau memancingnya dengan cara bercandanya yang overdosis, tapi sekarang dia benar-benar tidak menampakkan diri.

 

Haruskan dia duluan yang  menghubunginya.  Eoh! Bagaimana ini?

 

Jiyeon sudah memegang ponselnya, tapi tidak berani menekan nomornya. Bagaimana kalau Sehun tidak mau mengangkatnya, atau mengatakan hal-hal buruk, seperti—

 

Agh, Jiyeon tak berani membayangkan semua kata-kata yang akan  membuatnya ill feel itu.

 

Tersambung—

 

”Sehun!” sapa Jiyeon lirih.

 

”Jiyeon, aku tidak punya waktu untukmu!”  lalu terputus,

 

Jiyeon memandangi ponselnya, dengan wajah pias. Benarkah tadi Sehun yang mengatakan hal itu.

 

Gadis itu memejamkan matanya, dan berpikir positive, mungkin Sehun sedang kebelet buang air besar, sampai tidak punya waktu untuknya, atau dia sedang—

 

Miss Aki?

 

Oh tidaaaaaaak!

.

.

.

Kenapa Sehun begitu misterius. Jiyeon masih tebaring di atas ranjangnya dengan tubuhnya yang mendadak merasa kurang nyaman. Kenapa dia mual, kenapa dia pusing, dan kenapa sepertinya tatapannya kian bura. Kalimat peringatan Sehun beberapa waktu lalu sempat terngiang, ”Jiyeon apa kau sudah ke dokter?”  dan lagi. ”Jiyeon, sudah kau jangan lupa ke dokter!” , tapi Jiyeon selalu sibuk, bekerja, lalu sibuk berkencan dengan Kyung-il dan yang terakhir sibuk bertengkar dengan Sehun.

 

Keesokan harinya Jiyeon sengaja minta ijin dari kekasihnya, sang team leader untuk datang terlambat karena dia harus memeriksakan diri ke dokter.  Pria itu mengijinkannya, bahkan menawarkan diri untuk menjemputnya tapi Jiyeon menolak. Dia hanya berharap Sehun lah yang menjemputnya. Dengan lesu dia mengantri giliran masuknya ke ruangan  dokter specialis penyakit dalam itu. Urutan yang ke sekian, cukup membosankan. Mungkin jatahnya akan tiba menjelang makan siang nanti.

 

Ponselnya menyala dalam genggamannya, tapi sebentar di abaikan karena Jiyeon sibuk bermain game. Beberapa orang di dekatnya sibuk bergunjing, mengenai Jiyeon yang wajahnya cukup dikenal di Korea. Mereka mengenalnya lewat teve, tapi mereka tidak berani mengganggu Jiyeon, karena mereka tahu, kalau Jiyeon berada di sini karena sedang sakit.

 

Beberapa detik kemudian, barulah Jiyeon menerima panggilan masuk itu.

 

”Ada apa Kyungsoo?”

 

”Kau di mana?”

 

”Aku di rumah sakit. Kenapa?”

 

”Miss Aki dia bilang sudah meng-acc dokument yang kau berikan.”

 

”Baguslah, tolong berikan pada kekasihku.”

 

”Kekasihmu itu sekarang sedang pergi. Tadi ada seorang wanita menyeretnya keluar.”

 

Jiyeon langsung berdiri dari posisi duduknya, mengagetkan orang di sekitarnya.

 

”SIAPA?”

 

”Jangan dipikirkan, kau silahkah berobat, nanti akan aku kabari lagi.”

 

”Kyung~”  Tut

 

Di putus.

 

Jiyeon menekur memperhatikan layar ponselnya yang menghitam, lalu muncullah wajah Sehun di sana.  ”Sehun, kau di mana?”

 

”Di sini!” Jiyeon menoleh ke sampingnya, dan ternyata Sehun sudah berada di sebelahnya. Eoh, ini hanya halusinasi. Jiyeon menghempaskan nafasnya dalam-dalam dan menunduk.  Tidak mungkin jika mendadak Sehun berada di sebelahnya, dan mengatakan ’Di sini!’

 

Tapi Jiyeon menoleh lagi memperhatikan Sehun yang sedang memainkan ponselnya. Wajahnya tenang tanpa melirik Jiyeon sedikitpun. Jadi benar dia itu Sehun.

 

”Kenapa antriannya masih panjang sekali?”  gerutu namja itu dari balik topinya.

 

Jiyeon melengos menyembunyikan senyumnya.  Jadi benar, dia adalah Oh Sehun. Lalu kenapa hatinya begitu senang. Padahal sesaat lalu, dia menerima berita kurang enak mengenai Kyung-il.

 

”Aku lapar!”  keluh namja itu lagi.

 

”Kalau kau lapar, kenapa kau ikut mengantri denganku? Lalu kenapa kau mendadak bisa di sini. Dari mana kau tau aku di sini, dan kemana saja kau dua hari ini, menghilang sepertinya ingin sekali membuatku susah. Apa kau tau, semua kecoa di rumahmu pindah ke tempatku, hanya karena mereka kesepian tanpa majikannya.”  balas Jiyeon terlalu panjang.

 

Sehun melirik sebentar,

 

”Siapa yang bilang itu kecoaku, semua itu kecoamu, waktu itu kau sempat menitipkannya padaku hanya karena rumahmu sedang direnovasi, mereka merasa terganggu, sehingga menginap sebentar di rumahku, jadi jika mereka kembali padamu, itu bukan urusanku.”

 

”Jadi itu kecoaku?”  berpikir keras.

 

”Ya, jumlahnya ada lima belas waktu mereka datang, kemudian mereka berhubungan intim di rumahku seenaknya sehingga mereka berkembang biak, mungkin sekarang jumlahnya sekitar tiga puluhan. ”

 

”Dua kali lipat?”  Jiyeon mengangguk-angguk

 

Sehun balas mengangguk, tanpa ekspresi.

 

Eoh, Jiyeon sedang menghitung dengan jarinya, tapi Sehun menangkap tangan itu dan menggenggamnya. ”Kecoa saja sudah berkembang biak sebanyak itu, kenapa kita tidak, Jiyeon?”

 

”Sebenarnya kita sedang membicarakan apa dan siapa, Sehun?”  Jiyeon menggeleng

 

”Aku membicarakan mengenai kita.”

 

”Maksudmu kau mengajakku berhubungan intim?”  Tangan Sehun berpindah pada mulut Jiyeon yang memang tidak bisa di kontrol. Pria itu mengedipkan matanya.

 

”Hhh…” Jiyeon membuang nafasnya.

 

”Kau tadi sudah cuci tangan atau belum sebelum memegang mulutku?”  Jiyeon mengusap mulutnya dengan lengan bajunya.

 

”Seingatku sudah.”

 

Lalu mereka saling menatap, mungkin karena masih ada sisa emosi yang kemarin itu yang memuat Sehun dan Jiyeon harus membuang muka.

 

”Apa kau baik-baik saja?”  Sehun melirik lagi.

 

”Semalam aku demam, tubuhku merasa lemas. Aku takut penyakitku kambuh lagi, jadi aku mengontrolnya sekarang.”

 

”Aku sudah mengingatkanmu berkali-kali Park!”

 

Gadis itu mengangguk, tapi ketika dia mau menjawab

 

”Nomor 56 silahkan masuk!”  petugas medis itu memberitakan lewat pengeras suara.

 

”itu aku, sebaiknya aku memeriksakan diri dulu.”

 

”Ya, aku akan menunggumu di sini. Cepatlah kembali!”  ucap Sehun dengan wajah memohon

 

”Sehun, jangan konyol! aku hanya masuk ke ruangan itu, tidak pergi selamanya.”

 

Eoh, baiklah!”

 

Jiyeon memasuki ruang pemeriksaan.

 

.

.

.

 

 

Sehun mengantar Jiyeon kembali ke kantornya, dengan berat hati. Wajahnya yang tampan itu terlihat cemas. Jiyeon tidak seharusnya bekerja, terlebih dia baru saja mendapatkan suntikan itu.

 

”Apa kau yakin?”  tanyanya

 

”Ya, aku akan baik-baik saja, Sehun.”  pria itu mengusap kepala Jiyeon dan ingin mengecup keningnya, tapi Jiyeon menolaknya. Dia tak mau Sehun berlebihan di depan umum, terlebih gosip akan cepat menyebar.

 

”Kau ini kenapa?” protes pria itu kesal

 

”Aku harus bekerja dulu!”

 

”Jiyeon!” Sehun menahannya

 

”Apa?”  Jiyeon menatap malu-malu, membuat Sehun gemas. Ini mungkin karena Jiyeon mulai bersikap seperti itu lagi setelah sekian lama dia bersikeras mempertahankan untuk tidak bersikap manis padanya.

 

”Mengenai pembicaraan kita mengenai kecoa tadi—”  Jiyeon menunduk dan tersipu. Saat itu, Kyungsoo menghampiri.

 

”Kecoa apa?”  Jiyeon menoleh pada partnernya yang sedang sibuk membawa kertas di tangannya. Mereka bertiga saling menatap.

 

”Agh, ini bukan urusanmu Kyungsoo. Aku dan Sehun mempunyai—”  Jiyeon mematung bingung. Kenapa dia harus membicarakan masalah kecoa.

 

”Aku akan menjemputmu!”  Sehun melambai

 

”Okay!”

 

”Jiyeon, kita harus segera menemui boss kita. Kau tau sekarang mereka sudah berada di lokasi, kita akan mulai syuting nanti sore. ”

 

”Sore?”  Jiyeon melepas kepergian Sehun dengan hati berat. Entahlah, dia mendadak tidak ingin berpisah dari pria itu, ingin berlama-lama dengannya lagi, bermanja-manja, dan—

 

”Jiyeon!”  sebut pria pendek di sebelahnya.

 

”Aku dengar, Kyungsoo.”

 

”Baguslah, jangan sampai aku memanggilmu dengan sebutan lain.”

 

Jiyeon merengut menanggapi.

 

Sebuah helaan nafas panjang dia hempaskan, jadi mereka akan mulai syuting nanti sore, dan itu artinya Sehun tidak bisa menjemputnya. Lalu bagaimana dengan Kyung-il. Haruskah, Jiyeon memutuskan hubungannya dengan Kyung-il yang baru menginjak waktu setengah bulan ini.

 

.

.

.

 

Lokasi syuting mereka letaknya di sebuah lapangan baseball di daerah Gangseo-gu, agak jauh dari Gangnam, dan sekarang hujan. Membayangkan lokasi syuting yang terbuka, membuat Jiyeon sudah merasa jengah, apalagi jika memang harus dihadapinya.

 

Kyung-il sibuk dengan beberapa team kamera dan sub dubber. Mereka membuat kepala Jiyeon pening. Jam berapa ini,bahkan Kyungsoo menyempatkan diri tidur di sebelahnya. Enak sekali dia bisa tidur, sedangkan Jiyeon harus merasa demam. Dia lupa meminum obatnya. Penyakit malaria yang sempat di deritatanya beberapa waktu lalu memang belum sembuh total, sehingga dia terkadang merasakan demam dan menggigil hebat. Seluruh persendiaannya terasa nyeri.

 

”Sehun, di mana kau?”  ponselnya berbunyi, dan Sehun yang menghubunginya, sungguh sebuah ikatan batin yang begitu kental.

 

”Aku menjemputmu tapi mereka bilang kau syuting di Gangseo-gu.”

 

”Nde. Aku demam Sehun, badanku rasanya kurang nyaman.”

 

”Aku akan ke sana, tunggulah aku!”

 

Jiyeon menahan isak tangisnya. Mendadak dia merasa cengeng.

 

”Jiyeon!”  Kyung-il memanggil di kejauhan, dia melihat kondisi Jiyeon kurang sehat dan berlari mendekat.

 

”Kenapa Sayang?”  tangannya mengusap wajah kekasihnya. Mereka saling menatap.

 

”Aku rasa aku harus pulang. Badanku kurang sehat.”

 

Kyung-il tampak kecewa, dia memperhatikan semua yang sudah disiapkannya, lalu kakinya dengan usil menjenak kaki Kyungsoo yang sedang tidur, sehingga pria itu tergagap bangun.

 

”Kau syuting sendri.” Perintah sang leader.

 

”Kau kenapa?”  tanyanya pada Jiyeon sambil mengelap ilernya.

 

”Dia sakit, aku akan mengantarnya pulang.”

 

”Ahh, tapi ak~”  Jiyeon ingin mengatkan kalau Sehun dalam perjalanan ke sini, tapi Kyung-il tampaknya tidak ingin tahu, dia menggandeng Jiyeon pergi dari lokasi.

 

.

.

.

 

Sehun berlari-lari mendekati Kyungsoo yang sedang break untuk iklan. Sejak tadi dia mencari Jiyeon tapi tidak terlihat.

 

”Dia sudah pulang dengan Kyung-il tadi bersama Kyung-il.”

 

Namja ini terpaku, apa Jiyeon sengaja mengerjainya untuk datang. Jauh-jauh dia mengendarai mobil, tapi sekarang kenyataannya dia malah pulang dengan pacarnya.  Rahangnya mengeras seketika. Sampai kapan dia harus bersabar untuk Jiyeon.

 

.

.

.

 

BETHAMBUNG…..

 

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. May andriani says:

    Duh kyung il jdi penghalang dri kedeketa sehun sama jiyeon,, menurut aq kyung il gk cocok sama jiyeon,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s